Pagi pertama Alvaro di kawasan kumuh dimulai dengan dinginnya angin yang menyapu kulitnya. Ia terbangun di bawah jembatan, dengan tubuh yang masih gemetar karena tidur tanpa selimut. Perutnya kosong, dan rasa lapar mulai menguasai pikirannya.
“Aku di mana? Bagaimana aku bisa pulang?” pikirnya, mencoba menenangkan diri meskipun air matanya terus mengalir. Lingkungan di sekitarnya tampak seperti dunia yang berbeda. Bangunan-bangunan reyot berdiri miring, dengan dinding penuh coretan dan jalanan yang dipenuhi sampah. Bau anyir dan busuk menusuk hidung, membuat Alvaro mual. Ia berjalan tanpa tujuan, melewati gang-gang sempit yang penuh dengan suara berisik. Beberapa anak kecil dengan pakaian compang-camping memandangnya dengan tatapan penasaran, sementara orang dewasa di sekitar hanya melirik tanpa peduli. Di sebuah sudut pasar, ia melihat seorang wanita tua menjual pisang goreng. Perutnya yang kosong berontak, dan tanpa berpikir panjang, ia mendekati wanita itu. “Bu... bolehkah aku minta satu?” tanyanya dengan suara kecil. Wanita itu menatapnya dengan curiga. “Bayar dulu, Nak. Tidak ada yang gratis di sini,” jawabnya dingin. Alvaro hanya terdiam, merasa malu dan putus asa. Ia tahu bahwa kehidupannya yang dulu—di mana segala sesuatu mudah didapat—sudah tidak ada lagi. Di tengah keputusasaan, Alvaro bertemu dengan seorang anak lelaki yang tampak seumuran dengannya. Anak itu memakai kaos lusuh dan celana pendek yang robek, tetapi wajahnya penuh percaya diri. “Eh, anak baru? Kau tersesat, ya?” tanya anak itu dengan nada santai. “Aku... aku tidak tahu di mana aku berada,” jawab Alvaro ragu-ragu. Anak itu tertawa kecil. “Namaku Dika. Kalau kau tidak punya tempat tinggal, ikut saja denganku.” Meskipun awalnya ragu, Alvaro akhirnya mengikuti Dika. Mereka berjalan melewati gang-gang hingga tiba di sebuah tempat yang tampak seperti markas anak-anak jalanan. Beberapa anak lain sedang bermain kartu, sementara yang lain mengutak-atik barang-barang bekas. “Ini tempat kami. Tidak mewah, tapi cukup untuk bertahan hidup,” ujar Dika sambil duduk di sebuah kursi kayu yang hampir patah. Alvaro merasa canggung. Ia tidak pernah membayangkan hidup seperti ini. Namun, Dika dan teman-temannya tampak menerima kehadirannya tanpa banyak pertanyaan. --- Hari-hari berikutnya, Alvaro mulai belajar bagaimana bertahan hidup. Dika mengajarinya cara mencari makanan dari sisa-sisa pasar dan cara menghindari preman yang sering memalak anak-anak jalanan. “Kalau kau tidak cepat belajar, kau tidak akan bertahan lama di sini,” kata Dika suatu hari. Meskipun berat, Alvaro mencoba menyesuaikan diri. Ia mulai memahami bahwa dunia ini tidak mengenal belas kasihan. Namun, di tengah kerasnya kehidupan, ia menemukan persahabatan dengan Dika dan anak-anak lain. Suatu malam, saat mereka duduk di sekitar api kecil, Dika bertanya, “Kau dari mana sebenarnya? Cara bicaramu tidak seperti kami.” Alvaro terdiam sejenak. Ia tidak ingin menceritakan tentang kehidupannya yang dulu, takut dianggap sombong atau diasingkan. “Aku... aku tidak punya rumah. Itu saja,” jawabnya singkat. Meskipun mulai beradaptasi, Alvaro tidak bisa melupakan keluarganya. Setiap malam, ia memikirkan ibunya yang mungkin sedang menangis mencarinya, dan ayahnya yang pasti marah besar pada para penculik. “Aku akan