All Chapters of Kebangkitan Istri yang Kau Khianati: Chapter 31 - Chapter 40

52 Chapters

31 - Sang Pewaris

JGER!Gemuruh petir terdengar begitu keras, mengejutkan Putra yang tertidur di jok pengemudi.Napas pria itu terengah-engah saat terbangun dari mimpinya.“Astaga…” Putra menghela napas panjang sambil menyugar rambutnya. Pikirannya lantas dipenuhi oleh wajah Hanna.Wajah Hanna yang ketakutan sewaktu tertangkap basah. Suara Hanna yang terdengar begitu ketakutan…‘Tidak mungkin pelakunya Hanna,’ batin Putra. ‘Semua itu hanya mimpi. Hanna sudah mati.’Kemudian Putra menoleh ke samping dan tak menemukan istrinya di jok penumpang.Di luar angin berembus kencang dengan petir yang menyambar-nya
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more

32 - Hanna Kembali

DUA TAHUN KEMUDIANMarcella tak bisa menahan senyum yang mengembang begitu saja di wajahnya.Di salah satu halaman buletin bulanan perusahaan, terpampang fotonya dengan jabatan baru yang mentereng, manajer marketing.Dalam dua tahun terakhir karir wanita itu memang melejit pesat. Setiap ide campaign-nya selalu berjalan sukses.Dia berhasil membungkam orang-orang yang meremehkannya dan pada akhirnya mendapatkan promosi kenaikan jabatan–hal begitu dia idamkan sejak dulu.“Hah…” Tubuh Marcella berputar di kursi kulit yang empuk, sambil melempar pandangannya ke setiap sudut ruangan barunya.Dia sengaja mendesain ruangan ini dengan warna-warna pastel yang hanga
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

33 - Penyangkalan Marcella

Saking terkejutnya, Marcella sampai tak bisa berkata-kata.‘Ha-Hanna… dia Hanna?!’ pekiknya dalam hati. Mata Marcella mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa dia tak berhalusinasi.‘Atau ini mimpi?’ pikirnya lagi. Tidak, rasa panas yang ditimbulkan kopi itu kini mulai terasa lagi.“Maaf, Bu… saya benar-benar enggak sengaja,” suara Hanna bergetar hebat.Marcella mengambil langkah mundur. Namun, dirinya sedikit linglung sehingga hampir kehilangan keseimbangannya.“Jangan sentuh aku!” Jerit Marcella ketika Hanna hendak membersihkan noda kopi di blus Marcella dengan lap.“Ma-Maaf, Bu…”
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

34 - Pembuktian

Perlahan, kedua kelopak mata Marcella membuka. Seketika kepalanya seperti dihantam rasa sakit yang betubi-tubi. Embusan pendingin ruangan membuatnya sedikit menggigil.Marcella berusaha menggerakkan tubuhnya, walaupun terasa berat.Lantas, dia menyadari ada selang infus yang menggantung di sampingnya. Tangannya meraba pelipisnya yang dilapisi kain kasa. Potongan-potongan ingatan itu mulai menyerbu benaknya.Suara klakson yang memekakan telinga itu, bunyi rem yang berdecit hingga benturan yang keras.Napas Marcella tertahan. Tangisan Jordan.‘Jordan!’ Pekiknya dalam hati.Belum sempat Marcella bangkit, tirai pembatas ranjangnya menyibak terbuka. Putra muncul dengan raut wajah yang pucat.Pria itu bergegas menghampiri istrinya.“Marcella! Syukurlah kamu sudah sadar… Aku langsung terbang ke sini begitu Ibu meneleponku,” Suara Putra terdengar begitu parau.“Jo-Jordan, Mas…” bibir Marcella nampak gemetar. “Jordan ikut bersamaku… di mana dia?”“Jordan baik-baik saja,” Putra coba menenangk
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

