Home / Romansa / Damian&Kimberly / Bab 3. S2. Meet Again 

Share

Bab 3. S2. Meet Again 

last update Last Updated: 2025-02-04 18:30:47

“F-Fargo?” 

Mata Carol melebar terkejut melihat sosok pria yang ada di hadapannya ini Fargo. Wait! Fargo ada di Amsterdam. Tidak mungkin pria itu ada di hadapannya. Sial! Pasti dirinya salah mengenali seseorang. Carol menepis pikirannya, meyakinkan pada dirinya sendiri pasti dirinya ini salah. Tidak mungkin sosok pria yang di depannya ini adalah Fargo. Carol yakin ada yang tidak beres dengan otaknya itu.

“Kenapa kau selalu membuat masalah, Carot!” suara geraman khas pria di depannya itu membuat Carol menyadari bahwa otaknya tidaklah salah. Ditambah nama paggilan ‘Carot’ yang hanya dipanggil dari mulut pria menyebalkan membuat Carol langsung sadar siapa sosok pria yang ada di depannya itu. 

Buru-buru, Carol menjauh dari pria itu. Beruntung injakan kakinya kuat di lantai. Jika tidak, maka sudah pasti Carol bisa saja kembali nyaris tersungkur. Oh, Hell! Betapa ceroboh dirinya. Napas Carol berembus panjang, berusaha untuk tenang seolah tak terjadi masalah apa pun. 

“Kau, Fargo, kan?” Ini memang pertanyaan bodoh, tapi Carol bertanya hanya untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah. Yang Carol tahu Fargo tinggal di Amsterdam, tapi kenapa bisa ada di sini? 

Fargo merapikan jasnya yang sedikit berantakan akibat berdekatan dengan Carol. Tatapan dingin dan tegasnya seakan menunjukkan bahwa pria itu kesal kembali harus bertemu dengan Carol. Sialnya, Fargo selalu bertemu dengan Carol dikejadian-kejadian menyebalkan. 

Tiga tahun tak lagi melihat Carol, ternyata sekarang Fargo melihat sosok menyebalkan lagi di hadapannya tepat di hari pertama kembalinya ke Los Angeles. Ini benar-benar tak Fargo sukai. 

“Menurutmu siapa yang ada di depanmu, hah?! Kau itu kenapa selalu saja ceroboh!” seru Fargo dengan nada yang menahan rasa kesal dalam dirinya. 

Seketika mendengar jawaban dari sosok pria yang ada di depannya itu, membuat Carol menyadari siapa yang ada di depannya itu. Carol mengumpat dalam hati. Apa dunia sesempit ini? Di Amsterdam, dirinya bertemu dengan Fargo. Sekarang di kala Carol sedang terburu-buru, juga harus dipertemukan dengan Fargo. Semesta sedang mengajaknya bercanda. 

“Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu. Tapi, jangan salahkan aku saja. Kau juga bersalah,” jawab Carol dengan nada ketus seakan dirinya tidak bersalah sepenuhnya. 

Bagi Carol, dalam hal ini memang tidak bisa dirinya disalahkan sepenuhnya. Tadi, dia terburu-buru sampai tak melihat jalan dengan baik. Namun, Fargo juga bersalah, karena berjalan tak menggunakan mata dengan baik. 

Sebelah alis Fargo terangkat, menatap wanita makluk aneh ini. Bisa-bisanya Carol melimpahkan kesalahan padanya. “Kau sudah gila. Kau jalan yang tidak becus, malah kau menyalahkanku. Apa tiga tahun pengobatan otakmu masih belum benar juga?” ucapnya sarkas menahan rasa kesal. 

Carol berdecak seraya mengumpat dalam hari meumpati sosok pria di depannya terus bersikap menyebalkan. “Aku sudah meminta maaf, Fargo. Kau ini berlebihan sekali. Aku tadi terburu-buru.” 

Fargo berusaha mengendalikan emosi dalam dirinya, mengabaikan ucapan Carol. Dia tahu berurusan dengan wanita itu hanya akan menguji kesabaran dirinya. “Sudah berapa kali kau minta maaf atas kecerobohanmu? Sudah sering, kan? Kau itu memang ceroboh! Jalan tidak pernah menggunakan mata dengan baik!” 

