“Daddy … Mommy … look at me … aku hebat, kan?” Diego berseru kala mengendarai mobil kecilnya di ruang khusus bermain. Bocah laki-laki itu tampak kegirangan kala bisa mengendarai mobil kecilnya dengan lancar.
Ruang bermain Diego sangat besar. Jadi, tak heran jika Diego bisa leluasa mengendarai mobil mininya itu. Pun saat ini Kimberly dan Damian tak lagi tinggal di penthouse. Sekitar dua tahun lalu, Kimberly dan Damian memutuskan tinggal di mansion. Mereka sama-sama menyadari, Diego sangat aktif. Penthouse tak terlalu besar untuk mereka tempati. “Ya, Sayang, kau hebat, tapi pelan-pelan. Kau baru saja selesai makan. Nanti kau muntah kalau langsung mengebut seperti itu,” tegur Kimberly mengingatkan Diego. Putra kecilnya itu baru saja selsai disuapi makan steak olehnya. Memang, kebiasaan Diego setiap kali selesai makan adalah bermain. Apalagi Diego sangat menyukai mobil. “Oke, Mommy. Tenang saja. Aku pintar, Mommy,” jawab Diego riang. Dua pengasuh Diego sudah berjaga-jaga menjaga Diego takut kalau Diego sampai terjatuh. Baik Kimberly ataupun Damian, selalu menjaga anak mereka melebihi menjaga sebuah berlian. Kimberly dan Damian tidak mau sampai terjadi sesuatu pada putra mereka. “Good boy. Kau memang pintar,” sambung Damian seraya memberikan senyuman pada Diego. Setiap kali Damian melihat Diego, selalu hati Damian sangat menghangat. Dulu putranya itu masih bayi merah, sekarang sudah tumbuh besar, berjalan dan bahkan mengemudikan mobil mini. Sangat lucu dan menggemaskan. Kimberly menyandarkan kepalanya di dada bidang Damian, memeluk pinggang sang suami. Hari ini, Kimberly dan Damian sengaja mengambil bekerja di rumah. Sudah beberapa minggu terakhir ini mereka sibuk. Jadi pagi ini, Kimberly dan Damian ingin sedikit bersantai sambil menjaga buah hati mereka. “Kim, sepertinya Diego sudah cocok untuk diberikan adik,” kata Damian sambil mengecupi pipi Kimberly gemas. “Damian!” Kimberly memukul dada bidang Damian. Meski sudah bertahun-tahun menikah, tetapi saja Kimberly kerap merona malu kalau digoda oleh sang suami. Damian mengulum senyumannya. Pria itu menarik dagu Kimberly, mencium dan melumat bibir sang istri. “Bukankah dulu kau bilang akan memberikan adik untuk Diego kalau usia Diego sudah memasuki 3 tahun? Sekarang Diego sudah 3 tahun, Sayang.” “Iya, nanti, Damian. Pekerjaanku masih banyak sekali. Aku belum bisa hamil. Kasihan Carol. Tanggung jawabnya terlalu banyak. Tunggu sebentar. Aku harus membereskan pekerjaanku dulu. Tidak apa-apa, kan?” Kimberly membelai rahang Damian, menatap iris mata cokelat sang suami. Damian mengembuskan napas kasar. Pria tampan itu sebenarnya tak setuju, tapi dia tak ingin mengekang Kimberly. Selama ini, dia membebaskan sang istri berkarir asalkan tetap keluarga selalu menjadi prioritas utama. “Baiklah, tapi nanti kau harus tetap pikirkan ini. Tidak baik menunda terlalu lama.” Damian menangkup kedua pipi Kimberly, mengecupi bibir sang istri bertubi-tubi. Kimberly tersenyum samar. “Iya, Sayang. Aku berjanji setelah selesai mengurus beberapa hal di perusahaan, aku akan fokus untuk program anak kedua kita.” “Good.” Damian menyapukan hidungnya ke hidung Kimberly. “Permisi, Tuan, Nyonya.” Seorang pelayan menyapa Damian dan Kimberly penuh sopan. “Hm? Ada apa?” tanya Kimberly seraya menatap sang pelayan. “Maaf mengganggu, Tuan, Nyonya. Saya hanya ingin memberi tahu, di depan ada tamu yang bernama Tuan Fargo Jerald ingin bertemu Tuan dan Nyonya sekaligus Tuan Muda Diego,” ujar sang pelayan memberi tahu, dan