Chapter: Ban 106. Epilog. TAMAT.Setahun telah berlalu sejak kepergian Lena, tetapi kenangannya masih melekat di hati mereka, tersimpan dalam setiap sudut rumah dan dalam setiap langkah kecil Clarie. Meskipun duka itu tidak benar-benar hilang, waktu telah mengajarkan mereka bahwa cinta dan kebahagiaan bisa kembali ditemukan, bahkan setelah kehilangan yang menyakitkan.Joseph dan Juliana tidak terburu-buru. Mereka membangun kembali hubungan mereka dengan penuh kesabaran, memberi ruang bagi luka-luka lama untuk benar-benar pulih. Tidak ada janji yang diucapkan dengan tergesa-gesa, tidak ada keputusan yang diambil tanpa pertimbangan. Mereka memilih untuk saling mengenal kembali bukan sebagai dua orang yang memiliki masa lalu yang pahit, tetapi sebagai dua hati yang akhirnya mengerti betapa berartinya satu sama lain.Clarie tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria, meskipun masih sering menatap ke luar jendela, seolah menunggu ibunya kembali. Namun, dalam pelukan hangat Joseph dan Juliana, ia menemukan tempat yang aman, tem
Last Updated: 2025-03-18
Chapter: Bab 105. Pengorbanan terakhirMobil Joseph melaju kencang menuju lokasi. Lena, Ariana, dan Juliana duduk dengan tegang di dalam mobil, perasaan mereka bercampur antara cemas, marah, dan takut. Begitu mereka tiba, pemandangan di depan mereka membuat jantung mereka berdegup lebih kencang.Sebuah rumah tua berdiri di pinggiran kota, tampak gelap dan sepi. Catnya sudah mengelupas, jendelanya tertutup rapat, dan pagar kayunya sudah lapuk dimakan usia. Rumah itu tampak seperti sudah lama tidak dihuni, tetapi semua orang tahu bahwa di sanalah Damian bersembunyi bersama Clarie.Di sekitar rumah, polisi sudah bersiap dengan senjata terangkat, mengenakan rompi anti-peluru. Lampu-lampu kendaraan polisi menyala, menerangi malam yang mencekam.Seorang petugas mendekati Joseph dan berbicara dengan suara rendah."Kami sudah mengepung rumah ini dari semua sisi. Tim kami sudah memastikan bahwa tidak ada jalan keluar bagi Damian. Kami hanya menunggu perintah untuk masuk."Joseph mengepalkan tangannya. "Lakukan!"Kapten polisi menga
Last Updated: 2025-03-18
Chapter: Bab 104. Pertaruhan terakhirSuasana di dalam mobil terasa berat. Lena duduk di kursi penumpang, jemarinya mencengkeram erat ponselnya, matanya kosong menatap jalanan malam yang sepi.Di belakang kemudi, Joseph mengendarai mobil dengan rahang mengatup. Napasnya berat, tangannya mencengkeram setir seolah itu satu-satunya hal yang bisa menjaga amarahnya tetap terkendali.Ariana dan Juliana duduk di kursi belakang, sama tegangnya. Semua orang tahu bahwa mereka sedang berpacu dengan waktu.Saat itulah ponsel Lena berdering. Nada deringnya memecah keheningan, membuat semua orang tersentak. Lena langsung meraih ponsel, melihat nama di layar.Damian.Darah Lena berdesir. Ia menekan tombol jawab dan langsung menempelkan ponsel ke telinganya."Damian! Di mana Clarie?!" serunya panik.Suara tawa rendah terdengar dari seberang sana, mengirimkan getaran tak nyaman ke dalam tulang belakang Lena."Tenanglah, Sayang," kata Damian dengan nada mengejek. "Clarie baik-baik saja. Untuk saat ini."Tangan Lena mengepal, matanya berkil
Last Updated: 2025-03-18
