“Sedang apa kau di sini?!”
Devran sedang meeting di kafe ini dan tiba-tiba mendapati istrinya berdua bersama seorang pria. Dan pria itu sedang memegang tangannya saat ini.
Rio mengatakan Nayra menolak dijemputnya karena ada urusan dengan dosennya. Jadi inikah urusannya?
Ketika dia menegurnya, dua orang itu terlihat kelabakan dan tiba-tiba menoleh ke arahnya bersamaan.
Tentu saja dia terkejut karena baru melihat siapa pria yang bersama Nayra.
“Mas Devran?” tukas Nayra terkejut. Begitu sadar tangannya masih digenggaman Ananda dia buru-buru melepasnya.
“Devran?” Ananda menatap Devran yang tampak murka itu. Tak menyangka saja akan bertemu dia di tempat ini.
Nayra juga baru tahu kalau Ananda ternyata mengenal Devran.
Ananda menatap Nayra dan mencoba meminta penjelasan apa hubungannya dengan Devran? Tapi pria itu suda
“Aku tidak kencan, lho!”Nayra menolak dibilang kencan. Karena dia memang tidak berkencan dengan Ananda.Dia ingin mencecar dengan langsung bertanya tentang Damayanti. Sayangnya pria ini masih menikmati makannya.Nayra merasa tidak sopan banyak bicara saat makan. Jadi dia memilih mempermainkan ponselnya sembari menunggu Devran selesai makan. Namun pikirannya masih tidak terima jika saja Devran saat ini akan menyalahkannya. Kalau saja dia tidak membuatnya kecewa tentu Nayra sudah berkencan bersamanya sesuai janji mereka, dan bukan bersama Ananda. “Salah sendiri! Siapa suruh ingkar janji!” hanya bisa menggerutu lirih. Mudah-mudahan Devran tak mendengarnya.Ternyata pria itu mendengarnya juga. Dengan cepat menyelesaikan makannya dan beralih pada gadis yang masih membuatnya kesal itu.&l
Ananda tertegun mempermainkan pensil di jarinya. Dia baru mengetahui tentang Nayra dan Devran. Dan itu bukannya membuat Ananda ill feel tentang Nayra, tapi justru merasa kasihan pada gadis itu.Dia ingat saat melihat Nayra menundukkan kepalanya sambil mengatakan bahwa kedua orang tuanya meninggal, Ananda bisa merasakan kesedihannya.Lalu menyambungkan cerita Rio tentang carut marutnya keluarganya dan adanya pernikahan dadakan itu, menjadikan Ananda yakin, Nayra pasti terpaksa menjalani pernikahan kilat itu.Sedangkan Devran, sepupunya itu hanyalah pria yang masih patah hati atas penghianatan kekasihnya yang berujung menikahi pria lain. Jika saat ini dia menikahi Nayra, Ananda yakin, Devran tidak mencintainya. Hanya menggunakan Nayra untuk kepentingan yang lain saja.“Gadis yang malang!” ujarnya, menghempaskan punggungnya di sandaran kursi kerjanya sembari mengehembuskan napasnya. Di
“Kembalilah! Aku masih berbaik hati memberimu kesempatan. Ada banyak orang yang memimpikan posisimu!” Dengan tegas Devran memperingatkan asistennya itu. Tidak sulit baginya mencari pengganti Rio.“Baik, Pak. Permisi!” Rio bangkit lalu beranjak pergi dari hadapan Devran. Sepertinya pria itu terlihat serba salah. Karena harus mengikuti komando sang nyonya juga Devran sendiri.Baru juga selesai mengurus asistennya itu, papanya menelpon dari Jerman.“Dev. Aku dengar kau sering mangkir dari meeting penting.” Tanpa salam tanpa basa-basi, sang papa langsung menohok Devran dengan pertanyaan itu.“Yang mananya aku mangkir?”“Jangan banyak alasan kamu! Papa selalu mengajarimu tanggung jawab sejak dulu.”Devran menghela. Memang orang-orang selalu saja seenaknya kalau ngomong. Dasar cari muka semua, mereka!Kalau untuk meeting di kantor dengan pak wali kota, itu bersamaan dengan meeting di kafe. Devran tidak mungkin bisa menghadiri dua meeting sekaligus di waktu yang sama. Jadinya dia meminta Ab
