Aku terus berjalan menyusuri lorong menuju kamar Mas Haikal yang berada di ujung kiri, sementara kamar milikku berada di ujung kanan. Jujur saja, aku sebenarnya tidak tahu kedua mertuaku menyadarinya atau tidak dengan keadaan rumah tangga kami yang seperti ini. Tak sekali pun baik Bu Sukma maupun Pak Abigail bertanya padaku, apakah putranya memperlakukanku dengan baik atau tidak.
Kupikir, mereka mungkin tak peduli. Entahlah.Mulanya aku sendiri sempat kebingungan dengan keinginan Mas Haikal yang tak ingin satu kamar denganku, tetapi perlahan aku mengerti alasan dia memperlakukanku seperti ini. Mas Haikal terpaksa menikah denganku, dan aku paham bahwa kehadiranku sampai detik ini belum bisa diterimanya.Hal itu memengaruhi cara mereka memperlakukanku di rumah besar ini. Tak sedikit pun posisiku benar-benar dihargai, itu semua bisa kusimpulkan karena foto-foto mendiang Kak Anita saja masih terpampang jelas hampir di setiap sudut ruangan, salah satunya di ruang keluarga yang tengah kulewati saat ini.Bingkai pernikahan berukuran raksasa antara Mas Haikal dan Kak Anita masih dipajang di dinding, kian menegaskan bahwa aku bukanlah siapa-siapa di rumah ini. Sepertinya memang tak ada niatan dari mereka untuk menggantinya dengan foto pernikahanku dengan Mas Haikal, atau setidaknya diturunkan hanya demi menjaga perasaanku sebagai nyonya rumah yang baru."Kamu memang wanita yang sangat beruntung, Kak!" Aku berucap lirih di dalam hati. Wajar, bukan, jika aku iri padanya? Benar kata Bu Sukma, Kak Anita memang jauh lebih dariku.Kuusap lembut dada ini sambil beristighfar berulang kali, tak ingin terus dikuasai oleh pikiran-pikiran jelek yang akan menggerus kewarasan diri ini. Aku sudah cukup lelah berdamai dengan keadaan dan suratan diri yang tak sesuai impian. Berserah diri adalah caraku satu-satunya meraih ridho Allah dan kekuatan hati agar tetap tenang.Kuketuk pintu kamar suamiku, dirasa tak ada jawaban akhirnya aku memutuskan untuk membukanya. Pikirku, mungkin Mas Haikal itu sedang berada di dalam kamar mandi. Jadi ia tidak menyadari kedatanganku. Ini adalah kesempatanku untuk menyiapkan pakaian gantinya dengan cepat, setelah selesai aku akan langsung keluar sebelum aktivitas Mas Haikal di dalam kamar mandi usai.Aku belum siap kembali bertatap muka dengannya, di saat diriku sendiri dalam keadaan kacau sehabis dari dapur. Lebih dari itu, aku uga tidak ingin berlama-lama di ruangan yang sejatinya bukan milikku.Kamar ini adalah sepenuhnya dihuni oleh sosok mendiang kakakku, wajah cantiknya selalu setia menghiasai ruangan ini dengan berbagai potret beragam. Mulai dari foto Kak Anita yang sedang duduk di bangku taman, foto ketika berpelukan dengan Mas Haikal, dan terakhir ... foto mereka ketika sedang berciuman yang diambil sehabis melangsungkan pernikahan."Tidak apa-apa, Gita, tidak apa-apa," ucapku menenangkan diri. Perasaan tak nyaman ini harus kutelan setiap kali memasuki kamar Mas Haikal.Tak ingin terus larut dalam sesak yang seakan mencekik diri, aku mempercepat gerakanku. Kupilih setelan kerja berwarna biru, kemudian kuletakan di tepi kasur. Selesai. Aku mengembuskan napas lega.Sialnya kelegaanku tak berlangsung lama, tepat ketika kaki ini kulangkahkan menuju pintu keluar. Suara Mas Haikal seketika menghentikanku."Bisakah