*****
"Sial! Brengsek kau Beau!" Umpat Liam. Aya menceritakan hasil pertemuan mereka pada Liam, tapi sedikit berbohong di bagian akhir. Pertemuan itu sebenarnya masih menggantung karena Beau tidak pernah kembali. Hanya sebuah telpon yang diterima Jack Carlton dari Beau, dengan sebuah pesan bahwa Beau membutuhkan waktu untuk berpikir. Aya merubah alur dengan menambahkan beberapa drama untuk memancing kemarahan Liam. Ia tahu pria itu tergila-gila padanya, jadi seperti yang adiknya sarankan, ia harus mulai memanfaatkan benefit ini. "Pinalti yang kuajukan cukup tinggi Liam, kau tak perlu khawatir! Ia akan berpikir ulang untuk meniduriku lagi!" Sandiwara Aya. Ia sudah muak menjadi protagonis yang selalu dimanfaatkan, sudah saatnya Aya bangkit dan mengambil peran lain. "Bagaimana dengan kau sendiri?" Tanya Liam. Ia meraih tengkuk Aya dan menciumnya mesra. "Kau membuatku gila, Aya!" Mereka sedang berada di tempat kencan favorit mereka. Padang kosong di belakang taman Green Mansion. Menggelar tikar di bawah satu-satunya pohon yang tertanam sambil menikmati afternoon tea dan semilir angin sore di penghujung musim. "Itu pertanyaan yang lucu. Kau tahu pasti berapa usiaku di saat aku melepas keperawananku. Tiga tahun tidak berarti apapun bagiku!" Aya mengecup hidung Liam lalu menyatukan kembali bibir mereka. Ia mengecap bibir bawah Liam sensual, menyatukan lidah mereka dalam tarian erotis di dalam sana. Napas keduanya mulai memberat seiring intensnya pagutan bibir. Jemari lentik Aya perlahan menelusuri paha Liam hingga tiba di pangkal paha, kemudian berputar-putar lembut di satu tempat. Tindakan seduktif Aya membuat Liam menggeram, pria itu pun melepaskan ciuman mereka, tapi masih membiarkan jemari Aya bermain. "Bukan itu, sayang," ucapnya kepayahan. Aya mengernyit sesaat sebelum ia memahami kemungkinan maksud dari Liam. "Jangan khawatir, kau adalah pria bebas. Selama kau belum menyandang status sebagai suamiku, kau boleh meniduri wanita lain." Jarang ada pria yang mampu menahan hasratnya dalam waktu yang lama. Memikirkan kemungkinan itu, Aya tertunduk lesu. Elusan jemari tangan pun terhenti, ia gusar memikirkan kemungkinan Liam akan meniduri wanita lain selama masa kontrak nikah keduanya dengan Beau. Aneh! Dulu, itu tidak pernah ia permasalahkan. Liam menangkap raut kecewa ketika Aya mengutarakan spekulasi ngawurnya. Ia tersenyum senang. Sepertinya, usahanya selama ini mulai membuahkan hasil. Strategi yang ia terapkan untuk menggaet hati Aya mengalami progress yang memuaskan. "Bukan begitu sayang. Kau tahu aku sangat mencintaimu. Hati dan tubuh ini hanya akan bereaksi terhadapmu. Aku hanya khawatir dengan hatiku jika mendengar kabar kalian kembali seranjang berdua." Liam melihat senyum merona itu. Aya menunduk, memainkan jemarinya yang lain pada kancing kemeja milik Liam. Ia persis seperti remaja puber yang sedang kasmaran. Ini membuat rasa di hati Liam membuncah senang, mengingat tindakan menggemaskan Aya tertuju untuknya "Kau serius dengan perkataanmu?" Cicit Aya malu-malu. Akhirnya! Bel kemenangan berada di ujung telinga, siap untuk berdering. Liam hanya perlu memastikan sebelum mengklaim kepemilikian akan diri Aya. "Kau perlu sebuah bukti? Bergeraklah ke tengah!" Aya berkedip, wajahnya memerah sempurna. Ia paham apa yang Liam maksud. Pria itu menatapnya penuh gairah bercampur puja. Pandangan yang tidak pernah ia dapatkan dari Beau Prince. Aya adalah saksi bagaimana Liam berjuang tak kenal menyerah demi mendapatkan