Share

Bab 2

Penulis: Miss Kay
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-10 15:25:00

Jujur, ada sedikit rasa hangat menyentuh hatinya mendengar ucapan pria yang berubah dingin semenjak mereka menjadi pasangan suami-istri.

Tapi, dia sadar posisinya dan tahu bahwa Raydan Han tidak pernah mengutarakan sesuatu tanpa alasan yang jelas. "Baiklah, aku akan menyiapkan segalanya," jawab Yoona akhirnya.

Mereka berdua pun segera mulai menyiapkan segala keperluan untuk meninggalkan rumah utama mereka. Raydan Han memeriksa barang-barang yang perlu dibawa, sementara Yoona mengatur segala dokumen penting yang harus dibawa.

Setelah semua persiapan selesai, mereka segera meninggalkan rumah utama mereka. Raydan menuju ke apartemennya sebagai tempat perlindungan bagi mereka sementara.

Namun, dalam perjalanan, mereka merasa dikejar-kejar oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. "Sial! Kenapa mereka mengincar kita," ucap Raydan melihat sekelompok orang yang mengikutinya

Asisten Park dan beberapa mobil pengawal terus berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari kejaran tersebut. Mereka merasa terancam dan panik, namun mereka tetap berusaha untuk tetap tenang.

Setelah melewati berbagai rintangan dan bahaya di perjalanan , akhirnya mereka tiba di apartemen.

"Ternyata semua ini adalah rencana dari orang-orang yang tidak suka pada ku," ucap Raydan Han kepada Asisten Park. "Kita harus waspada dan berhati-hati kali ini."

Yoona dan Asisten Park mengangguk setuju. Mereka sadar bahwa dunia di sekitar mereka tidak selalu aman dan terpercaya.

***

Yoona menatap lembut suaminya, Raydan Han, yang baru saja membuka pintu apartemen miliknya. Udara dingin malam itu terasa menusuk tulang, namun suasana di dalam apartemen terasa lebih dingin lagi. Yoona merasa agak canggung dengan kehadiran Raydan Han setelah sekian lama tidak bertemu.

"Baru kali ini aku menginjakkan kakiku ke apartemen ini," ucap Yoona pelan.

Raydan Han tersenyum tipis. "Rumah keduaku, selain rumah utama kita sejak menikah. Aku tinggal di sini selama beberapa waktu sejak menjadi hakim ketua. Aku tidak lagi tinggal bersama ayahmu, dia memilih tinggal sendirian di rumah mendiang ibumu di pinggiran kota sebelum beliau meninggal."

Yoona mengangguk mengerti, menatap sekeliling apartemen yang elegan dan mewah. Mereka berjalan ke ruang tamu, duduk di sofa berwarna krem yang lembut. Udara hening, mereka sama-sama tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

"Tak keberatan tinggal di sini sementara?" tanya Raydan.

Yoona mengangguk. "Kampusku tidak terlalu jauh dari sini. Aku pikir ini akan lebih nyaman bagiku jika aku tinggal dekat denganmu."

Raydan Han mengangguk. "Terima kasih. Tapi jangan salah paham, semua ini kulakukan bukan karena aku ingin dekat denganmu. Aku hanya melindungi diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku."

Yoona menatap Raydan Han dengan rasa heran, mencoba mencerna apa yang baru saja diucapkannya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya penasaran.

Raydan Han menarik napas dalam-dalam. "Ada sekelompok pemberontak yang mengancamku agar mengeluarkan ketuanya dipenjara. Mereka tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Kemarin malam, saat acara undangan perdana menteri, ada kerusuhan di luar gedung. Mereka mengancam akan melakukan hal yang lebih buruk jika aku tidak menuruti permintaan mereka."

Yoona terdiam sejenak, merasa sedikit terkejut dengan pengakuan Raydan. Dia tidak pernah membayangkan bahwa suaminya terlibat dalam konflik semacam itu. Tapi, dia tahu bahwa Raydan Han adalah seorang pejabat yang sangat berpengaruh, dan itu pasti membuatnya rentan terhadap ancaman dari berbagai pihak.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Yoona.

