Oh. Bagaimana Nayra sampai teledor dan tidak tahu ada bekas kissmark di leher putihnya?
Apa ada yang lihat selain Aulia?Jangan-jangan dosennya tadi juga sudah melihatnya.Aaaah. Memalukan sekali!“Kau bukan gadis yang seperti itu kan, Nay?” Aulia mempertegas. Dia tahu Nayra gadis yang baik dan sudah menganggapnya teman baik pula.“Ya Allah, Ul. Tentu saja tidak. Jangan berpikir macam-macam padaku.”Nayra menatap temannya itu dengan harapan dipercaya. Dia baru merasa nyaman memiki teman tempat curhat dan berkeluh kesah seperti Aulia. Tidak mau Aulia sampai berpikir yang bukan-bukan tentangnya. Karenanya, Nayra memutuskan mengatakan sedikit hal tentang kebenaran hidupnya pada Aulia.“A-aku sebenarnya sudah menikah, Ul. Tapi please jangan bilang siapa-siapa ya?” Nayra menggenaggam tangan temannya itu.“Astaga, Nay. Kenapa kau setakut itu. Sah-sah saja kok kalau kamu sudah menikah. Tidak ada yang buruk teDeg!Nayra seketika terkejut lantaran Tamara belum apa-apa malah mengomentari gaun yang dipakainya.Gadis itu mana tahu gaun apa yang semestinya dipakai untuk menghadiri sebuah pesta yang katanya hanya untuk syukuran keberhasilan acara pergelaran busana di New York?Sontak dia menolah ke sekitar dan baru menyadari orang-orang yang datang adalah para pejabat dan juga para artis dengan pakaian yang glamour.Dia benar-benar seperti sampah di tempat ini.“Oh, M-maaf, Ma. Aku...” Nayra jadi bingung harus bagaimana.Hingga Tamara menariknya mendekat hanya untuk berbisik, “Jangan dekat-dekat denganku, sorot kamera akan terus mengawasi. Sebaiknya, duduklah di pojok sana dan jangan sampai terlihat kamera!” Nayra tahu dia yang salah karena tidak bertanya dulu seperti apa pesta yang diselenggarakan mertuanya itu hingga merasa tidak perlu sampai harus membeli baju khusus agar terlihat pantas.Tadi saat berangkat Nayra hanya memakai gaun sewajarnya saja yang dipakai untuk acara formal atau seb
Langkahnya terhenti saat berjalan menuju toilet tapi malah melihat wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Devran.Nayra membeku, tertegun, sedih, dan terluka. tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melihatnya dengan meradang. Seolah belum cukup semua orang merendahkan dirinya di tempat ini. Lalu Devran malah menyayat perasaannya dengan terlihat bersama Damayanti.“Nona, saya mencari Anda sejak...” Rio menghampiri Nayra yang membeku itu. kata—katanya tidak berlanjut lantaran juga melihat apa yang dilihat Nayra.Suara Rio membuat Devran yang tak jauh dari tempat itu menoleh. Dia baru melihat Nayra sudah ada di belakang punggungnya sedang menatapnya.“Nay?”Devran melepas Damayanti dan hendak berjalan pada Nayra. Namun tiba-tiba wanita itu pingsan dan terkulai di lantai.Tentu Devran yang masih di sampingnya tertahan karena hal itu.Akan terlihat tidak berperi kemanusiaan saja kalau membiarkan ada seseorang yang terkulai di kakinya sementara dia tetap melanjutkan jalannya.“Rio
