Beranda / Romansa / CANDU CINTA CEO AROGAN / BAB. 7 Harus Menikah

Share

BAB. 7 Harus Menikah

last update Terakhir Diperbarui: 2023-08-30 17:41:39

Seketika Mitha segera menyembunyikan tubuhnya rapat-rapat di balik selimut. Tinggal wajahnya yang sedikit kelihatan. Bagaimana tidak, sehelai benang pun tidak melekat di tubuhnya.

Tubuhnya masih Terbaring lemah di atas kasur. Seluruh badannya remuk redam akibat ulah Erlan tadi malam.

Sementara, pria itu telah memakai kembali celana boxernya, saat pintu kamar terbuka lebar.

"Erlan Levin! Apa yang telah kamu lakukan!" hardik Tuan Fred marah kepada putrinya.

Sementara Erlan sangat kaget melihat keluarganya, yang saat ini telah berada di depan matanya, tepatnya di salah satu kamar yang ada di pub itu.

"Erlan! Apa yang telah kamu lakukan, Nak? Kamu telah mencoreng nama baik keluarga kita!" isak tangis Nyonya Anisa, mulai terdengar menggema di dalam kamar itu.

"Erlan! Opa sangat kecewa kepadamu!" Ternyata Opa Robi juga ikut hadir menggerebek cucu tertuanya itu.

"Oma juga kecewa kepadamu, Erlan!" ketus Oma Rini.

Melihat keluarganya datang semua ke tempat itu, membuat dirinya menjadi frustasi.

"Tidak! Ini tidak seperti yang kalian lihat!" ucap Erlan meyakinkan keluarganya.

"Aku hanya dijebak, Pi! Tolong percaya kepadaku, Mi!" serunya lagi.

"Dijebak katamu?" Tuan Fred berkata sambil menyalakan televisi yang ada di ruangan itu.

"Lihat baik-baik apa yang sedang ditampilkan di layar televisi!" Seru sang ayah marah.

Erlan terlihat mengepalkan tangannya saat melihat foto-fotonya yang sedang memeluk Mitha tersebar di media elektronik. Bahkan video kemesraan mereka juga ikut ditampilkan. Dia sangat terkejut melihat semua itu.

Tiba-tiba seorang wanita muda yang sebaya dengan Mitha berkata,

"Ya ampun, Mitha. Aku nggak nyangka kamu berani melakukan hal tidak senonoh itu!" ketus Niken kepadanya.

Dibalik kejadian ranjang panas antara Erlan dan Mitha. Ternyata, Mitha sengaja dijadikan umpan oleh pihak tertentu untuk menjebak Erlan. Namun sayangnya, Mitha sama sekali tidak tahu-menahu tentang hal itu.

"Jadi, kamu menjebakku?" Tatapan tajam mata Erlan seakan menusuk, sampai ke jantung Mitha yang berada di atas ranjang.

"Ti ... tidak, Mas Erlan. Aku tidak menjebakmu." lirih gadis itu sedih.

"Dasar jalang! Berani-beraninya kau menyebut namaku!" teriak Erlan lantang.

"Cukup Erlan!" hardik Tuan Fred.

"Bubar semua! Saya ingin bicara kepada putra saya." Semua orang akhinya bubar. Kecuali kedua orang tua Erlan dan kakek, neneknya.

Setelah semua ke luar, Tuan Fred menutup pintu kamar itu, rapat-rapat.

Isak tangis Mitha mulai terdengar, sungguh sangat menyayat. Dia bahkan sampai menyembunyikan wajahnya di balik selimut.

Mitha sangat ketakutan saat ini. Dia takut, keluarga besar Erlan akan memarahinya.

"Papi! Tolong percaya kepadaku, aku hanya dijebak, Pi! Aku tidak mengenal perempuan itu, secara pribadi. Aku baru mengenalnya tadi malam Pi!" Erlan mencoba berkata jujur kepada ayahnya.

"Apa? Kamu baru mengenalnya tadi malam? Tapi kamu kok berani menidurinya?" Kali ini Opa Robi angkat bicara.

