Angka di jam tangan digital milik Nadia menunjukan pukul satu dini hari. Gadis itu memikirkan cara masuk tanpa ketahuan oleh mamanya, melihat lampu tengah masih menyala, pasti sang mama duduk di depan televisi menunggu Nadia pulang. Memang benar begitu adanya. Namun, gadis yang suka pergi keluar malam itu tak pernah jera dengan semua hukuman yang Silvi berikan.
Perlahan tangan Nadia memutar anak kunci, terbuka dan dia menyelinap masuk, lewat pintu belakang. Langkah kaki dibuat seringan mungkin agar tak menimbulkan suara, karena penasaran apa benar mamanya ada di ruang tengah, Nadia hendak mengecek. Kepala gadis itu melongok sedikit sebelum menginjak anak tangga pertama. Silvi berbaring di sofa, tampak memejam dan itu kesempatan Nadia untuk lolos dari amukan.
Sampainya di kamar, Nadia merain ponsel dari dalam tas dan melemparkan diri ke tempat tidur. Gerak mata dan jarinya selaras mencari nama kontak seseorang, hendak menelepon.
“Halo ....”
“Hai kamu udah sampai rumah?” tanya yang di seberang.
“Udah kok, aman. Kamu hati-hati, ya. Jangan ngebut,” pinta Nadia.
“Aku masih di tongkrongan, bentar lagi balik. Tanggung, nih.”
“Jangan bilang kamu mau nggak pulang lagi malam ini?” terka Nadia.
“Belum tahu, Nad.”
Gadis itu berguling, memosisikan dirinya tengkurap dengan kedua kaki diangkat. Dia jadi tidak mengantuk ketika memikirkan laki-laki yang ada di seberang panggilan. Perasaan khawatir menyelusup dalam hati, membuat bayang-bayang kejadian buruk yang pernah menimpa laki-laki itu akan terulang lagi. berulang kali Nadia memperingatkan, tapi tak satupun ucapannya didengar.
“Nad, kamu udah tidur?” tanya laki-laki itu setelaah beberapa saat yang ada di antara keduanya hanya hening.
“Not yet. Dirga, plis kali ini aja. Kamu pulang biar bisa masuk sekolah, sekolah sepi kalau nggak ada kamu,” rengek Nadia.
“Kuusahakan besok, udah dulu, ya. Aku ada perlu.”
Nadia membuka mulut, tapi sambungan diputus sepihak oleh Dirga. Nama lengkapnya Dirgantara, teman, sahabat, sekaligus musuh, laki-laki itu adalah segalanya bagi Nadia. Dirga dan Nadia memang terbilang baru mengenal, tapi kedekatan keduanya terjalin dengan mudah mengingat banyaknya waktu yang dilewatkan bersama.
Gadis itu tidur dengan posisi tubuh miring, tak terasa bulir bening merembes dari sudut mata, membasahi selimut terlipat yang disandari. Saat memejam, semua tentang Dirga memenuhi pikiran gadis itu. Kebahagiaan dan tawa yang terus dirajut, dan petualangan-petualangan yang pernah mereka taklukan berdua.
“Dir, kamu tahu nggak, sih, kalau aku takut ... takut kehilangan kamu,” gumam Nadia.
Memori itu terputar dalam benak Nadia, rekam jejak sewaktu dulu pertama kalinya mereka bertemu.
Bel sekolah menunjukkan jam istirahat siang sudah usai. Semua siswa dan siswi gegas kembali ke kelas masing-masing. namun, tidak dengan Nadia, dia menyilangkan tas sekolahnya dan berlari ke pagar belakang.
“Woiii mau bolos, ya,” teriak seseorang.
Nadia terperanjat, tapi tak kehilangan konsentrasi. Tanpa mencari tahu siapa yang menegurnya, dia terus memanjat tangga dan sampainya di atas pagar gadis itu melompat keluar. Bagian belakang pagar di dekat kantin adalah spot favorit, portal untuk aksi bolos. Karena berbatasan dengan tanah kosong bekas rumah yang sekarang tak diurus juga tak dibangun hunian baru. Menjatuhkan lompatan di sana, tak ada yang menegur dan bisa langusng lari dengan kecepatan maksimum.
Karena sepertinya tifsk ada yang mengejar, Nadia membenahi tali sepatunya lebih dulu sesaat setelah kakinya menyentuh tanah.
“Woii lari, ayo buruan lari.”
Seseorang menarik lengan Nadia dan memaksanya berlari, maka dia pun lari tanpa memerhatikan siapa yang mengajaknya. Yang ada di pikiran gadis itu adalah jangan sampai tertangkap, bisa-bisa dihukum atau dampak buruknya mendapat surat panggilan untuk orang tua, lagi. Keduanya bukan pilihan yang bagus, jadi mending tidak dipilih dan dihindari.