“Terima kasih, dok!” Nayra membungkuk di samping mobil Ananda setelah turun di sebuah jalan.“Kau yakin tidak mau diantar sampai rumahmu?” Ananda merasa tidak puas. Gadis ini malah meminta diturunkan di jalanan saja.“Tidak perlu, dok. Gang rumah saya sempit. Jadi, daripada nanti malah ribet mobilnya, saya turun di sini saja.” Nayra masih membuat alasan. Entah sejak kapan dia pandai sekali berbohong.“Ya sudah, hati-hati,” ucap Ananda pada akhirnya.Namun dia memanggil Nayra lagi hanya untuk menyampaikan, “Kalau besok kau masih kurang nyaman, tidak perlu kuliah saja. Aku bisa memberi ujian susulan untukmu,” ujar Ananda.Besok kebetulan ujian Nayra adalah mata kuliah yang diajarnya. Gadis ini baru mengalami kecelakaan kecil, bisa jadi nanti malam atau besok efek rasa tidak nyaman mungkin akan dirasanya.“Oh. Terima kasih, dokter. Tapi, mudah-mudahan aku tetap bisa ke kampus.”Mobil itu kemudian berjalan pergi. Nayra menghela napas lega. Dia langsung mencari kendaraan agar bisa menganta
Saat terjaga di malam buta itu, Devran meraba tempat di sampingnya yang kosong. Dia langsung bangkit dan mencari-cari Nayra. Pasalnya sebelum tidur tadi Nayra mengeluhkan tubuhnya terasa sakit semua.Ke mana lagi gadis itu di jam selarut ini?Tempat pertama yang dia periksa adalah kamar mandi. Takut saja Nayra kenapa-kenapa di sana.Tapi karena tidak ada di sana, Devran pun keluar kamar. Dia mendapati Nayra masih duduk di sofa sembari membuka laptopnya.“Ini sudah larut, kenapa kau masih begadang?” Devran menghampiri dan duduk di sampingnya.“Besok ada ujian,” ujar Nayra tak beralih dari laptopnya.“Izin saja, kau sedang sakit.” Devran mengambil alih laptop Nayra tapi Nayra menahannya. Keduanya saling menatap rumit.“Tolong, Mas. Aku hanya ingin belajar,”
Paginya ada sedikit drama kecil lagi ketika Nayra sudah tampak rapi hendak ke kampus, sementara Devran sudah memintanya untuk beristirahat dulu.“Aku sudah baik-baik saja, kok, Mas!”“Aku kenal banyak dosen di sana. Bahkan rektornya pun aku kenal. Kalau kau tidak ikut ujian pun, itu tidak akan jadi soal.” Mendengar itu Nayra tidak sepakat. Dia tahu Devran berkuasa dan punya banyak uang. Tapi Nayra sungguh ingin menjalani proses kuliahnya dengan baik dan alami. Agar benar-benar bisa menyerap apa yang di dapatnya dari bangku kuliah.“Memangnya kenapa kalau Mas Devran kenal?”“Gampanglah kalau sekedar minta izin!”“Enggak mau, ah! Indonesia ini rusak hanya karena orang-orang yang sewenang-wenang dengan kuasanya.”Devran terkekeh, “Jauh amat mikirnya! Rusak dari mana, Mb
“Maaf, Nona. Pak Devran meminta saya memastikan Nona kembali ke apartemen.” Rio mengatakan apa adanya sesuai perintah bosnya.“Tidak apa, nanti aku akan memberitahunya sendiri,” ujar Nayra.Rio tidak memaksa. Dia pun kembali ke mobilnya dan meninggalkan Nayra. Nayra menatap mobil itu berlalu dan baru mendengus sedih. Lalu dengan langkah lemas berjalan menuju taman kampus.Sebenarnya tidak berniat ingin memenuhi urusannya dengan Ananda. Tapi itu hanya sebersit ungkapan kecewanya saja pada Devran yang dengan seenak hatinya membuat janji-janji sendiri lalu membatalkannya sendiri.Nayra paham ada yang sedang kesusahan. Namun dia juga bukan orang bodoh. Damayanti bukan siapa-siapa Devran hingga dia punya tanggung jawab untuk membatalkan janjinya dengan Nayra dan lebih memilih menengoknya di rumah sakit—yang itu bisa saja dilakukannya lain wak
“Sedang apa kau di sini?!”Devran sedang meeting di kafe ini dan tiba-tiba mendapati istrinya berdua bersama seorang pria. Dan pria itu sedang memegang tangannya saat ini.Rio mengatakan Nayra menolak dijemputnya karena ada urusan dengan dosennya. Jadi inikah urusannya?Ketika dia menegurnya, dua orang itu terlihat kelabakan dan tiba-tiba menoleh ke arahnya bersamaan.Tentu saja dia terkejut karena baru melihat siapa pria yang bersama Nayra.“Mas Devran?” tukas Nayra terkejut. Begitu sadar tangannya masih digenggaman Ananda dia buru-buru melepasnya.“Devran?” Ananda menatap Devran yang tampak murka itu. Tak menyangka saja akan bertemu dia di tempat ini.Nayra juga baru tahu kalau Ananda ternyata mengenal Devran.Ananda menatap Nayra dan mencoba meminta penjelasan apa hubungannya dengan Devran? Tapi pria itu suda