“Sudah dites pakai alat test kehamilan?” Dokter itu bertanya.“Be-belum, Dok. Saya tadi muntah-muntah dan suami saya langsung membawa ke sini! Maaf dia sedikit berlebihan,” ujar Nayra.Mumpung Devran sedang menerima panggilan di luar, jadi biar saja dia menyalahkannya. Dalam hati tidak berhenti bergumam semoga dia tidak benar-benar hamil. Hanya masuk angin biasa.“Ya tidak apa, Nyonya. Bersyukur bisa hamil cepat. Banyak wanita di luar sana sudah puluhan tahun belum juya bisa hamil.”“Eh, Iya, Dok. Hanya saja saya masih kuliah.”“Oh, baiklah, kalau begitu mari kita lihat pakai mesin USG ya?”Nayra bertambah tegang. Di detik ini dia pasrah apapun hasilnya nanti....“Mas?” Nayra yang sudah keluar dari ruang pemeriksaan berlari menghampiri Devran dengan raut sumringah.“Nay, jangan berlari. Hati-hati dengan perutmu!” Devran mengingatkan Nayra. Dia sudah cemas saja melihat Nayra masih berlari-lari seperti anak kecil.“Kenapa harus hati-hati, Mas?” Nayra memeluk Devran. Dia bahagia kar
Nayra mana tahu kalau Damayanti di rawat di klinik ini? Kalau tahu dari awal, tentu dia tidak akan meminta periksa di tempat ini. “Dev, kau di sini?” wanita itu terlihat sumringah melihat Devran masuk ke ruang rawat inapnya. Sayangnya senyum sumringah itu langsung tertarik lantaran ada seseorang yang mengekor di belakang Devran.Hanya saja Damayanti mencoba bersikap sebagaimana mestinya. “Oh, Hay, Nayra? Aku senang kalian menengokku,” sapa Damayanti.“Tadi aku antar Nayra periksa, ketemu tante di depan, jadi sekalian mampir,” ujar Devran.“Oh, Nayra sakit?” Damayanti penasaran. Sudah tergambar di pikirannya bahwa mereka sedang memeriksakan kehamilan. Apalagi Nayra juga tidak tampak sakit.“Hanya sedikit masalah saja, Kak. Aku tidak apa-apa.” Nayra menyahut. Takut Devran yang suka apa adanya itu akan mengatakan kalau mereka baru dari dokter kandungan.Harusnya tidak mengapa juga sih, tapi Nayra saja yang merasa tidak nyaman.Untungnya Devran mendapat panggilan dari kantor, karenanya
“Aul, bukannya sekarang bukan mata kuliahnya Dokter Ananda?” tanya Nayra sembari berbisik.Dia heran melihat dosen itu masuk ke dalam kelasnya, Nayra menyenggol temannya untuk memastikan apa dia salah jadwal.“Enggak tahu juga. Kayaknya Dokter Ananda semangat sekali kalau masuk kelas ini.” Aulia malah menyenggol balik Nayra.“Kenapa emangnya?” Nayra belum memahami apa yang dimaksud Aulia.“Helleh, masa enggak sadar. Dokter Ananda semangat di kelas ini karena ada mahasiswi cantik yang menarik perhatiannya.”Saat menyadari yang dimaksud itu adalah dirinya, sontak Nayra melotot pada temannya itu, sambil mendesis, ”Jangan macam-macam kamu!”Nayra yakin Aulia tidak lupa kalau dirinya sudah memiliki suami. Mana bisa dia masih mencandainya seperti itu? “Ehem!”Suara deheman sang dosen tampan itu membuat kedua gadis itu terkejut dan langsung merapikan duduknya.“Kalau masih ada yang belum siap ujian kali ini, saya persilahkan keluar!” dengan tegas Ananda mengingatkan mahasiswanya.Nayra d