menemukan mereka. Aku akan membuat mereka membayar,” gumamnya dalam hati. Dika yang mendengarnya hanya menatap dengan bingung. “Apa maksudmu?” “Tidak ada,” jawab Alvaro cepat, menyembunyikan kemarahan yang perlahan tumbuh di dalam dirinya. Di sisi lain, kehidupan di vila keluarga Pratama penuh dengan ketegangan. Veronica tidak berhenti menangis, sementara Gunawan sibuk mengoordinasikan penyelidikan dengan polisi dan detektif swasta. Namun, setiap upaya yang mereka lakukan selalu berujung buntu. “Apa mungkin ini ulah Harsono?” tanya Veronica dengan suara bergetar. “Mungkin saja. Tapi aku curiga ada seseorang di dalam keluarga kita yang membantu mereka,” jawab Gunawan dengan nada penuh kecurigaan. --- Suatu hari, saat Alvaro sedang membantu Dika mencari barang bekas di tumpukan sampah, seorang preman besar tiba-tiba datang dan meminta uang perlindungan. “Kalian pikir bisa tinggal di sini gratis? Bayar, atau kalian tidak aman!” bentak preman itu. Dika mencoba melawan, tetapi satu pukulan dari preman itu membuatnya terjatuh. Alvaro, yang tidak terbiasa dengan kekerasan, hanya bisa berdiri membeku. “Kau juga! Beri aku apa yang kau punya!” Preman itu menarik kerah baju Alvaro. Namun, untuk pertama kalinya, Alvaro merasa kemarahannya lebih besar daripada rasa takutnya. Ia menggenggam batu kecil di tangannya dan memukul kepala preman itu sekuat tenaga. Preman itu terhuyung, tetapi tidak jatuh. Sebaliknya, ia semakin marah. Dika dengan cepat menarik Alvaro dan berlari secepat mungkin. Mereka berdua bersembunyi di balik tumpukan barang bekas, napas mereka terengah-engah. “Kau gila! Kau tidak tahu siapa dia?” seru Dika setelah mereka merasa aman. “Aku tidak peduli. Aku tidak akan biarkan dia memperlakukan kita seperti itu,” jawab Alvaro dengan nada tegas. Malam itu, Alvaro merasakan perubahan dalam dirinya. Ia tidak lagi hanya anak yang lemah dan takut. Ia mulai belajar untuk melawan. --- Beberapa minggu kemudian, Alvaro mulai mendapatkan rasa hormat dari anak-anak jalanan. Mereka melihatnya sebagai seseorang yang berani, meskipun berasal dari tempat yang berbeda. Bahkan Dika mulai mengakui keberaniannya. Namun, di tengah proses adaptasinya, Alvaro tetap menyimpan rahasia tentang identitas aslinya. Ia tahu bahwa jika kebenaran terungkap, hidupnya bisa menjadi lebih berbahaya. Di sisi lain, Harsono Wiratmaja dan komplotannya mulai merasa puas dengan kehancuran yang mereka timbulkan. Namun, mereka tidak tahu bahwa salah satu anggota mereka, pria berjas hitam, mulai meragukan tujuan rencana tersebut. “Anak itu hanya anak kecil. Mengapa kita harus menyeretnya ke dalam dendam ini?” tanyanya kepada Harsono. “Karena dia adalah kunci untuk menghancurkan Gunawan. Jika anak itu hancur, Gunawan juga akan hancur,” jawab Harsono dengan nada dingin. Di tengah kekacauan itu, Alvaro mulai melihat harapan kecil. Ia bertemu dengan seorang wanita muda bernama Lila, yang bekerja sebagai relawan untuk anak-anak jalanan. Lila adalah sosok yang lembut dan penuh kasih, sesuatu yang sangat dirindukan Alvaro. “Apa yang kau lakukan di sini, Nak?” tanya Lila suatu hari saat ia memberikan makanan kepada Alvaro. “Aku tidak punya tempat lain,” jawab Alvaro. Lila menatapnya dengan penuh perhatian. Meskipun Alvaro tidak mengatakan apa-apa, Lila bisa merasakan bahwa anak