“Oh, Mama? Ada apa?” Nayra tampak terkejut sekaligus gugup menerima panggilan mama mertuanya itu.“Kalian akan makan malam?” tanya Tamara.“I-iya, Ma. Ini sudah di jalan.”“Bisakah bujuk Devran untuk makan malam di butik mama saja? Aa sesuatu juga yang ingin aku bicarakan padanya.”Mendapat tawaran makan malam itu, sebenarnya dada Nayra berdegup cepat. Yang ada di otaknya hanyalah hal buruk yang akan terjadi kalau bersama wanita itu. Sayangnya dia tak pandai mengelak.“Sejak bersamamu Devran sulit sekali kuminta datang. Aku hanya minta dia datang untuk makan malam dan itu pun untuk membicarakan tentang papanya. Apa kau yang keberatan Devran datang?”Nayra merasa Tamara menuduhnya. Dia harus menyangkalnya. “Oh. T-tidak, Ma. Tentu aku sudah memintanya untuk datang saja ke butik Mama.”Devran yang menyetir di sampingnya jadi terusik. Dia tahu mamanya menghubungi Nayra agar bisa membujuknya datang.“Hhm, aku tunggu Devran datang ke butik. Batalkan acara makan malam kalian. Cobalah membuju
“Ma?” Devran menyahut seolah meminta mamanya itu tidak perlu lagi banyak bicara.“Kapan kita makannya?” tanya Devran lagi membuka piring. Daripada nanti malah runyam, lebih baik cepat makan malam lalu dia bisa membawa pulang Nayra.Ini semua gara-gara gadis bodoh itu. Sudah tahu seperti apa mamanya masih juga mendesak makan malam ke butik mamanya. Nayra tidak mau disangka menantu yang hanya bisa membuat jarak antara mertua dan suaminya itu. Tapi kali ini jadinya dia harus menelan pil pahit karena sekali lagi harus merasa disudutkan oleh sang mama mertua.Sungguh hatinya pedih. Wanita itu selalu memperlakukan dirinya yang merupakan istri putranya dengan seenak hatinya, sebaliknya malah menyayangi sepenuh hati mantan kekasih anaknya itu. Bahkan dia sangat mencemaskannya. “Damayanti ini sangat berjasa di karir mama. Tanpa dia butik dan rancangan baju mama tidak dikenal banyak orang. Jadi, kalau mama memintanya tinggal di butik itu juga karena rasa terima kasih mama.” Tamara tak behen
Devran hanya diam sepanjang jalan setelah memutuskan untuk undur diri dari makan malam yang sungguh tak nyaman lagi itu.Apalagi dia mendengar Nayra menemui Ananda.Kesal karena gadis itu tadi mengaku menemui sahabatnya dan tidak mengatakan kalau sudah menemui Ananda.Padahal Devran sudah sangat jelas mengancamnya kemarin. Masih bisa juga dia membohonginya?Sejak kapan dia pandai berbohong?Ada apa dia dengan Ananda?Benar-benar minta dihukum!“Mas?” panggil Nayra yang serba salah. Antara takut, cemas dan tidak ingin Devran salah paham.Melihat Devran bergeming, Nayra tidak menganggunya dulu. Dia masih menyetir. Dia akan menunggu mereka sampai di apartemen dulu baru nanti mereka akan bicara.Nayra akan menjelaskan tentang pertemuannya dengan Ananda dan mengapa dia tidak memberitahukan
“Oh, apa?”Nayra lagi-lagi terkejut Aulia membahas hal itu. Temannya ini memang sangat jeli sekali pada sebuah permasalahan. Padahal dia belum juga menceritakannya.Aulia pasti menebaknya karena kemarin Nayra menyampaikan Devran sama sekali tidak menceritakan tentang Dokter Ananda adalah sepupunya. Bisa saja dia menganggap Devran tidak suka dia lebih dekat dengan Ananda.“Masa hanya karena hal itu dia marah, Nay? Aku jadi heran deh, suamimu itu anak kecil atau gimana?”Aulia sama sekali belum bertemu dengan Devran. Dia hanya menyimpulkan bagaimana Devran dari sedikit hal yang dia ketahui.“B-bukan, Ul. Aku hanya tidak enak saja tidak memberitahunya kalau kami bertemu di sebuah kafe.” Nayra akhirnya mencuplik sedikit tentang masalahnya.“Ya sudah. Kalau dia tidak bertanya atau mengusiknya, jangan dipermasalahkan. Santa