Raydan Han menatap istrinya dengan tajam. "Kita harus waspada. Aku akan menyuruh pengawalku untuk mengawasi setiap gerak-gerikmu. Kita tidak boleh lengah sedikit pun. Kau harus tetap berada di sini, di apartemen ini, selama situasi ini belum terselesaikan. Istirahatlah, disana kamarmu," titah Raydan sambil menunjukkan kamar Yoona dengan dagunya.

Yoona mengangguk berjalan menuju kamar dengan perasaan sedikit tertekan dengan situasi yang mereka hadapi. Di dalam kamar apartemen milik Raydan Han, Yoona melihat desain kamar yang begitu aesthetic berwarna hitam elegan dan mewah. Yoona melangkahkan kakinya ke tempat tidur yang empuk, meresapi aroma harum parfum milik Raydan yang begitu kuat.

Tiba-tiba terlintas di benak Yoona. Suara ayahnya, Joe Aiden, terdengar jelas dalam ingatannya. "Kau akan menikah dengan Raydan, dia yang akan menjadi suamimu kelak, Yoona," ucap Joe Aiden dengan tegas. Yoona terkejut dan bingung dengan pernyataan ayahnya.

"Apa maksud ayah? Kenapa ayah ingin aku menikah dengan Raydan?" tanya Yoona heran. Joe Aiden tersenyum dan menjelaskan. "Kau akan aman hidup dengannya. Sebentar lagi, dia akan menjadi hakim ketua termuda yang disegani di negara ini."

Yoona terdiam sejenak. Dia ingat bahwa Raydan Han seorang pria yang tampan, cerdas, dan berbakat. Namun, dia juga tahu bahwa Raydan sudah memiliki kekasih. "Tapi bukannya Raydan sudah memiliki kekasih, ayah. Bagaimana jika dia tidak menerima pernikahan ini?" ujar Yoona dengan ragu.

"Ayah yang berhak mengatur dengan siapa Raydan Han akan menikah. Dia harus membalas budi karena ayah sudah membebaskan hidupnya dari kekejaman mafia yang telah menjadikannya sebagai tawanan," ujar Joe Aiden dengan tegas.

Yoona merenung sejenak. 'Dia dan Raydan sudah seperti saudara. Bagaimana mungkin mereka bisa menikah? Dia yakin Raydan akan membencinya. Itu tidak akan pernah terjadi. Raydan akan membenciku,' pikir Yoona mantap.

Joe Aiden memberikan senyuman puas. "Kau tenang saja, Yoona. Raydan tidak akan menolak keinginan ayahmu ini. Dia harus tahu diri," kata Joe Aiden meyakinkan.

Dengan hati yang bercampur aduk, Yoona akhirnya menerima takdir yang telah ditentukan oleh ayahnya. Namun, di balik rasa setuju yang dia tunjukkan di depan ayahnya, terdapat pertanyaan dan rasa takut yang menghantui pikirannya.

Malam itu, Yoona terbangun dari tidurnya, kemudian melangkah ke balkon apartemen Raydan Han. Terdapat pemandangan kota yang begitu indah di malam hari.

Yoona berjongkok di balkon, menghela nafas panjang. "Apa benar aku bisa bahagia dengan Raydan? Sedangkan dia sangat ingin menceraikanku," gumamnya pelan. Sebuah angin malam yang sejuk menyapu wajahnya, dengan lampu-lampu kota begitu terang seakan memberikan jawaban tersendiri.

