Tiara terheran melihat Neil menutup laptop, lalu meraih jas yang berada di sandaran kursi dan memakainya. Kemudian pria bule itu melangkah mendekat. "Ayo berangkat. Dimana kampungmu?" "Garut, Pak," sahut Tiara yang masih bingung dengan sikap bosnya. "Ayo! Tunggu apalagi, Tiara?" Wanita itu sontak melangkah mengkuti Neil yang telah berjalan lebih dulu melewatinya. Tiara bingung. Apa Neil akan mengantarnya pulang? Apa kata orang tuanya nanti? Lalu bagaimana dengan Bu Erika? Wanita cantik itu terus berpikir sambil melngkah. Tiara menyempatkan berlari meraih tasnya di ruangannya, tanpa mempedulikan Joe yang menatap bingung melihat Tiara buru-buru tanpa menghiraukan panggilannya. Tiara lalu kembali melangkah di belakang Neil hingga masuk ke dalam lift. Neil menekan tombol menuju lobby. Saat ini mereka hanya berdua saja di dalam lift khusus Direksi. "B-bapak mau ke mana?" Tiara akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Ya antar kamulah!' sahut Neil tanpa menoleh. Sementara tangan
Jantung Tiara berdegup cepat. Keringat dingin semakin deras mengalir di wajahnya. Tubuhnya gemetar. Ketakutan dan kecemasan merajai hatinya saat ini. Mungkinkah apa yang dia khawatirkan akan terjadii? "Ada apa? Kenapa makin pucat gitu mukalu?" Rohmat terlihat panik melihat kondisi Tiara. "Kita ke rumah sakit aja, Pak!" "Ja-jangan! Nggak usah!" sanggah Tiara cepat. Dia tak ingin masalahnya semakin rumit jika Rohmat sampai tahu keadaannya. "Nggak bisa, kalau lu pulang keadaan sakit begini, apa kata orang tualu nanti. Lu itu tanggung jawab gue." "Pokoknya gue nggak mau. Titik. Paling juga masuk angin. Lagian udah enakan, kok. Gue mau merem aja." Tiara terpaksa berpura-pura kuat di depan Rohmat. Dengan menahan mual, wanita itu memejamkan mata seraya bersandar pada sandaran jok mobil. "Dasar susah diatur!" gumam Rohmat sambil geleng-geleng kepala menghadapi Tiara yang dia anggap keras kepala. Perjalanan pun mulai diteruskan. Sepanjang jalan Tiara tertidur. Rohmat menjaganya agar ke
Sejak semalam Tiara masih terus memikirkan permintaan Bapaknya. Apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus memenuhi permintaan bapaknya itu? Pagi ini Tiara izin pada ibunya untuk ke apotik di kecamatan. Diam-diam dia hendak membeli test kehamilan. Dia harus memastikan bahwa dia benar hamil atau tidak. Jika dihitung, datang bulannya sudah terlambat lebih dari satu minggu. "Bu, Aku mau ke apotik beli obat sakit kepala. Obat-obatan Bapak biar sekalian aku beli." "Suruh saja adikmu yang ke apotik. Indra, sana belikan obat untuk kakakmu!" Ibu memanggil Indra-adik Tiara yang masih sekolah di sekolah menengah pertama. "Tidak usah, Bu. Biar Tiara saja!" sanggah Tiara. "Ya sudah. Obat bapakmu masih banyak. Ibu sudah membelinya setelah mendapat kiriman uang darimu tempo hari. Tiara pamit pada ibunya sebelum Rohmat datang. Dia tak mau sampai Rohmat menemaninya ke apotik nanti. ‐-------‐ "Neil, kamu mau ke mana?" Erika yang baru saja terjaga heran melihat Neil memasukkan beberapa pakai
Tiara kembali merasakan mual yang sangat hebat. Saat ini dia baru saja masuk ke dalam sebuah apotik. "Mbak, ada tes kehamilan?" "Ada Teh. Mau yang merek apa?" sahut wanita berhijab petugas apotik seraya mengeluarkan tiga macam tes kehamilan dengan merek yang berbeda. "Yang paling bagus dan akurat aja, mbak." jawab Tiara seraya menahan perutnya yang terus bergejolak, hendak memuntahkan semua isinya. "Mbak maaf boleh numpang ke toilet?"tanya Tiara sambil membekap mulutnya. "Ada di klinik sebelah, Mbak." Tiara langsung berlari ke arah klinik. Dia terus berlari sesuai arah panah yang menunjukkan tempat toilet berada. Sampai di toilet, Tiara langsung memuntahkan semua isi perutnya. Keringat dingin mengalir di wajahnya. penglihatannya mulai berkunang-kunang. Setelah dirasa perutnya sudah lebih baik, perlahan Tiara berusaha keluar dari toilet.Namun kali ini dia merasa kepalanya terus berputar, hingga dia pun terhuyung. "Eh ... teteh hati-hati ....!" Seorang petugas kebersihan menco