“Nay, kau dari mana saja?” Aulia terburu menghampir Nayra yang masih menggandeng keponakannya.“Ini Delia minta pipis. Dia nyari kamu tadi tapi kamunya masih asyik pilih-pilih baju. Jadi aku anterin saja,” tukas Nayra melihat temannya itu.Heran, hal apa yang membuatnya seolah ada yang hendak di sampaikannya?“Ada ap, Ul?”“Kamu tidak lihat di GC kelas kita, ada kabar Dokter Ananda digebukin orang. Sekarang katanya di rawat di Rumah Sakit!”“Oh, apa?”Nayra sampai menutup mulutnya. Sedih saja kalau Ananda yang baik padanya kini terkena musibah.Nayra dengan tergesa mengambil ponselnya. Hendak menghubungi Ananda. Tapi dia juga penasaran berita yang di share di grup chat kelas mereka. Jadinya jemarinya mengusap grup chat kelasnya dan mendapati beberapa video rek
“Kami tidak seperti itu, Tante! Saya bertemu Dokter Devran juga sebagai sepupu!”“Cih! Sepupu katamu? Sepupu Ananda itu Devran bukan kamu. Siapa kamu sok jadi sepupu? Pernikahan siri juga!”Deg!Nayra tampak sekali tertampar dengan ucapan Rosa yang tak ada bedanya dengan Tamara. Mereka dengan kompak sekali menolak mengakui dirinya.“Tidak sudi ya keluarga kami menerima gadis hina tak jelas sepertimu. Keluar dan jangan muncul di hadapanku lagi!” Rosa dengan marah mengusir Nayra.Nayra yang terhina itu hanya menganguk dan berbalik badan untuk pergi dari hadapan Rosa. Perasaannya begitu meradang diusir dan dimaki-maki seperti itu.Namun baru beberapa langkah, dia menabrak tubuh seorang pria.“Mas Devran?”Nayra mendongakan kepalanya dan mendapati Devran sudah berdiri di depannya.Pria itu menatap sang tante. Mendengar sendiri istrinya dimaki-maki dan sekarang melihatnya berkaca-kaca, Devran jadi kesal dan tidak terima.Kesal karena gadis ini tambeng sekali. Sudah tahu berkali-kali mendapa
Meja makan sudah penuh makanan saat Nayra hendak memasak. Apa pria itu sudah memesan makanan?Masih punya pikiran juga Devran memesankan makanan setelah semalam sudah menghajarnya hingga begitu lelah.Pagi ini, tubuh Nayra masih lemas. Jadi merasa senang kalau Devran tak memintanya memasak.“Duduklah, aku sudah menyiapkan banyak makanan untukmu!” Devran menarikan kursi untuk Nayra.“Terima kasih, Mas!” ujar Nayra dan duduk di kursi itu.Sikapnya yang masih perhatian itu membuat Nayra frustasi. Terkadang dingin, terkadang perhatian, terkadang begini, terkadang begitu. ‘Aaah. Tidak tahulah!’ Nayra bermonolog dalam hatinya.“Tumben Mas pesan makanan?”“Aku tidak pesan!”“Siapa yang masak?” Nayra heran.“Memangnya kau lihat orang lain di rumah ini?” Devran protes Nayra sama sekali tidak menyangka kalau dirinyalah yang memasak semua makanan ini.“Oh. Mas Devran bisa masak?” Nayra terkejut dan baru tahu kalau sebenarnya pria ini bisa masak beberapa jenis masakan.“Jangan heran begitu, ha
