Aku merasakan tangan seseorang mengengamku dengan erat. Perlahan, aku membuka mataku. Ruangan itu putih dan menyilaukan mata. “Asma?”“Asma, kau sudah sadar?” tanyanya. Mas Husein berada di sampingku. Oh, rupanya dia yang mengengam tanganku. Aku melirik ke kiri dan ke kanan. Dimana aku? Aku bertanya-tanya. Mas Husein memaksa tubuhnya untuk berdiri dan memelukku dengan erat. Aku terkejut bukan main. “Ya Allah, ada apa? Mengapa dia memelukku?” batinku. Aku meraba pipiku. Sakit, sangat sakit. Rasa sakit ini menjadi satu. “Jangan pegang pipinya. Pasti sakit, maafkan Mas yah.”Aku menatap wajah tampannya itu. Dia terus memandangiku. Aku jadi tidak enak seperti ini. Jarak kami sangat dekat. Di ruangan ini, hanya ada aku dan Mas Husein. “Tadi aku pingsan?” tanyaku. Dia menganggukan kepala. “Tadi Nisa mau melukai kamu. Beruntung Mas segera datang. Mas takut banget dia mencelakaimu, Asma.”Aku ingin, sebelum pingsan aku mendorong tubuh Nisa sambil berteriak. Samar-samar bayangan Mas Hus
“Maaf yah mas,” ucapku mengakhiri pembicaraan kami. Tidak ada balasan. Dia terdiam seribu bahasa. Pukul empat subuh, aku terbangun. Aku segera sholat subuh dua rakat. Setelah itu, aku mencarinya. Sejak tadi saat bangun, aku tidak melihat Mas Husein dimana pun. Aku membuka pintu kamar. Rupanya dia ada di bawah sedang duduk di meja makan. Sepertinya Mas Husein sedang merenung. Ku pikir, dia akan pergi lagi.Aku berjalan menuju dapur. Mertuaku sedang membantu Bibi Sari memaksa. Dia tersenyum menyambut kehadiranku. “Asma, sini!” ucapnya. Dia memberikanku satu sendok nasi goreng. “Coba periksa rasanya, gimana?” tanya mertuaku bersemangat. Aku menikmati nasi goreng yang sedang dimasakanya. Enak, sangat enak. “Ini nasi goreng buatan ibu, ada bumbu rahasiannya. Husein suka, nanti ibu kasih resepnya,” ucap ibu. Aku tersenyum. “Makasih bu,” jawabku. Aku bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari ibu Wati. Dia begitu peduli kepadaku. Dia begitu sayang kepadaku. Beruntung aku memiliki
Pagi harinya, aku merasakan jika tadi malam ada seseorang yang memelukku. Apa ini mimpi buruk saja? Mana mungkin ada yang memelukku. Apalagi Mas Husein, mustahil!Aku menyibakan selimut menjauh dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. “Asma!”“Apa yang kau lakukan? Saya sedang mandi!” teriak suara itu. Aku spontan membuka mataku. “AH!” “Tidak, apa itu?”“Burung!”“Burung!”Aku berteriak saat melihat Mas Husein tanpa benang sehelai pun. Aku melihatnya, aku melihat benda itu. Ya Allah, mataku ternodai. Seumur hidup, aku belum pernah melihatnya. Aku spontan menutup mata dan berlari menjauh. Aku terus berteriak histeris. “Makanya, kalo mau ke kamar mandi tuh, ketuk pintu!” protesnya.Di pojok kamar, aku perlahan membuka mataku. Aku menatap Mas Husein yang sudah berdiri di depan. Dia berkacak pingang. Pipinya memerah seperti kepiting rebut. Dia memakai boxser. Tapi sama saja, bentuk itu masih menonjol dan terlihat jelas. “Ya Allah, mataku ternodai, Mas!” runtutku. Mas Husein mem
Aku mengirimkan makan siang untuk Mas Husein. Aku tahu dia tidak bisa telat makan. Telat satu jam saja, asam lambungnya bakalan kambuh. Cerita Bibi Sari masih terngiang-ngian di kepalaku. Kasihan sekali Mbak Maya. Selain karena dia dituntut untuk memberikan keturunan, dia juga harus merasakan rasa sakit yang dalam karena kecelakaan ini. Pantas saja Mas Husein begitu mencintainya. Dibandingkan aku, pengorbanan Mbak Maya sangat besar. Aku hanya duri yang datang di tengah-tengah mereka. Menghancurkan suasana romantis yang dibangun sejak dulu. Ya Allah, perasaan bersalah menyelimutiku sekarang. Dring!Ibu meneleponku. Alhamdulillah, ku pikir dia sudah melupakanku. Aku mengangkat panggilannya. “Asma, kamu nggak apa-apa kan? Ibu khawatir loh, ibu baru buka media sosial. Lihat wajahmu babak belur, ibu langsung gemeter,” serunya.Aku memutar bola mataku malas. Beruntung dia masih mengingatku. Apa ibu tidak tahu, aku menderita di sini sedangkan ibu sedang asik berpergian keluar negeri.
