“Ka-kamu?” Marcella tergagap.“Maaf Bu, saya enggak tahu kalau Ibu bakal datang sepagi ini,” ucap Sri, salah satu office girl di lantainya.Putra mendengus pelan sambil melirik Marcella. Tatapan mata pria itu seolah mengejeknya.Marcella mengusap dahinya, berusaha meredam emosinya yang naik turun.“Kalau begitu, tolong buatkan kamu kopi ya,” pinta Marcella, menyeruak masuk.“Saya kopi hitam tanpa gula,” terang Putra pada Sri.“Baik, Pak,” jawab Sri ramah.“Oh, sekalian belikan bubur di warung depan,” tambah Marcella. “Kamu mau, Mas?”Putra menggeleng.Sri mengangguk patuh lalu bergegas keluar. Begitu pintu tertutup, Putra bersandar di kursi, menatap istrinya dengan sorot mata serius.“Kurasa kamu harus berhenti meyakini bahwa Hanna masih hidup, Cella. Itu hanya akan membuatmu stres. Dua tahun kita hidup tenang, dan sekarang kamu malah memikirkan Hanna,” terang Putra.Marcella mengembuskan napas panjang. “Aku enggak mungkin berkhayal, Mas. Nanti kamu lihat sendiri saat si Hanni itu dat
Dengusan Marcella terdengar begitu keras.Sorot matanya masih menatap tajam ke arah Hanna, seolah ingin memakan wanita itu hidup-hidup.“Hah! Hanni?” Marcella membaca name tag di seragam Hanna. “Namamu Hanni?” Cibirnya.“I-iya, Bu. Saya… saya minta maaf atas kejadian tempo lalu. Saya juga turut sedih waktu mendengar Ibu kecelakaan–”“Tutup mulutmu!” Pekik Marcella.Hanna langsung mengambil langkah mundur begitu Marcella bergerak ke arahnya.“Jangan pikir kamu bisa membodohiku,” ucap Marcella sengit.“Sa-saya enggak mengerti maksud, Ibu…” Bibir Hanna gemetar.Laju Marcella terhenti setelah berhasil memukul mundur Hanna ke sudut ruangan.Sambil berkacak pinggang, wanita itu menoleh ke arah Putra.Napas Putra masih nampak tersendat, untuk beberapa saat dia merasa ini adalah mimpi.“Lihat? Sekarang kamu percaya kan, Mas?” Nada suara Marcella terdengar penuh kemenangan. “Aku enggak berhalusinasi.”Putra akhirnya mampu bangkit. Langkahnya sedikit gontai saat berjalan mendekati Hanna.Mata P
Dari balik meja kerjanya, Putra memandangi SP 1 yang baru saja diterimanya.Secepat kilat, Marcella meraih kertas itu dan membacanya dengan geram.Suaminya dituduh melakukan kekerasan pada seorang office girl.“Argh!” Marcella memekik kesal sambil merobek kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah.“Wanita sialan itu berhasil menjebak kita, Mas!” Marcella melempar kedua tangannya ke udara. “Dia sengaja membuat kita kesal dan melakukan tindakan, tadi supaya kamu dipecat! Hah, untung saja Erik enggak memecatmu, Mas.”“Tidak, Cella…” ucap Putra lirih. Raut wajahnya nampak menegang. “Dia memang bukan Hanna.”“Apa?”“Dia bukan Hanna. Hanna sudah mati dan enggak mungkin hidup kembali. Kita sudah melakukan kesalahan.”Marcella menghambur ke pinggiran meja, mencondongkan tubuhnya tidak percaya.“Bagaimana bisa kamu ambil kesimpulan seperti itu? Dia begitu mirip dengan Hanna!”Putra menggeleng, lalu menatap bola mata istrinya yang melebar.“Tanda lahir itu,” tukas Putra. “Wanita itu enggak me