"Seharusnya jika kamu tidak mengenalnya, kamu pasti tidak akan berbuat sejauh ini!" Oma Rini juga ikut memarahi cucunya.

"Erlan, lihat!" Tuan Fred lalu memperlihatkan saham perusahaan melalui ponsel pintarnya, yang tiba-tiba anjlok.

"Semua ini karena ulahmu! Asal kamu tahu, video panasmu sudah tersebar sampai seantero Jakarta! Bahkan semua rekan bisnismu juga sudah tahu!"

"Apa?" Kaget Erlan.

"Satu-satunya cara untuk meredamnya, kamu harus menikahi gadis itu." tegas sang ayah.

"Apa?" Erlan lagi-lagi kaget mendengar ucapan ayahnya.

"Tapi aku baru mengenalnya, Pi. Aku juga tidak mencintainya!" teriak Erlan lagi.

"Papi tidak peduli! Kamu telah mencoreng nama baik Keluarga Levin dan kamu harus mempertanggung-jawabkannya!"

"Ta ... tapi, Pi?" Erlan tetap tidak mau.

"Tidak ada tapi-tapian, kamu harus mengikutinya!" tegas sang ayah lagi.

"Aku tetap tidak mau, Pi!" jawabnya lantang.

"Erlan! Cukup! Mami mau kamu bertanggung jawab kepadanya. Gadis itu masih suci, tapi kamu telah menghancurkan segalanya! Enak saja, kamu lari dari kenyataan." seru Mami Anisa.

"Papi, kamu urusin Erlan. Biar aku dan Oma yang melakukan selebihnya." ucap Mami Anisa.

"Erlan, pakai bajumu! Sebentar lagi kamu akan melakukan konferensi pers. Wartawan sedang menunggu kita di lantai bawah." Mau tidak mau, Erlan terpaksa mengikuti kemauan keluarganya.

Dia pun masuk ke dalam toilet dengan membawa paper bag di tangannya yang berisi baju ganti untuknya.

Sementara Mitha semakin menyembunyikan tubuhnya rapat-rapat di balik selimut.

 Papi Fred dan Opa Robi lalu ke luar sebentar dari kamar itu. Untuk memberi ruang kepada Nyonya Anisa dan Oma Rini untuk mendekati gadis itu.

Di dalam kamar mandi, Erlan segera menanggalkan semua pakaiannya, dan masuk ke dalam bathtub.

"Bodoh amat dengan semua pemberitaan konyol itu! Aku mau berendam dan melepaskan penat di tubuhku." ujarnya, lalu mulai berendam sambil memejamkan wajahnya.

Nyonya Anisa lalu mulai mendekati ranjang. Dia semakin jelas mendengar Isak tangis gadis itu.

"Cantik, kamu kenapa menangis? Apakah kita bisa bicara?" ucapnya Mami Anisa lembut.

"Perkenalkan ... saya Mami Anisa,  ibunda Erlan. Di sini juga ada Oma Rini, neneknya Erlan."

"Halo calon cucu mantuku," sapa Oma Rini kepadanya.

Mitha seketika merasakan kesejukan saat disapa oleh Nyonya Anisa, ibunda Erlan.

"Kamu bisa membuka selimutnya sedikit saja sayang? Kami ingin melihat wajahmu." seru Oma Rini.

"Ma ... maaf ... Nyonya, a-ku tidak memakai baju. Tu ... tubuhku hanya tertutupi selimut ini saja." lirihnya takut.

"Cantik, kami hanya ingin melihat wajahmu kok, bukan yang lainnya." ucap Nyonya Anisa.

Mitha mencerna setiap perkataan yang diucapkan oleh keduanya. Dia pun memutuskan untuk membuka selimut itu dan mulai menunjukkan wajahnya.

"Sayang, kamu sangat cantik!" puji Nyonya Anisa.

"Te ... terima kasih, Nyonya." lirihnya, masih takut.

"Cantik ... panggil kami, Mami Anisa dan ini Oma Rini."

"I ... iya, Mami. Maaf ... aku mohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan ini. Aku sama sekali tidak menjebak Mas Erlan. Aku ... aku juga dijebak oleh seseorang." tangis Mitha pun kembali pecah.