sontak membuat Kimberly dan Damian terkejut. “Fargo Jerald datang?” Mata Kimberly melebar tak percaya. Yang Kimberly tahu Fargo masih berada di Amsterdam. Kimberly sama sekali tidak tahu kalau Fargo sudah kembali ke Los Angeles. Bahkan Fargo sama sekali tidak memberi tahunya. “Benar, Nyonya. Di depan ada Tuan Fargo Jerald ingin bertemu dengan Anda, Tuan Damian, dan Tuan Muda Diego,” jawab sang pelayan itu lagi. “Kami akan ke sana. Minta Fargo untuk menunggu,” sambung Damian dingin dan tegas. “Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nyonya.” Pelayan itu menundukan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Damian dan Kimberly. “Damian, kau tahu kalau Fargo ada di Los Angeles?” tanya Kimberly pada Damian kala pelayan sudah pergi. “Tidak, aku tidak tahu sama sekali kalau Fargo ada di Los Angeles. Tapi mungkin dia sengaja ingin membuat kejutan. Sudah lama dia tidak pulang, Kim.” Damian mencubit pelan hidung Kimberly. “Ya sudah, lebih baik kita temui Fargo sekarang. Dia sudah menunggu kita di depan.” Kimberly tersenyum dan mengangguk patuh. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Fargo ingin membuat kejutan. Lagi pula, Kimberly sangat senang kalau Fargo sekarang sudah kembali ke Los Angeles. “Diego, kemari. Kita temui Paman Fargo, Sayang,” ujar Kimberly hangat. “Paman Fargo?” Diego mengerjapkan matanya beberapa kali. “Paman Fargo yang sering video call denganku, Mommy?” tanyanya polos. “Anak pintar. Kau benar, Nak. Paman Fargo yang sering video call denganmu. Dia ada di sini sekarang. Sudah kembali dari Amsterdam. Ayo temui Paman Fargo,” ajak Kimberly hangat. “Yeay! Aku bertemu dengan Paman Fargo.” Diego turun dari mobil mininya, dan langsung berlari menghampiri kedua orang tuanya. Refleks, Damian menggendong Diego, lalu mengajak istri dan anaknya keluar dari ruang bermain, menuju ruangan di mana Fargo sudah menunggu mereka. Saat tiba di ruang tengah, Kimberly dan Damian sama-sama tersenyum menyambut kedatangan Fargo. Senyum yang menunjukkan jelas kerinduan. Kimberly akhirnya memeluk Fargo, disusul dengan Damian yang juga memeluk Fargo. Tampak tatapan Fargo menatap hangat bocah laki-laki yang ada di gendongan Damian. “Hallo, Paman Fargo?” Diego lebih dulu menyapa Fargo sambil melambaikan tanga mungilnya. “Hallo, Boy.” Fargo mengambil alih Diego yang ada di gendongan Damian. Pria itu memberikan kecupan di pipi bulat Diego. Meski baru pertama kali bertemu langsung dengan Diego, tapi Fargo kerap melakukan video call dengan Diego. Tak heran jika Fargo terlihat dekat dengan Diego. “Yeay! Aku bisa bertemu dengan Paman Fargo. Paman Fargo, aku sudah hebat mengemudikan mobil,” seru Diego bangga pada dirinya sendiri. Fargo tersenyum gemas melihat Diego. “Good, kau memang pintar, Boy.” Diego melingkarkan tangannya ke leher Fargo. “Paman, kenapa baru datang sekarang? Paman sibuk seperti Daddy, ya?” tanyanya polos. “Benar. Paman sibuk seperti Daddy.” Fargo kembali menghujani Diego dengan kecupan. Pipi Diego bulat merah persis seperti tomat dan menggemaskan. Kimberly tersenyum. “Fargo ayo duduk,” ucapnya mempersilakan Fargo untuk duduk. Fargo menganggukkan kepalanya, lalu duduk di sofa terdekat bersama dengan Kimberly dan Damian. Sementara Diego duduk di pangkuan Fargo. Terlihat Diego sangat nyaman duduk di pangkuan Fargo. Nyatanya pertemuan pertama secara langsung menggambarkan Fargo adalah sosok yang hangat pada anak kecil. “Bagaimana keadaan perusahaanmu di Amsterdam, Fargo?” tanya Damian seraya menatap