perhatiannya. Diam dan menurut meski ia hanya memanfaatkan keberadaannya. Sekarang, ia menyadari betapa indah mutiara hijau milik Liam, menyala bagaikan bara yang membakar tubuh Aya. Pelan, jemari tangan Aya kembali bergerak ke bagian tengah dan berhenti di situ. Aya mendesah, darahnya berdesir hebat. Ia pun menyatukan kening mereka, "Rasakan, sayang!" Perintah lembut Liam sembari menekan telapak Aya di permukaan celananya. Aya terpejam, membasahi bibir ketika tangkupan tangannya terasa penuh. "Sepertinya, aku harus mengundangmu ke ranjang, Mr. Henderson!" Dan bel kemenangan pun mengalun nyaring di telinga Liam. ***** Sudah berapa hari Beau menginap di apartemen Daphne? Seminggu? Sepuluh hari? Ia tidak perduli! Ia butuh banyak waktu untuk berpikir dan berembug dengan pasangan Star perihal perpanjangan kontrak nikah. Beau sengaja tidak pulang ke Green Mansion sejak pertemuan mereka Senin lalu. Ah, sudah delapan hari berarti Beau tidak pulang, karena ini hari Selasa. Ia sengaja menghindar dari Aya. Beau mulai merasakan kegundahan bercampur kecemburuan menghantui pikirannya. Benaknya kini bukan lagi penuh oleh berbagai rencana menaklukan kembali Daphne, melainkan jeritan kenikmatan Aya pada dua babak panas mereka. Sebenarnya, sebelum Aya menemuinya Senin lalu, Beau sudah mempunyai pemikiran untuk mengajukan perpanjangan kontrak nikah. Ia akan berdalih, ini semua demi impian Aya, Aya pasti masih membutuhkan nama belakangnya. Tapi sejatinya, ia menginginkan kembali mereka mereguk candu gairah di atas peraduan panas. Tubuh Beau begitu merindukan tubuh Aya untuk menyatu bersama. Sayang, ia kecolongan. Aya bersama tim telah mendahului idenya dan Beau yakin itu semua atas bujukan Liam. Si Henderson brengsek itu! Semua aturan yang Aya dan timnya terapkan sangat merugikan dirinya. Demi Tuhan! Dia harus membayar satu malam dengan bagian saham yang tidak sedikit. Padahal, dari perjanjian empat tahun kontrak, Beau sudah membayar Aya dengan 5% saham yang ia miliki. Beau adalah pemegang 50% saham PrincePages diikuti Henry dan Allyson Star 15%, Aya, Liam Henderson dan Elizabeth Rodney masing-masing memegang 5%, sisanya dipegang para investor. Bukankah ini taktik licik mereka? Beau yakin Liam akan dengan sukarela memberikan 5% bagiannya. Para investor yang cenderung berpihak pada Aya, mungkin bisa dinego. Tinggal Wiwid, orang yang mungkin bisa menangani kebekuan hati Elizabeth Rodney. Beau tahu mereka mempunyai kisah masa lalu, jadi jika Wiwid bisa menggunakan kharismanya, itu akan terasa lebih mudah. "Apa kau berniat menggantikan kepemimpinanku, Beast?" Beau mengerti pengalaman pahit masa lalulah yang mendidik Aya menjadi seorang yang ambisius. Tapi, bukankah itu berarti dia menjual tubuh demi uang seperti para wanita murahan di luar sana? Beau itu suaminya di atas kertas, walaupun status mereka adalah kontrak, jadi dia berhak atas tubuhnya tanpa harus melibatkan saham sialan. "Ckck," Beau berdecak, mengingat dialah yang menerapkan pinalti jika ada yang melanggar batas ranjang. Right! Aya hanya mengamati dan mengikuti apa yang Beau pernah lakukan padanya. Dia seorang penduplikat otak bejat Beau. Segala siteru yang berkecamuk yang mengiringinya saat mobilnya memasuki area parkir Mansion mendadak senyap ketika Beau menangkap sebuah mobil yang seharusnya tidak berada di parkir Mansion sepagi ini. Beau memarkirkan mobilnya tepat di sebelah Roll Royce silver. Matanya awas meneliti, sekeluarnya dari mobil. Benar! Itu milik Liam