ini memiliki cerita yang jauh lebih dalam. Perlahan, hubungan antara Alvaro dan Lila menjadi semakin dekat. Lila mulai mengajarinya membaca dan menulis, sesuatu yang membantu Alvaro mengingat kembali kehidupannya yang dulu.Alvaro perlahan mulai memahami ritme kehidupan jalanan. Hari-harinya dipenuhi perjuangan untuk bertahan hidup, tetapi ia tidak pernah kehilangan rasa ingin tahu. Dalam setiap langkah, ia memikirkan bagaimana caranya kembali ke kehidupan lamanya dan menemukan siapa yang telah menghancurkan dunianya. Suatu pagi, Alvaro duduk di sudut gang yang penuh dengan poster usang dan tembok berlumut. Di tangannya, ada roti basi yang dibagi oleh Dika. Meski kecil, persahabatan mereka menjadi salah satu kekuatan terbesar yang membuat Alvaro bertahan. “Apa kau tidak pernah berpikir untuk pergi dari sini?” tanya Alvaro sambil menggigit rotinya. Dika menghela napas panjang. “Ke mana aku pergi? Ini rumahku. Semua orang di sini, meskipun keras, adalah keluargaku.” “Tapi aku tidak bisa tinggal di sini selamanya,” gumam Alvaro. Dika menatapnya dengan tatapan serius. “Kau berbeda, Alvaro. Aku tidak tahu dari mana asalmu, tapi aku bisa melihat kau punya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain di sini. Mu
Malam itu, udara di kawasan kumuh terasa lebih dingin dari biasanya. Alvaro duduk di atas atap sebuah bangunan reyot, menatap bulan yang bersinar redup di langit. Di dalam hatinya, berbagai pertanyaan terus berputar. Siapa dari keluarganya yang tega mengkhianatinya? Apakah mereka benar-benar membenci dirinya atau keluarganya? Di sisi lain, Dika duduk di dekat api kecil bersama anak-anak jalanan lainnya. Ia melirik ke arah Alvaro, merasa ada sesuatu yang semakin berat membebani pikiran sahabat barunya itu. “Alvaro, apa kau yakin tidak apa-apa?” tanya Dika saat ia akhirnya bergabung dengan Alvaro di atas atap. “Aku hanya... merasa lelah,” jawab Alvaro singkat, meskipun matanya penuh dengan kebingungan dan kemarahan yang ia sembunyikan. “Kau tidak sendirian. Apa pun yang kau hadapi, aku akan ada untukmu,” kata Dika dengan nada tegas. Kata-kata Dika membuat Alvaro merasa sedikit tenang. Namun, ia tahu bahwa perjalanannya masih panjang dan penuh bahaya. Keesokan harinya, Alvaro memut
Malam itu, Alvaro duduk di sudut sebuah gedung tua yang menjadi tempat persembunyiannya bersama Dika. Pikiran-pikirannya melayang, mencoba merangkai potongan-potongan kenangan yang pernah ia alami sebelum penculikan. “Aku merasa ada sesuatu yang aku lupakan,” kata Alvaro, suaranya rendah namun penuh tekanan. Dika yang sedang membersihkan sebuah pisau kecil—senjata darurat mereka—melirik Alvaro dengan cemas. “Kau selalu bilang begitu, tapi apa itu?” “Ketika aku masih kecil, ada seseorang di rumah kami. Seorang pria. Ia sering berbicara dengan Ayah, tapi sikapnya selalu mencurigakan. Aku tidak pernah tahu siapa dia.” Dika menghela napas. “Pria mencurigakan di rumah mewah, penculikan, dan sekarang pengkhianatan. Sepertinya keluargamu lebih rumit dari yang kubayangkan.” Alvaro tidak menjawab, tetapi pikirannya terus memutar ulang memori-memori itu. Pria misterius itu mungkin adalah kunci dari semua ini. Namun, ia masih tidak tahu bagaimana cara menemukan jawabannya. --- Keesokan ha
