Saat ini Aldo duduk di sofa kamarnya, kamar yang telah lama di tinggalkannya, dengan kedua tangan di rentangkan di kursi. Pikirannya kacau saat ini, sungguh ini adalah hal yang paling di benci olehnya.
Pernikahan yang menurutnya hanyalah Bullshit, apa lagi cinta. Di dalam kamusnya tidak ada yang namanya cinta, karena kata-kata cinta yang keluar dari mulut wanita hanyalah omongan sampah yang tidak ada gunanya bagi Aldo.
Sejak cinta pertamanya kandas, dan hanya mengincar hartanya semata, mulai dari situlah Aldo tidak pernah lagi percaya akan namanya cinta. Hubungannya dengan para wanita hanyalah sebatas penghangat ranjang, tanpa ada cinta di dalamnya.
Karena baginya wanita yang bilang cinta kepadanya hanya butuh hartanya saja. Selayaknya pelacur yang meminta upah atas jasanya memberi kepuasan kepada setiap pelanggannya.
Kini Aldo harus berpikir keras bagaimana dengan pernikahan yang di minta oleh sang Papa. Haruskah Aldo menerima pernikahan itu? Sedangkan dia tidak pernah nyaman dengan istilah pernikahan.
Tapi jika ia menolak untuk menikahi wanita pilihan Papanya, bagaimana dengan kesehatan Papanya nanti? Sungguh Aldo terlihat frustasi karena masalah ini. 'Walaupun perjanjian pernikahan 3 bulan telah di buat, kenapa hatiku masih merasa tidak tenang?' batin Aldo.
Aldo menghela nafas, lalu ia bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju ke arah meja yang ada di sudut kamarnya. Aldo membuka sebuah botol anggur merah yang terdapat di meja tersebut, kemudian menuangkannya ke dalam sebuah gelas yang telah tersedia.
Setelah menghabiskan beberapa gelas anggur, kesadaran Aldo mulai hilang. Ia pun terlelap di sofa sambil tangannya masih memegang gelas. Sedangkan botol anggur yang tadi di bukanya telah kosong tak bersisa.
•••••••∆∆∆∆•••••••
Hari ini setelah kondisi William membaik, Dokter mengijinkannya untuk pulang. Tapi dengan catatan tidak boleh ada kabar buruk yang membuatnya anfal lagi. Aldo lebih berhati-hati dalam tindakan atau pun kata-katanya, karena takut akan membuat orangtuanya mengalami serangan jantung untuk kedua kalinya.
Dengan di jemput oleh sekretaris Ferry, maka William pun pulang ke Rumah dengan raut wajah bahagia. Di sampingnya sudah ada Aldo yang setia menemaninya, "Kenapa kamu tidak membawa Icha untuk menjemput Papa, Al?" Tanya William.
Aldo yang sibuk dengan ponselnya menghentikan sejenak aktifitasnya, ia menoleh sekilas ke arah William. Lalu ia kembali menatap layar ponselnya, "Icha bilang sedang ada meeting dengan klien, Pa," jawab Aldo dengan wajah santai namun matanya tidak beralih dari layar ponselnya.
Mendengar hal itu William mengerutkan keningnya, karena William tahu betul jika Icha bekerja di perusahaan Adi Jaya sebagai sekretaris. Dan sekarang Aldo bilang meeting? Apa benar jika Icha sedang meeting? Bukankah tadi pagi Icha mengatakan jika ia akan datang terlambat ke rumah sakit.
William pun menoleh ke arah Aldo, ingin memastikan kecurigaannya, "Memangnya kamu tahu dimana tempat kerja Icha sekarang?" Selidik William.
Aldo yang masih menatap layar ponselnya hanya menghela nafasnya, "Tahu dong Pa, dia kerja di perusahaan orangtuanya kan?" Jawab Aldo enteng.
Terlihat wajah William kecewa mendengar jawaban Aldo. Karena seperti dugaannya, bahwa Aldo tidak tahu apa-apa tentang Icha. Bahkan tempat kerja Icha saja ia tidak tahu. 'Dasar anak kurang ajar, berani-beraninya berbohong padaku,' batin William. Tapi William tidak mempermasalahkan soal itu, yang penting baginya adalah Aldo bersedia menikah dengan Icha.
