Pintu kamar terbuka dengan keras, membuat kedua wanita itu menoleh, mereka sangat terkejut hingga terpatung ditempat.
Seorang pria berdiri di ambang pintu. Siluetnya tegap dan berwibawa, jubah hitamnya berayun sedikit terkena angin dari luar. Mata emasnya yang tajam menatap ke arah mereka berdua. Kael. Tatapan itu membuat tangan Ibu Suri terhenti di udara. Ia membeku, lalu segera menarik tangannya kembali, berusaha menjaga martabatnya di depan Raja. “Apa yang sedang terjadi di sini? Kenapa aku mendengar suara seorang perempuan yang di hormati seakan menjatuhkan harga dirinya sendiri?" suara Kael terdengar tenang, tetapi penuh dengan otoritas yang membuat siapa saja mendengarnya merasa terancam. Arlena tidak berbicara. Ia hanya berdiri diam dengan ekspresi tenang seperti biasa, meskipun di dalam dirinya, ia merasa puas dan menang karena kedatangan Kael tepat waktu. Bahkan dirinya tidak habis pikir, kenapa seorang Raja Kael yang terkenal dengan otoriternya mau membela seorang dayang seperti dia. Ibu Suri menoleh ke arah Kael dan mencoba mengendalikan emosinya. Dia tidak mau wibawanya turun, “Aku hanya ingin berbicara dengan gadis ini, Kael. Aku hanya memastikan dia tahu tempatnya, dia tahu jika dirinya tidak pantas ada disini!" Kael melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan tenang. “Dan tempatnya adalah di sisiku, dia sangat pantas ada disini bersamaku." Ibu Suri mengepalkan tangannya, tetapi tetap berusaha mempertahankan ketenangannya. “Kael, kau benar-benar ingin membiarkan ini terjadi? Kau ingin membuat kesalahan yang sama seperti ayahmu?” Kael berjalan perlahan ke arah Arlena, lalu berdiri di sampingnya. Ia menatap Ibu Suri dengan ekspresi tak dapat dibaca. “Aku bukan ayahku. Dan keputusan ini adalah keputusanku sendiri.” Ibu Suri menghela napas panjang, frustrasi. “Kael, dengarkan aku. Kau masih muda, kau masih bisa mengubah keputusanmu. Jika kau ingin perempuan ini di sisimu, jadikan dia selir, bukan permaisuri. Lady Mirana adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada gadis ini!” Kael tidak bereaksi terhadap saran itu. Ia justru menatap Arlena, lalu berkata dengan suara lebih tenang, tetapi penuh arti, “Arlena bukan perempuan yang bisa dijadikan selir.” Arlena tetap diam, tetapi dalam hatinya, ia mengakui bahwa kata-kata itu membawa beban lebih besar dari yang dia duga. Ibu Suri menghela napas panjang dan tajam. “Kau akan menyesali ini, Kael.” Kael tidak menanggapi. Ia hanya menatap Ibu Suri dengan dingin, memberi isyarat bahwa percakapan ini telah berakhir. Akhirnya, dengan wajah yang masih menampilkan kemarahan yang terselubung, Ibu Suri berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat. Pintu tertutup di belakangnya, meninggalkan keheningan antara Kael dan Arlena. Beberapa saat berlalu sebelum Kael akhirnya berbicara. “Apa yang dia katakan padamu?” Arlena menatapnya dengan ekspresi netral. “Hanya mengingatkanku bahwa tidak semua orang senang dengan keputusan Yang Mulia.” Kael mengangguk pelan, lalu menatapnya lebih dalam. “Dan kau? Apa kau senang dengan keputusan ini?” Arlena menghela napas pelan. “Yang Mulia, saya tidak ingin pernikahan ini langsung dilaksanakan.” Kael mengangkat alisnya sedikit, tetapi sebelum dia sempat berbicara, Arlena melanjutkan dengan nada serius, “Saya ingin memastikan