“Ck! Kau itu menyebalkan sekali, Fargo. Sudahlah Aku hari ini harus bertemu dengan tamu pentingku. Aku tidak bisa berbicara lama denganmu.” Carol menyadari dirinya memiliki janji bertemu dengan rekan bisnis pamannya. Jika dia masih tetap mengomel dengan Fargo, maka semua itu tidak akan ada hasil. Yang ada malah dia akan memperkeruh suasana dan berdampak pada mood-nya. 

“Kau pikir hanya dirimu yang sibuk? Aku bahkan jauh lebih sibuk darimu.” Fargo mengabaikan Carol, pria itu mengalihkan pandangannya pada pelayan yang menghampirinya. Tampak decakan lolos di bibir Carol ketika mendengar ucapan Fargo. Pun tak mau ambil pusing, Carol segera mengalihkan pandangannya pada pelayan yang menghampirinya. 

“Selamat pagi, Tuan, Nona. Apa kalian sudah melakukan reservasi?” tanya sang pelayan pada Carol dan Fargo penuh sopan. 

“Sudah, atas nama Donald Cole.” Carol dan Fargo kompak menjawab bersamaan. Sontak, mereka berdua terkejut karena menyebutkan nama yang sama. Detik itu juga Carol dan Fargo saling bertatapan, menatap bingung dan tak mengerti satu sama lain. 

“Kau—” 

“Kau kenapa menyebut nama Pamanku, Fargo?” seru Carol dengan nada dingin kala Fargo menyebut-nyebut nama pamannya. 

“Donald Cole adalah Pamanmu?” Mata tajam Fargo menatap lekat Carol, dan penuh tuntutan. 

Carol mengangguk. “Ya, Donald Cole adalah Pamanku. Hari ini Pamanku harus ke Florida. Aku diminta dia untuk menemui rekan binisnnya.” 

“Siapa nama rekan bisnis Pamanmu?” tanya Fargo dengan tatapan penuh tuntutan. 

“Tunggu sebentar—” Carol membuka dokumen di tangannya, melihat kartu nama yang terselip di sana. Berikutnya, dia segera melihat kartu nama itu dengan tatapan yang lekat dan seksama. Tiba-tiba mata Carol terperanjat terkejut melihat nama yang tertera di kartu nama itu. Carol mendekatkan kartu nama itu, memastikan nama yang dia baca tidak salah. 

Oh, Shit! Carol mengumpat dalam hati. Ternyata rekan bisnis yang dimaksud oleh pamannya adalah Fargo Jerald. Tadi dia tak melihat lebih dulu kartu nama dari rekan bisnis pamannya. Jika saja dia tahu, maka lebih baik Carol meminta bantuan asistennya untuk menemui Fargo. 

Carol memejamkan mata singkat. Dalam hati, Carol yakin dirinya pasti mendapatkan kutukan kesialan. Entah kenapa setiap kejadian-kejadian selalu saja bertemu dengan Fargo. Padahal dia sudah pusing dengan kehidupannya. Kenapa malah dipertemukan dengan pria menyebalkan itu? Cara bercanda semesta benar-benar keterlaluan dan tak bisa ditoleransi lagi. 

“Siapa nama rekan bisnis Pamanmu?” tanya Fargo lagi yang sejak tadi menunggu jawaban Carol. 

“Kau … kau yang merupakan rekan bisnis Pamanku. Maaf aku tidak tahu. Aku baru melihat kartu namamu di dokumen ini.” Carol menjawab santai tanpa dosa. Jika dia mengomel hanya sia-sia, bukan? Jadi lebih baik berpura-pura tak memiliki masalah. Walau dalam hati, Carol sangat jengkel. 

“Tuan, Nona, jadi kalian sudah reservasi atas nama Tuan Donald Cole?” tanya sang pelayan memastikan. 

“Ya,” jawab Fargo singkat. Disusul anggukkan kepala oleh Carol. Pun Fargo tak menyangka kalau akan bertemu lagi dengan Carol dalam situasi seperti ini. Padahal tujuan Fargo untuk menemui rekan bisnisnya. Andai Fargo tahu rekan bisnisnya berhalangan hadir dan digantikan oleh Carol, maka Fargo memilih menolak bertemu dengan Carol. Fargo malas jika harus berhadapan dengan Carol. 