“Aku tidak kencan, lho!”Nayra menolak dibilang kencan. Karena dia memang tidak berkencan dengan Ananda.Dia ingin mencecar dengan langsung bertanya tentang Damayanti. Sayangnya pria ini masih menikmati makannya.Nayra merasa tidak sopan banyak bicara saat makan. Jadi dia memilih mempermainkan ponselnya sembari menunggu Devran selesai makan. Namun pikirannya masih tidak terima jika saja Devran saat ini akan menyalahkannya. Kalau saja dia tidak membuatnya kecewa tentu Nayra sudah berkencan bersamanya sesuai janji mereka, dan bukan bersama Ananda. “Salah sendiri! Siapa suruh ingkar janji!” hanya bisa menggerutu lirih. Mudah-mudahan Devran tak mendengarnya.Ternyata pria itu mendengarnya juga. Dengan cepat menyelesaikan makannya dan beralih pada gadis yang masih membuatnya kesal itu.&l
“Tidak apa, Mas. Pulang kampung saja ke Diraja. Di sini banyak lowongan pekerjaan kok.” Nayra malah mencandai Devran. Sampai mau mencarikannya lowongan pekerjaan segala.“Lowongan apa?”Ternyata gadis ini lebih bersemangat mencarikan lowongan pekerjaan untuknya daripada bersedih mendengarnya kemungkinan tidak akan jadi presdir lagi.“Kayaknya Pak RW baru meninggal dunia. Jadi ada tuh lowongan jadi Pak RW.”“Hah?!”Bahkan mengatakan itu Nayra sama sekali tidak terkekeh atau terdengar bercanda.Serius dia ingin dirinya jadi PK RW?“Kok Pak RW? Jauh amat Nay. Dari Presdir perusahaan terbesar di negara ini, ke Pak RW?”Nayra terkekeh. Tadi dia baru membayangkan Devran menjadi Pak RW di lingkungannya.“Sialan kamu!” Devran menggerutu tapi tidak kesal. Malah ikutan terkekeh mendapat saran dari Nayra agar menjadi RW saja.Lumayanlah melepaskan ketegangan seharian ini.“Mas Devran kangen tidak sama aku?” Nayra kembali bertanya.“Kangenlah, Sayang!”“Kangen apanya?”“Masa harus didetailkan be
“Papa juga tidak akan mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Jadi jaga bicara Anda pada papa saya!”Devran pasang badan ketika pria itu mencecar Alana lah yang menyerobot perusahaan yang seharusnya menjadi haknya, bukannya dia yang malah dikata menyerobot.Ada anak muda yang menatapnya dengan keberanian penuh, bukannya marah, Ludwig justru tersenyum. “Aku bangga dengan sikapmu ini, Nak. Kau memang pantas membela papamu itu. Tapi kau tidak tahu banyak hal yang terjadi di masa lampau. Jadi jangan hanya menilai dari satu sisi saja.”“Mari kita duduk dan selesaikan bersama dengan kepala dingin, Paman.” Suara Devran menurun mengajak Ludwig agar bisa membahas semuanya dengan baik.“Kenapa memanggilku paman?”Ludwig sedikit terkajut mendengar Devran memanggilnya paman.Sepertinya dia lupa kalau Devran adalah putra sepupunya. Tidak salah juga kan kalau dia memanggilnya paman?“Maaf, maksudku—Tuan Ludwig.” Devran mengoreksi panggilannya melihat reaksi tidak suka pria itu saat dia memanggiln