Fargo. “Baik. Semua baik-baik saja,” jawab Fargo dengan senyuman samar di wajahnya. “Hm, Fargo. Apa Daddy Olsen dan Mommy Fidelya tahu kalau kau sudah ada di Los Angeles?” tanya Kimberly ingin tahu. “Tidak, aku sengaja tidak memberitahukan pada siapa pun tentang kepulanganku,” jawab Fargo lagi. “Ah, begitu.” Kimberly menganggukkan kepalanya. “Tapi, kau sudah benar-benar kembali ke Los Angeles, kan?” tanyanya memastikan. “Ya, aku sudah kembali, Kim. Sudah waktunya aku menata hidupku di sini,” balas Fargo hangat. Kimberly tersenyum ramah. “Aku senang mendengar kau sudah pulang, Fargo. Welcome home. Aku berharap kau selalu mendapatkan yang terbaik di hidupku.” “Thanks, Kim.” Fargo mengalihkan pandangannya, menatap Diego seraya membelai pipi bocah laki-laki itu lembut. “Waktu berjalan begitu cepat, aku masih mengingat foto Diego saat dia masih bayi. Sekarang dia sudah besar dan sudah bisa memanggilku Paman.” Fargo menatap penuh kehangatan Diego. Tatapan yang tersirat penuh kasih sayang. Pun Damian dan Kimberly memberikan senyuman pada Fargo yang tampak sangat menyukai berada di sisi Diego. *** Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Damian dan Kimberly baru saja selesai mengganti pakaian mereka bersiap-siap untuk tidur. Pada jam seperti ini, Diego sudah lebih dulu tidur. Setelah hari ini seharian Diego bermain dengan Fargo, bocah laki-laki itu terlihat sangat senang akan kehadiran Fargo. Sifat Fargo yang hangat pada anak-anak mampu membuat Diego menyukai Fargo. Padahal Fargo dan Diego sebelumnya hanya akrab melalui video call saja. Namun, ternyata ketika bertemu langsung Fargo mampu menjadi teman yang baik bagi Diego. “Sayang, aku senang karena Fargo sudah kembali ke Los Angeles,” ujar Kimberly yang kali ini sudah membaringkan tubuh di ranjang bersama dengan sang suami. Seperti biasa, Kimberly menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu. “Aku juga senang dia sudah kembali. Seluruh keluarga sudah sangat lama menanti kepulangannya.” Damian membelai rambut Kimberly, mengecupi puncak kepala Kimberly. “Hm, Damian.” Kimberly mendongakkan kepalanya, menatap mata cokelat sang suami. “Ada apa?” Damian membelai pipi Kimberly lembut. “Apa menurutmu sekarang Fargo sudah memiliki kekasih?” tanya Kimberly pelan. “Kenapa kau menanyakan itu, Kim?” Sebelah alis Damian terangkat, menatap sang istri dengan sedikit curiga. “Aku hanya bertanya saja. Aku tidak pernah tahu kehidupan Fargo.” “Kau cemburu, Kim?” “Ck! Damian kau bicara apa. Kau jelas tahu aku hanya mencintaimu. Kau ini kenapa masih menanyakan hal itu. Kita menikah sudah cukup lama, Damian.” “Cemburu tidak mengenal berapa lama kita menikah, Kim. Jika aku tanya Keiza sudah punya kekasih atau belum, kau marah, tidak?” “Damian, jangan macam-macam!” Mata Kimberly langsung mendelik tajam, menatap Damian penuh peringatan. Tatapan yang tersirat layaknya sebuah ancaman. Damian mengulum senyumannya. Pria tampan itu sengaja menggoda sang istri. Berikutnya, Damian langsung menindih tubuh Kimberly, melumat bibir sang istri. “Aku tahu kau hanya mencintaiku, Kim. Aku tadi hanya bercanda.” “Menyebalkan!” Kimberly memukul lengan kekar Damian. “Kenapa kau selalu menggemaskan, hm?” Damian mulai melucuti gaun tidur sang istri, dan melemparkan ke lantai. Detik selanjutnya, kala Kimberly sudah polos tanpa sehelai benang pun, Damian langsung mencumbu setiap inci tubuh istrinya itu. “Ah, Sayang. Pelan-pelan,” desah Kimberly kala Damian menggigit putingnya. “Kau selalu seksi, Kim” Damian kembali melancarkan sentuhannya, mencumbu sang istri setiap inci tibuh mulus istrinya itu. Lagi dan lagi pergulatan panas yang nyaris setiap hari mereka lakukan tak pernah sekalipun bosan. Tubuh mereka layaknya sudah candu. Tak pernah bisa terkendali. Yang tersisa di kamar megah itu hanya desahan dan erangan yang saling bersahutan, melebur menjadi satu di permainan panas yang mereka selalu ciptakan tanpa mengenal kata bosan.