Melihat Wailea yang terlihat begitu sedih membuat Ketty tidak tega, ia pun mencoba mengalihkan perhatiannya. “Oke, jangan sedih lagi ya. Sekarang lebih baik kita cari hotel tempat suami kamu menginap” kata Ketty dengan semangat.
“Dia menginap di hotel tepat di samping restoran ini” kata Wailea sembari mengusap mata.
“Loh, aku juga menginap disana. Wah, kebetulan sekali ya” kata Ketty yang terlihat semakin bersemangat. Hati Wailea pun semakin lega. Dia berfikir jika terjadi sesuatu padanya saat bertemu dengan Rezo, ada Ketty di gedung yang sama dan bisa menolongnya.
“Kalau begitu, kamu ikut aku ke kamar dulu ya. Untuk taruh belanjaanku ini” kata Ketty sembari mengumpulkan setiap gagang tas belanjaannya yang sangat banyak.
“Kamu belanja sendiri? Pacar kamu dimana?” tanya Wailea penasaran.
“Dia pergi ngegym. Katanya daripada aku bosan menunggunya, lebih baik dia memberiku credit card untuk shopping. That’s why I love him so much, Lea” kata Ketty
“Sebentar ya bu, saya cek dulu” reception muda itu terlihat membuka data pada komputernya. Tak lama ia pun kembali berdiri dan berkata “maaf bu, untuk atas nama bapak Rezo memang menginap disini. Namun, beliau berada di kamar VIP. Beliau meminta untuk tidak memberitahukan nomor kamarnya kepada siapapun. Jadi kami tidak bisa memberikan informasi lebih” “Tetapi saya istrinya, mbak” jawab Wailea menegang. Wajah sang receptionist terlihat kaget. Sang reception tetap menahan dirinya untuk tidak memberitahukan informasi lebih pada Wailea. “Maaf, bu. Mungkin lebih baik langsung hubungi pak Rezo saja” kata sang receptionist mencoba membantu. “Saya mau kasih dia kejutan, mbak. Mana mungkin saya telepon dia” kata Wailea mengeluh. Sang receptionist hanya terdiam dan tidak bisa membantu apapun lagi. Dia benar-benar memegang teguh aturan perusahaan dan permintaan customer. Ponsel berdering. Wailea menatap layar ponselnya dan ternyata Helix yang menelepon. Re
“Aku bercanda, Lea" Ketty tertawa kecil. "Kalau begitu kita ketuk saja pintu kamarnya. Toh kita hanya perlu mengetuk dua kamar lagi kan?” Ketty tersenyum dengan semangat. Apa yang dikatakan Ketty sama persis dengan apa yang dikatakan Helix tadi. Ini membuat Wailea semakin yakin untuk melakukannya. Mereka pun berjalan menuju wilayah kamar VIP. Kamar pertama, terlihat dua orang pria memakai baju kaos dengan warna yang sama dan celana katun pendek. Mereka saling bergandengan tangan dengan mesranya keluar dari kamar. Ketty menatap Wailea seolah bertanya apakah salah satu pria itu suaminya. Namun, Wailea mengerti akan tatapan Ketty itu, ia pun segera menggelengkan kepalanya. Menandakan jika suaminya bukan dari salah satu pria itu. Mereka pun tertawa setelah melewati kamar pria berpasangan tersebut. Lalu mereka berjalan menuju kama kedua. Wailea terlihat ragu untuk mengetuk. Ketty pun tak sabar lalu mengetuk pintu dengan penuh semangat. Setelah mengetuk beberapa ka
“Aku punya alasan untuk ini semua” kata Rezo mencoba menjelaskan. Wailea hanya terdiam dan terus menangis. “Aku terpaksa menikahimu, Lea” lanjut Rezo. Wailea menoleh pada Rezo seolah bertanya apa yang membuatnya melakukan hal itu. “Beberapa hari setelah pemakanan mama. Papa memintaku untuk menikahimu. Jika tidak mau, aku tidak akan dianggapnya anak lagi. Semua hasil kerja kerasku selama ini juga akan ditarik dan aku tidak dapat apa-apa” Rezo mencoba menjelaskan dengan nada suara lemas. “Kenapa tidak jujur kalau kamu sudah punya pacar?” tanya Wailea kesal. “Sudah kucoba. Tapi papa tidak setuju jika aku menikahi Ketty” Rezo menghela nafas. “Namun, setelah aku berhasil meyakinkan papa, malah Ketty yang belum siap untuk menikah. Dia masih dalam study dan di tambah lagi impiannya menjadi model terlalu tinggi saat itu” jelas Rezo. Wailea frustasi mendengar pernyataan Rezo. Dia berfikir selama ini mereka akan saling mencoba mencintai satu sama lain, tapi ter
