“Jadi, apa yang sebenarnya kamu inginkan?” Suara Kael terdengar tajam, penuh ketegasan.
Sedang Arlena tampak menarik napas dalam, menenangkan hati sebelum berbicara. Ia tahu, setiap kata yang keluar dari mulut akan menentukan nasibnya sendiri, dan nasib orang-orang yang ia perjuangkan. “Yang Mulia,” Arlena menatap Kael dengan penuh keberanian. “Saya ingin Anda membebaskan tawanan dari klan Altheria yang tersisa.” Sejenak, ucapan Arlena merubah suasana ruangan. Ekspresi Kael berubah, matanya terbelalak terkejut, menatap Arlena dengan tajam. Nama itu—Altheria—bukanlah nama yang asing baginya. “Klan Altheria?” ulangnya, suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan yang berbahaya. “Kau meminta sesuatu yang mustahil! Klan itu sudah dihukum karena pengkhianatan mereka.” Arlena tetap berdiri tegak. “Yang Mulia, mereka bukan pengkhianat.” Kael mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Arlena. “Kau tahu apa tentang mereka! Apa hubunganmu dengan klan itu?” Arlena menelan ludah. Dia tidak boleh gegabah. “Saya hanya melihat kebenaran yang telah lama diabaikan, Yang Mulia. Mereka bukan pemberontak. Mereka hanya menuntut hak mereka pada masa pemerintahan ayah Anda.” Kael mengangkat alis. “Benarkah?” Arlena mengangguk. “Dulu, ketika ayah Anda masih berkuasa, pajak yang ditetapkan bagi rakyat terlalu tinggi. Klan Altheria, yang sebagian besar terdiri dari pengrajin dan petani, tidak mampu membayarnya." "Mereka datang ke istana untuk memohon keringanan pajak, bukan untuk memberontak. Namun, para menteri yang tamak memutarbalikkan fakta, membuat mereka terlihat seperti pengkhianat.” Kata-kata Arlena membangkitkan ingatan lamanya. Ia masih kecil saat peristiwa itu terjadi, namun ia ingat bagaimana ayahnya tiba-tiba menjatuhkan hukuman berat kepada klan Altheria. “Mereka dijadikan budak buruh, Yang Mulia,” lanjut Arlena. “Mereka dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi, tanpa diberi gaji, tanpa diberikan hak untuk hidup layak. Mereka menderita bukan karena kesalahan mereka, tetapi karena keserakahan orang-orang di sekitar takhta.” Kael menghela napas panjang. Ia menatap Arlena dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Dan kamu ingin aku memerdekakan mereka begitu saja?” Arlena mengangguk. “Bukan hanya memerdekakan mereka, Yang Mulia. Saya juga meminta agar nama baik klan Altheria dipulihkan.” Kael membukakan matanya. “Permintaan yang besar untuk seorang dayang.” Arlena tetap tenang. “Saya tahu ini tidak mudah, Yang Mulia. Tapi saya percaya bahwa Anda bukan raja yang kejam. Saya percaya bahwa Anda bisa melihat kebenaran.” Kael tidak langsung menjawab. Ia melangkah mundur, menatap Arlena seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. “Aku tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Sejak dulu, aku diajarkan bahwa klan Altheria adalah pengkhianat. Namun, jika memang ada kebenaran yang tersembunyi, aku akan menyelidikinya.” Arlena menatap Kael dengan penuh harapan. “Tapi,” “Aku tidak bisa mengubah keputusan kerajaan dalam semalam. Jika kau benar-benar ingin membantuku, maka kau harus bekerja sama denganku.” Arlena mengangguk. “Saya akan melakukan apa yang Anda minta, Yang Mulia.” Kael memandang lebih lama, lalu tersenyum kecil, senyum yang sulit diartikan. Namun, sebelum Arlena bisa menanggapinya, Kael berbalik dan berjalan menuju pintu. “Bersiaplah,” katanya tanpa menoleh. “Aku telah membuat keputusan lain untukmu.” Arlena menatap punggung Raja Kael dengan