"Cantik ... kamu jangan menangis lagi. Oma dan Mami Anisa percaya, kamu adalah gadis baik-baik. Mulai saat ini, kamu adalah calon menantu tunggal untuk cucu Oma, Erlan." seru Oma Rini.

"Kamu jangan memikirkan apa pun mulai saat ini. Kita semua harus fokus kepada pernikahanmu dengan Erlan."

"Ta ... tapi Oma." lirihnya ingin membantah.

"Cantik ... Oma dan Mami tidak mau mendengarkan penolakan darimu. Kamu harus mengikuti apa yang kami katakan." seru Oma Rini.

"Oma tidak mau, perutmu sudah mulai membesar karena hamil. Tapi kamu dan Erlan belum juga menikah. Oma tidak mau itu terjadi." tutur Oma Rini, lagi.

"Oh ya, ngomong-ngomong nama kamu siapa, cantik?" Tanya, Nyonya Anisa.

"Na ... namaku Mitha Alena. Biasa dipanggil Mitha ... Mi, Oma." jawabnya sopan.

"Nama yang cantik, secantik orangnya." puji Oma Rini.

"Te ... terima kasih, Oma." sahutnya masih gugup.

"Mitha? Apakah kamu bisa duduk?" tanya, Mami Anisa.

Lalu Mitha mencoba untuk duduk, namun badannya terasa sangat lemah.

"Ma ... maaf, Mi. Aku tidak bisa." Mitha malah kembali menangis.

"Anisa, biar Erlan saja yang membantu mengangkat tubuh Mitha." seru Oma Rini.

"Tapi Erlan ke mana? Kok nggak kelihatan dari tadi?" tanya Oma Rini.

"Lho ... memangnya Erlan belum kelar juga mandinya?" tanya sang ibu.

"Apa? Jadi dari tadi Erlan masih berada di dalam kamar mandi?" kaget Oma Rini.

Bab terkait

  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 8 Tatapan Buas

    Bersamaan dengan itu, Erlan ke luar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Sementara pakaian bagian bawahnya telah dia pakai.Erlan sedang asyik bersiul-siul ria saat ini. Seolah-olah dirinya tidak memiliki beban apa pun.Setelah pertempuran ranjang yang dia lakukan tadi malam, tubuhnya terasa sangat segar hari ini.Tiba-tiba saja dada bidangnya menghujam penglihatan Mitha. Begitu banyak hasil cakaran kukunya yang menghiasi dada dan punggung pria itu."Apakah itu semua bekas kukuku?" Mitha segera mengalihkan pandangannya darinya, saat pemuda itu melangkah menuju cermin yang ada di dekat ranjang."Aduh ... perih!'Erlan meringis sakit akibat bekas cakaran kuku Mitha di beberapa bagian tubuhnya. Akan tetapi badannya sudah mulai segar kembali setelah berendam lama di dalam bathtub.Sang mami dan sang Oma melihat ke arah dada Erlan yang penuh dengan bekas cakaran. Mereka pun jadi senyum-senyum sendiri."Pasti terjadi pertempuran sengit tadi malam." pikir keduanya."Erlan, kamu sudah s

    Terakhir Diperbarui : 2023-08-30
  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 9 Ada Yang Terpesona

    "Mami ...! Mami ganggu banget, deh!" kesal Erlan kepada ibunya."Erlan! Kamu apain Mitha? Kamu, ini! Jangan lakukan apa pun lagi kepadanya!" tegur sang ibu."Aku hanya menciumnya, Mi!" bela, Erlan."Itu sama saja kamu telah menyentuhnya. Kamu tidak boleh menyentuh Mitha lagi sebelum kalian resmi menjadi suami dan istri!" tegas sang ibu, lagi."Apa-apaan sih, Mami! Peraturan dari mana tuh?" Jelas saja Erlan tidak mau. Karena baginya, tubuh Mitha bagai mainan baru yang sangat berguna untuk menjinakkan alat tempurnya, jika sedang dalam mode mengamuk."Peraturan dari Mami dan seluruh Keluarga besar Levin. Sana kamu, ke luar dari sini!" Erlan pun terpaksa keluar dari kamar mandi itu dengan muka penuh amarah.Bagaimana tidak, hasratnya tak tersalurkan saat ini.Sesampai di dalam kamar, sang Oma berkata, "Lan, lihat itu bajumu telah basah. Kamu ganti dulu. Karena setelah kamu dan Mitha sarapan, Keluarga Levin akan melakukan konferensi pers untuk mengumumkan hari pernikahan kalian." tutur sa

