Disini kita akan bercerita tentang salah seorang pemuda bernama Harry yang berjuang dalam kerasnya realitas kehidupan, untuk mengejar cita-cita menjadi pengusaha dan membangun perusahan besar didunia perdagangan internasional.
Harry saat ini adalah pemuda biasa yang lahir dari keluarga sederhana dan hidup dilingkungan perkampungan yang masih terlambat dalam menyesuaikan perkembangan dunia saat ini, terbukti dengan mayoritas penduduk nya yang sumber penghasilan ya dari bertani dan berkebun, sebagian kecil ada juga yang menjadi Guru PNS, pegawai kepemerintahan, pedagang, buruh, dan berbagai macam profesi lainnya.
Harry merupakan salah satu pemuda yang lahir dari keluarga buruh dan kakek nenek nya yg sudah meninggal dulunya seorang petani. Setelah ayahanda meninggal ketika umurnya baru 6 bulan, ibu Harry berjuang banting tulang untuk mencukupi semua kebutuhan hidup keempat anaknya termasuk Harry, dengan bekerja disalah satu perkebunan teh milik PK Ujang, salah-seorang saudagar kaya yang memiliki sekitar 5 hektar perkebunan teh dan kopi.
Selain itu PK Ujang memiliki toko kelontongan yang cukup besar, bisa dibilang hampir semua warung-warung kecil belanjanya dari toko PK Ujang, bahkan langganannya bukan hanya dari kampung Harry saja, dari luar kampung juga cukup banyak, karena memang harga yang ditawarkan di toko PK Ujang murah dan bisa bersaing dengan harga di pasar induk yang jaraknya lumayan cukup jauh, untuk bisa kepasar induk membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan kalo naik angkutan umum.
Harry memiliki 3 Kaka laki-laki, dua sudah memiliki keluarga dan satu masih mencari jatidiri. Diusianya yang kini sudah menginjak 24 tahun, Harry bekerja di sebuah perusahan kecil yang memproduksi makanan ringan dengan target pasarnya adalah pasar tradisional dan warung-warung kecil, sementara Harry ditempatkan dibagian pemasaran Lapangan yang target pasarnya warungan, tentunya harga jual ke pasar dan ke warung berbeda, karena sekala pembelian dan kecepatan perputarannya pun berbeda.
Harry memang tipikal orang yang mempunyai pemikiran yang berbeda dari kebanyakan orang di kampungnya termasuk juga di keluarga, mungkin karena dilatar belakangi dengan pendidikan yang hari terima lebih luas ketimbang kakak-kakak nya. Ya, Harry pernah mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, semntara kakak-kakaknya paling tinggi ditingkat SMP dan yang paling tua hanya sampai SD.
Ketika kakak-kakaknya semua bekerja menjadi buruh di tempat orang lain dengan gaji yang pasti didapat setiap bulan, Harry malah memilih berdagang. Karena menurutnya dunia perdagangan itu adalah kunci suskes dari semua perusahan, bisa dibilang ujung tombaknya, tidak ada sebuah perusahaan yang tidak berdagang walaupun yang diperdagangkannya adalah berupa jasa.
Dunia kampus sudah merubah cara pandangnya dalam melihat dunia, kebodohannya dimasa lalu, kini dia sadarai telah salah menilai dunia. Semuanya menjadi lebih rasional dan sangat mungkin dengan apa yang dikatakan motivator katakan ketika Dia pernah terjerumus dalam dunia bisnis Multi level Marketing.
" Sukses itu mudah, asalkan kita sudah punya kuncinya" kata motivator yang ada dalam ingatannya, dan Harry kini dirasa sudah tahu kuncinya.
Disisi lain Harry yang juga sudah beranjak dewasa yang nantinya harus berpikir untuk berkeluarga memiliki istri dan anak, berusaha mengobati hatinya yang sudah beku. Berlabuh dimasa lalu membuat hatinya seakan sulit untuk terbuka, menerima dan mengganti kenangan-kenangan dahulu dengan membuat sebuah cerita baru dan romansa cintapun beradu mengiringi kisah perjalanannya. Entah bersama siapa, yang pasti dia hanya berharap bisa melupakan kisah cinta masa lalu nya.
Seketika itu Harry tersadar dari lamunan dan bangun dari duduknya. "Buang-buang waktu saja" ucap Harry setelah beberapa menit dia hanyut dalam pikirannya sendiri. Harry bergegas menuju motor tuanya yang sedari tadi terparkir dipinggir jalan.