Chapter: Bab 103. Siapa yang akan menang dalam permainanSuasana di dalam mobil terasa berat. Lena duduk di kursi penumpang, jemarinya mencengkeram erat ponselnya, matanya kosong menatap jalanan malam yang sepi. Di belakang kemudi, Joseph mengendarai mobil dengan rahang mengatup. Napasnya berat, tangannya mencengkeram setir seolah itu satu-satunya hal yang bisa menjaga amarahnya tetap terkendali. Ariana dan Juliana duduk di kursi belakang, sama tegangnya. Semua orang tahu bahwa mereka sedang berpacu dengan waktu. Saat itulah ponsel Lena berdering. Nada deringnya memecah keheningan, membuat semua orang tersentak. Lena langsung meraih ponsel, melihat nama di layar. Damian. Darah Lena berdesir. Ia menekan tombol jawab dan langsung menempelkan ponsel ke telinganya. "Damian! Di mana Clarie?!" serunya panik. Suara tawa rendah terdengar dari seberang sana, mengirimkan getaran tak nyaman ke dalam tulang belakang Lena. "Tenanglah, Sayang!" kata Damian dengan nada mengejek. "Clarie baik-baik saja untuk saat ini." Tangan Lena mengepal, matan
Last Updated: 2025-03-18
Chapter: Bab 102. Mencari petunjukTelepon dari Juliana masih menggema di kepala Joseph saat ia menekan pedal gas lebih dalam. Mobilnya melaju dengan kecepatan gila, membelah jalanan kota yang mulai diselimuti gelapnya malam. Tangannya mencengkeram setir erat, rahangnya mengatup keras menahan gejolak emosi yang siap meledak.Clarie diculik.Pikiran itu terus menggerogoti benaknya.Putrinya, gadis kecil yang begitu ia cintai, kini berada di tangan seseorang yang entah siapa dan dengan niat apa.Siapa pun yang berani menyentuh Clarie tidak akan dibiarkan hidup dengan tenang.Joseph hampir tidak bisa berpikir jernih. Bayangan Clarie menangis, ketakutan, mungkin memanggil namanya dalam keputusasaan, membuat dadanya seperti terbakar.Sial!Tangannya gemetar saat ia menekan panggilan ke Lena. Nada sambung berbunyi. Sekali. Dua kali.“Halo?”Suara Lena terdengar malas, seolah tidak ingin berbicara dengannya.Joseph tidak peduli.“Clarie diculik.”Hening.“Apa?” Suara Lena nyaris tidak terdengar, penuh keterkejutan dan ketidak
Last Updated: 2025-03-17
Chapter: Bab 101. Berita darurat?Keesokan paginya, mentari bersinar terang, menerangi halaman sekolah Clarie dengan cahaya hangat. Anak-anak berlarian riang, beberapa duduk di bangku taman, dan yang lain bercengkerama dengan teman-teman mereka. Suasana tampak begitu biasa, begitu normal tidak ada yang menyangka bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi hari itu.Di sudut area parkir, seorang pria berdiri dengan kacamata hitam dan topi yang menutupi sebagian besar wajahnya. Damian.Matanya tajam mengamati gerak-gerik Clarie dari kejauhan. Gadis kecil itu tampak ceria, berbincang dengan teman-temannya sebelum masuk ke dalam kelas."Jadi, dia anakku," gumam Damian pelan, nyaris tanpa emosi.Tapi di balik kata-katanya yang datar, ada ambisi besar dalam hatinya. Ia tak peduli siapa yang membesarkan Clarie selama ini. Yang jelas, ia adalah ayah biologisnya, dan itu berarti Clarie seharusnya menjadi miliknya.Damian mengencangkan jaketnya, menyembunyikan kegelisahan yang mulai menguar. Ini bukan sekadar soal ingin mendapatkan C
Last Updated: 2025-03-16
Chapter: Bab 93. Penerima donorSetelah rapat selesai, Brian berjalan keluar dari gedung kantor dengan perasaan campur aduk. Ia tahu ini bukan hal yang mudah, tetapi ia sudah bertekad untuk menjalankan tugasnya. Malam itu, setelah hari yang panjang, Brian kembali ke rumah Brisa dan Sagara. Begitu memasuki rumah, ia langsung merasakan kekosongan yang begitu mencengkeram. Ruang tamu sunyi hanya ada bayangan perabotan yang tampak seperti saksi bisu dari kebahagiaan yang dulu pernah ada. Rumah itu masih sama, tetapi rasanya berbeda. Seperti kehilangan jiwanya. Langkah Brian terasa berat saat ia berjalan ke dalam. Meja makan yang dulu sering mereka gunakan untuk berkumpul kini tertata rapi, tak tersentuh. Di sudut ruangan, foto pernikahan Sagara dan Brisa masih berdiri kokoh di atas meja kecil. Brian mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh bingkai itu. Sagara tersenyum dalam foto itu, begitu bahagia, begitu hidup. Brian menarik napas dalam, mencoba menekan rasa kehilangan yang tiba-tiba menyerangnya. Hari-hari