“Sayang, hari ini kau pulang jam berapa?” Kimberly membantu memakaikan dasi di leher sang suami, menepuk-nepuk pelan dada bidang suaminya itu kala dasi sudah terpasang sempurna. Seperti biasa setiap pagi, Kimberly selalu membantu sang suami untuk bersiap-siap ke kantor. “Mungkin sedikit terlambat. Aku memiliki meeting penting hari ini, Kim. Kau sendiri bagaimana? Jam berapa kau pulang?” Damian menarik dagu Kimberly, mencium dan melumat lembut bibir istrinya itu. “Aku pulang sore, Sayang. Jam tiga sore nanti pasti aku sudah pulang.” Kimberly melingkarkan tangannya ke leher Damian. Merapatkan tubuhnya ke tubuh sang suami. “Diego nanti pulang jam berapa?” tanya Damian sambil memeluk pinggang istrinya itu. Tadi jam tujuh pagi, Diego sudah lebih dulu berangkat sekolah. Diego berangkat lebih awal, karena bocah laki-laki itu memiliki jadwal kelas lebih pagi. “Sepertinya Diego akan menginap di rumah orang tuaku. Diego ingin bermain dengan Ben. Orang tuaku juga merindukan Diego. Tidak apa-
“Berengsek!” Fargo mengumpat dalam hati kala sudah selesai mengganti pakaiannya dengan kaus bersih. Tampak tatapan Fargo menatap kesal dan penuh emosi pada Carol yang masih meracau akibat mabuk. Saat ini Carol berbaring di ranjang dan mengatakan hal-hal sembarangan layaknya orang mabuk. Ya, dengan terpaksa Fargo membawa Carol pergi ke apartemen pribadinya. Fargo tak memiliki pilihan lain, karena jika dirinya melepas Carol, maka bisa jadi masalah baru akan timbul. “Menyusahkan sekali wanita ini!” Fargo ingin menghubungi siapa pun kontak nama yang ada di ponsel Carol, agar segera membawa Carol pergi menjauh darinya. Akan tetapi entah kenapa Fargo tak bisa melakukan itu. Seperti ada magnet kuat yang mencegah dirinya. Apalagi ketika melihat Carol yang tampak seperti sangat putus asa. Fargo memejamkan mata singkat. Berusaha mengatasi segala emosi yang terbendung dalam dirinya. Tujuan Fargo ke kelab malam karena ingin menenangkan pikiran yang belakangan ini lelah dengan pekerjaannya. Nam
Carol mondar mandir tidak jelas di dalam kamar mandi. Wajah cantik wanita itu sudah seperti kepiting rebus akibat menahan malu. Sudah lima belas menit lalu dia selesai membersihkan diri, tapi tetap Carol tak kunjung keluar dari kamar mandi. Benaknya sejak tadi memikirkan tentang kebodohannya yang kelepasan bicara. Bagaimana bisa dirinya malah memberi tahu Fargo tentang ukuran dadanya? Astaga! Benar-benar sangat bodoh! Memalukan! Carol mendengkus seraya mengumpati dirinya sendiri. Jika sudah seperti ini, sama saja dengan mempermalukan diri. Perlahan, dia memejamkan mata sebentar, mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. Hal yang paling menbuatnya kesal pada dirinya adalah kerap kelepasan bicara. Alhasil, sekarang dirinya sendiri yang malu. Akan tetapi, Carol tak bisa memungkiri bahwa dia berterima kasih pada Fargo yang sudah menyelamatkannya. Entah, bagaimana nasibnya kalau sampai Fargo meninggalkannya seorang diri di kelab malam. Memang, dia akui tadi malam dirinya mab
