Home / Romansa / Cinta Gadis tak Bernasab / 4. Pangeran Pondok Pulang

Share

4. Pangeran Pondok Pulang

Author: Bai_Nara
last update Last Updated: 2023-07-17 15:52:04

Alfa beristighfar, dia menunduk. Ikhlas yang melihat tingkah sahabatnya terkikik. Menurutnya sikap Alfa itu lucu, terlihat sekali sahabatnya itu sedang terpesona.

“Mas Alfa kan? Yang kemarin nolong saya?” cecar Shadiqah.

Alfa hanya mengangguk. Shadiqah kembali tersenyum, “Boleh Shadi duduk di sini?”

“Boleh-boleh, silakan.” Ikhlas yang langsung mempersilahkan. Dia bahkan sengaja mengarahkan Shadiqah ke kursi yang paling dekat dengan Alfa. Shadiqah pun duduk agak berdekatan dengan Alfa membuat sang bujang sedikit menjauhkan kursinya agar tak terlalu dekat dengan non muhrim.

“Udah pesen makan Mbak?” Ikhlas kembali bertanya.

“Udah kok.”

“Mau minum?”

“Boleh.”

Ikhlas memanggil pelayan, dan menanyakan kepada Shadiqah mau minum apa. Shadiqah menjawab mau minum jus jeruk saja. Shadiqah akhirnya menghabiskan waktu bersama Ikhlas dan Alfa. Terlihat percakapan didominasi oleh Shadiqah dan Ikhlas, Alfa lebih banyak menjadi pendengar. Dalam obrolan Shadiqah dan Ikhlas, Alfa jadi tahu jika Shadiqah baru dua bulan berada di Kairo. Sebelumnya dia kuliah di London mengambil jurusan hubungan internasional. Dari tutur kata Shadiqah, Alfa bisa melihat kecerdasan dari wanita itu. Dan itu membuat Alfa sedikit tertarik. 

 

Shadiqah pamit karena dia ada janji dengan teman-temannya. Sebelum pamit dia memberi nomer ponselnya pada Alfa dan ikhlas.

 

“Cieee, yang dikasih nomer ponsel.”

 

“Kamu juga dikasih,” balas Alfa dengan mimik muka datar.

“Ya iyalah dikasih, tapi tujuannya kan jelas banget, sengaja ngasih untuk kamu, hahaha. Gaspol aja, Al. anak dubes loh. Masalah penampilan bisa diajarin pelan-pelan.”

Alfa tak menyahut, dia kini fokus menatap sederet angka pada kertas yang tadi diberikan oleh Shadiqah. Senyum tipis Alfa terbit, dia segera meletakkan kertas itu di saku kokonya. Dia tak mau terlihat senang dikasih nomer oleh Shadiqah. Terutama di depan pria usil bernama Ikhlas.

 

Sampai di kamar, di rumah kontrakannya yang dia tinggali dengan mahasiswa lain dari Indonesia, Alfa segera menyalin nomer Shadiqah dalam ponselnya. Namun dia sama sekali tak menghubungi Shadiqah. Selain menurutnya tidak pantas, dia juga ingin fokus dengan ujiannya. 

 

Di tempat lain, Shadiqah sedang menunggu telepon, chat atau spam dari Alfa. Sayang sampai pukul sebelas malam, Alfa tak kunjung menghubungi Shadiqah. 

“Ih, kok gak hubungi aku ya? Masa aku harus hubungi duluan sih? Nanti disangka aku kegatelan.”

 

Shadiqah mencoba berpikir, dia sedang mencari strategi jitu agar bisa dekat dengan Alfa. Shadiqah tersenyum setiap mengingat wajah ganteng Alfa.

 

“Dia ganteng, baik lagi, aku merasa kayak Maria dan dia adalah Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta. Semoga saja ya Allah kami berjodoh, aku yakin Papi sama Mami bakalan setuju kalau aku sama cowok kayak Mas Alfa.”

Lagi-lagi senyum Shadiqah terkembang jika mengingat wajah Alfa.

 

Keesokan harinya, Shadiqah tak bisa membendung perasaan bahagianya mendapati sosok pujaan hati rupanya juga sedang menghabiskan sore di sekitar Sungai Nil. Dia segera memanggil Alfa.

“Mas Alfa lagi di sini juga?”

Alfa yang merasa dipanggil menoleh, dia kaget mendapati Shadiqah berada di area Sungai Nil dengan sepeda yang sedang dia tuntun.