Perlahan tapi pasti Aldo juga akan mengetahui bagaimana Icha dan seperti apa gadis baik itu yang dengan suka rela mengorbankan dirinya demi keluarganya. Bahkan keluarganya sendiri seolah tidak menganggap Icha bagian dari mereka.
'Jika keluargamu tidak menginginkan kamu, jangan khawatir Icha, aku akan menggantikan posisi mereka menerimamu dengan penuh kasih sayang selayaknya orangtua kandung kamu.' Batin William.
Mata William menerawang jauh ke depan, dia merasa bersalah dengan Icha, gadis yang baik hati menurun dari sifat ibunya. Bahkan dulu ibunda Icha juga pernah mengorbankan dirinya tanpa memperdulikan apa pun.
Sesampainya di halaman Rumah mewah seperti istana itu, William keluar dari mobilnya dan memasuki rumah di ikuti oleh sekretaris Ferry dan Aldo di belakangnya.
"Papa sebaiknya istirahat di kamar, dan minum obat dengan teratur, supaya Papa cepat sembuh," ucap Aldo.
Namun William seakan tidak mendengarkan perkataan Aldo, "Ferry, besok suruh Icha dan keluarganya datang kemari, kita akan bahas soal pernikahan Al dan Icha secepatnya," ucap William seakan memberi perintah pada Ferry.
"Baik Tuan."
Mendengar hal itu Aldo terpaku diam di tempatnya, Aldo tidak menyangka jika Papanya akan secepat itu menjadwalkan pernikahannya. Melihat ekspresi Aldo yang diam tanpa kata, William pun mendekat dan menepuk bahunya dua kali.
"Kamu sudah siap kan?" Pertanyaan William sukses membuat Aldo tersadar dari lamunannya.
"Hem, iya Pa, aku siap," jawab Aldo sambil menganggukkan kepalanya.
"Bagus Al, dan memang kamu sebaiknya harus siap, karena Papa tidak tahu berapa lama Papa akan bertahan," ucap William.
Deg!!
Jantung Aldo tiba-tiba berdetak cepat mendengar perkataan William barusan. Dan itu sukses membuat Aldo teringat akan perkataan dokter sewaktu dia pertama datang dari London.
Hati Aldo semakin merasa sedih dan tidak rela jika ia kehilangan orangtuanya lagi, dulu Mamanya meninggal karena melahirkannya, hingga William yang harus berperan menjadi Papa sekaligus Mama bagi Aldo. Jika ia kehilangan Papanya, apa yang akan terjadi di dalam hidupnya kelak?
Aldo tidak bisa lagi menutupi rasa sedihnya membayangkan jika akan kehilangan Papanya, "Sebaiknya Papa segera sembuh, atau Al tidak akan menikahi gadis itu, jika Papa belum sembuh juga," ucap Aldo, kemudian ia berlalu meninggalkan William yang tersenyum bahagia mendengar ucapan Aldo.
William pun akhirnya memasuki kamarnya dengan di temani Ferry, senyum kebahagiaan masih mengembang di sudut bibir William hingga sampai di dalam kamarnya.
Sedangkan Aldo justru semakin bingung, bagaimana bisa Papanya ingin secepat ini menikahkannya dengan gadis itu, begitulah kira-kira yang ada di kepala Aldo saat ini.
'Ini bukan masalah besar, hanya pernikahan sementara saja, dan itu tidak akan menghalangi kebebasanku,' batin Aldo.
Dia melihat langit-langit kamarnya, terbayang sekilas wajah Icha saat terakhir kali mereka bertemu, wajah Icha yang terlihat lugu, tapi entah kenapa menurut Aldo bahwa Icha hanya bersikap sok lugu untuk bisa mendapatkan apa yang dia mau. Buktinya Icha setuju menikah walaupun ia tahu jika setelah 3 bulan akan menjadi janda.
'Sudah seminggu ini aku tidak bermain ke club malam, gara-gara harus menunggu sampai Papa sembuh, sepertinya aku butuh pelampiasan malam ini,' batin Aldo.