perasaan campur aduk. Ia berhasil membuatnya mendengar permintaannya, tapi apa yang dimaksud Kael dengan 'keputusan lain'? Hatinya berdebar. Ia tahu, apa pun yang terjadi setelah ini, akan mengubah segalanya. Dua hari kemudian, beberapa penjaga datang membuka jeruji besi tempat Arlena ditawan. "Keluarlah," titah salah seorang pengawal. "Ada apa ini?" tanya Arlena sambil menelan salivanya. "Raja memerintahkan untuk mengeluarkan mu dan mengantarmu ke paviliun selatan istana raja," jawab salah seorang Kasim yang berdiri paling depan. Arlena berjalan dengan ragu, dia mendekati Kasim. Wajah Kasim itu langsung berubah saat melihat paras elok sayang rendahan di hadapannya. "Dengan cara apa, kau bisa memikat hati raja," gumam Kasim tersebut menatap takjub, dia akui dalam hatinya, Arlena adalah wanita tercantik yang pernah dia lihat secara langsung. "Apa maksud anda?" tanya Arlena yang masih tidak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. "Ikuti saja aku," titah Kasim tersebut lalu berjalan, Arlena menurut dan mengikutinya dari belakang, dengan kepala yang tertunduk dalam. Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya. Arlena berdiri di dalam ruangan yang luas, karpet lembut berwarna merah tua membentang di bawah kakinya, sementara tirai sutra emas bergoyang pelan tertiup angin. Perabotan di ruangan ini terbuat dari kayu terbaik, diukir dengan detail yang menunjukkan kemewahan seorang bangsawan. Di hadapannya, beberapa dayang sibuk menyiapkan pakaian yang jauh lebih indah daripada yang pernah ia kenakan sebelumnya. Gaun-gaun itu terbuat dari kain mahal dengan bordiran emas dan perak, jelas bukan sesuatu yang pantas untuk seorang dayang biasa. "Nona, mari kami bersihkan tubuh anda," tutur salah seorang dayang dengan sopan, diikuti tiga sayang lainnya. Arlena tidak protes seperti biasanya. Dia memang butuh mandi setelah tiga hari berada di ruangan bawah tanah. Langkah kakinya pun sampai ke sebuah bak kayu, penuh dengan rendaman bunga mawar. Mereka membersihkan tubuhnya dan memakaikan gaun indah. Rambutnya disurai Serapi mungkin, kepangan rambut halus dan tebalnya membuat para dayang sangat kagum dibuatnya. "Nona, anda sangat cantik," puji salah seorang. "Terima kasih, maaf jika boleh bertanya, mengapa aku dibawa ke sini?" tanya Arlena belum tau apa rencana raja sebenarnya. "Nona, kenapa tidak anda tanyakan langsung saja pada Raja," bisik seorang pelayan lainnya sambil menunjuk ke arah pintu masuk khusus. Tampak Raja Kael berdiri di ambang pintu. Menatap Arlena dengan mata yang berbinar. Menatap takjub wanita di hadapannya dengan jantung berdebar. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. "Selamat pagi, Yang Mulia," sapa Arlena dengan sopan sambil membungkukkan tubuhnya. Raja Kael langsung meminta seluruh dayangnya untuk keluar saat itu. Kini, tersisa hanya mereka berdua. "Apa yang ingin kau tanyakan, Hem?" Raja Kael berjalan, mengitarinya, menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Iya, Yang Mulia. Mengapa, anda meminta saya untuk berada di sini, Yang Mulia?" tanya Arlena dengan sopan. "Kau ingin membebaskan klan Altheria bukan?" tanya Raja sekali lagi. Dengan cepat Arlena menjawab. "Benar, Yang Mulia Raja." Ini adalah kesempatannya. "Berarti, kau tidak memiliki pilihan untuk menolak syaratku yang satu ini." Raja Kael lalu berjalan dengan santai dan duduk di atas ranjang mewahnya. "Apa maksud anda? Saya, tidak akan tidur dengan anda, Raja Kael. Saya bukan gadis murahan!" tolak