“Bagaimana kabarmu?”“Seperti yang kau lihat saat ini, keadaanku cukup baik,” jawab Theodor terdengar ramah dan bersikap seolah tidak pernah terjadi apapun diantara mereka agar Alice tidak terbebani dengan apapun yang terjadi di masa lalu mereka berdua.Alice tersenyum tangannya meremas bawahan meja dengan kuat. “Syukurlah, aku senang mendengarnya,” ucap Alice canggung.“Kenapa kau datang malam-malam ke gereja?”“Aku gelisah dan butuh berdo’a,” jawab Alice pelan.Keduanya terjebak dalam keterdiaman, tidak tahu apa yang harus berbicara apa selanjutnya. Tidak ada sesuatu yang perlu dibicarakan seolah semuanya sudah selesai sampai tidak menyisakan kata.Theodor berdeham memecah keheningan. “Selamat atas pernikahanmu, semoga semuanya berjalan dengan lancar, aku ikut senang akhirnya kau bisa kembali bersama Hayes,” ucap Theodor dengan tulus.Tidak ada sedikitpun penyesalan atas perpisahan yang telah terjadi, Theodor senang jika akhirnya Alice bahagia dan laki-laki yang berada di sampingnya
Suara golden hours piano terdengar, semua mata tertuju pada Theodor yang kini duduk didepan sebuah piano tengah memainkan musik sebagai hadiah pernikahan untuk Alice dan Hayes.Upacara pernikahan sudah berjalan lancar, dan kini semua orang sedang menikmati sore mereka di resort keluarga Borsman yang sudah selesai dibangun. Kini orang-orang berkumpul didepan sebuah kolam renang besar yang mengarah langsung ke arah pantai yang berwarna biru jernih dan pasir putih bersih dimana semua orang bebas berenang di tempat itu.Pesta sederhana yang privat ini hanya dihadiri oleh orang-orang yang dianggap seperti keluarga.Dari kejauhan Damian tidak pernah bosan melihat putranya yang kini banyak tersenyum dan tertawa lepas, berbicara dengan orang-orang disekitarnya yang dipenuhi aura positif. Tidak hanya Hayes yang terlihat bahagia, Alicepun begitu. Sangat memuaskan bisa melihat gadis itu bisa benar-benar tersenyum dengan mata berbinar menunjukan banyak kebahagiaan.Dia tidak lagi dikucilkan, d
Bayangan tubuh Alice dan Eniko yang berdiri terlihat di atas rerumputan hijau, angin bergerak kencang menyapu rambut panjang Alice yang terurai. Alice terus memperhatikan gerak-gerik Eniko yang tidak terbaca.Eniko sangat tenang, anehnya senyuman ramah yang dia tunjukan menciptakan kewaspadaan yang tidak bisa dijelaskan.“Anda ingin berbicara apa?” tanya Alice dengan formal, Alice belum bisa mengetahui seperti apa sifat wanita yang berdiri di hadapannya. Alice tidak ingin cepat menilai, sama seperti yang pernah terjadi padanya dan Bella di masa lalu.Eniko menyampirkan rambut merah berkilaunya di belakang telinga, wanita itu kembali tersenyum tatkala Theodor yang tengah berbicara dengan Hayes dan Aaric, kini memelototi Eniko seakan tengah memberi peringatan agar Eniko berhati-hati dalam bersikap.Betapa lucunya pria itu, Eniko pikir Theodor tidak akan pernah berubah menjadi lebih baik karena tergila-gila pada Vanka. Siapa sangka jika Theodor telah berubah melampaui ekspektasi Eniko.
Langit sudah gelap, pesta sederhana sudah selesai diselenggarakan dan kini semua orang tengah menikmati waktu beristirahat mereka di kamar masing-masing, termasuk tuan rumah pesta.Alice berdiri di depan cermin besar tengah menalikan tali gaun tidurnya, rambutnya yang setengah basah meninggalkan beberapa tetes air dipermukaan kain.Alice sudah kembali lebih awal sejak satu jam yang lalu, dia sengaja memberi Hayes waktu lebih banyak untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Mungkin, sekarang Hayes sudah datang menyusul masuk ke dalam kamar.Suara helaan napas yang berat terdengar dari mulut Alice, beberapa kali dia menampar dan mencubit pipinya yang pucat.Alice menengok ke belakang dengan gugup, memeperhatikan pintu ruangan pakaian yang tertutup rapat.Gugup..Itulah yang Alice rasakan sejak tadi.Alice menelan salivanya dengan kesulitan, kakinya sedikit gemetar lemas karena gugup, dia tahu ini malam pertamanya dengan Hayes, namun Alice bingung harus bertindak apa dan harus b
Alice terengah menatap langit-langit kamar yang terlihat berputar, gadis itu masih terjebak dalam sisa-sisa euphoria percintaannnya.Rambutnya yang panjang terlihat berantakan menempel pada pipinya yang berkeringat dan memerah.Rembulan terlihat di antara kegelapan, bergerak sedikit demi sedikit menuju ke arah barat.Hayes membungkuk mengecup kening Alice sebelum beranjak memungut jubah mandinya yang tergeletak di lantai. Pria itu pergi ke kamar mandi, dan tidak berapa lama setelah itu dia membawa sewadah air hangat dengan handuk.Hayes duduk di sisi ranjang, menyibak selimut yang menutupi tubuh telanjang Alice. “Apa yang kau lakukan?” tanya Alice beringsrut mundur.“Tetaplah diam, aku akan membersihkanmu,” jawab Hayes dengan suara yang lembut, menahan kaki Alice agar tidak merapat.“Aku bisa sendiri Hayes,” tolak Alice, dia malu mendapatkan perlakuan intim seperti ini meski sudah melewatkan sesi percintaan malam pertama mereka.“Diam saja Alice,” jawab Hayes lagi tidak mempedulikan
Satu bulan kemudian..“Kakak sudah siap-siap?” tanya Athur.Alice mengangguk tanpa suara, hari ini dia akan diantar Athur untuk membuat paspor. Setelah menikah kembali dengan Hayes dan mengambil alih tanggung jawab sebagai nyonya Borsman, Alice diharuskan memiliki paspor karena ada beberapa pertemuan yang mengharuskan Alice menemani Hayes pergi keluar kota, hingga luar negeri.Setelah hampir satu bulan lamanya menghabiskan waktu bulan madunya dengan Hayes di Emilia Island, dua hari yang lalu Hayes telah kembali ke kota Andreas. Karena itulah kini Athur yang menemani kakaknya.Athur membungkuk memperhatikan wajah Alice yang terlihat pucat pasi dan lemas. “Kakak kenapa? Kakak terlihat seperti sedang sakit.”“Aku merasa sangat mual dan pusing,” bisik Alice dengan suara yang serak sambil mengusap keningnya dengan pijatan kuat. Beberapa hari terakhir ini Alice sangat lemas dan malas bergerak, dia juga tidak nafsu makan.“Kenapa baru mengatakannya sekarang? Aku akan memberitahu Merry agar d
Senyuman sumringah mengukir bibir Damian, pria paruh baya itu bersedekap memandangi potret photo pernikahan Alice dan Hayes yang kini menghiasi dinding ruangan kerjanya.Damian sudah bisa membayangkan jika Sembilan bulan lagi, akan ada sosok baru yang nanti ikut ke dalam potret dan duduk di pangkuannya.Sekali lagi Damian tersenyum lebar, betapa bahagianya dia hari ini mendapatkan kabar kehamilan Alice.Saking bahagianya Damian dan Hayes hari ini, sepanjang rapat berlangsung mereka berdua saling cekikikan dan berbisik mempertanyakan apa jenis kelamin anak yang dikandung Alice sampai membahas nama yang pantas diberikan.“Aku akan segera menjadi kakek,” cekikik Damian. “Ah, aku hampir lupa.”Damian mengambil handponenya dan mengusap layar, dia harus menyampaikan kabar kehamilan Alice kepada Claud Borman. Seorang penerus baru akan hadir, dan kini semua orang harus menjaga ekstra Alice.Beberapa deringan terdengar, dengan cepat Claud Borsman menerima panggilan dari Damian.“Ada apa Damian