“Stop, stop, aku capek!” tukas Nadia sembari menepis cekalan tangan seseorang itu.
“Ok, aku juga,” jawabnya dengan napas terengah. Dia membungkuk dengan kedua tangan memegangi lutut.
“Emang tadi ada yang ngejar? Siapa?” selidik Nadia.
Karena saat berlari, Nadia beberapa kali menoleh ke belakang dan tak mendapati tanda-tanda pengejaran. Biasanya sih, penjaga sekolah atau komite disiplin OSIS. Mata Nadia menyipit, memandang curiga siswa yang ada di depannya.
“Pas aka lari ke pagar belakang tadi dikejar Pak Satpam, dan aku kaget lihat kamu ... mau bolos juga.”
“Jadi kamu yang negur aku tadi?”
“Heem. Udah yuk, kita pergi dari sini, kamu bawa kendaraan?”
Nadia bingung. Apa maksudnya ini?
“Heii kita nggak kenal ya, jadi buat apa nanya-nanya.”
“Kamu bisa baca, kan? Di sini jelas tertulis namaku Dirgantara,” Dirga menunjuk nama dada di seragamnya, lalau beralih menunjuk nama Nadia dengan hati-hati, “dan namamu Nadia F.”
Nadia tak memedulikan ucapan Dirga. Gadis itu melenggang pergi, berniat mengambil motornya yang dia titipkan di pasrkiran umum.
“Heeiii aku juga mau ambil motor kalau arahmu ke sana,” Dirga mencoba kenalan. Meski yang laki-laki itu dapati hanya tatapan sengit dan sorot tidak suka.
Namun, bukan laki-laki namanya kalau gampang menyerah ketika ditolak kenalan oleh gadis cantik. Justru raa penasaran merasuk dalam ego Dirga.
“Nad, gimana kalau kita pergi beli minum dulu, aku yang traktir,” tawar Dirga saat keduanya sudah ada di parkiran motor.
Sejenak Nadia berpikir bagaimana baiknya membuat laki-laki yang bernama Dirga ini kapok. “Oke, tapi aku yang pilih tempatnya,” gadis itu mengiyakan.
Seringai terulas di bibir Nadia saat mengenakan helm. Dia akan menguji Dirga dengan pergi ke tempat nongkrong yang cukup mahal, yang palin mahal menurut Nadia. Kilas balik itu berhenti di sana, lalu kesadaran menyentak gadis itu. seraya memulihkan penglihatan dan mencari-cari letak ponselnya, Nadia sadar hari sudah pagi. Yang dia alami barusan adalah refleksi alam bawah sadar tentang apa yang dia pikirakn sebelum tidur.
“Non, sudah bangun?” tanya Bi Ani diiringi suara ketukan pintu.
“Udah ... tolong belikan bubur ayam, ya, Bi,” perintah Nadia.
Bi Ani mengiyakan sebelum langkahnya terdengar menuruni tangga. Nadia bergegas membersihkan diri, meski sebenarnya dia malas pergi ke sekolah. Sisi lain dalam dirinya berkonspirasi dengan ego dan membujuk agar tidak perlu berangkat. Saat di perjalanan, motornya nanti bisa berbelok ke tempat lain.
“Mama mana, Bi?” tanya Nadia saat duduk di kursi meja makan.
Ketika turun tadi dia menelisik ke beberapa sudut, dan tak mendapati keberadaan mamanya.
“Sudah berangkat pagi-pagi sekali, Non.”
Sama seperti biasanya, Nadia tak terkejut lagi. Entah kapan terkahir kali mereka berkomunikasi, gadis itu sudah lupa. Dia tak pernah menghabiskan waktu bersama layaknya ibu dan anak, ketika bertatap muka Silvi akan terus memarahi Nadia soal ini dan itu. Silvi memercayai laporan dari sekolah, tapi lupa menanyai anakanya sendiri. Bagaimana keadaannya dan kenapa Nadia suka sekali bolos sekolah.
Karena merasa tak lagi dipercaya dan tak diperhatikan, Nadia enggan bertemu mamanya. Untuk apa pula bertemu, kalau yang gadis itu hadapi hanya amarah dan amarah. Tak ada kasih sayang ibu sebagaimana mestinya yang Nadia harapkan.
Denting ponsel mengalihkan pikiran Nadia yang melayang tak tentu arah. Dia mengecek siapa yang menghubungi di jam sepagi ini, hanya pesan masuk rupanya.
“Nad, kamu harus ke klinik. Sekarang.”
Bunyi pesan yang dibaca Nadia, pengirimnya seorang teman yang semalam juga hadir dalam pesta.
“Ada apa.” ketik Nadia di pesan balasan.
“Dirga, Nad.”