Arlena, membuat Raja Kael tertawa. Sang raja sedang tertawa, sesuatu yang langka. "Kau ini mesum, Arlena." Mendengar ejekan raja, wajah Arlena memerah. "Sini, mendekatlah," titah Raja Kael dan Arlena dengan wajah tertunduk, berjalan mendekatinya. Telunjuk Raja Kael langsung mengangkat dagu Arlena dengan lembut. "Arlena, bantulah aku untuk membuktikan kebenaran dari semua ucapanmu. Dengan menjadi permaisuriku.” "A-Apa?! Permaisuri?!" "Iya, Aku akan menjadikanmu permaisuri ku,"“Kael!” suara seorang wanita menggema di seluruh koridor ruangan. “Raja Kael! Apa yang sudah kudengar ini?! Kau ingin menikah dengan seorang dayang rendahan?” pekikan panik dan getaran suara yang menahan amarah, membuat seluruh dayang dan para kasim tidak ada yang berani mengangkat wajah mereka.Kael menatap Ibu Suri dengan tenang. “Keputusanku sudah bulat, Ibu.”Ibu Suri menggenggam tangannya. “Kau sudah kehilangan akal sehatmu, Kael?! Seorang Raja tidak boleh bertindak gegabah hanya karena tertarik pada seorang perempuan! Kau bisa memilikinya, jadikan dia selir, tapi tidak menduduki kursi permaisuri,” tuturnya tidak terima dan masih berusaha mengubah pendirian anaknya.Kael tetap tenang. “Aku tidak gegabah, Ibu. Aku tahu apa yang aku lakukan,” jawabnya tanpa ekspresi, membuat ibu Suri semakin frustasi.Ibu Suri semakin mendekat, suaranya merendah tapi, penuh tekanan. “Kau masih ingat apa yang terjadi ketika ayahmu menikahi i
Pintu kamar terbuka dengan keras, membuat kedua wanita itu menoleh, mereka sangat terkejut hingga terpatung ditempat. Seorang pria berdiri di ambang pintu. Siluetnya tegap dan berwibawa, jubah hitamnya berayun sedikit terkena angin dari luar. Mata emasnya yang tajam menatap ke arah mereka berdua. Kael. Tatapan itu membuat tangan Ibu Suri terhenti di udara. Ia membeku, lalu segera menarik tangannya kembali, berusaha menjaga martabatnya di depan Raja. “Apa yang sedang terjadi di sini? Kenapa aku mendengar suara seorang perempuan yang di hormati seakan menjatuhkan harga dirinya sendiri?" suara Kael terdengar tenang, tetapi penuh dengan otoritas yang membuat siapa saja mendengarnya merasa terancam. Arlena tidak berbicara. Ia hanya berdiri diam dengan ekspresi tenang seperti biasa, meskipun di dalam dirinya, ia merasa puas dan menang karena kedatangan Kael tepat waktu. Bahkan dirinya tidak habis pikir, kenapa seorang Raja Kael yang terkenal dengan otoriternya mau membela seorang day
Salah satu menteri yang bernama Lord Gregor, seorang penasihat senior yang telah lama mengabdi pada kerajaan, menyandarkan tubuhnya di kursi dengan ekspresi tidak suka. “Yang Mulia, mengapa tiba-tiba membahas tentang Klan Altheria? Kita semua yang ada disini, bahkan semua orang yang ada di negeri ini tidak akan pernah mau membahas klan yang terkutuk itu. Klan yang sudah berusaha menghancurkan pondasi di negeri ini!" Kael tetap tenang, meskipun ia dapat merasakan ketegangan yang muncul di antara para menterinya. “Aku ingin mengetahui kebenaran tentang peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan ayahku. Aku ingin semua bukti yang ada terkait klan tersebut. Aku tidak ingin ada rakyatku menderita di negeri ini hanya karena sebab dongeng masa lalu." Lord Gregor berdeham sebelum menjawab. “Yang Mulia, tidak perlu membangkitkan masa lalu yang telah terkubur. Klan itu melakukan pemberontakan terhadap kerajaan. Mereka menolak pajak yang ditetapkan, menghasut rakyat untuk melawan, dan pada a