Diam-diam Tiara merasakan hatinya menghangat saat membaca pesan dari bosnya itu. Seketika wanita dengan rambut sebahu itu langsung mengirim lokasi dimana dia berada kini. Tanpa disadarinya, seulas senyum telah lolos dari bibir tipisnya. "Pak Neil, Aku dan anakmu menunggumu di sini ...," gumamnya sangat pelan seraya mengusap lembut perutnya. Tiara tiba-tiba merasakan ada energi yang menyelusup ke dalam tubuhnya. Dia tak lagi merasakan takut untuk bicara dengan Rohmat saat ini. Dia merasa yakin untuk menghadapi Rohmat sekarang juga. "Bang ...,!" Rohmat menoleh pada Tiara yang saat ini memakai celana jeans dan blouse berlengan balon. Tampak sangat pas di tubuhnya yang proposional serta wajah cantiknya. Lagi-lagi pria gondrong itu menghempas napas kasar, karena menahan hasrat yang selalu timbul setiap menatap gadis di hadapannya itu. "Duduk ...!" pintanya seraya menepuk kursi yang berada di sebelahnya.Tiara menurut. Perlahan dia duduk di samping pria yang dua tahun ini tinggal di s
Neil memandang haru pada sosok wanita paruh baya dihadapannya. Wanita yang merupakan ibu kandung Tiara itu dengan telaten membersihkan tubuh pria tua yang tengah terbaring pada ranjang di dalam kamar itu. "Seorang istri yang luar biasa. Andaikan saja aku memiliki istri yang bisa mengurusku hingga tua nanti," harap Neil dalam hati. Tiara menunggu sampai Ibunya selesai membersihkan tubuh bapaknya. "Masuklah, Tiara!" terdengar suara lemah bapak memanggil. Perlahan Tiara masuk diikuti oleh Neil. "Assalamualaikum, Pak!' Tiara tak menduga, Neil mendekat dan meraih jemari Bapak dan menciumnya. "Waalaikumsalam!" Bapak terheran dan memandang Neil penuh tanda tanya. Diam-diam pria paruh baya itu merasa kagum melihat sikap Neil yang sopan. Bahkan Rohmat satu kali pun belum pernah mencium tangannya. "T-tuan S-siapa ?" tanya Bapak dengan suara lemah. "Saya Neil. Saya adalah atasan Tiara di kantor." Pria tua itu melirik anak gadisnya, kemudian kembali memandang tubuh Neil yang tinggi
Tiara membuka matanya saat mendengar suara ayam berkokok. Matanya membelalak melihat matahari sudah mulai memperlihatkan sinarnya. Lewat lubang angin kamar terlihat jelas bahwa di luar sudah terang. Tiara hendak bangkit. Namun dia tersadar, tangan kokoh yang memeluknya sejak semalam masih melingkar diperutnya. Hatinya kembali berdesir merasakan hangat hembusan napas wajah tampan yang nyaris tak berjarak disampingnya. Dia masih tak percaya. Pria bule yang selama ini menjadi bosnya, kini sedang terlelap disampingnya. Ditatapnya wajah menawan dengan pahatan yang begitu sempurna. Mata tajam, alis tebal, hidung mancung yang berdiri sempurna diatas bibir tipis yang menggoda. Rambut-rambut halus di sekitar pipi dan dagu pada rahang yang begitu kokoh, membuat aliran darah Tiara selalu berdesir setiap memandangnya. Aroma khas maskulin pada tubuh Neil, senantiasa membangkitkan sebuah hasrat yang begitu menggoda.. "Semalaman dia terus memelukku. Ya, hanya memelukku. Kenapa dia tidak sepert
