Saat terjaga di malam buta itu, Devran meraba tempat di sampingnya yang kosong. Dia langsung bangkit dan mencari-cari Nayra. Pasalnya sebelum tidur tadi Nayra mengeluhkan tubuhnya terasa sakit semua.
Ke mana lagi gadis itu di jam selarut ini?
Tempat pertama yang dia periksa adalah kamar mandi. Takut saja Nayra kenapa-kenapa di sana.
Tapi karena tidak ada di sana, Devran pun keluar kamar. Dia mendapati Nayra masih duduk di sofa sembari membuka laptopnya.
“Ini sudah larut, kenapa kau masih begadang?” Devran menghampiri dan duduk di sampingnya.
“Besok ada ujian,” ujar Nayra tak beralih dari laptopnya.
“Izin saja, kau sedang sakit.” Devran mengambil alih laptop Nayra tapi Nayra menahannya. Keduanya saling menatap rumit.
“Tolong, Mas. Aku hanya ingin belajar,”
Paginya ada sedikit drama kecil lagi ketika Nayra sudah tampak rapi hendak ke kampus, sementara Devran sudah memintanya untuk beristirahat dulu.“Aku sudah baik-baik saja, kok, Mas!”“Aku kenal banyak dosen di sana. Bahkan rektornya pun aku kenal. Kalau kau tidak ikut ujian pun, itu tidak akan jadi soal.” Mendengar itu Nayra tidak sepakat. Dia tahu Devran berkuasa dan punya banyak uang. Tapi Nayra sungguh ingin menjalani proses kuliahnya dengan baik dan alami. Agar benar-benar bisa menyerap apa yang di dapatnya dari bangku kuliah.“Memangnya kenapa kalau Mas Devran kenal?”“Gampanglah kalau sekedar minta izin!”“Enggak mau, ah! Indonesia ini rusak hanya karena orang-orang yang sewenang-wenang dengan kuasanya.”Devran terkekeh, “Jauh amat mikirnya! Rusak dari mana, Mb
“Maaf, Nona. Pak Devran meminta saya memastikan Nona kembali ke apartemen.” Rio mengatakan apa adanya sesuai perintah bosnya.“Tidak apa, nanti aku akan memberitahunya sendiri,” ujar Nayra.Rio tidak memaksa. Dia pun kembali ke mobilnya dan meninggalkan Nayra. Nayra menatap mobil itu berlalu dan baru mendengus sedih. Lalu dengan langkah lemas berjalan menuju taman kampus.Sebenarnya tidak berniat ingin memenuhi urusannya dengan Ananda. Tapi itu hanya sebersit ungkapan kecewanya saja pada Devran yang dengan seenak hatinya membuat janji-janji sendiri lalu membatalkannya sendiri.Nayra paham ada yang sedang kesusahan. Namun dia juga bukan orang bodoh. Damayanti bukan siapa-siapa Devran hingga dia punya tanggung jawab untuk membatalkan janjinya dengan Nayra dan lebih memilih menengoknya di rumah sakit—yang itu bisa saja dilakukannya lain wak
âSedang apa kau di sini?!âDevran sedang meeting di kafe ini dan tiba-tiba mendapati istrinya berdua bersama seorang pria. Dan pria itu sedang memegang tangannya saat ini.Rio mengatakan Nayra menolak dijemputnya karena ada urusan dengan dosennya. Jadi inikah urusannya?Ketika dia menegurnya, dua orang itu terlihat kelabakan dan tiba-tiba menoleh ke arahnya bersamaan.Tentu saja dia terkejut karena baru melihat siapa pria yang bersama Nayra.âMas Devran?â tukas Nayra terkejut. Begitu sadar tangannya masih digenggaman Ananda dia buru-buru melepasnya.âDevran?â Ananda menatap Devran yang tampak murka itu. Tak menyangka saja akan bertemu dia di tempat ini.Nayra juga baru tahu kalau Ananda ternyata mengenal Devran.Ananda menatap Nayra dan mencoba meminta penjelasan apa hubungannya dengan Devran? Tapi pria itu suda