“Di mana ini, Mas?”Nayra menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tahu sebenarnya ini tempat apa?Mereka duduk di bantal kantong kacang di lantai, sembari melihat pemandangan kota Jakarta dari Jendela kaca besar di ruangan itu. Seorang pelayan datang menyuguhkan minuman dan camilan untuk mereka.“Mas tidak ke kantor, kah?” tanya Nayra sembari menyeruput minuman di gelas.Yang ditanya sibuk dengan ponselnya.Nayra mengerucutkan bibirnya.Kalau tidak niat mengajaknya keluar, tidak perlu juga melakukannya.Lihatlah, Devran tak lepas dari ponselnya. Itu ponsel baru lagi. Entah sudah ke berapa kali dia membanting ponselnya. Mentang-mentang bisa membeli lusinan ponsel setiap hari!“Ada apa?” Devran baru melirik Nayra yang cemberut itu.“Aku sejak tadi tanya, lho!”“Pertanyaanmu enggak penting juga, toh?”Nayra kembali sebal. Membiarkan pria itu masih memeriksa ponselnya.Entah apa saja yang dilakukan dengan ponselnya. Seberapa banyak pesan yang masuk dan butuh untuk dijawabnya.Jadi penasaran
“Pak Devran bilang, nyonya diantar ke rumah sementara waktu untuk beristirahat.” Kiki diminta Alana menunjukan di mana Nayra berada.Kini mereka sudah ada di depan rumah Nayra sementara Devran sudah pergi menemui Musa dan Yas di tempat yang sudah mereka sampaikan tadi.“Bapak mau menemui Nyonya Nayra langsung?” Kiki menghentikan langkah kaki Alana yang begitu tidak sabar menaiki tangga pintu utama rumah itu.“Apa?” Alana baru tersadar bahwa Nayra belum pernah bertemu dengannya. Tentu akan sangat terkejut kalau dirinya langsung saja menemuinya tanpa pemberitahuan dulu. “Maksud saya, apa perlu memberitahu nyonya dulu, Pak?” Kiki menandaskan.Alana memgangguk. Itu akan lebih baik dan terkesan beretika.Tentang kenyataan Nayra adalah anak kandungnya, Kiki dan yang lain tidak diberitahu.Ini urusan pribadi mereka dan tidak boleh bocor ke orang lain walau itu orang yang sangat dipercaya. Terkecuali Yas dan Musa.Karenanya wanita ini pasti mengira dirinya hanya ingin sebatas menemui sang
“Ada apa, Papa menelpon sebanyak ini?” Devran tampak heran ketika notif panggilan dari papanya baru dilihatnya.Dia dan Nayra tidak langsung ke rumah sakit, tapi mampir dulu ke rumah yang dibelinya untuk Nayra. Mengira Farah sudah di sana ternyata belum.“Apa ada yang serius dengan nenek, Mas?” Nayra bertanya.Dia menarik selimut agar tubuh polosnya tak terekspos. Seminggu tidak ketemu membuat mereka menyempatkan untuk melepas kerinduan sejenak.“Mudah-mudahan tidak, Sayang. Aku hubungi papa dulu.” Devran keluar kamar untuk menghubungi Alana. Namun sejak tadi yang terdengar adalah nada sibuk.Tak lama dari itu, panggilan dari Musa masuk.“Ya, Om, ada apa?” Devran langsung bertanya saat mengusap layar untuk menerima panggilan.“Mas Devran, bisa temui kita di Kafe Cemara?” suara Musa tampak lemah dan tak seperti biasanya. Membuat Devran jadi merasa ada yang tidak beres.“Ada apa? Nenek baik-baik saja kan, Om?” Devran penasaran.“Nyonya Renata sudah balik ke rumah keluarga, dia tadi ha