Aku berangkat ke rumah sakit bersama Bibi Sari. Sesampai di sana, aku melihat ibu Wati dengan beberapa sanak saudara dari Maya berkumpul di ruang ICU. Hanya ada dua orang yang bisa masuk ke dalam ruangan.Dari jauh, aku melihat Mas Husein duduk di samping Mbak Maya. Sesekali dia mengusap wajahnya. Sepertinya Mas Husein menangis. “Asma, kamu di sini juga?”Suara ibu Wati mengagetkanku. Aku spontan menatapnya. “Kata Bibi Sari, Asma harus ke rumah sakit. Alhamdulillah yah Bu, Mbak Maya sudah sadar,” seruku. Ibu Wati memelukku dari samping. Dia lalu menatap wajahku lebih dekat. “Ayo ikut dengan ibu,” pintanya. Aku mengikutinya. Kami menuju taman rumah sakit. Di sana, aku dan ibu Wati duduk di kursi panjang. Aku dan dirinya terdiam beberapa saat.“Saat Maya dan Husein bersama, ibu harap kamu tidak melihatnya. Ibu tahu ini berat, Asma. Apalagi menjadi istri kedua. Tapi, ibu juga nggak bisa kalo kamu nggak sama Husein.”“Kenapa bu?” tanyaku. Aku penasaran. Ibu menarik napas dalam-dala
Lima hari sudah Mas Husein tidak kembali ke rumah. Aku mengerti jika Mbak Maya butuh perhatian Mas Husein. Aku melirik ponselku sejenak. Pesan yang aku kirim lima hari lalu sama sekali belum dibalas. Apa dia tidak pernah peduli kepadaku?“Mbak Asma, Mas Husein ada di bawah. Lagi nunggu, Mbak!” ucap Bibi Sari dari luar. Aku bergegas membuka pintu. “Benaran Bi?” tanyaku tidak percaya. “Iya Mbak, cepat katanya.”Aku berjalan menuju ruang tamu. Benar juga, lelaki itu ada di sana. Dia menatapku. “Hari ini kita pergi belanja.”“Belanja pakaian?” seruku tidak percaya. Aku melebarkan mataku memandanginya. Mas Husein mengerutkan keningnya menatapku. “Kamu nggak mau yah?” tanyanya. Aku berjalan mendekat ke arahnya. Wajah Mas Husein tampak kelelahan. Lingkaran hitam terlihat di bawah matanya. Mungkin selama di rumah sakit, Mas Husein jarang tidur. “Iya, aku mau, Mas,” seruku. Aku bergegas berganti pakaian. Selang satu jam kemudian, aku berjalan menghampiri Mas Husein yang sedang menung
Setelah bertemu dengan Mbak Maya, aku segera pulang. Mas Husein memilih menetap di rumah sakit. Katanya dia akan pulang nanti untuk makan malam. Sebelum keluar dari ruangan, Mas Husein dengan cepat mengeluarkan satu cincin berlian dan satu gelang berlian dari saku. Berlian itu akan diberikan kepada Mbak Maya. Jadi perhiasan kami kembar. Aku diantar oleh Pak Soni kembali ke rumah. “Insyallah, Mbak Maya akan sembuh. Mbak Asna nggak cemburu yah?” ucap Pak Soni. Dia menatapku dari balik kaca spion. “Nggak Pak, buat apa?" tanyaku“Susah loh Mbak jadi istri kedua. Ya, harus tahan banting,” kekehnya. Aku tidak tertawa. Ini bukan lelucon. Mobil kemudian berjalan keluar dari area rumah sakit. “Saya baru bekerja di sini Mbak. Tapi saya sering dengar dari Sari kalo Mas Husein dan Mbak Maya sangat romantis. Saya juga pernah lihat ceritanya di media sosial. Ah, mereka benar-benar pasangan ideal. Sayang saja saat ini Mas Husein dan Mbak Maya dapat ujian,” ucap Pak Soni mulai bercerita. “Maksu