Dan harus di akui bahwa Aldo sangat suka pergi ke club malam. Menghabiskan malam bersama dengan teman-temannya bahkan bermain one night stand pun sudah menjadi rahasia umum baginya. Walaupun suka dengan permainan one night stand, tidak sembarangan wanita bisa naik ke atas ranjangnya. Hanya wanita pilihan yang bisa menaiki ranjang Aldo untuk memuaskannya.
Sebelum tidur dengan wanita satu malamnya, aldo memastikan bahwa mereka terbebas dari segala macam penyakit. Aldo bahkan tidak segan memberikan tips uang banyak jika Aldo merasa puas dengan pelayanan mereka.
Kini hari telah berganti malam, Aldo yang merasa telah lama tidak menyalurkan hasratnya, kini dia bersiap untuk pergi keluar. Dan tentu saja Aldo akan mencari mangsa di negara ini, yaitu negara Indonesia.
Mungkin jika di London ia akan mudah menemukan wanita one night stand, tapi di Indonesia ia merasa masih kesulitan. Mengingat negara ini ketat akan peraturan prostitusi, bahkan undang-undang juga melarang adanya hal tersebut.
Bersambung..
Aldo memasuki sebuah Club malam, dan tentu saja club malam tersebut adalah langganannya ketika ia berada di Indonesia. Tapi sebelumnya Aldo sudah menghubungi para sahabatnya untuk bergabung dengannya di Club tersebut.Sebuah ruangan VIP di lantai 5 menjadi ruangan paling terfavorite bagi Aldo, karena selain suasananya tenang, di ruangan tersebut sangat terjaga privasinya dengan fasilitas kedap suara yang dimiliki oleh club tersebut."Hay Dude, lama tidak bertemu? Bagaimana kabar London saat ini?" tanya Sean pada Aldo yang baru saja datang."London masih pada tempatnya yang aman. Setelah 2 tahun kita tidak bertemu, apa selera wanitamu masih tetap sama, Sean?" tanya Aldo seakan mengejek selera Sean."Cih, aku bukan dirimu, yang harus setiap hari gonta ganti wanita," jawab Sean malas menanggapi teman lamanya tersebut yang memang terkenal akan playboynya. Sedangkan tunangan Sean hanya tersenyum mendengar candaan k
Aldo menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, pandangan mata Aldo melihat ke langit-langit ruangan VIP club tersebut, "Ini juga demi kesembuhan Papa, aku belum siap jika harus kehilangan Papa," gumam Aldo pelan namun masih terdengar oleh Bima yang duduk di sampingnya. Bima hanya terdiam mendengar itu, ia tidak menyangka jika Aldo akan mengalami hal semacam ini. Dan Bima tahu jika Aldo sangat menyayangi Papanya.Bima melihat sekilas ke arah Aldo, kemudian pandangannya kembali ke depan, menatap gelas minuman yang ada di tangannya. "Cepat atau lambat kita semua pasti akan menikah, entah kamu mencintai pasanganmu atau tidak. Terlepas apapun latar belakang yang mendasarinya. Tetap saja pada kenyataannya pernikahan pasti akan terjadi, suka atau tidak suka bukanlah jawaban. Tapi semua tergantung bagaimana kita akan menyikapi pernikahan kita ini ke depannya nanti," ucap Bima terlihat serius. Aldo menoleh ke arahnya, seolah mencari makna dari perkataan lelaki tersebut.Dan
Jason terjatuh sambil memegang pergelangan tangannya yang sakit akibat tendangan kaki Clarissa, yang mengenai salah satu tangannya. "Sudah aku katakan sebelumnya, jika kamu tidak bisa mengkondisikan tangan kamu. Jangan salahkan aku jika aku mematahkannya." Ucap Clarissa yang kemudian berjalan mendekati Aldo yang sepertinya tak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya."Tangan kamu terluka? Ayo keluar dari sini dulu. Aku akan mengobatinya." ucap Clarissa menarik Aldo supaya meninggalkan club malam tersebut.Aldo hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Clarissa keluar dari club malam itu. "Kamu bawa mobil, kan?" Tanya Clarissa. Dan di angguki oleh Aldo. "Sini kuncinya, sekalian aku antar kamu pulang."Aldo merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobil miliknya. Setelah mendapatkan kunci dari saku celananya, ia melempar kunci mobil tersebut ke arah Clarissa. "Ini, jangan sampai mobilku rusak setelah kamu mengemudikannya." ucap Aldo.