“Suamimu seperti anak kecil! Masa kamu mau mengobrol sama sepupunya saja tidak boleh?”Ucapan Aulia terngiang di telinga Nayra yang kini sedang menunggu Ananda di kafe yang lain.Nayra merasa sedikit terpengaruh dengan kata-kata temannya itu. Seharusnya Devran juga tidak seketat itu padanya. Toh, dia juga tidak melakukan apapun yang buruk.Lagi tentang statusnya itu, Nayra jadi resah dan melamun. Bahkan ketika Ananda datang menyapanya, Nayra baru menjawab setelah pria itu mengulang sapaannya. “Oh, Dokter?”“Enggak baik loh, nglamun di tempat umum.” Ananda mengingatkan. Dia duduk berhadapan dengan Nayra dan tampak memberikan sesuatu padanya.“Ah, dokter, apa ini?”“Bukan apa-apa. Hanya hadiah kecil untuk istri sepupuku.”“Astaga, aku jadi tidak enak. Terima kasih, Dokter!”Nayra tersenyum melihat kado kecil itu. Tidak tahu apa isinya, tapi namanya hadiah pasti semua wanita akan menyukainya.Sayangnya, selama pernikahan Devran belum pernah memberikan hadiah padanya.‘Ugh, dasar pria it
“Apa ini?!”Tamara melihat foto-foto hasil jepretan Rio yang dikirim ke ponselnya.Melihat Nayra tampak mesra dengan seseorang yang memasangkan sebuah jam mahal di pergelangan tangannya, Tamara benar-benar murka.Apalagi setelah tahu bahwa pria itu adalah Ananda Micel—keponakannya sendiri.“Kurang ajar gadis itu!”Tamara berkacak pinggang, napasnya naik turun kesal mengetahui foto itu. Dia jadi punya pemikiran bahwa Nayra adalah wanita yang akan mempermainkan keluarganya.“Bisa-bisanya dia juga berkencan dengan Ananda? Apa maunya? Sialan benar dia! Berani-beraninya mempermainkan keluarga Alana?!”“Nyonya. Saya mohon kebijakan Nyonya setelah ini tidak perlu melibatkan saya lagi dalam urusan ini. Pak Devran sudah memperingatkan saya.” Rio menunduk menyampaikan hal itu.“Apa? Aku yang memilihmu. Ini gunanya kau aku tempatkan sebagai asisten Devran!” Tamara tidak setuju dengan permintaan Rio. Enak saja tidak mau dilibatkan dengan kepentingannya.“Masalahnya Pak Devran akan memecat saya k
"Kita langsung ke rumah sakit saja, Ki. Tidak enak kalau tidak menengok neneknya Devran." "Baik, Bu. Pak Yas akan mengantar kita ke rumah sakit," ujar Kiki yang kemudian diangguki Yas yang menyupiri mereka. Seminggu ini sudah banyak merenung dan menyadari, bahwa apa yang terjadi di masa lalunya tidak seharusnya membuatnya menutup diri.Dia punya tanggung jawab sebagai orang tua Nayra. Menemui besannya di Jakarta dan menjelaskan sedikit miss komunikasi.Mungkin selama ini mereka sudah diberitahu bahwa orang tua Nayra sudah meninggal. Tapi Farah harus menyampaikan kebenarannya.Bagaimanapun Nayra sudah menjadi bagian dari keluarga orang lain, Farah juga ingin secara semestinya menitipkan sang putri agar bisa diterima dengan baik oleh keluarga Devran.Dengan begitu, Farah berharap keluarga Devran bisa memperlakukan Nayra dengan baik. Tak mau saja Farah mendengar putrinya disisihkan di keluarga orang kaya seperti Devran.“Di sini, Bu Farah,” ujar Kiki menunjukan pintu ruang rawat in
“Sialan pria itu? Mau apalagi masih menemui Nayra?” Devran menggerutu di sepanjang jalan.Setelah memastikan sudah tidak ada yang menghawatirkan pada kesehatan Renata, Devran pamit mau menjemput Nayra di bandara.Alana juga tidak keberatan apalagi Nayra datang bersama orangtuanya. Tidak enak saja pada besannya itu.Dengan cepat dia sampai di Bandara. Saat hendak keluar mobil, Devran menghela napas panjang menenangkan dirinya.Terkadang dia suka konyol kalau sudah cemburu.Jadi mending memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk menyudahi kekurangajaran sepupunya itu yang masih juga berharap pada wanita yang sudah menjadi istrinya itu.“Nay, belum selesai urusannya?” Devran membuat dua orang yang masih mengobrol itu terkejut.Tadinya Devran ingin membiarkan mereka masih mengobrol, namun karena Ananda seolah mendesak dan masih ingin mempengaruhi Nayra, Devran tidak tahan.“Mas Devran?” Nayra bangkit dan menoleh ke arah di mana tadi Farah dan Kiki menunggunya namun sudah tak nampak la