“Turunlah. Mobilmu pasti sudah ada di halaman parkir kantormu. Tadi pagi aku sudah meminta asistenku mengantarkan mobilmu.” Fargo berucap dengan nada dingin kala pria itu sudah mengantarkan Carol tepat di lobby perusahaan Carol. Ya, tadi pagi-pagi sekali, dia sudah meminta asistennya mengambil mobil Carol yang masih terparkir di kelab malam, mengantarkan ke halaman parkir kantor Carol. “Terima kasih sudah membantuku,” jawab Carol dengan nada yang sama persis seperti Fargo. Dingin dan acuh. Paling tidak, Carol sekarang tak memiliki beban utang budi. Memasak untuk Fargo sudah sebagai bentuk balas budi. Meski rasa masakannya pas-pasan, tapi tetap masih bisa dimakan. “Anyway, besok aku akan ke kantormu. Pamanku sudah memberikan kontrak revisi yang paling terbaru. Aku tidak akan lama di kantormu. Jadi kau jangan mempersulitku meminta revisi kontrak kerja sama lagi.” Carol menoleh, menatap Fargo. Tatapan Carol menatap jengkel dan tersirat kesal pada Fargo. Ingatannya langsung tergali aka
Carol menjadi kikuk dan tak tahu bagaimana harus bersikap kala melihat pemandangan di depan mata. Pemandangan di mana yang mengusik ketenangan jiwa dan raga. Entah, dia tak mengerti pada dirinya sendiri. Namun, andai Carol tahu Fargo sedang sibbuk bermesraan dengan wanita lain, maka dia tak akan masuk ke dalam. Sungguh, dia merasa dirinya sekarang terjebak dan sulit untuk menghindar. ‘Kenapa aku harus ada di kondisi begini?’ geram Carol kesal dalam hati. Ingin rasanya Carol pergi, tapi kaki wanita itu seakan telah tertanam di lantai—membuatnya kesulitan dalam bergerak. Fargo melihat Carol yang berdiri di ambang pintu. Raut wajahnya dingin dan tampak menahan rasa kesal. Detik selanjutnya, dia melepas paksa pelukan seorang wanita—yang memeluk dirinya bertepatan dengan Carol membuka pintu ruang kerjanya. Pun dia tak pernah mengira kalau wanita di hadapannya itu memeluk dirinya secara tiba-tiba. “Pulanglah, Eldora. Aku sibuk,” ucap Fargo dingin, mengusir wanita bernama Eldora. Fargo ta
Carol menenggak wine di tangannya hingga tandas. Entah kenapa mood-nya benar-benar dalam keadaan yang tidak baik. Dia ingin sekali tak datang di jamuan makan malam yang diadakan perusahaan Damian, tapi dia tak enak pada Kimberly kalau sampai tidak datang. Mau tak mau, dia memilih untuk datang karena sudah terlanjur berjanji. Carol menyandarkan punggungnya di sofa, mengambil bantal kecil dan memeluknya. Merasa sedikit bosan, dia mengambil remote televisi, dan langsung menghidupkan. Namun, di kala baru saja televisi dihidupkan, tatapannya menatap lekat penyiar berita yang tengah memberitakan sesuatu. *Kabar sore ini datang dari Fargo Jerald, mantan suami Kimberly Darrel ini sudah lagi terlihat di Los Angeles. Banyak paparazzi yang diam-diam mengambil gambar Fargo Jerald. Sampai detik ini, Fargo Jerald masih belum memiliki pengganti Kimberly Darrel. Tampaknya Fargo Jerald masih belum mau memulai sebuah hubungan.* Carol mematikan siaran berita itu. Tujuan Carol melihat televisi adalah
Mata Fargo melebar menatap Carol dengan tatapan terkejut sekaligus memiliki jutaan arti. Lidahnya tak mampu berucap. Pria tampan itu hanya mencetuskan nama Carol di dalam hatinya, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia tetap bergeming, tak bergerak sedikit pun. Tatapan itu seakan hanyut membawanya ke lautan lepas, yang entah membawanya ke arah mana.Lagi, Fargo tetap hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun kala Carol sudah mendekat. Gaun yang dipakai Carol begitu indah dan cantik. Rambut panjang wanita itu digulung ke atas, menunjukkan leher jenjangnya yang memukau. Belahan dada Carol terlihat. Pun Fargo melihat jelas ukuran dada Carol memang menantang. Bulat, padat, dan menggoda para kaum adam. Orang yang menatap Carol tak hanya Fargo saja, tapi banyak dari pria lain yang juga menatap Carol. Tentu kehadiran Carol yang sendiri mengundang perhatian banyak orang. Semua orang di pesta pasti beranggapan bahwa Carol adalah wanita single. Jamuan makan malam yang diadakan oleh Darr