"Bi! Saya lanjut lagi ya, ini dagangan masih banyak, bisa-bisa nanti pulang hanya bawa keringat saja" seru Harry kepada si bibi warung yang sudah lama menjadi langganannya dari pertama dia terjun kedunia dagang setelah putus kuliah karena kurangnya biaya. "Iya, semoga laris manis dagangannya" sahut si bibi warung. "Iya Bi, aamiin".
Motor tua yang membawa barang dagangannya pun langsung Harry coba nyalakan," dasar si bambrang ! Pengertian sedikit kenapa sih, ini dagangan masih banyak nih, bisa-bisanya kamu mogok" gerutu Harry pada motornya yang susah nyala.
*
Matahari sudah mau sembunyi, terlihat Harry sudah memarkirkan motornya didepan rumah, kebetulan disamping para tetangga sedang duduk-duduk santai sambil bergosip, walaupun begitu tetangganya Harry pada ramah dan baik.
Pernah dulu ketika Harry masih dibangku SD bersama kakaknya Deni pulang sekolah belum makan, karena memang dirumah tidak ada nasi. Kalo mau makan paling nanti harus menunggu Ibunya pulang kerja bawa makanan, baru bisa makan. Ketika itu Ibu Aminah datang kerumah dan mengantarkan nasi berikut lauk pauk nya, dia tahu akan kondisi keluarga Harry saat itu, momen itu sampai sekarang masih diingatnya.
"Harry, baru pulang kerja ?" Tanya seorang wanita setengah abad menyerunya dari kerumunan tetangga.
"Oh, iya Bu Aminah"
"Gimana jualannya, laris ?"
"Alhamdulillah Bu, tinggal sisa sedikit lagi" sahut Harry sambil tersenyum ramah.
"Oh, iya tadi siang ada perempuan yang nyarin kamu, dia cantik loh" kata Bu Aminah sambil tersenyum merayu.
" Siapa yang nyariku, perasan Aku tidak punya teman perempuan, mana cantik lagi katanya ?" Gumam Harry, "siapa Bu ?".
"Ngakunya sih teman kamu, tapi ketika ibu katakan kamu lagi tidak ada dia langsung pergi lagi" jawab Bu Aminah.
"Oh, iya Bu mungkin dia teman aku" ucap Harry sambil tersenyum, tapi dalam pikirannya Harry terus bertanya siap wanita yang mencarinya itu ? Apa mungkin temanya semasa di kampus ? Atau siapa ya ?
Harry pun bergegas membereskan sisa barang dagangannya yang akan disetorkan kembali besok ke pabrik. Dan rutinitas itu akan terus berulang entah sampai kapan, sejak 2 tahun lalu dia cuti dari kampus dia mulai terjun kelapangan untuk berjualan karena ada ajakan dari temannya yang memang sudah lebih dulu dari Harry.
Kesuksesan itu memang bukan hal yang rumit untuk diartikan, masing-masing orang punya persepsi sendiri tentang hal tersebut. Kesuksesan tidak harus selalu terpaku pada harta dan jabatan atau pada semua materi yang ada dunia. Karena sukses adalah sebuah perasaan bahagia, tanpa materi dan semua unsur padat yang ada di bumi.