Setelah melewati perjalanan panjang, akhirnya mereka telah sampai di kota Jakarta. "Pak Sapto, kita antar Tiara dulu ke kontrakan!" Tiara spontan menoleh pada Neil. "Loh, bukankah kita antar Bapak ke kantor dulu?" "Meetingnya masih lama," sahut Neil seraya melirik pada arloji mahalnya. Tiara kembali menoleh pada jendela. Sejak tadi mereka tak banyak bicara. Neil sibuk dengan laptopnya. Beberapa kali menerima panggilan dari Joe. "Tiara, ambillah ini. Belilah semua kebutuhanmu selama tinggal di apartemen. Sesekali aku akan datang menengokmu." "Apa? Sesekali?" bathin Tiara dengan hati mencelos. Dengan malas, Tiara meraih kartu debit dari tangan suaminya, lalu memasukkan ke dalam dompetnya. "Apakah ... Mbak Erika tahu apartemen itu?" "Mungkin dia tahu. Tapi dia tak pernah datang ke sana." Wajah Tiara berubah pucat. Bagaimana jika Erika tiba-tiba datang ? Apa yang harus dia lakukan? Dia menghela napas panjang. "Beginilah resikonya menjadi istri simpanan." pikirnya . "Jangan te
"Aku ingin kita menikah." Erika yang sedang duduk santai di sofa terkejut saat Boyka tiba-tiba datang menghampirinya. Ia menatap pria itu dengan mata membesar."A-apa?"Boyka duduk di hadapan Erika dengan raut wajah tenang. Menghela napas panjang. Memandang wajah Erika sesaat, lalu kembali bicara."Aku ingin kita menikah setelah anak kita lahir." Ia mencondongkan tubuhnya, lalu menyentuh wajah Erika dengan lembut. Rasa hangat mengalir pada keduanya saat mereka bersentuhan.Erika berdebar, ia menggigit bibirnya, pikirannya masih penuh dengan keraguan. " Tapi, aku nggak yakin ...""Kenapa?" Boyka menatapnya serius. Ia meraih jemari Erika dan menggenggamnya erat. "Aku sudah membuktikan bahwa aku selalu ada di sini untukmu. Aku sudah menyelamatkanmu dari penjara. Aku sudah berjanji akan menjagamu dan anak kita." Perlahan satu tangan kekar Boyka mengelus perut Erika.Erika menunduk. Dalam beberapa minggu terakhir, ia melihat sisi lain dari Boyka. Pria itu memang kasar dan keras kepala,
"Erika?" Suara Tiara bergetar. Tubuhnya sedikit mundur ketika melihat Erika berdiri di hadapannya dengan senyum penuh arti. Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya seakan tercekat. Padahal saat ini ia hanya dipisahkan oleh layar yang berada di belakang pelaminan. Erika berjalan mendekat dengan santai, tangannya menggenggam clutch bag kecil berwarna perak. "Kamu tampak cantik sekali, Tiara," katanya dengan nada lembut yang mencurigakan. Tiara menelan ludah. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Erika tertawa kecil. "Kenapa? Aku hanya ingin mengucapkan selamat. Bagaimanapun juga, aku pernah menjadi bagian dari hidup Neil, kan?" Tiara mengamati wanita di hadapannya dengan hati-hati. Ada sesuatu yang tidak beres. Erika tidak mungkin datang hanya untuk memberikan ucapan selamat. "Erika, kalau kamu datang hanya untuk membuat masalah, lebih baik kamu pergi." Erika mengangkat bahu. "Aku? Membuat masalah? Tentu saja tidak." Ia merogoh clutch bag-nya dan sesuatu berkilat keluar dari dalamny
"Semuanya sudah siap, Pak. Hotel sudah mengatur dekorasi sesuai permintaan, tamu undangan juga sudah konfirmasi kehadiran." Asisten Neil melaporkan persiapan pernikahan dengan detail. Sambil berjalan memasuki kantornya, Neil mengangguk puas. "Bagus. Pastikan semuanya berjalan lancar. Aku tidak mau ada kendala sedikit pun." Asistennya mengangguk, lalu keluar dari ruangan. Neil menghela napas dan bersandar di kursinya. Besok adalah hari yang sangat penting dalam hidupnya. Pernikahan resminya dengan Tiara, sesuatu yang sudah lama ia inginkan. Meski ini resepsi pernikahan keduanya, tapi rasanya seperti yang pertama baginya Namun, ada perasaan tidak nyaman yang mengganjal di hatinya. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Mungkin karena banyak kejadian menegangkan belakangan ini, hingga Neil merasa khawatir.Di rumah mewah keluarga Neil, Helda duduk di ruang tamu sambil menyesap teh hangatnya. Josh baru saja masuk setelah berbicara dengan panitia pernikahan di hotel.