Henderson! "Brengsek! Apa yang dilakukannya di sini sepagi ini?" Liam memang sering bertandang ke Green Mansion pada hari-hari kerja untuk menghindari paparazzi -walaupun ia pemegang kuasa para wartawan gila itu- namun kedatangannya kemari selalu pada jam sebelas naik. Dan ini jam tujuh pagi! Beau bertanya pada salah satu security yang menghampirinya. "Good morning, Mr. Prince." "Morning! Mr. Henderson di sini?" "Iya, dari kemaren sore, Sir." ********** Audrey melangkah sedikit lebih cepat, mengabaikan panggilan dari dua pelayan mansion yang sedari tadi merecokinya tentang kemungkinan hubungan affair antara Nyonya mereka dengan pewaris tunggal keluarga Henderson. Liam Henderson memang sering bertandang ke mansion ini, tapi tidak pernah sekalipun menginap, hingga hari ini. Langkah Audrey kian mantap berbelok ke area dapur. Ia harus bergegas, Nyonya majikan beserta tamunya telah menunggu mereka. Pertama kali yang menyambut kedatangan Audrey adalah aroma rempah menyengat. Lalu diikuti oleh visual dua koki dan beberapa pelayan dapur yang berkecimpung dengan tugas pagi mereka. Sarapan pagi sedang berlangsung di meja makan, tapi dua koki khusus ini masih disibukan oleh pesanan sang Nyonya Majikan. Ia dan sang tamu memilih menyantap sarapan pagi di kamar. Namanya Chef Lusi, spesialisasi camilan tradisional Indonesia, sedangkan Chef Thomas bertugas menangani main course. Mereka dibantu oleh dua asisten mereka. Setahun belakangan,
Para koki dan asisten serempak berhenti ketika Beau Prince memasuki ruangan. Mereka membungkuk hormat sebelum kembali bekerja atas seijin sang tamu. Seorang kepala koki menghampiri, menanyakan ada gerangan apa ipar dari sang pemilik restoran bertandang ke area dapur. "Mr. Prince, ada yang bisa saya bantu?" "Dimana atasanmu? Aku ke ruangannya dia tidak ada di sana. Salah satu pelayan bilang, dia membantu di sini." Pandangan Beau mengedar ke seluruh ruangan dapur, mencari satu sosok yang menjadi alasan dia kemari. Ia tersenyum ketika mencium bau harum khas bumbu Asia yang merasuk hidung. Aroma tersebut mengirim sinyal ke otak yang kemudian diteruskan menjadi reaksi bunyi kruk dari dalam perut. Beau tersenyum kaku, "Kurasa masakan kalian membuat perutku lapar, kau punya rekomendasi untuk makan siang?" "Bagaimana dengan gado-gado dan es kuwut, Mr. Prince? Kami juga mempunyai ikan bakar dengan aneka sambal, atau mungkin anda ingin mencoba rujak serut?" Tawar kepala koki. "Sepert
*****"Damn!" Wiwid mengumpat. Kepalanya bersandar pada kursi, mendongak ke atas dengan mata terpejam. Dadanya bergemuruh dengan gerakan naik-turun teratur. Kancing seragam kokinya terlepas semua, menampilkan pahatan tubuh atasnya yang menggoda, hasil dari rutinitas push up dan sit up 50 kali setiap pagi."Nis!" Geram Wiwid. Kedua tangannya meremas rambut Rengganis, menekan kepalanya lebih dalam. Seluruh tubuhnya mengejang, ia seolah dihantam gelombang luar biasa yang dahsyat.Beberapa saat kemudian Wiwid tersenyum lega, mencoba mengatur napasnya yang terengah. "Baby, sotomu akan dingin, sudah cukup!" Perintahnya lembut.Wiwid melirik ke bawah, Rengganis masih saja mempermainkan miliknya. Ia membelai rambut wanita itu lalu menjauhkan kepalanya, "Bersihkan mulutmu, sayang! Aku akan memanasi kuahnya."Rengganis meraih tisu dari atas meja, menyeka mulutnya. Ia bangkit setelah membantu memasangkan kembali celana Wiwid. Sedikit mengerling nakal sebelum mengecup singkat bibir Wiwid, "Rasany
***** Beau memang tidak pernah sepaham dengan