    Terakhir Diperbarui : 2023-08-30
  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 10 Diumumkan Bertunangan

    "Ya ... Oma harap juga begitu. Keinginan kedua wanita yang sangat dekat dengan Erlan itu terlalu besar untuk kebahagiaan keduanya.Setelah selesai makan, mereka disibukkan dengan mencocokkan cincin permata, bertahtah berlian murni untuk dilekatkan di jari manis Mitha.Tuan Fred bahkan telah mem-booking pub itu, sebagai tempat diumumkannya pertunangan diantara Mitha dan Erlan. "Mi, memangnya harus pakai cincin kah?" keluh Erlan yang dari tadi jari manisnya, diukur beberapa kali oleh cowok kemayu, salah satu karyawan, yang ditugaskan oleh toko permata terkenal itu, untuk melakukan pelayanan khusus bagi pelanggan high class seperti Keluarga Levin."Yaiyalah, Lan! Kamu ini aneh-aneh saja pertanyaannya." tutur sang mami."O ... Oma, apakah ini tidak berlebihan? Harga cincinnya sangat mahal, Oma. Apakah tidak ada cincin yang harganya biasa saja?" keluh Mitha bingung, melihat harga satu cincin saja yang sangat mahal."Mitha ... kamu itu, calon menantu Keluarga Levin. Kamu nantinya akan menj

    Terakhir Diperbarui : 2023-08-30
  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 11 Dibawa Pulang Ke Rumah

    "Tuan Brandon, sepertinya Anda harus bersembunyi dulu dalam beberapa saat. Tuan Fred sepertinya mulai melakukan penyelidikan terkait masalah yang dihadapi oleh putranya. Takutnya Anda akan merasakan akibatnya, nanti. Apalagi perusahaan Anda dalam posisi sangat sulit, saat ini." seru salah satu rekan bisnisnya, kepada Brandon yang dulunya juga teman satu kampusnya."Tapi, Tuan Fadli. Bagaimana dengan perusahaan saya? Siapa yang mengurusnya nanti?" tanyanya ragu-ragu untuk melarikan diri. "Soal itu, saya tidak dapat mencampurinya, Tuan. Anda coba mencari solusinya sendiri. Biar bagaimana pun, Tuan Erlan juga rekan bisnis perusahaan saya. Sekaligus sebagai sahabat lama kita saat kuliah dulu. Seharusnya Anda bisa lebih bijak dan berhati-hati dalam mengambil suatu tindakan." Nasehat Tuan Fadli itu, yang berhasil membuat Tuan Brandon terdiam.Tuan Fadli segera berlalu dari sebuah kafe, di sudut Kota Jakarta itu. Sebagai tempat dirinya dan Brandon janjian untuk bertemu tadinya.Sementara Tu

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-07
  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 12 Masih Ada Hasrat Terpendam

    "Pi, aku naik mobil yang mana?" tanya Erlan, kepada ayahnya."Kamu sabar dulu, Lan. Memangnya kamu mau ke mana? Kok buru-buru begitu?" ucap sang ibu. Dia menjadi bingung sendiri melihat tingkah putranya yang sedikit gelisah itu."Aku mau cepat-cepat pulang ke rumah, Mi," sahutnya "Lho memangnya kenapa jika kamu sudah nyampai di rumah, Lan?" selidik sang ibu."Aku mau tidur, Mi. Tadi malam aku sangat capek. Gara-gara dia!" tunjuknya kepada Mitha.Lagi-lagi gadis itu hanya bisa menunduk mendengar perkataan Erlan yang sangat menusuk itu."Erlan! Kamu ini! Berlaku lembutlah kepada Mitha." Sang Oma ikut protes dengan semua tingkah laku dan sikap cucunya kepada gadis itu."Terserah deh!" ketusnya marah.Padahal yang sebenarnya terjadi, di dalam kepala Erlan saat ini. Masih terngiang-ngiang aktivitas panas yang dirinya lakukan bersama dengan Mitha. Ingin rasanya dia mengulangnya kembali. Untuk itu, Erlan ingin cepat-cepat sampai ke rumah dan mencari cara untuk mengulangnya kembali sekali s