kamu menghentikan semua ini, Git?" Suara Mas Haikal terdengar begitu dalam dan serak di telingaku. Tak ayal bulu kudukku merinding dibuatnya.Kukendalikan diri ini sebisa mungkin, lantas berbalik menghadap suamiku yang berdiri di sana dengan gagahnya. Kuakui tubuh Mas Haikal selalu terlihat menggoda, di usianya yang matang otot-otot yang dimilikinya terbilang pas dan memanjakan mata, terutama bagi kaum hawa."Gita, apa kamu mendengarku?"Ah, stop, Gita. Sadarlah, kendalikan dirimu!"Ya, aku ... aku mendengarnya. Apa yang harus kuhentikan, Mas?" jawabku sedikit terbata."Bukannya Mas gak suka dilayani seperti ini. Tapi, kalau untuk sekadar menyiapkan pakaian ganti, Mas bisa, Git.""Gak apa-apa, Mas. Ini sudah tugasku sebagai istrimu, jadi ....""Istriku Anita juga tidak setiap hari menyiapkan ini. Mas harap kamu pun tidaak repot-repot melakukannya. Tapi ..., terima kasih, Git."Hatiku mencelos, dadaku sesak mendengar alasan di balik permintaan Mas Haikal. Tak bisakah berhenti menbanding-bandingkanku dengan Kak Anita. Aku juga istri sah-mu, Mas. Bukan istri bayangan yang hanya ada di saat kamu butuh kepuasan saja. Aku menjerit dalam hati.**Kututup kasar pintu kamar setengah membanting, dadaku naik-turun seiring emosi yang tiba-tiba saja menyerang diri. Betapa sakitnya hati ini, setelah kalimat larangan satu minggu lalu yang Mas Haikal lontarkan padaku kukira hanya permintaan sepintas saja, tidak benar-benar serius. Maka keesokan harinya aku tetap melakukan hal serupa.Dengan intensitas pertemuan kami yang bisa dihitung jari dalam satu minggu, suamiku itu memang tak lagi membahasnya ketika kami bertemu di meja makan, atau ketika papasan di kamar Binar. Aku yang hendak keluar setelah berhasil menidurkan, sementara Mas Haikal ingin menyapa putrinya di penghujung hari.Semua baik-baik saja, Mas Haikal tak lagi mengungkitnya. Akan tetapi, siapa sangka, hari ini dia kembali mengulang perkataan yang sama. Kutinggalkan suamiku di kamarnya begitu saja, lantas masuk ke kamarku untuk menumpahkan tangis yang sudah tak sanggup lagi kubendung.Aku tak ingin sampai Mas Haikal menyaksikan kondisiku yang lemah dengan air mata yang tumpah ruah.Ayolah, setelah kuliahku terpaksa dihentikan, apa sekarang dia juga melarangku melakukan sesuatu sesuai keinginan diri ini? Bahkan hal sekecil itu."Ya Allah, di mana salahku?" Aku berucap lirih sambil berderai air mata. "Maafin aku, Kak, aku tidak pernah bermaksud ingin merebut posisimu di rumah ini. Tapi, sekarang akulah istri Mas Haikal, dan Binar sudah kuanggap seperti putriku sendiri."Kuusap pelan layar ponsel milikku yang menampilkan potret Kak Anita.Sungguh, aku tidak pernah sekalipun membenci Kak Anita. Sebagai seorang adik aku begitu menyayanginya. Hanya saja, rasanya siapa pun tidak ada yang mau dibandingkan dengan orang lain, begitupula aku.Di mataku, Kak Anita memanglah sosok pribadi yang baik, ramah, juga santun. Dia adalah istri sempurna dan pastinya disayangi seluruh keluarga. Aku sendiri begitu mengaguminya.Masih ingat jelas dalam ingatan, ketika statusku masih sebagai adik ipar Mas Haikal, laki-laki itu selalu memperlakukanku dengan sangat baik, begitupula dengan Bu Sukma dan Pak Abigail.Meski pada saat itu kami jarang bertemu, sebab aku tinggal di Bandung bersama kedua orangtua, sementara