Bab terkait

  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 3

    "Kau sudah pulang, aku menghawatirkanmu," ucap Yoona sambil menatap lembut ke arah Raydan Han yang baru saja tiba di apartemen. Raydan Han akhirnya kembali setelah beberapa minggu ke luar kota. Wajahnya terlihat lelah. Dia berhasil menyelesaikan masalah yang mengancam keamanan mereka. Tapi wajah itu kembali dingin dan acuh menatapnya. "Tak ada yang perlu kau khawatirkan, aku baik-baik saja," jawab Raydan Han sambil berjalan ke arah pantry untuk mengambil segelas air minum. "Pengawal akan mengantarmu pulang ke rumah utama kemasi barang-barangmu," ucap Raydan Han dengan suara dingin tanpa ekspresi. "Apa maksudmu? Bukannya situasi di luar sedang tidak aman?" tanya Yoona, mulai merasa khawatir dengan ketegangan yang terasa di udara. "Tenang saja, para pemberontak itu sudah tertangkap. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," jawab Raydan Han sambil tetap meminum air di gelasnya. Yoona mencoba menenangkan hatinya yang mulai berdebar-debar. "Bisakah aku tinggal di sini bersama

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-10
  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 4

    Yoona dan Raydan Han kini duduk di sebuah sudut cafe yang sepi, terlepas dari keramaian yang terjadi di sekitar mereka. Mereka sudah lama tidak bertemu, dan pertemuan kali ini terasa agak tegang. "Bagaimana kabarmu, Yoona?" tanya Raydan Han sambil menatap wanita di hadapannya. Yoona menatapnya dengan ekspresi tenang sebelum akhirnya menjawab. "Baik, bagaimana kabarmu, Raydan?" "Sudah lama kita tidak bertemu. Banyak gosip yang beredar begitu liar tentang kedekatanku dengan anak perdana menteri. Apa kau tidak terganggu?" tanya Raydan Han dengan nada sedikit sinis. "Bagaimana aku bisa tidak terganggu, kalau kau saja tidak pernah datang menemuiku. Bukannya kita suami istri," balas Yoona dengan nada sinis yang sama. Perbincangan mereka terasa penuh dengan tegang dan kebingungan. "Apa kau menemuiku hanya untuk menghindari gosip itu?" tanya Yoona dengan ekspresi mengejek. Raydan Han merasa sedikit tersinggung dengan pertanyaan itu. Mereka saling menatap dengan tatapan tajam, seolah-ola

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-10
  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 5

    Sepertinya, dia harus menyerah sekarang … dan menikmati apa yang bisa dia nikmati selagi bisa. Di tengah keramaian pusat perbelanjaan yang elit di pusat kota Seoul, Raydan Han dan Yoona kini terlihat berjalan beriringan sambil menggenggam tangan satu sama lain. Pemandangan itu seperti gambaran dalam mimpi bagi Yoona, yang begitu bahagia diperlakukan oleh suaminya seperti seorang ratu. "Terima kasih, Raydan," ucap Yoona sambil tersenyum manis pada Raydan Han. "Tidak perlu terima kasih. Aku hanya ingin mengikuti kemauanmu," jawab Raydan Han sambil melihat beberapa pesan masuk yang masuk ke handphonenya. Mereka berjalan menuju toko-toko branded yang berjejer di sepanjang jalan, Raydan Han membelikan Yoona berbagai barang mewah yang disukainya. Setiap kali Yoona memilih baju atau aksesoris, Raydan Han dengan sabar menunggu di sampingnya dan mengiyakan segala keinginannya. Setelah puas berbelanja, mereka berdua menuju restoran mewah untuk makan malam. Raydan Han memilihkan tempat d

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-10
  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 6

    Pagi yang cerah di kota Seoul, Raydan Han duduk di dalam mobilnya dengan perasaan yang tak menentu. Hatinya berdebar-debar karena perlakuan yang baru saja dilakukannya terhadap Yoona malam itu. Raydan Han masih teringat jelas saat tadi malam. Yoona terlihat begitu cantik dengan gaun hitamnya yang elegan, membuatnya sulit untuk tidak terpesona. Ketika tiba di rumah utama, Raydan Han spontan mencium kening istrinya dan memeluknya erat. Namun, setelah insiden tersebut, ia merasa seakan-akan ada yang salah dengan perilakunya. 'Sial! Kenapa aku mencium keningnya, dan kenapa tubuhku memeluknya erat?' gumamnya dalam hati sambil mengemudikan mobilnya menuju kantor. Dia merasa bersalah dan merasa seperti telah melanggar batas-batas yang seharusnya tidak ia langgar. Namun, pada saat yang sama, Raydan Han merasa bahwa sebagai suami, dia berhak untuk memperlakukan istrinya dengan cara apapun. Raydan Han tiba di kantor pengadilan dengan pikiran yang kacau. Dia seharusnya fokus untuk menyi