Last Updated: 2025-04-01
Chapter: Bab 92. Kembalinya BrianBrian menggeleng. “Aku datang untuk berdamai, dengan kalian dan dengan masa lalu. Aku tahu kita punya banyak perbedaan, tapi aku ingin menunjukkan bahwa kita bisa berjalan bersama tanpa harus saling meniadakan.” Keheningan menyelimuti ruangan untuk beberapa saat. Brian menunggu, tak terburu-buru, memberi waktu bagi ayahnya untuk mencerna semua ini. Akhirnya, pria tua itu mendengus pelan, matanya melunak meski tetap menunjukkan harga diri yang tinggi. Sang ibu mendekat, memegang tangan Brian dengan lembut. “Kami merindukanmu. Apa kau benar-benar akan pulang?” Brian menatap ibunya dengan lembut. “Ya, Bu. Aku pulang.” Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar diterima. Setelah percakapan yang cukup emosional itu, Brian akhirnya duduk bersama orang tuanya. Ibunya masih terlihat terharu, sementara ayahnya tetap mempertahankan sikap dinginnya, meskipun ada kilatan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan dari matanya. “Kalau kau ingin mengambil alih posisi Sa
Last Updated: 2025-04-01
Chapter: Bab 91. Bertemu orang tuaSetelah berbicara beberapa saat dengan Pak Rendra, Brian berpamitan dan melanjutkan kunjungannya ke pasien lain. Pasien Pascaoperasi Ia menuju ruang perawatan bedah, tempat seorang wanita berusia lima puluhan yang baru saja menjalani operasi jantung kemarin sedang beristirahat. Perawat yang berjaga di sana menyambutnya. "Bagaimana kondisi Ibu Sinta?" tanya Brian sambil mengecek catatan medisnya. "Tekanan darahnya stabil sejak pagi tadi, dan ia sudah mulai bisa mengonsumsi makanan lunak," jawab perawat. Brian mengangguk sebelum masuk ke dalam ruangan. Ibu Sinta sedang berbaring dengan posisi kepala sedikit ditinggikan. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding kemarin, meskipun masih sedikit pucat. "Selamat siang, Bu Sinta," sapa Brian. Ibu Sinta membuka matanya dan tersenyum tipis. "Dokter Brian, terima kasih atas operasinya kemarin. Saya merasa lebih baik hari ini." "Itu kabar baik, Bu," kata Brian sambil memeriksa pergelangan tangannya untuk mengecek denyut nadi. "Ada rasa nye
Last Updated: 2025-03-30
Chapter: Bab 90. Tetap hidup dalam kenanganPagi itu, langit masih kelabu. Hujan semalam meninggalkan sisa embun di jendela, dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Rumah keluarga Brisa masih sunyi, seolah masih larut dalam duka yang belum usai. Di dalam kamar, Brisa terbangun perlahan. Matanya terasa berat, seakan semua air matanya telah terkuras habis semalam. Tubuhnya terasa lemas, tetapi yang lebih menyakitkan adalah kehampaan yang masih menggantung di dadanya. Saat ia menoleh, ia melihat sosok Brian duduk di kursi dekat tempat tidurnya. Pria itu tidak tertidur, hanya bersandar dengan mata terpejam. Wajahnya tampak lelah, tetapi tetap terlihat waspada. Seolah merasakan tatapannya, Brian membuka mata. Ketika melihat Brisa sudah bangun, ia segera bangkit dari kursinya. "Kau sudah sadar?" Brisa hanya mengangguk pelan. "Kau merasa pusing?" Brian bertanya sambil memeriksa denyut nadinya. Sentuhannya lembut, penuh perhatian. "Sedikit," jawab Brisa jujur. Brian mengangguk dan meraih segelas air di meja samping. "Minuml
Last Updated: 2025-03-28