Kak Anita di Jakarta ikut suaminya, Mas Haikal. Namun, tak jarang ketika ada kesempatan aku akan dengan sengaja dijemput langsung oleh suami kakakku itu untuk sekadar menemani Kak Anita di rumah.Pekerjaan Mas Haikal menjadi alasan kakakku sering dirundung kesepian, lantaran pada hari libur pun sering kali menuntut suaminya kala itu menghabiskan waktunya untuk bekerja.Tak ayal, dalam beberapa kesempatan aku dan Mas Haikal pun mau tak mau terlibat dalam obrolan ringan. Terutama ketika berada dalam satu mobil pada saat pulang dan pergi Jakarta—Bandung beberapa tahun silam.Menurut pandanganku, meski sikap Mas Haikal sebagai laki-laki terhitung irit bicara cenderung pendiam. Namun, Mas Haikal termasuk kakak ipar yang penuh perhatian. Aku yang memiliki kebiasaan tertidur sepanjang perjalanan dan terbangun ketika tiba di tujuan pun sering kali mendapati jaket milik Mas Haikal bertengger menyelimutiku.Siapa yang menduga, masa depan telah merubah status kami menjadi sepasang suami-istri. Walaupun berdasarkan keterpaksaan semata, tetapi posisiku tetaplah seorang istri yang sudah sepatutnya dihargai, bukan?"Aku juga tidak pernah meminta hal ini terjadi pada kita, Kak. Sungguh, kalau kehadiranku benar-benar dibencinya ... mengapa Mas Haikal tidak tinggalkan aku saja!" Mulutku terus meracau, mengungkapkan kekecewaan seorang diri di dalam kamar.Di tengah tangisku yang belum mereda, tiba-tiba saja pintu kamar diketuk dari arah luar. Segera aku bangkit berdiri, lalu kuseka air mata ini dengan gerakan kasar.Tepat ketika kaki ini hendak kulangkahkan, pintu kamar sudah lebih dulu dibuka. Muncul Mas Haikal di sana, menutup pintu dan menghampiriku yang kini menatap kedatangannya dengan mata yang masih perih."Mas minta maaf jika sikap Mas yang tadi menyinggung perasaanmu, Git."Dadaku mulai berdebar keras mendengar kalimat pembuka dari Mas Haikal. Padahal, ini masih pagi, tetapi entah mengapa suasananya sudah tidak enak dan aku pun kian dirundung perasaan cemas."Jujur, Mas tidak pernah bermaksud membanding-bandingkan kamu dengan Anita, tapi ... kenyataannya Anita memang lebih baik dan Mas masih belum bisa terima kepergiannya.""Apa salahku?" tanyaku pelan dengan suara bergetar.Mas Haikal tak langsung menjawab, ia hanya menatap datar tanpa ekspresi, seperti masih menunggu lanjutan perkataanku."Di mana salahku sampai aku tidak pernah ada baiknya di matamu, Mas? Mengurus dan melayanimu adalah kewajibanku, Mas gak perlu permasalahkan, itu ....""Gita," ucap Mas Haikal segera memotong, "sepertinya kamu sudah benar-benar salah paham. Selama ini, Mas membiarkanmu mengurus semua kebutuhan Mas bukan karena sudah bisa menerima kehadiran kamu, melainkan karena itu adalah bentuk belas kasih Mas sama kamu sebagai seorang Kakak."Seiring kalimat yang meluncur dari mulut Mas Haikal, di saat bersamaan air mataku yang belum sempat mengering ini pun kembali tumpah tanpa bisa dicegah. Runtuh sudah, aku tak lagi sanggup menahannya.Ya, sampai kapan pun diriku memang tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Kak Anita di mata Mas Haikal. Bagi laki-laki itu, semua yang kulakukan tidak pernah ada artinya. Akan tetapi, haruskah Mas Haikal mengatakannya segamblang ini? Tidakkah laki-laki itu meraba sedikit saja rasa sakit di hatiku? Kukepalkan