Setelah sarapan, aku menemui Mas Husein di kamar. Aku bertanya, apakah dia marah kepadaku? Karena sejak tadi, wajahnya sangat dingin. Aku takut melakukan kesalahan dan membuat hatinya terluka. Mas Husein mengatakan jika dia sedang pusing. Beberapa klien membatalkan kerja samanya karena gossip yang menyebar. Maka dari itu Mas Husein sedikit sensitive. “Kita berangkat ke rumah sakit,” ucapnya. “Sekarang?” tanyaku. “Iya Asma, memangnya kapan lagi?” serunya ketus. “Saya mau kamu menemani Maya sebentar. Saya pulang jam empat sore, jadi kasihan kalo Maya sendiri. Kamu paham kan, Asma?” Mas Husein lalu mengambil jacket dan berjalan keluar dari dalam kamar. Dia meninggalkanku seperti biasa. Aku buruh-buruh berganti pakaian dan mengejarnya menuju parkiran. Di dalam mobil, kami saling terdiam. Sesampai di rumah sakit, dia turun dari mobil dan berjalan menuju loby. Aku spontan turun dan sedikit berlari karena Mas Husein melangkah dengan cepat. “Mbak Asma yah?” Seorang suster menghampi
Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini. Ibuku sama sekali tidak ingin berbicara kepadaku. Dia memblokir nomor teleponku. Dia tidak ingin mendengarkan suaraku. Aku dicap sebagai anak durhaka. Ya, itu lah yang dipikirkan ibuku.Ibuku mengatakan jika setelah kematian Maya, maka aku akan bahagia karena seluruh uang Mas Husein akan berada di sisiku.Aku tidak membutuhkan semua itu. Mas Husein tidak mencintaiku. Dia sama sekali tidak peduli kepadaku. Lalu, apa aku harus menunggu dia?“Asma? Kamu baik-baik saja kan?”Hana tiba-tiba berada di sampingku. Dia membawah secangkir teh hangat. Hari ini, aku dan Hana akan mengadatakn meeting zoom dengan Miss Rebecca. Salah satu supervisor yang akan memberikan aku beasiswa.“Hmm.”“Hmm, maksudnya apa sih?” gumamnya tidak mengerti. Aku bisa melihat kerutan di kedua wajahnya yang cantik itu.“Kamu serius kan, mau ke Turkey? Miss Rebecca mau ajak kita ke sana. Ya, ku pikir kalo ke spanyol, kamu malah ketemu sama Galih. Ah, aku malahan kesal sama laki-
“Saya ingin rujuk sama kamu lagi, saya tidak bisa tanpa kamu, Asma,” ucapnya. Aku tidak menjawab pertanyaan Mas Husein. Aku terdiam seribu bahasa. Saat ini, hatiku pilu. Bahkan ucapannya pun seakan tidak aku pahami.Aku tidak menatap wajah Mas Husein meskipun aku tahu, sejak tadi dia mencoba memandangiku. Mungkin dia berharap aku menatapnya.“Aku tidak akan memaksamu,” ucapnya sekali lagi. Dia menyerah? Apa dia tidak ingin membujukku? Bukankah hatinya tidak siap menerimaku sehingga aku bimbang. Aku ingin dia membujukku, aku ingin dia merasa bersalah dan terus berjuang untuk mendapatkan hatiku lagi.Tapi apa? Apa yang terjadi? Mengapa dia menyerah? Apa hanya seperti itu usahannya?Perlahan bola mataku memanas. Tidak, tidak, aku tidak boleh menangis di hadapannya. Aku tidak lemah.Aku segera meletakan makanan di hadapan mas Husein lalu duduk dan menundukan wajahku. Aku tidak ingin dia melihatku menangis.“Mengapa masih peduli kepadaku?” tanyanya. Kali ini, aku berharap dia tidak menatap
Sudah seminggu ini aku memutuskan untuk menginap di kediaman Hana. Mas Aldo menyarankan kepadaku untuk fokus mengurus pendidikanku. Aku sudah mengirimkan proposalku kepada Madam Rebecca dan berharap dia ingin menerimaku sebagai salah satu mahasiswanya.Madam Rebecca sampai sekarang belum membalas pesanku. Aku sedikit cemas, takut jika dia tidak peduli lagi karena aku lama membalas pesannya.Aku tidak punya pilihan lain selain pergi dari rumah. Ibu mengusirku dan menganggapku sebagai anak yang durhaka. Dia terus membujukku untuk kembali kepada Mas Husein.Sudah seminggu ini, Mas Husein tidak menghubungiku. Sekedar mengirimkan pesan pun, dia sepertinya tidak ingin.Entahlah, apa secepat itu dia melupakanku.