Semua Bab Ketika Mantan Menjadi Ibu Susu: Bab 21 - Bab 30

47 Bab

21. Tiba-Tiba Richard Mendengar...

Di ruang keluarga, Richard duduk bersama dengan Kay dan Jenna yang sedang menggendong Albern. “Papa tidak menyangka Albern bisa akrab dengan Tantenya,” ucap Richard. Sejak tadi, Kay juga sedang memperhatikan Albern yang betah dengan Jenna. Entah apa yang ada di pikirannya sampai membuatnya melamun. “Kay?” sapa Richard, menepuk bahu Kay, menariknya dari lamunan. “Ah iya, Pa. Mungkin Albern tahu kalau Tante Jennanya dekat dengan Mamanya,” jawab Kay. Richard tersenyum. “Jadi, Jenna akan tinggal di sini. Dia ingin belajar bisnis dan perusahaan. Boleh kan?” tanyanya. “Oh ya ya boleh Pa, kenapa tidak?” jawab Kay. “Benar boleh Kak Kay? Wah! Terima kasih banyak! Aku akan sangat betah di sini karena ada Albern!” Jenna terlihat masih gemas dengan Albern. “Bagus kalau begitu!” ucap Richard. “Nanti Bibi akan menyiapkan kamar untukmu,” ucap Kay pada Jenna. “Terima kasih Om, Kak Kay!” Harusnya Livy tidak perlu menguping pembahasan mereka. Tetapi, entah kenapa hatinya tidak tenang setelah
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya

22. Masuk ke Kamar Livy

Livy langsung mengusap pipinya. “Tidak… Bukan apa-apa, Tuan.”Merry pun ikut bingung. Dia tidak berani menjawab hal yang menyangkut masalah pribadi Livy.“Saya mendengar kalian menyebut-nyebut karma, ada apa sebenarnya? Siapa yang sedang mendapat karma?” Richard masih bersikeras ingin tahu perbincangan mereka.“Tuan… Tuan butuh apa sampai harus datang sendiri ke dapur? Biar saya bantu,” ucap Livy, mengalihkan pertanyaan Richard padanya.“Ibu Livy… Kamu itu Ibu Susu Cucu saya. Saya sangat menghargai jasa Ibu Livy. Kalau Ibu Livy memang ada masalah, kenapa tidak beritahu saya ataupun Kay, kami pasti akan bantu. Bantuan kami pun tidak akan setimpal dengan jasa yang Ibu berikan untuk Cucu saya,” jelas Richard, yang begitu baik dan tulus.“Tuan… maaf, tapi bagaimana saya harus menceritakannya. Ini hanya soal masa lalu saya.” Livy mencoba tersenyum agar Richard tidak mendesaknya untuk menceritakan yang sebenarnya. Dia pun segan pada orang tua tersebut, yang pertanyaannya harus terus dia ali
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-09
Baca selengkapnya

23. Kay Gelagapan

“Ke- kenapa Nyonya bertanya seperti itu?” tanya Livy, menunjukkan wajah polos, untuk meyakinkan bahwa dia dan Kay tidak memiliki hubungan apa-apa.“Kau jangan berbohong! Aku tahu Kak Kay baru saja dari kamarmu! Apa selain menjadi Ibu Susu, menjadi pembantu, kau juga berusaha menjadi pengganti istrinya?” tuduh Jenna.“Astaga! Kenapa Nyonya bisa berpikiran seperti itu? Tu- Tuan Kay tidak mungkin melirik wanita rendah seperti saya, Nyonya.”“Tapi dia baru saja dari kamarmu kan?!” “Ya, Tu- Tuan Kay menegur saya karena saya membuat kesalahan,” jelas Livy.Jenna melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya pada Livy penuh kecurigaan.“Untuk sekelas pembantu, kamu masih lumayan cantik. Kalau sampai kau ada niat untuk genit pada Kak Kay, kau akan berhadapan denganku!” gumam Jenna.Livy mengangkat wajahnya. Ia memberanikan diri menantang wajah wanita yang baru datang tersebut. “Nyonya… Saya tidak tahu kenapa Nyonya Jenna berpikiran seperti itu. Pertama, Tuan Kay tidak mungkin akan menyuk
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-09
Baca selengkapnya

