Tiga jam berikutnya, sosok yang ditunggu datang juga. Penampilan pria itu sangat berantakan dengan wajah kusut. Jas yang hilang entah ke mana, dengan lengan kemaja yang tergulung sampai siku. Dua kancing teratas kemejanya terbuka, hampir memperlihatkan cetakan dadanya. Meski demikian, semua sepakat penampilan Juan saat ini semakin menambah kadar ketampanannya.
Bahkan Maya sampai menahan napas, merasa terpsona pada pria yang selalu merajai hatinya. Maya lantas berdiri dan berlari ke arah sang kakak. Dipeluknya pria itu dengan erat. Tangisnya pecah saat itu juga. Antara lega dan rindu melihat kedatangan pria pujaannya.
Juan membalas pelukan itu dengan erat, mencium rambut sang adik dengan ciuman panjang berkali-kali. Tatapannya yang lelah, berubah ramah. Menyembunyikan kemarahan yang sejak tadi dirasakannya setelah melakukan penyelidikan singkat.
“Kak, aku takut terjadi sesuatu dengan Daddy,” ujar Maya di sela tangisannya.
“Semua akan baik-baik sa
Setelah ucapan sensual pria itu, di sinilah Maya berada. Di dalam mobil berdua dengan Juan tanpa adanya pihak ketiga. Juan sengaja tidak membawa sopir karena ingin berduaan dengan Maya, wanitanya. Pengawal yang tadi berniat mengikuti mereka sudah Juan usir dengan tegas, bahkan meninggalkan Bruce yang menatap kepergian mereka dengan datar. Maya tersenyum gugup. Dia tidak tahu apa saja yang Mulan lakukan di belakangnya selama ini. Namun untuk menghapus rasa curiga, Maya menurut. Dia akan mencatat dalam otaknya setiap perubahan yang Mulan ciptakan selama ini. Juan melajukan mobilnya membelah jalanan. Sebelah tangannya tidak berhenti menggenggam tangan Maya, sesekali meremas dengan gemas. Sampai beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah restoran besar. Juan turun, mengelilingi mobil dari depan dan membuka pintu mobil sebelahnya. Dia bahkan melindungi kepala Maya agar tidak terkena pintu mobil. Maya menerima perlakuan tersebut dengan senang hati. Sudah lama sa
Setelah beberapa jam melakukan penerbangan, di sinilah Alex dan Mulan berada. Di salah satu kota terbesar yang terkenal dengan film Hollywood-nya. Bukan tanpa alasan mereka memilih kota ini, tapi karena salah satu cabang perusahaan yang Alex kelola kebetulan juga berada di sini. Mulan cukup terkeju awalnya, ternyata banyak hal yang tidak diketahuinya tentang Alex. Saat Mulan bertanya banyak hal pun, lelaki itu hanya tersenyum tipis dan mengalihkan pembicaraan. Seakan tidak mau Mulan mengetahui lebih banyak. Beruntung dia bukan orang yang suka ikut campur. Beberapa hari beradaptasi di sini, sebenarnya tidak terlalu sulit. Tinggal di salah satu unit apartemen yang dibilang cukup mewah. Semua tetangga apartemennya kebanyakan para workaholic yang jarang menampakkan batang hidungnya. Mulan cukup nyaman di sini, meski setiap harinya dia kedapati sering melamun dan tampak murung. Berkali-kali pula Alex dengan perhatian meminta Mulan bercerita, tapi wanita i
Alex menatap penuh dendam pada wanita di depannya. Matanya mendelik, berusaha mengintimidasi lawan yang tak berefek apa pun. Bukan tanpa alasana kenapa dia bersikap demikian, tapi sungguh Alex sudah sangat jengkel pada wanita di depannya ini. Dia benar-benar tersiksa menghadapi Mulan dan segala keinginannya. Sementara sang pelaku, Mulan tetap memasang wajah tenang, dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Dia balas menatap Alex dengan tajam, tidak peduli bahwa lelaki di depannya tengah mati-matian berusaha sabar. “Ganti!” Sekali lagi dia berucap penuh penekanan. Alex menggeleng, menolak perintah wanita yang seperti ratu ini. Beberapa hari ini wanita itu memang suka memerintah, tanpa mau menerima penolakan. Dengan alibi hamil dan tetek bengeknya, hidup Alex seakan dijajah. “Alex ...” “Mulan,please. Aku baru ganti pakaian. Parfum ini juga masih baru.” Alex merengek juga, berusaha meluluhkan hati wanita hamil yang sekeras batu itu
Keadaan Joe makin membaik. Pria itu sudah sadar dalam tahap pemulihan. Hanya Kriss yang masih kritis dan belum bisa dikunjungi banyak orang. Bahkan anak-anaknya harus bergantian masuk ke dalam dengan pakaian steril yang sudah disiapkan. Maya tidak berhenti menangis. Meratapi keadaan yang sangat menyedihkan baginya. Dia pikir pulangnya akan disambut dengan pelukan hangat sang ayah. Mendapatkan senyuman hangat ketiga kakaknya seperti biasa. Namun, harapannya melenceng. Maya tidak berhenti terisak dalam pelukan Juan. Pria yang sudah menemaninya beberapa hari ini, bahkan sang kakak tidak sedikit pun beranjak dari sampingnya. Maya jelas tidak membuang momen ini begitu saja. Setengah hatinya merasa senang mendapatkan Juan dalam pelukannya. Kakak yang sudah lama ditaksirnya. Tiba-tiba, Maya merasa mual. Dia membekap mulutnya. Aroma obat yang menyengat masuk ke dalam hidung dan semakin membuatnya mual. Perutnya bergejolak, seakan sesuatu mendesak untuk segera dikelua