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-07
  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 13 Permainan Di Dalam Mobil

    Erlan tetap pura-pura tidak mendengar perkataan ibunya, dan dia terus memejamkan matanya."Ya udah, Mit. Erlan sepertinya sedang tidur. Mami tinggal dulu. Kamu jangan takut gitu, ya?" ucapnya kepada, calon menantunya."Pak sopir, hati-hati bawa mobilnya. Jangan terlalu kencang." pesannya kepada sang sopir."Baik, Nyonya," jawab Pak Sopir."Tuan Muda, Nona. Kita berangkat sekarang." seru sang sopir, kepada keduanya."I ... iya, Pak." jawab Mitha. Sementara Erlan tetap diam dan tidak bicara. Namun disaat mobil sudah berjalan. Dengan cepat Erlan bangun, lalu menutup pembatas diantara kursi depan dan kursi penumpang. Ternyata dia memang hanya pura-pura tidur.Erlan lalu menatap ke arah Mitha yang terlihat mulai waspada, karena pria itu terus mendekatkan wajahnya ke arahnya. Sehingga jarak wajah mereka hanya tinggal tersisa satu sentimeter saja."Mas Erlan, ka ... kamu mau ngapain?" lirihnya takut. Bahkan kedua tangannya, dia taruh menyilang untuk melindungi bagian dadanya.Deru napas Erl

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-07
  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 14 Berhentilah Menangis

    "Ayah, Bunda. Aku sangat merindukan kalian." sedihnya dalam hati.Mitha lalu menatap ke luar jendela mobil, dia mencoba menikmati angin semilir yang mulai menyapu wajahnya yang sendu. Seperti hatinya saat ini, yang sedang merasakan kesedihan yang mendalam, karena kecerobohannya tadi malam."Aku kenapa sebodoh itu tadi malam? Kenapa semuanya seperti telah direncanakan oleh seseorang? Apakah aku dijebak? Akan tetapi, kenapa? Apakah salahku? Kenapa aku dilibatkan dengan sesuatu yang aku tidak ketahui sama sekali?" lirih Mitha sedih dalam hatinya. Lalu tiba-tiba dia ingat dengan Niken, sang sahabat. Sikap Niken sangat berbeda kepadanya setelah kejadian di pub itu. Sahabatnya itu, sepertinya terus saja menyudutkannya dan menuduhnya yang bukan-bukan."Aku harus mencari tahu kebenarannya. Kenapa Niken bersikap seperti itu kepadaku? Aku sangat yakin, dia mengetahui sesuatu, dibalik kejadian tadi malam," gumamnya dalam hati.Sementara itu, di sudut Kota Jakarta. Tepatnya di sebuah kamar kost.

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-07
  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 15 Ternyata Arjuna Mengenalnya

    "Berani-beraninya, Arjuna memegangnya, di depanku?" kesal Erlan dalam hati.Sementara Arjuna, seketika merasakan getaran aneh saat dirinya membantu Mitha tadi. Kedua bola mata indah milik gadis itu, mampu membuat jiwa jomlo Arjuna semakin merontah-rontah."Siapa gadis ini? Kenapa wajahnya sangat familiar? Di mana aku pernah melihatnya, ya? Lagian kenapa dia bisa berada di sini?" ucapnya penasaran, dalam hati."Erlan! Kamu ini, bukannya bantuin Mitha. Untung saja ada Arjuna." Seru Mami Anisa.Mendengar perkataan sang ibu, secara spontan, Erlan melangkah mendekati Mitha lalu berkata,"Sayang, kamu kok nggak bilang-bilang sih jika kakimu masih sakit?" serunya, sambil menunjukkan wajah memelas. Bahkan Erlan mulai membelai lembut pucuk kepala calon istrinya dan menatap wajah Mitha dengan penuh rasa cinta.Mitha seketika kaget dengan perubahan sikap Erlan yang tiba-tiba lembut kepadanya."Aku akan menggendong mu sampai ke dalam rumah." ucapnya, lalu dengan cepat mengangkat tubuh lemah Mith

