Semua Bab MBOK JAMU SEKSI: Bab 21 - Bab 30

47 Bab

Luluh Lantah

Semua pedagang di pasar kompak bergerak menghadapi petugas yang sudah bersiap menggusur lapak jualan Mereka.Marni berdiri di dekat Bude Sri berada diposisi belakang.Kaum Pria dan Ibu-Ibu berada di garda terdepan membentuk blokade menghalangi alat berat yang akan mulai dioperasikan."Kami tidak akan meninggalkan lapak dimana selama ini Kami mencari nafkah!""Kami semua memiliki bukti pembelian dan hak guna bangunan yang Sah!"Para pedagang saling menyuarakan aspirasi Mereka dan menentang keras petugas yang akan melakukan eksekusi."Kami hanya menjalankan perintah berdasarkan surat yang Kami terima. Selebihnya Bapak dan Ibu silahkan komplain kepada pihak yang terkait."Nyatanya petugas yang dikerahkan melibatkan banyak personil hingga akhirnya bagian depan hingga tengah mau tidak mau dieksekusi.Lapak yang ditempati Marnipun terkena eksekusi sedangkan barisan milik Bude Sri belum.Sedih.Marni yang baru saja memulai usaha tentu merasakan kesedihan yang dalam.Harapan dan Mimpi Marni s
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

Gak Ada Bibit Pelakor

"Nah ini rumahnya." Mpok Leha menunjukkan rumah kontrakan yang tadi Mereka sepakati."Loh, Loh, Leha. Ini Rumah? Bukannya petakan ya?" Bude Sri celingak celinguk melihat sekitar dan tak ada petakan."Mpok Leha, ga salah kan? Saking kebanyakan kontrakan ya sampe bingung? Mana petakannya?" kini Marni yang tak kalah bingung."Ampun dah ni orang ya! Emang ini yang Babeh maksud. Udah, tadi kan udah deal! Masuk yuk! Lihat-lihat, Kan mesti di benahin, maklum udah agak lama kosong nih! Banyak debu pasti!" Mpok Leha membuka gembok dan kini terlihat rumah sederhana dengan teras luas namun terlihat sudah lama sekali tak diurus.Marni dan Bude Sri saling tatap. Mau bingung tapi ini kenyataan."Ayo Bude, Kita masuk." Marni kini menuntun Bude Sri memulai langkah agar yakin bahwa ini nyata bukan mimpi."Maaf ye, maklum udah lama kosong. Tahu sendiri si Babeh iseng dikit beli rumah. Ujung-ujungnye ga keurus. Lah Gua kagak boleh ninggalin die, kudu tinggal bareng die sama Bang Udin."Marni melihat rum
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

Keliling Lagi

"Ndok, Kamu keliling jam berapa?" Sambil mempersiapkan warung sayurannya yang kini sedang ia tata letaknya."Jam enaman Bude. Bude udah beres? Mau buka sekarang?""Iya, biasanya kali pagi begini banyak yang mau buat sarapan jadi cari sayuran. Semoga saja ada milik rezekinya ya Ndok.""Aamiin Bude. Saling mendoakan ya, agar Marni dan Bude jualannya laris manis.""Aamiin Gusti Allah. Kabul doanya Marni.""Ya sudah, Marni keliling dulu yw Bude. Assalamualaikum." Marni pamit sambil mencium tangan Bude Sri.Udara pagi begitu segar langit mulai sedikit demi sedikit meninggalkan awan berganti secercah sinar mentari yang mulai menyapa bumi."Jamu, Jamu, Jamune Mas, Mbak, Jamu, Jamu!" Merdu alunan suara Marni membuat yang mendengar penasaran hingga menengok siapa gerangan penjual Jamu yang suaranya masih asing di daerah itu.Marni membalas senyum saat melintasi beberapa penduduk yang melihatnya datar bahkan ada yang seolah menelisik dari atas hingga bawah.Sudah biasa bagi Marni jika kaum pere
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya

