แชร์

Bab 3. Undangan makan malam

ผู้เขียน: Miarosa
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-02-27 12:39:04

Dua tahun pernikahan dengan laki-laki itu telah berakhir dalam puing-puing perceraian, dan kini berdiri di hadapannya adalah seseorang yang pernah ia cintai sepenuh hati sekaligus melukai dan menghancurkannya tanpa ampun.

Tatapannya penuh gejolak—amarah yang membara, kekecewaan yang menusuk, dan luka yang masih menganga. Perasaannya berantakan, seperti dihantam badai tanpa belas kasihan, menelannya dalam pusaran rasa sakit yang nyaris tak tertanggungkan.

Aurora mengamati Henry dengan saksama, mencoba menemukan sesuatu yang berbeda—sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih asing terhadap pria itu, tapi tidak. Henry masih seperti dulu. Rahang tegas yang terukir sempurna, senyum setengah malas yang pernah membuatnya jatuh cinta, hidung tinggi yang seakan menambah kesombongannya, dan bibir yang begitu mudah melontarkan janji-janji yang dulu ia percayai. Daya pikatnya tetap kuat, begitu memabukkan, seperti racun yang diam-diam menyelinap ke dalam darahnya.

Henry adalah laki-laki yang tahu cara mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Pekerja keras, obsesif, dan menganggap segala sesuatu—termasuk dirinya—sebagai milik yang tak terbantahkan. Dan dulu, Aurora menyerahkan dirinya sepenuh hati, berharap menjadi bagian dari dunianya yang sibuk dan ambisius. Hari-hari mereka tetap indah, meski sunyi tanpa suara tawa seorang bayi, tapi ternyata, itu tidak cukup.

Henry tidak berselingkuh. Ia hanya terlalu sibuk mengejar kesuksesan, sibuk membangun impian-impian yang tak pernah melibatkan Aurora sepenuhnya. Yang lebih menyakitkan, Henry bahkan melupakan hari pernikahan mereka. Bukan karena lupa sesaat, tapi karena ia tidak pernah menganggapnya cukup penting untuk diingat. Dan ketika Aurora menunggu permintaan maaf yang tak pernah datang, ia sadar bukan lagi prioritas dalam hidup pria itu.

Selama ini, Aurora telah membangun ilusi. Ia mencintai bayangan laki-laki yang sebenarnya tidak pernah ada. Dan kini, ia dihadapkan pada kenyataan pahit pernikahan mereka telah lama berada di persimpangan. Henry telah memilih jalannya sendiri dan Aurora tak punya pilihan selain mencari jalannya sendiri.

Tapi kenapa, setelah semua itu, kehadiran Henry masih sanggup membuatnya kehilangan pijakan?

"Kenapa hanya berdiri di situ? Ayo, mendekatlah." Suara Henry terdengar ringan, seakan tak ada beban, seakan mereka hanya dua orang yang sedang berbincang biasa bukan sepasang mantan yang tercerai oleh luka.

Aurora menelan ludah. Kakinya terasa berat, tapi tetap melangkah mendekat, meski hatinya berteriak untuk berbalik dan pergi.

"Aku senang akhirnya kamu mau datang ke sini menemuiku." Henry tersenyum, ekspresi yang dulu selalu membuatnya luluh.

Aurora menghela napas, mencoba menguatkan diri. "Aku datang ke sini untuk…."

"Menerima tawaranku, bukan?" Henry memotong cepat, tatapannya penuh keyakinan.

Aurora menunduk, menggigit bibirnya sebelum menjawab lirih, "Iya."

Henry bersandar di kursi dengan santai, senyum puas tersungging di bibirnya. Matanya menelusuri wajah Aurora, menelannya bulat-bulat dalam tatapan yang menyalakan sesuatu di dalam dirinya. Aurora masih sama begitu cantik dalam kesederhanaannya, begitu berbeda dari wanita lain yang pernah ia temui. Pinggang ramping itu, lekuk bibir yang menggoda, aroma bunga yang menguar dari kulitnya—semuanya tetap seperti dulu. Dan Henry sadar, obsesi terhadap wanita ini tak pernah benar-benar pudar.

Kesalahannya di masa lalu membuatnya kehilangan Aurora, tapi kali ini, ia tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.

Henry tahu itu kesalahannya sendiri, tapi tidak berarti dia bisa menerimanya begitu saja. Selama ini, tak ada wanita lain yang mampu menggantikannya. Sejak perceraian mereka, tidak pernah sekalipun ia merasa begitu tergila-gila pada seorang wanita seperti sekarang dan ironisnya, wanita itu tetaplah Aurora. Rasa penasarannya semakin membuncah, dan ketertarikan yang dulu terpendam kini kembali menyala.

Ia ingin memilikinya lagi.

Tidak ada wanita yang mampu menolak pesonanya. Selalu begitu. Dengan wajah tampan, tubuh atletis yang dibalut kesempurnaan jas mahal, serta aura percaya diri yang memancar dari setiap gerak-geriknya—Henry Wilmington adalah laki-laki yang tahu betul bagaimana menaklukkan hati seorang wanita. Namun, Aurora berbeda. Ia bukan tipe yang mudah ditundukkan dan itu justru semakin membuatnya bersemangat untuk mengejarnya lagi.

