Home / Pendekar / Pendekar Pedang Naga / Chapter 11 - Chapter 20

All Chapters of Pendekar Pedang Naga: Chapter 11 - Chapter 20

36 Chapters

11. Hubungan Rumit

Farel terjatuh ke tanah, napasnya terengah-engah, tetapi alih-alih kesal, ia malah tersenyum lebar."Seperti biasa… Aku belum pernah bisa melawanmu, Kakak," katanya, masih tersengal. "Tapi serius… kenapa kau malah di kelas rendah?"Dia menoleh ke Arsel, yang masih berdiri tegak, nyaris tanpa tanda-tanda kelelahan setelah duel sengit barusan. Mata Arsel tetap dingin, tetapi ada kilatan sesuatu di sana—sesuatu yang tidak bisa Kael pahami sepenuhnya."Jangan panggil aku seperti itu di sini," ujar Arsel pelan, nadanya tenang namun penuh ketegasan.Kael membelalakkan mata, terkejut dengan kata-kata Arsel. Ia baru sadar kalau selama ini Farel tak pernah memanggil Arsel Kakak.Farel tertawa kecil, mengangkat tangan sebagai tanda menyerah. "Baiklah, baiklah. Tapi itu tidak mengubah fakta, kan? Dengan kekuatanmu, kau seharusnya ada di kelas atas."Dia menatap Arsel dengan penuh pertanyaan, tetapi Arsel hanya menghela napas pelan sebelum berbalik, berjalan menjauh seolah duel tadi tidak ada art
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

12. Kekuatan Yang Tersembunyi

Arsel berhenti sejenak, menoleh sekilas ke arah Farel, lalu mendengus pelan sebelum kembali berjalan. Arsel menghela napas panjang, jelas kesal. Biasanya, Farel bukan tipe yang bawel atau terlalu ikut campur, tapi hari ini dia terus menempel seperti lintah. Ia berhenti tiba-tiba, membuat Kael yang berjalan di sebelahnya ikut berhenti. Farel, yang masih bersikap santai, nyaris menabraknya. "Apa yang sebenarnya kau inginkan, Farel?" suara Arsel terdengar lebih dingin dari biasanya. "Biasanya kau tidak sepeduli ini." Farel tetap tersenyum, tapi kali ini ada sesuatu di balik senyumnya—sesuatu yang sulit ditebak. "Aku hanya penasaran," katanya, suaranya lebih tenang dari sebelumnya. "Kau selalu menyembunyikan sesuatu, dan aku ingin tahu apa yang kau rencanakan." Arsel menatapnya tajam. "Aku tidak merencanakan apa pun." Farel mendengus. "Aku tidak percaya." Ketegangan di antara mereka semakin terasa. Kael hanya berdiri di tengah, merasa seperti orang luar dalam pertengkaran du
last updateLast Updated : 2025-03-04
Read more

13. Mengukur Kekuatan

Suasana tegang memenuhi ruangan. Kael bisa merasakan udara di sekitarnya terasa lebih berat, seolah ruangan ini dipenuhi oleh sesuatu yang tak terlihat. Arsel tetap tenang seperti biasa, berdiri dengan sikap santai, tapi Kael tahu dia juga sedang waspada. Guru Besar mengamati mereka berdua dengan tatapan tajam, lalu akhirnya berbicara. "Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku memanggil kalian ke sini," katanya, suaranya dalam dan berwibawa. Kael menelan ludah, tidak berani menjawab. Guru Besar melanjutkan, "Kael, kau mungkin belum menyadarinya… tapi keberadaanmu di akademi ini lebih dari sekadar seorang murid tanpa roh pedang." Kael terkejut. "Apa maksudnya, Guru?" Guru Besar tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia menatap Arsel dengan tatapan penuh arti. "Dan kau, Arsel… kau sudah terlalu lama menyembunyikan sesuatu." Kael melirik Arsel dengan cepat, seperti yang sudah ia duga, wajah Arsel tetap tenang, meskipun sorot matanya sedikit berubah. "Jadi," Guru Besar bersa
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

14. Duel Yang Menegangkan

Pertarungan dimulai. Kael langsung melompat mundur, matanya terkunci pada Arsel yang berdiri dengan tenang di seberangnya. Dia belum bergerak… Kael menggenggam pedangnya erat. Ia tahu, jika ia hanya menunggu, Arsel yang akan mengambil inisiatif. Dan benar saja—dalam sekejap, Arsel menghilang dari tempatnya. Cepat! Kael hanya sempat mengangkat pedangnya sebelum Arsel muncul di hadapannya, serangannya datang bagaikan kilat. CLANG! Benturan pedang terdengar nyaring, Kael terdorong ke belakang. Kekuatan Arsel jauh lebih besar dari yang ia perkirakan. Tapi Kael tidak menyerah begitu saja. Ia menyesuaikan kuda-kudanya dan berusaha membalas. Pedangnya menebas cepat, mencoba mengejar pergerakan Arsel yang nyaris tak terlihat. Sayangnya setiap serangannya meleset. Kael berusaha kerasa menghindar dan mengimbangi serangan Arsel. Arsel menghindar dengan mudah, matanya tajam, seolah sedang mengamati setiap gerakan Kael dengan penuh perhatian. Dari luar arena, para instruktur mul
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

15. Niat Membunuh

Guru Besar mengangkat satu tangan, menahan kekuatan Arsel tepat sebelum serangannya mencapai Kael. Ruangan yang dipenuhi ketegangan tiba-tiba terasa lebih berat. Arsel terhenti, matanya masih menyala dengan emosi yang tak tersalurkan. Bukan hanya kekuatan Guru Besar yang terasa saat itu. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang aneh. Guru Besar dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Kael. Tapi tidak ada tanda-tanda kekuatan roh dari tubuhnya. