"Tante."Vian segera menyalim tangan Lani diikuti Alan.Lani menatap Alan lama. Tentunya Lani terkejut karena Alan tiba-tiba datang ke Jakarta bahkan bisa sampai di sini. "Darimana kamu tahu rumah saya?" Lani bertanya."Alan tanya sama orang-orang, tan.""Kalau kamu ke sini mencari Bella, tante mohon maaf tapi tidak bisa.""Alan janji gak bakal lama kok, tan. Alan cuma mau minta maaf sama Bella.""Tidak bisa. Bella lagi belajar dan dia gak mau diganggu. Tante harap ini kali terakhir kamu datang ke sini." Lani lalu beralih menatap Vian. "Vian, ayo masuk."Vian tersenyum miring pada Alan merasa menang. "Makasih tan." Pintu pun tertutup. Alan berdecak kesal. "Gue gak akan nyerah."***"Ma, tadi ada yang ketuk pintu siapa yang datang?" Baron bertanya."Vian, katanya mau ketemu Bella. ""Ngapain dia mau ketemu aku?"Lani mengendikan bahu. "Udah sana samperin. Kasihan nunggu lama.""Cie, yang diapelin cowok." Baron menggoda Bella.Bella menatapnya tajam. "Apaan sih lo?! Gak jelas."Bella b
Bella berdecak pelan. "Kak Baron di mana, sih? Katanya mau nyusul kok gak sampe-sampe?"Semalam Baron mengajak Bella untuk jogging dan Bella menyetujuinya. Tadi pagi sebelum Bella pergi, dia sudah sempat membangunkan Baron, tapi Bella malah disuruh pergi duluan karena nanti dia akan menyusul. Sudah setengah jam menunggu, belum juga ada tanda-tanda kemunculan Baron. Bella jadi curiga kalau Baron sebenarnya masih tidur. Kalau sampai dugaannya benar, Bella akan marah besar pada Baron. Karena sudah mengingkari janjinya."Kak Bell." Bella menoleh kemudian tersenyum."Tata.""Kak Bella mau jogging juga, ya?" "Iya nih, tapi masih nunggu kak Baron. Belum nyampe daritadi.""Ya udah, sambil nunggu kak Baron jogging sama aku aja dulu.""Boleh deh."Mereka pun memutuskan untuk jogging berdua sembari menunggu Baron.***Bella dan Tata sudah sampai di taman kompleks perumahan mereka, namun Baron belum juga kelihatan. Bella tidak membawa ponsel jadi tidak bisa menghubunginya."Kak Bell, aku beli m
"Bagus ya lo gue tungguin daritadi gak datang-datang. Lain kali kalau mau ngajak yang niat." Bella mengomel."Sorry, gue ngantuk banget. Begadang soalnya. Oh iya, tadi Vian telfon gue. Katanya lo ketemu Alan di taman, ya?"Bella mengernyitkan keningnya. "Dia tahu darimana?" Karena tadi Vian tidak ada di sana."Katanya tadi Tata liat lo sama cowok terus dia bilang sama Vian. Makanya Vian mikirnya cowok itu Alan."Bella terdiam sejenak. Benar juga tadi dia pergi bersama Tata. Bisa-bisanya dia melupakan Tata. Bella merasa jadi tidak enak."Dia bilang apa sama lo?" Baron bertanya."Seperti biasa dia minta balikan, tapi gue nolak. Gue udah capek hadapin dia.""Makanya lo harusnya lebih mesra lagi sama Vian biar dia percaya kalau lo beneran sama Vian dan dia gak ganggu lo lagi.""Saran lo gak pernah benar.""Sayang banget gue gak ke sana. Kalau aja gue ketemu dia tadi, gue gebukin lagi sampe kapok.""Percuma kak. Mau lo gebukin dia kayak gimana pun kalau dia nekat ya dia gak bakal berhenti.
Bella menatap heran kerumunan murid cewek yang berdiri di depan kelasnya. Ada kejadian apa pagi-pagi begini yang membuat kelasnya ramai? Tumben sekali."Bell, gawat." Bella menoleh pada Sita dengan kening mengerut. "Gawat kenapa? Ini kenapa kelas kita jadi banyak orang?""Mantan lo.""Alan? Kenapa?""Dia pindah ke sekolah kita."Bella terkejut. Alan pindah ke sekolahnya? Apa yang harus dia lakukan sekarang?"Dan lebih parahnya lagi dia pindah ke kelas kita."Kaki Bella seketika lemas. Bella tahu kalau Alan memang nekat, tapi Bella tidak tahu kalau Bella senekat ini hingga harus pindah ke sekolahnya, bahkan sekelas dengannya. "Gue udah duga dia pasti bakal rencanain sesuatu, tapi gue gak nyangka sama rencananya."Sita mengusap pundak Bella. "Lo tenang dulu, ya, Bell. Pokoknya kita harus cari cara biar dia gak betah di sekolah ini."***"Yan, kayaknya lo bakal ada saingan."Vian mengernyitkan keningnya. "Saingan? Saingan apa?""Saingan cowok ganteng. Ada murid pindahan cowok. Pindah k
Baron mengepalkan tangannya. "Jadi dia pindah ke sekolah lo?"Bella mengangguk.Sepulang sekolah tadi Bella langsung memberitahu Baron. Karena dia tidak bisa menyimpan hal tersebut dari Baron. Kecuali dari kedua orangtuanya karena Bella tidak mau mereka ikut khawatir padanya. "Apa gue harus ke sekolah lo tiap hari buat ngawasin dia?"Bella menggeleng. "Gak usah, kak. Urus aja kuliah lo. Gue bisa urus dia sendiri.""Kalian lagi ngobrolin apa sih? Kok keliatannya serius banget?" Lani menghampiri mereka."Ini ma, masa kak Baron minta aku buat kenalin dia sama teman sekolah aku.""Kuliah aja belum benar udah ngurus cewek."Baron menatap Bella tidak terima. Baron tahu Bella berbohong agar mama mereka tidak curiga, tapi jangan menjatuhkan dia juga."Oh iya, Bell, Alan ada hubungi kamu gak?" Lani bertanya."Enggak kok, ma. Emangnya kenapa?" Bella berbohong."Cuma nanya doang. Mama gak mau dia ganggu kamu lagi.""Mama tenang aja. Dia gak bakal hubungi aku kok. Aku kan udah ganti nomor.""Syu
"Bell." Bella yang baru saja tiba di kelas menghela napas karena Alan langsung menghampirinya.Bella memilih keluar kelas. Alan pun mengikutinya. "Aku liat kemarin kamu sama Vian lagi makan nasi goreng bareng. Kalian beneran pacaran?"Bella menatap Alan malas. "Terus lo pikir gue bohong?""Ya aku gak percaya lah. Aku yakin kalau kamu masih punya perasaan buat aku.""Gak usah kepedean jadi orang!" sahut Sita yang baru saja tiba."Lo pikir karena lo ganteng jadi Bella masih suka sama lo gitu? Dengar ya, mau lo ganteng atau apapun kalau udah selingkuh lo bakal dibenci. Cuma orang gak punya akal yang masih mau nerima lo." Sita menarik lengan Bella. "Ayo Bell, masuk kelas. Gue mau minta tugas Kimia lo."***"Yan, daripada lo sama Bella pacaran bohongan kenapa gak beneran aja? Biar tuh anak baru lebih percaya gitu," kata Beno."Gue jelas mau beneran, tapi Bella gak mau gimana? Gue gak bisa maksa dia juga, kan. Gue cuma bantuin dia.""Ya udah, minta imbalan jadi pacar beneran aja. Kan lo ud
"Siapa yang mau datang sih, pa, ma? Tamu penting, ya?" Vian bertanya karena kedua orangtuanya tampak sibuk menyiapkan makan malam. Padahal biasanya di jam tujuh malam begini kedua orangtuanya masih berada di kantor. "Teman lama papa."Tak lama kemudian mereka mendengar bel rumah berbunyi. "Vian, tolong bukain pintu. Kayaknya tamunya udah datang," ujar Tari."Iya ma."Vian segera pergi membuka pintu. "Loh? Om, tante?" Vian terkejut karena yang datang adalah Ardi dan Lani.Keduanya tersenyum. Vian segera mencium tangan mereka."Silakan masuk om, tan.""Iya, Baron sama Bella masih di luar. Bentar lagi mereka masuk. Maklum masih berantem.""Iya tan."Beberapa menit kemudian Baron dan Bella muncul. Keduanya tampak sedang berdebat.Vian yang melihat mereka berdua hanya tersenyum. "Gak capek berdebat mulu?"Keduanya terdiam lalu menoleh pada Vian."Yan." Baron berhigh five dengan Vian. Terlihat senang. Sedangkan Bella sebaliknya. Seperti biasa dengan ekspresi datarnya."Ayo masuk dulu."
“Lo ingat gue?”Vian mengerutkan keningnya. “Maksudnya?”“Lo ingat pernah ketemu gue sebelumnya?” Kali ini Bella memperjelas pertanyaannya.“Oh, ingat dong.”“Kapan?”“Waktu di Surabaya terus gue balikin dompet lo yang jatuh, kan?”Bella hanya mengangguk. Tadinya Bella pikir Vian mengingatnya kalau dia pernah menolongnya, ternyata tidak. Mungkin Vian sudah lupa. Apalagi kejadian tersebut sudah cukup lama.“Thanks.” Walaupun Vian tidak mengingatnya, Bella tetap mengucapkan terima kasih. Karena Bella sudah berjanji pada dirinya sendiri akan berterima kasih langsung padanya.“Kok tiba-tiba bilang makasih?”“Makasih udah nolongin gue.”“Maksud lo karena gue bantuin lo jadi pacar pura-pura? Kalau soal itu aman.”Bella hanya diam. Sebenarnya Bella ingin memberitahu Vian kalau dia pernah membantu Bella jauh sebelum membantunya menjadi pacar pura-pura demi Alan. Tapi karena Vian sama sekali tidak ingat, Bella mengurungkan niatnya. Kalau Bella memberitahu dan Vian juga masih tidak ingat yang a