“Baiklah, Tuan, Nona. Mari ikut saya ke dalam.” Sang pelayan berucap penuh sopan. 

Tanpa lagi berkata, Fargo dan Carol melangkah masuk ke dalam restoran, mengikuti sang pelayan yang sudah lebih dulu guna menunjukkan kursi meja makan yang telah dipesan oleh Donald Cole. 

Sepanjang perjalanan menuju kursi meja makan, Fargo dan Carol benar-benar bersikap sangat acuh dan seakan tak peduli satu sama lain. Mereka berdua layaknya orang yang enggan untuk saling mengenal. 

“Tuan, Nona. Silakan duduk. Jika kalian membutuhkan sesuatu, Anda bisa memanggil saya,” ucap sang pelayan sopan. 

“Thanks,” ucap Carol dingin. 

“Saya permisi.” Pelayan itu menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Carol dan Fargo. 

Carol lebih dulu duduk di kursi meja makan, disusul oleh Fargo. Para pelayan mengantarkan wine ke tengah-tengah mereka. Layaknya seakan pasangan yang romantis. Restoran ini sangat mendukung dari segi tatanan. Padahal mereka berdua hanya karena bertemu sebagai rekan bisnis saja. Tidak lebih dari itu.  

“Baiklah, kita langsung saja. Tolong tanda tangani dokumen ini demi mempersingkat waktu.” Carol memberikan dokumen yang ada di tangannya pada Fargo.  

Fargo mengambil dokumen tersebut, mengamati seksama setiap point-point yang ada di sana. “Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan,” ucapnya kala membaca dokumen itu. 

“Katakan, apa yang ingin kau tanyakan?” Carol menatap lekat Fargo. 

“Point nomor tiga, di mana project baru bisa dimulai awal tahun, ini aku keberatan. Awal tahun terlalu lama. Selain itu di luar kontrak, aku ingin sumber daya manusia yang bekerja menjalani project ini harus tepat dan berjumlah sesuai dengan standart yang ada.” Fargo meletakan dokumen tersebut di atas meja. “Aku belum bisa menandatangani dokumen itu. Perbaiki point nomor tiga. Buat list di luar kontrak siapa saja sumber daya manusia yang akan bekerja menjalani project ini.” 

“Ck! Kenapa kau itu menyebalkan sekali, Fargo. Kau tinggal tanda tangani saja dulu. Kau membuatku lelah harus bolak-balik,” keluh Carol kesal. 

“Telepon pamanmu untuk segera kembali dari Florida. Yang ingin aku temui adalah dia, bukan dirimu,” jawab Fargo dingin. 

Carol mendengkus tak suka. “Kenapa ada pria menyebalkan sepertimu di dunia ini? Tiga tahun tidak melihatmu, aku sudah sangat bahagia. Kenapa malah kau muncul di Los Angeles? Harusnya kau tinggal selamanya saja di Amsterdam.” 

Fargo tersenyum samar mendengar ucapan Carol. Pria itu mengambil wine dan menyesapnya perlahan. “Tinggal di mana pun adalah hakku. Bukan hanya dirimu yang kesal melihatku, aku pun merasakan hal demikian. Hidupku sudah damai dan tenang. Sekarang terusik karena melihat wanita berisik sepertimu.” 

“Kau—” Carol mengepalkan tangannya dengan kuat, berusaha bersabar. Kali ini dia tak bisa memaki Fargo, karena posisinya Fargo adalah rekan bisnis dari pamannya. Benar-benar sangat menyebalkan! Carol menyumpahi semesta yang mempertemukannya lagi dengan Fargo.  