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-11
  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 7

    Sore hari yang cerah, Yoona pulang dari kampus setelah selesai mengajar. Dia merasa lelah dan lapar, jadi dia memutuskan untuk mampir ke mini market untuk membeli beberapa barang kebutuhan rumah tangga. Namun, tak disangka, kejadian yang mengejutkan terjadi saat Yoona hendak pulang ke rumah. Saat melintasi jalan raya yang ramai, tiba-tiba mobil misterius keluar dari belokan dan menabrak Yoona. Tubuhnya terpental ke aspal, kakinya sedikit terkilir dan luka ringan di pelipisnya. Orang-orang di sekitar langsung panik dan berusaha menolong Yoona, sementara sang pengemudi mobil kabur tanpa meninggalkan jejak. Orang-orang di sekitar mulai berteriak dan membantu Yoona. Seseorang segera menghubungi suaminya, Raydan Han, yang merupakan seorang hakim terkemuka di kota tersebut. Tanpa pikir panjang, Raydan dan asistennya, Park, segera menuju rumah sakit tempat Yoona dilarikan. "Dokter, bagaimana keadaan istriku?" tanya Raydan Han cemas kepada dokter yang sedang melakukan pemeriksaan terhadap

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-11
  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 8

    Sore hari, Bibi Hye Ri datang menjenguk Yoona di rumah sakit menjadi sebuah momen yang penuh kekhawatiran dengan ekpresi wajah yang cemas. "Bagaimana keadaanmu, Yoona? Apa yang terjadi sampai kau bisa kecelakaan begini?" tanya Bibi Hye Ri dengan khawatir. Yoona mencoba menenangkan bibinya. "Aku baik-baik saja, bibi. Ini murni kecelakaan karena aku yang kurang hati-hati." Namun Bibi Hye Ri tak percaya begitu saja. "Hey Raydan, kau bagaimana bisa kecolongan? Keponakanku ini sangat berharga bagi keluarga kami." Raydan akhirnya angkat bicara. "Aku memang kurang hati-hati, Bibi. Aku berjanji akan lebih berhati-hati lagi di masa depan." Bibi Hye Ri masih terlihat kesal. "Yoona, sayang. Bagaimana bisa suamimu sibuk berkencan dengan wanita lain sementara kau di sini terluka parah?" "Bibi, itu semua tidak benar. Raydan adalah suami yang baik dan setia padaku. Semua ini hanya kecelakaan biasa saja." Bibi Hye Ri hanya menggelengkan kepala. "Kau selalu membelanya, Yoona. Tapi Bibimu ini

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-11
  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 9

    Kabar serangan yang dilakukan di rumah Ketua Hakim Muda Raydan Han tersebar luas dan memunculkan kekacauan di seluruh negeri. Pelaku serangan yang tak dikenal melakukan aksi kekerasan di rumah Raydan Han, melemparkan bom molotov dan meninggalkan jejak yang membuat pihak berwenang bingung. Sebagai seorang hakim muda yang ambisius dan berani, Rayan Han dipandang sebagai sosok yang tegas dan adil dalam menjalankan tugasnya. Namun, serangan yang terjadi di rumahnya membuatnya merasa terancam dan khawatir akan keselamatan dirinya dan keluarganya. "Kabar ini sungguh mengkhawatirkan, siapa dan mengapa melakukan serangan ini," ujar Raydan kepada asisten Park. ketika mereka sedang berdiskusi di ruangannya yang dihiasi dengan lukisan-lukisan tua dan buku-buku hukum. "Apakah ada kemungkinan ini terkait dengan kasus-kasus yang saat ini tengah kita tangani, Park?" tanya Raydan sambil memandang asisten setianya dengan serius. "Ada beberapa orang yang saya curigai, salah satunya adalah keluarga