Henry menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Aurora dengan sorot mata yang penuh intensitas. "Bagus," katanya, suaranya dalam dan sedikit serak. "Akhirnya kamu mau menerima bantuanku juga."

Aurora tetap diam, tapi ia bisa melihat jari-jari wanita itu saling menggenggam di atas pangkuannya—tanda bahwa ia sedang menahan sesuatu.

"Tapi ada satu syarat." Henry menambahkan.

Dahi Aurora berkerut. "Apa syaratnya?"

Senyuman Henry semakin melebar, kali ini penuh makna. "Aku ingin kita makan malam romantis."

Aurora menghela napas, merasa sedikit lega. "Baiklah."

"Sekarang kamu bisa kembali ke kantormu, atau…." Henry mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, cukup untuk membiarkan aroma maskulinnya menguar dan mengusik kesadaran Aurora. "Kamu bisa menunggu di sini bersamaku."

Tatapan laki-laki itu mengunci mata Aurora dalam perang batin yang melelahkan. Napasnya tersengal, jantungnya berdegup lebih kencang dari seharusnya. Ini bukan pertama kalinya Henry memandangnya seperti itu. Seolah-olah hanya ada mereka berdua di dunia ini. Seolah-olah ia masih miliknya.

"Aku lebih baik kembali ke kantorku," kata Aurora cepat, nyaris terdengar seperti gumaman.

Sebelum Henry sempat berkata apa pun lagi, Aurora bangkit dan pergi dengan langkah lebar, meninggalkannya dengan senyum yang tetap melekat di bibir.

***

Henry menjemput Aurora di kantornya tepat waktu. Seperti biasa, pria itu tampil sempurna dengan setelan gelap yang membingkai tubuh tegapnya, rambut yang tertata sempurna, serta aroma khas yang langsung menguar begitu ia berdiri di depan Aurora.

"Lama tidak bertemu, tapi tetap saja cantik," gumam Henry sambil membuka pintu mobil untuknya.

Aurora mendesah, berusaha mengabaikan caranya berbicara yang selalu terdengar santai namun penuh makna tersembunyi.

Saat hendak masuk, Henry tiba-tiba meraih tangannya—halus tapi kuat, telapak tangannya terasa begitu hangat di kulit Aurora.

Aurora seharusnya menarik tangannya, tapi ia hanya bisa membeku di tempat. Sensasi familiar yang hampir ia lupakan kini kembali merambati tubuhnya, membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Ia melirik laki-laki itu, tapi Henry hanya menatapnya dengan tenang, seolah sedang menikmati kebingungannya.

"Bagaimana dengan mobilku?" Akhirnya Aurora bertanya, mencoba memusatkan pikirannya pada sesuatu yang lebih logis.

"Aku akan menyuruh seseorang mengantarkannya ke apartemenmu." Henry menjawab ringan, sama sekali tidak melepaskan genggamannya.

Aurora menelan ludah, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela begitu mereka duduk di dalam mobil, bahkan di dalam ruang sempit itu, keberadaan Henry terasa begitu mendominasi. Suara napasnya, cara ia menggenggam kemudi dengan santai, setiap gerak-geriknya yang tampak begitu percaya diri semuanya membuatnya semakin gelisah.

Dan ketika Henry meliriknya sekilas sebelum tersenyum miring, Aurora tahu, laki-laki itu sadar betul dampaknya terhadap dirinya.

Akhirnya, mereka tiba di sebuah vila mewah yang terletak di tepi pantai, setelah menempuh perjalanan kurang dari dua puluh menit. Suara deburan ombak terdengar sayup-sayup, berpadu dengan semilir angin laut yang membawa aroma asin khas samudra. Henry turun terlebih dahulu, lalu berjalan ke sisi lain mobil dan membukakan pintu untuk Aurora.

"Kenapa kamu membawaku ke sini?" Aurora bertanya dengan nada curiga. "Bukannya kita akan makan malam di restoran?"

Henry menyandarkan satu tangan di pintu mobil, sementara senyum menggoda terbit di bibirnya. "Aku tidak pernah bilang kita akan makan malam di restoran," jawabnya ringan. "Kita akan makan malam di villa ini."

Aurora mengerutkan kening, matanya menyipit penuh kewaspadaan. "Aku pulang saja."

Saat ia berbalik, Henry dengan sigap meraih sikunya, menggenggamnya cukup erat untuk menahannya, tapi tetap lembut. "Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Aurora," suaranya terdengar tenang, tapi ada ketegasan yang sulit dibantah. "Kamu sudah berjanji untuk makan malam denganku sebagai syarat atas bantuanku."

Aurora menghela napas panjang, mencoba mengabaikan sensasi hangat yang menjalar dari genggaman Henry. Dengan gerakan cepat, ia melepaskan lengannya dari cengkeraman pria itu. "Baiklah," katanya, meski masih ada nada kesal dalam suaranya.

Henry tersenyum penuh kemenangan. "Nah, begitu. Ayo masuk!"

Dengan berat hati, Aurora mengikuti Henry ke dalam villa. Saat mereka melangkah ke halaman belakang, matanya langsung disuguhi pemandangan yang begitu menakjubkan. Sebuah meja makan untuk dua orang, dikelilingi lilin-lilin yang menyala redup, menciptakan atmosfer yang intim dan romantis. Cahaya bintang berkelip di langit malam, sementara ombak yang tenang memantulkan sinar bulan, memberikan kesan magis pada malam itu.