Pagi ini Clarissa tampak tergesa-gesa keluar dari apartemen miliknya. Hingga ia tidak sempat untuk memakan sarapannya dengan baik. Sebuah roti berisi selai nanas kesukaannya memenuhi mulut. Sambil berlari ia mengunyah roti tersebut menuju ke arah lift."Tunggu!" teriaknya saat pintu lift akan tertutup."Makasih." ucap Clarissa sejenak mengambil roti dari mulutnya agar bisa bicara dengan jelas."Kesiangan lagi?" suara seseorang yang berada di lift yang sama dengan Clarissa."Iya, efek semalam ga bisa tidur." jawabnya.Orang itu hanya tersenyum mendengar jawaban Clarissa. Karena sepertinya ia harus terbiasa dengan hal itu. Melihat Clarissa selalu saja kesiangan saat berangkat kerja. Dan mereka sering bertemu dalam keadaan seperti ini setiap paginya."Mungkin hari ini, hari terakhir aku pergi ke kantor itu mas." ucap Clarissa."Loh kenapa? Bukannya kamu sudah lama bekerja disana?" tanya lelaki itu penasaran.
"SAH." ucap para saksi yang hadir di sebuah hotel berbintang. Para tamu yang hadir bertepuk tangan mendengar ucapan tersebut, lalu di lanjut dengan doa untuk kedua mempelai. "Nah sekarang silahkan mempelai wanitanya untuk mencium tangan suami sebagai tanda bakti." ucap pak penghulu. Clarissa hanya bisa mengikuti serangkaian acara yang sudah tersusun rapi walau dalam hatinya merasa kesal. Sama halnya dengan Aldo, dia tidak banyak membantah seperti biasa, ia hanya bisa pasrah menuruti keinginan Papanya. Setelah selesai dengan acara sakralnya, kini di lanjut dengan foto keluarga. Setelahnya acara makan bersama untuk para tamu undangan yang hadir. Walaupun hanya keluarga inti dan sahabat dekat saja yang hadir, tidak membuat acara itu terasa sepi. Kehangatan sangat kental terasa. "Akhirnya kamu bisa juga mengucapkan kata itu dengan sangat lancar, dude. Bahkan terdengar begitu sempurna dan juga merdu." ucap Bryan yang juga hadir di
Setelah menginap semalam di rumah mewah pemberian dari William. Kini Clarissa berniat untuk pulang ke apartemennya. Setidaknya dia akan melihat bagaimana kondisi apartemen saat dia tidak pulang tadi malam.Di tambah lagi sudah menjadi kesepakatan bersama kalau setelah menikah mereka tidak akan saling mencampuri urusan masing-masing. Jadi sepertinya kalau pun Clarissa pulang ke apartemen tidak akan jadi masalah, bukan?"Mau kemana?" tanya Aldo yang kini sedang duduk di kursi dekat meja makan menikmati sarapan, saat melihat Clarissa sudah rapi keluar dari kamar tamu."Pulang." jawab Clarissa dengan santai sambil berjalan mendekat kearah Aldo. Lalu dia duduk di kursi tidak jauh dari Aldo.Aldo mengerutkan keningnya mendengar jawaban Clarissa. "Pulang? Apa kamu sudah gila?" tanya Aldo."Kenapa?" tanya Clarissa tidak mengerti, lalu dia mengambil sepotong sandwich yang ada di meja lalu menyuapkan ke dalam mulutnya. Belum juga ia menelan sandwich di
Setahu Yudha, Clarissa tidak banyak memiliki teman laki-laki. Dan ini mungkin kali pertama bagi Yudha melihat ada yang datang menghampiri apartemen Clarissa sampai di depan pintu.Saat keduanya seperti sedang saling menilai satu sama lain, terdengar suara pintu terbuka. "Aldo?" ucap Clarissa saat melihat Aldo berada tepat di depan pintu. "Kenapa kamu ada di sini? Nggak sabaran amat sih, kan bisa nunggu di bawah." gerutu Clarissa. Yang hanya di tanggapi oleh Aldo dengan menaikkan sebelah alisnya sambil melirik pergelangan tangan yang terdapat jam tangan, seperti sebuah peringatan bagi Clarissa jika waktu yang di berikannya telah habis.Clarissa tidak dapat menangkap dengan jelas maksud peringatan dari Aldo. 'Bukankah tadi dia memberiku waktu setengah jam untuk berkemas? Kenapa dia malah naik ke sini sih?' batin Clarissa. Lalu dia melihat kearah pergelangan tangannya sendiri. seketika wajahnya pucat karena waktu setengah jam itu ternyata telah berlalu begitu cepat.