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 10

    Pagi tiba, Raydan sudah rapi dengan setelan jasnya. Matanya menatap ke arah kamarnya Yoona, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran wanita tersebut. Ada asisten Park yang menunggu di ruang tamu, menunggu kedatangan Raydan Han. "Dimana Yoona?" tanya Raydan Han dengan sedikit kebingungan. "Nyonya Yoona tadi hanya membuka pintu untuk saya masuk, tapi setelah itu dia masuk kembali ke kamarnya," jawab asisten Park. Raydan Han mengangguk, lalu berjalan ke meja makan. Matanya menyipit saat melihat bahwa tidak ada sarapan yang disiapkan oleh Yoona. 'Apa dia marah karena ucapan ku semalam?' ucap Raydan Han dalam hati. Dengan perasaan cemas, Raydan memandang pintu kamar Yoona. Namun tiba-tiba asisten Park berkata. "Sudah saatnya anda ke kantor Ketua, karena hari ini anda ada sidang." "Ya, ayo berangkat," jawab Raydan sambil mengurungkan niatnya untuk melihat Yoona di dalam kamarnya. Mereka berdua pun berangkat ke kantor. Selama perjalanan, Raydan merenungkan sikap Yoona. Setelah sampai di k

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-21

Bab terbaru

  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 15

    Di dalam kamar hotel yang sunyi, Raydan membayangi wajah istrinya, Yoona, dengan wajah bersedih dengan cahaya redup, Raydan tidak bisa menahan perasaannya lagi. Yoona begitu nyata ada dihadapannya. "Yoona," sebutnya lembut, sambil menggenggam gelas wine di tangannya. "Bagaimana aku harus mengakhiri pernikahan ini? Wajahmu selalu bersedih." "Aku... aku tidak ingin kamu merasa terbebani dengan semua ini." Raydan menggelengkan kepala. "Tapi aku merasa aku tidak bisa membuatmu bahagia. Melihatmu selalu murung, hatiku hancur." "Apakah ini semua salahku?” Raydan melanjutkan. “Aku merasa seperti suami yang tak tahu diri. Aku ingin kau bahagia, Yoona. Bahagia tanpa diriku.” “Raydan, kenapa kamu harus berpikir begitu? Mungkin kau hanya butuh waktu. Hanya butuh waktu untuk bisa merasakan kebahagiaan lagi.” “Tidak, Yoona. Ini bukan hanya soal waktu. Ini tentang kita,” jawab Raydan, suaranya mulai bergetar. “Aku merasa seolah kita t

  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Mengukir kenangan

    “Mau kemana hari ini?” tanya Yoona sambil mengaduk jusnya. Raydan menyeka mulutnya dengan napkin dan menjawab, “Kau ingin jalan-jalan hari ini? Kebetulan aku ambil cuti.” Yoona terkejut. “Benarkah? Kita jarang punya waktu bersama, tapi... aku sudah berencana ke kampus untuk mengurus tugas.” “Tenang saja, aku sudah menghubungi kepala kampusmu agar memberikan kamu cuti.” “Kepala kampus? Hem, benarkah?” Yoona bertanya, kaget dengan pernyataan suaminya. “Ya, aku minta izin untuk kamu. Jadi bersiap-siaplah. Aku tunggu di mobil,” jawab Raydan dengan datar, lalu beranjak dari meja makan. Yoona memandangi punggung Raydan yang sudah menuju pintu. 'Kenapa dia jadi begitu baik?' ucapnya dalam hati, merasa bingung sekaligus bahagia. Di luar, Raydan menunggu dengan kacamata

  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 13

    "Selamat datang, Yoona. Terima kasih sudah datang," ucap Sora, sang pengantin. "Ya, kau juga selamat atas pernikahanmu. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu," balas Yoona sambil tersenyum manis. “Dimana ketua han? Aku tidak melihat dia bersamamu," tanya Sora penasaran. "Suamiku ada jadwal sidang hari ini. Sepertinya dia akan menyusulku setelah selesai sidang," jawab Yoona sambil melirik ke arah pintu. "Ah, begitu ya. Ya sudah, kalau begitu melihatmu bisa datang saja sudah membuatku bahagia," ucap Sora tulus. Mereka berdua pun tertawa bersama sambil mengobrol ringan. Dan banyaknya tamu undangan yang mulai memadati acara pesta pernikahan itu. Pesta pernikahan Sora dan Jay berlangsung begitu meriah. Berbagai macam hidangan disajikan di meja makan, tamu-tamu berbaur dan bersenang-senang, serta musik yang mengalun merdu mengiringi acara tersebut. Tak lama kemudian, suara bisik-bisik tamu dan bidikan kamera terarah kepada sosok yang baru saja datang memasuki ruangan. S