“Aku tidak kencan, lho!”Nayra menolak dibilang kencan. Karena dia memang tidak berkencan dengan Ananda.Dia ingin mencecar dengan langsung bertanya tentang Damayanti. Sayangnya pria ini masih menikmati makannya.Nayra merasa tidak sopan banyak bicara saat makan. Jadi dia memilih mempermainkan ponselnya sembari menunggu Devran selesai makan. Namun pikirannya masih tidak terima jika saja Devran saat ini akan menyalahkannya. Kalau saja dia tidak membuatnya kecewa tentu Nayra sudah berkencan bersamanya sesuai janji mereka, dan bukan bersama Ananda. “Salah sendiri! Siapa suruh ingkar janji!” hanya bisa menggerutu lirih. Mudah-mudahan Devran tak mendengarnya.Ternyata pria itu mendengarnya juga. Dengan cepat menyelesaikan makannya dan beralih pada gadis yang masih membuatnya kesal itu.&l
Ananda tertegun mempermainkan pensil di jarinya. Dia baru mengetahui tentang Nayra dan Devran. Dan itu bukannya membuat Ananda ill feel tentang Nayra, tapi justru merasa kasihan pada gadis itu.Dia ingat saat melihat Nayra menundukkan kepalanya sambil mengatakan bahwa kedua orang tuanya meninggal, Ananda bisa merasakan kesedihannya.Lalu menyambungkan cerita Rio tentang carut marutnya keluarganya dan adanya pernikahan dadakan itu, menjadikan Ananda yakin, Nayra pasti terpaksa menjalani pernikahan kilat itu.Sedangkan Devran, sepupunya itu hanyalah pria yang masih patah hati atas penghianatan kekasihnya yang berujung menikahi pria lain. Jika saat ini dia menikahi Nayra, Ananda yakin, Devran tidak mencintainya. Hanya menggunakan Nayra untuk kepentingan yang lain saja.“Gadis yang malang!” ujarnya, menghempaskan punggungnya di sandaran kursi kerjanya sembari mengehembuskan napasnya. Di
âKembalilah! Aku masih berbaik hati memberimu kesempatan. Ada banyak orang yang memimpikan posisimu!â Dengan tegas Devran memperingatkan asistennya itu. Tidak sulit baginya mencari pengganti Rio.âBaik, Pak. Permisi!â Rio bangkit lalu beranjak pergi dari hadapan Devran. Sepertinya pria itu terlihat serba salah. Karena harus mengikuti komando sang nyonya juga Devran sendiri.Baru juga selesai mengurus asistennya itu, papanya menelpon dari Jerman.âDev. Aku dengar kau sering mangkir dari meeting penting.â Tanpa salam tanpa basa-basi, sang papa langsung menohok Devran dengan pertanyaan itu.âYang mananya aku mangkir?ââJangan banyak alasan kamu! Papa selalu mengajarimu tanggung jawab sejak dulu.âDevran menghela. Memang orang-orang selalu saja seenaknya kalau ngomong. Dasar cari muka semua, mereka!Kalau untuk meeting di kantor dengan pak wali kota, itu bersamaan dengan meeting di kafe. Devran tidak mungkin bisa menghadiri dua meeting sekaligus di waktu yang sama. Jadinya dia meminta Ab
âSudah dites pakai alat test kehamilan?â Dokter itu bertanya.âBe-belum, Dok. Saya tadi muntah-muntah dan suami saya langsung membawa ke sini! Maaf dia sedikit berlebihan,â ujar Nayra.Mumpung Devran sedang menerima panggilan di luar, jadi biar saja dia menyalahkannya. Dalam hati tidak berhenti bergumam semoga dia tidak benar-benar hamil. Hanya masuk angin biasa.âYa tidak apa, Nyonya. Bersyukur bisa hamil cepat. Banyak wanita di luar sana sudah puluhan tahun belum juya bisa hamil.ââEh, Iya, Dok. Hanya saja saya masih kuliah.ââOh, baiklah, kalau begitu mari kita lihat pakai mesin USG ya?âNayra bertambah tegang. Di detik ini dia pasrah apapun hasilnya nanti....âMas?â Nayra yang sudah keluar dari ruang pemeriksaan berlari menghampiri Devran dengan raut sumringah.âNay, jangan berlari. Hati-hati dengan perutmu!â Devran mengingatkan Nayra. Dia sudah cemas saja melihat Nayra masih berlari-lari seperti anak kecil.âKenapa harus hati-hati, Mas?â Nayra memeluk Devran. Dia bahagia kar