Juan merasa Tuhan sedang menegurnya. Dia yang sempat ragu pada wanita itu hampir saja kehilangan Maya, bahkan makhluk kecil yang sedang tumbuh di dalam perut wanita itu. Jelas dia syok. Bahkan hampir tak mempercayai apa yang sudah dokter jelaskan. Berkali-kali dia meminta dokter untuk memeriksa ulang, takut ada kesalahan atau data pasien yang tertukar. Hal yang jelas tidak mungkin terjadi. Namun saat itu Juan memang dalam mode ‘bodoh’-nya. Dia tidak bisa berkedip menatap perut wanita itu. Ada senyum haru yang terbit di bibirnya. Tidak ada keraguan dalam hatinya. Jelas itu adalah hasil mereka beberapa minggu lalu. Apalagi dia ingat bagaimana dirinya yang melepaskan semuanya di rahim hangat Maya. Tanpa pengaman, tanpa halangan. Mereka terlalu larut saat itu. Juan pun tidak memikirkan akan secapat ini mereka memiliki buah hati. Namun dia tidak menyesal sama sekali. Dia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya segera di depan keluarganya. Kini mengetahui kehamilan Maya
Robin kembali datang ke tempat ini. Langkahnya masih seberat sebelumnya, tatapannya masih sendu seperti terakhir kali kemari. Rasa sesak dan sedihnya belum pulih. Padahal ini sudah lewat berminggu-minggu setelah kepergian wanita itu. Nyatanya penyesalan membuat kesedihannya tak berujung. Tiba di depan gundukan dengan nisan bertuliskan nama mantan istrinya, kakinya melemah, seakan tenaganya tersedot dan lumpuh seketika. Robin menatap nanar pada nisan di makam itu. Tangannya terulur dan mengelusnya di sana. “Maaf,” bisiknya dengan nada suara yang pelan, sarat akan kesedihan yang mendalam. “Maaf tidak pernah membuat kamu bahagia selama pernikahan kita seperti janjiku di depan pendeta.” Robin menunduk, seakan tidak berani menatap nisan itu. Meski Lucy sudah menyakitinya dengan sangat dalam, nyatanya perasaan cinta itu tidak juga pudar. Malah Robin merasa perasaannya masih sama besar seperti dulu. Robin hanya marah dan kecewa pada wanita itu. Dia tidak ber
Di kamarnya, Maya tak berhenti tersenyum. Dia mengeluarkan sebuah kotak yang sejak dulu disimpan dengan rapi. Di dalam kotak itu terdapat banyak barang-barang pemberian Juan padanya.Maya mengeluarkan salah satunya, sebuah liontin hadiah ulang tahunnya yang ke-17 tahun. Entah kapan jelasnya, mungkin perasaannya mulai beda sejak waktu itu. Sejak Maya melihat sang kakak dalam balutan jas berwarna kream, mengucapkan selamat ulang tahun dengan suara yang sangat merdu di telinganya.Saat itu Maya merasa sang kakak adalah Dewa Yunani. Sangat tampan, memesona, dan berhasil menarik perasaan cintanya untuk pertama kali. Sejak itu, Maya seakan berikrar hanya akan mencintaimu Juan, pertama dan terakhir. Hanya pria itu yang layak menjadi kekasih dan masa depannya.Maya tersenyum sendiri. Selain itu, ada album foto yang semuanya berisi foto-foto Juan. Beberapa gambar bahkan sengaja dipotong dan menyisakan dirinya dan pria itu. Tersenyum di depan kamera, meski wajah sang kaka
Juan benar-benar bingung dengan perasaannya. Dia yang membopong Mulan masuk ke ruang perawatan dan menunggunya di sana, bahkan tidak sedikitpun beranjak keluar meski beberapa dokter sudah menyuruhnya. Juan tetap kekeuh menunggu, mengamati para dokter yang menangani wanita itu. Sementara tatapannya sesekali jatuh pada perut Mulan yang masih rata, dia bahkan tidak menyangka ada calon makhluk hidup yang berkembang di sana.“Bagaimana?” Juan langsung bertanya, menatap dokter tersebut dengan menuntut.“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nyonya Mulan sepertinya kurang asupan dan istirahat, belum lagi dia sedikit tertekan yang berakibat pada kandungannya.”Juan mendengarkan dengan baik. Memasang telinga dan mencerna sebaik mungkin apa yang didengarnya. Keadaan Mulan pasti berhubungan dengan penyekapannya dan juga masalah ini. Juan kembali melihat wanita itu yang tampak damai dalam tidurnya. Langkahnya semakin mendekat hingga tiba di samping ran