Semua Bab Kebangkitan Istri yang Kau Khianati: Bab 41 - Bab 50

52 Bab

41 - Terbakar Api Cemburu

“Oke, Hanni. Kita mulai dengan aktivitas sehari-harimu, ya? Lakukan saja seperti biasa,” tukas sutradara itu sambil menyorot kameranya ke sosok Hanna.Dengan sedikit gugup, Hanna mengangguk.Kamera mulai merekam saat Hanna membawa setumpuk dokumen ke meja karyawan, mengisi galon air di pantry, dan membersihkan meja rapat. Tak ada yang berlebihan dalam gerak-geriknya, semuanya dilakukan dengan alami.Dari balik layar monitor, Erik nampak terpaku.Erik selalu merasa seperti ada sesuatu dalam diri Hanna yang tak bisa diabaikan begitu saja. Kesederhanaannya… serta kecantikan alami yang terpancar dari setiap gerak-gerik Hanna.Sesi pertama pun selesai.Hanna kemudian dibawa ke ruang rias, tempat transformasi yang sesungguhnya dimulai.Kamera masih terus merekam aktivitas di dalam sana.Rambut Hanna kini dibuat sedikit bergelombang. Sentuhan make-up ringan diberikan—foundation tipis, blush on lembut, dan lipstik bernuansa peach yang membuat wajahnya terlihat segar.Dress berwarna pastel men
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

42 - Rencana Licik

Studio pemotretan dipenuhi para staf yang sibuk lalu-lalang, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Cahaya lampu itu mulai menyorot ke tengah ruangan, di mana Hanna akan menjadi pusat perhatian.Di sudut ruangan, Hanna duduk di depan kaca rias yang besar. Seorang perias sedang menyapukan kuas ke wajahnya, dengan seorang penata rambut yang sibuk mem-blow rambut Hanna.Berkali-kali Hanna, menghela napas pendek. Dia sedikit gugup kali ini.Dan dari kejauhan, Marcella mengamatinya dengan tatapan dingin. Senyum tipis mengembang di wajahnya begitu melihat gelas kopi di meja prasmanan.Itu dia, targetnya.Sebelum menjalankan rencananya, Marcella harus memastikan Hanna benar-benar meminum kopi yang sudah dia siapkan.Maka, pagi tadi, dia sengaja membelikan kopi untuk para anak buahnya dan Hanna.Bowo menatap bosnya itu dengan heran. “Tumben.”“Lo ngomong apa, Wo?” Marcella melirik salah satu anak buahnya itu setelah menaruh kopi-kopi itu di atas meja.“Eh, enggak. Thanks, Cell. Tahu aja
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

43 - Kedatangan Mendadak

Sudah seminggu berlalu dan campaign kali ini berjalan lancar.Maka, selama tiga bulan ke depan, wajah Hanna akan menghiasi berbagai media promosi Beauty Inc.Divisi marketing pun merayakan keberhasilan dengan mengadakan pesta kecil-kecilan di kantor.Mereka memesan pizza, donat, minuman soda, dan Hanna sendiri bahkan ikut menyumbang dimsum buatannya.“Ini semua berkat Hanna!” seru Bowo yang diikuti sorakan riuh dari yang lainnya.Semua orang larut dalam kegembiraan. Tertawa, bercanda, menikmati makanan.Semua orang… kecuali Marcella.Dari dalam ruangannya, Marcella mendengar keriuhan itu. Sang office girl itu kini mendadak jadi pusat perhatian.Marcella gondok bukan main dan memilih pura-pura sibuk di depan laptopnya.“Brengsek,” geram Marcella sambil menahan amarahnya di dada.Lantas, dia coba kembali fokus dengan menatap layar laptopnya.Tidak. Dia tak peduli dengan semua itu. Dia adalah manajer marketing di sini. Dia punya tanggung jawab lebih, daripada sekadar merayakan keberhasil
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