"Kita langsung ke rumah sakit saja, Ki. Tidak enak kalau tidak menengok neneknya Devran." "Baik, Bu. Pak Yas akan mengantar kita ke rumah sakit," ujar Kiki yang kemudian diangguki Yas yang menyupiri mereka. Seminggu ini sudah banyak merenung dan menyadari, bahwa apa yang terjadi di masa lalunya tidak seharusnya membuatnya menutup diri.Dia punya tanggung jawab sebagai orang tua Nayra. Menemui besannya di Jakarta dan menjelaskan sedikit miss komunikasi.Mungkin selama ini mereka sudah diberitahu bahwa orang tua Nayra sudah meninggal. Tapi Farah harus menyampaikan kebenarannya.Bagaimanapun Nayra sudah menjadi bagian dari keluarga orang lain, Farah juga ingin secara semestinya menitipkan sang putri agar bisa diterima dengan baik oleh keluarga Devran.Dengan begitu, Farah berharap keluarga Devran bisa memperlakukan Nayra dengan baik. Tak mau saja Farah mendengar putrinya disisihkan di keluarga orang kaya seperti Devran.“Di sini, Bu Farah,” ujar Kiki menunjukan pintu ruang rawat in
“Sialan pria itu? Mau apalagi masih menemui Nayra?” Devran menggerutu di sepanjang jalan.Setelah memastikan sudah tidak ada yang menghawatirkan pada kesehatan Renata, Devran pamit mau menjemput Nayra di bandara.Alana juga tidak keberatan apalagi Nayra datang bersama orangtuanya. Tidak enak saja pada besannya itu.Dengan cepat dia sampai di Bandara. Saat hendak keluar mobil, Devran menghela napas panjang menenangkan dirinya.Terkadang dia suka konyol kalau sudah cemburu.Jadi mending memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk menyudahi kekurangajaran sepupunya itu yang masih juga berharap pada wanita yang sudah menjadi istrinya itu.“Nay, belum selesai urusannya?” Devran membuat dua orang yang masih mengobrol itu terkejut.Tadinya Devran ingin membiarkan mereka masih mengobrol, namun karena Ananda seolah mendesak dan masih ingin mempengaruhi Nayra, Devran tidak tahan.“Mas Devran?” Nayra bangkit dan menoleh ke arah di mana tadi Farah dan Kiki menunggunya namun sudah tak nampak la
“Emir, kenapa kau cepat sekali pergi. Lihatlah, keponakanmu itu kembali dan mengacaukan hidup putra dan cucumu!”Renata menangisi nasib keluarganya setelah mendengar kabar bahwa perusahaannya kembali diambil alih oleh keponakannya.Foto mendiang suaminya di elus-elusnya lalu dipeluknya sambil menangis.“Ma?” suara Alana membuat Renata teralihkan.“Tidak ada yang berubah kecuali sahamku yang berkurang dan kita juga tidak memerlukan banyak uang lagi. Alana akan ikut mama ke Edinburgh. Kita nikmati hari-hari di sana dengan tenang.”Mendengar hal itu Renata malah menampar pipi putranya itu.“Kau hanya memikirkan dirimu sendiri Alana! Kau tidak memikirkan nasib Devran. Dia juga punya hak untuk menikmati kejayaan perusahaan yang dibesarkan kakeknya,” ujarnya dengan kesal.Alana hanya menunduk dan tak berhak marah atas tamparan mamanya itu. Mungkin Renata kecewa dan tidak mau melihat usaha suaminya sia-sia.Sebenarnya Alana ingin menyampaikan pada Renata bahwa Devran tetaplah menjadi seora
“Tidak apa, Mas. Pulang kampung saja ke Diraja. Di sini banyak lowongan pekerjaan kok.” Nayra malah mencandai Devran. Sampai mau mencarikannya lowongan pekerjaan segala.“Lowongan apa?”Ternyata gadis ini lebih bersemangat mencarikan lowongan pekerjaan untuknya daripada bersedih mendengarnya kemungkinan tidak akan jadi presdir lagi.“Kayaknya Pak RW baru meninggal dunia. Jadi ada tuh lowongan jadi Pak RW.”“Hah?!”Bahkan mengatakan itu Nayra sama sekali tidak terkekeh atau terdengar bercanda.Serius dia ingin dirinya jadi PK RW?“Kok Pak RW? Jauh amat Nay. Dari Presdir perusahaan terbesar di negara ini, ke Pak RW?”Nayra terkekeh. Tadi dia baru membayangkan Devran menjadi Pak RW di lingkungannya.“Sialan kamu!” Devran menggerutu tapi tidak kesal. Malah ikutan terkekeh mendapat saran dari Nayra agar menjadi RW saja.Lumayanlah melepaskan ketegangan seharian ini.“Mas Devran kangen tidak sama aku?” Nayra kembali bertanya.“Kangenlah, Sayang!”“Kangen apanya?”“Masa harus didetailkan be