“Disini kamulah yang salah, Lea” kata Ketty dengan sangat lantang tanpa keraguan. Wailea tercengang mendengarnya. “Kamu yang masuk di tengah-tengah hubungan kami. Jadi kamulah pengganggunya, bukan aku” tegas Ketty. “Andaikan aku tahu, dari awal sudah ku tolak tanpa keraguan sedikit pun” jawab Wailea sambil berlalu meninggalkan Ketty dan Rezo. Rezo hendak mengejar Wailea, namun tertahan oleh pilihan yang diberikan Ketty. “Kalau kamu kejar dia, aku anggap kamu lebih memilih dia daripada aku” kata Ketty dengan lantang. Hal ini membuat Rezo tidak ada pilihan lain. Entah mengapa, hatinya berat melihat Wailea yang pergi dengan kehancuran hati. Rezo dilema setelah mendengar pengakuan Wailea yang mengatakan bahwa dia sudah mencintainya. Perasaan bersalah itu bertumbuh semakin besar dihati Rezo. Sambil menangis, Wailea berlari keluar dari kamar hotel. Langkah Wailea terhenti seketika saat ia menatap ke arah receptionist. Ternyata Luna, sang reception jug
Kemudian Helix bertanya, untuk apa mereka bertemu dan makan bersama. Lenny hanya menjawab jika memang ini hanyalah upayanya agar bisa berbincang tentang banyak hal dengan Helix. Helix memintanya untuk segera membahas apa yang ingin Lenny katakan, namun Lenny mencoba mengulur-ulurkan waktu demi bisa bersama Helix lebih lama lagi. Lenny menanyakan keadaan Helix, bagaimana pekerjaannya, apa kesibukannya saat ini dan lain-lain. Hal ini membosankan bagi Helix.“Silahkan, ini menunya” seorang pelayan restoran datang menghampiri meja Lenny dan Helix. Helix merasa terselamatkan saat pelayan ini datang.“Nasi goreng sapinya dua, mbak” kata Lenny tanpa menoleh. Ia masih saja sibuk melihat buku menu untuk mencari minuman.“Kentang goreng satu” kata Helix. Lenny menatap Helix sambil tersenyum. Membeli cemilan berarti dia ingin lama berbicara denganku, kata Lenny dalam hati. Lenny pun dengan semangat memilih minuman dan memesannya.
Helix lepas kendali, ia memukul pipi pria itu hingga bibirnya pun mengeluarkan darah. Suasa bahagia berubah menjadi kacau, Lenny sangat kebigungan. Receptionist segera memanggil petugas keamanan untuk melerai. Dengan perasaan yang teramat sakit, Helix bertanya siapa pria itu. Lenny pun tidak bisa mengelak lagi. Pria itu adalah Wijaya, kekasihnya selama satu tahun terakhir. Gilanya, Wijaya tahu tentang hubungan Helix bersama Lenny. Ini membuat Helix semakin panas dan geram. Setelah apa yang ia lakukan selama ini, begitu teganya Lenny padanya. “Sepertinya tidak ada masa depan dalam hubungan kita, Hel” kata Lenny dengan lantang. Kalimat itu bagaikan pedang yang menghujam jantungnya. Sakit, ya inilah yang membuat Helix menjadi seperti sekarang ini. Setelah sekian lama, Lenny kembali dan membangkitkan rasa sakit hati itu lagi. Helix semakin merasa benci pada Lenny setelah pertemuannya dengan Wailea. Helix merasa wanita itu seharusnya memiliki pendirian yang kuat akan pili