Terlihat Bu Ani sedang sibuk di dapur ketika Harry masuk kedalam rumhnya. "Assalamualaikum Bu!" Seru Harry sambil membuka pintu rumahnya. Terlihat jelas dari pintu depan ke arah dapur, ibu Ani sedang masak untuk makan sore keluarga kecilnya termasuk Harry dan kakak nya Deni."Wa'alaikumsalam, eh Harry, kamu baru pulang, Tumben sore banget baru pulang ? Gimna jualannya, lancar ?" Tanya Bu Ani sambil tersenyum."Iya Bu, Alhamdulillah lancar, tadi sebelum kesini aku mampir dulu diwarung Pak Ujang untuk beli kopi, sekalian aja nawarin. seperti biasa kalo mau nawarin Pak Ujang harus basa basi dulu pura-pura beli kopi, ngobrol kesana-kemari, dan akhirnya kan tuh, Alhamdulillah, tinggal sisa sedikit lagi dagangannya. Hehe.." Harry sambil tersenyum dan berjalan menuju kamarnya. Menyimpan tas selempang dan sisa barang dagangannya itu. obrolan Harry dan ibunya berlanjut sampai Harry masuk kamar mandi dan ibunya pun menyelesaikan masaknya.*Makanan sudah disiapkan, saj
Pagi hari dikampung Nusa, salah satu wilayah yang jauh dari segala macam hiruk-pikuk keramaian kota Tasik. Sebagian besar dari wilayah kampung tersebut adalah persawahan dan perkebunan teh dan kopi, hampir setengah dari semua persawahan dan perkebunan itu dimiliki oleh PK Ujang.PK Ujang adalah penduduk dari kampung Nusa yang namanya cukup terkenal Karena kekayaannya di kota Tasik. Salah satu usahanya adalah toko kelontongannya yang sudah tersebar di seluruh penjuru kota Tasik, bahkan dipusat kota PK Ujang sedang membangun sebuah supermarket yang sangat besar dipusat kota Tasik, yang nantinya akan bersaing dengan beberapa prusahan besar lainnya yang kebanyakan berasal dari ibu kota DKI Jakarta dan beberapa perusahaan asing.Kini Harry sudah menyiapkan dirinya untuk mulai brangkat kerja lagi, setelah sisa dagangan yang kemarin di simpan dibagian depan motornya, dia langsung berangkat lagi menuju pabrik untuk merestok dan setor hasil dagangan
Malam hari dikampung Nusa tempat Harry lahir dan dibesrkan, angin sepoi-sepoi bertiup seakan membelai manja setiap tubuh yang berani berdiam diri diluar rumah. Walau mantel sudah dipakainya, tubuh Harry masih bisa merasakan dinginnya malam itu. Duduk di teras rumah ditemani secangkir kopi hangat, turut menemani Harry dalam kontemplasinya."Besok adalah tanggalnya, hari dimana aku harus benar-benar mengubur dalam semua perasaanku yang tidak sempat tersampaikan. Nadhya, kamu memang kurang peka akan perasaanku, atau memang aku yang sebenarnya pengecut, yang hanya bisa berharap kamu dapat mengerti akan semua isyarat-isyarat yang aku tunjukan waktu itu. Tapi yah sudahlah, tidak ada yang perlu disesali, besok adalah hari bahagimu, dan aku akan datang untuk menyaksikannya"Harry terus saja bergelut dengan pemikirannya, semenjak datangnya surat undangan itu Harry tidak pernah berhenti memikirkannya walaupun sudah dia coba untung menghilangkannya den
Herry berjalan menuju meja dan mengisi daftar hadir tamu yang dilayani dua orang wanita muda dengan riasan yang tebal dan mempesona, bajunya seragam batik kebaya khas Sunda yang terbuat dari perpaduan seni bordir dan Payet mutiara diujung kebayanya, terlihat sangat anggun dan mewah dengan warnanya yang seperti keemasan.Pelayan tamu tersebut memandang kedatangan Harry yang langsung mengambil pena dan menulis namanya dibuku tamu yang sudah mencapai nomor tamu yang ke 500 orang. Kedua pelayan wanita itu saling berbisik dan sekali melihat Harry dengan sinis.Entah apa yang dikatakan mereka, kemungkinan besarnya kedua pelayan itu seakan memandang rendah kepada Harry dengan tidak memberi pelayanan seperti kepada tamu-tamu sebelumnya yang tersenyum ramah dan sangat hormat.Tanpa memperdulikan kedua pelayan tersebut Harry pun masuk kedalam ruangan gedung yang luas dan sekedar perkiraan, ruang tersebut mampu menampung orang hingga seribu orang didalam