Seminggu pertama pernikahan adalah tahap penyesuaian diri antara Aldo dan Clarissa, mereka berdua melakukan beberapa kesepakatan supaya tidak mengganggu privasi masing-masing. Diantara kesepakatan itu adalah tidak saling mengusik area pribadi mereka, jika Aldo memilih lantai atas untuk area pribadinya. Sedangkan Clarissa harus rela tinggal di lantai bawah.Keduanya seperti sengaja memasang pembatas tak kasat mata untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, salah satunya menghindari supaya tidak saling jatuh cinta. Aldo juga meminta papanya menarik para pelayan yang ada di rumah itu supaya kembali bekerja di rumah lamanya, yaitu rumah orangtua Aldo tentunya. Aldo berasalan supaya mereka bisa menghabiskan lebih banyak waktu berdua saja untuk semakin mengenal satu sama lain.Aldo hanya meminta supaya para pelayan datang cukup seminggu sekali membersihkan seluruh rumah, selebihnya di hari-hari biasa Clarissa yang bertugas untuk membereskannya. Karena mereka lebih banyak menghabiskan
Yudha mengerutkan keningnya saat Clarissa mengakhiri panggilannya begitu saja, "Ada apa sama dia?" gumamnya sambil melihat ke layar ponsel seakan tak percaya dengan yang baru saja terjadi.Yudha berusaha positive thinking, tapi hatinya menolak untuk itu. "Suara siapa barusan? Kenapa terdengar seperti suara laki-laki?" gumamnya penasaran. Hatinya berdebar kencang tak karuan, bahkan kini matanya tidak merasakan kantuk sama sekali. Pikiran Yudha masih terpaku akan dimana tempat tinggal Clarissa saat ini, dan suara laki-laki yang baru saja menginterupsi panggilan teleponnya dengan Clarissa itu suara siapa? Dan apa hubungan Clarissa dengan dia?"Rahasia besar apa yang sedang kamu sembunyikan dariku, Icha?" Yudha bertanya-tanya dengan penuh rasa penasaran.Yudha menebak-nebak apa yang sedang Clarissa sembunyikan darinya. Karena selama ini Yudha cukup tahu banyak hal tentang Clarissa, berbagai informasi tentang pujaan hatinya itu tidak ada sedikit pun yang ia lewatkan. Namun sepertinya kali
Aldo yang baru saja sampai ia langsung memarkirkan mobilnya di garasi, kemudian dia dengan santai berjalan menuju ke pintu utama rumahnya. Saat Aldo baru saja memasuki rumahnya, ia melihat ke arah meja makan yang memang lampunya masih menyala. Terlihat Clarissa sedang asyik menikmati makanannya di meja makan itu tanpa memperdulikan kedatangan Aldo, padahal ini sudah lebih dari tengah malam. Aldo pun merasa penasaran, karena memang baru kali ini ia memergoki Clarissa makan tengah malam selama mereka tinggal bersama. Aldo berjalan mendekati Clarissa yang sangat lahap menikmati makanannya. Aldo menarik kursi yang ada di depan Clarissa lalu mendudukinya. Melihat Aldo duduk didepannya, Clarissa pun menghentikan aktifitas makannya dan melihat kearah Aldo heran. "Ada apa?" tanya Clarissa, karena ini di luar kebiasaan Aldo. Biasanya mereka akan duduk di meja yang sama hanya untuk membahas sesuatu hal penting, makanya Clarissa berpikir jika Aldo akan membicarakan sesuatu hal penting padanya.