“Nggak mau bertemu Galih?”Hana tiba-tiba datang dari belakang dan menepuk pundakku dengan lembut. Aku spontan menoleh dan menatapnya.“Gimana? Kalo kamu mau, Mas Aldo akan mengantarmu ke sana.”Aku menggeleng.“Nggak usah!” jawabku.Aku duduk di depan jendela. Kepalaku masih dipenuh
Husein Sandewa Pov“Mas Husein, Mbak Asma nggak ada di kampus. Saya sudah nunggu di depan parkiran, eh nggak muncul, biasanya dia ke kampus karena saya dengar, Mbak Asma ada urusan di sana,” ucap Pak Soni.Aku menghela napas panjang. Sudah beberapa hari Asma tidak membalas pesanku. Biasanya dia cepat membalas pesanku. Ada apa? Apa dia sangat marah kepadaku?“Kalo ruangan Mas Aldo, kamu sudah lihat?” tanyaku sambil memandangi Pak Soni. Pak Soni tampak bingung.“Mas Husein, sebenarnya ada yang ingin saya katakan sama Mas Husein, tapi saya sedikit ragu. Saya takut Mas kalo ini ….,”“Apa?” potongku dengan cepat. Aku tidak suka basa-basi. Aku ingin Pak Soni berbicara dengan cepat kepadaku. Lelaki paruh baya itu sesekali menghela napas panjang. Wajahnya tampak cemas dan membuatku semakin penasaran.“Apa? Apa yang kamu mau katakan?” tanyaku lagi.“Katanya, Mas Aldo dan Mbak Asma itu pernah ada hubungan Mas. Saya juga kurang tahu, tapi sepertinya Mas Aldo suka sama Mbak Asma,” ucap Pak Soni.
POV Husein SandewaAku sangat mencintai Maya Anjani dan tidak ada satu pun yang bisa membuatku berpaling darinya. Dia istriku yang sangat cantik. Cinta pertamaku dan belahan jiwaku. Lalu Tuhan menguji cinta kami berdua. Malam itu, ibu menangis di hadapanku. Dia memohon agar aku mau menikah lagi. Rencana gila yang dua bulan lalu sudah disusunnya dengan rapih. Kata ibu, dia mengenal seorang gadis yang rajin bernama Asma Hanifa. Ibu sangat menyukainya. Pernah sekali ibu melihatnya di rumah sakit sebagai tenaga kesehatan di bidang farmasi. Karena itu lah ibu menginginkannya.Alasan tepatnya adalah, ibu melihat Asma sebagai wanita yang sabar dan penurut dan tentu saja dia ingin menjadi istri keduaku.Aku menolak perjodohan gila ini namun ibu terus memaksaku. Maya Anjani, perempuan yang aku cintai kecelakaan. Sehari sebelum berangkat ke Bandung, dia mengatakan bahwa aku harus memikirkan dengan baik rencana ibu. Dia tidak menolak, dia juga tidak menerima. Namun di hatiku yang paling dal
Kami memutuskan untuk berpisah. Malam itu juga, Mas Husein mengantarku ke rumah. Sejujurnya dia tidak ingin membawahku pulang ke rumah malam-malam. Namun aku memaksanya. Mas Husein belum mengucapkan kata talak kepadaku karena dia menyuruhku untuk menimbang setiap keputusan ini. Selama di perjalanan, kami saling diam. Sesekali dia menatapku dari balik kaca spion dan menghela napas panjang. “Jangan menangis, takutnya ibumu berpikir buruk sama saya.”“Nggak, aku nggak nangis kok, Mas,” jawabku. Aku menyeka air mataku dengan cepat. Aku tidak ingin dia melihatku. Demi Allah, aku tidak ingin Mas Husein beranggapan jika aku lemah. Tidak ada yang boleh menganggapku lemah. Sesampai di rumah ibu, aku berjalan masuk ke dalam kamar. Ibu yang berdiri di depan pintu terkejut menatapku. “Asma, Asma!” panggilnya. Dia mengikuti dari belakang. “Asma, apa yang terjadi? Kamu dan Husein beneran pisah? Gila yah kamu!” Aku tidak mengubris ucapan ibu. Aku dengan cepat menutup pintu. Mas Husein sepert