Aurora terdiam sejenak. Ia benci mengakuinya, tapi Henry tahu caranya menciptakan suasana yang sempurna.

Namun, ia tidak ingin terlihat terkesan. Dengan sikap setenang mungkin, Aurora menyilangkan tangan di dada.

"Jangan bilang ini hanya kebetulan," gumamnya.

Henry tertawa pelan, lalu menarik kursi untuknya. "Tidak ada yang kebetulan, Aurora. Aku sudah merencanakan semuanya."

Aurora menatap pria itu, berusaha membaca maksud tersembunyi di balik matanya. Rasa kesal yang tadi memenuhi dadanya mulai luntur, digantikan oleh sesuatu yang lebih rumit—sesuatu yang berbahaya. Ia menghela napas sebelum akhirnya duduk.

Henry menuangkan wine ke dalam dua gelas kristal, lalu menyerahkan salah satunya kepada Aurora. Ia memperhatikan bagaimana wanita itu menggenggam gelasnya dengan sedikit ragu, seolah pikirannya tengah bertarung dengan perasaannya sendiri.

"Kamu gelisah," ujar Henry pelan, matanya meneliti wajah Aurora dengan penuh perhatian.

Aurora menegakkan punggungnya. "Aku tidak gelisah."

Henry tersenyum, sudut bibirnya terangkat sedikit, penuh pesona. "Kalau begitu, ayo bersulang. Untuk malam ini."

Aurora menatapnya sejenak sebelum akhirnya menyentuhkan gelasnya ke gelas Henry. Bunyi dentingan halus terdengar, seolah menjadi saksi bisu dari percakapan yang tidak terucapkan di antara mereka.

Setelah suapan terakhir, Aurora meletakkan sendok dan garpunya, lalu menatap Henry dengan penuh harap.

"Kamu sudah berjanji," katanya lembut. "Jadi, apa kamu benar-benar akan berinvestasi di perusahaan keluargaku?"

Henry meletakkan gelas winenya dengan santai, lalu menatap Aurora dengan mata yang berkilat penuh ketertarikan. "Tentu saja," katanya, suaranya terdengar rendah dan menghangat. "Apa pun yang kamu inginkan, akan kupenuhi."

Namun, fokus Henry bukan lagi pada percakapan mereka melainkan pada wanita di hadapannya. Cahaya lilin yang temaram menyorot wajah Aurora dengan begitu indah. Bibirnya tampak sedikit basah, setengah terbuka, dan napasnya terdengar sedikit tercekat. Matanya yang berbinar menciptakan daya tarik yang mustahil diabaikan.

Sial, pikir Henry. Wanita ini masih memiliki kendali penuh atas dirinya.

Tanpa sadar, ia mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Aurora hingga jarak di antara mereka hanya sejengkal. Aurora terkejut, tubuhnya sedikit menegang saat merasakan hembusan napas hangat Henry membelai wajahnya.

"Kamu tahu, ada satu hal lagi yang kuinginkan malam ini," bisik Henry, suaranya begitu dalam, hampir seperti gumaman yang menggoda.

Aurora menelan ludah, hatinya berdebar kencang. "Apa itu?" tanyanya dengan suara sedikit bergetar.

Henry tersenyum kecil, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya. "Berdansa denganku."

Aurora menatapnya ragu, namun akhirnya menyambut uluran tangan pria itu. Telapak tangannya yang dingin bertemu dengan genggaman Henry yang hangat, membuat sensasi aneh menjalar ke seluruh tubuhnya.

Henry menariknya perlahan ke tengah area terbuka, di mana alunan musik lembut mulai mengisi udara. Dengan gerakan yang begitu alami, Henry melingkarkan satu tangannya di pinggang Aurora, sementara tangan lainnya masih menggenggam erat tangan wanita itu.

"Malam ini kamu sangat cantik," gumam Henry, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya.

Aurora merasakan panas merambat ke wajahnya. Ia tidak bisa mengabaikan betapa intens tatapan Henry kepadanya. Seolah pria itu sedang mengukir sosoknya dalam ingatan, tidak ingin kehilangan momen ini.

Mereka pun mulai bergerak, menyelaraskan langkah dengan alunan musik. Namun, ada ketegangan yang berbeda di udara, sesuatu yang lebih dari sekadar nostalgia.

Aurora merasa tubuhnya mulai kehilangan kendali. Ini adalah kali pertama mereka berada sedekat ini sejak perpisahan mereka dan ia benci mengakui bahwa Henry masih mampu membuatnya kehilangan keseimbangan.

Sementara itu, bagi Henry, Aurora kini terasa lebih menggoda daripada dua tahun lalu. Ada kematangan dalam dirinya yang membuat pesona wanita itu semakin kuat, semakin tak tertahankan.

Musik semakin melambat, namun denyut nadi Aurora justru meningkat drastis.

Ia mencoba menghirup udara dalam-dalam untuk menenangkan diri, namun kesalahannya adalah udara yang ia hirup penuh dengan aroma maskulin Henry yang khas.

Sial. Ini semakin memperburuk keadaan.