Chapter: Bab 89. Tidak perlu memikirkan hari esokBu Tara, matanya penuh kekhawatiran melihat kondisi putrinya. "Brisa, Sayang. Kita hampir sampai di rumah. Kau ingin minum sesuatu? Atau apakah ada yang bisa Ibu lakukan untukmu?" suaranya lembut, berusaha menenangkan. Brisa tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, bahkan tanpa mengangkat kepalanya dari bahu Brian. Pak Raditya yang menyetir pun sesekali melirik melalui kaca spion. "Brian, kalau kita harus ke rumah sakit, bilang saja." Brian mengusap punggung Brisa dengan lembut. "Sejauh ini dia hanya syok berat. Aku akan memeriksanya lebih lanjut begitu sampai di rumah." Bu Tara mengangguk, meski kecemasannya belum hilang. "Terima kasih, Brian." Brian hanya membalas dengan anggukan kecil. Ia tidak butuh ucapan terima kasih. Ia hanya ingin memastikan bahwa Brisa baik-baik saja. Ketika mobil akhirnya berhenti di depan rumah keluarga Brisa, semua orang masih dalam kondisi yang sama dipenuhi kesedihan, kepedihan yang mencekik, dan kehilangan yang begitu nyata. Pak Aryan turun leb
Last Updated: 2025-03-28
Chapter: Bab 88. Takut melupakanDetik berikutnya Brisa menggeliat pelan, kelopak matanya sedikit berkedut. "Brisa?" Brian segera mendekat, menatapnya penuh harap. Brisa mengerang pelan, matanya membuka sedikit. Pandangannya tampak buram, tetapi ketika ia melihat wajah Brian di depannya, air matanya langsung jatuh tanpa suara. "Sagara," suaranya lirih, hampir seperti gumaman. Brian mengepalkan rahangnya. "Brisa, dengar aku. Kau pingsan, tapi kau akan baik-baik saja. Coba tarik napas dalam." Brisa tidak menjawab, tetapi napasnya mulai tidak teratur, seakan masih berada dalam kepanikan yang mendalam. Brian segera menaruh telapak tangannya di punggung Brisa, mengusapnya perlahan. "Tenang, aku di sini! Tarik napas pelan, buang perlahan." Brisa mengikuti arahannya, meski tubuhnya masih gemetar. Napasnya mulai sedikit lebih stabil, tetapi wajahnya tetap pucat. Bu Tara langsung memeluk putrinya erat-erat, terisak dalam dekapan Brisa. "Sayang, kau membuat kami semua ketakutan." Pak Aryan juga mengusap punggung putri
Last Updated: 2025-03-28
Chapter: Bab 121. Janji di bawah cahaya bintang. TAMAT.Malam itu, suasana rumah masih dipenuhi ketegangan setelah pengakuan Sofia. Pelangi duduk di sofa dengan ekspresi kosong, sementara Akarsana mondar-mandir, pikirannya kacau."Aku masih tidak percaya " gumam Akarsana, suaranya nyaris berbisik.Sofia menunduk, matanya memerah menahan air mata. "Aku juga tidak ingin mempercayainya. Aku menyesal karena tidak melakukan sesuatu sejak dulu, jika aku berani melawan, mungkin Tante Kayla masih hidup."Pelangi menarik napas dalam-dalam. "Kebenaran akhirnya terungkap. Tapi, lalu apa? Apa kita akan membiarkan ini berlalu begitu saja?"Akarsana menatap adiknya dengan mata berkilat. "Tidak, kita tidak bisa membiarkannya. Apa pun yang terjadi, Ibu harus bertanggung jawab."Sofia menggigit bibirnya, lalu menggeleng. "Tapi Akarsana, Ibu kita... dia bahkan sudah tidak waras sekarang. Dia sudah hidup dalam ketakutan selama enam bulan terakhir. Apa yang bisa kita lakukan selain menyerahkannya pada perawatan?"Akarsana mengepalkan tangannya. Ia marah, kece
Last Updated: 2025-03-08