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-07

Bab terbaru

  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 114 Bahagia Selamanya

    Sebulan setelah pulang liburan romantis di Gili Trawangan, Mitha mulai merasakan perubahan pada tubuhnya. Awalnya, dia mengira hanya kelelahan biasa, akan tetapi setelah beberapa hari, gejala yang dirasakan olehnya semakin jelas. Perutnya terasa kembung, mual setiap pagi, dan keinginan makan yang tidak biasanya. Mitha pun memutuskan untuk melakukan tes kehamilan dan hasilnya menunjukkan dua garis merah.Dengan hati berdebar, Mitha memanggil suaminya, Erlan. "Mas, kamu bisa ke sini sebentar?" serunya dari dalam kamar mandi.Erlan yang sedang membaca di dalam kamar segera bergegas menuju kamar mandi. "Ada apa, Sayang?"Mitha, dengan senyum lebar dan mata berbinar, lalu mengangkat tes kehamilan itu."Kita akan punya bayi lagi!"“Apa? Jadi hasil goyangan maut yang kita lakukan saat liburan di Pulau Lombok, berhasil, Sayang?” seru Erlan sambil tersenyum bahagia.Erlan menatap tes kehamilan itu, kemudian wajah Mitha, dan seketika kebahagiaan membanjiri hatinya. "Oh Tuhan, Sayangku Mitha!

  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 113 Liburan Bersama

    Pagi itu, mentari baru saja terbit ketika Erlan dan Mitha sedang mempersiapkan keberangkatan mereka ke Gili Trawangan, Lombok. Asher, putra mereka yang baru saja genap berusia dua tahun, sedang asyik bermain dengan mainan favoritnya di ruang keluarga. Wajah mungilnya memancarkan kebahagiaan dan kepolosan masa kanak-kanak. Namun, hari itu berbeda dari biasanya. Erlan dan Mitha berencana akan memberikan adik kepada Asher, dan untuk mewujudkan impian itu, mereka memutuskan untuk pergi berlibur berdua."Sayang, apa sudah siap?" tanya Erlan sembari merapikan koper di depan pintu.Mitha menoleh dan tersenyum, "Sudah, Mas. Kita pamit dulu sama Asher, ya."Mereka berdua lalu berjalan menuju ruang tamu dan mendekati Asher. Mitha mengangkat putra kecilnya dan berkata dengan lembut, "Asher, Mami dan Papi mau pergi sebentar ya. Asher akan main sama Oma Anisa. Janji, kita akan segera kembali."Asher hanya tersenyum dan meraih mainannya. Anisa, ibu dari Erlan, muncul dari dapur dengan senyum ramah

  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 112 Welcome My Cute Baby

    Sembilan bulan telah berlalu sejak Mitha mengetahui bahwa dia hamil. Pagi itu, dia dan Erlan berada di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, menunggu momen yang telah dinantikan oleh seluruh anggota keluarga selama berbulan-bulan. Mitha sedang bersiap-siap untuk melahirkan bayi laki-laki mereka yang akan diberi nama Asher Levin. Di ruang bersalin, Erlan dengan setia mendampingi istrinya. "Mas Erlan, aku takut," ucap Mitha dengan suara lemah namun penuh harap. Erlan pun menggenggam tangan Mitha erat-erat dan memandangnya dengan penuh kasih, "Kamu pasti bisa melakukannya, Sayang. Aku ada di sini bersamamu. Kita pasti bisa melewati ini bersama. Percaya kepadaku." Mitha mulai merasakan kontraksi yang semakin kuat dan intens. Erlan tetap berada di sampingnya, memberikan dukungan dan kekuatan yang dibutuhkan oleh istrinya. "Tarik napas dalam-dalam, Sayang. Ingat teknik pernapasan yang kita pelajari," tutur Erlan dengan tenang sambil mengelus rambut Mitha. Dokter dan perawat