"Neil!" Helda berteriak marah melihat putranya masuk ke mobil. Neil tidak peduli dengan ancamannya. Rahangnya mengatup keras, dan tangannya mengepal. Josh yang sejak tadi memperhatikan dari tangga depan akhirnya melangkah mendekat. Ia melihat emosi Helda makin memuncak. "Cukup, Helda," ujar Josh tenang. Helda menoleh tajam. "Kamu lihat sendiri kan? Anakmu membantahku demi keluarga perempuan itu!" Josh menghela napas. "Kamu yang memaksanya untuk memilih." "Aku hanya ingin yang terbaik untuknya, Josh!" Helda membalas cepat. Josh menatap istrinya dalam. "Helda, aku tahu kamu keras kepala. Tapi sejujurnya, aku memang tidak setuju dengan acara besar ini sejak awal. Aku khawatir hal seperti ini akan terjadi." Helda melipat tangan di dada. "Jadi, kamu pikir aku yang salah?" Josh mengangguk pelan. "Bukan hanya kamu. Aku juga sempat meragukan keluarga Tiara. Tapi, aku sudah menyelidiki mereka sejak awal." Helda mengernyit. "Apa maksudmu?" Josh menarik napas dalam sebelum menjelaska
"Tidak perlu!" Suara Helda terdengar ketus, membuat Tiara yang berdiri di balik pintu ruang tengah menahan napas. Hatinya mencelos seketika. "Mami, mereka adalah keluarganya. Mereka harus ada di acara ini." Neil mencoba berbicara lebih pelan, tapi nada suaranya tetap tegas. Tiara tahu suaminya tidak suka berdebat soal hal seperti ini. "Mami tidak mau tamu-tamu kita nanti tahu kalau istrimu itu berasal dari kampung." Tiara membekap mulutnya. Kata-kata Helda terasa seperti pukulan keras di dadanya. "Mami! Tolong jangan bicara begitu. Apa hubungannya dengan tamu-tamu kita?" "Neil, dengarkan Mami!" suara Helda terdengar lebih tegas. "Kamu adalah pengusaha besar, CEO perusahaan besar. Bagaimana jika orang-orang tahu kalau istrimu hanyalah anak dari keluarga biasa yang tinggal di desa? Itu bisa merusak reputasimu!" "Astaga! Mami masih memikirkan gengsi? Ini pernikahan, bukan acara bisnis!" Neil terdengar semakin kesal. "Mami tidak mau tahu! Pokoknya mereka tidak perlu datang!" Held
"Selamat siang Bu Erika, saya ingin bertemu. Apa ibu bisa siang ini?" Suara pengacara Neil yang ia kenali terdengar di ujung telepon. Erika mengernyit. Kira-kira ada apa tiba-tiba pengacara Neil menghubunginya dan meminta bertemu. "Untuk apa?" tanyanya dengan nada waspada. "Ada sesuatu yang harus saya serahkan pada Ibu. Apa kita bisa bertemu di kafe dekat kantor?" Erika berpikir sejenak. Ada rasa penasaran dalam hatinya. "Baiklah, aku akan datang," sahutnya singkat. Setelah menutup telepon, ia menoleh ke arah Boyka yang duduk di sofa yang sedang memainkan ponselnya dengan santai. "Aku mau pergi sebentar," ujar Erika sambil mengambil tasnya. Boyka meliriknya sekilas. "Mau ke mana?" "Bukan urusanmu." Boyka terkekeh. "Oke, oke, tapi jangan lama-lama, nanti aku rindu." Erika tidak menanggapi dan segera pergi. Namun, tanpa ia sadari, Boyka menatap punggungnya penuh curiga, lalu dengan santai memasukkan ponselnya ke dalam saku dan lantas berdiri. Dengan naik taksi online Erika m