“Iya, lagi menikmati senja di sini.”

“Wah kebetulan ya Mas.”

Alfa tersenyum. Dua pria dan wanita kemudian menikmati senja dengan panorama Sungai Nil. Dasarnya Shadiqah memang kewes dan luwes dalam pergaulan, hanya dalam beberapa hari, keduanya jadi akrab, bahkan tak segan mereka saling mengirim chat. Shadiqah bahkan menjadi salah satu orang yang memberi hadiah pada Alfa saat dia berhasil menjalani sidang disertasi dengan baik.

 

Waktu terus berlalu, keakraban keduanya terus terjalin. Tak tereasa keduanya sudah saling mengenal hampir dua bulan. Bahkan kini, Shadiqah sering menggunakan kerudung jika bertemu dengan Alfa. Meski belum sesuai aturan, tapi sudah lebih baik. Setidaknya Shadiqah sudah mau menutupi mahkotanya. Perubahan Shadiqah sangat disukai kedua orang tuanya. Pak Munajat dan Bu Sinta bahkan sudah beberapa kali bertemu dengan Alfa. Kedua orang tua Shadiqah pun menaruh harapan yang tinggi pada sosok Alfa. Bahkan terang-terangan Pak Munajat mengijinkan Alfa melamar anaknya, karena dia sudah menyelidiki identitas Alfa yang merupakan anak salah satu Kyai besar di Kebumen dan akan menjadi penerus sang abah kelak.

 

“Saya menunggu kedatanganmu anak muda, di rumah saya di Jakarta. Dua bulan lagi masa kerja saya di Kairo habis, saya akan berhenti menjadi dubes dan ingin menikmati masa tua di kampung halaman. Lagi pula, kedua anak saya sudah menikah, tinggal Shadi si bungsu.”

“Saya rasan dengan orang tua saya dulu, Pak Munajat. Bagaimana pun ridho orang tua sangat penting. Semoga saja tak ada halangan dan kedua orang tua saya bisa menerima keputusan saya.”

“Amin. Lagian, Shadi bisa belajar tentang dunia pondok, ya kan Sha?”

“Iya, Pi. Shadi pasti akan mencoba berbaur dengan dunianya Mas Alfa.”

“Nah kan beres.”

Alfa dan Shadiqah sudah memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Namun, hal yang perlu Alfa lakukan sekarang adalah memperkenalkan Shadiqah terlebih dahulu dengan kedua orang tuanya. Dan momen wisuda beberapa hari ke depan adalah acara yang bagus karena kedua orang tuanya akan menghadiri wisuda S3-nya.

 

***

 

Bu Nyai Khomsah terlihat murung. Satu minggu yang lalu dia berada di Kairo untuk menghadiri wisuda sang putra. Dia senang tentu saja karena cita-cita yang diinginkan sang putra telah berhasil diraih. Namun ada hal yang menganggu pikiran wanita berusia lima puluh tahun lebih itu, yaitu sosok wanita yang dibawa sang putra dan diperkenalkan sebagai wanita spesialnya.

Tak ada yang aneh dengan Shadiqah. Dalam pertemuan pertama dan pertemuan-pertemuan selanjutnya, gadis berusia dua puluh tahun lebih itu terlihat ramah, luwes dalam pergaulan dan sopan. Tetapi sebagai seorang ibu, Bu Nyai Khomsah merasa kurang setuju saat sang putra memperkenalkan gadis bernama Shadiqah itu sebagai calon istrinya.

 

Entahlah, Bu Nyai Khomsah juga tak paham. Dia merasa tidak sreg saja dengan wanita pilihan sang putra. Bu Nyai Khomsah tak ingin muluk-muluk pada kriteria calon istri putranya. Dia hanya ingin calon isti putranya orang baik, pintar ngaji dan kalau bisa sejak kecil sudah paham akan dunia pondok pesantren. Meski Alfa dan Shadiqah menjanjikan jika Shadiqah akan banyak belajar, tapi Bu Nyai Khomsah tetap saja belum ridho sang putra berjodoh dengan putri dubes Indonesia untuk Mesir itu.

 

Rupanya kegudahan Bu Nyai Khomsah dirasakan oleh sang suami. Kyai Baihaki tersenyum mendapati istrinya sedang termenung sendirian di teras belakang rumah. Dia pun menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya. Bu Nyai Khomsah sedikit terkejut dengan kedatangan sang suami yang tiba-tiba.

“Bah, kapan datang?”

 

“Baru saja.”