"Gadis bodoh, sedang apa kamu di sini?" tanyanya tak kalah terkejut melihat Clarissa di depannya. "Lagi tidur ... Udah tahu ini di kantor, iya kali aku sedang mandi disini." jawab Clarissa asal tanpa menyadari tatapan heran dari Yudha karena jawaban absurdnya itu. "Oh, aku mngerti sekarang." ucap Aldo sambil tersenyum mengejek kearah Clarissa. Ternyata Clarissa bekerja pada orang yang tempo hari ketemu dengannya di depan apartemen Clarissa, dalam pikiran Aldo kini jika Clarissa mempunyai hubungan special dengan lelaki yang kini ada didepannya dan mungkin sebentar lagi akan menjadi partner bisnisnya. Melihat situasi itu, yudha segera mengulurkan tangannya memperkenalkan diri pada Aldo. "Saya Yudha Prawiratama perwakilan dari Prawira energy." ucap Yudha dengan senyum ramah pada Aldo. "Aldo Frederick Parker, anda bisa memanggil saya Aldo." jawab Aldo menerima uluran tangan Yudha. "Sungguh di luar dugaan, ternyata anda pemilik dari perusahaan ini. Jadi tidak akan canggung lagi karena
Clarissa yang kini sudah sampai di kantor barunya, ia langsung diarahkan menuju ke ruang kerjanya. Ia tidak menyangka jika ruang kerjanya adalah di dekat meja CEO, dan jabatan yang ia peroleh kini sebagai sekertaris pribadi dari CEO itu. "Nggak nyangka kalau Mas Yudha memberikan posisi sebagus ini padaku. Padahal aku hanya melamar sebagai sekertaris biasa bukan sebagai sekertaris CEO." gumam Clarissa yang kagum bercampur bahagia. Walaupun Clarissa tidak berharap terlalu tinggi, tapi untuk menjadi sekertaris pribadi CEO tidak pernah terlintas di benaknya. Bibir Clarissa terus mengembangkan senyum indahnya, rasa tak percaya sekaligus bahagia menyelimuti hatinya. "Aku rasa Aldo akan pingsan jika tahu aku mendapat posisi sebagus ini." ucap Clarissa bangga dengan dirinya sendiri. Penghinaan dari Aldo tadi pagi terbayar dengan jabatan bagus yang di inginkan oleh semua sekertaris yang bekerja di perusahaan itu. Walau saat ia datang, beberapa orang melihatnya penuh tanya tapi Clarissa ti
Seminggu pertama pernikahan adalah tahap penyesuaian diri antara Aldo dan Clarissa, mereka berdua melakukan beberapa kesepakatan supaya tidak mengganggu privasi masing-masing. Diantara kesepakatan itu adalah tidak saling mengusik area pribadi mereka, jika Aldo memilih lantai atas untuk area pribadinya. Sedangkan Clarissa harus rela tinggal di lantai bawah.Keduanya seperti sengaja memasang pembatas tak kasat mata untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, salah satunya menghindari supaya tidak saling jatuh cinta. Aldo juga meminta papanya menarik para pelayan yang ada di rumah itu supaya kembali bekerja di rumah lamanya, yaitu rumah orangtua Aldo tentunya. Aldo berasalan supaya mereka bisa menghabiskan lebih banyak waktu berdua saja untuk semakin mengenal satu sama lain.Aldo hanya meminta supaya para pelayan datang cukup seminggu sekali membersihkan seluruh rumah, selebihnya di hari-hari biasa Clarissa yang bertugas untuk membereskannya. Karena mereka lebih banyak menghabiskan
Setahu Yudha, Clarissa tidak banyak memiliki teman laki-laki. Dan ini mungkin kali pertama bagi Yudha melihat ada yang datang menghampiri apartemen Clarissa sampai di depan pintu.Saat keduanya seperti sedang saling menilai satu sama lain, terdengar suara pintu terbuka. "Aldo?" ucap Clarissa saat melihat Aldo berada tepat di depan pintu. "Kenapa kamu ada di sini? Nggak sabaran amat sih, kan bisa nunggu di bawah." gerutu Clarissa. Yang hanya di tanggapi oleh Aldo dengan menaikkan sebelah alisnya sambil melirik pergelangan tangan yang terdapat jam tangan, seperti sebuah peringatan bagi Clarissa jika waktu yang di berikannya telah habis.Clarissa tidak dapat menangkap dengan jelas maksud peringatan dari Aldo. 'Bukankah tadi dia memberiku waktu setengah jam untuk berkemas? Kenapa dia malah naik ke sini sih?' batin Clarissa. Lalu dia melihat kearah pergelangan tangannya sendiri. seketika wajahnya pucat karena waktu setengah jam itu ternyata telah berlalu begitu cepat.