Pagi itu, di sebuah penginapan kecil yang tersembunyi di sudut kota, Alvaro duduk di depan jendela, menatap jalanan yang mulai sibuk. Setelah semua yang ia lalui, ia merasa semakin dekat dengan kebenaran, tetapi sekaligus semakin jauh dari rasa aman. “Kita butuh rencana konkret,” kata Dika, memecah keheningan. Ia duduk di kursi dekat pintu, memegang secangkir kopi yang mulai dingin. “Pak Aditya adalah kunci. Tapi kita tidak bisa mendekatinya begitu saja,” balas Alvaro. “Bagaimana kalau kita cari tahu lebih banyak tentang dia dulu? Kita butuh informasi tentang kebiasaannya, rutinitasnya, dan... siapa yang mungkin mengawasinya,” usul Dika. Alvaro mengangguk. “Kita harus berhati-hati. Kalau orang-orang Harsono tahu kita mengincar Aditya, itu bisa jadi akhir bagi kita.” --- Malam itu, Alvaro dan Dika mulai bergerak. Mereka mendatangi kantor Aditya yang terletak di pusat kota. Gedung itu tidak terlalu besar, tetapi terlihat megah dengan arsitektur modern. Mereka menyelinap ke area s
Setelah melarikan diri dari rumah Johan yang dijaga ketat, Alvaro dan Dika kembali ke penginapan mereka. Wajah keduanya dipenuhi kecemasan, tetapi mata Alvaro memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. “Kita butuh cara untuk masuk ke sana tanpa ketahuan,” kata Alvaro sambil memandang peta kecil yang ia dapatkan dari Pak Hasan. “Masalahnya bukan cuma masuk, tapi juga keluar dengan selamat. Penjaga-penjaga itu jelas bukan orang sembarangan,” balas Dika. Alvaro mengangguk. “Aku tahu. Tapi kalau kita tidak bertindak sekarang, mereka mungkin akan memindahkan bukti-bukti itu. Kita harus bertaruh.” Dika menatap sahabatnya dengan ragu. “Aku ikut karena aku percaya padamu, Al. Tapi kita harus punya rencana yang matang. Kita tidak bisa terus-menerus kabur seperti tadi.” “Kalau begitu, kita perlu perlengkapan,” kata Alvaro. “Aku akan pergi menemui Pak Hasan lagi. Dia mungkin punya sesuatu yang bisa membantu kita.” --- Pak Hasan menyambut mereka dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Setelah m
Malam itu, Alvaro dan Dika berhasil melarikan diri dari pengejaran polisi dan orang-orang Harsono. Mereka akhirnya bersembunyi di sebuah rumah kosong di pinggiran kota, jauh dari keramaian.“Ini semakin sulit,” kata Dika sambil mengusap peluh di dahinya. “Mereka tahu setiap gerakan kita.”Alvaro duduk di sudut ruangan, memeriksa kamera kecil yang mereka gunakan untuk merekam bukti. “Tapi kita punya ini. Ini satu-satunya kartu kita.”Dika mengangguk, meskipun wajahnya tetap tegang. “Lalu apa rencanamu sekarang? Kita tidak bisa terus-terusan bersembunyi.”“Kita harus menemui Aditya lagi,” jawab Alvaro. “Dia orang yang bisa dipercaya untuk menyimpan dan menggunakan bukti ini dengan benar. Tapi kali ini, kita harus berhati-hati. Mereka pasti sudah mengawasi setiap langkah kita.”---Dengan perlengkapan seadanya, Alvaro dan Dika meninggalkan persembunyian mereka dini hari. Mereka memutuskan untuk tidak menggunakan kendaraan umum, khawatir wajah mereka sudah tersebar sebagai buronan.Perjal