adik iparnya, mereka jarang bertemu. Kalaupun ada kesempatan untuk bertemu, mereka selalu menghindar satu sama lain. Pria dengan kulit tan dan badan tinggi proporsional -yang membuat Beau iri- itu sejak pertama bertemu langsung blak-blakan mengaku kalau ia mempunyai firasat buruk terhadapnya. Puncaknya ketika Beau mengajukan kontrak nikah pada Aya dengan segala aturan yang cenderung merugikan. Pertalian ipar diantara mereka tidak pernah tersambung, kecuali sebatas formalitas. Wiwid cenderung menghabiskan waktunya di apartemen, restoran atau galeri lukis ketimbang pulang ke mansion. Padahal Rengganis, sang istri tinggal bersama mereka di mansion. Ia hanya mengunjungi sang istri di week days, itupun jikalau pasangan tersebut tidak merencanakan kencan diluar. Rengganis memaklumi. Ia tidak pernah memaksa Wiwid -perempuan itu terlalu mencintainya, sehingga apapun keinginan sang suami selalu dituruti- pun ia tidak bisa meninggalkan Aya di mansi
***** "Biar kuperjelas, ipar! Jadi kau melakukan poligami?" Tanya Beau dengan nada meremehkan. "Apa itu sebuah dosa? Bagaimana kalian bisa melegalkan perselingkuhan dan perzinaan tapi mencibir mereka yang melakukan poligami? Elizabeth memberiku ijin dan aku bisa mengatur waktuku untuk mereka berdua!" Pernyataan Wiwid membuat Beau bungkam. Ia benar-benar tersindir. Meskipun status Beau dengan Aya adalah kontrak nikah, Aya tetaplah berhak menyandang status sebagai istri sah dan Daphne hanyalah selingkuhan. Beau merasa kagum dengan komitmen Wiwid terhadap wanita. Cara memperlakukan mereka begitu gentle. Banyak yang tertolak tapi tidak patah hati, bagaimana bisa? Mungkin karena kesempurnaan fisik dan karakter. Pria itu hanya perlu berjalan, tanpa melakukan apapun maka kaum hawa akan diam terpaku oleh jerat pesonanya. Beau rasa, jika Wiwid menginginkan lebih dari dua, ia akan dengan mudah mendapatkannya. "Bagaimana dengan Ninis?" "Aku berencana memberitahunya, hanya menunggu waktu
***** Widyanto Semito, adik dari AyaBeast Prince adalah seorang pelukis, koki otodidak dan pemilik restoran hanya dalam kurun waktu lima tahun. Itu merupakan keajaiban mengingat bagaimana terakhir kalinya ia marah saat sang kakak meminjam satu juta pada kakak ipar mereka untuk pembayaran sewa warung. Tuhan membalikan roda kehidupan mereka hanya dalam waktu singkat. Mereka yang semula di jeruji roda kehidupan tingkat bawah, sekarang dilimpahi kenikmatan tak bertepi. Harta, pengaruh dan popularitas. Kisah Wiwid sama rumitnya dengan kisah Aya, baik kisah cinta segitiga maupun perjuangan mereka dalam menggapai cita-cita. Semua ini berawal di lima tahun silam, ketika Rengganis dengan membawa serta Beau, Henry dan Allyson datang bertandang ke kota Semarang. Mereka menawarkan sebuah kesempatan untuk Aya. Sebuah tawaran kontrak untuk dua bukunya -yang tertolak oleh platform online. Ia menyetujuinya meskipun mengetahui jika perusahaan penerbitan yang mengontraknya sedang berada di ujung tan
*****Ingatkan Aya berapa usianya tahun ini dan sudah berapa puluh tahun ia hanya bisa mengkhayalkan hal ini dalam fantasi liarnya saja. Kalaupun terpaksa, ia hanya mampu menyalurkannya ke dalam novel fiksi. Tapi sekarang, kurang dari dua bulan, sudah ada dua pria yang menggauli tubuhnya. Suami kontraknya dan sang kekasih simpanan."Liam," desahnya kepayahan. Ia memalingkan wajah ke samping kiri, memandang cermin besar di sudut ruangan yang memantulkan gambaran persetubuhan mereka. Ia merasa sedang berperan di satu adegan berating