Related chapters

  • Damian&Kimberly   Bab 4. S2. Fargo’s Arrival 

    “Daddy … Mommy … look at me … aku hebat, kan?” Diego berseru kala mengendarai mobil kecilnya di ruang khusus bermain. Bocah laki-laki itu tampak kegirangan kala bisa mengendarai mobil kecilnya dengan lancar. Ruang bermain Diego sangat besar. Jadi, tak heran jika Diego bisa leluasa mengendarai mobil mininya itu. Pun saat ini Kimberly dan Damian tak lagi tinggal di penthouse. Sekitar dua tahun lalu, Kimberly dan Damian memutuskan tinggal di mansion. Mereka sama-sama menyadari, Diego sangat aktif. Penthouse tak terlalu besar untuk mereka tempati. “Ya, Sayang, kau hebat, tapi pelan-pelan. Kau baru saja selesai makan. Nanti kau muntah kalau langsung mengebut seperti itu,” tegur Kimberly mengingatkan Diego. Putra kecilnya itu baru saja selsai disuapi makan steak olehnya. Memang, kebiasaan Diego setiap kali selesai makan adalah bermain. Apalagi Diego sangat menyukai mobil. “Oke, Mommy. Tenang saja. Aku pintar, Mommy,” jawab Diego riang. Dua pengasuh Diego sudah berjaga-jaga menjaga Diego

    Last Updated : 2025-02-04
  • Damian&Kimberly   Bab 4. S2. Troublesome Woman

    “Sayang, hari ini kau pulang jam berapa?” Kimberly membantu memakaikan dasi di leher sang suami, menepuk-nepuk pelan dada bidang suaminya itu kala dasi sudah terpasang sempurna. Seperti biasa setiap pagi, Kimberly selalu membantu sang suami untuk bersiap-siap ke kantor. “Mungkin sedikit terlambat. Aku memiliki meeting penting hari ini, Kim. Kau sendiri bagaimana? Jam berapa kau pulang?” Damian menarik dagu Kimberly, mencium dan melumat lembut bibir istrinya itu. “Aku pulang sore, Sayang. Jam tiga sore nanti pasti aku sudah pulang.” Kimberly melingkarkan tangannya ke leher Damian. Merapatkan tubuhnya ke tubuh sang suami. “Diego nanti pulang jam berapa?” tanya Damian sambil memeluk pinggang istrinya itu. Tadi jam tujuh pagi, Diego sudah lebih dulu berangkat sekolah. Diego berangkat lebih awal, karena bocah laki-laki itu memiliki jadwal kelas lebih pagi. “Sepertinya Diego akan menginap di rumah orang tuaku. Diego ingin bermain dengan Ben. Orang tuaku juga merindukan Diego. Tidak apa-

    Last Updated : 2025-02-04
  • Damian&Kimberly   Bab 6. S2. Troublesome Woman II 

    “Berengsek!” Fargo mengumpat dalam hati kala sudah selesai mengganti pakaiannya dengan kaus bersih. Tampak tatapan Fargo menatap kesal dan penuh emosi pada Carol yang masih meracau akibat mabuk. Saat ini Carol berbaring di ranjang dan mengatakan hal-hal sembarangan layaknya orang mabuk. Ya, dengan terpaksa Fargo membawa Carol pergi ke apartemen pribadinya. Fargo tak memiliki pilihan lain, karena jika dirinya melepas Carol, maka bisa jadi masalah baru akan timbul. “Menyusahkan sekali wanita ini!” Fargo ingin menghubungi siapa pun kontak nama yang ada di ponsel Carol, agar segera membawa Carol pergi menjauh darinya. Akan tetapi entah kenapa Fargo tak bisa melakukan itu. Seperti ada magnet kuat yang mencegah dirinya. Apalagi ketika melihat Carol yang tampak seperti sangat putus asa. Fargo memejamkan mata singkat. Berusaha mengatasi segala emosi yang terbendung dalam dirinya. Tujuan Fargo ke kelab malam karena ingin menenangkan pikiran yang belakangan ini lelah dengan pekerjaannya. Nam

    Last Updated : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 7. S2. Troublesome Woman III

    Carol mondar mandir tidak jelas di dalam kamar mandi. Wajah cantik wanita itu sudah seperti kepiting rebus akibat menahan malu. Sudah lima belas menit lalu dia selesai membersihkan diri, tapi tetap Carol tak kunjung keluar dari kamar mandi. Benaknya sejak tadi memikirkan tentang kebodohannya yang kelepasan bicara. Bagaimana bisa dirinya malah memberi tahu Fargo tentang ukuran dadanya? Astaga! Benar-benar sangat bodoh! Memalukan! Carol mendengkus seraya mengumpati dirinya sendiri. Jika sudah seperti ini, sama saja dengan mempermalukan diri. Perlahan, dia memejamkan mata sebentar, mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. Hal yang paling menbuatnya kesal pada dirinya adalah kerap kelepasan bicara. Alhasil, sekarang dirinya sendiri yang malu. Akan tetapi, Carol tak bisa memungkiri bahwa dia berterima kasih pada Fargo yang sudah menyelamatkannya. Entah, bagaimana nasibnya kalau sampai Fargo meninggalkannya seorang diri di kelab malam. Memang, dia akui tadi malam dirinya mab