bahwa Yang Mulia sudah menepati janji untuk menyelidiki tentang Klan Altheria.” Mata Kael sedikit menyipit, tetapi ia tidak marah. Sebaliknya, ia meletakkan jari telunjuknya ke bibir Arlena, memberi isyarat agar ia tidak berbicara terlalu keras. Lalu, ia mendekat, suaranya berubah menjadi bisikan dalam, “Berhati-hatilah ketika membicarakan klan itu.” Arlena sedikit menegang, tetapi tetap mendengarkan dengan seksama. “Aku sudah berencana mengumpulkan para menteri untuk membahas ini,” lanjut Kael, “tetapi tidak ada yang boleh tahu siapa yang membuatku menyelidiki kasus lama itu.” Kael menatap sekeliling ruangan, lalu menambahkan, “Ingat ini, Arlena. Tembok, lantai, atap, bahkan tiang di istana memiliki telinga dan mata. Jika mereka tahu tentang ini, bukan hanya kau yang akan dijatuhkan, tetapi juga aku.” Arlena mengangguk pelan, memahami maksudnya. Namun, sebelum ia sempat menjawab, ia merasakan sesuatu—sebuah gerakan samar di balik pintu. Kael juga menyadarinya. Ia langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan cepat. Di luar, seorang dayang muda berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk. Wajahnya tampak tegang, seolah-olah ia ketahuan sedang menguping. Arlena menahan napas, bersiap menghadapi kemungkinan buruk. Namun, sesuatu di mata dayang itu berbeda. Ia terlihat gugup, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengkhianati mereka. Dayang itu menunduk dalam-dalam. “Ampun, Yang Mulia… Saya tidak berniat ikut campur.” Kael menatapnya tajam. “Apa yang kau dengar?” Dayang itu menggigit bibirnya. “Saya… tidak mendengar apa-apa, Yang Mulia.” Arlena menatapnya lebih dalam, mencoba membaca niat dayang itu. Dari caranya berbicara, Arlena bisa menebak bahwa gadis ini tidak sepenuhnya berpihak pada musuh mereka. Tetapi, bisakah mereka mempercayainya? Kael menghela napas, lalu berkata pelan, “Jika kau tahu yang terbaik untukmu, tetaplah jaga mulutmu!” Dayang itu mengangguk cepat. “Saya mengerti, Yang Mulia.” Setelah itu, ia segera mundur dan pergi dengan langkah cepat. Arlena memandang Kael, dan Kael menatap balik. Tidak perlu kata-kata lagi. Mereka tahu bahwa mereka tidak bisa lagi sembarangan berbicara. Misi mereka baru saja menjadi lebih berbahaya. *** Pagi itu, Raja Kael sudah mengumpulkan para menteri di ruang rapat. Para menteri saling berbisik, bertanya-tanya tentang tujuan rapat pagi ini. Mereka sudah mendengar kabar bahwa Raja Kael hendak menikahi seorang dayang rendahan. Namun, sebelum ada yang berani menyanggahnya, Raja Kael justru langsung membuka rapat dengan pertanyaan mengejutkan. “Apa yang kalian ketahui tentang Klan Altheria?” Keheningan melanda ruangan. Para menteri saling berpandangan, seolah mencoba memastikan bahwa mereka mendengar dengan benar. Barulah seorang menteri, Lord Varric—Menteri Keuangan, berdeham dan berbicara dengan hati-hati, “Yang Mulia, mengapa tiba-tiba menanyakan tentang klan itu?” Raja Kael menatap mereka dengan dingin. “Jawab pertanyaanku.”Salah satu menteri yang bernama Lord Gregor, seorang penasihat senior yang telah lama mengabdi pada kerajaan, menyandarkan tubuhnya di kursi dengan ekspresi tidak suka. “Yang Mulia, mengapa tiba-tiba membahas tentang Klan Altheria? Kita semua yang ada disini, bahkan semua orang yang ada di negeri ini tidak akan pernah mau membahas