Chapter: Bab 120. Kepingan kenyataanRuangan itu menjadi sunyi. Hanya suara detak jam yang terdengar, seakan menegaskan bahwa ketakutan Prita masih ada, masih mengintai, dan belum benar-benar pergi.Prita masih tersungkur di lantai dengan tubuh gemetar. Air matanya mengalir deras, napasnya tersengal, sementara kedua tangannya mencengkeram kepalanya seolah berusaha menepis suara-suara yang hanya bisa ia dengar."Maafkan aku,Kayla! Maafkan aku!" gumamnya berulang kali, suaranya penuh ketakutan.Akarsana, Sofia, dan Pelangi masih berusaha menenangkannya, tetapi tiba-tiba, suara Prita berubah menjadi jeritan histeris."Aku tidak bermaksud membunuhmu!"Hening.Ketiga orang di ruangan itu membeku, tatapan mereka terpaku pada Prita yang masih terisak. Kata-kata itu menggema di kepala mereka, memenuhi ruangan dengan ketegangan yang mencekam.Akarsana menelan ludah, dadanya berdegup kencang. "Ibu,apa maksudmu?" tanyanya pelan, tetapi suaranya tegas.Prita tidak menjawab. Ia terus meracau, tubuhnya masih bergetar hebat. Seolah kat
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 119. Langkah pertama menuju kedamaianPelangi berdiri di sana, berdampingan dengan seorang pria yang Sofia kenal baik—Akarsana. Namun, perhatiannya langsung terfokus pada Pelangi. Sofia nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pelangi, yang dulu selalu tampak sederhana dan jauh dari kesan feminin, kini berubah. Gaun lembut membalut tubuhnya dengan anggun, rambut panjangnya tergerai dengan rapi, dan ada kehangatan baru dalam sorot matanya. Ia tampak begitu cantik, begitu berbeda. Namun, bukan hanya perubahan penampilan Pelangi yang mengejutkan Sofia. Tangannya yang digenggam erat oleh Akarsana seolah menegaskan sesuatu. Sofia mengangkat pandangannya, melihat ekspresi kakaknya—wajah itu, yang selama ini redup dan penuh beban, kini berseri. Akarsana terlihat seperti dirinya yang dulu, sebelum semua kekacauan terjadi. Sofia menelan ludah, masih belum bisa mencerna semuanya. "K-Kak Pelangi?" suaranya bergetar. Pelangi tersenyum lembut. "Hai, Sofia!"" Sofia mengalihkan tatapannya ke Akarsana, mencari jawaban.
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 118. Tatapan yang saling bertautDiana masih berdiri di tempatnya, dadanya naik-turun seiring napasnya yang tidak beraturan. Tatapan Damar yang begitu dalam tadi masih terbayang di benaknya, mengusik perasaannya yang bahkan belum ia sadari sepenuhnya. Ia menggeleng pelan, mencoba mengabaikan semuanya, lalu menghembuskan napas panjang. Saat itu juga, suara musik dan tawa dari para tamu pesta kembali menyadarkannya akan kenyataan. Malam ini adalah malam pertunangan Pelangi dan Akarsana. Diana melangkah masuk ke dalam ruangan, tepat saat Ardiyanto menaiki podium kecil di tengah aula, mengambil mikrofon dan mengetuknya pelan. Semua tamu segera menghentikan obrolan mereka dan mengalihkan perhatian ke pria tua itu. "Ladies and gentlemen," Ardiyanto memulai dengan suara penuh wibawa. "Terima kasih telah menghadiri acara malam ini. Malam ini adalah malam yang istimewa bagi keluarga kami, karena cucu saya, Pelangi, akan bertunangan dengan pria yang telah mendapatkan hatinya kembali, Akarsana." Tepuk tangan menggema di
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 117. Kebimbangan di hati DianaPelangi mencoba kembali menenangkan pikirannya setelah pertemuannya dengan Akarsana. Hatinya masih berdebar tidak menentu, tapi kali ini bukan karena keraguan, melainkan karena keputusan besar yang sudah ia buat.Suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat, disusul suara yang penuh amarah."Pelangi!" suara Diana menggema di ruangan, membuat Pelangi dan Ardiyanto menoleh.Diana berdiri di ambang pintu dengan ekspresi penuh kemarahan dan di belakangnya, Danurdara—ayahnya—menyusul dengan tatapan yang lebih tenang tapi tak kalah tegas."Kau serius, Pelangi?!" Diana mendekat dengan cepat. "Kau lebih memilih pria yang sudah menghancurkanmu, yang sudah membuatmu menangis selama ini, daripada Damar yang jelas-jelas pria baik?"Pelangi menghela napas. Ia sudah menduga ini akan terjadi."Diana, dengarkan aku—""Tidak!" Diana memotong dengan suara penuh emosi. "Aku tidak bisa diam saja melihatmu kembali ke dalam lingkaran yang sama! Apa kau tidak takut akan terluka lagi? Apa kau tidak ingat bagaima