Guyuran hujan merayap pelan ke dalam tanah yang basah.Angin berembus seiring dengan kilatan cahaya petir menerangi malam yang pekat, walau hanya sesaat.Marcella menelan ludahnya. Dia bisa merasakan tangan Putra menggenggam tangannya. Dan rintik air hujan yang membasahi tubuhnya itu kini terhalang oleh permukaan payung.“Mas… itu…” suara Marcella tercekat.“Tulang belulang Hanna,” lanjut Putra. “Sekarang kamu percaya kan kalau Hanna benar-benar sudah meninggal?”Marcella mengangguk pelan.“Sebaiknya kita pulang sekarang,” ajak Putra.Lantas pria itu memerintahkan para orang suruhan Hanna untuk mengembalikan makam Hanna seperti semula.Di sepanjang perjalanan pulang, tubuh Marcella sedikit menggigil karena kehujanan.“Mulai saat ini, kita jangan membicarakan soal Hanna lagi, oke?” pinta Putra. “Hidup kita sudah bahagia, Sayang. Jadi, enggak ada gunanya kita memikirkan hal yang enggak penting.”“Kamu benar, Mas. Hanna itu enggak penting, apalagi dia sudah mati,” Marcella berdecak heran
Tap, tap, tap.Langkah lebar Marcella menghentak penuh amarah.Putra tahu, dia dalam masalah.“Dasar perempuan gatel!” Tangan Marcella mengayun, hendak menampar pipi Hanna.Secepat kilat, Putra menahannya.Sementara itu, Hanna memekik pelan sambil melindungi wajah dengan kedua tangannya.“Marcella, hentikan,” desis Putra. Dia tak ingin mengundang keributan. “Apa-apaan sih kamu?”Marcella nampak terkejut saat Putra mencengkram pergelangan tangannya.“Mas?! Jadi sekarang kamu membela wanita sialan ini?!”“Marcella, plis,” pinta Putra. “Pelankan nada suaramu. Ini enggak seperti yang kamu lihat.”“Benar, Bu. Pak Putra hanya–”“Diam kamu! Enggak ada yang menyuruhmu bicara,” Marcella menuding Hanna dengan telunjuknya.Lantas, Marcella menarik lengan Putra, menyeret suaminya itu ke ruangannya.Setelah dua sejoli itu menghilang, Hanna tak kuasa tersenyum penuh kemenangan.Astaga, dia puas melihat Marcella yang cemburu buta!Sambil memungut kertas-kertas yang berserakan di lantai, Hanna pun be
Raut wajah Erik nampak masam.“Masuklah,” pintanya datar.“Erik, bagaimana kamu bisa tahu aku di sini?” Hanna terheran setelah berada di dalam mobil Erik.“Aku melihatmu masuk ke dalam mobil Putra. Jadi, aku sengaja membuntuti kalian,” terang Erik dengan nada yang sedikit kesal. “Sebenarnya, apa yang sedang kamu rencanakan, Hanna?”“Aku ingin merusak hubungan mereka,” tandas Hanna. “Supaya Marcella tahu rasanya dikhianati.”“Maksudmu… kamu mau membuat Putra jatuh cinta lagi padamu?”“Begitulah.”“Jadi sekarang kamu mengambil peran sebagai perusak rumah tangga orang?”“Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, aku ini masih berstatus istrinya Putra,” ucap Hanna. “Jadi, yah… aku bukan perusak rumah tangga orang.”“Tapi kamu sekarang Hanni, Hanna,” Erik mengingatkan. “Dan aku enggak ingin kamu bertindak terlalu jauh.”Sungguh, Erik tak bisa membayangkan kalau Hanna dan Putra kembali bersatu. “Aku tahu batasannya kok. Aku hanya ingin mempermainkan perasaannya sekaligus membuat Marcella cemburu,”
“Oke, Hanni. Kita mulai dengan aktivitas sehari-harimu, ya? Lakukan saja seperti biasa,” tukas sutradara itu sambil menyorot kameranya ke sosok Hanna.Dengan sedikit gugup, Hanna mengangguk.Kamera mulai merekam saat Hanna membawa setumpuk dokumen ke meja karyawan, mengisi galon air di pantry, dan membersihkan meja rapat. Tak ada yang berlebihan dalam gerak-geriknya, semuanya dilakukan dengan alami.Dari balik layar monitor, Erik nampak terpaku.Erik selalu merasa seperti ada sesuatu dalam diri Hanna yang tak bisa diabaikan begitu saja. Kesederhanaannya… serta kecantikan alami yang terpancar dari setiap gerak-gerik Hanna.Sesi pertama pun selesai.Hanna kemudian dibawa ke ruang rias, tempat transformasi yang sesungguhnya dimulai.Kamera masih terus merekam aktivitas di dalam sana.Rambut Hanna kini dibuat sedikit bergelombang. Sentuhan make-up ringan diberikan—foundation tipis, blush on lembut, dan lipstik bernuansa peach yang membuat wajahnya terlihat segar.Dress berwarna pastel men