erat kedua tangan ini, menahan perasaan sesak yang terus mendesak.Belum selesai aku mencerna kalimat Mas Haikal sebelumnya. Suamiku ini kembali menghujam jantungku dengan kata-katanya yang tak kalah tajam dan menyakitkan."Mungkin kamu juga sudah salah mengira mengenai apa yang terjadi di antara kita," ucap Mas Haikal, "jangan salah paham, aku meyentuhmu bukan karena ingin, Git, melainkan karena terlalu merindukan Anita. Istriku."Mas Haikal seolah tak peduli pada kondisiku yang ..., entah. Dia bahkan mengatakan itu semua dengan tatapan datar tanpa perasaan."Hentikan tangismu dan turunlah segera! Binar pasti mencarimu. Aku pun harus pergi bekerja," katanya lagi seraya berbalik badan dan meninggalkan kamar. Kubekap erat mulut ini, sekuat tenaga menghentikan tangis di saat hati ingin menjerit. Aku harus tetap kuat dan tegar, tidak ada waktu untuk meratapi diri. Aku harus membebaskan diri dari ini semua, setidaknya demi si kecil Binar. Aku terus berusaha menguatkan diri. Setelah dirasa cukup tenang, aku pun membersihkan diri secara kilat, lalu turun ke lantai satu. Kulihat, mertuaku sudah berada di sofa ruang keluarga, sedang Mas Haikal terlihat menenteng tas kerjanya. "Ma ... Ma!" panggil si kecil Binar seraya merentangkan tangan ketika melihat kedatanganku. Bocah mungil itu tengah digendong oleh Bi Ratih, asisten rumah tangga kami yang sepertinya datang ketika aku membersihkan diri di kamar tadi. "Sini, Nak!" ucapku meminta Binar. "Makasih, ya, Bi ..., Ma. Maaf aku agak lama." Kuambil alih Binar dari gendongan Bi Ratih, lalu membawa Bi
Semalaman aku kesulitan memejamkan mata, berpikir bagaimana caranya agar bisa keluar dari lingkaran yang seakan mencekik ini. Sampai kapan aku harus bersabar diperlakukan tidak adil begini? Tidak cukupkah mereka merenggut masa depanku? Aku tak minta dipuja, cukup pengorbanan dan kehadiranku di sini dihargai saja.Akibat terjaga hampir sepanjang malam, alhasil pagi ini aku terbangun sedikit terlambat, itu pun karena mendengar tangis si kecil Binar yang melengking. Sontak saja aku terperanjat dengan menahan kepala yang seketika pening bukan main. Kutenangkan Binar sebentar, lalu kusimpan di kereta bayi. Sementara aku mencuci muka dengan kilat dan kembali menghampirinya.Untungnya ini akhir pekan. Jadi, ketika aku memulai pekerjaan rumah, Mas Haikal masih berada di kamarnya. Kedua mertuaku pun belum terlihat kedatangannya ke rumah utama.Seperti biasa aku akan langsung memasuki dapur, menyiapkan sarapan dan membereskan sisanya. Sementara Binar duduk tenang di kursinya, selama aku terlihat
Benar apa yang dikatakan Bi Ratih. Sore harinya, Rania datang ke rumah dan memecahkan suasana dengan suaranya yang nyaring. Di usianya yang menginjak angka 20-an, Rania tampak begitu segar dan cantik, tubuh mungil nan berisinya dibalut gaun mini di atas lutut berwarna pink lembut menunjang penampilannya semakin terlihat memesona. Gadis itu berjalan begitu semangat disertai senyumnya yang cerah, sesekali jemari lentiknya memainkan ikatan rambutnya yang dikuncir quda."Kak Haikaaaal, Rania dataaang!" Rania langsung memeluk suamiku dari arah belakang, tangan Mas Haikal refleks merangkul pinggang Rania dengan posisi yang sama. Mas Haikal sedang duduk di atas karpet bersama Binar."Ya ampun, pelan-pelan, Ran. Nanti kamu kepeleset!" peringatnya pelan, Rania tersenyum lebar sambil menempel sempurna di punggung suamiku."Biarin, kan ada Kakak yang nolongin." Rania menjauhkan diri sebentar, lalu memiringkan kepala dan menatap wajah suamiku dari samping dengan kedua tangan yang masih melingkar