klan yang terkutuk itu. Klan yang sudah berusaha menghancurkan pondasi di negeri ini!" Kael tetap tenang, meskipun ia dapat merasakan ketegangan yang muncul di antara para menterinya. “Aku ingin mengetahui kebenaran tentang peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan ayahku. Aku ingin semua bukti yang ada terkait klan tersebut. Aku tidak ingin ada rakyatku menderita di negeri ini hanya karena sebab dongeng masa lalu." Lord Gregor berdeham sebelum menjawab. “Yang Mulia, tidak perlu membangkitkan masa lalu yang telah terkubur. Klan itu melakukan pemberontakan terhadap kerajaan. Mereka menolak pajak yang ditetapkan, menghasut rakyat untuk melawan, dan pada a
Raja Kael berjalan cepat menuju kediaman Ibu Suri, langkahnya mantap namun ada ketegangan yang tersembunyi di balik ekspresinya. Laporan dari Kasim membuatnya tidak tenang, terlebih lagi ini menyangkut seseorang yang—meskipun sering bertentangan dengannya—tetaplah bagian dari keluarganya di istana.Saat tiba di sana, para tabib dan asisten tabib yang berkumpul di sekitar tempat tidur Ibu Suri segera memberi jalan. Sang wanita paruh baya terbaring di atas ranjang mewahnya, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat. Kael mendekat, matanya menajam melihat kondisi Ibu Suri yang tampak lebih lemah dari biasanya."Kenapa bisa seperti ini? Siapa yang berani melakukan nya?" suara Kael dingin, namun terselip kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Tabib utama yang berdiri di dekat kepala tempat tidur segera menundukkan kepala sebelum menjawab, "Yang Mulia, setelah kami memeriksa, kami menemukan bahwa makanan Ibu Suri mengandung racun. Untung saja para dayang yang bersamanya seg
Arlena berjalan keluar dari istana melalui pintu belakang, melewati lorong-lorong gelap yang jarang dilalui. Ia mengenakan jubah sederhana untuk menyamarkan identitasnya. Udara malam terasa dingin, dan jantung penuh kegelisahan. Ia tahu risiko yang diambilnya sangat besar, tetapi ia tidak bisa diam saja. Ia harus mencari cara untuk menyelamatkan Kepala Dayang dari tuduhan palsu. Namun, tanpa disadari, seseorang telah mengikuti sejak ia keluar dari istana. Langkah kakinya semakin cepat ketika ia menyadari ada suara langkah lain yang terdengar di belakangnya. Arlena menoleh sekilas, melihat sosok pria berpakaian hitam yang berjalan dalam bayang-bayang. Jantungnya berdegup kencang. Ia mempercepat langkahnya, berusaha mencari jalan keluar ke arah perkampungan penduduk. Tiba-tiba, pria itu melompat ke arahnya, mencoba menarik tangannya. Arlena tersentak, berusaha melawan dan melepaskan diri. “Lepaskan aku!” teriaknya, tetapi pria itu semakin kuat menggenggam pergelangan tangannya. Deng
Arlena menghela nafas pelan, mencoba mengusir kebingungan dalam pikirannya. Ia masih memikirkan isi buku yang diberikan oleh Tuan Raad. Dirinya baru tahu ternyata Klan Altheria bukan sekadar klan biasa—mereka memiliki ambisi besar, sesuatu yang bahkan Arlena sendiri tidak yakin apakah ini yang ia ingin perjuangkan. Arlena menutup buku itu perlahan, membiarkan pikirannya mengembara saat ia kembali ke kerajaan. Namun, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Ada perasaan bersalah dan sedikit kebingungan, apakh benar ini adalah misinya diawal? Setibanya di kediamannya, Arlena merasa gerah. Ia membuka jendela, membiarkan udara malam masuk, namun ternyata itu tidak cukup untuk menenangkan pikiran. Ia akhirnya keluar ke halaman kecil yang telah disediakan untuknya. Di bawah langit yang gelap dan udara malam yang dingin, Arlena berdiri termenung, menatap taman kecil di hadapannya. Ia merasa terombang-ambing antara keinginan untuk melindungi Klan Altheria dan ketidaksukaannya pada a