44 - Pertemuan dengan Jordan

Pagi ini, Hanna sudah berdiri di depan kasir kopi langganan anak-anak kantor sambil menatap catatannya, mengecek ulang pesanan mereka.Tugas seperti sudah biasa baginya.“Tiga es americano, dua vanilla latte sama satu kopi susu. Semua less sugar ya,” tukas Hanna pada kasir yang berdiri di hadapannya.Saat sedang menunggu, seketika ada seseorang yang berdiri di sebelahnya.“Espresso, double shot,” suara barito pria itu membuat Hanna menoleh.Pria itu tinggi, mengenakan kaus hitam dan celana selutut sehingga terlihat begitu santai, dengan potongan rambut cepak.Pria itu tiba-tiba menoleh ke arahnya yang membuat Hanna terkesiap.Sial, dia tertangkap basah mencuri pandang ke pria itu!Cepat- cepat, Hanna memalingkan tatapannya.Lantas, kening pria itu mengernyit. “Kamu… kamu model produk kecantikan itu kan?”Hanna nampak terkejut.“Aku lihat videonya di media sosial. Cukup viral lho. Jadi, video itu bukan settingan ya?” Pria itu balik memperhatikan Hanna. “Kamu benar-benar seorang office
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

45 - Rasa Penasaran Putra

Malam itu, Hanna baru saja keluar dari gedung Beauty Inc. ketika sebuah motor tiba-tiba melipir di depannya.Langkah Hanna terhenti. Keningnya mengerut memperhatikan siapa sosok di balik helm itu.“Jordan?” Hidung Hanna mengerut terkejut begitu Jordan menampakkan wajahnya.Dia tersenyum. “Kebetulan aku lewat sini dan melihatmu baru keluar dari gedung. Mau kuantar?”Rambut sebahu Hanna bergerak pelan. “Aku bisa pulang sendiri.”“Ayolah, anggap saja ini sebagai bentuk terima kasihku karena kamu bersedia jadi modelku,” desak Jordan lagi. “Aku bawa helm lagi kok.”Belum sempat Hanna mengiyakan ajakan itu, Jordan sudah keburu menjulurkan helm di hadapan Hanna.Hanna menghela napas pelan lalu menerima tumpangan itu. Sekalian, dia mau menggali lebih dalam soal pria ini. Siapa tahu Jordan keceplosan menyebut nama Marcella.Tak jauh dari situ, Putra memperhatikan mereka dengan curiga dari dalam mobilnya.‘Hanni. Dengan siapa dia pulang? Pacarnya?’ batin Putra penasaran. ‘Tapi tunggu, sepertiny
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

46 - Dalam Bahaya

Angin malam berembus kencang, seiring dengan motor yang dikendarai Jordan melaju begitu cepat.Sesekali Hanna mendengar suara gemuruh dari atas sana. Sepertinya akan turun hujan.“Jordan, kapan kita sampai?” Tanya Hanna, suaranya nyaris tertelan kilatan petir yang seketika menyambar.“Masih beberapa kilometer lagi,” balas pria itu. Dari jalan besar yang ramai, lama-lama motor mereka memasuki kawasan yang sepi.Kini motor itu melaju di jalanan yang remang. Lampu-lampu jalan berpendar suram dengan kesunyian yang mencekam malam.Dada Hanna jadi berdebar kencang. Pelipisnya sedikit berkeringat karena gelisah.Sepertinya dia sudah melakukan kesalahan fatal dengan mengikuti permainan pria ini.Diam-diam, Hanna merogoh ke dalam tasnya. Dengan jari-jari yang gemetar dia mengirim pesan pada Erik.‘Sepertinya aku dalam bahaya.’Hanna pun menyalakan aplikasi GPS di ponselnya dan mengirimkannya pada Erik.“Jordan, aku berubah pikiran,” ucap Hanna.“Apa?”“Aku berubah pikiran!” Hanna menaikkan n
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya

47 - Di Ujung Tanduk

“Uh..” Jordan mendesah pelan. “Aku enggak menyangka tubuhmu seindah ini, Hanni…”Sebelum menarik turun pakaian dalam bagian bawah itu, ujung hidung Jordan menyentuh paha Hanna menyesap tubuh wanita itu dalam-dalam.Mau tak mau, Hanna menggeliat takut.“Pantas saja Marcella cemburu padamu…” tukasnya lagi. “Kamu tenang saja, Hanni. Aku akan memperlakukanmu dengan lembut kok. Aku ahli dalam hal ini.”Jordan mendongak sambil melempar senyum nakal ke arah Hanna.Hanna terus saja terisak, berharap keajaiban datang.Jordan mengecup pinggul Hanna, menjilatnya pelan. “Hanni, Sayang… kamu enggak akan menyesal, karena aku akan membuatmu melayang…”Dada Hanna terasa begitu sesak. Napasnya tersengal berat saat merasakan pakaian dalam bagian bawah itu perlahan turun.Pipinya benar-benar basah sekarang.Sampai tiba-tiba…BRAK!Suara pintu yang mendobrak keras itu terdengar.‘Erik!’ Kedua mata Hanna membelalak penuh harap. “Hei! Brengsek!!!” Suara lelaki itu menggelegar.Jordan tersentak dan langsun
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-21
Baca selengkapnya