Kubiarkan air mata ini mengalir bebas di pipiku, sementara arah pandangku terus tertuju keluar kaca jendela mobil dengan rinai hujan yang berderai lembut tanpa henti. Perjalanan Jakarta—Bandung kali ini mengingatkanku pada masa lalu. Ketika aku bertolak ke Jakarta dengan perasaan cemas yang serupa. Namun, pedih hatiku saat ini rasanya berkali-kali lipat lebih menyakitkan, hingga membuat kewarasanku hampir hilang karena dihantam kenyataan."Ma ..., huwaaaa!""Huwaaa!"Lamunanku buyar. Rengekan Binar yang tiba-tiba dan sejak tadi tidur pulas di pangkuanku seakan menjadi sebuah peringatan untukku agar berhenti menangis. Kutepuk lembut dada Binar agar kembali terlelap, tetapi sayangnya itu tidak berhasil. Bukannya reda, tangis Binar malah kian menjadi."Ssst ..., Binar Bobo lagi, ya! Perjalanan kita masih jauh, Sayang." Seiring usahaku menenangkan si kecil, sopir travel yang duduk di balik kemudinya sesekali mencuri pandang ke arah kami. Aku yang sadar diperhatikan seperti itu, mulai me
Hari pertama di rumah orang tuaku cukup membuatku sadar akan perbedaan. Perbedaan ketenangan, ketenteraman, serta kenyamanan diri dalam setiap pergerakan. Kupikir, tekanan yang selama ini melingkupiku pasti sirna, kesedihan yang satu tahun ini menderaku akan otomatis tergantikan dengan kebahagiaan kala aku bersama Ayah dan Ibu. Kenyataannya tidak seperti itu. Alasannya tak lain karena bagaimanapun juga segalanya sudah tak lagi sama. Semalaman aku tak bisa tenang, beberapa kali mengecek ponsel, berharap Mas Haikal akan menghubungiku barang sekali saja. Namun, hingga hari kedua aku di Bandung, gawai berbentuk persegi ini tak menunjukkan pergerakan apa pun. "Setidaknya kamu nanyain kabar Binar, Mas," gerutuku kesal sembari mencebikkan bibir. Tidak hanya itu saja, potret mesra yang Rania kirimkan pun turut menghantui pikiranku. Dugaan dan kecurgiaanku pada keduanya kian liar entah ke mana.Aku tertelan oleh kekhawatiran dan asumsi-asumsiku sendiri. Semakin dalam hingga tak tentu arah."K
Tiga puluh menit terasa jauh lebih lama, apalagi ketika diliputi kecanggungan yang tercipta di antara kami bertiga. Diam-daim aku merutuki situasi tak terduga ini di dalam hati. Bukan kerena aku tidak senang dijemput oleh suamiku, atau tidak menerima niat baik dari Mas Azzam. Namun, mengapa mereka harus datang dalam waktu bersamaan? Meskipun raut wajah kedua laki-laki itu tampak biasa saja di mataku, tetapi dari gerak-gerik Mas Haikal yang sejak tadi hanya diam dan tak menyapaku menjadi masalah tersendiri bagiku. Seusai Mas Azzam dan Mas Haikal bergantian menemui ayahku di kamarnya, kini keduanya duduk di kursi teras ditemani oleh Ibu. Sementara aku kembali ke dalam rumah dengan alasan kerepotan oleh BInar yang tidak bisa diam."Silakan diminum teh hangatnya, Nak Azzam, Nak Haikal!" Kulihat, Ibu menyodorkan dua gelas minuman hangat di atas meja yang berada di teras, sedangkan aku berdiri kebingungan tak jauh dari pintu. Harus pulang sekarang, atau menunggu interupsi dari Mas Haikal?