Seminggu setelah kematian Mbak Maya, kelakuan Mas Husein masih saja sama. Dia sering kali ditemukan terlelap tidur di samping makam Mbak Maya. Ibu Wati yang melihat hal itu segera menghubungi psikolog untuk membantu putranya. Berkali-kali Mas Husein marah. Dia tidak ingin dianggap gila. “Nggak apa-apa Mas, siapa tahu dengan bantuan psikiater, Mas lebih baik,” ucapku. Ini kali pertama aku berbicara kepada Mas Husein. Dia spontan menatapku dengan pandangan tajam. “Jadi, kamu juga berpikir kalo aku gila, begitu?” teriaknya. Aku menggeleng dengan cepat. Aku takut jika Mas Husein marah seperti ini. “Nggak Mas!” jawabku. Mas Husein segera menutup pintu kamar dengan keras. Aku terperanjak kaget. “Asma!” panggil Ibu Wati. Aku segera berjalan cepat masuk ke dapur. Di sana, Ibu Wati menatapku dengan wajah sedih. Dia mengelus pungungku dan menuntunku untuk duduk di meja makan. Wajahnya terlihat serius memandangiku. “Asma, aku tahu ini nggak mudah bagi kamu. Husein sulit melupakan Maya d
Setelah kepergian Mbak Maya, suasana di rumah sangat berbeda. Malam ini, orang-orang berdatangan untuk melaksanakan takziah. Ibu Wati berada di depan pintu menyambut para tamu. Saat ibu-ibu masuk ke dalam rumah, mereka menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Apalagi saat aku duduk berdampingan dengan Mas Husein, mereka mencibir.“Pasti dia senang, jadi istri satu-satunya, siapa sih nggak bahagia?”“Pelakor naik pangkat, keren banget dia.”Aku menunduk saat melewati ibu-ibu pengajian yang memandangiku dengan tatapan menjijikan. Mereka kerap kali bertanya apakah aku sudah hamil atau tidak. Entahlah, sepertinya kehidupanku adalah hal yang menarik bagi mereka. “Mas mau minum?” seruku kepada Mas Husein. Sejak tadi, dia duduk dan diam saja. Bahkan untuk berbicara pun sepertinya dia tidak sanggup.Mas Husein tidak bersuara saat aku menawarkan secangkir teh hangat. “Mas makan dulu yah.”Mas Husein menggeleng. “Mbak Maya bakalan sedih kalo Mas Husein seperti ini. Mas belum makan da
Malam harinya, aku menemani Mas Husein untuk menjaga Mbak Maya. Sampai sekarang kondisi Mbak Maya sama sekali tidak ada perubahan.“Mas, tangannya gerak Mas!” ucapku kepada Mas Husein yang terlelap tidur di sampingku. Dia segera bangun dan mencoba menatap Mbak Maya.“Tadi gerak!” ucapku lagi. Aku takut dia mengatakan aku bohong kepadanya.“Tangan Mbak Maya dingin banget Mas,” seruku.Jemarinya sangat dingin dan aku tidak enak hati untuk menjelaskan hal ini kepada Mas Husein sejak tadi.“Mas panggil dokter dulu yah. Kamu di sini!”Mas Husein berdiri lalu berjalan menuju pintu. Namun aku segera memanggilnya saat jemari Mbak Maya bergerak sekali lagi.“Mas, mas, gerak lagi Mas!”Mas Husein kembali. Dia menyentuh kening Mbak Maya dan berbisik. Aku tidak tahu apa yang dia katakan, suaranya sangat pelan.“Nggak ada waktu lagi, Mas harus panggil dokter!”Mas Husein berlari menuju pintu. Jemariku bergetar saat Mas Husein mengatakan itu. Apa yang terjadi? Aku sangat takut.“Mbak Maya, mbak ban