dewasa sebagai pemeran utama wanita.Kedua tangan Aya mencengkeram lengan Liam, tubuhnya terhentak teratur oleh gerakan tubuh Liam di atas. Bibirnya tak berhenti mendesah. Ia terpejam merasakan nikmat luar biasa yang Liam berikan. Tapi, memori panas lain perlahan muncul dan memenuhi benak Aya. Sebuah pergumulan panasnya yang lain bersama Beau Prince."Beast!"Suara rendah itu menggema di telinga Aya, membisikan kata-kata kotor yang membuat sekujur tubuh Aya
***** Ketika mobil yang ia tumpangi memasuki area parkir Mansion, Aya dapat melihat dari jok belakang, Beau duduk bersedekap di atas kursi -yang terlihat seperti kursi taman- yang ia letakan tepat di jalur masuk. Sepertinya ia berniat menghalangi laju mobil yang akan memasuki area parkir. Pandangan pria itu syarat akan amarah. "Nyonya?" Sang sopir menoleh ke arah Aya seakan meminta bantuan. "Aku akan keluar." Si sopir mengangguk, ia menghentikan laju mobil dan mengamati Nyonya majikannya turun lalu menghampiri Sang Tuan majikan. Terlihat Beau berdiri ketika Aya berjalan ke arahnya. Beau segera menyingkirkan kursi dan memberi isyarat kepada sang sopir untuk melanjutkan laju mobil. Mobil itu melaju lurus ke arah parkir bagian belakang. "Apa yang kau lakukan, Beau? Kau..." Belum sempat pertanyaan Aya terselesaikan, Beau menarik lengan dan memeluk pinggangnya. Serangan itu pun terjadi. Beau Prince menciumnya. Awalnya Aya kaget, namun lambat laun, ciuman penuh tuntutan itu membu
Tepat tengah hari Audrey sudah menyelesaikan pekerjaannya. Titelnya sebagai pelayan pribadi sang Nyonya majikan mewajibkannya untuk hanya menangani area kamar pribadi sang Nyonya. Aya tidak mengijinkan pelayan lain, sekalipun sang kepala pelayan memasuki kamar pribadinya. Hanya tiga orang yang sudah adiknya pilihkan, yaitu Audrey, Soraya dan Logan; sang pengawal yang terkadang merangkap menjadi sopir.Ini menjadi benefit tersendiri bagi Audrey yang merupakan penggemar fanatik dari BeastStories. Sejak saudara ipar perempuannya memberikan Lost in Love; North Mansion sebagai hadiah ulang tahun, Audrey memburu novel lain karya BeastStories yang terbit setelahnya. Peluang terbesarnya muncul ketika salah satu temannya yang bekerja di kediaman Prince mengatakan jika Green Mansion, khususnya Widyanto Semito mencari wanita muda untuk dijadikan pelayan pribadi dari AyaBeast Prince. Ia mempunyai kesan yang baik di mata Wiwid, pun temannya itu -yang merupakan orang kepercayaan keluarga Prince- me
"Bukankah sudah kuberitahu mengenai dirinya?"Aya dan Liam bersitatap, mereka seolah mengirimkan sinyal luka satu sama lain. "Tapi, kau bilang kau tidak lagi mencintainya! Lantas kenapa nama itu tersebut?""Aku sudah melupakannya, tapi kau memaksaku untuk mengingatnya!"Kedua mata Aya terbelalak ketika mendapati Liam berkaca-kaca, airmata sudah menggenangi kedua mutiara hijau tersebut. Selama Aya mengenal Liam, tidak pernah sekalipun Aya memergoki Liam menangis."Aku mencintaimu Aya, tapi kau masih saja memberikan tubuhmu padanya," dan airmata itu pun lolos."Itu hanya sebuah sandiwara," lirih, bahkan nyaris tak terdengar. Sorot luka yang Liam sajikan di hadapannya bagaikan sebuah vonis, bahwa Ayalah sang villain dalam cerita ini."Aku tidak buta, Aya! Kau terlalu menikmati setiap gerakan yang ia ciptakan untuk tubuhmu dan itu terlalu mustahil untuk disebut sebagai sebuah sandiwara!" Liam menghembuskan napas, suaranya terdengar bergetar di ujung kalimat. Tangannya terangkat mengelus p