"Jangan pernah kamu bahas soal Rania lagi! Menjaganya adalah kewajibanku. Dia nggak punya saudara laki-laki, atau ayah yang bisa diandalkannya. Jadi, kamu jangan mengarang cerita hanya berdasarkan kecurigaanmu yang tanpa dasar itu!""Aku bisa aja terus ngalah dari kamu atau pun Ibu, Mas. Tapi, jika ada orang lain yang mengusik rumah tanggaku, aku tidak akan tinggal diam!" Aku hanya bisa mengatakannya di dalam hati, membiarkan suamiku beranggapan bahwa aku telah setuju. Lelah yang mebdera, membuatku malas berdebat. Bukan aku tidak percaya padanya, hanya saja apa yang Rania lakukan sebelumnya telah berhasil mengusikku. Photo yang gadis itu kirim tanpa keterangan sungguh memancing rasa penasaranku, dan aku berencana menyinggungnya ketika dia datang ke rumah. Aku yakin tidak lama lagi dia akan datang."Kamu juga tahu, kan, Git. Mas begini karena sedang merin ....""Tahu, kok. Mas gak perlu khawatir, aku nggak akan salah mengartikan. Bahkan kalau iya pun, aku akan tetap beranggapan seprti
Malam kian larut, desiran angin dan detik jarum jam berpadu di tengah kesunyian yang menyapa. Aku meringkuk seorang diri, ditemani kegelisahan dan kepiluan yang membuncah di dada. Sisa isakanku sesekali lolos, menelisik ruang hampa dan keheningan suasana. Sudah pukul 11 malam, tetapi baik Mas Haikal maupun kedua mertuaku belum jua tampak kehadirannya. Sebenarnya, ke mana mereka? Tak biasanya tengah malam seperti ini masih berada di luar rumah. Mungkinkah di tempat Rania sedang ada acara? Kuraih gawai yang semula kusimpan di samping bantal, lalu berselancar di dunia maya. Membuka satu per satu akun anggota keluarga suamiku, berharap bisa menemukan jawaban atas cemasku. Pada zaman serba sharing ini, orang-orang cenderung memiliki kebiasaan membagikan segala jenis kegiatan mereka di sosial media, dan Rania adalah salah satu yang memiliki kebiasaan demikian. Akan tetapi, nyatanya aku tidak menemukan apa pun, hanya foto selfie dirinya yang diposting terakhir kali di suatu toko perhias
Malam kian larut, desiran angin dan detik jarum jam berpadu di tengah kesunyian yang menyapa. Aku meringkuk seorang diri, ditemani kegelisahan dan kepiluan yang membuncah di dada. Sisa isakanku sesekali lolos, menelisik ruang hampa dan keheningan suasana. Sudah pukul 11 malam, tetapi baik Mas Haikal maupun kedua mertuaku belum jua tampak kehadirannya. Sebenarnya, ke mana mereka? Tak biasanya tengah malam seperti ini masih berada di luar rumah. Mungkinkah di tempat Rania sedang ada acara? Kuraih gawai yang semula kusimpan di samping bantal, lalu berselancar di dunia maya. Membuka satu per satu akun anggota keluarga suamiku, berharap bisa menemukan jawaban atas cemasku. Pada zaman serba sharing ini, orang-orang cenderung memiliki kebiasaan membagikan segala jenis kegiatan mereka di sosial media, dan Rania adalah salah satu yang memiliki kebiasaan demikian. Akan tetapi, nyatanya aku tidak menemukan apa pun, hanya foto selfie dirinya yang diposting terakhir kali di suatu toko perhias
"Jangan pernah kamu bahas soal Rania lagi! Menjaganya adalah kewajibanku. Dia nggak punya saudara laki-laki, atau ayah yang bisa diandalkannya. Jadi, kamu jangan mengarang cerita hanya berdasarkan kecurigaanmu yang tanpa dasar itu!""Aku bisa aja terus ngalah dari kamu atau pun Ibu, Mas. Tapi, jika ada orang lain yang mengusik rumah tanggaku, aku tidak akan tinggal diam!" Aku hanya bisa mengatakannya di dalam hati, membiarkan suamiku beranggapan bahwa aku telah setuju. Lelah yang mebdera, membuatku malas berdebat. Bukan aku tidak percaya padanya, hanya saja apa yang Rania lakukan sebelumnya telah berhasil mengusikku. Photo yang gadis itu kirim tanpa keterangan sungguh memancing rasa penasaranku, dan aku berencana menyinggungnya ketika dia datang ke rumah. Aku yakin tidak lama lagi dia akan datang."Kamu juga tahu, kan, Git. Mas begini karena sedang merin ....""Tahu, kok. Mas gak perlu khawatir, aku nggak akan salah mengartikan. Bahkan kalau iya pun, aku akan tetap beranggapan seprti
Tiga puluh menit terasa jauh lebih lama, apalagi ketika diliputi kecanggungan yang tercipta di antara kami bertiga. Diam-daim aku merutuki situasi tak terduga ini di dalam hati. Bukan kerena aku tidak senang dijemput oleh suamiku, atau tidak menerima niat baik dari Mas Azzam. Namun, mengapa mereka harus datang dalam waktu bersamaan? Meskipun raut wajah kedua laki-laki itu tampak biasa saja di mataku, tetapi dari gerak-gerik Mas Haikal yang sejak tadi hanya diam dan tak menyapaku menjadi masalah tersendiri bagiku. Seusai Mas Azzam dan Mas Haikal bergantian menemui ayahku di kamarnya, kini keduanya duduk di kursi teras ditemani oleh Ibu. Sementara aku kembali ke dalam rumah dengan alasan kerepotan oleh BInar yang tidak bisa diam."Silakan diminum teh hangatnya, Nak Azzam, Nak Haikal!" Kulihat, Ibu menyodorkan dua gelas minuman hangat di atas meja yang berada di teras, sedangkan aku berdiri kebingungan tak jauh dari pintu. Harus pulang sekarang, atau menunggu interupsi dari Mas Haikal?