24. Permintaan Richard pada Livy

“Ti- tidak. Hubungan apa, Pa?” tanya Kay, mencoba membuat dirinya bingung dengan pertanyaan Richard. “Kau terlihat seemosi itu, Kay. Seperti ada hal lain yang membuatmu sangat membenci Ibu Susu Albern. Ingat… kalau dia tidak ada, aku tidak tahu bagaimana nasib cucuku,” jelas Richard. “A- aku hanya terbawa emosi, Pa. Aku berpikir dia tidak sepenuh hati lagi karena ada Jenna yang ingin menjaga Albern,” jelas Kay, memberikan alasan. “Tapi benar, Om. Ibu Susu Albern bohong. Aku tidak merebut Albern sama sekali. Sewaktu aku datang ke kamar, Albern memang tidak sedang menyusu. Dia menawarkan Albern untuk ku gendong, jelas aku terima. Aku sangat sayang pada Albern,” jelas Jenna. “Tapi tetap, kau harus kontrol emosimu pada Ibu Susu Albern, Kay. Kalau dia sampai stres, nanti dia sulit menyusui Albern. Dan… biasakan untuk tidak membentak di hadapan Albern,” pesan Richard. Kay mengatur emosinya. Dia menunduk. “Maaf Pa, ya aku akan lebih mengontrol emosiku lagi,” ucap Kay. Jenna menyentuh b
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-10
Baca selengkapnya

25. Langsung Tunangan

Livy bisa saja melupakan perasaannya pada Kay yang selama ini harus dikorbankannya. Dia bisa menyimpan semua kebenaran yang tak perlu lagi untuk Kay ketahui. Tapi bagaimana dengan Albern? Bisakah Livy melupakannya kelak? Bayi mungil itu sudah mengobati rasa kehilangannya pada Fabian. Lalu bagaimana jika Albern mendapatkan ibu pengganti yang tidak benar-benar tulus? Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu… Sebentar lagi Albern akan genap berusia satu tahun. Albern tumbuh menjadi anak yang aktif, cerdas dan cepat berkembang. Dia bahkan sudah bisa menyebutkan ‘Papa’ dan ‘Mama’ dengan jelas. Artinya tidak terasa pula, sudah sepuluh bulan Livy menjadi ibu susu Albern. Ia menjadi saksi perkembangan anak susunya tersebut. Dia yang paling tahu. Mulai dari awal MPASI, awal berbicara, tumbuh gigi, mampu berdiri, hingga hal terhebat yaitu mulai bisa melangkah. Semua proses itu Livy nikmati walau sering membuatnya teringat pada Fabian. ‘Andai anakku masih ada, dia pasti sudah bisa berlari kecil
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

26. Livy Terkejut dan Gelagapan

“Bagus kalau begitu! Papa akan atur semuanya.” Richard bahagia melihat menantunya akan bersama dengan keponakannya. Jenna akan menjadi Ibu Pengganti yang baik untuk cucunya. Dia percaya itu. Livy berlalu, membawa semua mainan Albern untuk disimpan ke kamarnya. “Ibu Livy?” panggil Richard. Langkah Livy terhenti. “Ya, Tuan?” sahutnya. Kay menatap Livy dengan tatapan yang dingin. Sebagaimana dia biasa menatap wanita itu penuh kebencian. “Di acara ulang tahun Albern yang akan diadakan di kantor nanti, sekaligus pertunangan Kay dan Jenna, kamu harus ikut ya?” pinta Richard. Kay tidak menyangka kalau ayah mertuanya akan meminta wanita yang dibencinya itu untuk hadir. “Pah? Kenapa harus?” tanya Kay. Jenna pun menolak di dalam hati. Livy hanya menunduk dan diam. “Itu pertama kalinya Albern bertemu banyak orang. Siapa tahu dia tidak nyaman. Siapa tahu dia takut. Jadi, kalau ada Ibu Susunya, setidaknya Albern bisa tenang,” jelas Richard. Kay menatap Livy. Dia seakan lupa kalau wanita
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

27. Semuanya Gelap

“Tu- Tuan…” Livy berdiri dan menunduk di hadapan Kay. “Apa yang baru saja kau katakan ha?!” tanya Kay geram, menahan suaranya. Ia melihat Albern yang sedang tidur. “Ma- maaf, Tuan!” Kali ini Livy tidak bisa membela dirinya sendiri. Dia tidak bisa berkilah. Jika dia menjelaskan perasaannya tentang Jenna, sudah pasti dia akan semakin salah. “Sus Merry, tetap di sini jaga Albern!” titah Kay. Merry yang sudah ketakutan, hanya bisa mengangguk dalam tunduknya. “Baik Tuan,” sahutnya. Lalu Kay menatap Livy tajam dengan mata elangnya. Dia menunjuk wajah Livy dengan tegas. “Dan kau! Ikut denganku sekarang!” ucapnya geram. Livy mengikuti Kay yang berjalan cepat menuju kamarnya, di belakang dapur. Pria tinggi tegap nan arogan itu memastikan tidak ada yang melihatnya bersama Livy. Sesampainya di kamar Livy, Kay membuka pintu itu dengan kasar. Dia menangkap leher Livy. “Apa yang kau katakan tadi ha?!” bentaknya, meluapkan amarah yang dia pendam saat di kamar anaknya. “A- aku tidak bermaksud
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