Nayra mana tahu kalau Damayanti di rawat di klinik ini? Kalau tahu dari awal, tentu dia tidak akan meminta periksa di tempat ini. âDev, kau di sini?â wanita itu terlihat sumringah melihat Devran masuk ke ruang rawat inapnya. Sayangnya senyum sumringah itu langsung tertarik lantaran ada seseorang yang mengekor di belakang Devran.Hanya saja Damayanti mencoba bersikap sebagaimana mestinya. âOh, Hay, Nayra? Aku senang kalian menengokku,â sapa Damayanti.âTadi aku antar Nayra periksa, ketemu tante di depan, jadi sekalian mampir,â ujar Devran.âOh, Nayra sakit?â Damayanti penasaran. Sudah tergambar di pikirannya bahwa mereka sedang memeriksakan kehamilan. Apalagi Nayra juga tidak tampak sakit.âHanya sedikit masalah saja, Kak. Aku tidak apa-apa.â Nayra menyahut. Takut Devran yang suka apa adanya itu akan mengatakan kalau mereka baru dari dokter kandungan.Harusnya tidak mengapa juga sih, tapi Nayra saja yang merasa tidak nyaman.Untungnya Devran mendapat panggilan dari kantor, karenanya
âSialan pria itu? Mau apalagi masih menemui Nayra?â Devran menggerutu di sepanjang jalan.Setelah memastikan sudah tidak ada yang menghawatirkan pada kesehatan Renata, Devran pamit mau menjemput Nayra di bandara.Alana juga tidak keberatan apalagi Nayra datang bersama orangtuanya. Tidak enak saja pada besannya itu.Dengan cepat dia sampai di Bandara. Saat hendak keluar mobil, Devran menghela napas panjang menenangkan dirinya.Terkadang dia suka konyol kalau sudah cemburu.Jadi mending memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk menyudahi kekurangajaran sepupunya itu yang masih juga berharap pada wanita yang sudah menjadi istrinya itu.âNay, belum selesai urusannya?â Devran membuat dua orang yang masih mengobrol itu terkejut.Tadinya Devran ingin membiarkan mereka masih mengobrol, namun karena Ananda seolah mendesak dan masih ingin mempengaruhi Nayra, Devran tidak tahan.âMas Devran?â Nayra bangkit dan menoleh ke arah di mana tadi Farah dan Kiki menunggunya namun sudah tak nampak la
âEmir, kenapa kau cepat sekali pergi. Lihatlah, keponakanmu itu kembali dan mengacaukan hidup putra dan cucumu!âRenata menangisi nasib keluarganya setelah mendengar kabar bahwa perusahaannya kembali diambil alih oleh keponakannya.Foto mendiang suaminya di elus-elusnya lalu dipeluknya sambil menangis.âMa?â suara Alana membuat Renata teralihkan.âTidak ada yang berubah kecuali sahamku yang berkurang dan kita juga tidak memerlukan banyak uang lagi. Alana akan ikut mama ke Edinburgh. Kita nikmati hari-hari di sana dengan tenang.âMendengar hal itu Renata malah menampar pipi putranya itu.âKau hanya memikirkan dirimu sendiri Alana! Kau tidak memikirkan nasib Devran. Dia juga punya hak untuk menikmati kejayaan perusahaan yang dibesarkan kakeknya,â ujarnya dengan kesal.Alana hanya menunduk dan tak berhak marah atas tamparan mamanya itu. Mungkin Renata kecewa dan tidak mau melihat usaha suaminya sia-sia.Sebenarnya Alana ingin menyampaikan pada Renata bahwa Devran tetaplah menjadi seora