"Ini semua gara-gara kamu, dasar pembawa sial !" Ucap wanita tersebut dengan nada sangat marah."Haha... Lucu sekali, kamu yang memulai terus sekarang menyalahkan aku"."Kalo aku tidak ketemu sama kamu, tidak akan pernah ada hal seperti ini"."Sudah lah, percuma ngomong sama kepala batu. Hanya membuang-buang energi saja" ucap Harry sambil berjalan menuju parkiran motor dengan menahan kekesalannya. Meninggalkan wanita tersebut yang semakin menggerutu menerima balasan sikap dari Harry."Sialan! Dia malah kabur"Helm sudah dikepala Motor dihidupkan dan langsung Harry menjalankan motornya menuju keluar parkiran gedung dengan segala kekesalan dan rasa malu dihatinya.Ketika sampai dipintu gerbang terlihat dari belakang ada mobil berwarna merah melaju dengan cepat, padahal itu masih diarea taman GedungHarry sadar dan terkejut mendengar suara Gerungan mobil berjenis Lamborg
Pagi hari diudara sejuk yang menenangkan, suara burung dan ayam jantan yang selalu konsisten dalam menyambut matahari terbit memberi kehangatan suasana dilingkungan tempat tinggal Harry.Ketika bangunan dari tidurnya Harry hanya duduk santai merasakan ketenangan hatinya."Suasana ini yang selalu aku tunggu dari setiap pagi, tapi aduh ini badan terasa sakit-sakitan gini" gumam Harry sambil bersusah payah membangunkan badannya dan duduk diatas tempat tidurnya.Badan yang mulai merespon rasa sakit dari akibat kejadian kemarin, kini Harry sudah ada di rumahnya. Kemarin setelah dirawat d rumah sakit, malamnya ketika Harry dirasa sudah kuat langsung diantar oleh Vera pulang."Pantesan saja dia suka ngamuk-ngamuk, ternyata yang nikah itu adalah mantan kekasihnya, padahal menurut ku dia lumayan baik dengan bersedia bertanggung jawab mengantarku pulang sampai kesini, padahal kan lumayan jauh dan jalannya sangat kontras sekali
"ku kira kamu tidak akan pernah datang kesini lagi, jauh dan terpencil, apa lagi lihat jalannya yang lumayan terjal" ucap Harry datar tapi dengan berusaha menyembunyikan ekspresi kekagumannya pada mobil yang dibawa Vera. "Makanya aku bawa mobil ini, mobil yang kemarin hampir rusak karena mengantarkanmu kesini. Ngomong-ngomong kamu mau kemana ? kelihatannya kamu masih belum pulih sudah mau pergi." "Maksudku kamu mau ngapain kesini lagi ? Justru ini aku mau menemuimu, kemarin aku lupa menanyakan dibengkel mana motorku diservis, tidak perdulilah kamu mau bawa mobil apa saja juga" ucap Harry ketus. "Hahaha.. sampai segitunya. Motor kamu rusak parah, kata yang punya bengkel paling sekitar 2 sampai 3 hari lagi bisa beres, Ditambah lagi itu motor sudah tua banyak yang sudah harus diganti" jawab Vera dengan santai, tanpa bisa mengerti bahwa motor tersebut adalah sangat berarti bagi Harry. Harry tersenyum kesal
Selama dalam perjalanan mereka ngobrol panjang lebar seperti orang sudah kenal lama, Dengan waktu perjalanan yang cukup lama mereka lebih mempunyai waktu untuk saling berbagi cerita tentang diri mereka masing-masing, tentang masa kecil, hobi, cita-cita, karir, dan lain sebagainya. Kesamaan antara keduanya ternyata cukup banyak, dalam obrolan pun nyambung dan saling memahami akan minat dan ketertarikan pada sesuatu, hingga tanpa disadari dari obrolan tersebut terbentuklah sebuah kenyamanan. Sampai disebuah bengkel besar yang berada dipusat kota tepat di pinggir jalan perempatan yang cukup strategis, berjejer juga disampingnya beberapa bengkel lainnya dan toko-toko seperti swalayan, furniture, perlengkapan rumah tangga, pakaian dan sebagainya. Vera langsung memarkir mobilnya diarea parkir yang sudah disediakan khusus bagi pelanggan disana. Terlihat beberapa mekanik laki-laki yang tengah sibuk mengotak-atik motor. Hampir r