Tanpa sadar, Aurora menggigit bibirnya, mencoba mengabaikan sensasi aneh yang mulai menguasainya.

Henry tersenyum melihat itu. "Jangan menggoda aku, Aurora," bisiknya pelan di telinga wanita itu.

Aurora langsung menegang, tapi Henry hanya tertawa kecil, lalu menariknya sedikit lebih dekat, membiarkan tubuh mereka bersentuhan lebih erat dari sebelumnya.

Aurora merasa seolah melayang. Kehangatan tubuh Henry yang menekan erat ke arahnya berpadu dengan aroma maskulin yang menguar dari pria itu begitu khas, begitu menguasai indranya. Sensasi itu semakin melenakannya, terutama saat ia merasakan desakan hangat dari balik kain yang menempel di perutnya. Napasnya tercekat, dadanya naik-turun, dan tanpa sadar, tubuhnya bergerak lebih dekat, seakan mencari lebih banyak kehangatan dalam dekapan Henry.

Henry membungkuk sedikit, bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Aurora saat berbisik dengan suara rendah yang nyaris seperti erangan tertahan. "Aku merindukanmu."

Aurora gemetar. Suara Henry, hembusan napasnya, aroma aftershave yang begitu akrab. Semuanya menggoyahkan pertahanannya.

Belum sempat ia merespons, tubuhnya ternyata sudah berbicara lebih dulu. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya bergetar saat tangan besar Henry mulai menjelajah, membelai lembut punggung telanjangnya. Aurora menahan desahan yang nyaris lolos dari bibirnya, tapi geliat di tubuhnya tak bisa ia kendalikan. Sentuhan Henry membakar kulitnya, membangkitkan sensasi yang begitu familiar namun tetap membuatnya terkesima.

Aurora mendongak, ingin berkata sesuatu. Entah untuk menolak atau menyerah, tapi pandangan Henry telah menawannya. Sepasang mata gelap itu seolah memenjarakan miliknya, mencengkeramnya dalam tatapan yang misterius, penuh gairah yang menyala-nyala.

"Aku senang kita bisa bersama lagi malam ini," ucap Henry, suaranya serak dan begitu sarat kerinduan.

Aurora merasakan getaran aneh menjalar dalam dirinya. Perasaan ini seharusnya ia tolak, seharusnya ia lawan, tapi ketika Henry kembali menyusuri lekuk tubuhnya dengan tangan kuatnya, Aurora hanya bisa menggigit bibir, menahan debaran yang semakin tak terkendali.

Tiba-tiba, tubuhnya melayang. Aurora terlonjak, hampir berteriak, ketika Henry mengangkatnya dengan mudah. Kedua lengannya otomatis melingkar di leher pria itu, dan seketika, tubuhnya semakin merapat ke dada bidang Henry. Detak jantungnya berpacu, tapi ia tahu di balik kulit dan otot-otot yang tegang, detak jantung Henry pun sama kerasnya.

Henry tersenyum tipis, matanya mengunci Aurora dalam tatapan yang tak terbaca. Lalu, tanpa aba-aba, ia membaringkan mereka berdua di tempat tidur, menghimpit tubuh Aurora dengan tubuhnya sendiri.

Aurora terkesiap, tapi bukan rasa takut yang ia rasakan. Justru sebaliknya ada rasa terperangkap dalam sesuatu yang begitu indah, sesuatu yang menegangkan sekaligus menggetarkan.

Ia menatap Henry, memandangi setiap garis wajah tampannya yang begitu dekat. Pria itu kini menatapnya dengan intensitas yang hampir membakar.

Perlahan, Henry menurunkan wajahnya. Hidung mancungnya kini menyusuri leher Aurora, membelai kulitnya yang terbuka dengan sentuhan yang hampir tak terasa, tapi justru membuat Aurora menggigil.

Dan saat bibir Henry akhirnya menyentuh kulitnya, Aurora sadar. Ia benar-benar dalam bahaya malam ini.

Tangan besar Henry bergerak perlahan, mengelus sisi pinggang Aurora dengan sentuhan yang begitu lembut, namun tetap menuntut. Jemarinya menjelajah, menelusuri lekuk tubuh wanita itu seolah ingin menghafal setiap detailnya kembali.

Tatapan Henry semakin kelam, dipenuhi gairah yang mendalam. Dengan satu gerakan tegas, ia menangkap kedua tangan Aurora, membelenggunya di atas kepala dengan cengkeraman kokoh. Aurora terkesiap, tapi bukan karena takut melainkan karena sensasi luar biasa yang ditimbulkan oleh dominasinya.

Tanpa memberi kesempatan untuk bernapas, Henry menundukkan wajahnya, bibirnya dengan rakus mengecup, melumat, dan menggigit setiap jengkal kulit yang mampu dijangkaunya. Napas Aurora tersengal, detak jantungnya berpacu begitu kencang.

