All Chapters of Kebangkitan Istri yang Kau Khianati: Chapter 21 - Chapter 30

52 Chapters

21 - Pengkhianatan Putra

Dret, dret.Dari dalam saku celananya, ponsel Putra terus meraung dalam diam. Dengan tangan gemetar Putra merogoh ponselnya.Nama Hanna muncul di layar–sesuai tebakannya.Marcella mendongak, menatap Putra sambil menggigit bibir merahnya.“Kamu mau angkat telepon itu atau…”Putra menahan napasnya dalam-dalam. Dia tidak boleh mendesah, sedikitpun–walau itu mustahil karena belaian tangan Marcella hampir membuatnya melayang.“Ce-Cella, lepaskan… Kamu mabuk, Cella…” pinta Putra sambil memohon.Marcella menekan dada Putra dengan tubuhnya yang polos. Wangi manis wanita itu serta alkohol yang menguar dari mulut Marcella, entah kenapa malah membuat gairah Putra seakan meningkat.“Sepertinya jantungmu berdetak begitu cepat, Mas…” desis Marcella. “Angkat saja telepon itu. Dari istrimu kan?”Tubuh Putra masih mematung, sementara ponselnya terus bergetar.“Atau… kamu biarkan saja telepon itu dan kita nikmati malam ini, Sayang…” Marcella berbisik di telinga Putra. “Ini kesempatanmu, Sayang. Kesempa
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

22 - Teman SMA

“Makasih ya Mas,” Marcella tersenyum senang. Matanya berbinar melihat isi dalam kotak beludru itu, sebuah kalung emas. “Aku seneng banget jadi istrimu!”Kini kalung indah itu melingkar di leher Marcella.“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Sayang, karena kamu sudah memberikanku seorang anak yang lucu. Sekali lagi, happy birthday, Marcella-ku…”Putra mengangkat gelasnya dan bibir gelas mereka pun saling berdenting, merayakan hari kelahiran Marcella yang ke-30.“Sayang… aku belum boleh minum alkohol,” keluh Marcella setelah menenggak air mineral di gelasnya, sementara Putra nampak menikmati wine. “Tapi aku bersyukur sih, akhirnya setelah enam bulan, kita bisa dinner berdua lagi.”Putra mengangguk setuju. Pria itu tak menyangka punya anak ternyata serepot itu.Namun, untungnya mereka bisa menemukan nanny dan ART yang terpercaya. Jadi Jordan ada yang mengurus dan Marcella pun tidak terlalu kerepotan, walaupun enam bulan pertama setelah kelahiran Jordan, Marcella hanya bisa mengha
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

23 - Hanna Bangkit dari Kubur?!

Petir menggelegar, menerangi malam yang pekat dalam sekejap.“Ha-Hanna?” Suara Marcella terdengar parau. Kelopak matanya terus saja mengerjap tidak percaya.Mata Hanna berkilat-kilat penuh amarah, memandangi Marcella, wanita penghancur rumah tangganya.Perlahan, Hanna bergerak mendekat.“E-enggak mungkin… kamu sudah mati, Hanna. Sudah mati!” Pekik Marcella. Tubuhnya gemetar hebat. “Aaa!”Seketika Marcella tersungkur karena dorongan Hanna yang tiba-tiba. Payungnya terlempar sehingga tubuhnya basah.Secepat kilat, Hanna menerjang tubuh Marcella, menekannya dengan kuat.Di tengah guyuran hujan yang semakin deras, Hanna mencekik leher Marcella.“To-Tolong…” suara Marcella terbata.Hanna menyeringai. “Percuma, Marcella. Suaramu tertelan hujan.”“Argh… b-brengsek! Lepas-lepaskan aku! Kamu sudah mati!” Marcella berusaha melepas kuncian Hanna pada tubuhnya.Namun semuanya sia-sia, karena tubuh Marcella melemas seiring dengan asupan oksigen ke otaknya yang tertahan.“Aku masih hidup, Marcella.
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

24 - Terpesona

“Gimana wawancaranya tadi? Lancar?” Tanya Putra di mobil saat meraka dalam perjalanan pulang.“Ya, tinggal tunggu offering letter-nya aja. Kata HR dalam tiga hari ke depan,” balas Marcella sambil menatap jalanan yang mulai padat.“Tapi, kenapa tampangmu murung begitu?” Tanya Putra lagi. “Apa kamu ragu untuk balik kerja? Kalau ragu, sebaiknya enggak usah, Cella. Toh, aku bisa memenuhi semua kebutuhan kita selama ini.”“Siapa bilang aku ragu? Aku malah enggak sabar untuk kembali ke kantor, Mas.”“Lantas, kenapa kamu murung?”Marcella menghela napas pendek. “Kurasa aku melihat Hanna.”
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

25 - Putra Curiga

“Kenapa malam sekali?” Putra menengadahkan kepalanya dari layar ponsel, menatap istrinya yang baru pulang. “Lihat, sudah pukul sepuluh malam, Cella. Kamu bahkan enggak sempat menghabiskan waktu dengan Jordan.”Marcella menghela napas pelan sambil melepas jam tangannya.“Macet, Mas. Kamu tahu sendiri kan, pabriknya ada di mana?”“Tapi enggak mungkin sampai selarut ini,” desak Putra lagi.“Tadi, kami sempat makan malam dulu.”“Makan malam?” Ulang Putra dengan nada tinggi.“Iya, Mas. Aku laper. Daripada aku pingsan di jalan. Kebetulan Pak Erik mau aku ajakin makan, jadi, ya udah, kita makan bareng deh.&rdqu
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