“Emir, kenapa kau cepat sekali pergi. Lihatlah, keponakanmu itu kembali dan mengacaukan hidup putra dan cucumu!”Renata menangisi nasib keluarganya setelah mendengar kabar bahwa perusahaannya kembali diambil alih oleh keponakannya.Foto mendiang suaminya di elus-elusnya lalu dipeluknya sambil menangis.“Ma?” suara Alana membuat Renata teralihkan.“Tidak ada yang berubah kecuali sahamku yang berkurang dan kita juga tidak memerlukan banyak uang lagi. Alana akan ikut mama ke Edinburgh. Kita nikmati hari-hari di sana dengan tenang.”Mendengar hal itu Renata malah menampar pipi putranya itu.“Kau hanya memikirkan dirimu sendiri Alana! Kau tidak memikirkan nasib Devran. Dia juga punya hak untuk menikmati kejayaan perusahaan yang dibesarkan kakeknya,” ujarnya dengan kesal.Alana hanya menunduk dan tak berhak marah atas tamparan mamanya itu. Mungkin Renata kecewa dan tidak mau melihat usaha suaminya sia-sia.Sebenarnya Alana ingin menyampaikan pada Renata bahwa Devran tetaplah menjadi seora
“Tidak apa, Mas. Pulang kampung saja ke Diraja. Di sini banyak lowongan pekerjaan kok.” Nayra malah mencandai Devran. Sampai mau mencarikannya lowongan pekerjaan segala.“Lowongan apa?”Ternyata gadis ini lebih bersemangat mencarikan lowongan pekerjaan untuknya daripada bersedih mendengarnya kemungkinan tidak akan jadi presdir lagi.“Kayaknya Pak RW baru meninggal dunia. Jadi ada tuh lowongan jadi Pak RW.”“Hah?!”Bahkan mengatakan itu Nayra sama sekali tidak terkekeh atau terdengar bercanda.Serius dia ingin dirinya jadi PK RW?“Kok Pak RW? Jauh amat Nay. Dari Presdir perusahaan terbesar di negara ini, ke Pak RW?”Nayra terkekeh. Tadi dia baru membayangkan Devran menjadi Pak RW di lingkungannya.“Sialan kamu!” Devran menggerutu tapi tidak kesal. Malah ikutan terkekeh mendapat saran dari Nayra agar menjadi RW saja.Lumayanlah melepaskan ketegangan seharian ini.“Mas Devran kangen tidak sama aku?” Nayra kembali bertanya.“Kangenlah, Sayang!”“Kangen apanya?”“Masa harus didetailkan be
“Papa juga tidak akan mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Jadi jaga bicara Anda pada papa saya!”Devran pasang badan ketika pria itu mencecar Alana lah yang menyerobot perusahaan yang seharusnya menjadi haknya, bukannya dia yang malah dikata menyerobot.Ada anak muda yang menatapnya dengan keberanian penuh, bukannya marah, Ludwig justru tersenyum. “Aku bangga dengan sikapmu ini, Nak. Kau memang pantas membela papamu itu. Tapi kau tidak tahu banyak hal yang terjadi di masa lampau. Jadi jangan hanya menilai dari satu sisi saja.”“Mari kita duduk dan selesaikan bersama dengan kepala dingin, Paman.” Suara Devran menurun mengajak Ludwig agar bisa membahas semuanya dengan baik.“Kenapa memanggilku paman?”Ludwig sedikit terkajut mendengar Devran memanggilnya paman.Sepertinya dia lupa kalau Devran adalah putra sepupunya. Tidak salah juga kan kalau dia memanggilnya paman?“Maaf, maksudku—Tuan Ludwig.” Devran mengoreksi panggilannya melihat reaksi tidak suka pria itu saat dia memanggiln
“Sekarang kau percaya padaku, kan? Kalau Tamara itu tidak pernah tulus pada keluarga kita. Apapun yang dilakukannya karena memang ada tujuan di sebalik itu semua.”Renata tampak murka mendengar bahwa perusahaan yang selama ini dipertahankan oleh suaminya, kini diperebutkan lagi oleh keponakannya itu.“Sudah, mama tidak usah ikut memikirkannya.” Alana mencoba menenangkan Renata.“Bagaimana aku tidak ikut memikirkan? Aku tahu bagaimana kondisi perusahaan itu saat Dekka meninggal. Banyak investor mulai menarik sahamnya, mosi tidak percaya di mana-mana terhadap perusahaan ini, Emeraldo yang mempertahankan dengan susah payah, merubah nama Dekka group menjadi Emeraldo, hingga kembali bangkit dan berjaya seperti sekarang, lalu enak saja dia bilang kita merebutnya?” “Papa benar, Nek. Biar kita yang mengurusnya. Nenek istirahat saja.” Devran yang baru datang ikut menenangkan sang nenek.“Tapi, Dev. Nenek kesal sekali pada mamamu itu. Dia malah membela mantan suaminya itu demi mendapatkan se