Raja Kael berjalan cepat menuju kediaman Ibu Suri, langkahnya mantap namun ada ketegangan yang tersembunyi di balik ekspresinya. Laporan dari Kasim membuatnya tidak tenang, terlebih lagi ini menyangkut seseorang yang—meskipun sering bertentangan dengannya—tetaplah bagian dari keluarganya di istana.Saat tiba di sana, para tabib dan asisten tabib yang berkumpul di sekitar tempat tidur Ibu Suri segera memberi jalan. Sang wanita paruh baya terbaring di atas ranjang mewahnya, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat. Kael mendekat, matanya menajam melihat kondisi Ibu Suri yang tampak lebih lemah dari biasanya."Kenapa bisa seperti ini? Siapa yang berani melakukan nya?" suara Kael dingin, namun terselip kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Tabib utama yang berdiri di dekat kepala tempat tidur segera menundukkan kepala sebelum menjawab, "Yang Mulia, setelah kami memeriksa, kami menemukan bahwa makanan Ibu Suri mengandung racun. Untung saja para dayang yang bersamanya seg
Arlena berjalan keluar dari istana melalui pintu belakang, melewati lorong-lorong gelap yang jarang dilalui. Ia mengenakan jubah sederhana untuk menyamarkan identitasnya. Udara malam terasa dingin, dan jantung penuh kegelisahan. Ia tahu risiko yang diambilnya sangat besar, tetapi ia tidak bisa diam saja. Ia harus mencari cara untuk menyelamatkan Kepala Dayang dari tuduhan palsu. Namun, tanpa disadari, seseorang telah mengikuti sejak ia keluar dari istana. Langkah kakinya semakin cepat ketika ia menyadari ada suara langkah lain yang terdengar di belakangnya. Arlena menoleh sekilas, melihat sosok pria berpakaian hitam yang berjalan dalam bayang-bayang. Jantungnya berdegup kencang. Ia mempercepat langkahnya, berusaha mencari jalan keluar ke arah perkampungan penduduk. Tiba-tiba, pria itu melompat ke arahnya, mencoba menarik tangannya. Arlena tersentak, berusaha melawan dan melepaskan diri. “Lepaskan aku!” teriaknya, tetapi pria itu semakin kuat menggenggam pergelangan tangannya. Deng
Arlena menghela nafas pelan, mencoba mengusir kebingungan dalam pikirannya. Ia masih memikirkan isi buku yang diberikan oleh Tuan Raad. Dirinya baru tahu ternyata Klan Altheria bukan sekadar klan biasa—mereka memiliki ambisi besar, sesuatu yang bahkan Arlena sendiri tidak yakin apakah ini yang ia ingin perjuangkan. Arlena menutup buku itu perlahan, membiarkan pikirannya mengembara saat ia kembali ke kerajaan. Namun, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Ada perasaan bersalah dan sedikit kebingungan, apakh benar ini adalah misinya diawal? Setibanya di kediamannya, Arlena merasa gerah. Ia membuka jendela, membiarkan udara malam masuk, namun ternyata itu tidak cukup untuk menenangkan pikiran. Ia akhirnya keluar ke halaman kecil yang telah disediakan untuknya. Di bawah langit yang gelap dan udara malam yang dingin, Arlena berdiri termenung, menatap taman kecil di hadapannya. Ia merasa terombang-ambing antara keinginan untuk melindungi Klan Altheria dan ketidaksukaannya pada a
Pagi itu, suasana di istana dipenuhi ketegangan. Para menteri, dengan ekspresi serius dan penuh kewaspadaan, berkumpul di ruang sidang kerajaan. Raja Kael duduk di singgasananya, menatap para menteri dengan tajam, sementara kasim kerajaan mengumumkan alasan pertemuan mendadak ini.Seorang menteri senior, Lord Arven, melangkah maju. “Yang Mulia, kami menemukan sesuatu yang tidak bisa kami abaikan. Kami meminta izin untuk segera menyampaikan temuannya.”Kael menggerakkan jarinya, memberi isyarat agar mereka melanjutkan.Seorang pengawal datang membawa sebuah buku tua dengan sampul berwarna hitam yang terlihat sudah usang. Menteri yang lain, Lord Gendric, mengambil alih dan berkata dengan suara tegas, “Buku ini ditemukan tersembunyi di dalam loker milik Kepala Dapur yang telah ditangkap. Kami menganggap ini sebagai bukti kuat bahwa Kepala Dapur memang terlibat dalam kebohongan yang mengancam keselamatan kerajaan.”Para menteri yang lain mengangguk setuju.Lord Arven melanjutkan, “Buku in