âTidak apa, Mas. Pulang kampung saja ke Diraja. Di sini banyak lowongan pekerjaan kok.â Nayra malah mencandai Devran. Sampai mau mencarikannya lowongan pekerjaan segala.âLowongan apa?âTernyata gadis ini lebih bersemangat mencarikan lowongan pekerjaan untuknya daripada bersedih mendengarnya kemungkinan tidak akan jadi presdir lagi.âKayaknya Pak RW baru meninggal dunia. Jadi ada tuh lowongan jadi Pak RW.ââHah?!âBahkan mengatakan itu Nayra sama sekali tidak terkekeh atau terdengar bercanda.Serius dia ingin dirinya jadi PK RW?âKok Pak RW? Jauh amat Nay. Dari Presdir perusahaan terbesar di negara ini, ke Pak RW?âNayra terkekeh. Tadi dia baru membayangkan Devran menjadi Pak RW di lingkungannya.âSialan kamu!â Devran menggerutu tapi tidak kesal. Malah ikutan terkekeh mendapat saran dari Nayra agar menjadi RW saja.Lumayanlah melepaskan ketegangan seharian ini.âMas Devran kangen tidak sama aku?â Nayra kembali bertanya.âKangenlah, Sayang!ââKangen apanya?ââMasa harus didetailkan be
âPapa juga tidak akan mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Jadi jaga bicara Anda pada papa saya!âDevran pasang badan ketika pria itu mencecar Alana lah yang menyerobot perusahaan yang seharusnya menjadi haknya, bukannya dia yang malah dikata menyerobot.Ada anak muda yang menatapnya dengan keberanian penuh, bukannya marah, Ludwig justru tersenyum. âAku bangga dengan sikapmu ini, Nak. Kau memang pantas membela papamu itu. Tapi kau tidak tahu banyak hal yang terjadi di masa lampau. Jadi jangan hanya menilai dari satu sisi saja.ââMari kita duduk dan selesaikan bersama dengan kepala dingin, Paman.â Suara Devran menurun mengajak Ludwig agar bisa membahas semuanya dengan baik.âKenapa memanggilku paman?âLudwig sedikit terkajut mendengar Devran memanggilnya paman.Sepertinya dia lupa kalau Devran adalah putra sepupunya. Tidak salah juga kan kalau dia memanggilnya paman?âMaaf, maksudkuâTuan Ludwig.â Devran mengoreksi panggilannya melihat reaksi tidak suka pria itu saat dia memanggiln
âSekarang kau percaya padaku, kan? Kalau Tamara itu tidak pernah tulus pada keluarga kita. Apapun yang dilakukannya karena memang ada tujuan di sebalik itu semua.âRenata tampak murka mendengar bahwa perusahaan yang selama ini dipertahankan oleh suaminya, kini diperebutkan lagi oleh keponakannya itu.âSudah, mama tidak usah ikut memikirkannya.â Alana mencoba menenangkan Renata.âBagaimana aku tidak ikut memikirkan? Aku tahu bagaimana kondisi perusahaan itu saat Dekka meninggal. Banyak investor mulai menarik sahamnya, mosi tidak percaya di mana-mana terhadap perusahaan ini, Emeraldo yang mempertahankan dengan susah payah, merubah nama Dekka group menjadi Emeraldo, hingga kembali bangkit dan berjaya seperti sekarang, lalu enak saja dia bilang kita merebutnya?â âPapa benar, Nek. Biar kita yang mengurusnya. Nenek istirahat saja.â Devran yang baru datang ikut menenangkan sang nenek.âTapi, Dev. Nenek kesal sekali pada mamamu itu. Dia malah membela mantan suaminya itu demi mendapatkan se
âDengar, Sayang. Sebenarnya perusahaan itu dulunya adalah perusahaan Tuan Dekka, ayah dari Ludwig. Dia saudara dari Tuan Emeraldo. Seharusnya setelah Tuan Dekka meninggal, perusahaan itu menjadi hak sepenuhnya Ludwig. Hanya saja Ludwig difitnah sudah membunuh Tuan Dekka, hingga dia dipenjara dan kehilangan hak warisnya. Otomatis perusahan itu diambil alih Tuan Emeraldo sebagai saudara laki-laki Tuan Dekka.âDevran mengernyitkan dahinya mendengar kata demi kata sang mama yang menjelaskan tentang siapa itu Ludwig.âJadi, Ludwig itu sepupu papa?â Devran menyederhanakan informasi yang didengarnya.âBenar. Dia kembali untuk menuntut haknya.âNamun sejauh ini, Devran masih belum bisa menerima banyak hal. Mengapa justru sang mama lebih membela pria itu daripada papanya? âOke, pria yang selama ini bersama mama itu adalah sepupu papa. Lantas, mengapa mama lebih membela pria itu?âDevra tadinya mau menambahi kenapa demi sepupu papanya itu mamanya sampai menikung semua aset yang ada di perusa