28. Tidak Bisa Mengurus Lagi

“Ibu Livy…” Merry menyapa Livy yang baru saja terjaga dari pingsannya. Livy memegang kepalanya yang terasa berat. “Sus? Albern mana?” tanyanya. Wajah Merry begitu khawatir dan prihatin pada Livy. “Albern di kamarnya, Bu. Dia baik…” lirih Livy. “Ibu istirahat dulu, ya?” bujuknya. Livy terdiam. Tatapannya sayu cenderung kosong. “Bu… Apa yang sudah Tuan Kay lakukan pada Ibu sampai Ibu pingsan?” tanya Merry, memelankan suaranya. Dia begitu hati-hati. Livy mengingat apa yang baru saja terjadi. Dia menggeleng. “Tidak Sus,” jawabnya lemah. “Dia tidak melakukan apa-apa,” jawabnya. “Tapi, kenapa Ibu sampai pingsan? Tuhan… aku kasihan sekali pada Ibu,” ringis Merry. “Aku baik, Sus.” Livy meyakinkan. Merry menghela napas panjang. Dia mengusap bahu Livy. Richard dan Kay datang ke kamar Livy setelah berbicara dengan dokter yang memeriksa Livy di ruang tengah. “Ibu Livy? Bagaimana keadaannya?” tanya Richard. “Baik Tuan…” jawab Livy, yang masih berbaring di kasurnya. Dia pun mencoba bangk
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

29. Sebuah Cincin

Lagi dan lagi yang salah adalah Livy. Jenna tersenyum puas di dalam hati. Mendengar tanggapan Kay tentang Livy, benar-benar membuatnya merasa aman. Kebencian Kay pada wanita di masa lalunya itu harus terus berlanjut. Agar dia bisa menjadi ibu pengganti untuk Albern. “Ah, jangan berkata seperti itu Kak Kay. Mungkin karena Ibu Livy kurang sehat jadinya dia kurang fokus. Selama ini, berbulan-bulan Ibu Livy sangat tulus kan menjaga dan merawat Albern?” bela Jenna. Merry terdiam. Dia tidak bisa menebak jalan pikiran wanita itu. Benar-benar cerdas mencari muka! “Ya betul Kay. Bukan salah Livy. Mungkin karena dia kurang sehat saja,” tambah Richard. “Ya sudah, kamu buat makanan baru untuk Albern ya?” ucap Richard menatap Merry. Merry mengangguk. “Siap, baik Tuan!” Tiba-tiba ART datang ke kamar itu. “Ada tamu, Tuan! Katanya dari butik—” “Ohh ya?! Itu pasti mau membahas pakaian untuk ulang tahun Albern nanti!” sambar Jenna semangat. “Kak Kay, itu pasti designer-nya. Dia berjanji akan me
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

30. Hasrat yang Semakin Tinggi

Sedetik Kay menelan ludah saat mendengar penjelasan Livy. Namun detik berikutnya dia malah semakin geram melihat Livy. “Cukup! Aku muak dengan drama dan kepura-puraanmu ini!” ucapnya geram dan menunjukkan tatapan yang benar-benar muak pada Livy. Livy menghela napas, untuk melegakan dadanya yang terasa sesak. “Aku tahu Tuan tidak akan percaya,” lirihnya. “Hanya pria bodoh yang mau percaya pada Wanita ular sepertimu!” Livy mengusap pipinya dengan punggung tangannya. Dia masih menggenggam erat cincin itu. Kay memperbaiki posisi duduknya agar lebih tegap. Wajahnya yang arogan, mata elangnya yang tajam, terlihat sedang memikirkan kalimat menyakitkan apa lagi yang akan dia ucapkan. “Ya, tapi nyatanya aku pernah sebodoh itu. Hanya karena aku orang pertama yang menyentuh tubuhmu, aku pikir kau benar-benar tulus. Ternyata kau hanya membuatku jadi pelampiasan nafsumu yang besar itu! Seorang putri yang hidup dengan kekayaan, keluarga yang sibuk dengan politik, bisnis dan punya kekuasaan, s
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status