"Aaa... !" Teriak Vera seketika membuka mata dan terbangun dari tidurnya. "Alhamdulillah, untung semua hanya mimpi" ucap Vera.Waktu menunjukan pukul 02.00 Pagi, Vera duduk bersandar pada bantalnya sambil memeluk bantal guling yang dipegangnya dengan erat, sedikit tetesan Ari matanya ternyata nyata mengalir dipipinya, menggambarkan sebuah kerinduan sangat mendalam kepada bundanya yang sudah enam bulan lebih belum bertemu sejak terakhir dia pulang ke Jakarta pada saat hari raya idul Fitri tahun kemarin. Yang menjadi sangat membingungkan Vera adalah ketika Harry masuk dalam mimpinya, mungkinkah ada sebuah pertanda ?Penelitian menuliskan bahwa mimpi adalah pemenuhan terselubung dari keinginan yang tertekan, juga menggambarkan dua komponen berbeda, yakni konten nyata atau gambar aktual dan konten laten atau makna tersembunyi. Selain dari pada itu yang berperan aktif dalam sebuah mimpi adalah emosi dan pikiran alam bawah sadar, maka hal yang s
Waktu kini menunjukan sudah pukul 15.00 Waktu Indonesia Barat, tawaran Vera tentang team marketing di perusahaannya kepada harry berlanjut pada penjelasan tentang tehnis dan sistem kerjanya, bahkan sampai menjelaskan fasilitas yang akan didapat ketika harry jika mau bekerja diperusahaan Vera dan tentunya cukup menggiurkan, bahkan setumpuk surat lamaran kerja dikolong meja HRD disini (ia adalah seseorang yang tadi sempat mengusir Harry) sudah mencapai ratusan orang dengan kriteria yang sudah ditentukan, menandakan bahwa banyak orang yang mengidamkan untuk bisa bekerja di perusahaan Vera yang sangat bonafit ini.“Kamu tidak salah ?” harry sedikit mengerutkan dahinya.Walaupun tahu bahwa bila Harry menerima tawaran tersebut ini bisa sangat menguntungkan bila dibandingkan dengan kerjaannya sehari-hari, akan tetapi Harry merasa tidak tertarik bekerja disaini.Harry lebih berfikiran kepada hal yang bebas tanpa sebuah ikatan yang bisa membatasin
Baju kemeja kotak-kotak biru panjang dan celana jins hitam kini dikenakan oleh Harry memberi gambaran bahwa teman laki-laki yang dibawa Vera itu berasal dari keluarga yang sederhana, walaupun sepintas pak Ganjar sudah bisa mengetahui bahwa semua pakaian yang dikenakan oleh Harry berasal dari brand yang murah atau brand KW. Yang paling mencolok terlihat dari sepatu sportnya yang sudah usang, akan tetapi dari bekas-bekas kerusakan sepatu tersebut pak Ganjar memperkirakan bahwa Harry merupakan seorang pekerja keras. "Hello Harry, apa kabar ?" Sambutan hangat keluar dari pak Ganjar dengan tersenyum lebar. "Baik Om" jawab Harry sambil berjalan menghampiri pak Ganjar dan saling berjabat tangan. "Ini yah yang kemarin aku senggol motornya, dan saat ini lagi diperbaiki di bengkel" jelas Vera. "Oh begitu ya, ayo Harry duduk dulu disini" pak Ganjar mempersilahkan tempat duduk yang ada disamping
"Jadi bagaimana sekarang ? Kamu mau nunggu sampe sore atau gimana ?" Tanya Vera sambil melihat Harry. Harry langsung melihat waktu pada Jam tangannya, terlihat waktu menunjukan pukul 11 siang, "mau gimana lagi, paling aku tunggu disini. Dari pada nanti berabe harus kembali lagi kesini, lagian jarak pulang dari sini jauh" jawab Harry. "Ya sudah sambil nunggu kamu ikut aku saja ke showroom, hari ini aku ada beberapa urusan sama ayah ku dari Jakarta" ajak Vera. "Aku disini saja deh, mau ngapain lagi aku kesana ? Yang ada aku malah jadi patung penjaga kayak bodyguard pribadi" ucap Harry sedikit ketus. "Hahaha... " Tawa Vera sedikit tertahan mendengar jawaban dan ekspresi Harry."Terus kamu disini mau apa ? Bantuin si Abang montir ? Ngapain ? Malah merepotkan saja. Sudah kamu ikut saja temani Aku" "Baiklah kalau begitu, tidak apalah kali-kali aku jadi bodyguard" canda Harry sedikit ters
Selama dalam perjalanan mereka ngobrol panjang lebar seperti orang sudah kenal lama, Dengan waktu perjalanan yang cukup lama mereka lebih mempunyai waktu untuk saling berbagi cerita tentang diri mereka masing-masing, tentang masa kecil, hobi, cita-cita, karir, dan lain sebagainya. Kesamaan antara keduanya ternyata cukup banyak, dalam obrolan pun nyambung dan saling memahami akan minat dan ketertarikan pada sesuatu, hingga tanpa disadari dari obrolan tersebut terbentuklah sebuah kenyamanan. Sampai disebuah bengkel besar yang berada dipusat kota tepat di pinggir jalan perempatan yang cukup strategis, berjejer juga disampingnya beberapa bengkel lainnya dan toko-toko seperti swalayan, furniture, perlengkapan rumah tangga, pakaian dan sebagainya. Vera langsung memarkir mobilnya diarea parkir yang sudah disediakan khusus bagi pelanggan disana. Terlihat beberapa mekanik laki-laki yang tengah sibuk mengotak-atik motor. Hampir r