"Liam! Aku bilang lepaskan Elizabeth!" Liam menggeram bak seekor serigala yang mencengkeram mangsanya di tangan, tapi ia terpaksa melepaskan karena sebuah hirarki kepemimpinan. Dengan memalingkan wajah -berusaha menyelamatkan gengsinya- Liam mendorong kepala Elizabeth secara kasar. Beruntung tangan kiri Elizabeth berpegang erat pada sandaran belakang sofa sehingga ia bisa mencegah laju kepalanya yang akan membentur pegangan sofa. Seringai memuakan dari bibir Elizabeth -yang masih setia mengejek Liam- tertangkap oleh ekor mata Liam. "Jangan lagi kau ikut campur Rodney! Aku tahu rahasiamu!" Wanita berambut pirang itu tertawa keras, "Sungguh? Kenapa tak kau beberkan dari dulu?" Ia berdiri lalu berjalan perlahan menghampiri Liam yang berdiri membelakanginya. "Kau berhutang nyawa padaku! Jauhi Aya!" Sret! Baik Liam maupun George terkejut, sebilah pisau perak kecil yang biasanya digunakan untuk mengupas kulit buah mengalung di leher Liam. Ujungnya yang runcing seolah memamerkan ketajama
Aya tak hentinya memandang takjub Elizabeth Rodney. Mutiara hijau terpancar cantik, menatap fokus ke depan. Rambut pirang yang berkilau bak keemasan karena sinar terik mentari yang tertembus melalui kaca mobil. Rona merah terbubuh di kedua pipi putihnya dan bibir sesegar buah plum terpoles lipstick tipis. Apabila ia berdiri, pahatan lekuk tubuhnya akan terasa memabukan bagi netra kaum Adam. Sungguh kesempurnaan fisik yang mengagumkan! Belum lagi aura yang begitu kuat mendominasi, anggun dan tangguh dalam sekali tempo. Ditambah kekuasaan tergenggam erat di tangan. Benar-benar jelmaan karakter utama wanita dari novel."Sekarang, aku paham kenapa adikku begitu mencintaimu, Liz." Aya menggeleng. "Sebulan mengenalmu dan langsung menikahimu, kurasa pengaruhmu terhadap adikku begitu dahsyat."Elizabeth terkekeh, kilau hijaunya berkilat jenaka. Ia menoleh sebentar ke arah Aya yang duduk di sampingnya sebelum kembali fokus ke depan. Mereka sedang berada dalam perjalanan menuju Mansion Henderso
"Raya itu siapa?"Katakanlah Liam itu manipulatif, itu memang benar. George Henderson sangat mengenal sosok putra kandungnya sendiri, pria itu pandai memanipulasi keadaan dan perasaan seseorang. Tapi, panggilan yang lolos dari bibir Liam murni karena kelepasan. Liam sempat terdiam beberapa saat sebelum ia kepikiran untuk memanfaatkan perasaan bersalah Aya."Setidaknya aku hanya menyebut nama random lain, bukan mengijinkan wanita lain naik ke ranjang!"Dingin dan datar. Ia mempergunakan ekspresi ini untuk mengelabui Aya. Kemudian, dengan cepat Liam beranjak dari atas tubuh Aya dan melenggang ke kamar mandi. Benar-benar akting yang sempurna!Aya terkejut. Ia tahu sarkasme itu tertuju untuk dirinya. Ini memang salahnya. Aya sudah berjanji memberi Liam kesempatan. Ia akan belajar mencintai Liam dan membuang perasaannya terhadap Beau. Ia berjanji untuk tidak lagi mengijinkan Beau membawanya ke atas ranjang. Tapi, apa daya pesona sang suami kontrak masih menjeratnya. Aya telah melanggar jan
Liam membelai punggung telanjang yang tertelungkup itu. Ia menindih tubuh bagian bawah sang kekasih dengan menggerakkan pinggulnya dalam tempo sedang. Si wanita menoleh, kedua alisnya menyatu menyiratkan ketidak puasan."Kau bergerak seperti pria tua, Li! Apa perlu aku lagi yang mengambil kendali?"Sial! Liam bermaksud untuk menahan permainan lebih lama, tapi kekasihnya itu merupakan seorang penuntut. Keliarannya di atas ranjang sering membuat Liam kepayahan, walaupun ia selalu ketagihan."Baiklah, jika itu maumu, Sayang!" Liam menghentikan belaiannya, kedua tangannya bergeser ke samping kedua sisi bahu sang kekasih, menumpukan kepalannya di atas ranjang. Tanpa aba-aba, Liam mulai menghentak keras hingga membuat wanita berkulit eksotis di bawahnya meracaukan kenikmatan."Oh! Ini yang kumaksud!"Kata Ah yang terlontar secara konsisten membuat kewarasan Liam tergerus, memacu dirinya untuk mempercepat laju. Apalagi saat sang kekasih memakukan pandangannya pada satu benda bulat dengan tit