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 116. Hati yang terikat"Kalian berdua," suara Damar terdengar datar, tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Pelangi merasa bersalah. Akarsana tidak mundur. Ia justru menatap Damar dengan pandangan penuh keyakinan. "Aku tidak akan menyerah," kata Akarsana tegas. "Aku mencintai Pelangi, dan aku yakin dia masih mencintaiku." Pelangi mengerjapkan mata, dadanya berdebar kencang. Damar menatap Pelangi. "Apa yang dikatakannya benar?" Pelangi tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pelangi menatapnya, perasaan bersalah semakin menyesakkan dadanya. "Damar, aku...." Damar mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Pelangi. "Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin kau jujur pada dirimu sendiri." Pelangi menatap Damar dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu, pria ini benar-benar baik. Damar tersenyum lembut. "Jangan memaksakan diri, Pelangi. Aku ingin kau bahagia, dengan atau tanpa aku." Pelangi terisak pelan. Damar menghela napas panjang lalu menatap Akarsana. "Aku harap kau tidak
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 26. Keteganan di liftHenry menghela napas dalam, berusaha meredam emosi yang berkecamuk di dadanya. Begitu pintu lift terbuka di lantai tempat kantor Aurora berada, wanita itu segera melangkah keluar tanpa memberi Henry kesempatan untuk berbicara lebih jauh. Henry mengikutinya, langkahnya cepat menyusul Aurora yang sudah hampir mencapai ruangannya. "Aurora, kita perlu bicara," suara Henry terdengar lebih lembut, tetapi tetap penuh ketegasan. Aurora berhenti di depan pintu kantornya, tangannya menggenggam kenop pintu sejenak sebelum berbalik menghadap Henry. Tatapannya tajam dan penuh keteguhan. "Henry, aku lelah. Aku tidak ingin bertengkar denganmu saat ini." Henry mengusap wajahnya frustasi. "Aku tidak ingin bertengkar, Aurora. Aku hanya ingin kau mengerti. Aku tidak bisa diam saja melihatmu bersama pria lain tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku—" "Kau apa, Henry? Cemburu?" potong Aurora cepat. "Kau tidak punya hak untuk bersikap seperti ini padaku. Kita sudah bukan siapa-siapa lagi." Wajah H
Last Updated: 2025-04-03
Chapter: Bab 25. Bayang-bayang cemburuAurora menutup matanya sejenak, berusaha menenangkan hatinya yang kacau. Sejak pertemuannya dengan ibunya tadi sore, pikirannya dipenuhi dengan kata-kata Rosamaria dan bayangan Henry yang terus menghantuinya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, jari-jarinya gemetar saat hendak menghubungi Henry. Namun, sebelum sempat menekan tombol panggilan, ponselnya bergetar."Andrew Smith?" gumamnya saat melihat nama yang tertera di layar.Dengan sedikit ragu, ia menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. "Halo?""Aurora, aku harap tidak mengganggumu." Suara Andrew terdengar ramah seperti biasa."Tidak, ada apa, Andrew?""Aku ingin bertemu denganmu untuk membahas beberapa dokumen penting terkait keluargamu. Bisa kita bertemu di restoran Saville malam ini?" tanyanya sopan.Aurora mengerutkan kening. "Dokumen penting? Terkait apa?""Lebih baik kita bahas secara langsung. Aku janji ini tidak akan memakan banyak waktumu."Aurora berpikir sejenak. Ia memang mempercayai Andrew
Last Updated: 2025-03-30
Chapter: Bab 24. Terkadang, cinta saja memang tidak cukup.