Studio pemotretan dipenuhi para staf yang sibuk lalu-lalang, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Cahaya lampu itu mulai menyorot ke tengah ruangan, di mana Hanna akan menjadi pusat perhatian.Di sudut ruangan, Hanna duduk di depan kaca rias yang besar. Seorang perias sedang menyapukan kuas ke wajahnya, dengan seorang penata rambut yang sibuk mem-blow rambut Hanna.Berkali-kali Hanna, menghela napas pendek. Dia sedikit gugup kali ini.Dan dari kejauhan, Marcella mengamatinya dengan tatapan dingin. Senyum tipis mengembang di wajahnya begitu melihat gelas kopi di meja prasmanan.Itu dia, targetnya.Sebelum menjalankan rencananya, Marcella harus memastikan Hanna benar-benar meminum kopi yang sudah dia siapkan.Maka, pagi tadi, dia sengaja membelikan kopi untuk para anak buahnya dan Hanna.Bowo menatap bosnya itu dengan heran. “Tumben.”“Lo ngomong apa, Wo?” Marcella melirik salah satu anak buahnya itu setelah menaruh kopi-kopi itu di atas meja.“Eh, enggak. Thanks, Cell. Tahu aja
Marcella mematung di tempat. Kalimat yang barusan meluncur dari mulut suaminya itu masih menggantung di kepalanya. Namun sebagian dari dirinya berusaha untuk tak mempercayainya.“Ha-Hanna? Kamu bilang kamu dijebak oleh Hanna?” Marcella tercekat.Putra mengangguk dengan sorot mata yang tak tergoyahkan.Satu alis Marcella naik sebelah. “Tapi kamu bahkan menyangkal kalau Hanna masih hidup, Mas.”“Awalnya memang begitu, tapi…”“Tapi apa?” Desak Marcella.“Tapi sekarang aku yakin kalau Hanni adalah Hanna. Dia masih hidup, Cella. Dan dia sedang merencanakan sesuatu pada kita,” Putra memicingkan matanya tajam.***Marcella menutup pintu ruangannya. Dirinya langsung melempar tasnya ke atas meja.“Lantas, apa yang harus kita lakukan?” Wanita itu menyugar rambutnya.Putra berjalan sambil bersedekap menuju ke jendela. Matanya memandang ke hamparan langit biru.“Untuk saat ini, kita harus berhati-hati pada wanita itu. Hanni–atau Hanna,” tandas Putra. “Dan juga Erik.”“Erik?”Putra lantas mencerit
“Katakan, Cella. Apa kamu ada hubungannya dengan penyekapan Hanni?” Desak Putra tajam.Dengan satu gerakan cepat, Marcella melepaskan dirinya dari cengkraman Putra.Wanita itu mendengus keras, mendongakkan dagunya sambil memandang suaminya dengan tatapan tak percaya.“Pelecehan? Penyekapan Hanni??” Kedua alis Marcella bertautan. “Aku bahkan enggak mengerti dengan ucapanmu. Tapi satu yang pasti, kamu sudah berbohong, Mas. Ternyata kamu membuntuti wanita sialan itu! Hah, kamu bahkan menuduhku yang enggak-enggak!”“Aku yakin seratus persen pria itu adalah teman SMA-mu. Aku ingat betul, Cella.”“Lantas?” Kedua bola mata Marcella melebar, menantang ucapan suaminya tadi. “Jika memang pria itu temanku, bukan berarti aku terlibat, Mas!”Marcella tertawa sinis. “Jangan-jangan, semalam kamu tidur dengan wanita sialan itu kan? Oh, astaga! Ternyata seleramu memang rendahan, Mas…”Putra hanya mematung. Kenapa Hanni tega mengirim foto-foto itu pada istrinya, pikir Putra. Untuk apa wanita itu menje