    Last Updated : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 8. S2. Awkwardness

    “Turunlah. Mobilmu pasti sudah ada di halaman parkir kantormu. Tadi pagi aku sudah meminta asistenku mengantarkan mobilmu.” Fargo berucap dengan nada dingin kala pria itu sudah mengantarkan Carol tepat di lobby perusahaan Carol. Ya, tadi pagi-pagi sekali, dia sudah meminta asistennya mengambil mobil Carol yang masih terparkir di kelab malam, mengantarkan ke halaman parkir kantor Carol. “Terima kasih sudah membantuku,” jawab Carol dengan nada yang sama persis seperti Fargo. Dingin dan acuh. Paling tidak, Carol sekarang tak memiliki beban utang budi. Memasak untuk Fargo sudah sebagai bentuk balas budi. Meski rasa masakannya pas-pasan, tapi tetap masih bisa dimakan. “Anyway, besok aku akan ke kantormu. Pamanku sudah memberikan kontrak revisi yang paling terbaru. Aku tidak akan lama di kantormu. Jadi kau jangan mempersulitku meminta revisi kontrak kerja sama lagi.” Carol menoleh, menatap Fargo. Tatapan Carol menatap jengkel dan tersirat kesal pada Fargo. Ingatannya langsung tergali aka

    Last Updated : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 9. S2. Awkwardness II 

    Carol menjadi kikuk dan tak tahu bagaimana harus bersikap kala melihat pemandangan di depan mata. Pemandangan di mana yang mengusik ketenangan jiwa dan raga. Entah, dia tak mengerti pada dirinya sendiri. Namun, andai Carol tahu Fargo sedang sibbuk bermesraan dengan wanita lain, maka dia tak akan masuk ke dalam. Sungguh, dia merasa dirinya sekarang terjebak dan sulit untuk menghindar. ‘Kenapa aku harus ada di kondisi begini?’ geram Carol kesal dalam hati. Ingin rasanya Carol pergi, tapi kaki wanita itu seakan telah tertanam di lantai—membuatnya kesulitan dalam bergerak. Fargo melihat Carol yang berdiri di ambang pintu. Raut wajahnya dingin dan tampak menahan rasa kesal. Detik selanjutnya, dia melepas paksa pelukan seorang wanita—yang memeluk dirinya bertepatan dengan Carol membuka pintu ruang kerjanya. Pun dia tak pernah mengira kalau wanita di hadapannya itu memeluk dirinya secara tiba-tiba. “Pulanglah, Eldora. Aku sibuk,” ucap Fargo dingin, mengusir wanita bernama Eldora. Fargo ta

    Last Updated : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 10. S2. Party 

    Carol menenggak wine di tangannya hingga tandas. Entah kenapa mood-nya benar-benar dalam keadaan yang tidak baik. Dia ingin sekali tak datang di jamuan makan malam yang diadakan perusahaan Damian, tapi dia tak enak pada Kimberly kalau sampai tidak datang. Mau tak mau, dia memilih untuk datang karena sudah terlanjur berjanji. Carol menyandarkan punggungnya di sofa, mengambil bantal kecil dan memeluknya. Merasa sedikit bosan, dia mengambil remote televisi, dan langsung menghidupkan. Namun, di kala baru saja televisi dihidupkan, tatapannya menatap lekat penyiar berita yang tengah memberitakan sesuatu. *Kabar sore ini datang dari Fargo Jerald, mantan suami Kimberly Darrel ini sudah lagi terlihat di Los Angeles. Banyak paparazzi yang diam-diam mengambil gambar Fargo Jerald. Sampai detik ini, Fargo Jerald masih belum memiliki pengganti Kimberly Darrel. Tampaknya Fargo Jerald masih belum mau memulai sebuah hubungan.* Carol mematikan siaran berita itu. Tujuan Carol melihat televisi adalah