“Kok umi gak dengar suara salam ya?”

 

“Lah gimana bisa dengar orang kamunya aja lagi ngelamun gitu.”

 

Bu Nyai Khomsah tersipu malu, “Maaf nggih, Bah. Abah mau tak buatkan unjukan? Teh?”

 

“Gak usah, sudah ngeteh tadi di tempat Pak Janu.”

 

“Oh, ya sudah.”

Kyai Baihaki tersenyum pada sang istri.

“Masih mikirin calon istri anakmu?”

Bu Nyai Khomsah mengangguk.

“Masih belum ridho?”

 

“Masih mencoba, Bah. Rasanya belum sreg saja. Gak tahu kenapa.”

Kyai Baihaki mengambil tangan istrinya, dikecupnya kedua tangan sang istri dengan lembut.

“Abah ngerti, tapi Alfa sudah yakin, ya mau gimana lagi. Mau tak tolak, abah gak tega. Selama ini dia sudah jadi anak baik, menyenangkan kita, gak neko-neko. Dan dia anak kita satu-satunya." Ada binar kesedihan pada mata tua itu.

 

Bu Nyai Khomsah memahami maksud suaminya, “Nggih, Bah. Maafkan umi. Umi masih belajar legowo, Bah.”

 

“Doakan saja yang terbaik, Umi. Percayalah, Allah tidak akan salah memberi jodoh. Kalau wanita itu memang jodoh Alfa, pasti mereka akan bersatu, kalau tidak ya gak bakalan nikah.”

 

“Nggih, Bah. Maafkan umi, nggih.”

 

Kyai Baihaki hanya menjawab dengan mengarahkan kedua tangan sang istri menuju ke bibirnya. Lalu beliau kembali mengecup dengan penuh kasih membuat wanita berusia lima puluh tahun lebih itu tersipu malu. 

“Astaghfirullah!” pekik sebuah suara.

Suara pekikan yang membuat romantisme pasangan tua terhenti dan keduanya kompak menoleh pada sosok gadis berusia dua puluh lima tahunan yang kini sedang posisi memunggungi abah dan umi angkatnya.

Baik Bu Nyai Khomsah dan Kyai Baihaki tertawa melihat tingkah Galuh yang salah tingkah.

“Maaf Umi, Abah, Galuh cuma lihat sedikit, Galuh pergi aja deh, ngomongya nanti, monggo dilanjutkan saja. Assalamu'alaikum.”

 

Galuh langsung ngacir, pergi meninggalkan kedua orang tua angkatnya yang kembali tertawa.

“Wa'alaikumsalam, anak itu beneran moodbooster-nya umi.”

 

“Dia moodbooster-nya kita semua.”

 

“Nggih, Bah. Umi setuju.”

 

Jika pasangan tua kembali melanjutkan aksi romantisme, Galuh dengan cepat-cepat mengenakan sandal dan hendak berlalu. Saking cepatnya dia kurang hati-hati dan saat berbalik badan dia menabrak sesuatu.

Bruk!

Wajah Galuh menubruk dada bidang seseorang membuat dia terpental dan hendak jatuh ke belakang. Beruntung orang yang dia tabrak dengan refleks cepat menarik lengannya.

Galuh kaget, dan lebih kaget menyadari posisinya yang hampir jatuh tengah dipegangi lengannya oleh seseorang yang menatapnya dengan tatapan setajam elang dan senyum sinis terkembang.

“Ck, cerobohmu Luh, gak pernah bisa ilang apa?"

“G-gus Alfa?” gagap Galuh. Dia benar-benar kaget mendapati kakak angkatnya sudah pulang, padahal katanya sang kakak angkat baru akan pulang minggu depan.

 

 

 

 

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Cinta Gadis tak Bernasab   5. Dianggap Musuh

    Galuh masih shock. Dia diam saja dalam posisi bak ala-ala aktris dan aktor Korea yang sedang melakoni drama romansa. Sayangnya antara Galuh dan Alfa bukannya terlibat dalam sebuah romansa, yang ada keduanya terikat pada realita ya realita. Terutama setelah kata-kata pedas dari sang pria, langsung menyadarkan Galuh untuk kembali menapak ke bumi jangan ke dunia mimpi apalagi halu."Kamu mau melakoni adegan macam ginian sampai kapan?" Suara Alfa terdengar sinis membuat Galuh meringis dan segera bangkit, melepaskan diri dari cekalan tangan Alfa."Hehehe, Gus." Galuh mencoba memberikan senyum seindah melati sewangi Kasturi. Sayang segala bentuk tindak tanduk Galuh tidak diapresiasi."Hehehe, ha he ha he, ceroboh! Kamu mau nambah usia berapa pun tetep ceroboh," sinis Alfa."Maaf, Gus."Galuh menunduk, sementara Alfa masuk ke dalam rumah. Baru tiga langkah, Alfa berbalik."Bawain koperku, tuh udah diturunin sama sopir grab," titah Alfa dengan suara ketus."Nggih, Gus.""Taruh depan kamar, ja