"ku kira kamu tidak akan pernah datang kesini lagi, jauh dan terpencil, apa lagi lihat jalannya yang lumayan terjal" ucap Harry datar tapi dengan berusaha menyembunyikan ekspresi kekagumannya pada mobil yang dibawa Vera. "Makanya aku bawa mobil ini, mobil yang kemarin hampir rusak karena mengantarkanmu kesini. Ngomong-ngomong kamu mau kemana ? kelihatannya kamu masih belum pulih sudah mau pergi." "Maksudku kamu mau ngapain kesini lagi ? Justru ini aku mau menemuimu, kemarin aku lupa menanyakan dibengkel mana motorku diservis, tidak perdulilah kamu mau bawa mobil apa saja juga" ucap Harry ketus. "Hahaha.. sampai segitunya. Motor kamu rusak parah, kata yang punya bengkel paling sekitar 2 sampai 3 hari lagi bisa beres, Ditambah lagi itu motor sudah tua banyak yang sudah harus diganti" jawab Vera dengan santai, tanpa bisa mengerti bahwa motor tersebut adalah sangat berarti bagi Harry. Harry tersenyum kesal
Pagi hari diudara sejuk yang menenangkan, suara burung dan ayam jantan yang selalu konsisten dalam menyambut matahari terbit memberi kehangatan suasana dilingkungan tempat tinggal Harry.Ketika bangunan dari tidurnya Harry hanya duduk santai merasakan ketenangan hatinya."Suasana ini yang selalu aku tunggu dari setiap pagi, tapi aduh ini badan terasa sakit-sakitan gini" gumam Harry sambil bersusah payah membangunkan badannya dan duduk diatas tempat tidurnya.Badan yang mulai merespon rasa sakit dari akibat kejadian kemarin, kini Harry sudah ada di rumahnya. Kemarin setelah dirawat d rumah sakit, malamnya ketika Harry dirasa sudah kuat langsung diantar oleh Vera pulang."Pantesan saja dia suka ngamuk-ngamuk, ternyata yang nikah itu adalah mantan kekasihnya, padahal menurut ku dia lumayan baik dengan bersedia bertanggung jawab mengantarku pulang sampai kesini, padahal kan lumayan jauh dan jalannya sangat kontras sekali
"Ini semua gara-gara kamu, dasar pembawa sial !" Ucap wanita tersebut dengan nada sangat marah."Haha... Lucu sekali, kamu yang memulai terus sekarang menyalahkan aku"."Kalo aku tidak ketemu sama kamu, tidak akan pernah ada hal seperti ini"."Sudah lah, percuma ngomong sama kepala batu. Hanya membuang-buang energi saja" ucap Harry sambil berjalan menuju parkiran motor dengan menahan kekesalannya. Meninggalkan wanita tersebut yang semakin menggerutu menerima balasan sikap dari Harry."Sialan! Dia malah kabur"Helm sudah dikepala Motor dihidupkan dan langsung Harry menjalankan motornya menuju keluar parkiran gedung dengan segala kekesalan dan rasa malu dihatinya.Ketika sampai dipintu gerbang terlihat dari belakang ada mobil berwarna merah melaju dengan cepat, padahal itu masih diarea taman GedungHarry sadar dan terkejut mendengar suara Gerungan mobil berjenis Lamborg
Herry berjalan menuju meja dan mengisi daftar hadir tamu yang dilayani dua orang wanita muda dengan riasan yang tebal dan mempesona, bajunya seragam batik kebaya khas Sunda yang terbuat dari perpaduan seni bordir dan Payet mutiara diujung kebayanya, terlihat sangat anggun dan mewah dengan warnanya yang seperti keemasan.Pelayan tamu tersebut memandang kedatangan Harry yang langsung mengambil pena dan menulis namanya dibuku tamu yang sudah mencapai nomor tamu yang ke 500 orang. Kedua pelayan wanita itu saling berbisik dan sekali melihat Harry dengan sinis.Entah apa yang dikatakan mereka, kemungkinan besarnya kedua pelayan itu seakan memandang rendah kepada Harry dengan tidak memberi pelayanan seperti kepada tamu-tamu sebelumnya yang tersenyum ramah dan sangat hormat.Tanpa memperdulikan kedua pelayan tersebut Harry pun masuk kedalam ruangan gedung yang luas dan sekedar perkiraan, ruang tersebut mampu menampung orang hingga seribu orang didalam