26 - Ide Gila

“Huh,” Marcella mengeluh kesal setelah membaca balas pesan dari suaminya.Padahal dia jelas-jelas lembur, tapi kenapa Putra malah menyalahkannya, menganggapnya menelantarkan Jordan?Jordan aman di rumah bersama nanny-nya, bahkan ibu mertuanya sering berkunjung mengurus cucunya. Sampai saat ini dirinya pun masih memberi ASI eksklusif untuk anaknya.Tapi, kenapa Putra malah menyudutkannya, hanya gara-gara lembur?Sejak kembali bekerja, hubungan mereka memang sedikit dingin. Dan setelah selesai meeting dengan divisinya, Marcella jadi malas pulang. Putra pasti akan menceramahinya untuk lebih mementingkan keluarga.Apalagi, Marcella tahu, ibu mertuanya sedang berkunjung ke rumah hari ini.Marcella menghela napas pelan. Dia lantas mencari taksi dan menuju restoran favoritnya.Hidangan sushi di hadapannya setidaknya membuat mood-nya sedikit membaik. “Well, aku enggak nyangka bisa ketemu lagi denganmu, Marcella.”Suara pria itu sontak membuat Marcella menoleh. Dan saat tatapannya beradu deng
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

27 - Pertengkaran

“Aaa!”Marcella seketika mematung begitu Putra hendak melayangkan tamparan ke pipinya.Namun alih-alih menampar, Putra malah mencengkram bahu Marcella.“Aku tahu, Cella! Tahu!” Pria itu mengguncang-guncang tubuh istrinya penuh emosi.“Lepaskan, Mas! Sakit!”“Kamu selingkuh!” Napas Putra menderu seraya mendekatkan kepalanya ke wajah Marcella yang nampak gemetar ketakutan.“Se-Selingkuh? Jangan bicara macam-macam. Ah!”Kini Putra merenggut dagu istrinya. “Desahan itu? Desahan macam apa itu, hah? Brengsek! Siapa pria itu?! Erik?!”Marcella mendorong tubuh Putra. Lalu dia bisa merasakan rasa nyeri yang menyerang wajahnya.“Kamu kenapa sih? Kamu sudah menyakitiku!”“Kenapa kamu tega, Cella?” Suara Putra kini nyaris gemetar. Rasa sakit hati menusuk dadanya. Dia membayangkan tubuh istrinya dijamah pria lain.“Mas, aku enggak selingkuh! Kamu ngomong apa sih?!” Marcella melempar kedua tangannya ke udara dengan heran.“Jangan bohong, Cella! Kita juga pernah selingkuh!”“Hah! Aku enggak ngerti o
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

28 - Balas Dendam

Marcella tersadar.Buket bunga ini bukan dari suaminya, melainkan Jordan.“Cella?” desak Putra dari ujung sana. “Kamu dapat bunga dari siapa?”Jordan masih melempar senyumnya di pintu lobi. Topi yang dikenakan pria itu menutupi sebagian wajahnya.“Oh, sebentar, Mas,” otak Marcella mulai berputar cepat, mencari alasan. Tidak, dia tak boleh tertangkap basah! “Astaga, ternyata kiriman bunga ini bukan untukku!”“Hah?”“Resepsionisnya salah, Mas. Di sini ditulis untuk Mar… Marcia! Aku enggak tahu deh ada yang namanya Marcia atau enggak di kantor kita. Oh, mungkin bunga ini salah alamat! Udah dulu ya, Mas. Aku haru
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

29 - Rencana Hanna

“Mas, kamu sudah gila ya?!” Marcella mendengus heran di tangga darurat yang sepi. “Bisa-bisanya kamu nonton video begitu di tengah meeting? Astaga…”Putra menyusuri helaian rambutnya sambil mendesah pelan.“Memangnya, kamu enggak sadar?” balas Putra.“Well, bukan hanya aku yang sadar, Mas, tapi semua orang di ruang meeting, termasuk Erik!” Marcella melempar kedua tangannya ke udara dengan kesal. Sekarang kepala Putra berdenyut-denyut. “Bukan itu maksudku, Cella.”Marcella memutar kedua bola matanya. “Mas, kamu sudah mempermalukan dirimu sendiri, dan juga aku!”“Itu suaramu.”
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

30 - Hari Penentuan

Putra membuka jendela mobilnya, membiarkan angin malam masuk, menyapu wajahnya.Sepanjang perjalanan, jantungnya terus berdegup cepat. Sejujurnya, dia ragu dengan rencana istrinya. Namun, nasi sudah menjadi bubur.Entah bagaimana caranya, Marcella berhasil menyewa tiga orang preman untuk menghabisi pemeras itu.“Mas, tutup jendelanya. Bisa-bisa aku masuk angin,” keluh Marcella sambil menyalakan AC mobil.Tanpa berkata-kata, Putra menuruti permintaan istrinya itu, walaupun sebenarnya dinginnya AC bisa membuatnya tambah gugup.“Apa kamu benar-benar yakin dengan rencana ini?” Suara Putra terdengar begitu ragu.“Semuanya sudah siap, Mas. Para preman itu s
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status