    Last Updated : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 11. S2. Party II 

    Mata Fargo melebar menatap Carol dengan tatapan terkejut sekaligus memiliki jutaan arti. Lidahnya tak mampu berucap. Pria tampan itu hanya mencetuskan nama Carol di dalam hatinya, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia tetap bergeming, tak bergerak sedikit pun. Tatapan itu seakan hanyut membawanya ke lautan lepas, yang entah membawanya ke arah mana.Lagi, Fargo tetap hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun kala Carol sudah mendekat. Gaun yang dipakai Carol begitu indah dan cantik. Rambut panjang wanita itu digulung ke atas, menunjukkan leher jenjangnya yang memukau. Belahan dada Carol terlihat. Pun Fargo melihat jelas ukuran dada Carol memang menantang. Bulat, padat, dan menggoda para kaum adam. Orang yang menatap Carol tak hanya Fargo saja, tapi banyak dari pria lain yang juga menatap Carol. Tentu kehadiran Carol yang sendiri mengundang perhatian banyak orang. Semua orang di pesta pasti beranggapan bahwa Carol adalah wanita single. Jamuan makan malam yang diadakan oleh Darr

    Last Updated : 2025-02-27

Latest chapter

  • Damian&Kimberly   Bab 15. S2. Beautiful Mistake II

    Raut wajah Carol menunjukkan jelas kemuramannya. Pancaran matanya tampak melemah. Jutaan hal mengusik pikiran Carol, membuat seakan tubuhnya terasa lelah. Dia mengeratkan selimut yang membalut tubuh polosnya. Dia menggigit bibir bawahnya mengingat kejadian beberapa menit lalu. Kejadian di mana tak pernah dia sangka. Semua terjadi begitu cepat, dan berhenti begitu saja seakan dirinya tak pernah diinginkan. Air mata Carol sudah mengumpul di belakang kornea matanya. Namun, wanita itu menahan diri untuk tak menangis. Entah dia tak mengerti kenapa dirinya sangat sensitive. Padahal seharusnya Carol merasa bersyukur tak terjerat dalam ikatan semu. Sungguh, dia memang tak mengerti pada dirinya sendiri. Semua terlalu rumit untuk dikatakan. Sayup-sayup mata Carol mulai merasakan kantuk. Wanita cantik itu ingin sekali pindah ke kamarnya, tetapi kondisi kakinya tak memungkinkan untuk berjalan. Perlahan, dia mulai membaringkan tubuh di sofa. Pikiran dan tubuhnya sangat lelah, membuat rasa kantu

  • Damian&Kimberly   Bab 14. S2. Beautiful Mistake 

    Sudah berjam-jam Carol memaksa untuk menutup matanya, wanita cantik itu ingin sekali beristirahat. Pun tubuhnya terasa begitu lelah. Begitu juga dengan pikirannya yang sangat lelah. Akan tetapi, alih-alih memejamkan mata malah Carol tak bisa tidur sama sekali. Hatinya seperti gelisah akan sesuatu. Benak wanita itu memikirkan hal yang dia sendiri tak tahu hal apa yang mengusik ketenangan hati dan jiwa. Carol bangun, dan memilih duduk serta menyandarkan punggung di kepala ranjang. Beberapa kali, dia menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan perlahan. Ya, sekarang dia masih berada di kamar tamu di apartemen pribadi milik Fargo. Mungkin kejadian tadi di pesta, membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Harus dia akui, tindakan Fargo yang menyelamatkannya dari Adrik, membuat hatinya merasakan aman dan terlindungi. Rupanya Fargo bisa bersikap gentlemen. Carol melirik jam dinding—waktu menunjukkan pukul dua malam. Biasanya dia sudah tertidur pulas pada pukul ini, tapi sayangnya sekarang dia tida