Pagi itu, suasana di istana dipenuhi ketegangan. Para menteri, dengan ekspresi serius dan penuh kewaspadaan, berkumpul di ruang sidang kerajaan. Raja Kael duduk di singgasananya, menatap para menteri dengan tajam, sementara kasim kerajaan mengumumkan alasan pertemuan mendadak ini.Seorang menteri senior, Lord Arven, melangkah maju. “Yang Mulia, kami menemukan sesuatu yang tidak bisa kami abaikan. Kami meminta izin untuk segera menyampaikan temuannya.”Kael menggerakkan jarinya, memberi isyarat agar mereka melanjutkan.Seorang pengawal datang membawa sebuah buku tua dengan sampul berwarna hitam yang terlihat sudah usang. Menteri yang lain, Lord Gendric, mengambil alih dan berkata dengan suara tegas, “Buku ini ditemukan tersembunyi di dalam loker milik Kepala Dapur yang telah ditangkap. Kami menganggap ini sebagai bukti kuat bahwa Kepala Dapur memang terlibat dalam kebohongan yang mengancam keselamatan kerajaan.”Para menteri yang lain mengangguk setuju.Lord Arven melanjutkan, “Buku in
Di sudut ruangan yang remang-remang, para menteri duduk melingkar di sekitar meja kayu kasar, gelas-gelas arak memenuhi meja, menciptakan aroma tajam yang bercampur dengan asap dari lampu minyak yang menggantung di langit-langit rendah. “Kita harus bergerak lebih cepat,” kata Menteri Keuangan, suaranya sedikit mabuk namun tetap tajam. "Raja Kael memang cerdas, tapi dia terlalu lambat dalam mengambil keputusan. Kita bisa mengendalikan situasi sebelum dia menyadarinya." Seorang menteri lain tertawa pelan, meneguk araknya sebelum berbicara. "Kau benar. Lihat saja tadi di ruang sidang, dia hanya diam seperti anak kecil yang kehilangan mainannya." Mereka tertawa, suara mereka menggema di ruangan itu. "Tapi ada satu hal yang perlu kita tuntaskan," lanjut Menteri Keuangan, suaranya merendah. "Buku itu. Kita harus menemukan penulisnya lebih dulu sebelum Raja mendapatkannya. Jika orang itu masih hidup, dia bisa menjadi ancaman bagi rencana kita." “Aku akan mengutus pengawalku,” sambi
Lior berdiri diam di lorong sempit itu, napasnya masih memburu setelah pertarungan berlangsung. Melihat sekeliling, mencari tanda-tanda ke mana pria yang mencengkeram itu pergi, tapi yang terlihat hanyalah bayangan-bayangan yang berbaur dengan kegelapan malam. "Sial," Lior mengumpat pelan. Orang itu muncul entah dari mana, membantunya, lalu menghilang begitu saja. Tapi dia tidak bisa membuang waktu. Dia masih punya tugas. Dengan langkah cepat, Lior melanjutkan pencariannya. Namun, rasa penasaran tentang pria misterius itu terus mengganggu pikiran. Dia pernah melihat gaya bertarung seperti sebelumnya—cepat, presisi, dan tanpa senjata. Itu bukan teknik sembarangan. Setelah beberapa waktu berjalan, Lior menemukan dirinya di sebuah distrik yang lebih sepi. Rumah-rumah di sini terlihat tua, dengan pintu dan jendela yang sebagian besar tertutup rapat. Lampu-lampu redup dari lilin yang menyala di dalam ruma