“Sekarang kau percaya padaku, kan? Kalau Tamara itu tidak pernah tulus pada keluarga kita. Apapun yang dilakukannya karena memang ada tujuan di sebalik itu semua.”Renata tampak murka mendengar bahwa perusahaan yang selama ini dipertahankan oleh suaminya, kini diperebutkan lagi oleh keponakannya itu.“Sudah, mama tidak usah ikut memikirkannya.” Alana mencoba menenangkan Renata.“Bagaimana aku tidak ikut memikirkan? Aku tahu bagaimana kondisi perusahaan itu saat Dekka meninggal. Banyak investor mulai menarik sahamnya, mosi tidak percaya di mana-mana terhadap perusahaan ini, Emeraldo yang mempertahankan dengan susah payah, merubah nama Dekka group menjadi Emeraldo, hingga kembali bangkit dan berjaya seperti sekarang, lalu enak saja dia bilang kita merebutnya?” “Papa benar, Nek. Biar kita yang mengurusnya. Nenek istirahat saja.” Devran yang baru datang ikut menenangkan sang nenek.“Tapi, Dev. Nenek kesal sekali pada mamamu itu. Dia malah membela mantan suaminya itu demi mendapatkan se
“Dengar, Sayang. Sebenarnya perusahaan itu dulunya adalah perusahaan Tuan Dekka, ayah dari Ludwig. Dia saudara dari Tuan Emeraldo. Seharusnya setelah Tuan Dekka meninggal, perusahaan itu menjadi hak sepenuhnya Ludwig. Hanya saja Ludwig difitnah sudah membunuh Tuan Dekka, hingga dia dipenjara dan kehilangan hak warisnya. Otomatis perusahan itu diambil alih Tuan Emeraldo sebagai saudara laki-laki Tuan Dekka.”Devran mengernyitkan dahinya mendengar kata demi kata sang mama yang menjelaskan tentang siapa itu Ludwig.“Jadi, Ludwig itu sepupu papa?” Devran menyederhanakan informasi yang didengarnya.“Benar. Dia kembali untuk menuntut haknya.”Namun sejauh ini, Devran masih belum bisa menerima banyak hal. Mengapa justru sang mama lebih membela pria itu daripada papanya? “Oke, pria yang selama ini bersama mama itu adalah sepupu papa. Lantas, mengapa mama lebih membela pria itu?”Devra tadinya mau menambahi kenapa demi sepupu papanya itu mamanya sampai menikung semua aset yang ada di perusa
“Ma, kenapa tidak ikut saja sih?” Nayra membujuk Farah .Nayra tahu sedikit hal bahwa sang mama masih belum mau pergi ke Jakarta. Dia punya kenangan yang menyedihkan di kota itu dan belum menyiapkan mentalnya untuk kembali ke kota itu. Farah baru merasa nyaman kembali ke Indonesia dengan tinggal di kota kelahirannya ini. jadi masih belum mau pergi-pergi dulu. “Nantilah mama akan datang ke Jakarta. Tapi tidak sekarang, Nay. Kau segera persiapkan diri untuk ikut suamimu ke Jakarta.”Farah tidak akan seterusnya menghindari kota itu. Tapi hanya perlu menyiapkan mentalnya saja. Bagaimanapun putrinya masih harus berkuliah dan juga menemani sang suami di Jakarta. Suatu saat dia pun harus datang mengunjungi mereka.Nayra menyiapkan barang-barang Devran karena harus segera ke Bandara, sedangkan sejak tadi Devran tak berhenti menghubungi banyak orang. Selesai menutup panggilan yang satu, balik menghubungi yang lain, bagitu berakhir disambung dapat panggilan lagi. Entah ada urusan segentin
“Ada apa, Ma?” Devran mengangkat panggilan dari Tamara dengan sedikit malas.Setelah beberapa hari ini Tamara tidak mengusiknya, tiba-tiba kali ini menghubunginya, Devran sepertinya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan wanita ini kembali membuatnya harus bersabar.“Sedang apa kau di sana?” di kata pertama Tamara sudah terdengar kesal.“Aku bersama Nayra, Ma.” Devran jujur. Mamanya itu pasti sudah tahu. Ada pria yang akan selalu menuruti apapun keingintahuannya. “Cepat balik, perusahaan sedang membutuhkanmu.” Tamara mendesak.Baru beberapa hari yang lalu papanya mengatakan semua baik-baik saja. Lalu untuk apa mamanya malah mendesaknya balik ke Jakarta?Devran menghela napas lelah. Apa lagi yang diinginkan mamanya ini?“Aku masih ada urusan, Ma. ada proyek di Kota Diraja yang harus aku resmikan minggu depan. Aku akan datang setelah itu.”“Devran, aku bilang cepat balik dan jangan membantahku!” Tamara sampai meninggikan suaranya sebagai tanda bahwa ini sesuatu yang tak bisa di