  • Damian&Kimberly   Bab 13. S2. Party IV

    Sepasang iris mata Fargo menatap Adrik Zeno di hadapannya dengan tatapan dingin, tajam, dan menusuk. Tatapan yang tersirat penuh peringatan. Aura wajahnya menunjukan kemarahan yang tak terkendali. “Jangan ikut campur! Aku tahu kau tidak memiliki hubungan apa pun dengan Carol!” seru Adrik dengan penuh keyakinan. Tatapannya membalas tatapan Fargo tak kalah tajam. Fargo menarik tangan Carol, membawa masuk ke dalam dekapannya. “Aku dan Carol memang sengaja menyembunyikan hubungan kami. Akan ada waktunya kami mengumumkan hubungan kami pada publik. Kami memiliki alasan sendiri untuk tidak memublikasikan hubungan kami. Kau hanya orang luar yang tidak tahu apa pun. Jadi lebih baik diam!”Setelah mengatakan itu, Fargo menggenggam tangan Carol, membawa Carol meninggalkan pesta. Tampak, raut wajah Adrik berubah dingin dan menunjukan jelas emosinya kala Fargo membawa Carol. Adrik hendak ingin mengejar, tapi Adrik menyadari bahwa dirinya berada di pesta. Adrik tak mau membuat kekacauan. Fargo

  • Damian&Kimberly   Bab 12. S2. Party III

    “Kenapa kau selalu cantik, hm?” Damian melingkarkan tangannya di pinggang Kimberly possessive. Banyak mata yang melihat sang istri, tapi Damian langsung memeluk erat sang istri, seakan menunjukkan pada dunia—Kimberly hanya miliknya. “Sayang, kau jangan merayu.” Kimberly memukul pelan lengan kekar Damian. Tampak pipi wanita itu tersipu malu. Saat ini dan dan suami berada berdansa di lantai dansa. Alunan musik slow motion, membuat Kimberly hanyut akan dansa romatis itu. Damian mengecupi bibir Kimberly bertubi-tubi. Pria tampan itu selalu gemas akan tingkah sang istri yang selalu menggemaskan. Saat Damian menikmati dansa romantis dengan Kimberly—tatapan pria tampan itu teralih pada Fargo dan Carol—yang tengah berdansa. Detik itu juga raut wajah Damian berubah. Sepasang iris mata cokelat gelapnya menatap Fargo dan Carol dengan tatapan penuh arti. “Kim, lihatlah ke kanan,” bisik Damian pelan di telinga Kimberly. Refleks, Kimberly mengalihkan pandangannya ke arah kanan, sesuai dengan yan

  • Damian&Kimberly   Bab 11. S2. Party II 

    Mata Fargo melebar menatap Carol dengan tatapan terkejut sekaligus memiliki jutaan arti. Lidahnya tak mampu berucap. Pria tampan itu hanya mencetuskan nama Carol di dalam hatinya, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia tetap bergeming, tak bergerak sedikit pun. Tatapan itu seakan hanyut membawanya ke lautan lepas, yang entah membawanya ke arah mana.Lagi, Fargo tetap hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun kala Carol sudah mendekat. Gaun yang dipakai Carol begitu indah dan cantik. Rambut panjang wanita itu digulung ke atas, menunjukkan leher jenjangnya yang memukau. Belahan dada Carol terlihat. Pun Fargo melihat jelas ukuran dada Carol memang menantang. Bulat, padat, dan menggoda para kaum adam. Orang yang menatap Carol tak hanya Fargo saja, tapi banyak dari pria lain yang juga menatap Carol. Tentu kehadiran Carol yang sendiri mengundang perhatian banyak orang. Semua orang di pesta pasti beranggapan bahwa Carol adalah wanita single. Jamuan makan malam yang diadakan oleh Darr

  • Damian&Kimberly   Bab 10. S2. Party 

    Carol menenggak wine di tangannya hingga tandas. Entah kenapa mood-nya benar-benar dalam keadaan yang tidak baik. Dia ingin sekali tak datang di jamuan makan malam yang diadakan perusahaan Damian, tapi dia tak enak pada Kimberly kalau sampai tidak datang. Mau tak mau, dia memilih untuk datang karena sudah terlanjur berjanji. Carol menyandarkan punggungnya di sofa, mengambil bantal kecil dan memeluknya. Merasa sedikit bosan, dia mengambil remote televisi, dan langsung menghidupkan. Namun, di kala baru saja televisi dihidupkan, tatapannya menatap lekat penyiar berita yang tengah memberitakan sesuatu. *Kabar sore ini datang dari Fargo Jerald, mantan suami Kimberly Darrel ini sudah lagi terlihat di Los Angeles. Banyak paparazzi yang diam-diam mengambil gambar Fargo Jerald. Sampai detik ini, Fargo Jerald masih belum memiliki pengganti Kimberly Darrel. Tampaknya Fargo Jerald masih belum mau memulai sebuah hubungan.* Carol mematikan siaran berita itu. Tujuan Carol melihat televisi adalah