Saat akhirnya Henry menemukan bibirnya, tak ada ruang bagi Aurora untuk berkata-kata. Bibir pria itu mengunci miliknya dalam ciuman yang dalam dan tak kenal ampun, menenggelamkannya dalam lautan gairah yang perlahan-lahan menghapus batas-batas yang selama ini ia pertahankan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทที่เกี่ยวข้อง

  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 4. Pusaran gairah

    Bibir Aurora merekah, menyambut sentuhan yang begitu akrab namun tetap membuai. Awalnya, ia membalasnya dengan ragu, malu-malu, tapi Henry tak memberi ruang untuk kebimbangan. Pria itu memperdalam ciumannya, lebih lembut, lebih menuntut, seakan ingin mengingatkan Aurora akan semua rasa yang dulu pernah mereka bagi.Dada Henry bergetar saat bibir ranum itu akhirnya sepenuhnya menyatu dengan miliknya. Napasnya semakin berat, seiring dengan hasrat yang menggelegak di dalam dirinya. Ia merasakan manisnya, merasakan Aurora yang perlahan-lahan menyerah dalam dekapannya.Ia ingin lebih. Ia butuh lebih."Aurora...." desah Henry, suaranya dalam dan serak, penuh gairah yang nyaris membuatnya kehilangan kendali.Aurora terperangkap dalam pesona Henry. Pria itu begitu tampan dalam cahaya temaram, dengan sorot matanya yang teduh namun berbahaya. Rahangnya yang kuat dan ekspresi menggoda membuat Aurora semakin tenggelam.Henry menarik diri, hanya untuk menempelkan dahinya ke dahi Aurora, berusaha m

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-27
  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 5. Permainan yang berbahaya

    Henry melangkah perlahan ke jendela, membuka daun jendela hingga sinar matahari pagi masuk dan menyelimuti ruangan dengan cahaya keemasan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma laut yang segar, membuat suasana semakin tenang dan hangat.Matanya kemudian tertuju pada sosok yang masih terlelap di tempat tidur. Aurora tidur dengan damai, napasnya teratur, wajahnya begitu lembut dalam keheningan pagi. Sejenak Henry hanya berdiri, mengamati wanita yang selalu mengisi pikirannya, wanita yang dulu pernah menjadi miliknya.Dengan hati-hati, ia duduk di tepi tempat tidur, tatapannya tak lepas dari wajah Aurora. Rambut coklat wanita itu terserak di atas bantal, berkilauan tertimpa cahaya pagi. Kulitnya tampak bersih dan bercahaya, pundaknya yang telanjang terlihat begitu halus di bawah selimut yang melorot.Tanpa sadar, Henry mengulurkan tangan, membelai perlahan helaian rambut yang jatuh di pipi Aurora. Sentuhan ringan itu membuat wanita itu menggerakkan tubuhnya sedikit, kelopak matanya mulai berge

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-27
  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 6. Retaknya kepercayaan

    "Aurora?" Suara Henry terdengar dari arah pintu. Ada nada menggoda di dalamnya, tetapi juga sedikit gelisah. "Kamu sudah selesai mandi, Cantik?" Henry melangkah mendekat, napasnya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. Ponselnya kini telah dimatikan, percakapannya dengan William terputus begitu saja. Saat jaraknya kian menipis, ia menarik Aurora ke dalam pelukannya. Sejenak, Aurora menutup mata. Hangat. Dekapan Henry selalu membuatnya merasa aman. Namun, sesaat kemudian— "Dia tidak akan tahu bahwa aku penyebab kebangkrutan perusahaannya." Suara Henry kembali menggema di kepalanya. Aurora tersentak. Dalam sekejap, kehangatan yang tadi membungkusnya berubah menjadi bara yang membakar dada. Matanya terbelalak, tubuhnya menegang di dalam pelukan Henry sebelum ia akhirnya mendorong tubuh pria itu menjauh. Henry terkejut. Ia melihat Aurora mundur beberapa langkah, menciptakan jarak yang kini terasa begitu lebar. "Aurora." Aurora memejamkan mata erat-erat, mencoba mengendali

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-18
  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 7. Amarah dan air mata

    Tapi Aurora menggeleng. "Jangan sebut namaku dengan suara itu." Air matanya terus mengalir, tetapi matanya memancarkan amarah dan luka yang begitu dalam.Tatapannya menembus dada Henry, menghancurkan segala harapan yang ia bangun."Kamu brengsek!" serunya.Tanpa menunggu apa pun lagi, Aurora meraih pegangan pintu, membukanya dengan kasar, lalu melangkah pergi tanpa menoleh.Henry hanya bisa berdiri terpaku, matanya menatap punggung wanita yang semakin menjauh. Ia ingin berlari mengejarnya, ingin menahan tangan itu, ingin berlutut di hadapannya dan memohon kesempatan terakhir, tapi tubuhnya tetap tak bergerak, seolah jiwanya ikut pergi bersama wanita itu.Saat suara pintu tertutup dengan keras, Henry merosot lemas ke kursi."Brengsek!"Dengan amarah yang tak bisa ia arahkan ke siapa pun selain dirinya sendiri, Henry menghantam meja di depannya berulang kali. Suara dentuman keras memenuhi ruangan, tetapi itu tidak cukup untuk meredam rasa frustrasi yang membakar dadanya.Tubuhnya berget

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-18
  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 8. Jejak yang ingin di hapus

    Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia bangkit, berjalan tertatih ke ranjangnya, lalu membiarkan tubuhnya terhempas ke atas kasur. Seluruh tenaganya habis, tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan Henry. Suara pria itu, tatapan matanya, semua terasa begitu nyata.Aurora menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia ingin melupakan. Ia ingin menghapus setiap jejak Henry dalam hidupnya. Namun, bagaimana caranya jika setiap napas yang ia hirup terasa begitu penuh dengan kehadiran pria itu?Perlahan, matanya terpejam. Ia terlalu lelah untuk melawan pikirannya sendiri. Namun, bahkan dalam tidurnya, bayangan Henry masih menghantuinya.Keesokan Paginya, Aurora terbangun dengan mata sembab dan kepala yang terasa berat. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—wajahnya pucat, kantung matanya menghitam, bibirnya kering.Ia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Tidak peduli seberapa hancurnya dirinya, hidup harus terus berjalan. Ia tidak akan membiarkan Henry menguasai pikirannya

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-18
  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 9. janji manis

    Aurora mengangguk, rahangnya mengeras. "Benar. Kemarin kami bertemu dan kami sempat bermalam bersama." Keheningan mendadak menyergap ruangan. Mata Vernon dan Florien membelalak penuh keterkejutan, sementara Aurora menjatuhkan tubuhnya ke kursi, seakan bebannya menjadi semakin berat. Setiap kali membicarakan Henry, dadanya terasa sesak, emosinya semakin memuncak, seolah siap meledak kapan saja. "Itu artinya kalian kembali bersama?" Vernon bertanya, nadanya terdengar penuh harapan. Aurora tertawa pendek, namun tanpa kebahagiaan sedikit pun. "Hampir saja," suaranya penuh ironi. "Tapi Henry menghancurkan semuanya. Aku tidak peduli lagi dengan tawarannya. Tidak peduli dengan janji-janji manisnya!" Vernon menatapnya dengan kebingungan. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya, merasa tak mengerti bagaimana menghadapi adiknya yang kini terlihat seperti bom waktu yang siap meledak. Ruangan terasa semakin mencekam. Tatapan Aurora dipenuhi amarah, bola matanya yang biru seperti lautan

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-21
  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 10. Bisnis adalah bisnis

    Lalu, ponselnya kembali berdering. Kali ini, dengan enggan, ia mengangkatnya. Suara nyaring Florien langsung meledak dari seberang, membuat Henry meringis dan menjauhkan ponsel dari telinganya. "Hei, pelankan suaramu!" "Kenapa kamu tidak menjawab teleponku dan tidak membalas pesanku?" Suara adiknya terdengar jelas kesal. Henry mengusap wajahnya dengan letih. "Maaf. Aku sibuk." Florien mendecak. "Ada apa denganmu? Aku mencarimu ke mana-mana. Kamu di mana sekarang?" "Di vila." Terdengar tarikan napas dari seberang. "Aku sudah tahu semuanya. Aku bertemu Aurora di kantor Vernon, dan dia… dia menceritakan semuanya." Dada Henry mencengkung, seakan seseorang menekan sesuatu yang berat di atasnya. "Jadi kamu bertemu dengannya?" "Iya. Dan dia sangat marah padamu." Henry tersenyum getir. "Tentu saja dia marah. Dia berhak marah." Florien terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Segeralah pulang! Aku ingin bicara denganmu." Henry menyandarkan kepalanya ke sofa, menatap lan

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-21
  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 11. Menyelamatanku?

    Setelah rapat selesai dan semua dokumen ditandatangani, Aurora merasakan dadanya sesak. Rasanya seperti menjual bagian dari hidupnya sendiri—sebagian besar Blue Sea Corp bukan lagi miliknya, melainkan bagian dari Wilmington Group yang dipimpin oleh pria yang pernah ia cintai dan benci dalam waktu yang bersamaan. Vernon menepuk punggungnya dengan lembut. “Kau baik-baik saja?” Aurora menarik napas dalam dan mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja.” Tapi itu bohong. Ketika Henry berdiri dari kursinya, memasukkan tangannya ke dalam saku jas dengan ekspresi yang nyaris tak terbaca, Aurora merasakan amarah sekaligus perasaan lain yang tak bisa ia jelaskan. Pria itu telah mengambil segalanya darinya, dan sekarang, ia juga mengambil kendali atas hidupnya di perusahaan. Sebelum Henry berbalik pergi, Aurora berbicara, suaranya rendah tapi tajam. “Kau menikmati ini, bukan?” Henry berhenti di tempatnya, lalu menoleh. Tatapan matanya dalam, ada sesuatu yang mengintai di sana—sebuah emosi

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-21

บทล่าสุด

  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 34. Pesan

    Kota Berlin menyala indah dari balik jendela hotel bintang lima tempat mereka menginap. Aurora berdiri membelakangi pemandangan, menggenggam cangkir teh chamomile hangat. Hatinya masih kacau, pikirannya masih berputar pada Henry, meskipun ia sudah ratusan kali berkata pada dirinya bahwa ini sudah keputusan terbaik.Andrew mengetuk pintu kamarnya pelan. “Aurora?”Ia membuka pintu, masih mengenakan setelan tidur sutra abu-abu lembut. “Ada apa?”Andrew berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah, mengenakan kaus putih dan celana lounge. “Kamu nggak bisa tidur?”Aurora menggeleng. "Tadi aku pesen cokelat panas. Kalau kamu mau—”Ponsel Aurora bergetar di tangan. Ia menunduk, mengerutkan alis. Nama pengirim: Yolanda.“Sebentar ya.” Ia mundur masuk ke kamar dan menutup pintu perlahan sebelum membuka pesan tersebut.Pesan pertama: Ada yang merindukan dia? Tertempel di bawahnya: sebuah foto.Aurora nyaris menjatuhkan ponsel saat melihat gambar itu. Sebuah tempat tidur berantakan, seprai putih