“Sialan!” Helix mendaratkan pukulannya di pipi seorang pria dengan penuh emosi. “Siapa, lo?” tanya pria mabuk itu yang terlihat kesakitan dan memegang rahangnya. “Pergi, lo!” teriak Helix. “Makanya punya cewek itu dijaga, jangan dibiarkan ke tempat ini sendirian!” sahut pria mabuk itu sambil berteriak dan berlalu meninggalkan Helix. Tempat yang bising ini membuat mereka harus berteriak agar suaranya terdengar. Helix melihat Wailea yang sedang menopang kepalanya pada lengan yang bertumpu pada minibar. Apa sebenarnya yang terjadi pada Wailea. Mengapa dia nekat pergi ke club sendiri tanpa ada yang menemani. Namun, pakaiannya sangat rapi, tidak selayaknya wanita yang hendak menghabiskan malamnya di dalam sebuah kotak gelap, bising dan pengap asap rokok. Helix mencoba untuk membantu Wailea agar bisa berdiri, tetapi kakinya begitu lemas hingga tak mampu menopang tubuhnya sendiri. “Helix” kata Wailea saat wajahnya berhadapan dengan wajah Helix. Aroma
“Jadi ini rumah kamu, Hel?” tanya Wailea yang tersengal-sengal.“Nampaknya nada bicaramu mengandung penyesalan! Lalu kamu berharap ini rumah siapa? Rumah pria-pria yang tidak ada sopan santunnya semalam?” teriak Helix kesal. Wailea meliriknya lalu menghela nafas.“Kenapa kamu bisa tahu aku ada di sana?” tanya Wailea sambil menatap Helix sinis. Helix terlihat gugup dan menggaruk kepala. “GPS lagi?” sambung Wailea.“Kalau bukan karena GPS, aku mana mungkin tahu keberadaanmu. Bisa-bisa kamu sudah dibawa orang yang tidak bertanggung jawab. Kamu mabuk dan tidak sadar sama sekali. Bukannya berterima kasih, malah marah” sahut Helix kesal.“Ya sudah, aku mau ke kantor dulu” kata Wailea. Helix memegang wajah Wailea dengan kedua tangannya lalu mengarahkan kepada jam dinding yang menempel di ruang tamu. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Wailea menghela nafas yang sangat dalam.
Dengan situasi ini membuat Helix yakin untuk menceritakan semuanya. Helix pun mulai menceritakan awal mula dirinya bertemu dengan Wailea. Melihat Wailea kala itu membuatnya berani untuk jatuh cinta lagi usai tersakiti oleh mantannya itu. Helix pun menceritakan usahanya untuk mencari Wailea bertahun-tahun lamanya, hingga akhirnya bisa bertemu Wailea namun ternyata dia sudah berstatus istri orang. Helix mengatakan jika dia melihat kejanggalan antara Rezo dan Wailea, ditambah beberapa kejadian aneh yang menimpa Wailea, inilah yang membuatnya berkomitmen untuk tetap menjaga Wailea hingga saatnya nanti Rezo bisa menjadi orang yang Wailea paling andalkan, saat itulah Helix akan menjauhi Wailea. Mendengar semua perjuangan dan usaha Helix untuk melindungi Wailea membuat Ruben tak mampu berkata-kata. Dia menyesal telah memukul Helix tanpa tahu ternyata orang yang dia pukul adalah orang yang selama ini menjaga menantunya. Lixy pun sangat terharu mendengar perjuangan anaknya. Begitu tulus dan s
Lea menjelaskan dengan sangat tulus jika awalnya dia berfikir jika Rezo dan dirinya akan sama-sama belajar mencintai, semua ini sebelum Wailea tahu jika ternyata Rezo masih memiliki hubungan dengan masa lalunya yang belum pernah berakhir. Sampai akhirnya disaat dia tahu, dia memutuskan untuk tetap bertahan demi kebahagiaan ibu dan juga ayah mertuanya. Wailea tetap berusaha untuk mempertahankan pernikahannya yang sebenarnya mustahil. Mendengar semua penjelasan Wailea ini seolah menyanyat hati Ruben dan juga Weni yang masih mendengarkan percakapan mereka dari kejauhan. Ruben dan Weni pun lemas dan merasa menjadi orang tua yang sangat buruk."Papa jangan sedih lagi ya. Semua ini hasil dari keputusan Lea yang harus Lea terima. Namun pada akhirnya Lea datang kesini itu memang karena batas kemampuan hati Lea sudah diujung. Ini juga keputusan yang Lea ambil. Papa jangan merasa bersalah, karena semua ini bukan salah papa atau siapapun." Wailea mencoba menenangkan Ruben.------Pagi hari yang
