“Kau hendak mencabut kalungku?” tanya Gajendra yang sudah tahu maksud serangan dari Bimantara tadi.Bimantara heran mendengar Gajendra sudah tahu niatnya. Gajendra tertawa. Dia mencabut kalungnya lalu menjatuhkannya ke atas tanah.“Kau pikir kekuatanku berasal dari kalung itu?” tanya Gajendra sambil tersenyum jahat. “Kau salah!”Bimantara diam saja mendengarnya. Dia mencoba tenang agar tidak terpancing emosi lagi.Gajendra kembali melanjutkan kata-katanya. “Begitu pun dengan gelangku.” Gajendra langsung melepas gelangnya lalu menjatuhkannya ke atas tanah. “Kekuatanku bukan berasal dari dua benda itu, tapi dari dalam diriku sendiri!”Bimantara terdiam mendengarnya. Semua yang menyaksikan pertarungan itu pun terdiam.“Kau pasti bisa melawannya, Bimantara!” teriak Pangeran Dawuh memberinya semangat.Mendengar itu semua pasukan Bimantara pun berteriak memberinya semangat. Para prajurit Panglima Aras pun tak kalah semangat memberi Bimantara semangat.Gajendra kembali mengeluarkan jurus-jur
Hari sudah mulai gelap. Bimantara dan Gejendra masih dalam posisi pingsan dan tidak sadarkan diri. Pasukan Perguruan Tengkorak tampak khawatir dengan gurunya. Begitupun dengan pasukan Bimantara.“Kita harus bertindak!” ucap Pangeran Dawuh dengan khawatirnya.“Tidak ada yang bisa meruntuhkan dinding pembatas tak terlihat yang melingkari mereka,” sahut Pangeran Sakai dengan putus asa.“Selama kita mencari tahu, kita pasti menemukan caranya,” sahut Kancil.Panglima Sada, Panglima Aras dan Kakek Kepala Perguruan Elang Putih tampak terdiam bingung. Kakek itu menoleh pada semuanya.“Dinding pembatas itu akan abadi jika keduanya sama-sama meninggal. Tak ada yang bisa meruntuhkannya! Mereka akan terjebak di sana sampai tubuh hancur hingga menjadi tulang belulang,” ucap Kakek itu.Semua terkejut mendengarnya.“Aku akan kembali ke istana untuk mencari sebuah kitab di perpustakaan yang menuliskan tentang ajian dinding pembatas itu,” ucap Kancil.“Tak ada yang boleh pergi dari sini sampai misi ki
Pangeran Dawuh sudah duduk bersila bersama yang lainnya menghadap Bimantara dan Gajendra yang masih terkulai di atas tanah di dalam lingkaran pembatas. Semuanya mengeluarkan tenaga dalam masing-masing. Saat semuanya menyerang dinding pembatas tak terlihat itu, cahaya yang mereka keluarkan dari tangan masing-masing ternyata tak bisa menembus dinding pembatas itu. Apalagi untuk meruntuhkannya. Cahaya itu malah memantul dan mengenai sebagian dari mereka.Pasukan Gajendra lega melihatnya.“Bagaimana pun caranya, mereka tak akan berhasil merubuhkan dinding pembatas tak terlihat itu!” teriak salah satu pasukan Gajendra dengan lega.“Tuan Guru kita memang hebat!” puji salah satu pengikut Gajendra.Kancil yang masih berusaha menyerang dinding pembatas dengan tenaga dalamnya kini terpelanting jauh ke belakang terkena pantulan tenaga dalamnya sendiri. Panglima Aras segera berlari ke arah Kancil dengan khawatir dan panik.“Pangeraaaan!” teriak Panglima Aras.Dia segera membantu Kancil berdiri di
Salah satu pejabat istana mendatangi Raja Banggala yang sedang duduk di singgasananya.“Ampun, Yang Mulia Raja. Mata-mata istana telah mengetahui di mana keberadaan Pedang Perak Cahaya Merah itu,” ucap salah satu pejabat istana itu dengan penuh semangat.Raja Banggala berdiri dengan penasaran.“Dimana Pedang Perak Cahaya Merah itu berada?” tanya Raja Banggala dengan penasaran.“Dia sudah dimiliki Pangeran Kantata, yang Mulia. Pangeran dari kerajaan Nusantara Timur,” jawab pejabat istana itu.Raja Banggala terkejut mendengarnya. “Kalau begitu kirimkan surat pada Raja Dwilaga agar memerintahkan Pangeran Kantata untuk membantu Pangeran Pangaraban agar menyelesaikan misi mereka,” perintah Raja Banggala.“Siap, Yang Mulia,” jawab pejabat istana itu.***Raja Dwilaga terbangun di tengah malam saat mendengar suara yang mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Raja Dwilaga dari kerajaan Nusantara Timur itu pun heran. Dia berteriak memanggil prajurit yang berjaga di depan kamarnya.“Prajurit! Periksa d
Pendekar Rambut Emas datang kepada Kepala Perguruan Matahari. Pendekar Tangan Besi itu tampak terkejut melihat guru utama itu datang menemuinya di tengah malam begitu di pinggir dermaga.“Tuan Guru Besar!” teriak Pendekar Perempuan itu.“Ada apa?” tanya Kepala Perguruan dengan bingung.“Salah satu murid dari perguruan matahari yang tengah berjuang bersama Bimantara telah mengirimkan surat padaku. Mereka mengatakan saat ini Bimantara tengah terjebak di dalam lingkaran dinding pembatas tak terlihat bersama Gajendra. Bimantara tengah tidak sadarkan diri akibat serangan tenaga dalam dari Gajendra, begitupun Gajendra. Mereka meminta bantuan kita untuk mencari pedang perak cahaya merah untuk merubuhkan dinding pembatas tak terlihat itu agar bisa menyelamatkan Bimantara,” jawab Pendekar Rambut Emas.Kepala Perguruan terkejut mendengarnya.“Kalau begitu, pergilah untuk mencari pedang perak cahaya merah itu,” pinta Kepala Perguruan padanya.“Baik, Tuan Guru besar,” jawab Pendekar Rambut Emas.