48 - Perasaan Itu

Erik menggeram kesal.Sudah seminggu setelah kejadian itu, tetapi pihak berwajib belum juga menemukan keberadaan Jordan.Yang membuat Erik tambah naik pitam adalah kemungkinan besar keterlibatan salah satu anak buahnya, Marcella.“Haruskah kita menyewa orang sendiri untuk mencari keberadaan pria sialan itu?” Erik melempar kedua tangannya ke udara. “Atau aku akan introgasi Marcella?”“Jangan, Erik.” Sergah Hanna. “Biarkan Marcella merasa bahwa dirinya aman, sampai Jordan tertangkap dan menyeret namanya.”“Tapi aku bahkan enggak tahan untuk melabraknya, Hanna,” geram Erik. “Dan plis, Hanna. Selalu beri tahu aku kalau kamu punya rencana. Aku enggak mau hal seperti ini terjadi.”“Maafkan aku, Erik…”Erik menghela napas pelan, berdiri di depan wanita itu. “Aku mencemaskamu. Apa… aku batalkan saja perjalananku kali ini?”“Hei!” kedua mata Hanna melebar. “Ini perjalanan dinas penting, Erik. Lagian, aku baik-baik saja kok.”“Tapi kalau aku enggak ada, kamu harus pulang-pergi sendiri. Gimana k
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-21
Baca selengkapnya

49 - Kenangan Masa Lalu

Suara sorak sorai serta tepukan yang meriah dari para tamu terdengar begitu, Hanna dan Putra berciuman setelah sah menjadi suami istri.Hanna tak bisa menyembunyikan pipinya yang merona saat ciuman manis itu usai.Putra yang berdiri di depannya, menatap Hanna hangat. Raut wajah bahagia terpancar karena akhirnya dia sah memiliki Hanna sepenuhnya.“Istriku…” panggil Putra pelan. “Akhirnya kamu menjadi istriku, Hanna.”Hanna menyunggingkan senyumnya, mengangguk. Dadanya berdebar bahagia. Bagi Hanna, menikah dengan Putra adalah impiannya.Dia sangat mencintai pria ini. Di matanya, Putra adalah sosok yang sempurna, pekerja keras dan penyayang.Tiga tahun mereka pacaran, banyak rintangan yang harus dilalui, termasuk penolakan keras dari ibunya Hanna, Lidya.Tapi kini rintangan itu sudah mereka lewati. Sambil memegang buku nikah, mereka akan mengarungi hidup baru yang menyenangkan.“Sekarang, hadap ke kamera ya. Buku nikahnya tunjukkin,” titah fotorgrafer itu. “Jangan lupa senyum. Satu, dua,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-22
Baca selengkapnya

50 - Dijebak?

“Ayo, buka pakaian dalammu, Hanna. Boleh kan aku memanggilmu dengan sebutan itu?” Sepasang mata Putra menyorot penuh gairah ke arah tubuh indah itu.Lantas, Hanna berjalan ke arah Putra, mendorong tubuh pria itu.“Tapi sebelumnya,” tangan Hanna bergerak pelan membuka satu per satu kancing kemeja Putra, “kamu juga harus menanggalkan pakaianmu.”Putra menyeringai begitu Hanna mulai melempar kemejanya ke sembarang arah, lalu lanjut melepas ikat pinggangnya.Hanna melirik nakal, melihat sesuatu yang menyembul di antara kedua kaki Putra.“Apa istrimu enggak pernah melakukan ini?” Tanya Hanna, menarik celana Putra. “Apa dia kurang menarik di atas ranjang?”“Sebenarnya dia cukup liar, tapi akhir-akhir ini kami sering bertengkar. Hubungan kami jadi dingin,” napas Putra mulai terdengar berat.Seketika, Putra menguap lebar. Sementara Hanna merangkak naik ke atas pangkuan Putra.Dada Hanna berdebar begitu kencang sekarang. Dia hanya bisa berharap obat tidur itu segera bekerja.“Duh, kok aku jadi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-22
Baca selengkapnya
Sebelumnya
123456
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status