    Last Updated : 2023-07-17
  • Cinta Gadis tak Bernasab   6. Mulai Melawan

    Galuh menerima hadiah dari Alfa dengan kikuk, sementara sang kakak angkat hanya memamerkan senyum tipisnya. Beruntung Alfa memiliki karakter cool, irit ngomong dan segala sifat yang dimiliki oleh kulkas dua pintu, sehingga menyamarkan ketidaksukaan Alfa pada Galuh. “Makasih, Gus,” ucap Galuh lirih. Dia menatap kerudung motif segi empat berwarna hijau toska pemberian sang kakak angkat. Ada keharuan yang menyelimuti hati Galuh. Meski sikap Alfa padanya memang bisa dikatakan kurang bersahabat, tapi kakak angkatnya memang selalu memberinya hadiah kemana pun dia berada. Dan bagi Galuh itu sudah cukup, dia tak akan meminta lebih. “Buatku mana Mas?” rajuk Alwi. Alfa menatap adik sepupunya, “Bukannya sudah tak kasih banyak?” “Kurang.” “Kamu gak minta aku beliin jilbab kayak Galuh kan?” “Astaghfirullah, ya gak gitu juga ngasih hadiahnya, Mas!” pekik Alwi sementara yang lain hanya tertawa mendengar celetukan Alfa yang lucu. Ya lucu karena saat mengatakannya, ekspresi muka Alfa adalah tanp

    Last Updated : 2023-07-31
  • Cinta Gadis tak Bernasab   7. Nguping

    Galuh tak dapat menahan senyum lebarnya begitu acara yang dia ketua berakhir dengan begitu sangat meriah. Dia bahkan mendapat banyak ucapan selamat dari para Ustazah dan yang spesial dari Abah Baihaki dan Umi Khomsah.Alfa sendiri hanya diam saja, tak mengucap selamat atau apa pun. Alfa lebih memilih menyibukkan diri dengan ponselnya saat sang ibu mengajak Galuh bercengkrama di rumah. Bahkan dia pura-pura harus menelepon sahabatnya agar bisa meninggalkan ruang keluarga. Bukannya sedih, Galuh malah senang jika Alfa tak berada satu ruangan dengannya. Dia bisa lebih banyak berekspresi dan bisa ngobrol santai dengan ibu angkatnya. Obrolan yang lama kelamaan jadi makin serius karena Umi Khomsah memang mengajak Galuh bicara serius."Luh.""Nggih Umi.""Ada lamaran dari Kyai Basroni, kamu ...." Bu Nyai Khomsah diam. Ada mendung di wajahnya."Saya tahu Umi, istri beliau sudah matur ke saya. Tapi mohon maaf Umi, Galuh menolak permintaan beliau. Pantang bagi Galuh jadi yang kedua. Meski Galuh

    Last Updated : 2023-08-29
  • Cinta Gadis tak Bernasab   8. Pink

    Alfa menatap ponselnya dalam diam. Keningnya terlihat berkerut. Tampak sekali sedang berpikir keras. Alfa lalu menghembuskan napasnya dengan kasar. Ditaruhnya ponsel itu di atas nakas dekat ranjang lalu Alfa memilih rebahan. Sambil rebahan, tatapan mata Alfa tertuju pada langit-langit kamarnya. Suara kipas angin di dinding pun terdengar keras. Alfa berbalik, menutup matanya sebentar, membuka mata lagi dan berbalik lagi menatap langit kamar. Posisinya kembali terentang. Beberapa kali embusan napasnya terdengar berat bahkan terkesan lelah."Kenapa perasaanku kok kayak ada yang salah ya? Tapi apa?" gumamnya."Tau ah, gelap. Mending tidur!" Alfa memilih tidur siang. Siapa tahu habis tidur perasaannya jadi lebih baik. Sayangnya Alfa kembali membuka mata. Dia tak bisa tidur. "Ish! Kenapa susah sekali buat merem sih?"Alfa memilih berdiri. Kebiasaan di Kairo yang jarang tidur siang, kebablasan hingga di rumah. Alfa yang masih dalam tahap adaptasi kesulitan mencari aktivitas yang bisa membu