"Aku minta maaf sebesar-besarnya padamu Weni. Aku pun menyesali apa yang telah dilakukan Rezo." kata Ruben memohon maaf kepada Weni. Ruben memang sungguh menyesali untuk itu. Semuanya ini membuatnya merasa gagal menjadi seorang ayah, ayah mertua dan juga seorang sahabat bagi Weni."Bukan hanya dijaman dulu ya, Ben. Bahkan setelah berpuluh-puluh tahun pun kamu masih hebat dalam menyakiti perasaan orang" kata Lixy dengan sangat ketus. Perkataan ini membuat semua terheran dan bingung, apakah maksudnya?"Aku minta maaf untuk apapun yang kulakukan dahulu padamu Lixy dan apapun yang terjadi kini pada kamu Weni. Hanya itu yang bisa kuucapkan, tidak ada yang bisa kukatakan lagi selain maaf" kata Ruben dengan penyesalan yang mendalam.Keheningan terasa begitu mengcekam saat ini. Situasi sulit dan pelik yang bahkan tiada satupun bisa mengubahnya. Kebingungan dan pertanyaan yang semakin banyak terus menghantui masing-masing pribadi. Tetapi Weni sadar jika dia adalah sebagai tuan rumah yang sehar
Senja yang indah, dihiasi dengan suara burung yang saling bersahutan. Weni dan Lixy terlihat sibuk sedari tadi setelah mereka sampai di rumah. Wailea yang sudah mendapatkan penanganan dari rumah sakit pun kini sedang beristirahat di dalam kamar Weni.Hari mulai gelap, Wailea pun terbangun dan beranjak dari kasur menuju ruang tamu. Terlihat Weni dan Lixy yang sedang asik menata makanan diatas meja. Wailea berjalan perlahan dan menggapai Weni. Dia memeluknya begitu erat dari belakang. Weni tersenyum dan menghentikan aktifitasnya itu.Setelah puas, Wailea pun melepaskan pelukannya dan Weni berbalik menghadap Wailea. "Apakah tidurmu nyenyak, nak?" tanya Weni sembari mengusap lembut pipi Wailea. Lixy hanya tersenyum melihat keromantisan antara ibu dan anak di depannya itu sambil terus menata piring pada posisi meja masing-masing."Lea pikir Lea hanya bermimpi sedang berada di rumah mama" sahut Wailea melow."Kamu tidak bermimpi nak. Sekarang kamu duduk dan kita makan ya. Kamu tunggu disini
Pertemuan Weni dan Lixy bermula dari ketidaksengajaan. Setelah bertahun-tahun tahun lamanya mereka tidak saling tahu kabar masing-masing, akhirnya takdir mempertemukan mereka berdua.Kira-kira satu bulan yang lalu, ketika itu Weni sedang berbelanja kebutuhan rumah tangga di salah satu toko grosir terbesar di daerah rumahnya itu. Dari kejauhan Weni merasa tidak asing saat melihat wanita yang jaraknya sekitar lima meter di depannya itu, yang tengah memegang botol minuman soda sambil terlihat mencari-cari harga pada rak di depannya. Dengan segera Weni mendorong kereta belanjanya mendekati wanita yang dia curigai adalah Lixy. Saat dia sampai tepat di samping wanita itu, suara gemetar terdengar saat dia memanggil nama sang wanita "Lixyyy!!" Disaat itu juga Lixy terkejut bak mendapat undian kemenangan. Tangisan yang tidak bisa terbendung lagi disaat mereka memeluk satu sama lain. Suasana dipenuhi keharuan dan tangisan bahagia. Pertemanan yang sudah cukup lama dan akrab ini sudah tercipta da