Dua kata itu membuat Nadia menjatuhkan sendok dari pegangan. Reflek tangan kanannya menutup mulut, menahan isakan tangis.
“Nggak. Nggak mungkin. Aku mohon jangan lagi,” batin Nadia memberontak.
Jocelyn mengusap-usap punggung tangan Silvi, mencoba memberi dampak nyaman dan berempati atas kesedihan seorang ibu. Keduanya masih dududk di tempat semula, ruang besuk panti rehabilitasi. Mata Jocelyn berkaca-kaca melihat kondisi Silvi, pasti berat baginya menerima kenyataan bahwa putrinya tersandung masalah serius.Sebelum bertandang ke panti, Jocelyn sudah mempelajari berkas perkara nota kesepahaman yang ditandatangai Silvi sebagai orang tua satu-satunya. Di sana jelas tertulis bahwa dua kasus yang menjerat Nadia bukanlah perkara sepele, untuk itu Jocelyn menyarankan agar menyewa pengacara. Besar kemungkinan keputusan akan sampai ke meja sidang. Terlebih kalau pihak korban tidak mau berdamai dan menempuh jalan kekeluargaan.“Kalau boleh saya tahu, siapa yang namanya Fando ini?” tanya Celyn, penggilan akrab wanita itu.Silvi menggeleng, dengan air mata terus merebak dari pelupuk matanya. Wanita paruh baya itu tidak tahu, dan benar-benar tak mengena
Nadia memacu kecepatan motornya, tanpa memperhatikan jarum speedometer yang terus bergerak ke kanan. Air mata berderai dan isakan tangis menambah pedih hatinya, benak gadis itu membayangkan semua kemungkinan buruk. Nadia merasa tak berdaya dan tak kuasa apabila Dirga ... cepat-cepat dias menggeleng, menepis kemungkinan yang mengganggu.“Nggak, itu nggak akan terjadi,” ucapnya pada diri sendiri.Di tengah pikiran yang kacau, gadis itu sempat berdoa. Tetapi bukan, bukan berdoa yang seperti itu, dia memohon dan berharap. Kekalutan hatinya memberi keberanian bertindak ekstrem, gadis itu berkali-kali menyalip mobil dan kendaraan bak terbuka. Bahkan hampir saja dia menyerobot lampu merah, Nadia sontak menarik tuas rem motornya.“Woe. Kalem dong,” tegur seseorang yang berhenti di baris paling depan. Dia terkejut sebab Nadia menabrak bagian belakang motor besar yang dikendarainya.Nadia membuka kaca helm saat balas berteriak, &ldq
Gadis itu menengok ke kiri, melihat bangku Dirga untuk kesekian kali. Lalu helaan napas beratnya terembus, menyiratkan lara hati yang membelenggu. Sedari tadi pikirannya tak berada dalam kelas itu, sebab keadaan Dirga menyita seluruh perhatian. Meski laki-laki itu sudah memberi tahu kalau dia semakin membaik, namun kabar itu tak cukup membuat Nadia merasa lebih baik.“Nad.”Nadia terkesiap ketika dia disenggol oleh teman sebangkunya.“Apa?” desis Nadia sembari menyipitkan mata.“Ditanya sama Pak Guru, tuh.”Gadis itu sontak menghadap ke depan, dan benar saja, guru fisika yang terkenal pelit nilai tengah menatapnya tajam. Nadia malah merengut mendapati hal itu, dia tak takut dimarahi sebab berada di ruang kelas juga rasanya percuma. Dalam hati, Nadia malah berharap dihukum agar dia tak perlu berpura-pura menyimak.“Nadia, maju dan jawab pertanyaan ini,” perintah Pak Guru seraya menunjuk papan tu
Seorang wanita paruh baya duduk gusar di sebelah anak gadisnya, sedang si gadis hanya menampakkan kekesalan di air mukanya. Ibu dan anak itu bosan menunggu dalam ruangan berukuran enam kali enam meter, di antara beberapa meja dan kursi yang tersedia, keduanya memilih tempat yang berdekatan dengan samping. Posisi yang paling jauh dari jangkauan pengawas.“Ngapain kita buang-buang waktu kayak gini, sih, Ma?” tanya si Gadis.“Ngapain kamu bilang? Ini gara-gara ulahmu sendiri. Ya udah terserah kalau kamu nggak mau ke luar dari sini,” jawab wanita paruh baya yang kerap disapa Silvi itu.Nadia mencebik, memalingkan pandangan ke jendela di sebelah kirinya, melihat pemandangan kebun sayur di halaman belakang. Tak ada niat membalas ucapan sang mama. Gadis itu malas berdebat, tepatnya keengganan berinteraksi dengan ibunya semakin menjadi, setelah semua yang terjadi antara keduanya, Nadia seolah menghapus kehadiran Silvi.“Nadia,”