Di sudut ruangan yang remang-remang, para menteri duduk melingkar di sekitar meja kayu kasar, gelas-gelas arak memenuhi meja, menciptakan aroma tajam yang bercampur dengan asap dari lampu minyak yang menggantung di langit-langit rendah. “Kita harus bergerak lebih cepat,” kata Menteri Keuangan, suaranya sedikit mabuk namun tetap tajam. "Raja Kael memang cerdas, tapi dia terlalu lambat dalam mengambil keputusan. Kita bisa mengendalikan situasi sebelum dia menyadarinya." Seorang menteri lain tertawa pelan, meneguk araknya sebelum berbicara. "Kau benar. Lihat saja tadi di ruang sidang, dia hanya diam seperti anak kecil yang kehilangan mainannya." Mereka tertawa, suara mereka menggema di ruangan itu. "Tapi ada satu hal yang perlu kita tuntaskan," lanjut Menteri Keuangan, suaranya merendah. "Buku itu. Kita harus menemukan penulisnya lebih dulu sebelum Raja mendapatkannya. Jika orang itu masih hidup, dia bisa menjadi ancaman bagi rencana kita." “Aku akan mengutus pengawalku,” sambi
Lior kembali ke istana dalam keadaan lelah, namun dia tetap menjaga sikapnya saat berjalan menuju ruang kerja Raja Kael. Setelah mendapatkan izin masuk, dia langsung memberi hormat. Raja Kael menatap tajam. “Bagaimana?” Lior menghela napas. "Saya sudah menemukan jejaknya, Yang Mulia.Tetapi masalahnya lebih rumit dari yang kita duga. Ada lebih banyak pihak yang terlibat, dan mereka tidak akan membiarkan kita menemukan kebenaran dengan mudah." Raja Kael menyandarkan punggung ke kursi. “Jadi kamu belum mendapatkan informasi lengkap?” "Saya hanya menemukan potongan-potongan informasi, tetapi belum cukup untuk mengambil kesimpulan. Saya ingin meminta izin untuk melanjutkan perjalanan. Saya berjanji akan kembali setelah menemukan jawaban yang kami butuhkan." Raja Kael menatap Lior dengan ekspresi sulit ditebak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Aku memberi izin, tapi tetap berhati-hati. Musuh kita bergerak dalam bayangan." Lior memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan dengan l
Lior terus berjalan tanpa menoleh, tetapi pikirannya penuh dengan pertanyaan. Siapa pria itu? Bagaimana dia tahu namaku? Langkahnya cepat, menembus lorong-lorong gelap Distrik Selatan hingga akhirnya mencapai titik aman di dekat pasar. Dia berhenti sejenak, mengatur napasnya. Buku di balik jubahnya terasa semakin berat, seolah menyimpan rahasia yang bisa menggemparkan kerajaan. Namun, sebelum dia bisa berpikir lebih jauh, seorang anak kecil berlari ke arahnya, menyelipkan secarik kertas ke tangannya dan bergegas kabur tanpa berkata apa-apa. Lior mengerutkan kening kemudian membuka kertas itu. "Jangan kembali ke istana. Mereka sudah tahu kau membawa buku itu." Jantung Lior berdegup kencang. Dia segera melihat sekelilingnya, mencari tanda-tanda bahaya. Siapa yang menulis ini? Apakah ini jebakan? Namun, dia tidak punya waktu untuk menyaring semuanya. Dari persembunyian, dia melihat beberapa pria berpakaian sama dengan bandit yang menghalanginya tadi berjalan cepat menuju ke a