  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 12

    Setelah menyelesaikan semua administrasi di rumah sakit Raydan dan Yoona berjalan ke parkiran menuju mobil. Di dalam mobil, Raydan dan Yoona duduk berdampingan tetapi atmosfer di dalam mobil terasa hening. Raydan hanya diam tanpa mengajak bicara Yoona, sementara Yoona sibuk melihat ponselnya. "Raydan, besok ada undangan pernikahan temanku. Bisakah kau menemaniku?" tanya Yoona dengan lembut. Raydan sejenak terdiam sebelum akhirnya menjawab. "Besok aku ada sidang. Kau bisa diantar pengawal." "Tapi mereka juga mengundangmu. Orangtuanya teman Appaku," ucap Yoona mencoba meyakinkan Raydan Han. Raydan Han tidak menjawab. Sebaliknya, ia malah mengangkat telepon dari asisten park. 'Ya, bicaralah Park,' jawab Raydan sambil mendengarkan Park berbicara. 'Ketua hakim, semua berkas kasus Kang Min sudah lengkap. Saya letakkan diruangan anda. Besok sidang pertama,' ucap Park. 'Baiklah, besok datang lebih pagi sebelum memulai sidang,' ucap Raydan Han sebelum menutup panggilan. "Yoona,

  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 11

    Langit kembali memperlihatkan sinarnya yang terang cerah dan segar. Raydan Han duduk di samping tempat tidur Yoona setelah mengantarnya ke toilet. "Kau tidak pergi ke kantor?" "Istriku sedang sakit jadi aku harus menjaganya dan hari ini libur," ucap Raydan dengan suara pelan.Yoona yang terbaring lemah di atas tempat tidur mengangguk pelan, dengan wajah bersemu merah. "Tapi aku sudah lebih baik, bisakah kita pulang saja?" tanya Yoona dengan suara lembut. "Besok baru boleh pulang, darahmu juga rendah. Kenapa kamu tak sayang tubuhmu?" omel Raydan sambil mengupas buah jeruk kesukaan Yoona. "Maaf," ucap Yoona sambil tersenyum lemah. Aku hanya ingin segera pulang tak ingin merepotkanmu." Krak! Tiba-tiba, pintu ruang perawatan terbuka dan seorang pria muda yang berseragam dokter tampak masuk dengan santai. Dokter tersebut adalah Devan Kim, seorang dokter muda yang baru saja bergabung di rumah sakit tersebut. Meskipun baru bekerja sebentar, Devan Kim sudah dikenal sebagai dokter yang

  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 10

    Pagi tiba, Raydan sudah rapi dengan setelan jasnya. Matanya menatap ke arah kamarnya Yoona, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran wanita tersebut. Ada asisten Park yang menunggu di ruang tamu, menunggu kedatangan Raydan Han. "Dimana Yoona?" tanya Raydan Han dengan sedikit kebingungan. "Nyonya Yoona tadi hanya membuka pintu untuk saya masuk, tapi setelah itu dia masuk kembali ke kamarnya," jawab asisten Park. Raydan Han mengangguk, lalu berjalan ke meja makan. Matanya menyipit saat melihat bahwa tidak ada sarapan yang disiapkan oleh Yoona. 'Apa dia marah karena ucapan ku semalam?' ucap Raydan Han dalam hati. Dengan perasaan cemas, Raydan memandang pintu kamar Yoona. Namun tiba-tiba asisten Park berkata. "Sudah saatnya anda ke kantor Ketua, karena hari ini anda ada sidang." "Ya, ayo berangkat," jawab Raydan sambil mengurungkan niatnya untuk melihat Yoona di dalam kamarnya. Mereka berdua pun berangkat ke kantor. Selama perjalanan, Raydan merenungkan sikap Yoona. Setelah sampai di k