Lior terus berjalan tanpa menoleh, tetapi pikirannya penuh dengan pertanyaan. Siapa pria itu? Bagaimana dia tahu namaku? Langkahnya cepat, menembus lorong-lorong gelap Distrik Selatan hingga akhirnya mencapai titik aman di dekat pasar. Dia berhenti sejenak, mengatur napasnya. Buku di balik jubahnya terasa semakin berat, seolah menyimpan rahasia yang bisa menggemparkan kerajaan. Namun, sebelum dia bisa berpikir lebih jauh, seorang anak kecil berlari ke arahnya, menyelipkan secarik kertas ke tangannya dan bergegas kabur tanpa berkata apa-apa. Lior mengerutkan kening kemudian membuka kertas itu. "Jangan kembali ke istana. Mereka sudah tahu kau membawa buku itu." Jantung Lior berdegup kencang. Dia segera melihat sekelilingnya, mencari tanda-tanda bahaya. Siapa yang menulis ini? Apakah ini jebakan? Namun, dia tidak punya waktu untuk menyaring semuanya. Dari persembunyian, dia melihat beberapa pria berpakaian sama dengan bandit yang menghalanginya tadi berjalan cepat menuju ke a
Lior kembali ke istana dalam keadaan lelah, namun dia tetap menjaga sikapnya saat berjalan menuju ruang kerja Raja Kael. Setelah mendapatkan izin masuk, dia langsung memberi hormat. Raja Kael menatap tajam. “Bagaimana?” Lior menghela napas. "Saya sudah menemukan jejaknya, Yang Mulia.Tetapi masalahnya lebih rumit dari yang kita duga. Ada lebih banyak pihak yang terlibat, dan mereka tidak akan membiarkan kita menemukan kebenaran dengan mudah." Raja Kael menyandarkan punggung ke kursi. “Jadi kamu belum mendapatkan informasi lengkap?” "Saya hanya menemukan potongan-potongan informasi, tetapi belum cukup untuk mengambil kesimpulan. Saya ingin meminta izin untuk melanjutkan perjalanan. Saya berjanji akan kembali setelah menemukan jawaban yang kami butuhkan." Raja Kael menatap Lior dengan ekspresi sulit ditebak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Aku memberi izin, tapi tetap berhati-hati. Musuh kita bergerak dalam bayangan." Lior memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan dengan l
Lior terus berjalan tanpa menoleh, tetapi pikirannya penuh dengan pertanyaan. Siapa pria itu? Bagaimana dia tahu namaku? Langkahnya cepat, menembus lorong-lorong gelap Distrik Selatan hingga akhirnya mencapai titik aman di dekat pasar. Dia berhenti sejenak, mengatur napasnya. Buku di balik jubahnya terasa semakin berat, seolah menyimpan rahasia yang bisa menggemparkan kerajaan. Namun, sebelum dia bisa berpikir lebih jauh, seorang anak kecil berlari ke arahnya, menyelipkan secarik kertas ke tangannya dan bergegas kabur tanpa berkata apa-apa. Lior mengerutkan kening kemudian membuka kertas itu. "Jangan kembali ke istana. Mereka sudah tahu kau membawa buku itu." Jantung Lior berdegup kencang. Dia segera melihat sekelilingnya, mencari tanda-tanda bahaya. Siapa yang menulis ini? Apakah ini jebakan? Namun, dia tidak punya waktu untuk menyaring semuanya. Dari persembunyian, dia melihat beberapa pria berpakaian sama dengan bandit yang menghalanginya tadi berjalan cepat menuju ke a