Aurora menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya. Hatinya terasa sesak. Ia tahu ibunya hanya ingin melindunginya, tetapi mendengar permintaan itu dari mulut Rosamaria seperti pisau yang menusuk tepat ke jantungnya.“Ibu pikir aku akan lebih bahagia tanpa Henry?” suaranya bergetar, hampir berbisik.Rosamaria menatapnya dengan sorot mata penuh kasih, tapi juga ada ketegasan di sana. “Kadang, kebahagiaan bukan hanya tentang siapa yang kita cintai, tapi juga siapa yang membuat kita lebih baik.”Aurora terdiam. Kata-kata ibunya menggema dalam benaknya. Ia mengangkat wajah, matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke mata Rosamaria. “Ibu, apakah ini karena seseorang menyuruhmu mengatakan ini?”Rosamaria terkejut. Sekilas, matanya berkedip panik, tapi ia segera menyembunyikannya.“Aurora.”Aurora menggeleng, suaranya lebih kuat sekarang. “Ibu tidak akan tiba-tiba mengatakan ini kalau tidak ada sesuatu di baliknya.”Rosamaria terdiam. Ia ingin menyangkal, tetapi tatapan tajam putr
Last Updated: 2025-03-27
Chapter: Bab 23. Cinta yang tidak akan membawa kebahagiaanArcher hanya mengaduk sup misonya dengan sumpit, lalu berkata dengan nada datar, "Yang perlu kau tahu adalah aku tidak ingin kau bersamanya dan aku memperingatkanmu untuk menjauhinya." Henry mendecakkan lidah. "Dulu aku sudah menuruti kemauanmu, tapi tidak lagi. Aku tidak akan membiarkanmu mengatur hidupku lagi." Mata Archer menyipit. "Jangan terlalu percaya diri, Henry. Aku tidak akan tinggal diam." Mereka saling menatap dengan ketegangan yang hampir bisa dirasakan di udara. Kemudian, Archer menenangkan dirinya dan meletakkan sumpitnya. "Sebenarnya, aku memanggilmu ke sini untuk hal lain." Henry mengerutkan kening. "Aku sudah mengatur perjodohan untukmu." Dada Henry terasa seperti ditinju. "Apa?" "Dia putri dari rekan bisnisku. Wanita yang berkelas dan berasal dari keluarga terpandang." Henry terkekeh sinis. "Aku tidak tertarik." "Henry, ini bukan permintaan." Henry menyilangkan tangan di dada. "Aku tidak peduli. Aku tidak akan menikahi seseorang hanya karena kau mengingink
Last Updated: 2025-03-26
Chapter: Bab 22. Archer WilmingtonHenry duduk di belakang meja kerjanya begitu tiba di ruangannya. Secangkir kopi panas sudah tersedia di meja kerjanya. Ia menyesap kopinya perlahan, membiarkan pahitnya menyatu dengan pikirannya yang juga terasa getir. Perbincangannya dengan Aurora tadi terus terngiang di kepalanya, terutama bagaimana wanita itu menghindari tatapannya dan menarik tangannya dengan gemetar.Henry menyandarkan tubuhnya ke kursi, senyum kecil terulas di wajahnya. Ponselnya bergetar di meja. Henry menoleh dan melihat nama yang terpampang di layar. Archer.Seketika ekspresinya berubah. Senyumnya sirna, tergantikan oleh tatapan dingin dan rahang yang mengeras. Henry tidak langsung mengangkatnya. Ia menatap layar itu beberapa saat, mempertimbangkan apakah ia harus mengabaikan panggilan tersebut. Namun, ia tahu ayahnya bukan tipe yang menyerah begitu saja.Dengan napas berat, ia akhirnya mengangkatnya. "Ada apa?"Suara berat di seberang terdengar formal, seperti biasa. "Temui aku di Izakaya Hana pukul delapan
Last Updated: 2025-03-26
Chapter: Bab 21. Bukan untuk bernostalgiaHenry menyandarkan tubuhnya, matanya tak lepas dari Aurora yang masih menatap meja dengan ekspresi rumit. Ia tersenyum kecil. "Kau sengaja membawa aku ke sini?" tanya Aurora akhirnya, menyilangkan tangan di dada, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Henry mengangkat alis. "Kenapa? Terlalu banyak kenangan?" Aurora mendengus pelan. Ia mengambil menu dan berpura-pura fokus memilih makanan, padahal pikirannya kacau. Sementara itu, Henry justru tak menyentuh menu sama sekali. Ia hanya menatap Aurora, seolah-olah sedang menghafal setiap detail wajahnya. "Kau tampak cantik hari ini." Aurora menghela napas, meletakkan menu dengan sedikit keras. "Henry, kita di sini untuk makan siang, bukan untuk bernostalgia." Henry tersenyum, menikmati reaksi Aurora yang berusaha keras menjaga batas. "Baiklah, kalau begitu aku akan langsung ke intinya." Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, mendekat ke meja, tatapannya lebih serius. "Aku ingin kita bicara soal kita lagi." Aurora menegang. Ia me
Last Updated: 2025-03-25