Suara deburan ombak sayup-sayup terdengar, jendela yang terbuka menggerakan gorden putih yang menjuntai ke lantai. Langit yang gelap berubah kebiruan menandakan malam akan segera berakhir.Alice bergerak merasakan hangat dan telapak tangan Hayes yang tidak jauh dari perutnya. Perlahan Alice membuka matanya, pandangannya langsung tertuju pada Hayes yang kini terbaring miring memperhatikan Alice entah sejak kapan. “Kau tidak tidur?” tanya Alice dengan sura serak.“Aku tidak bisa tidur,” bisik Hayes menjawab. Pikiran Hayes sedang berkecamuk, namun berada dalam sesuatu yang baik. Kabar kehamilan Alice masih terasa seperti mimpi untuknya, semuanya terasa mendebarkan, bahagia sekaligus khawatir.Hayes sangat bahagia memikirkan bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.Disisi lain Hayes tidak bisa berhenti memikirkan kondisi Alice yang baru pulih. Bagaimana jika Alice terbebani dan kembali sakit karena kehamilannya?“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Alice tidak dapat menaha
Satu menit..Dua menit..Tiga menit telah berlalu, masih tidak ada yang berbicara di antara mereka berdua, keduanya terjebak dalam diam, memandangi lautan yang terlihat lebih tenang dari biasanya.Tangan Alice terkepal meremas permukaan pakaiannya, jika tidak ada yang memulai pembicaraan, Alice akan terjebak lebih lama disini.Beberapa kali Alice menarik napasnya untuk mengumpulkan sebuah keberanian untuk memulai percakapan. “Bagaimana kabar Anda?” tanya Alice.Claud menggenggam kuat ujung tongkatnya, wajahnya bergerak ke sisi untuk melihat keberadaan Alice, bola mata Claud bergerak turun melirik perut Alice yang cukup besar meski usia kandungannya masih muda. Tubuh Alice yang pulih masih cukup terlihat sangat kecil, pasti akan sulit untuknya bergerak saat usia kandungannya mulai menginjak lima bulan.“Berapa usiamu?” Claud balik bertanya.Pandangan mereka saling bertemu, Alice tenggelam dalam sorot mata Claud Borsman yang pekat. Alice sudah terbiasa hidup dikelilingi orang-orang yan
Tangisan Eniko kian kencang, hatinya terguncang hebat oleh kata-kata yang tidak pernah sekalipun dia harapkan akan terucap dari mulut Theodor. Hidup Eniko berubah hanya dalam semalam, hatinya hancur seolah dunia disekitarnya runtuh tinggal debu. Eniko tidak pernah seputus asa ini dalam hidupnya hingga dia tidak dapat melihat masa depan lagi.Eniko malu bila terus egois mengikuti kata hatinya untuk tetap mengejar Theodor. Pria itu pantas mendapatkan wanita yang sebanding dengannya, Eniko tidak ingin keberadaannya membuat Theodor malu.“Menangislah sampai semua sesak didadamu berkurang,” nasihat Theodor terdengar sedikit canggung. Ini untuk pertama kalinya dia melihat Eniko menangis, memeluknya lebih dulu dan ini untuk pertama kalinya.Menyadari situasi yang kini tengah tidak begitu baik, perawat yang mengurus Eniko memilih mundur secara perlahan dan pergi meninggalkan ruangan untuk memberi mereka waktu luang.Ruangan itu kini hanya terdengar tangisan dan pelukan hangat Theodor yang sec