Setelah menginap semalam di rumah mewah pemberian dari William. Kini Clarissa berniat untuk pulang ke apartemennya. Setidaknya dia akan melihat bagaimana kondisi apartemen saat dia tidak pulang tadi malam.Di tambah lagi sudah menjadi kesepakatan bersama kalau setelah menikah mereka tidak akan saling mencampuri urusan masing-masing. Jadi sepertinya kalau pun Clarissa pulang ke apartemen tidak akan jadi masalah, bukan?"Mau kemana?" tanya Aldo yang kini sedang duduk di kursi dekat meja makan menikmati sarapan, saat melihat Clarissa sudah rapi keluar dari kamar tamu."Pulang." jawab Clarissa dengan santai sambil berjalan mendekat kearah Aldo. Lalu dia duduk di kursi tidak jauh dari Aldo.Aldo mengerutkan keningnya mendengar jawaban Clarissa. "Pulang? Apa kamu sudah gila?" tanya Aldo."Kenapa?" tanya Clarissa tidak mengerti, lalu dia mengambil sepotong sandwich yang ada di meja lalu menyuapkan ke dalam mulutnya. Belum juga ia menelan sandwich di
"SAH." ucap para saksi yang hadir di sebuah hotel berbintang. Para tamu yang hadir bertepuk tangan mendengar ucapan tersebut, lalu di lanjut dengan doa untuk kedua mempelai. "Nah sekarang silahkan mempelai wanitanya untuk mencium tangan suami sebagai tanda bakti." ucap pak penghulu. Clarissa hanya bisa mengikuti serangkaian acara yang sudah tersusun rapi walau dalam hatinya merasa kesal. Sama halnya dengan Aldo, dia tidak banyak membantah seperti biasa, ia hanya bisa pasrah menuruti keinginan Papanya. Setelah selesai dengan acara sakralnya, kini di lanjut dengan foto keluarga. Setelahnya acara makan bersama untuk para tamu undangan yang hadir. Walaupun hanya keluarga inti dan sahabat dekat saja yang hadir, tidak membuat acara itu terasa sepi. Kehangatan sangat kental terasa. "Akhirnya kamu bisa juga mengucapkan kata itu dengan sangat lancar, dude. Bahkan terdengar begitu sempurna dan juga merdu." ucap Bryan yang juga hadir di
Pagi ini Clarissa tampak tergesa-gesa keluar dari apartemen miliknya. Hingga ia tidak sempat untuk memakan sarapannya dengan baik. Sebuah roti berisi selai nanas kesukaannya memenuhi mulut. Sambil berlari ia mengunyah roti tersebut menuju ke arah lift."Tunggu!" teriaknya saat pintu lift akan tertutup."Makasih." ucap Clarissa sejenak mengambil roti dari mulutnya agar bisa bicara dengan jelas."Kesiangan lagi?" suara seseorang yang berada di lift yang sama dengan Clarissa."Iya, efek semalam ga bisa tidur." jawabnya.Orang itu hanya tersenyum mendengar jawaban Clarissa. Karena sepertinya ia harus terbiasa dengan hal itu. Melihat Clarissa selalu saja kesiangan saat berangkat kerja. Dan mereka sering bertemu dalam keadaan seperti ini setiap paginya."Mungkin hari ini, hari terakhir aku pergi ke kantor itu mas." ucap Clarissa."Loh kenapa? Bukannya kamu sudah lama bekerja disana?" tanya lelaki itu penasaran.