“Ayo, buka pakaian dalammu, Hanna. Boleh kan aku memanggilmu dengan sebutan itu?” Sepasang mata Putra menyorot penuh gairah ke arah tubuh indah itu.Lantas, Hanna berjalan ke arah Putra, mendorong tubuh pria itu.“Tapi sebelumnya,” tangan Hanna bergerak pelan membuka satu per satu kancing kemeja Putra, “kamu juga harus menanggalkan pakaianmu.”Putra menyeringai begitu Hanna mulai melempar kemejanya ke sembarang arah, lalu lanjut melepas ikat pinggangnya.Hanna melirik nakal, melihat sesuatu yang menyembul di antara kedua kaki Putra.“Apa istrimu enggak pernah melakukan ini?” Tanya Hanna, menarik celana Putra. “Apa dia kurang menarik di atas ranjang?”“Sebenarnya dia cukup liar, tapi akhir-akhir ini kami sering bertengkar. Hubungan kami jadi dingin,” napas Putra mulai terdengar berat.Seketika, Putra menguap lebar. Sementara Hanna merangkak naik ke atas pangkuan Putra.Dada Hanna berdebar begitu kencang sekarang. Dia hanya bisa berharap obat tidur itu segera bekerja.“Duh, kok aku jadi
Suara sorak sorai serta tepukan yang meriah dari para tamu terdengar begitu, Hanna dan Putra berciuman setelah sah menjadi suami istri.Hanna tak bisa menyembunyikan pipinya yang merona saat ciuman manis itu usai.Putra yang berdiri di depannya, menatap Hanna hangat. Raut wajah bahagia terpancar karena akhirnya dia sah memiliki Hanna sepenuhnya.“Istriku…” panggil Putra pelan. “Akhirnya kamu menjadi istriku, Hanna.”Hanna menyunggingkan senyumnya, mengangguk. Dadanya berdebar bahagia. Bagi Hanna, menikah dengan Putra adalah impiannya.Dia sangat mencintai pria ini. Di matanya, Putra adalah sosok yang sempurna, pekerja keras dan penyayang.Tiga tahun mereka pacaran, banyak rintangan yang harus dilalui, termasuk penolakan keras dari ibunya Hanna, Lidya.Tapi kini rintangan itu sudah mereka lewati. Sambil memegang buku nikah, mereka akan mengarungi hidup baru yang menyenangkan.“Sekarang, hadap ke kamera ya. Buku nikahnya tunjukkin,” titah fotorgrafer itu. “Jangan lupa senyum. Satu, dua,
Erik menggeram kesal.Sudah seminggu setelah kejadian itu, tetapi pihak berwajib belum juga menemukan keberadaan Jordan.Yang membuat Erik tambah naik pitam adalah kemungkinan besar keterlibatan salah satu anak buahnya, Marcella.“Haruskah kita menyewa orang sendiri untuk mencari keberadaan pria sialan itu?” Erik melempar kedua tangannya ke udara. “Atau aku akan introgasi Marcella?”“Jangan, Erik.” Sergah Hanna. “Biarkan Marcella merasa bahwa dirinya aman, sampai Jordan tertangkap dan menyeret namanya.”“Tapi aku bahkan enggak tahan untuk melabraknya, Hanna,” geram Erik. “Dan plis, Hanna. Selalu beri tahu aku kalau kamu punya rencana. Aku enggak mau hal seperti ini terjadi.”“Maafkan aku, Erik…”Erik menghela napas pelan, berdiri di depan wanita itu. “Aku mencemaskamu. Apa… aku batalkan saja perjalananku kali ini?”“Hei!” kedua mata Hanna melebar. “Ini perjalanan dinas penting, Erik. Lagian, aku baik-baik saja kok.”“Tapi kalau aku enggak ada, kamu harus pulang-pergi sendiri. Gimana k
“Uh..” Jordan mendesah pelan. “Aku enggak menyangka tubuhmu seindah ini, Hanni…”Sebelum menarik turun pakaian dalam bagian bawah itu, ujung hidung Jordan menyentuh paha Hanna menyesap tubuh wanita itu dalam-dalam.Mau tak mau, Hanna menggeliat takut.“Pantas saja Marcella cemburu padamu…” tukasnya lagi. “Kamu tenang saja, Hanni. Aku akan memperlakukanmu dengan lembut kok. Aku ahli dalam hal ini.”Jordan mendongak sambil melempar senyum nakal ke arah Hanna.Hanna terus saja terisak, berharap keajaiban datang.Jordan mengecup pinggul Hanna, menjilatnya pelan. “Hanni, Sayang… kamu enggak akan menyesal, karena aku akan membuatmu melayang…”Dada Hanna terasa begitu sesak. Napasnya tersengal berat saat merasakan pakaian dalam bagian bawah itu perlahan turun.Pipinya benar-benar basah sekarang.Sampai tiba-tiba…BRAK!Suara pintu yang mendobrak keras itu terdengar.‘Erik!’ Kedua mata Hanna membelalak penuh harap. “Hei! Brengsek!!!” Suara lelaki itu menggelegar.Jordan tersentak dan langsun