Panglima Sada menyerang Pangeran Kantata dengan pedangnya. Seketika Pedang di tangan Panglima Sada terlempar jauh. Pangeran Kantata menendang Panglima Sada hingga dia tersungkur. Pangeran Sakai hendak maju, namun Rajo dan Wira memeganginya dengan kuta.“Jangan, Pangeran. Kau bisa mati jika melawan dia!” pinta Rajo.“Aku sudah menjadi murid perguruan matahari! Aku memiliki ilmu yang bisa melawan dia! Kalian jangan meremehkanku!” teriak Pangeran Sakai yang mencoba melepaskan diri dari pegangan Rajo dan Wira. Namun karena pegangan Rajo dan Wira begitu kuat, Pangeran Sakai tak bisa melepaskan diri.Seketika amarah Pangeran Sakai yang sudah dirasuki cahaya merah kian menjadi. Dia mendatangkan angin puting beliung yang besar hingga semua yang berada di sekitar lingkaran dinding pembatas tak terlihat yang mengurung Bimantara dan Gajendra terlempar jauh dari sana.Saat semua pasukan yang mendukung Bimantara terlempar jauh dari Pangeran Kantata, dia tertawa begitu kencang. Kini pasukan yang me
Pendekar Pedang Emas mengulurkan pedangnya ke hadapan Pangeran Kantata dengan tatapan tajamnya.“Serahkan Pedang Perak Cahaya Merah itu padaku! Jika kau mau selamat dari maut!” tantang Pendekar Pedang Emas padanya.Pangeran Kantata tertawa. “Kau tak akan bisa merebut pedang ini dariku! Justru kau yang harus menyingkir dariku jika tidak mau mati di tanganku!” ancam Pangeran Kantata.“Aku masih menghormatimu sebagai yang mulaiku! Jika kau tidak mau menyerahkan pedang itu, maka aku tak punya pilihan lain selain membunuhmu,” jawab Pendekar Pedang Emas.Pangeran Kantata langsung menyerang Pendekar Pedang Emas dengan pedangnya. Pendekar itu pun melawan serangan Pangeran Kantata dengan gesit. Petarungan keduanya tampak sengit dikelilingi oleh angin puting beliung.Semuanya menunggu siapa yang akan menang dan kalah dalam pertarungan itu. Kini, Pangeran Kantata hampir saja menusuk kaki Pendekar Pedang Emas, namun pendekar itu berhasil menghindarinya hingga dia langsung mengarahkan tendangannya
“Sekarang kau sudah memiliki pedang itu! Aku tak menyangka ternyata kaulah Candaka Uddhiharta yang ditunggu-tunggu para pendekar selama ini,” ucap Gajendra.“Aku tidak peduli siapa diriku! Yang aku pikirkan saat ini kau harus mati di tanganku! Kau telah membuat kekacauan demi kekacuan di bumi Nusantara ini!” teriak Bimantara, “Kau telah mengoyak ketenangan dan kedamian di bumi Nusantara ini!” Bimantara mengangkat pedangnya.Gajendra tertawa. “Kau tahu, keturunan-keturunan Raja di tiga kerajaan nusantra ini bukanlah keturuan yang sah untuk mendapatkan tahta?!” tanya Gajendra.Bimantara terkejut mendengarnya. Pangeran Dawuh, Kancil dan Pangeran Sakai pun terkejut mendengarnya.“Aku tidak tahu itu! Aku tidak peduli! Itu bukan urusanku!” teriak Bimantara.“Makanya aku memberitahumu anak muda! Leluhur mereka!” ucap Gajendra menunjuk Pangeran Sakai, Pangeran Dawuh dan Kancil. “Bukan keturunan yang sah untuk mendapatkan tahta kerajaan! Leluhurku lah yang seharusnya menjadi penguasa di bumi N