Theodor mengusapkan telapak tangannya pada sisi celana, menyingkirkan keringat dingin yang mengganggunya. Dia gugup tanpa asalan, beberapa kali dia harus menarik napasnya agar mendapatkan sedikit ketenangan sebelum mengetuk pintu dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan tempat Eniko dirawat.Dua langkah Theodor memasuki ruangan, pandangan Theodor langsung tertuju pada Eniko yang tengah duduk di ranjangnya, wanita itu memandangi jendela di depannya.Theodor melangkah dengan hati-hati sampai pada akhirnya Eniko menengok ke arahnya dan mereka terjebak dalam diam saling memandang satu sama lainnya.Napas Theodor tertahan di dada, melihat sisi wajah Eniko yang bengkak dan memiliki lebam cukup pekat hingga menghabiskan separuh wajah cantiknya, tangannya tepasang infusan dan dia mengenakan pakaian pasien.Mungkin butuh waktu beberapa hari agar lebam itu menghilang dari wajahnya.Dengan langkah yang berat Theodor mendekat dan berdiri di sisi Eniko yang tidak dapat mengalihkan pandan
“Mengapa Ayah membawanya kesini? Ayah tahu kan jika aku sangat membencinya.”“Aku juga tidak memiliki alasan apapun untuk dikatakan,” jawab Damian pelan.Damian tidak mengerti dengan alasan Claud yang mau datang menemui Alice, tidak seperti biasanya dia tertarik pada hal yang tidak menguntungkan. Anehnya, ada sesuatu yang tidak biasa dari Claud Borsman tunjukan, sepanjang perjalanan menuju Emilia Island, Claud hanya menanyakan kesehatan Hayes dan Alice, dia tidak membahas bisnis apapun.Hayes menghisap rokoknya, kepulan asap terlihat bergerak keluar dari mulutnya. Suasana hati Hayes telah dirusak oleh keberadaan Claud Borsman. “Jangan pernah coba-coba untuk mendamaikan aku dengannya, sekeras apapun Ayah berusaha, itu tidak akan berhasil,” peringat Hayes.“Aku tidak akan pernah memaksamu untuk memaafkan kesalahannya Hayes,” jawab Damian dengan nada menggantung. Dalam satu tarikan napas panjangnya Damian kembali berkata, “Hayes, selama ini, sebelum kau mengetahui kebenaran siapa diri
Wajah Claud Borsman berubah pucat, terkejut oleh sesuatu pertanyaan yang tidak pernah dia sangka. Claud Borsman terdiam membungkam kehilangan kata-kata untuk menjawab.Terlahir dari kelas bangsawan membuat Claud Borsman tebiasa dilayani dalam setiap hal, terbiasa menerima rasa hormat dari orang lain yang membangun jiwa angkuh di dalam dirinya.Keangkuhan itu membuat Claud Borsman tidak pernah meminta maaf dan bebas bertindak semaunya tanpa peduli itu benar atau salah, Claud Borsman tumbuh tanpa rasa penyesalan disetiap tindakan yang diambilnya karena dia menganggap setiap manusia yang terlibat dalam hidupnya sebatas objek sesaat.Claud Borsman sendiri tidak pernah tersinggung dengan kritikan tajam siapapun, dia terus berjalan di jalan yang menurutnya benar tidak peduli dengan halangan siapapun, karena siapapun yang berani menghalangi jalannya, Claud Borsman akan menyingkirkannya.Sekarang Hayes menutut maaf darinya?Apakah Claud Borsman bisa melakukannya? Apakah permintaan maaf akan s
“Sepertinya paman Damian sudah datang,” gumam Athur melihat sebuah mobil khusus telah terparkir di depan salah satu parkiran khusus resort.Athur menepikan mobilnya ke sisi. “Aku harus pergi memeriksa restaurant dulu.”Alice mengangguk dengan senyuman, gadis itu bergeser dan melangkah keluar ketika pintu disisinya sudah dibukakan oleh Hayes. Sementara Athur memutar balik mobilnya dan pergi meninggalkan tempat.Alice dan Hayes memasuki resort, sempat Hayes menanyakan kedatangan Damian dan menanyakan keberadaannya saat ini kepada seseorang yang menyambut.Resort yang dibangun sekitar satu tahun lalu itu akan segera diresmikan dalam waktu dekat karena pembangunan yang masih berjalan membutuhkan waktu satu tahun lagi.Jarang sekali mereka datang ke tempat ini meski sudah beberapa kamar yang tersedia, Alice dan Hayes lebih suka menghabiskan waktu mereka berdua di paviliun menjalani kehidupan yang sederhana. Hayes sesekali datang ke tempat ini untuk melakukan pertemuan dengan beberapa rekan