  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 111 Kehamilan Mitha

    Pagi itu, sinar matahari yang lembut masuk melalui jendela kamar Erlan dan Mitha, membangunkan mereka dengan hangat. Hari dimulai seperti biasa hingga tiba-tiba Mitha berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah. Erlan, yang masih setengah mengantuk, segera terbangun dengan panik.“Mitha, kamu kenapa?” Erlan bertanya dengan cemas sambil mengikuti istrinya ke kamar mandi.Mitha terengah-engah, berusaha mengatur napasnya. “Aku tidak tahu, Mas. Tiba-tiba saja aku merasa mual.”Erlan dengan cepat mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air dingin, lalu memberikan kepada Mitha. “Ini, coba lap wajahmu. Kita ke rumah sakit sekarang juga, ya?”Mitha mengangguk lemah. “Baik, Mas.”Dalam perjalanan ke rumah sakit, pikiran Erlan dipenuhi dengan berbagai kekhawatiran. Dia terus memegang tangan Mitha, memberikan kekuatan dan dukungan bagi istrinya.“Mas, aku merasa agak lebih baik sekarang,” ucap Mitha mencoba menenangkan suaminya.“Tetap saja, kita perlu memastikan semuanya baik-baik saja. L

  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 110 Acara Wisuda Mitha

    Setelah pulang berbulan madu,Pagi itu, suasana di rumah Erlan dan Mitha dipenuhi oleh kegembiraan dan semangat. Mitha sedang bersiap-siap untuk wisuda yang akan diadakan beberapa jam lagi. Hari yang telah ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Mitha mengenakan kebaya modern berwarna lilac, dipadukan dengan make-up natural yang membuatnya terlihat sangat cantik. Di sebelahnya, Erlan, suaminya, mengenakan setelan jas dengan warna senada, membuat mereka tampak serasi seperti pangeran dan putri kerajaan.“Mitha, Sayangku! Kamu cantik sekali hari ini,” puji Erlan dengan tatapan kagum.Mitha tersenyum,“Terima kasih, Mas. Kamu juga tampan sekali. Terima kasih sudah selalu ada untukku.”“Sudah seharusnya, Sayang. Hari ini adalah hari yang spesial untukmu, aku sangat bangga padamu, Istriku.” jawab Erlan sambil merapikan rambut Mitha yang terurai indah.Di ruang tamu, para orang tua mereka sudah berkumpul. Mami Anisa dan Papi Fred, kedua orang tua Erlan, tampak anggun dan gagah. Kakek dan nenek Erla

  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 109 Kejutan Untuk Mitha

    Tengah malam di kabin kayu di Lake Tahoe terasa begitu tenang, dengan hanya suara angin yang berdesir lembut di antara pepohonan pinus di luar. Di dalam kabin, kehangatan dari perapian yang masih menyala menciptakan suasana nyaman dan tenang.Namun tiba-tiba saja Erlan terbangun, merasakan kehangatan tubuh Mitha yang sedang tidur di sebelahnya. Sebuah dorongan tiba-tiba muncul dalam dirinya, kerinduan untuk merasakan kedekatan yang lebih erat dengan istrinya.Erlan menatap wajah damai Mitha yang tertidur, rambutnya terurai di atas bantal. Dengan lembut, Erlan mengusap pipi Mitha, dan membangunkannya perlahan."Mitha, Sayang," bisiknya pelan di telinga istrinya.Mitha membuka matanya perlahan, mencoba mengatasi kantuknya. "Ada apa, Mas Erlan?" tanyanya dengan suara lembut, sedikit bingung karena suaminya tiba-tiba membangunkannya di tengah malam itu.Erlan tersenyum, menatap istrinya dengan penuh kasih."Aku merindukanmu, Sayang. Aku ingin kita menikmati malam ini bersama, dan lebih d