Karin duduk di ruang tamu apartemennya yang kini terasa seperti penjara. Mata Alvaro tidak pernah lepas darinya, memastikan tidak ada tanda-tanda kebohongan. Dika berdiri di sudut ruangan, mengawasi pintu dan jendela untuk memastikan tidak ada ancaman dari luar.“Kau yakin bisa melakukannya?” tanya Alvaro dengan nada dingin.Karin mengangguk ragu. “Aku masih punya akses ke beberapa informasi Johan, tapi aku harus berhati-hati. Jika mereka mencurigai aku, aku bisa hilang begitu saja.”Alvaro terdiam sejenak, memikirkan risiko yang harus mereka ambil. “Kita tidak punya pilihan lain. Jika kau benar-benar ingin menebus kesalahanmu, ini saatnya.”Karin menundukkan kepala, merasa malu atas pengkhianatannya. “Baiklah. Aku akan mencoba mendekati salah satu tangan kanannya. Dia sering berbicara padaku tentang urusan Johan.”Dika mendekat dan menyela, “Kita tidak bisa hanya mengandalkan dia, Al. Kita butuh rencana cadangan.”“Setuju,” balas Alvaro. “Kita akan menunggu di lokasi terpisah. Kalau
Malam itu, di tempat persembunyian mereka, Alvaro, Dika, dan Karin duduk di sekitar meja kecil, membahas langkah selanjutnya. Di depan mereka, dokumen-dokumen yang berhasil dicuri dari gudang Johan tersebar, memperlihatkan bukti kuat tentang operasi ilegal yang dijalankan keluarga Harsono.“Aku sudah menghubungi seorang jurnalis,” kata Karin dengan nada hati-hati. “Namanya Aryo. Dia bekerja di salah satu media paling besar di negara ini. Dia bisa membantu kita menyebarkan semua ini.”“Bagaimana kau bisa yakin dia bisa dipercaya?” tanya Dika tajam.“Aryo adalah teman lama. Dia orang yang berintegritas,” jawab Karin tegas. “Jika ada yang bisa membantu kita membawa kasus ini ke publik, itu dia.”Alvaro terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Baiklah. Kita akan temui dia. Tapi kita harus berhati-hati. Jika Johan tahu apa yang kita rencanakan, dia tidak akan segan-segan membunuh kita.”Keesokan harinya, mereka bertiga pergi ke lokasi yang disepakati untuk bertemu Aryo, sebuah kafe kecil di da
Alvaro berdiri diam di tengah gudang tua yang kini sunyi mencekam. Tubuh Harsono tergeletak tak berdaya di lantai beton yang dingin, darah mengalir dari luka di wajahnya yang memar dan bengkak. Napasnya lemah, nyaris tak terdengar. Di sekitar mereka, sisa-sisa pertarungan berserakan: pecahan kaca, senjata yang terjatuh, dan bayangan masa lalu yang menghantui Alvaro tanpa henti. Ricardo, Selena, dan Carlos berdiri tak jauh dari sana, wajah mereka dipenuhi kepedihan dan kekecewaan. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Alvaro, teman yang dulu mereka kenal, telah berubah menjadi seseorang yang begitu asing—penuh kebencian dan dendam. Mereka tak lagi mengenali sosok yang berdiri di hadapan mereka. “Sudah cukup, Alvaro,” suara Ricardo pecah dalam keheningan, suaranya penuh rasa sakit. “Kau sudah membalas dendammu. Harsono sudah hancur... Apa lagi yang kau inginkan?” Alvaro menoleh perlahan, menatap Ricardo dengan mata tajam yang dipenuhi kekosongan. “Keadilan... untuk
Gudang tua itu berdiri sunyi di tengah kawasan industri yang ditinggalkan, dikelilingi oleh puing-puing bangunan yang runtuh dan jalanan berdebu. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma karat dan kelembaban yang menusuk hidung. Di dalam gedung yang gelap dan dingin itu, Alvaro berdiri tegak, menatap Harsono yang terpojok di sudut ruangan. Wajah Harsono memucat. Tubuh tuanya bergetar dalam ketakutan yang tak mampu ia sembunyikan. Mata Alvaro menyala dengan api kebencian yang begitu dalam, mencerminkan amarah yang telah terpendam sejak masa kecilnya yang hancur. Malam ini adalah akhir dari semua dendam yang telah membayangi hidupnya. Malam ini, semuanya akan berakhir. “A-Alvaro...” Suara Harsono gemetar, penuh rasa takut. “K-kita bisa bicarakan ini...” “Bicara?” Alvaro menyeringai sinis, langkah kakinya mantap mendekat. “Apa kau pernah membiarkanku bicara saat kau menculikku? Saat kau membuangku seperti sampah tanpa peduli apa yang terjadi padaku?” Harsono menelan ludah, keringat