“Papa juga tidak akan mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Jadi jaga bicara Anda pada papa saya!”Devran pasang badan ketika pria itu mencecar Alana lah yang menyerobot perusahaan yang seharusnya menjadi haknya, bukannya dia yang malah dikata menyerobot.Ada anak muda yang menatapnya dengan keberanian penuh, bukannya marah, Ludwig justru tersenyum. “Aku bangga dengan sikapmu ini, Nak. Kau memang pantas membela papamu itu. Tapi kau tidak tahu banyak hal yang terjadi di masa lampau. Jadi jangan hanya menilai dari satu sisi saja.”“Mari kita duduk dan selesaikan bersama dengan kepala dingin, Paman.” Suara Devran menurun mengajak Ludwig agar bisa membahas semuanya dengan baik.“Kenapa memanggilku paman?”Ludwig sedikit terkajut mendengar Devran memanggilnya paman.Sepertinya dia lupa kalau Devran adalah putra sepupunya. Tidak salah juga kan kalau dia memanggilnya paman?“Maaf, maksudku—Tuan Ludwig.” Devran mengoreksi panggilannya melihat reaksi tidak suka pria itu saat dia memanggiln
“Sekarang kau percaya padaku, kan? Kalau Tamara itu tidak pernah tulus pada keluarga kita. Apapun yang dilakukannya karena memang ada tujuan di sebalik itu semua.”Renata tampak murka mendengar bahwa perusahaan yang selama ini dipertahankan oleh suaminya, kini diperebutkan lagi oleh keponakannya itu.“Sudah, mama tidak usah ikut memikirkannya.” Alana mencoba menenangkan Renata.“Bagaimana aku tidak ikut memikirkan? Aku tahu bagaimana kondisi perusahaan itu saat Dekka meninggal. Banyak investor mulai menarik sahamnya, mosi tidak percaya di mana-mana terhadap perusahaan ini, Emeraldo yang mempertahankan dengan susah payah, merubah nama Dekka group menjadi Emeraldo, hingga kembali bangkit dan berjaya seperti sekarang, lalu enak saja dia bilang kita merebutnya?” “Papa benar, Nek. Biar kita yang mengurusnya. Nenek istirahat saja.” Devran yang baru datang ikut menenangkan sang nenek.“Tapi, Dev. Nenek kesal sekali pada mamamu itu. Dia malah membela mantan suaminya itu demi mendapatkan se
“Dengar, Sayang. Sebenarnya perusahaan itu dulunya adalah perusahaan Tuan Dekka, ayah dari Ludwig. Dia saudara dari Tuan Emeraldo. Seharusnya setelah Tuan Dekka meninggal, perusahaan itu menjadi hak sepenuhnya Ludwig. Hanya saja Ludwig difitnah sudah membunuh Tuan Dekka, hingga dia dipenjara dan kehilangan hak warisnya. Otomatis perusahan itu diambil alih Tuan Emeraldo sebagai saudara laki-laki Tuan Dekka.”Devran mengernyitkan dahinya mendengar kata demi kata sang mama yang menjelaskan tentang siapa itu Ludwig.“Jadi, Ludwig itu sepupu papa?” Devran menyederhanakan informasi yang didengarnya.“Benar. Dia kembali untuk menuntut haknya.”Namun sejauh ini, Devran masih belum bisa menerima banyak hal. Mengapa justru sang mama lebih membela pria itu daripada papanya? “Oke, pria yang selama ini bersama mama itu adalah sepupu papa. Lantas, mengapa mama lebih membela pria itu?”Devra tadinya mau menambahi kenapa demi sepupu papanya itu mamanya sampai menikung semua aset yang ada di perusa