“Ah, Mas?”Nayra menjambaki rambut kepala Devran yang terus menyerusuk di dadanya mencari kenyamanan diri. Tapi pria ini bukannya berhenti justru semakin bersemangat hingga seperti biasa Nayra menjerit-jerit dan menggelinjang. Tampaknya dia suka sekali mendengar Nayra mengeluarkan suara mesra itu di bawah kuasanya.Ciumannya tak cukup lagi di bibir, leher, dan dada. Tapi dengan nakalnya malah melorot semakin ke bawah.Nayra hampir meledak dibuai kelakuan pria ini. Tapi Devran mana mau melepasnya begitu saja kalau tidak sampai serak tenggorokan Nayra karena desahan jeritan manjalitanya.Beberapa gaya mereka coba eksplor, dari dengan berdiri, duduk, nungging, atau tiduran. Di bathtub, di meja, di sofa dan berakhir di tempat tidur, semuanya mereka lakukan dengan sama—sama bergairah dan menyenangkan.Hingga Nayra lemas, belum bisa mengimbangi tenaga pria ini yang sungguh bak kuda yang tak habis-habis. Tubuh Nayra kini jadi seperti jeli yang hanya bisa terkulai di tempat tidur karena
“Aku hanya mau sambang kantor cabang sebentar, Nay.”Devran mencoba melepas pelukan Nayra karena tidak membiarkannya bangkit dari tempat tidur mereka.“Katanya ke sini karena aku, kok masih kerja?” dengan manja Nayra masih menahan Devran. Seperti bocah kecil yang takut ditinggal emaknya.Devran terkekeh. Lalu dengan lembut mengelus punggung Nayra dan menciumi puncak kepalanya. Mereka beberapa hari ini selalu lengket berdua. Tahu Devran bilang mau menyempatkan ke kantor perusahaannya yang ada di kota ini, Nayra jadi sedikit bete.“Semalam masih belum puas, nyonya? Nanti deh aku puasin lagi sampai lemas. Sekarang aku kerja dulu ya...” bisik pria itu.Nayra langsung mendongak menatap Devran seolah menyangkal dia merajuk karena minta dikelonin pria ini. “Aku enggak minta begituan?”“Oh, yah?” Tatapan Devran tidak percaya.“Mas Devran tahu enggak kenapa aku tidak suka Mas Devran ke kantor? Itu karena aku ingat, dulu Mas Devran suka sekali peluk-peluk cewek di ruangan Mas Devran. Sekarang
“Apa kau yang mengancamnya hingga harus meninggalkanku?” Tidak tahan Alana langsung mengintrogasi Tamara.“Siapa yang kau bicarakan?” Tamara menatap suaminya itu dengan heran. Walau dengan cepat otaknya menyambungkan bahwa Alana sedang membahas tentang istri ke duanya.Tamara juga sudah diberitahu Ludwig, bahwa Alana pergi ke Eropa beberapa bulan kemarin untuk mencari wanita itu. “Aku yakin kau bukan orang yang tidak tahu siapa yang aku maksudkan, Tamara.”Tamara justru tertawa kecil, melihat pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu kini menatapnya dengan menahan geram dan rasa penasaran yang tinggi.Itu sungguh membuat Alana tersinggung.“Sekretaris cantikmu yang kau nikahi waktu itu kah yang kau maksud?” tanya Tamara.Alana merasa tak perlu menyahuti pertanyaan itu.“Bagaimana aku bisa mengancamnya, Alan? Dia sudah meninggal, kan?” dengan santainya Tamara mengingatkan hal itu.Alana juga sudah mencari tahu informasi itu bertahun-tahun sejak wanita itu meninggalkannya. Hingg