    Last Updated : 2023-10-11
  • Cinta Gadis tak Bernasab   9. Aksi Ngintip

    Alwi menatap Galuh dengan tatapan penuh pemujaan dari lantai dua MA An-Nur untuk siswa putra. Sementara yang dipandangi tidak sadar dan fokus dengan kegiatannya bersama anak-anak PMR. MA An-Nur memang dibagi menjadi dua kompleks berhadapan yang satu untuk santri putra sementara yang satu untuk santri putri. Pengelolaan ini ditujukan agar siswa dan siswi yang hampir sembilan puluh persen adalah santri, mampu menjaga pandangan dengan lawan jenis. Meski sudah diatur sedemikian rupa, tetap saja ada yang mbeler dan melakukan pertemuan dengan lawan jenis. Semua tergantung pribadi masing-masing. Alwi masih asik menatap wajah ayu gadis pujaan hatinya. Sejak dulu, sejak dia masih kecil, Alwi memang sudah menyukai Galuh. Gimana gak suka, Galuh itu paling berbeda. Wajah khas gadis Arab dengan hidung mancung, mata hitam bulat, alis lebat yang melengkung indah di atas kedua mata, serta kulit putihnya begitu kentara. Sangat membedakan dirinya dengan orang lain yang rata-rata berkulit sawo matang

    Last Updated : 2023-10-15
  • Cinta Gadis tak Bernasab   10. Dilema

    Galuh kaget, mau ngerem juga percuma. Cara jalannya yang jauh dari kata putri Solo kini menjadi bumerang. Galuh sedang berjalan tergesa melewati lorong kelas dan saat berbelok dia kurang waspada. Bukannya memelankan kecepatan berjalan, malah Galuh main belok saja. Dan ternyata ada Alfa yang sedang berjalan dari arah lorong yang lain. Alfa juga terlihat tergesa. Jadilah keduanya sama-sama kaget, tidak bisa ngerem dan bruk! Tubuh keduanya jadi bertubrukan. Galuh hampir jatuh namun refleks dia mencengkeram koko kakak angkatnya. Alfa sendiri refleks menarik pinggang Galuh. Akibatnya tubuh keduanya saling membentur lagi namun kini jadi saling merapat. Karena Galuh berpegangan pada koko sang kakak angkat, sementara Alfa dengan sigap merangkap sang adik angkat dengan kedua lengan kokohnya.Galuh deg-degan. Pipinya merona. Alfa? Jangan tanya, wajah kakak angkatnya terlihat kesal. Wajah Alfa terlihat memerah menahan malu atau marah. Entah, Galuh tak tahu. Yang jelas, Galuh segera melepaskan t

    Last Updated : 2023-10-16
  • Cinta Gadis tak Bernasab   11. Ke Jogja

    Galuh tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Alwi. Dia celingukan ke kanan dan ke kiri. Galuh menutup matanya sebentar lalu kembali menatap Alwi. Ternyata sosok yang dia harap hanya hayalan atau halusinasi memang dia. Galuh kesal. Tanpa peduli mau dikatain judes, Galuh berkata ketus pada Alwi. "Gus! Gus apa-apaan sih?" desis Galuh. Dia kembali melirik ke kiri dan kanan. "Lah, aku emangnya ngapain?" tanya Alwi balik. Bahkan sambil cengengesan. "Kenapa Gus Alwi bisa di sini?" "Terserah aku lah, duit juga duitku sendiri." "Memangnya njenengan gak ngajar?" "Ada ustaz piket, kok." Alwi lagi-lagi menjawab cuek.Galuh kembali menutup mata sebentar lalu beristighfar. Menghadapi Alwi memang butuh kesabaran dan kewarasan. Galuh memilih tak memperpanjang urusan. Meski dia yakin, kalau Alwi sengaja membuntutinya, tapi Galuh ta punya kuasa untuk menolak kehadiran Alwi. Galuh yakin, lelaki slengekan dan suka semaunya sendiri itu punya seribu satu macam alasan. Dan sayangnya diantara sem