Hari pertama di rumah orang tuaku cukup membuatku sadar akan perbedaan. Perbedaan ketenangan, ketenteraman, serta kenyamanan diri dalam setiap pergerakan. Kupikir, tekanan yang selama ini melingkupiku pasti sirna, kesedihan yang satu tahun ini menderaku akan otomatis tergantikan dengan kebahagiaan kala aku bersama Ayah dan Ibu. Kenyataannya tidak seperti itu. Alasannya tak lain karena bagaimanapun juga segalanya sudah tak lagi sama. Semalaman aku tak bisa tenang, beberapa kali mengecek ponsel, berharap Mas Haikal akan menghubungiku barang sekali saja. Namun, hingga hari kedua aku di Bandung, gawai berbentuk persegi ini tak menunjukkan pergerakan apa pun. "Setidaknya kamu nanyain kabar Binar, Mas," gerutuku kesal sembari mencebikkan bibir. Tidak hanya itu saja, potret mesra yang Rania kirimkan pun turut menghantui pikiranku. Dugaan dan kecurgiaanku pada keduanya kian liar entah ke mana.Aku tertelan oleh kekhawatiran dan asumsi-asumsiku sendiri. Semakin dalam hingga tak tentu arah."K
Kubiarkan air mata ini mengalir bebas di pipiku, sementara arah pandangku terus tertuju keluar kaca jendela mobil dengan rinai hujan yang berderai lembut tanpa henti. Perjalanan Jakarta—Bandung kali ini mengingatkanku pada masa lalu. Ketika aku bertolak ke Jakarta dengan perasaan cemas yang serupa. Namun, pedih hatiku saat ini rasanya berkali-kali lipat lebih menyakitkan, hingga membuat kewarasanku hampir hilang karena dihantam kenyataan."Ma ..., huwaaaa!""Huwaaa!"Lamunanku buyar. Rengekan Binar yang tiba-tiba dan sejak tadi tidur pulas di pangkuanku seakan menjadi sebuah peringatan untukku agar berhenti menangis. Kutepuk lembut dada Binar agar kembali terlelap, tetapi sayangnya itu tidak berhasil. Bukannya reda, tangis Binar malah kian menjadi."Ssst ..., Binar Bobo lagi, ya! Perjalanan kita masih jauh, Sayang." Seiring usahaku menenangkan si kecil, sopir travel yang duduk di balik kemudinya sesekali mencuri pandang ke arah kami. Aku yang sadar diperhatikan seperti itu, mulai me
Benar apa yang dikatakan Bi Ratih. Sore harinya, Rania datang ke rumah dan memecahkan suasana dengan suaranya yang nyaring. Di usianya yang menginjak angka 20-an, Rania tampak begitu segar dan cantik, tubuh mungil nan berisinya dibalut gaun mini di atas lutut berwarna pink lembut menunjang penampilannya semakin terlihat memesona. Gadis itu berjalan begitu semangat disertai senyumnya yang cerah, sesekali jemari lentiknya memainkan ikatan rambutnya yang dikuncir quda."Kak Haikaaaal, Rania dataaang!" Rania langsung memeluk suamiku dari arah belakang, tangan Mas Haikal refleks merangkul pinggang Rania dengan posisi yang sama. Mas Haikal sedang duduk di atas karpet bersama Binar."Ya ampun, pelan-pelan, Ran. Nanti kamu kepeleset!" peringatnya pelan, Rania tersenyum lebar sambil menempel sempurna di punggung suamiku."Biarin, kan ada Kakak yang nolongin." Rania menjauhkan diri sebentar, lalu memiringkan kepala dan menatap wajah suamiku dari samping dengan kedua tangan yang masih melingkar