  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 33. Wine dan Parfum

    Florien terdiam. Ia sebenarnya ingin tetap diam, ingin membiarkan Henry menanggung akibat dari kebodohannya sendiri. Tapi di satu sisi, ia tahu kakaknya masih mencintai Aurora dan jauh di dalam hati kecilnya, Florien percaya—mereka masih punya kesempatan. Ia akhirnya berkata pelan, “Dia ke Berlin.” Henry terkejut. “Berlin? Sendirian?” “Enggak juga. Dia pergi sama pengacaranya. Andrew Smith.” Seketika Henry merasa sesak. “Untuk apa?” tanyanya. Florien menjawab singkat, “Mengurus properti pribadi, dan menghadiri peluncuran koleksi perhiasan terbaru dari Beian.” Henry membeku. Acara itu internasional, dihadiri banyak tokoh penting. Aurora akan berada di pusat perhatian, mengenakan gaun terbaiknya, dengan tatapan tenang seperti biasa. Dan dia? Ia bahkan tak tahu kalau wanita yang ia cinta sudah sejauh itu meninggalkannya. “Mungkin ini waktumu membenahi segalanya,” ucap Florien pelan. “Atau kalau kamu tidak cepat, mungkin kamu harus siap kehilangan dia selamanya.” Telepon

  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 32. Undangan

    Keesokan harinya, media sosial masih dipenuhi potongan-potongan video saat Henry memeluk Yolanda di acara peluncuran proyek. Judul-judul headline makin menggila: “Cinta CEO dan Pewaris Muda, Keluarga Besar Wilmington Group Restui Hubungan Mereka?” — “Aurora dan Henry Resmi Berakhir?” Aurora membaca semuanya dengan tatapan datar, tapi isi dadanya berkecamuk seperti kapal karam. Ia bukan lagi topik utama, tapi entah kenapa rasanya jauh lebih menyakitkan saat tidak diperhitungkan sama sekali. Florien menutup laptopnya, menghela napas. “Aku tahu kamu lelah.” Aurora mengangguk. “Aku lelah berharap.” “Kalau begitu berhentilah.” “Aku sudah, tapi rasa sakit ini tetap tinggal.” Florien menggenggam tangan Aurora. “Kalau kamu perlu pergi jauh untuk benar-benar sembuh." Aurora menoleh. “Meninggalkan semuanya?” “Untuk menyelamatkanmu dari dirimu sendiri.” *** Aurora duduk di ruangannya yang kini terasa terlalu besar, terlalu sunyi. Komputer menyala, email-email belum terbaca menumpuk, ta

  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 31. Akan tersingkir pelan-pelan

    Esok paginya, foto itu tersebar. Kini giliran Henry yang menjadi bahan gosip. Aurora melihatnya di ponsel Florien. Tidak ada satu otot pun di wajahnya yang bergerak. Ia hanya menyerahkan kembali ponsel itu dan berkata, “Kopi pagi ini hambar sekali, ya.” Florien hampir melempar meja. “Astaga, Aurora! Kamu nggak bisa terus-terusan mematikan perasaanmu seperti ini!” “Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?” bisik Aurora sambil menatap Florien tajam. Florien terdiam. “Kalau kamu sudah menjelaskan, sudah memohon untuk dipercaya, tapi tetap dianggap pengkhianat, kamu masih akan berjuang?” Florien tidak menjawab. Aurora melanjutkan dengan lirih, “Aku hanya tidak ingin menghancurkan diriku sendiri untuk seseorang yang tidak pernah percaya padaku.” Sementara itu di apartemen Henry sore harinya, Henry kembali gelisah. Bukannya merasa menang, ia justru makin terpuruk. Aurora tetap tak bergeming. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada air mata, tidak ada cinta? “Dia benar-benar sudah

  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 30. Tembok tinggi

    Aurora berdiri di pantry kantor dengan secangkir kopi yang sudah dingin di tangannya. Kepalanya masih terasa berat oleh tatapan Henry pagi tadi—dingin, tanpa kata, namun menyakitkan. Langkah cepat seseorang membuatnya menoleh. “Aurora!” Florien muncul dengan wajah cemas dan napas terengah. “Aku langsung ke sini setelah lihat foto itu. Kamu… kamu baik-baik saja?” Aurora mengerjap, berusaha tersenyum meski lelah. “Sepertinya aku masih jadi pusat gosip." Florien menghela napas dalam-dalam, lalu menyodorkan ponselnya. Di layar masih terbuka foto yang sudah viral di lingkaran terbatas mereka: Aurora dan Jordan, tampak berciuman di balkon restoran. “Vernon yang nemu ini. Dia kaget setengah mati. Dia bahkan sempat pikir ini editan." “Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa,” sela Aurora dengan nada lirih. Florien terdiam, matanya menyiratkan simpati yang dalam. “Benarkah?" “Iya ” Aurora menatap cangkirnya dengan hampa. “Itu bukan ciuman yang kuminta, bahkan bukan ciuman sungguhan." F