“Kenapa kau selalu cantik, hm?” Damian melingkarkan tangannya di pinggang Kimberly possessive. Banyak mata yang melihat sang istri, tapi Damian langsung memeluk erat sang istri, seakan menunjukkan pada dunia—Kimberly hanya miliknya. “Sayang, kau jangan merayu.” Kimberly memukul pelan lengan kekar Damian. Tampak pipi wanita itu tersipu malu. Saat ini dan dan suami berada berdansa di lantai dansa. Alunan musik slow motion, membuat Kimberly hanyut akan dansa romatis itu. Damian mengecupi bibir Kimberly bertubi-tubi. Pria tampan itu selalu gemas akan tingkah sang istri yang selalu menggemaskan. Saat Damian menikmati dansa romantis dengan Kimberly—tatapan pria tampan itu teralih pada Fargo dan Carol—yang tengah berdansa. Detik itu juga raut wajah Damian berubah. Sepasang iris mata cokelat gelapnya menatap Fargo dan Carol dengan tatapan penuh arti. “Kim, lihatlah ke kanan,” bisik Damian pelan di telinga Kimberly. Refleks, Kimberly mengalihkan pandangannya ke arah kanan, sesuai dengan yan
Raut wajah Carol menunjukkan jelas kemuramannya. Pancaran matanya tampak melemah. Jutaan hal mengusik pikiran Carol, membuat seakan tubuhnya terasa lelah. Dia mengeratkan selimut yang membalut tubuh polosnya. Dia menggigit bibir bawahnya mengingat kejadian beberapa menit lalu. Kejadian di mana tak pernah dia sangka. Semua terjadi begitu cepat, dan berhenti begitu saja seakan dirinya tak pernah diinginkan. Air mata Carol sudah mengumpul di belakang kornea matanya. Namun, wanita itu menahan diri untuk tak menangis. Entah dia tak mengerti kenapa dirinya sangat sensitive. Padahal seharusnya Carol merasa bersyukur tak terjerat dalam ikatan semu. Sungguh, dia memang tak mengerti pada dirinya sendiri. Semua terlalu rumit untuk dikatakan. Sayup-sayup mata Carol mulai merasakan kantuk. Wanita cantik itu ingin sekali pindah ke kamarnya, tetapi kondisi kakinya tak memungkinkan untuk berjalan. Perlahan, dia mulai membaringkan tubuh di sofa. Pikiran dan tubuhnya sangat lelah, membuat rasa kantu
Sudah berjam-jam Carol memaksa untuk menutup matanya, wanita cantik itu ingin sekali beristirahat. Pun tubuhnya terasa begitu lelah. Begitu juga dengan pikirannya yang sangat lelah. Akan tetapi, alih-alih memejamkan mata malah Carol tak bisa tidur sama sekali. Hatinya seperti gelisah akan sesuatu. Benak wanita itu memikirkan hal yang dia sendiri tak tahu hal apa yang mengusik ketenangan hati dan jiwa. Carol bangun, dan memilih duduk serta menyandarkan punggung di kepala ranjang. Beberapa kali, dia menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan perlahan. Ya, sekarang dia masih berada di kamar tamu di apartemen pribadi milik Fargo. Mungkin kejadian tadi di pesta, membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Harus dia akui, tindakan Fargo yang menyelamatkannya dari Adrik, membuat hatinya merasakan aman dan terlindungi. Rupanya Fargo bisa bersikap gentlemen. Carol melirik jam dinding—waktu menunjukkan pukul dua malam. Biasanya dia sudah tertidur pulas pada pukul ini, tapi sayangnya sekarang dia tida