Hujan mengguyur kota dengan deras, menambah kelam suasana malam itu. Petir menyambar, menampakkan bayangan gedung megah milik Harsono yang berdiri kokoh di puncak bukit. Dari kejauhan, Alvaro memandangi tempat itu dengan tatapan tajam, wajahnya tak menunjukkan emosi sedikit pun. “Aku sudah sampai di sini... Setelah bertahun-tahun hidup dalam bayangan, saatnya menunjukkan siapa aku sebenarnya,” gumam Alvaro pelan. Langkah kakinya mantap saat dia mendekati gerbang utama. Dengan gerakan cepat, ia melumpuhkan penjaga tanpa suara. Tubuh-tubuh tak berdaya jatuh ke tanah sementara Alvaro terus melangkah, tatapannya lurus ke arah pintu masuk utama. Suara alarm berbunyi nyaring. Harsono sudah menunggunya. Di dalam ruang kerjanya yang mewah, Harsono berdiri menghadap jendela besar. Dia tahu bahwa orang yang menyerang jaringannya selama ini akhirnya datang untuk menemuinya. Dengan tenang, ia menyesap anggur merah dari gelas kristal di tangannya. Langkah kaki terdengar mendekat. Harsono berb
Alvaro berdiri di atas atap gedung tua, menatap hiruk-pikuk kota di bawahnya. Lampu-lampu kota bersinar terang, namun hatinya dipenuhi kegelapan yang pekat. Udara malam berhembus dingin, menggoyangkan ujung jaket hitam yang dikenakannya. Tatapannya tajam dan penuh perhitungan. Dia tahu betul bahwa langkah pertama dalam rencananya adalah menghancurkan jaringan bisnis Harsono. Tapi dia tidak bisa melakukannya sendiri. Untuk itu, dia membutuhkan informasi yang akurat dan bantuan dari orang-orang yang tahu betul kelemahan lawannya. Alvaro mengingat wajah-wajah yang dulu pernah berdiri di sisinya—Ricardo, Selena, dan Carlos. Mereka bertiga pernah menjadi sahabatnya, rekan yang dia percayai sepenuh hati. Namun ketika dia kembali sebagai Alvaro yang berbeda, mereka menolaknya, menganggapnya sebagai musuh. “Itu bukan salah mereka,” pikir Alvaro dalam hati. “Mereka tidak tahu apa yang sudah kulalui... apa yang harus kualami sendirian.” Namun, Alvaro juga tahu bahwa untuk mencapai tujuannya
Alvaro berlari menembus gelapnya malam, nafasnya memburu. Suara langkah kaki terdengar memburu dari arah belakang, menggema di sepanjang lorong sempit yang berliku. Ricardo, Selena, dan Carlos masih mengejarnya dengan gigih, tidak rela melepaskannya begitu saja. Dia menyelinap masuk ke dalam gang sempit, tubuhnya menyatu dengan bayang-bayang gedung tua yang reyot. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, namun wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi gentar sedikit pun. Di balik matanya, pikiran bergerak cepat, mencari cara untuk menghilang dari kejaran mereka. “Aku tidak akan berhenti sampai kau tertangkap, Alvaro!” teriak Ricardo dengan napas tersengal. Selena dan Carlos berusaha mengepungnya dari dua arah. Mereka tahu betul kemampuan Alvaro dalam melarikan diri, dan tidak ingin memberinya celah sedikit pun. Namun Alvaro sudah memperhitungkan semuanya. Dengan gesit, dia melompat ke atas tumpukan kotak kayu dan naik ke atap bangunan rendah di sampingnya. Dari sana, dia melompat ke ata