  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 29. Harga yang pantas untuk dibayar

    Archer bersandar santai di kursinya. “Aku hanya menunjukkan pada dunia kebenaran, Henry atau kau ingin tetap buta pada perempuan yang jelas-jelas mengkhianatimu?” “Kau tidak tahu apa-apa tentang kami!” Henry membanting tangannya ke meja, wajahnya memerah. “Kau tidak tahu bagaimana aku mencintainya. Kau tidak berhak mencampuri urusan pribadiku!” Archer tidak mundur, tidak gentar. “Kau masih bertindak seperti anak kecil. Kau pikir cinta bisa menyelamatkan masa depanmu? Kau pewaris Wilmington. Hidupmu bukan hanya tentang perasaan. Kau butuh stabilitas. Yolanda memberimu itu.” Henry tertawa miris. “Apa itu? Stabilitas? Atau kendali? Kau ingin aku jadi boneka yang bisa kau arahkan sesuka hati?” Archer berdiri, perlahan. “Aku ingin kau menjadi pria yang tidak dikendalikan oleh kelemahan emosional. Kau pikir aku membangun ini semua dengan cinta? Dunia ini dibangun oleh pilihan logis dan aliansi strategis.” Henry menggeleng. “Kau membangun semuanya dengan kekejaman.” Keheningan menggant

  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 28. Dihantam gelombang

    Aurora bangkit dari kursinya, matanya mulai berkaca. "Kau tak bisa menuntut aku memilih sekarang, Henry. Aku juga sedang berjuang dengan diriku sendiri!" "Kau tidak bersikap seolah aku bukan siapa-siapa." "Dan kau? Kau pikir mudah bagiku? Kau selalu hadir tanpa memberi kepastian. Kau menuntut kejelasan dari hatiku, tapi kau sendiri belum menyembuhkan luka kita dulu." Henry menatapnya dalam-dalam. "Karena aku pikir, cinta itu bisa menyembuhkan sendiri." "Aku lelah!" Aurora berseru. "Aku lelah mencintaimu, lalu harus bersikap seolah aku tidak peduli hanya karena takut jatuh lagi. Aku lelah menahan semuanya sendiri." Henry menghela napas panjang. Wajahnya kini dipenuhi luka, kekecewaan, dan kesedihan. "Kalau begitu mungkin aku memang harus pergi," katanya pelan. Aurora menatapnya, terkejut. "Apa maksudmu?" "Aku mencintaimu, Aurora, tapi kalau kehadiranku justru membuatmu semakin ragu, mungkin aku memang harus menjauh." Aurora menggeleng. "Jangan lakukan ini!" Tapi Henr

  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 27. Foto

    Henry tidak langsung kembali ke kantornya. Ia keluar dari gedung itu tanpa tujuan jelas, berjalan menyusuri trotoar kota. Angin sore menusuk kulitnya, namun tak ada yang lebih dingin dari perasaan yang menyelimuti dadanya. Tatapan Aurora tadi—penuh keraguan dan ketegasan—masih terpatri jelas dalam pikirannya.Ia berhenti di sebuah kedai kopi kecil yang biasa mereka kunjungi dulu. Tempat itu kini terasa begitu asing. Duduk di sudut dekat jendela, Henry memandang kosong ke luar sambil menggenggam cangkir yang bahkan tak disentuh isinya. Kepalanya terus dipenuhi bayangan Aurora dan Jordan.Jordan.Nama itu terasa seperti duri. Ia tak pernah suka pria itu sejak awal. Terlalu sopan, terlalu sempurna, dan yang paling menyebalkan terlalu dekat dengan Aurora.***Sementara itu, Aurora termenung di ruangannya. Rapat yang menunggunya pukul lima terpaksa ia batalkan. Perasaannya terlalu kacau. Ia menatap ponsel di meja, berharap Henry menghubunginya. Tapi layar tetap gelap. Tak ada pesan, tak ad

  • Atasan Posesif itu Mantan Suamiku   Bab 26. Keteganan di lift

    Henry menghela napas dalam, berusaha meredam emosi yang berkecamuk di dadanya. Begitu pintu lift terbuka di lantai tempat kantor Aurora berada, wanita itu segera melangkah keluar tanpa memberi Henry kesempatan untuk berbicara lebih jauh. Henry mengikutinya, langkahnya cepat menyusul Aurora yang sudah hampir mencapai ruangannya. "Aurora, kita perlu bicara," suara Henry terdengar lebih lembut, tetapi tetap penuh ketegasan. Aurora berhenti di depan pintu kantornya, tangannya menggenggam kenop pintu sejenak sebelum berbalik menghadap Henry. Tatapannya tajam dan penuh keteguhan. "Henry, aku lelah. Aku tidak ingin bertengkar denganmu saat ini." Henry mengusap wajahnya frustasi. "Aku tidak ingin bertengkar, Aurora. Aku hanya ingin kau mengerti. Aku tidak bisa diam saja melihatmu bersama pria lain tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku—" "Kau apa, Henry? Cemburu?" potong Aurora cepat. "Kau tidak punya hak untuk bersikap seperti ini padaku. Kita sudah bukan siapa-siapa lagi." Wajah H

สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status