Gelombang ombak menari-nari dibawah langit sore yang cerah, permukaan laut terlihat indah dilukis bayangan cahaya matahari sore, sapuan angin membelai pipi, suara burung terdengar bernyanyi di udara dan bibir pantai.Bayangan lumba-lumba yang tengah berenang terlihat dibawah permukaan air, suaranya terdengar di antara gemuruh air, mereka berenang dengan cepat dan sesekali melompat, cipratan air menyentuh ujung permukaan yachts.Alice beranjak dari duduknya dan mendekat pagar untuk melihat mereka lebih dekat. Alice tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, pemandangan indah ini masih terasa seperti mimpi untuk Alice meski dia sudah tinggal di Emilia Island lebih dari setengah tahun lamanya.Pulau ini sangat indah seperti negeri dongeng, terkadang keindahannya seperti sesuatu yang mustahil benar-benar ada di dunia nyata.Emilia Island dimiliki seorang salah satu miliarder negeri ini sekaligus salah satu anggota kerajaan, orang itu bernama Julian Giedon, dulu pulau ini hutan belantara sel
“Pak Damian,” panggil Duma memasuki ruangan Damian dan mendapatinya tengah berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang harus dikerjakan besok akan diselesaikan hari ini juga.Damian tidak sabar ingin pergi ke Emilia Island dan berkumpul dengan keluarganya untuk merayakan kabar cucu kembarnya yang kini masih berada dalam kandungan Alice.Damian berencana untuk pergi meninggalkan kantor pusat selama dua hari dan menghabiskan waktunya bersama Alice juga Hayes.Damian tidak ingin kehilangan setiap moment perkembangan cucunya yang sangan dia nantikan.Usia Damian sudah menginjak enam puluh tahun, dan meski dia sudah menikah, namun Damian tidak pernah sekalipun mengalami fase dimana dia mendampingi seseorang yang mengandung hingga melahirkan dan merawatnya sampai tumbuh besar.Meski Damian menikahi Ivana dan menjadi ayah untuk Hayes, namun itu dilakukan sejak Hayes akan memasuki bangku taman kanak-kanak.Itupun, butuh proses yang sangat lama bagi Damian bisa menyayangi Hayes setelah dia tahu Ha
Seikat bunga mawar kuning berada dalam genggaman, Theodor berdiri dalam ketegangan menatap dua pintu besar di hadapannya yang terjaga oleh dua orang tentara.Kapan terakhir kali Theodor datang ke rumah Eniko? Sepertinya saat dia masih berada di bangku sekolah dasar. Saat itu Theodor menghadiri pesta ulang tahun Eniko yang ke lima, sejak malam pesta ulang tahun itu, Theodor tidak pernah lagi mau datang ke rumah Eniko karena sebuah alasan yang kuat. Theodor masih ingat ada sebuah kejadian memalukan yang dia alami ditengah pesta karena Eniko. Eniko mengajaknya pergi berdansa, karena Theodor mengantuk dan menolak keinginannya, Eniko menggigit pipinya sampai Theodor menangis hingga menjadi tontonan banyak orang.Bila ingat-ingat lagi, Theodor tidak memiliki kenangan baik setiap kali bersma Eniko. Eniko selalu saja menciptakan warna kacau dalam hidup Theodor.Sangat menyebalkannya lagi Theodor tidak bisa berbicara kasar ataupun melakukan sedikit kekerasaan karena Eniko seorang perempuan.