“Dengar, Sayang. Sebenarnya perusahaan itu dulunya adalah perusahaan Tuan Dekka, ayah dari Ludwig. Dia saudara dari Tuan Emeraldo. Seharusnya setelah Tuan Dekka meninggal, perusahaan itu menjadi hak sepenuhnya Ludwig. Hanya saja Ludwig difitnah sudah membunuh Tuan Dekka, hingga dia dipenjara dan kehilangan hak warisnya. Otomatis perusahan itu diambil alih Tuan Emeraldo sebagai saudara laki-laki Tuan Dekka.”Devran mengernyitkan dahinya mendengar kata demi kata sang mama yang menjelaskan tentang siapa itu Ludwig.“Jadi, Ludwig itu sepupu papa?” Devran menyederhanakan informasi yang didengarnya.“Benar. Dia kembali untuk menuntut haknya.”Namun sejauh ini, Devran masih belum bisa menerima banyak hal. Mengapa justru sang mama lebih membela pria itu daripada papanya? “Oke, pria yang selama ini bersama mama itu adalah sepupu papa. Lantas, mengapa mama lebih membela pria itu?”Devra tadinya mau menambahi kenapa demi sepupu papanya itu mamanya sampai menikung semua aset yang ada di perusa
“Ma, kenapa tidak ikut saja sih?” Nayra membujuk Farah .Nayra tahu sedikit hal bahwa sang mama masih belum mau pergi ke Jakarta. Dia punya kenangan yang menyedihkan di kota itu dan belum menyiapkan mentalnya untuk kembali ke kota itu. Farah baru merasa nyaman kembali ke Indonesia dengan tinggal di kota kelahirannya ini. jadi masih belum mau pergi-pergi dulu. “Nantilah mama akan datang ke Jakarta. Tapi tidak sekarang, Nay. Kau segera persiapkan diri untuk ikut suamimu ke Jakarta.”Farah tidak akan seterusnya menghindari kota itu. Tapi hanya perlu menyiapkan mentalnya saja. Bagaimanapun putrinya masih harus berkuliah dan juga menemani sang suami di Jakarta. Suatu saat dia pun harus datang mengunjungi mereka.Nayra menyiapkan barang-barang Devran karena harus segera ke Bandara, sedangkan sejak tadi Devran tak berhenti menghubungi banyak orang. Selesai menutup panggilan yang satu, balik menghubungi yang lain, bagitu berakhir disambung dapat panggilan lagi. Entah ada urusan segentin
“Ada apa, Ma?” Devran mengangkat panggilan dari Tamara dengan sedikit malas.Setelah beberapa hari ini Tamara tidak mengusiknya, tiba-tiba kali ini menghubunginya, Devran sepertinya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan wanita ini kembali membuatnya harus bersabar.“Sedang apa kau di sana?” di kata pertama Tamara sudah terdengar kesal.“Aku bersama Nayra, Ma.” Devran jujur. Mamanya itu pasti sudah tahu. Ada pria yang akan selalu menuruti apapun keingintahuannya. “Cepat balik, perusahaan sedang membutuhkanmu.” Tamara mendesak.Baru beberapa hari yang lalu papanya mengatakan semua baik-baik saja. Lalu untuk apa mamanya malah mendesaknya balik ke Jakarta?Devran menghela napas lelah. Apa lagi yang diinginkan mamanya ini?“Aku masih ada urusan, Ma. ada proyek di Kota Diraja yang harus aku resmikan minggu depan. Aku akan datang setelah itu.”“Devran, aku bilang cepat balik dan jangan membantahku!” Tamara sampai meninggikan suaranya sebagai tanda bahwa ini sesuatu yang tak bisa di