Lior berdiri diam di lorong sempit itu, napasnya masih memburu setelah pertarungan berlangsung. Melihat sekeliling, mencari tanda-tanda ke mana pria yang mencengkeram itu pergi, tapi yang terlihat hanyalah bayangan-bayangan yang berbaur dengan kegelapan malam. "Sial," Lior mengumpat pelan. Orang itu muncul entah dari mana, membantunya, lalu menghilang begitu saja. Tapi dia tidak bisa membuang waktu. Dia masih punya tugas. Dengan langkah cepat, Lior melanjutkan pencariannya. Namun, rasa penasaran tentang pria misterius itu terus mengganggu pikiran. Dia pernah melihat gaya bertarung seperti sebelumnya—cepat, presisi, dan tanpa senjata. Itu bukan teknik sembarangan. Setelah beberapa waktu berjalan, Lior menemukan dirinya di sebuah distrik yang lebih sepi. Rumah-rumah di sini terlihat tua, dengan pintu dan jendela yang sebagian besar tertutup rapat. Lampu-lampu redup dari lilin yang menyala di dalam ruma
Di sudut ruangan yang remang-remang, para menteri duduk melingkar di sekitar meja kayu kasar, gelas-gelas arak memenuhi meja, menciptakan aroma tajam yang bercampur dengan asap dari lampu minyak yang menggantung di langit-langit rendah. “Kita harus bergerak lebih cepat,” kata Menteri Keuangan, suaranya sedikit mabuk namun tetap tajam. "Raja Kael memang cerdas, tapi dia terlalu lambat dalam mengambil keputusan. Kita bisa mengendalikan situasi sebelum dia menyadarinya." Seorang menteri lain tertawa pelan, meneguk araknya sebelum berbicara. "Kau benar. Lihat saja tadi di ruang sidang, dia hanya diam seperti anak kecil yang kehilangan mainannya." Mereka tertawa, suara mereka menggema di ruangan itu. "Tapi ada satu hal yang perlu kita tuntaskan," lanjut Menteri Keuangan, suaranya merendah. "Buku itu. Kita harus menemukan penulisnya lebih dulu sebelum Raja mendapatkannya. Jika orang itu masih hidup, dia bisa menjadi ancaman bagi rencana kita." “Aku akan mengutus pengawalku,” sambi
Pagi itu, suasana di istana dipenuhi ketegangan. Para menteri, dengan ekspresi serius dan penuh kewaspadaan, berkumpul di ruang sidang kerajaan. Raja Kael duduk di singgasananya, menatap para menteri dengan tajam, sementara kasim kerajaan mengumumkan alasan pertemuan mendadak ini.Seorang menteri senior, Lord Arven, melangkah maju. “Yang Mulia, kami menemukan sesuatu yang tidak bisa kami abaikan. Kami meminta izin untuk segera menyampaikan temuannya.”Kael menggerakkan jarinya, memberi isyarat agar mereka melanjutkan.Seorang pengawal datang membawa sebuah buku tua dengan sampul berwarna hitam yang terlihat sudah usang. Menteri yang lain, Lord Gendric, mengambil alih dan berkata dengan suara tegas, “Buku ini ditemukan tersembunyi di dalam loker milik Kepala Dapur yang telah ditangkap. Kami menganggap ini sebagai bukti kuat bahwa Kepala Dapur memang terlibat dalam kebohongan yang mengancam keselamatan kerajaan.”Para menteri yang lain mengangguk setuju.Lord Arven melanjutkan, “Buku in
Arlena menghela nafas pelan, mencoba mengusir kebingungan dalam pikirannya. Ia masih memikirkan isi buku yang diberikan oleh Tuan Raad. Dirinya baru tahu ternyata Klan Altheria bukan sekadar klan biasa—mereka memiliki ambisi besar, sesuatu yang bahkan Arlena sendiri tidak yakin apakah ini yang ia ingin perjuangkan. Arlena menutup buku itu perlahan, membiarkan pikirannya mengembara saat ia kembali ke kerajaan. Namun, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Ada perasaan bersalah dan sedikit kebingungan, apakh benar ini adalah misinya diawal? Setibanya di kediamannya, Arlena merasa gerah. Ia membuka jendela, membiarkan udara malam masuk, namun ternyata itu tidak cukup untuk menenangkan pikiran. Ia akhirnya keluar ke halaman kecil yang telah disediakan untuknya. Di bawah langit yang gelap dan udara malam yang dingin, Arlena berdiri termenung, menatap taman kecil di hadapannya. Ia merasa terombang-ambing antara keinginan untuk melindungi Klan Altheria dan ketidaksukaannya pada a