Sepasang iris mata Fargo menatap Adrik Zeno di hadapannya dengan tatapan dingin, tajam, dan menusuk. Tatapan yang tersirat penuh peringatan. Aura wajahnya menunjukan kemarahan yang tak terkendali. “Jangan ikut campur! Aku tahu kau tidak memiliki hubungan apa pun dengan Carol!” seru Adrik dengan penuh keyakinan. Tatapannya membalas tatapan Fargo tak kalah tajam. Fargo menarik tangan Carol, membawa masuk ke dalam dekapannya. “Aku dan Carol memang sengaja menyembunyikan hubungan kami. Akan ada waktunya kami mengumumkan hubungan kami pada publik. Kami memiliki alasan sendiri untuk tidak memublikasikan hubungan kami. Kau hanya orang luar yang tidak tahu apa pun. Jadi lebih baik diam!”Setelah mengatakan itu, Fargo menggenggam tangan Carol, membawa Carol meninggalkan pesta. Tampak, raut wajah Adrik berubah dingin dan menunjukan jelas emosinya kala Fargo membawa Carol. Adrik hendak ingin mengejar, tapi Adrik menyadari bahwa dirinya berada di pesta. Adrik tak mau membuat kekacauan. Fargo
“Kenapa kau selalu cantik, hm?” Damian melingkarkan tangannya di pinggang Kimberly possessive. Banyak mata yang melihat sang istri, tapi Damian langsung memeluk erat sang istri, seakan menunjukkan pada dunia—Kimberly hanya miliknya. “Sayang, kau jangan merayu.” Kimberly memukul pelan lengan kekar Damian. Tampak pipi wanita itu tersipu malu. Saat ini dan dan suami berada berdansa di lantai dansa. Alunan musik slow motion, membuat Kimberly hanyut akan dansa romatis itu. Damian mengecupi bibir Kimberly bertubi-tubi. Pria tampan itu selalu gemas akan tingkah sang istri yang selalu menggemaskan. Saat Damian menikmati dansa romantis dengan Kimberly—tatapan pria tampan itu teralih pada Fargo dan Carol—yang tengah berdansa. Detik itu juga raut wajah Damian berubah. Sepasang iris mata cokelat gelapnya menatap Fargo dan Carol dengan tatapan penuh arti. “Kim, lihatlah ke kanan,” bisik Damian pelan di telinga Kimberly. Refleks, Kimberly mengalihkan pandangannya ke arah kanan, sesuai dengan yan
Mata Fargo melebar menatap Carol dengan tatapan terkejut sekaligus memiliki jutaan arti. Lidahnya tak mampu berucap. Pria tampan itu hanya mencetuskan nama Carol di dalam hatinya, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia tetap bergeming, tak bergerak sedikit pun. Tatapan itu seakan hanyut membawanya ke lautan lepas, yang entah membawanya ke arah mana.Lagi, Fargo tetap hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun kala Carol sudah mendekat. Gaun yang dipakai Carol begitu indah dan cantik. Rambut panjang wanita itu digulung ke atas, menunjukkan leher jenjangnya yang memukau. Belahan dada Carol terlihat. Pun Fargo melihat jelas ukuran dada Carol memang menantang. Bulat, padat, dan menggoda para kaum adam. Orang yang menatap Carol tak hanya Fargo saja, tapi banyak dari pria lain yang juga menatap Carol. Tentu kehadiran Carol yang sendiri mengundang perhatian banyak orang. Semua orang di pesta pasti beranggapan bahwa Carol adalah wanita single. Jamuan makan malam yang diadakan oleh Darr