Stigma Negatif

Marni mengucap salam saat memasuki rumah. Terlihat Bude Sri sedang membereskan dagangannya yang sudah tinggal sedikit."Laris Bude?" Marni mencium tangan Bude Sri melihat meja yang tadinya penuh berisi sayur mayur terlihat tinggal sisa-sisa saja. "Alhamdulillah. Kamu juga, Jamune habis Ndok?""Alhamdulillah Bude. Tadi awalnya masih cari pembeli, alhamdulillah, pas lewat sekolah TK yang ada di ujung jalan ramai dibeli Ibu-Ibu tang lagi nunggu anaknya.""Matur suwon Gusti Allah, hari ini Kami ketiban rezeki. Semoga setiap hari jualan Kami laris manis.""Aamiin.""Ndok, wis mangan urung? Bude tadi masak sop. Yuk makan.""Iya Bude. Udah laper juga.""Biar Marni saja yang cuci piring Bude. Bude sudah capek masak sama jualan."Saat keduanya selesai makan, terdengar suara salam dari luar rumah."Biar Bude saja yang keluar."Bude Sri menuju kekuar membuka pintu menyambut tamu yang datang."Ini, Bu Sri ya, Budenya Mbak Marni?" Perkenalkan Saya Sudarmi, Bu RT disini. Dan ini Bu Minto Bendahara
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya

Ribut

"Bude, Marni keliling dulu ya. Oh ya, nanti sekalian Marni mau kepasar. Belanja dagangan sama mau tahu kabar terbaru gimana kelanjutannya soal penggusuran.""Kamu hati-hati Ndok. Jangan terpancing emosi saja. Lihat situasi ya. Bude sih sudah ikhlas kalau memang ga ada penggantian apa-apa. Walau nyesek juga dihati, dulu belinya duite boleh kumpul-kumpulin dikit-dikit, tapi yowes mungkin sudah selesai rezekinya sampai sini.""Sudah Bude. Nanti kalo dipikirin lagi malah jadi sakit hati. Tapi Marni tetep sama-sama dengan penjual lain yang mau berjuang agar paling tidak Bude dapat uang penggantian. Udah ada Marni yang urus.""Iya Ndok. Bude ikut gimana baiknya saja. Oh ya Ndok kalau ketemu Si Iwan di pasar bilang besok Bude mulai ambil ikan basahnya. Bikin setengah kiloan saja sekantong. Ibu-Ibu sini pada nanyain kemarin pas belanja sayur. Gak usah banyak Kembung, Mujair, sama Nila saja dulu, masing-masing sekilo dibuat per dua kantong.""Iya Bude, nanti Marni ke Pakde Iwan. Bude Titi juga
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Dua Penguasa

Rasa penasaran Marni semakin menjadi, "Lu mau kemana Marni! Udah diem disini! Orang lagi pade panas ntar Lu kena sasaran!""Saya penasaran Pak!" Tak bisa diam saja, Marni memilih melihat lebih dekat mendengarkan apa yang sedang menjadi sengketa antara kedua orang berpengaruh yang selama ini dikenal menjadi penguasa pasar."Jadi Lu juga ga tahu siapa yang bikin Lu celaka begitu?""Gua pikir kerjaan Lu bikin rem mobil Gua blong biar Gua celaka?""Walaupun Gua ada niat begitu, tapi Gua ga mau pake cara kotor begitu! Lagian Siapa juga yang mau nyelakain orang terus Gua sendiri juga hampir mati."Babeh Ali dan Juragan Basir sama-sama bingung, bagaimana Mereka berdua menjadi korban oleh entah siapa yang berniat jahat kepada keduanya."Nah terus Lu kesini ngapain?""Ada yang minta Gua dateng! Gua pikir Lu mau nantangin Gua!""Ngak penting amat Gua nantangin Lu!"Marni masih setia menyaksikan dua pria paruh baya yang masih adu urat tampak diselimuti emosi."Liat! Siapa tuh! Buset dah! Mobilny
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Bukan Maksud Menutupi

"Oh iya Ndok, di pasar ada kabar apa?"Marni seketika berhenti, sendok ditangannya mengambang diudara tak lagi melanjutkan suapan yang mulai hilang selera.Marni sendiri bingung harus memulai cerita darimana.Semua terlalu cepat dan masih abu-abu."Ndok, Loh Kamu kok ngelamun? Makanmu juga ga dihabiskan." Bude Sri melihat perubahan rona wajah Marni.Sekilas, Marni melihat wajah tua dihadapannya yang tulus berhati baik padahal bukan siapa-siapa namun kebaikan dan ketulusan Bude Sri membuat Marni tak tega menyampaikan hal-hal yang mungkin saja menambah beban pikiran wanita paruh baya dihadapannya yang sudah Marni anggap selayaknya orang tuanya sendiri."Iya Bude. Ini Marni lanjutkan." Marni kembali menyuap nasi yang kini sudah terasa hambar. Bukan karena rasa masakannya yang berubah namun suasana hati Marni yang membuatnya tak lagi sama."Ndok, hari ini pembeli sayur semakin banyak. Mereka tahu warung sayur Bude katanya dari mulut ke mulut. Bude bersyukur sekali Gusti Allah tak lepas Ki
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-16
Baca selengkapnya