Sunyi yang mencekam masih menggantung di udara setelah Ricardo, Selena, dan Carlos menyadari kenyataan pahit itu—ada pengkhianat di antara mereka.Mata mereka saling bertautan, masing-masing mencoba membaca pikiran satu sama lain, mencari tanda-tanda kebohongan.Carlos, yang masih berlumuran darah dan lemah karena luka-lukanya, menarik napas berat. “Kita tidak bisa membiarkan paranoia menghancurkan kita dari dalam.”“Tapi kita juga tidak bisa membiarkan pengkhianat tetap bersama kita,” kata Selena tajam.Ricardo menghela napas. “Tidak ada gunanya saling menuduh tanpa bukti. Yang terpenting sekarang, kita harus keluar dari sini sebelum lebih banyak orang Konstantin datang.”Namun, sebe
Ricardo memacu truk di jalanan bersalju yang mulai tertutup kabut. Roda-roda besar kendaraan itu sesekali tergelincir di atas permukaan licin, tetapi dia tetap mengendalikannya dengan tenang. Di belakang mereka, dua mobil hitam dengan sirene pelan mulai mengejar.“Konstantin pasti tahu kita kabur dengan truk ini,” kata Selena sambil mengamati jalan di belakang melalui jendela kecil di ruang kargo. “Mereka tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja.”Carlos duduk di atas salah satu peti amunisi sambil merakit senapan serbu. “Bagus. Itu artinya kita bisa menyerang sebelum mereka sempat menyusun rencana baru.”Alvaro yang berdiri di sampingnya mendesah. “Kau benar-benar menikmati ini, ya?”Carlos menyeringai. “Bukankah
Van tua yang dikendarai Carlos melaju dengan kecepatan penuh, membelah jalanan Moskow yang masih sepi di pagi buta. Di belakang mereka, dua SUV hitam dengan logo organisasi Konstantin terpampang jelas di sisi pintunya terus mengejar, disertai suara sirene polisi yang seolah menggema dari segala arah.Ricardo memeriksa peluru di magazinnya. "Kita tidak akan bisa kabur hanya dengan kecepatan. Mereka punya kendaraan yang lebih baik!"Selena sudah membuka jendela samping, mengangkat senapan serbunya. "Maka kita harus membuatnya lebih adil."BRAK!Tembakan pertama dari musuh menghantam bagian belakang van, membuat kaca pecah dan serpihan logam beterbangan ke dalam."Kita tidak bisa hanya menghindar!" ujar Alvaro, yang mulai bersiap dengan pistol di tan
Truk yang mereka tumpangi melaju melewati jalanan Moskow yang dingin. Dari sela-sela peti kargo, Alvaro mengintip keluar. Lampu-lampu jalan berpendar di malam yang gelap, dan sesekali mobil patroli melintas, membuat mereka semua semakin waspada.“Kita akan kemana sekarang?” bisik Selena.Carlos, yang duduk di sebelahnya, menatap peta yang telah direkam dalam ingatannya. “Kita harus menemukan transportasi lain. Truk ini hanya membawa kita keluar dari bandara, tapi kita tidak bisa terus bersembunyi di dalamnya.”Ricardo, yang duduk di dekat pintu belakang, melirik arlojinya. “Kita bisa lompat keluar saat truk ini berhenti di lampu merah atau perbatasan distrik.”Benar saja, setelah beberapa menit, truk mulai melambat di sebuah persimpangan. Ricardo mengisyaratkan kepada yang lain, dan tanpa suara mereka menyelinap keluar, menyelinap ke gang sempit di dekatnya.Namun, mereka tidak menyadari satu hal—mereka telah diawasi sejak awal.Seorang pria berjas hitam di seberang jalan mengangkat t