35 - Pertemuan yang Mengejutkan

“Ka-kamu?” Marcella tergagap.“Maaf Bu, saya enggak tahu kalau Ibu bakal datang sepagi ini,” ucap Sri, salah satu office girl di lantainya.Putra mendengus pelan sambil melirik Marcella. Tatapan mata pria itu seolah mengejeknya.Marcella mengusap dahinya, berusaha meredam emosinya yang naik turun.“Kalau begitu, tolong buatkan kamu kopi ya,” pinta Marcella, menyeruak masuk.“Saya kopi hitam tanpa gula,” terang Putra pada Sri.“Baik, Pak,” jawab Sri ramah.“Oh, sekalian belikan bubur di warung depan,” tambah Marcella. “Kamu mau, Mas?”Putra menggeleng.Sri mengangguk patuh lalu bergegas keluar. Begitu pintu tertutup, Putra bersandar di kursi, menatap istrinya dengan sorot mata serius.“Kurasa kamu harus berhenti meyakini bahwa Hanna masih hidup, Cella. Itu hanya akan membuatmu stres. Dua tahun kita hidup tenang, dan sekarang kamu malah memikirkan Hanna,” terang Putra.Marcella mengembuskan napas panjang. “Aku enggak mungkin berkhayal, Mas. Nanti kamu lihat sendiri saat si Hanni itu dat
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

36 - Hanna?!

Dengusan Marcella terdengar begitu keras.Sorot matanya masih menatap tajam ke arah Hanna, seolah ingin memakan wanita itu hidup-hidup.“Hah! Hanni?” Marcella membaca name tag di seragam Hanna. “Namamu Hanni?” Cibirnya.“I-iya, Bu. Saya… saya minta maaf atas kejadian tempo lalu. Saya juga turut sedih waktu mendengar Ibu kecelakaan–”“Tutup mulutmu!” Pekik Marcella.Hanna langsung mengambil langkah mundur begitu Marcella bergerak ke arahnya.“Jangan pikir kamu bisa membodohiku,” ucap Marcella sengit.“Sa-saya enggak mengerti maksud, Ibu…” Bibir Hanna gemetar.Laju Marcella terhenti setelah berhasil memukul mundur Hanna ke sudut ruangan.Sambil berkacak pinggang, wanita itu menoleh ke arah Putra.Napas Putra masih nampak tersendat, untuk beberapa saat dia merasa ini adalah mimpi.“Lihat? Sekarang kamu percaya kan, Mas?” Nada suara Marcella terdengar penuh kemenangan. “Aku enggak berhalusinasi.”Putra akhirnya mampu bangkit. Langkahnya sedikit gontai saat berjalan mendekati Hanna.Mata P
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

37 - Tindakan Nekat Marcella

Dari balik meja kerjanya, Putra memandangi SP 1 yang baru saja diterimanya.Secepat kilat, Marcella meraih kertas itu dan membacanya dengan geram.Suaminya dituduh melakukan kekerasan pada seorang office girl.“Argh!” Marcella memekik kesal sambil merobek kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah.“Wanita sialan itu berhasil menjebak kita, Mas!” Marcella melempar kedua tangannya ke udara. “Dia sengaja membuat kita kesal dan melakukan tindakan, tadi supaya kamu dipecat! Hah, untung saja Erik enggak memecatmu, Mas.”“Tidak, Cella…” ucap Putra lirih. Raut wajahnya nampak menegang. “Dia memang bukan Hanna.”“Apa?”“Dia bukan Hanna. Hanna sudah mati dan enggak mungkin hidup kembali. Kita sudah melakukan kesalahan.”Marcella menghambur ke pinggiran meja, mencondongkan tubuhnya tidak percaya.“Bagaimana bisa kamu ambil kesimpulan seperti itu? Dia begitu mirip dengan Hanna!”Putra menggeleng, lalu menatap bola mata istrinya yang melebar.“Tanda lahir itu,” tukas Putra. “Wanita itu enggak me
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

38 - Pembuktian (2)