âMa, kenapa tidak ikut saja sih?â Nayra membujuk Farah .Nayra tahu sedikit hal bahwa sang mama masih belum mau pergi ke Jakarta. Dia punya kenangan yang menyedihkan di kota itu dan belum menyiapkan mentalnya untuk kembali ke kota itu. Farah baru merasa nyaman kembali ke Indonesia dengan tinggal di kota kelahirannya ini. jadi masih belum mau pergi-pergi dulu. âNantilah mama akan datang ke Jakarta. Tapi tidak sekarang, Nay. Kau segera persiapkan diri untuk ikut suamimu ke Jakarta.âFarah tidak akan seterusnya menghindari kota itu. Tapi hanya perlu menyiapkan mentalnya saja. Bagaimanapun putrinya masih harus berkuliah dan juga menemani sang suami di Jakarta. Suatu saat dia pun harus datang mengunjungi mereka.Nayra menyiapkan barang-barang Devran karena harus segera ke Bandara, sedangkan sejak tadi Devran tak berhenti menghubungi banyak orang. Selesai menutup panggilan yang satu, balik menghubungi yang lain, bagitu berakhir disambung dapat panggilan lagi. Entah ada urusan segentin
âAda apa, Ma?â Devran mengangkat panggilan dari Tamara dengan sedikit malas.Setelah beberapa hari ini Tamara tidak mengusiknya, tiba-tiba kali ini menghubunginya, Devran sepertinya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan wanita ini kembali membuatnya harus bersabar.âSedang apa kau di sana?â di kata pertama Tamara sudah terdengar kesal.âAku bersama Nayra, Ma.â Devran jujur. Mamanya itu pasti sudah tahu. Ada pria yang akan selalu menuruti apapun keingintahuannya. âCepat balik, perusahaan sedang membutuhkanmu.â Tamara mendesak.Baru beberapa hari yang lalu papanya mengatakan semua baik-baik saja. Lalu untuk apa mamanya malah mendesaknya balik ke Jakarta?Devran menghela napas lelah. Apa lagi yang diinginkan mamanya ini?âAku masih ada urusan, Ma. ada proyek di Kota Diraja yang harus aku resmikan minggu depan. Aku akan datang setelah itu.ââDevran, aku bilang cepat balik dan jangan membantahku!â Tamara sampai meninggikan suaranya sebagai tanda bahwa ini sesuatu yang tak bisa di
âAh, Mas?âNayra menjambaki rambut kepala Devran yang terus menyerusuk di dadanya mencari kenyamanan diri. Tapi pria ini bukannya berhenti justru semakin bersemangat hingga seperti biasa Nayra menjerit-jerit dan menggelinjang. Tampaknya dia suka sekali mendengar Nayra mengeluarkan suara mesra itu di bawah kuasanya.Ciumannya tak cukup lagi di bibir, leher, dan dada. Tapi dengan nakalnya malah melorot semakin ke bawah.Nayra hampir meledak dibuai kelakuan pria ini. Tapi Devran mana mau melepasnya begitu saja kalau tidak sampai serak tenggorokan Nayra karena desahan jeritan manjalitanya.Beberapa gaya mereka coba eksplor, dari dengan berdiri, duduk, nungging, atau tiduran. Di bathtub, di meja, di sofa dan berakhir di tempat tidur, semuanya mereka lakukan dengan samaâsama bergairah dan menyenangkan.Hingga Nayra lemas, belum bisa mengimbangi tenaga pria ini yang sungguh bak kuda yang tak habis-habis. Tubuh Nayra kini jadi seperti jeli yang hanya bisa terkulai di tempat tidur karena