Carol menenggak wine di tangannya hingga tandas. Entah kenapa mood-nya benar-benar dalam keadaan yang tidak baik. Dia ingin sekali tak datang di jamuan makan malam yang diadakan perusahaan Damian, tapi dia tak enak pada Kimberly kalau sampai tidak datang. Mau tak mau, dia memilih untuk datang karena sudah terlanjur berjanji. Carol menyandarkan punggungnya di sofa, mengambil bantal kecil dan memeluknya. Merasa sedikit bosan, dia mengambil remote televisi, dan langsung menghidupkan. Namun, di kala baru saja televisi dihidupkan, tatapannya menatap lekat penyiar berita yang tengah memberitakan sesuatu. *Kabar sore ini datang dari Fargo Jerald, mantan suami Kimberly Darrel ini sudah lagi terlihat di Los Angeles. Banyak paparazzi yang diam-diam mengambil gambar Fargo Jerald. Sampai detik ini, Fargo Jerald masih belum memiliki pengganti Kimberly Darrel. Tampaknya Fargo Jerald masih belum mau memulai sebuah hubungan.* Carol mematikan siaran berita itu. Tujuan Carol melihat televisi adalah
Carol menjadi kikuk dan tak tahu bagaimana harus bersikap kala melihat pemandangan di depan mata. Pemandangan di mana yang mengusik ketenangan jiwa dan raga. Entah, dia tak mengerti pada dirinya sendiri. Namun, andai Carol tahu Fargo sedang sibbuk bermesraan dengan wanita lain, maka dia tak akan masuk ke dalam. Sungguh, dia merasa dirinya sekarang terjebak dan sulit untuk menghindar. ‘Kenapa aku harus ada di kondisi begini?’ geram Carol kesal dalam hati. Ingin rasanya Carol pergi, tapi kaki wanita itu seakan telah tertanam di lantai—membuatnya kesulitan dalam bergerak. Fargo melihat Carol yang berdiri di ambang pintu. Raut wajahnya dingin dan tampak menahan rasa kesal. Detik selanjutnya, dia melepas paksa pelukan seorang wanita—yang memeluk dirinya bertepatan dengan Carol membuka pintu ruang kerjanya. Pun dia tak pernah mengira kalau wanita di hadapannya itu memeluk dirinya secara tiba-tiba. “Pulanglah, Eldora. Aku sibuk,” ucap Fargo dingin, mengusir wanita bernama Eldora. Fargo ta
“Turunlah. Mobilmu pasti sudah ada di halaman parkir kantormu. Tadi pagi aku sudah meminta asistenku mengantarkan mobilmu.” Fargo berucap dengan nada dingin kala pria itu sudah mengantarkan Carol tepat di lobby perusahaan Carol. Ya, tadi pagi-pagi sekali, dia sudah meminta asistennya mengambil mobil Carol yang masih terparkir di kelab malam, mengantarkan ke halaman parkir kantor Carol. “Terima kasih sudah membantuku,” jawab Carol dengan nada yang sama persis seperti Fargo. Dingin dan acuh. Paling tidak, Carol sekarang tak memiliki beban utang budi. Memasak untuk Fargo sudah sebagai bentuk balas budi. Meski rasa masakannya pas-pasan, tapi tetap masih bisa dimakan. “Anyway, besok aku akan ke kantormu. Pamanku sudah memberikan kontrak revisi yang paling terbaru. Aku tidak akan lama di kantormu. Jadi kau jangan mempersulitku meminta revisi kontrak kerja sama lagi.” Carol menoleh, menatap Fargo. Tatapan Carol menatap jengkel dan tersirat kesal pada Fargo. Ingatannya langsung tergali aka
Carol mondar mandir tidak jelas di dalam kamar mandi. Wajah cantik wanita itu sudah seperti kepiting rebus akibat menahan malu. Sudah lima belas menit lalu dia selesai membersihkan diri, tapi tetap Carol tak kunjung keluar dari kamar mandi. Benaknya sejak tadi memikirkan tentang kebodohannya yang kelepasan bicara. Bagaimana bisa dirinya malah memberi tahu Fargo tentang ukuran dadanya? Astaga! Benar-benar sangat bodoh! Memalukan! Carol mendengkus seraya mengumpati dirinya sendiri. Jika sudah seperti ini, sama saja dengan mempermalukan diri. Perlahan, dia memejamkan mata sebentar, mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. Hal yang paling menbuatnya kesal pada dirinya adalah kerap kelepasan bicara. Alhasil, sekarang dirinya sendiri yang malu. Akan tetapi, Carol tak bisa memungkiri bahwa dia berterima kasih pada Fargo yang sudah menyelamatkannya. Entah, bagaimana nasibnya kalau sampai Fargo meninggalkannya seorang diri di kelab malam. Memang, dia akui tadi malam dirinya mab