Guyuran hujan merayap pelan ke dalam tanah yang basah.Angin berembus seiring dengan kilatan cahaya petir menerangi malam yang pekat, walau hanya sesaat.Marcella menelan ludahnya. Dia bisa merasakan tangan Putra menggenggam tangannya. Dan rintik air hujan yang membasahi tubuhnya itu kini terhalang oleh permukaan payung.“Mas… itu…” suara Marcella tercekat.“Tulang belulang Hanna,” lanjut Putra. “Sekarang kamu percaya kan kalau Hanna benar-benar sudah meninggal?”Marcella mengangguk pelan.“Sebaiknya kita pulang sekarang,” ajak Putra.Lantas pria itu memerintahkan para orang suruhan Hanna untuk mengembalikan makam Hanna seperti semula.Di sepanjang perjalanan pulang, tubuh Marcella sedikit menggigil karena kehujanan.“Mulai saat ini, kita jangan membicarakan soal Hanna lagi, oke?” pinta Putra. “Hidup kita sudah bahagia, Sayang. Jadi, enggak ada gunanya kita memikirkan hal yang enggak penting.”“Kamu benar, Mas. Hanna itu enggak penting, apalagi dia sudah mati,” Marcella berdecak heran
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

39 - Permintaan Maaf

Tap, tap, tap.Langkah lebar Marcella menghentak penuh amarah.Putra tahu, dia dalam masalah.“Dasar perempuan gatel!” Tangan Marcella mengayun, hendak menampar pipi Hanna.Secepat kilat, Putra menahannya.Sementara itu, Hanna memekik pelan sambil melindungi wajah dengan kedua tangannya.“Marcella, hentikan,” desis Putra. Dia tak ingin mengundang keributan. “Apa-apaan sih kamu?”Marcella nampak terkejut saat Putra mencengkram pergelangan tangannya.“Mas?! Jadi sekarang kamu membela wanita sialan ini?!”“Marcella, plis,” pinta Putra. “Pelankan nada suaramu. Ini enggak seperti yang kamu lihat.”“Benar, Bu. Pak Putra hanya–”“Diam kamu! Enggak ada yang menyuruhmu bicara,” Marcella menuding Hanna dengan telunjuknya.Lantas, Marcella menarik lengan Putra, menyeret suaminya itu ke ruangannya.Setelah dua sejoli itu menghilang, Hanna tak kuasa tersenyum penuh kemenangan.Astaga, dia puas melihat Marcella yang cemburu buta!Sambil memungut kertas-kertas yang berserakan di lantai, Hanna pun be
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

40 - Keterlibatan Hanna

Raut wajah Erik nampak masam.“Masuklah,” pintanya datar.“Erik, bagaimana kamu bisa tahu aku di sini?” Hanna terheran setelah berada di dalam mobil Erik.“Aku melihatmu masuk ke dalam mobil Putra. Jadi, aku sengaja membuntuti kalian,” terang Erik dengan nada yang sedikit kesal. “Sebenarnya, apa yang sedang kamu rencanakan, Hanna?”“Aku ingin merusak hubungan mereka,” tandas Hanna. “Supaya Marcella tahu rasanya dikhianati.”“Maksudmu… kamu mau membuat Putra jatuh cinta lagi padamu?”“Begitulah.”“Jadi sekarang kamu mengambil peran sebagai perusak rumah tangga orang?”“Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, aku ini masih berstatus istrinya Putra,” ucap Hanna. “Jadi, yah… aku bukan perusak rumah tangga orang.”“Tapi kamu sekarang Hanni, Hanna,” Erik mengingatkan. “Dan aku enggak ingin kamu bertindak terlalu jauh.”Sungguh, Erik tak bisa membayangkan kalau Hanna dan Putra kembali bersatu. “Aku tahu batasannya kok. Aku hanya ingin mempermainkan perasaannya sekaligus membuat Marcella cemburu,”
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status