    Last Updated : 2023-10-20
  • Cinta Gadis tak Bernasab   12. Mencari Tahu

    Alwi hanya bisa meluapkan kekesalannya pada Galuh dengan cara menendang kerikil-kerikil yang dia temui sepanjang jalan. Atau pada angin yang dia tinju tapi tak ada reaksi apa pun atau rasa sakit apapun di kepalan tangannya. Tapi rasa sakit di hati? Jelas. Alwi merasa lagi-lagi Galuh tidak ingin tersentuh oleh perhatiannya, kebaikannya dan rasa cintanya. "Kenapa kamu nolak aku terus sih Luh? Aku tuh tulus sama kamu. Sejak kecil loh. Sejak kecil kamu selalu saja nolak keberadaanku. Padahal aku sayang sama kamu."Alwi duduk ndoprok di lantai yang ada di stasiun Jogja. Padahal ada banyak kursi tapi dia memilih menyiksa diri. "Aku kudu gimana sih Luh, buat melunakkan hatimu? Cuma aku? Aku yang nerima kamu apa adanya. Gak ada cowok mana pun yang mau sama kamu. Kamu tuh siapa sih?" kesal Alwi. "Bapakmu aja gak jelas!" ucapnya ketus. Tepat saat kalimat terakhir yang Alwi ucapkan, bunyi kereta lain yang baru datang mengagetkan dirinya. Alwi diam termenung hingga kalimat istighfar terucap da

    Last Updated : 2023-10-22

Latest chapter

  • Cinta Gadis tak Bernasab   121. Obat Migren

    Alfa sampai di rumah menjelang jam empat. Dia terlihat kelelahan karena baru saja menyelesaikan segudang pekerjaan dimulai dari meninjau lokasi kebun durian miliknya, mengecek usaha miliknya, memberi materi kewirausahaan di salah satu sekolah pertanian yang ada di Purwokerto hingga menemui salah satu rekan kerjanya guna membahas kontrak kerja sama yang baru."Assalamualaikum," ucap Alfa ketika memasuki rumah."Wa'alaikumsalam.""Abah!"Alfa yang awalnya merasa lelah langsung semangat gara-gara mendengar suara sang putri. Dia pun mencari keberadaan putrinya yang ternyata sedang duduk menonton TV ditemani Zahra."Fay.""Abah."Alfa langsung merentangkan kedua tangan sementara Fairuz berlari ke arahnya. Alfa membopong putri cantiknya dan diciuminya kedua pipi Fairuz dengan gemas. Membuat Fairuz tertawa karena kegelian."Geli, Abah.""Masa sih? Gak geli ah.""Geli."Bukannya melepaskan sang putri, Alfa terus mencandai sang putri hingga kemudian dia sadar akan keberadaan Zahra."Mbak Zahra

  • Cinta Gadis tak Bernasab   120. Balik Ke Rumah

    "Ami Syakib gimana kabarnya, Ba?""Udah lebih baik. Udah ikhlas dia. Amira selalu ada di sampingnya. Jadi motivator terbaik buat ami kamu. Ditambah sudah ada Rafatar. Jadi proses penyembuhannya lebih gampang."Satu Minggu setelah kematian Habiba, Galuh dan Fairuz masih berada di Andalusia. Alfa sendiri sudah kembali ke Kebumen, tiga hari setelah kematian Habiba. Sebab ada banyak urusan pekerjaan dan pondok yang harus dia lakukan.Meski Galuh juga ingin ikut balik, tapi di sisi lain dia juga masih ingin bermanja-manja dengan kedua orang tuanya. Menyebabkan Alfa yang mengalah dan membiarkan Galuh tetap berada di Tegal sampai rasa rindu sng istri pada kedua orang tuanya terobati.Karena Galuh di Tegal, Fairuz jadi ikutan ngintilin uminya. Membuat Alfa sedikit uring-uringan tapi mau bagaimana lagi dia gak bisa egois. Dia paham Galuh pasti masih ingin banyak waktu bersama kedua orang tuanya. Dan Fairuz yang baru merasakan punya ibu, juga begitu. Alfa deh yang harus berbesar hati membiarkan