Suasana mencekam terjadi di kantor polisi. Satu demi satu pertanyaan berikan oleh pihak kepolisian dengan tujuan agar setidaknya mendapat titik terang dalam kasus ini. Helix menjelaskan dengan sangat lugas kejadian yang dia tahu berdasarkan info yang dia dapatkan dari Luna. Ditengah ketegangan, ponsel Helix terus bergetar tanpa henti. Dua puluh dua kali panggilan tak terjawab dari sang ibunda yang membuatnya tak nyaman sedari tadi.Setelah akhirnya menyelesaikan proses bersama dengan pihak kepolisian, Ruben dan Helix kembali ke parkiran. Saat memasuki mobil, Helix sambil membuka notif ponselnya dan melihat puluhan panggilan tak terjawab itu lalu disambung dengan membuka pesan suara dari sang ibu."Heelllllllll, kenapa sih gak angkat-angkat, mama mau cerita looh" teriak sang ibu kesal. Dengan tenang Helix langsung menghubungi sang ibu. "Halo ma, ada apa?""Mama sudah kirimkan alamat mama saat ini, kamu harus datang segera ya" kata sang ibu bersemangat."Mama sakit? Mama kenapa?" tany
Setelah dua jam menunggu dan berbincang-bincang dengan Luna, Helix semakin gelisah karena Wailea tidak juga kembali. Helix pun bertanya pada Luna "apa Wailea ada cerita tentang rencananya?""Mbak Wailea bilang jika dirinya ingin pergi ke rumah ibunya" jawab Luna. Helix segera mengambil ponsel di saku celana dan kemudian membuka aplikasi tiket pesawat. Dilihatnya memang ada jadwal penerbangan satu jam lalu menuju Sumatra. Jika benar demikian, berarti Wailea sudah berada di dalam pesawat saat ini. Satu sisi Helix merasa lega karena Wailea mengambil keputusan yang tepat, tetapi disisi lain kekhawatiran hatinya masih tetap menyelimuti, karena Wailea harus berpergian seorang diri dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.Karena yakin jika Wailea memang sudah di dalam pesawat, Helix pun bergegas pergi dari rumah Luna menuju kantor. Dia ingin bertemu dengan Robin sembari menunggu kabar dari Wailea. Dia berharap Wailea akan menghubunginya ketika sampai di Sumatra.Ketika sampai di kantor, He
"Saya rasa istri bapak takut saat mendengar suara anda, makanya dia pergi dari sini tanpa membawa barang" ujar Luna saat Helix hendak menduduki kursi plastik merah di teras rumah Luna. Helix terheran, mengapa bisa wanita di hadapannya itu berfikir jika dia adalah suami dari Wailea. Helix pun bertanya-tanya siapakah wanita ini, karena baru pertama kalinya dia melihat Luna. "Saya ini resepsionis hotel di Bali yang berhasil anda buat kehilangan pekerjaan. Pantas saja anda tega kepada orang lain, kepada istri anda sendiri saja anda teganya bukan main" sahut Luna kesal. Helix semakin bingung dibuatnya. "Dari tadi saya perhatikan ucapan anda melantur tidak ada arahnya. Kenapa anda pikir saya ini suami Wailea?" tanya Helix penasaran. "Kalau anda bukan suaminya, lalu kenapa foto anda ada di dompetnya?" tegas Luna. Helix terdiam dan berfikir. "Saya tidak sengaja melihat foto anda di dompet mbak Wailea. Foto 3x4 sih, tapi sangat jelas kalau itu foto anda" lanjut Luna. Ingin rasanya Helix
Setelah selesai diobati, Wailea berjalan menuju toko disebelah klinik. Dia membeli sebuah topi dan masker. Tujuannya agar perban dikepala tidak terlihat dan wajahnya pun tidak terlihat karena ditutupi masker. Setelah itu kembali Wailea mencari taksi dan melanjutkan perjalanannya menuju bandara. Seolah sudah di lancarkan jalannya, disaat Wailea sampai dia pun langsung mendapatkan penerbangan tepat pada waktunya. Dia segera mengurus tiket dan lain sebagainya. Beberapa jam kemudian Wailea telah tiba di Sumatra. Tak sabar rasa hati ingin bertemu sang ibu dan memeluknya erat. Dia sudah membayangkan untuk menceritakan semua yang telah dialaminya selama ini. Setelah menggunakan kendaraan umum, Wailea pun sampai di halaman rumah sang ibu. Tangisan tak mampu lagi ditahan olehnya, dia segera berlari menuju pintu utama. Tooookkk... Tokk... Tokkk.. Suara ketukan pintu yang sangat lembut. Seseorang dari dalam rumah membukakan pintu. Wailea terkejut saat melihat seseorang yang tidak dia kenal be