Angin malam berembus kencang, seiring dengan motor yang dikendarai Jordan melaju begitu cepat.Sesekali Hanna mendengar suara gemuruh dari atas sana. Sepertinya akan turun hujan.“Jordan, kapan kita sampai?” Tanya Hanna, suaranya nyaris tertelan kilatan petir yang seketika menyambar.“Masih beberapa kilometer lagi,” balas pria itu. Dari jalan besar yang ramai, lama-lama motor mereka memasuki kawasan yang sepi.Kini motor itu melaju di jalanan yang remang. Lampu-lampu jalan berpendar suram dengan kesunyian yang mencekam malam.Dada Hanna jadi berdebar kencang. Pelipisnya sedikit berkeringat karena gelisah.Sepertinya dia sudah melakukan kesalahan fatal dengan mengikuti permainan pria ini.Diam-diam, Hanna merogoh ke dalam tasnya. Dengan jari-jari yang gemetar dia mengirim pesan pada Erik.‘Sepertinya aku dalam bahaya.’Hanna pun menyalakan aplikasi GPS di ponselnya dan mengirimkannya pada Erik.“Jordan, aku berubah pikiran,” ucap Hanna.“Apa?”“Aku berubah pikiran!” Hanna menaikkan n
Malam itu, Hanna baru saja keluar dari gedung Beauty Inc. ketika sebuah motor tiba-tiba melipir di depannya.Langkah Hanna terhenti. Keningnya mengerut memperhatikan siapa sosok di balik helm itu.“Jordan?” Hidung Hanna mengerut terkejut begitu Jordan menampakkan wajahnya.Dia tersenyum. “Kebetulan aku lewat sini dan melihatmu baru keluar dari gedung. Mau kuantar?”Rambut sebahu Hanna bergerak pelan. “Aku bisa pulang sendiri.”“Ayolah, anggap saja ini sebagai bentuk terima kasihku karena kamu bersedia jadi modelku,” desak Jordan lagi. “Aku bawa helm lagi kok.”Belum sempat Hanna mengiyakan ajakan itu, Jordan sudah keburu menjulurkan helm di hadapan Hanna.Hanna menghela napas pelan lalu menerima tumpangan itu. Sekalian, dia mau menggali lebih dalam soal pria ini. Siapa tahu Jordan keceplosan menyebut nama Marcella.Tak jauh dari situ, Putra memperhatikan mereka dengan curiga dari dalam mobilnya.‘Hanni. Dengan siapa dia pulang? Pacarnya?’ batin Putra penasaran. ‘Tapi tunggu, sepertiny
Pagi ini, Hanna sudah berdiri di depan kasir kopi langganan anak-anak kantor sambil menatap catatannya, mengecek ulang pesanan mereka.Tugas seperti sudah biasa baginya.“Tiga es americano, dua vanilla latte sama satu kopi susu. Semua less sugar ya,” tukas Hanna pada kasir yang berdiri di hadapannya.Saat sedang menunggu, seketika ada seseorang yang berdiri di sebelahnya.“Espresso, double shot,” suara barito pria itu membuat Hanna menoleh.Pria itu tinggi, mengenakan kaus hitam dan celana selutut sehingga terlihat begitu santai, dengan potongan rambut cepak.Pria itu tiba-tiba menoleh ke arahnya yang membuat Hanna terkesiap.Sial, dia tertangkap basah mencuri pandang ke pria itu!Cepat- cepat, Hanna memalingkan tatapannya.Lantas, kening pria itu mengernyit. “Kamu… kamu model produk kecantikan itu kan?”Hanna nampak terkejut.“Aku lihat videonya di media sosial. Cukup viral lho. Jadi, video itu bukan settingan ya?” Pria itu balik memperhatikan Hanna. “Kamu benar-benar seorang office