Lior berdiri diam di lorong sempit itu, napasnya masih memburu setelah pertarungan berlangsung. Melihat sekeliling, mencari tanda-tanda ke mana pria yang mencengkeram itu pergi, tapi yang terlihat hanyalah bayangan-bayangan yang berbaur dengan kegelapan malam. "Sial," Lior mengumpat pelan. Orang itu muncul entah dari mana, membantunya, lalu menghilang begitu saja. Tapi dia tidak bisa membuang waktu. Dia masih punya tugas. Dengan langkah cepat, Lior melanjutkan pencariannya. Namun, rasa penasaran tentang pria misterius itu terus mengganggu pikiran. Dia pernah melihat gaya bertarung seperti sebelumnya—cepat, presisi, dan tanpa senjata. Itu bukan teknik sembarangan. Setelah beberapa waktu berjalan, Lior menemukan dirinya di sebuah distrik yang lebih sepi. Rumah-rumah di sini terlihat tua, dengan pintu dan jendela yang sebagian besar tertutup rapat. Lampu-lampu redup dari lilin yang menyala di dalam ruma
Di sudut ruangan yang remang-remang, para menteri duduk melingkar di sekitar meja kayu kasar, gelas-gelas arak memenuhi meja, menciptakan aroma tajam yang bercampur dengan asap dari lampu minyak yang menggantung di langit-langit rendah. “Kita harus bergerak lebih cepat,” kata Menteri Keuangan, suaranya sedikit mabuk namun tetap tajam. "Raja Kael memang cerdas, tapi dia terlalu lambat dalam mengambil keputusan. Kita bisa mengendalikan situasi sebelum dia menyadarinya." Seorang menteri lain tertawa pelan, meneguk araknya sebelum berbicara. "Kau benar. Lihat saja tadi di ruang sidang, dia hanya diam seperti anak kecil yang kehilangan mainannya." Mereka tertawa, suara mereka menggema di ruangan itu. "Tapi ada satu hal yang perlu kita tuntaskan," lanjut Menteri Keuangan, suaranya merendah. "Buku itu. Kita harus menemukan penulisnya lebih dulu sebelum Raja mendapatkannya. Jika orang itu masih hidup, dia bisa menjadi ancaman bagi rencana kita." “Aku akan mengutus pengawalku,” sambi
Pagi itu, suasana di istana dipenuhi ketegangan. Para menteri, dengan ekspresi serius dan penuh kewaspadaan, berkumpul di ruang sidang kerajaan. Raja Kael duduk di singgasananya, menatap para menteri dengan tajam, sementara kasim kerajaan mengumumkan alasan pertemuan mendadak ini.Seorang menteri senior, Lord Arven, melangkah maju. “Yang Mulia, kami menemukan sesuatu yang tidak bisa kami abaikan. Kami meminta izin untuk segera menyampaikan temuannya.”Kael menggerakkan jarinya, memberi isyarat agar mereka melanjutkan.Seorang pengawal datang membawa sebuah buku tua dengan sampul berwarna hitam yang terlihat sudah usang. Menteri yang lain, Lord Gendric, mengambil alih dan berkata dengan suara tegas, “Buku ini ditemukan tersembunyi di dalam loker milik Kepala Dapur yang telah ditangkap. Kami menganggap ini sebagai bukti kuat bahwa Kepala Dapur memang terlibat dalam kebohongan yang mengancam keselamatan kerajaan.”Para menteri yang lain mengangguk setuju.Lord Arven melanjutkan, “Buku in
Arlena menghela nafas pelan, mencoba mengusir kebingungan dalam pikirannya. Ia masih memikirkan isi buku yang diberikan oleh Tuan Raad. Dirinya baru tahu ternyata Klan Altheria bukan sekadar klan biasa—mereka memiliki ambisi besar, sesuatu yang bahkan Arlena sendiri tidak yakin apakah ini yang ia ingin perjuangkan. Arlena menutup buku itu perlahan, membiarkan pikirannya mengembara saat ia kembali ke kerajaan. Namun, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Ada perasaan bersalah dan sedikit kebingungan, apakh benar ini adalah misinya diawal? Setibanya di kediamannya, Arlena merasa gerah. Ia membuka jendela, membiarkan udara malam masuk, namun ternyata itu tidak cukup untuk menenangkan pikiran. Ia akhirnya keluar ke halaman kecil yang telah disediakan untuknya. Di bawah langit yang gelap dan udara malam yang dingin, Arlena berdiri termenung, menatap taman kecil di hadapannya. Ia merasa terombang-ambing antara keinginan untuk melindungi Klan Altheria dan ketidaksukaannya pada a