"Apa-apaan ini?" Suara Neil terdengar berat dan penuh amarah. Tatapannya tajam menusuk ke arah Joe yang masih berdiri terlalu dekat dengan Tiara. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan emosi. Tiara langsung menepis tangan Joe yang menghalanginya, lalu melangkah maju mendekati Neil. Kini ia berdiri di antara Neil dan Joe, khawatir jika terjadi keributan diantara dua lelaki itu. "Pak, jangan ..." bisik Tiara pelan, tangannya menggenggam lengan Neil agar pria itu tidak mendekat. Joe menelan ludah, tubuhnya sedikit mundur saat melihat ekspresi Neil yang sangat marah. Wajah atasannya itu menggelap dengan tatapan berkilat-kilat ke arah dirinya. " M-maaf, Pak Neil," ujar Joe akhirnya. "S-saya hanya ... mengajak Tiara bicara." Suara Joe terdengar gemetar. Neil menyipitkan mata. "Bicara? Dengan mendesaknya ke dinding seperti tadi?" Kali ini suara Neil terdengar menggelegar, hingga terdengar keluar ruangan. Joe hendak membuka mulut untuk membela diri, tapi tidak ada kata-kat
"Mami mau acara resepsi pernikahan kalian nanti adalah acara yang besar." Helda bicara dengan wajah berbinar di meja makan. Neil dan Tiara yang duduk di sisi kiri tersenyum saling pandang. "Kalau perlu undang semua orang yang kita kenal, agar siapapun tau siapa istri Neil sebenarnya." Suasana sarapan pagi ini terasa lebih hangat. Helda terus bicara tentang semua rencananya. Sementara Tiara hanya diam dengan senyum tipis yang terus tersungging di wajahnya. "Josh, kenapa diam saja? Kamu nggak mau kasih pendapat?" tanya Helda masih antusias. Josh meraih segelas air putih dan meneguknya sesaat. Setelah menghela napas panjang ia bicara serius. "Ini hanya pernikahan kedua. Cukup undang kerabat dekat dan keluarga saja," tegasnya dengan pelan. "Tidak! Mami nggak setuju." Helda menyahut tak kalah tegas. "Setelah acara resepsi nanti, Mami nggak mau dengar lagi gosip-gosip miring tentang kalian berdua." "Iya, Mi. Aku akan persiapkan semuanya," sahut Neil. "Terserah kalian sajalah!" Jo
[Kau pikir bisa lari dariku, Erika? Aku akan menemukanmu.] Siapa yang mengirim pesan ini? Tangan Erika gemetar saat memegang ponselnya. Ia ingin sekali menceritakan hal ini pada Boyka, tapi gengsinya terlalu tinggi. Lagipula, ia masih membenci pria itu. Namun, di sisi lain, ia tidak bisa menepis rasa takutnya. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Boyka berdiri di ambang pintu dengan ekspresi santai. "Kau belum tidur?" Erika mendongak cepat, menyembunyikan ponselnya di balik punggung. "Bukan urusanmu." Boyka menyeringai. "Aku cuma tanya." Pria itu berjalan mendekat, menyandarkan satu tangan pada pintu. "Kamu tampak gelisah." "Aku baik-baik saja," potong Erika cepat. Boyka mengangkat alis. "Benar? Yakin? Tapi perasaanku bilang tidak." Erika mengalihkan pandangan, menghindari tatapan pria itu. "Aku bilang aku baik-baik saja!" suaranya meninggi. Boyka terkekeh pelan. "Terserah kalau kamu tidak mau cerita. Tapi kalau ada sesuatu yang mengganggumu, kamu bisa bicara padaku." Erika mend