Arlena berjalan keluar dari istana melalui pintu belakang, melewati lorong-lorong gelap yang jarang dilalui. Ia mengenakan jubah sederhana untuk menyamarkan identitasnya. Udara malam terasa dingin, dan jantung penuh kegelisahan. Ia tahu risiko yang diambilnya sangat besar, tetapi ia tidak bisa diam saja. Ia harus mencari cara untuk menyelamatkan Kepala Dayang dari tuduhan palsu. Namun, tanpa disadari, seseorang telah mengikuti sejak ia keluar dari istana. Langkah kakinya semakin cepat ketika ia menyadari ada suara langkah lain yang terdengar di belakangnya. Arlena menoleh sekilas, melihat sosok pria berpakaian hitam yang berjalan dalam bayang-bayang. Jantungnya berdegup kencang. Ia mempercepat langkahnya, berusaha mencari jalan keluar ke arah perkampungan penduduk. Tiba-tiba, pria itu melompat ke arahnya, mencoba menarik tangannya. Arlena tersentak, berusaha melawan dan melepaskan diri. “Lepaskan aku!” teriaknya, tetapi pria itu semakin kuat menggenggam pergelangan tangannya. Deng
Raja Kael berjalan cepat menuju kediaman Ibu Suri, langkahnya mantap namun ada ketegangan yang tersembunyi di balik ekspresinya. Laporan dari Kasim membuatnya tidak tenang, terlebih lagi ini menyangkut seseorang yang—meskipun sering bertentangan dengannya—tetaplah bagian dari keluarganya di istana.Saat tiba di sana, para tabib dan asisten tabib yang berkumpul di sekitar tempat tidur Ibu Suri segera memberi jalan. Sang wanita paruh baya terbaring di atas ranjang mewahnya, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat. Kael mendekat, matanya menajam melihat kondisi Ibu Suri yang tampak lebih lemah dari biasanya."Kenapa bisa seperti ini? Siapa yang berani melakukan nya?" suara Kael dingin, namun terselip kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Tabib utama yang berdiri di dekat kepala tempat tidur segera menundukkan kepala sebelum menjawab, "Yang Mulia, setelah kami memeriksa, kami menemukan bahwa makanan Ibu Suri mengandung racun. Untung saja para dayang yang bersamanya seg
Salah satu menteri yang bernama Lord Gregor, seorang penasihat senior yang telah lama mengabdi pada kerajaan, menyandarkan tubuhnya di kursi dengan ekspresi tidak suka. “Yang Mulia, mengapa tiba-tiba membahas tentang Klan Altheria? Kita semua yang ada disini, bahkan semua orang yang ada di negeri ini tidak akan pernah mau membahas klan yang terkutuk itu. Klan yang sudah berusaha menghancurkan pondasi di negeri ini!" Kael tetap tenang, meskipun ia dapat merasakan ketegangan yang muncul di antara para menterinya. “Aku ingin mengetahui kebenaran tentang peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan ayahku. Aku ingin semua bukti yang ada terkait klan tersebut. Aku tidak ingin ada rakyatku menderita di negeri ini hanya karena sebab dongeng masa lalu." Lord Gregor berdeham sebelum menjawab. “Yang Mulia, tidak perlu membangkitkan masa lalu yang telah terkubur. Klan itu melakukan pemberontakan terhadap kerajaan. Mereka menolak pajak yang ditetapkan, menghasut rakyat untuk melawan, dan pada a