Arlena berjalan keluar dari istana melalui pintu belakang, melewati lorong-lorong gelap yang jarang dilalui. Ia mengenakan jubah sederhana untuk menyamarkan identitasnya. Udara malam terasa dingin, dan jantung penuh kegelisahan. Ia tahu risiko yang diambilnya sangat besar, tetapi ia tidak bisa diam saja. Ia harus mencari cara untuk menyelamatkan Kepala Dayang dari tuduhan palsu. Namun, tanpa disadari, seseorang telah mengikuti sejak ia keluar dari istana. Langkah kakinya semakin cepat ketika ia menyadari ada suara langkah lain yang terdengar di belakangnya. Arlena menoleh sekilas, melihat sosok pria berpakaian hitam yang berjalan dalam bayang-bayang. Jantungnya berdegup kencang. Ia mempercepat langkahnya, berusaha mencari jalan keluar ke arah perkampungan penduduk. Tiba-tiba, pria itu melompat ke arahnya, mencoba menarik tangannya. Arlena tersentak, berusaha melawan dan melepaskan diri. “Lepaskan aku!” teriaknya, tetapi pria itu semakin kuat menggenggam pergelangan tangannya. Deng
Raja Kael berjalan cepat menuju kediaman Ibu Suri, langkahnya mantap namun ada ketegangan yang tersembunyi di balik ekspresinya. Laporan dari Kasim membuatnya tidak tenang, terlebih lagi ini menyangkut seseorang yang—meskipun sering bertentangan dengannya—tetaplah bagian dari keluarganya di istana.Saat tiba di sana, para tabib dan asisten tabib yang berkumpul di sekitar tempat tidur Ibu Suri segera memberi jalan. Sang wanita paruh baya terbaring di atas ranjang mewahnya, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat. Kael mendekat, matanya menajam melihat kondisi Ibu Suri yang tampak lebih lemah dari biasanya."Kenapa bisa seperti ini? Siapa yang berani melakukan nya?" suara Kael dingin, namun terselip kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Tabib utama yang berdiri di dekat kepala tempat tidur segera menundukkan kepala sebelum menjawab, "Yang Mulia, setelah kami memeriksa, kami menemukan bahwa makanan Ibu Suri mengandung racun. Untung saja para dayang yang bersamanya seg
Salah satu menteri yang bernama Lord Gregor, seorang penasihat senior yang telah lama mengabdi pada kerajaan, menyandarkan tubuhnya di kursi dengan ekspresi tidak suka. “Yang Mulia, mengapa tiba-tiba membahas tentang Klan Altheria? Kita semua yang ada disini, bahkan semua orang yang ada di negeri ini tidak akan pernah mau membahas klan yang terkutuk itu. Klan yang sudah berusaha menghancurkan pondasi di negeri ini!" Kael tetap tenang, meskipun ia dapat merasakan ketegangan yang muncul di antara para menterinya. “Aku ingin mengetahui kebenaran tentang peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan ayahku. Aku ingin semua bukti yang ada terkait klan tersebut. Aku tidak ingin ada rakyatku menderita di negeri ini hanya karena sebab dongeng masa lalu." Lord Gregor berdeham sebelum menjawab. “Yang Mulia, tidak perlu membangkitkan masa lalu yang telah terkubur. Klan itu melakukan pemberontakan terhadap kerajaan. Mereka menolak pajak yang ditetapkan, menghasut rakyat untuk melawan, dan pada a