  • Cinta Gadis tak Bernasab   119. Memaafkan

    Syakib dan yang lain masih dalam kondisi terguncang. Alfa yang berada di balik kemudi mobil Syafiq bahkan sampai mencengkeram kemudi."Tidak. Tidak Habiba."Syakib segera membuka pintu belakang, sebelah kiri. Dia berlari menuju ke kerumunan. Dia bahkan mendorong beberapa orang untuk sampai ke sosok yang tergeletak tak berdaya di aspal."Ya Allah, Bibah. Bibah. Tidak. Tidak Bibah!"Syakib terduduk di dekat Habiba. Dia hendak meraih tubuhnya namun dihalangi oleh beberapa orang dengan alasan, Habiba harus dicek oleh tenaga medis dulu."Aku harus membawanya. Bawa dia ke rumah sakit.""Ini kan pintu keluar rumah sakit. Tunggu petugas medis dulu.""Kita harus angkat dia. Harus bawa dia." Syakib berontak hendak membawa Habiba."Dokter. Panggil dokter!" teriak Syakib.Dia terus memberontak. Ingin mendekat ke arah Habiba. Beruntung Syafiq dan Faris sudah mendekat. Mereka pun ikut menahan Syakib."Tenanglah. Itu petugasnya sudah datang," pinta Faris. Dia menahan sambil merangkul sepupunya karen

  • Cinta Gadis tak Bernasab   118. Tabur Tunai

    Habiba duduk terpekur di dalam sel lapas yang baru dia tempati selama dua puluh menit yang lalu. Sejak dia dibawa ke lapas, belum ada satu pun yang menjenguknya. Habiba beberapa kali tertawa sendiri, menangis lalu berteriak. Aksinya sangat mengganggu napi lain terutama teman satu selnya.Bahkan beberapa menit yang lalu, dia baru saja mendapatkan beberapa pukulan dari salah satu teman selnya yang merasa terganggu dengan suara teriakan atau tangisan Habiba. Melihat kondisi Habiba yang bisa saja menjadi bulan-bulanan warga sel lain, dia pun akhirnya ditempatkan dalam sel sendirian.Namun, pilihan ini pun juga ada minusnya. Habiba makin menjadi. Dia makin sering menangis keras dan berteriak. Meski sangat mengganggu, setidaknya Habiba aman karena berada di selnya sendirian."Kak Umar. Kamu di mana? Kak Umar. Kak Umar tolong Bibah. Kak Syakib. Kamu ke mana Kak Syakib? Bantu aku. Keluarkan aku dari sini. Aku kan istri kamu. Hahaha. Kamu kan cinta mati sama aku. Hahaha.""Aba, Umi. Hei, kalia

  • Cinta Gadis tak Bernasab   117. Gagal

    "Mati?" lirih Faris."Iya. Mati. Hiks hiks hiks."Habiba mencoba melepaskan diri. Tapi tak berhasil. Dia bahkan kini terduduk, dengan menahan rasa sakitnya. Sorot matanya menampilkan aura kemarahan dan dendam."Kamu ingin Kak Umar Mati?" tanya Syafiq tak percaya."Iya!" jawab Habiba dengan lantang. "Dasar kurang ajar!" hardik Syafiq."Apa kamu gak takut masuk penjara, hah?" sambung Syafiq."Aku tak peduli. Tak peduli. Hidupku sudah hancur. Aku tak punya apa pun yang bisa aku jadikan semangat untuk hidup!" teriak Habiba."Makanya lebih baik dia mati. Hahaha.""Edan! Gila kamu.""Iya aku gila. Gila. Dulu Kak Umar segalanya bagiku. Dia adalah tujuan hidupku. Aku bertahun-tahun menunggu dia. Menunggu dia berpaling padaku. Menatapku. Menerima hadirku. Tapi apa? Apa, hah?! Aku gak pernah dia lirik. Sampai kulitku keriput, rambutku putih. Dia gak pernah melirikku. Padahal demi Kak Umar. Demi kamu, Kak. Aku ngelakuin apa pun. Demi bisa dapat perhatian dan cintamu, Kak Umar. Bahkan kejahatan

  • Cinta Gadis tak Bernasab   116. Kegilaan Habiba

    Anjani dan dua menantu Abu Hasan sedang sibuk di dapur. Sesekali mereka bercerita dan tertawa. Mereka tampak akrab karena secara umur mereka sepantaran."Habis ini, aku berharap kehidupan kita semua lebih baik lagi," celetuk Ulfa.Kedua iparnya menoleh pada Ulfa."Ya dengan tidak adanya Bibah, aku harap keluarga kita jadi lebih baik. Masalahnya kan sejak dulu, yang jadi biang masalah ya dia," sambung Ulfa.“Kadang aku gak ngerti sama pola pikir dia. Udah ada Syakib yang baik, yang cinta sama dia. Masih juga ngejar Kak Umar. Andai Aba Hasan gak ada janji sama orang tua Bibah, pasti deh tuh orang bakalan didepak sama Aba dari dulu. Gak perlu nunggu berpuluh tahun sampai Bibah sendiri yang minta cerai. Hah!" ucap Ulfa menggebu-gebu."Untung aja ada kamu, Mira. Dan untung aja Kak Umar setia orangnya. Aku gak bisa bayangin kalau Syakib masih bucin atau Kak Umar nerima dia. Lihat aja kelakuannya. Udah tua, bukannya jadi pribadi lebih baik, lebih bijak tapi ya begitu deh.”Baik Amira dan Anj