Jamu Anti Gayung Lope

"Jamu, Jamu! Jamune Bu, Pak, Jamu, Jamu! Jamune Mas, Mbak!" Marni dengan suara mendayu penuh semangat menebar senyum menawarkan Jamu kepada siapa saja yang ia temui."Jamu Bu?" Marni menawarkan Jamu kepada sekelompok Ibu-Ibu yang sedang berkumpul.Marni melihat kelompok Ubu-Ibu muda dengan dandanan menor namun berhijab pasmina cekek leher kekinian.Penampilan wah tapi bukan branded hanya saja sesikit mencolok dengan kacamata hitam, alis sulaman, eyelash dan jangan lupa nail art menjadi ciri khas geng yang entah apa namanya Marni sebutkan."Jamune Mbak," Marni dengan ramah menawarkan. Sedikit merubah panggilan dari Ibu menjadi Mbak dengan harapan sang calon pembeli tertarik."Eh Guys, minum Jamu aja yuk!" Salah seorang perempuan yang terlihat paling heboh dandanannya kemudian diikuti oleh teman-temannya yang lain."Mbak Jamu ya." Bagai koloni lebah satu duduk semua pengikutnya ikut duduk.Marni kini dikelilingi kawanan mamah muda dengan penampilan wah namun banyak barang KW disana-sini
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-16
Baca selengkapnya

Kesepakatan

"Assalamualaikum.""Waalaikumsalam."Wajah Marni yang biasanya cerah ceria kini menekuk bagai dompet akhir bukan belum gajian."Loh, Ndok, kenapa, merengut begitu. Lah ini kok wes basah semua pakaianmu?" Bude Sri dibuat kebingungan melihat pakaian Marni basah mana kotor sana sini. Berangkat masih rapi, bersih dan wangi, malah pulang-pulang belepotan seperti kecebur kubangan."Ada yang bawa mibilnya sambil mules kali Bude. Marni tak mandi dulu. Bude jadi kan mau diantar ke pasar?""Jadi Ndok. Tapi Kamu rapopo? Ga ketabrakkan? Ga ada yang luka?" Saking khawatirnya Bude Sri sampai membalik tubuh Marni agar bisa melihat dengan teliti aoakah Marni baik-baik saja selain belepotan dan basah."Aku rapopo Bude. Kalo gitu Marni mandi dulu ya Bude. Sama ini bajunya mau sekalian direndem dulu biar wangi, ini bau got begini.""Yowes, Bude juga mau dzuhuran dulu. Kamu sekalian dzuhuran ya Ndok. Jadi tenang takutnya lama di pasar."Marni mengangguk seiring langkah kakinya menuju kamar mengambil ha
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Mengantar Pulang

"Gimana Bude kerasan gak tinggal ditempat sekarang?" Mpok Leha mana betah berdiam diri saja saat mobil melaju.Babeh Ali melirik kearah spion tengah melihat ekspresi Marni.Ternyata disaat yang sama Marnipun sedang melihat ke spion hingga keduanya sama-sama berpaling.Marni selalu saja canggung bila bertemu tatap dengan Babeh Ali. Begitupun sebaliknya. Namun keduanya memasrikan bukan karna ada getar-getar cinta entah apa tak tahu bagaimana mendefinisikannya."Alhamdulillah, betah. Warung Bude juga laris manis Leha. Makasi Babeh Ali yang sudah mengizinkan Kami ngontrak disana."Terlihat Babeh Ali menganggykan kepala meski tatapan mata sesekali masih mencuri pandang pada spion tengah sedangkan Marni antisipasi memilih melihat keluar mobil melalui kaca jendela."Mar, besok Lu anterin Bude Sri ke pasar lagi. Besok udah bisa mulai urus-urus duit penggantian gusuran lapak. Iya kan Beh?" Kini Mpok Leha melihat Babehnya dari spion tengah."Hem." Singkat saja jawaban Babeh Ali."Babeh Saya mau
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status