Semalaman aku kesulitan memejamkan mata, berpikir bagaimana caranya agar bisa keluar dari lingkaran yang seakan mencekik ini. Sampai kapan aku harus bersabar diperlakukan tidak adil begini? Tidak cukupkah mereka merenggut masa depanku? Aku tak minta dipuja, cukup pengorbanan dan kehadiranku di sini dihargai saja.Akibat terjaga hampir sepanjang malam, alhasil pagi ini aku terbangun sedikit terlambat, itu pun karena mendengar tangis si kecil Binar yang melengking. Sontak saja aku terperanjat dengan menahan kepala yang seketika pening bukan main. Kutenangkan Binar sebentar, lalu kusimpan di kereta bayi. Sementara aku mencuci muka dengan kilat dan kembali menghampirinya.Untungnya ini akhir pekan. Jadi, ketika aku memulai pekerjaan rumah, Mas Haikal masih berada di kamarnya. Kedua mertuaku pun belum terlihat kedatangannya ke rumah utama.Seperti biasa aku akan langsung memasuki dapur, menyiapkan sarapan dan membereskan sisanya. Sementara Binar duduk tenang di kursinya, selama aku terlihat
"Hentikan tangismu dan turunlah segera! Binar pasti mencarimu. Aku pun harus pergi bekerja," katanya lagi seraya berbalik badan dan meninggalkan kamar. Kubekap erat mulut ini, sekuat tenaga menghentikan tangis di saat hati ingin menjerit. Aku harus tetap kuat dan tegar, tidak ada waktu untuk meratapi diri. Aku harus membebaskan diri dari ini semua, setidaknya demi si kecil Binar. Aku terus berusaha menguatkan diri. Setelah dirasa cukup tenang, aku pun membersihkan diri secara kilat, lalu turun ke lantai satu. Kulihat, mertuaku sudah berada di sofa ruang keluarga, sedang Mas Haikal terlihat menenteng tas kerjanya. "Ma ... Ma!" panggil si kecil Binar seraya merentangkan tangan ketika melihat kedatanganku. Bocah mungil itu tengah digendong oleh Bi Ratih, asisten rumah tangga kami yang sepertinya datang ketika aku membersihkan diri di kamar tadi. "Sini, Nak!" ucapku meminta Binar. "Makasih, ya, Bi ..., Ma. Maaf aku agak lama." Kuambil alih Binar dari gendongan Bi Ratih, lalu membawa Bi
Aku terus berjalan menyusuri lorong menuju kamar Mas Haikal yang berada di ujung kiri, sementara kamar milikku berada di ujung kanan. Jujur saja, aku sebenarnya tidak tahu kedua mertuaku menyadarinya atau tidak dengan keadaan rumah tangga kami yang seperti ini. Tak sekali pun baik Bu Sukma maupun Pak Abigail bertanya padaku, apakah putranya memperlakukanku dengan baik atau tidak.Kupikir, mereka mungkin tak peduli. Entahlah.Mulanya aku sendiri sempat kebingungan dengan keinginan Mas Haikal yang tak ingin satu kamar denganku, tetapi perlahan aku mengerti alasan dia memperlakukanku seperti ini. Mas Haikal terpaksa menikah denganku, dan aku paham bahwa kehadiranku sampai detik ini belum bisa diterimanya.Hal itu memengaruhi cara mereka memperlakukanku di rumah besar ini. Tak sedikit pun posisiku benar-benar dihargai, itu semua bisa kusimpulkan karena foto-foto mendiang Kak Anita saja masih terpampang jelas hampir di setiap sudut ruangan, salah satunya di ruang keluarga yang tengah kulewa