Daniyah tertidur diiringi storytelling dadakan dari Aya mengenai si kucing Oren -setelah ia lelah menangis. Aya menceritakan kisah tragedi, alih-alih kisah bahagia sehingga membuat dirinya diomeli oleh sang adik."Biarkan dia mengenal pahitnya dunia sejak dini!""Mbak, dia belum genap empat tahun, di usia segitu apapun yang kau ajarkan pasti akan membekas. Dan aku tidak mau putriku mempunyai trauma buruk.""Oh, astaga! Kau terlalu membesarkan masalah kecil ini. Ini sebagai pembelajaran agar Dani belajar merawat Rara dengan baik.""Tapi, bisakan diakhiri dengan happy ending?""Keracunan bagi kucing adalah hal mematikan. Itu berlangsung sangat cepat, tidak lebih dari seperempat hari. Bahkan di beberapa kasus, kucing bisa mati dalam hitungan 2 jam jika racun tertelan dalam jumlah banyak. Kau ingin menyodorkan harapan palsu pada putrimu?""Aish! Kau sungguh menyebalkan!"Oren Little pernah menjadi milik Aya dan Wiwid, kisah sedih yang membekas karena kehilangan si pandai nan cerewet. Kuci
Aya mengamati bagaimana adiknya membujuk Elizabeth untuk makan, gesture yang ia tunjukan mengatakan betapa besar rasa cintanya pada wanita cantik itu. Aya juga membacanya dari perlakuan Wiwid terhadap Rengganis. Jadi, ia menarik kesimpulan jika sang adik sama-sama mencintai kedua istrinya."Aku tak menyangka kau mengikuti Sunnah Rasul," desah Aya. Airmatanya menetes, ia seolah ditampar oleh kenyataan akan perbuatan zina yang ia jalani.Cinta ternyata mempunyai dua sisi koin. Dalam gelap, ia merupakan iblis terkejam yang mampu menjerumuskan manusia pada lembah dosa. Dalam terang, apabila mampu mempergunakan cahayanya untuk menyusuri jalan kebaikan, cinta sanggup menyelamatkanmu. Pernikahannya dengan Beau Prince adalah pernikahan beda agama, Aya tidak terlalu mempermasalahkannya karena itu merupakan nikah kontrak dengan syarat ketat. Terbatas oleh waktu dan dilarang melibatkan hubungan ranjang. Setidaknya, dua poin utama itulah yang tercantum dalam perjanjian kontrak di awal, sebelum ke
Jemari mungilnya bergerak lincah di atas kertas berukuran 148 × 210 mm, selembar kertas tebal A5 yang separuhnya telah terisi. Mulutnya bersenandung nada-nada tak beraturan, kepalanya manggut-manggut seolah menikmati nada sumbang gumamannya sendiri. Akan tetapi kedua hazelnya awas mengamati gerak jari telunjuk dan jempol yang menjepit sebuah crayon kuning, menggerakkannya untuk membentuk garis melingkar sebelum mewarnainya penuh."Wah, bagus sekali Dani!" Gadis mungil itu menoleh, senyumnya terkembang karena sebuah pujian. Siapa sih yang tidak senang dipuji?"Persis seperti gambar Papa, pintar kamu, Sayang!" lanjutnya memuji sembari membelai surai kecoklatan milik si gadis.Wanita muda itu kemudian meletakan segelas jus jeruk di sisi kanan Daniyah -karena Daniyah duduk beralaskan karpet bulu di ruang anak yang berbatasan langsung dengan ruang tamu. "Ayo diminum dulu, ada cookies untukmu.""Terima kasih, Hana. Aku akan mencuci tangan dahulu." Daniyah meletakan crayon kuningnya, ia berd