  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 108 Masih Edisi Jalan-jalan

    Pagi berikutnya, sinar matahari yang cerah kembali membangunkan Erlan dan Mitha di kamar suite mewah mereka di The Ritz-Carlton Hotel. Mereka menikmati sarapan ringan di balkon kamar, dengan pemandangan Kota Los Angeles yang mulai sibuk di bawah sana."Sudah siap untuk petualangan hari ini, Sayang?" tanya Erlan sambil menyeruput kopi hangatnya."Tentu saja, Mas. Aku sungguh tidak sabar untuk melihat Napa Valley dan Big Sur," jawab Mitha dengan tersenyum lebar.“Okay, Cintaku!”Setelah sarapan, Mitha dan Erlan segera berkemas dan bersiap-siap untuk perjalanan panjang menuju Napa Valley. Keduanya menyewa mobil dan meninggalkan Los Angeles, menyusuri jalan bebas hambatan dengan pemandangan indah di sekitar mereka. Perjalanan keduanya diwarnai dengan obrolan ringan dan canda tawa, serta sesekali mobil mereka berhenti untuk menikmati pemandangan.Setelah beberapa jam berkendara, akhirnya Mitha dan Erlan tiba di Napa Valley, yang terkenal dengan kebun anggurnya yang luas dan pemandangan ya

  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 107 Edisi Jalan-jalan

    Pagi yang cerah di Kota Los Angeles menyambut Erlan dan Mitha dengan sangat hangat. Sinar matahari mulai menyusup melalui tirai jendela di kamar suite mereka di hotel The Ritz-Carlton, yang membangunkan keduanya dari tidur nyenyak. Erlan terbangun terlebih dahulu, tersenyum melihat wajah damai Mitha yang masih tertidur. Pria itu perlahan bangun dan menuju kamar mandi untuk mengisi bathtub dengan air hangat."Mitha, bangun, Sayang. Ada kejutan kecil untukmu," ucap Erlan sambil membangunkan Mitha dengan lembut.Mitha membuka mata dan tersenyum lebar ketika melihat suaminya. "Apa itu, Mas Erlan?" tanyanya dengan suara yang masih mengantuk."Ayo, kita habiskan pagi ini dengan bersantai di bathtub," jawab Erlan sambil membimbing Mitha menuju kamar mandi.“Ih … nggak mau! Nanti Mas aneh-aneh lagi!” protes Mitha.“Ha-ha-ha. Nggak kok, Sayang. Aku janji. Kita hanya menghabiskan waktu berdua saja. I promise you, Baby!” sahut Erlan.“Ya sudah, kalau begitu aku mau. Ingat janjimu ya, Mas?” tut

  • CANDU CINTA CEO AROGAN    BAB. 106 Show Time

    Setelah mendapatkan lampu hijau dari istrinya, Erlan pun segera melakukan awal penyerangan di tubuh sang istri.Pria itu mulai mencium dan melahap bibir istrinya dan menikmati manisnya. Mitha juga membalas ciuman dari suaminya walaupun masih terasa kaku.Tangan Erlan sudah tidak tinggal diam, mengelus sekujur tubuh istrinya. Bermain di dua gundukan Mitha yang menjulang tinggi dan terasa kenyal di kedua tangannya.Erlan juga membenamkan bibirnya di leher istrinya dan meninggalkan bekas merah yang banyak di sana.Tubuh Mitha sudah terlihat berantakan saat ini. Akibat ulah Erlan yang ganas. Lidah suaminya terus menjilati area favoritnya di tubuh Mitha.Pria itu pun turut membenamkan bibirnya di puncak gundukan Mitha yang sungguh indah, dan bermain lama dengan lidahnya. Hanya terdengar desahan dari bibir istrinya menahan geli dan hasrat yang semakin membuncah. "Ah ... Mas ... ah!" Tangan Mitha mulai sibuk menarik-narik rambut suaminya dan meremasnya kuat.Dia pun mendesis berkali-kali

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status