  • Damian&Kimberly   Bab 9. S2. Awkwardness II 

    Carol menjadi kikuk dan tak tahu bagaimana harus bersikap kala melihat pemandangan di depan mata. Pemandangan di mana yang mengusik ketenangan jiwa dan raga. Entah, dia tak mengerti pada dirinya sendiri. Namun, andai Carol tahu Fargo sedang sibbuk bermesraan dengan wanita lain, maka dia tak akan masuk ke dalam. Sungguh, dia merasa dirinya sekarang terjebak dan sulit untuk menghindar. ‘Kenapa aku harus ada di kondisi begini?’ geram Carol kesal dalam hati. Ingin rasanya Carol pergi, tapi kaki wanita itu seakan telah tertanam di lantai—membuatnya kesulitan dalam bergerak. Fargo melihat Carol yang berdiri di ambang pintu. Raut wajahnya dingin dan tampak menahan rasa kesal. Detik selanjutnya, dia melepas paksa pelukan seorang wanita—yang memeluk dirinya bertepatan dengan Carol membuka pintu ruang kerjanya. Pun dia tak pernah mengira kalau wanita di hadapannya itu memeluk dirinya secara tiba-tiba. “Pulanglah, Eldora. Aku sibuk,” ucap Fargo dingin, mengusir wanita bernama Eldora. Fargo ta

  • Damian&Kimberly   Bab 8. S2. Awkwardness

    “Turunlah. Mobilmu pasti sudah ada di halaman parkir kantormu. Tadi pagi aku sudah meminta asistenku mengantarkan mobilmu.” Fargo berucap dengan nada dingin kala pria itu sudah mengantarkan Carol tepat di lobby perusahaan Carol. Ya, tadi pagi-pagi sekali, dia sudah meminta asistennya mengambil mobil Carol yang masih terparkir di kelab malam, mengantarkan ke halaman parkir kantor Carol. “Terima kasih sudah membantuku,” jawab Carol dengan nada yang sama persis seperti Fargo. Dingin dan acuh. Paling tidak, Carol sekarang tak memiliki beban utang budi. Memasak untuk Fargo sudah sebagai bentuk balas budi. Meski rasa masakannya pas-pasan, tapi tetap masih bisa dimakan. “Anyway, besok aku akan ke kantormu. Pamanku sudah memberikan kontrak revisi yang paling terbaru. Aku tidak akan lama di kantormu. Jadi kau jangan mempersulitku meminta revisi kontrak kerja sama lagi.” Carol menoleh, menatap Fargo. Tatapan Carol menatap jengkel dan tersirat kesal pada Fargo. Ingatannya langsung tergali aka

  • Damian&Kimberly   Bab 7. S2. Troublesome Woman III

    Carol mondar mandir tidak jelas di dalam kamar mandi. Wajah cantik wanita itu sudah seperti kepiting rebus akibat menahan malu. Sudah lima belas menit lalu dia selesai membersihkan diri, tapi tetap Carol tak kunjung keluar dari kamar mandi. Benaknya sejak tadi memikirkan tentang kebodohannya yang kelepasan bicara. Bagaimana bisa dirinya malah memberi tahu Fargo tentang ukuran dadanya? Astaga! Benar-benar sangat bodoh! Memalukan! Carol mendengkus seraya mengumpati dirinya sendiri. Jika sudah seperti ini, sama saja dengan mempermalukan diri. Perlahan, dia memejamkan mata sebentar, mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. Hal yang paling menbuatnya kesal pada dirinya adalah kerap kelepasan bicara. Alhasil, sekarang dirinya sendiri yang malu. Akan tetapi, Carol tak bisa memungkiri bahwa dia berterima kasih pada Fargo yang sudah menyelamatkannya. Entah, bagaimana nasibnya kalau sampai Fargo meninggalkannya seorang diri di kelab malam. Memang, dia akui tadi malam dirinya mab

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status