  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 9

    Kabar serangan yang dilakukan di rumah Ketua Hakim Muda Raydan Han tersebar luas dan memunculkan kekacauan di seluruh negeri. Pelaku serangan yang tak dikenal melakukan aksi kekerasan di rumah Raydan Han, melemparkan bom molotov dan meninggalkan jejak yang membuat pihak berwenang bingung. Sebagai seorang hakim muda yang ambisius dan berani, Rayan Han dipandang sebagai sosok yang tegas dan adil dalam menjalankan tugasnya. Namun, serangan yang terjadi di rumahnya membuatnya merasa terancam dan khawatir akan keselamatan dirinya dan keluarganya. "Kabar ini sungguh mengkhawatirkan, siapa dan mengapa melakukan serangan ini," ujar Raydan kepada asisten Park. ketika mereka sedang berdiskusi di ruangannya yang dihiasi dengan lukisan-lukisan tua dan buku-buku hukum. "Apakah ada kemungkinan ini terkait dengan kasus-kasus yang saat ini tengah kita tangani, Park?" tanya Raydan sambil memandang asisten setianya dengan serius. "Ada beberapa orang yang saya curigai, salah satunya adalah keluarga

  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 8

    Sore hari, Bibi Hye Ri datang menjenguk Yoona di rumah sakit menjadi sebuah momen yang penuh kekhawatiran dengan ekpresi wajah yang cemas. "Bagaimana keadaanmu, Yoona? Apa yang terjadi sampai kau bisa kecelakaan begini?" tanya Bibi Hye Ri dengan khawatir. Yoona mencoba menenangkan bibinya. "Aku baik-baik saja, bibi. Ini murni kecelakaan karena aku yang kurang hati-hati." Namun Bibi Hye Ri tak percaya begitu saja. "Hey Raydan, kau bagaimana bisa kecolongan? Keponakanku ini sangat berharga bagi keluarga kami." Raydan akhirnya angkat bicara. "Aku memang kurang hati-hati, Bibi. Aku berjanji akan lebih berhati-hati lagi di masa depan." Bibi Hye Ri masih terlihat kesal. "Yoona, sayang. Bagaimana bisa suamimu sibuk berkencan dengan wanita lain sementara kau di sini terluka parah?" "Bibi, itu semua tidak benar. Raydan adalah suami yang baik dan setia padaku. Semua ini hanya kecelakaan biasa saja." Bibi Hye Ri hanya menggelengkan kepala. "Kau selalu membelanya, Yoona. Tapi Bibimu ini

  • BUKAN PERNIKAHAN BISNIS   Bab 7

    Sore hari yang cerah, Yoona pulang dari kampus setelah selesai mengajar. Dia merasa lelah dan lapar, jadi dia memutuskan untuk mampir ke mini market untuk membeli beberapa barang kebutuhan rumah tangga. Namun, tak disangka, kejadian yang mengejutkan terjadi saat Yoona hendak pulang ke rumah. Saat melintasi jalan raya yang ramai, tiba-tiba mobil misterius keluar dari belokan dan menabrak Yoona. Tubuhnya terpental ke aspal, kakinya sedikit terkilir dan luka ringan di pelipisnya. Orang-orang di sekitar langsung panik dan berusaha menolong Yoona, sementara sang pengemudi mobil kabur tanpa meninggalkan jejak. Orang-orang di sekitar mulai berteriak dan membantu Yoona. Seseorang segera menghubungi suaminya, Raydan Han, yang merupakan seorang hakim terkemuka di kota tersebut. Tanpa pikir panjang, Raydan dan asistennya, Park, segera menuju rumah sakit tempat Yoona dilarikan. "Dokter, bagaimana keadaan istriku?" tanya Raydan Han cemas kepada dokter yang sedang melakukan pemeriksaan terhadap

DMCA.com Protection Status