“Ka-kamu?” Marcella tergagap.“Maaf Bu, saya enggak tahu kalau Ibu bakal datang sepagi ini,” ucap Sri, salah satu office girl di lantainya.Putra mendengus pelan sambil melirik Marcella. Tatapan mata pria itu seolah mengejeknya.Marcella mengusap dahinya, berusaha meredam emosinya yang naik turun.“Kalau begitu, tolong buatkan kamu kopi ya,” pinta Marcella, menyeruak masuk.“Saya kopi hitam tanpa gula,” terang Putra pada Sri.“Baik, Pak,” jawab Sri ramah.“Oh, sekalian belikan bubur di warung depan,” tambah Marcella. “Kamu mau, Mas?”Putra menggeleng.Sri mengangguk patuh lalu bergegas keluar. Begitu pintu tertutup, Putra bersandar di kursi, menatap istrinya dengan sorot mata serius.“Kurasa kamu harus berhenti meyakini bahwa Hanna masih hidup, Cella. Itu hanya akan membuatmu stres. Dua tahun kita hidup tenang, dan sekarang kamu malah memikirkan Hanna,” terang Putra.Marcella mengembuskan napas panjang. “Aku enggak mungkin berkhayal, Mas. Nanti kamu lihat sendiri saat si Hanni itu dat
Last Updated : 2025-03-14 Read more