  • Cinta Gadis tak Bernasab   115. Hanya Orang Luar

    "Dasar wanita bodoh. Keturunan najis. Cih! Kamu selain bodoh punya kelebihan apa hah? Kamu pakai pelet apa sih, sampai Umar anakku kesengsem sama kamu. Kenapa dia gak mau sama Bibah yang sempurna? Eh eh eh, malah nangis. Bisanya cuma nangis, dasar tolol! Sana kamu ke kamar saja. Sepet mataku lihat kamu. Jangan pernah nongol di sini. Perkumpulan ini hanya untuk keluarga Al Hilabi, sama orang-orang terhormat seperti Bibah. Orang miskin kayak kamu gak pantes di sini. Gak pantes jadi istrinya Umar. Gak pantes jadi mantuku!" ucap Umi Lutfiyah sambil menatap Anjani jijik dan penuh kebencian.Bayangan demi bayangan kian berlarian dalam ingatan Habiba. Habiba seakan ditarik paksa dari kisah lampau. Kisah dimana dia dulu dipuja, dibela dan bisa sombong. Kini dia malah tersiakan, tak dilirik, tak diinginkan.Habiba sedikit terhuyung. Bayang-bayang masa silam masih begitu kentara dalam pikirannya. Dulu dia selalu dibela oleh Umi Lutfiyah dan menyebabkan keluarga Al Hilabi juga mendukungnya. Tapi

  • Cinta Gadis tak Bernasab   114. Tidak Ada Yang Membela

    “Cerai?” ucap Syakib. Meski dia sudah sadar kalau suatu hari nanti Habiba akan meminta cerai darinya, namun ketika mendengar langsung, terasa ada tusukan pisau yang menembus ke jantungnya. Syakib rupanya belum siap mendengar ajakan cerai Habiba. Hal ini terbukti, tanpa aba-aba air matanya turun. Yara dan Amira sendiri terlalu shock, keduanya belum mampu merespon ucapan Habiba. “Cerai?” ulang Syakib. “Ya cerai. Aku sudah tidak tahan menikah denganmu. Bahkan aku merasa kalau selama ini aku sudah banyak melewatkan masa mudaku cuma buat status gak penting ini. Sekarang … aku mau bahagia. Aku mau meraih masa depanku dan itu bukan kamu!” teriak Habiba. Syakib diam. Dia terlalu shock mendengar kata ‘cerai’ dari mulut Habiba. Namun, beberapa saat kemudian, Syakib bisa mengendalikan diri. Yara dan Amira juga. Tapi keduanya memilih tak mengatakan apapun. Tak mau ikut campur. Amira memilih untuk melihat saja, apa yang akan suaminya putuskan. “Jadi, akhirnya hanya sampai di sini saja,”

  • Cinta Gadis tak Bernasab   113. Ayo Kita Cerai

    Habiba tersenyum penuh kemenangan menatap Faris yang hanya bisa terdiam. Hari ini, dia datang ke Andalusia bersama dua orang polisi dengan tujuan untuk menangkap Anjani. Habiba memberikan beberapa bukti seperti hasil visum dan foto dirinya yang terluka. Dia juga membawa tiga orang saksi yang merupakan santri Andalusia yang bisa dia suap agar bisa memberikan keterangan terjadinya pemukulan yang dia terima dari Anjani. Dalam hati, Habiba yakin kalau rencananya saat ini akan berhasil.“Kami memberi kesempatan Anda untuk menyiapkan pengacara, tapi sebelumnya, kami harus membawa Nyonya Anjani ke kantor polisi,” ucap salah satu polisi.Faris menghela napas dia menatap sedih pada Anjani. Dia pun membawa tangan Anjani pada genggaman jemari tangannya.“Kamu ikut dulu ya? Galuh yang akan temani kamu ke sana sama Alfa. Mas akan hubungi salah satu pengacara kenalan Mas. Semoga dia bisa bantu buat bebasin kamu. Kamu jangan khawatir ya Sayang. Mas akan lakukan apapun untuk menyelamatkan kamu.”Anja

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status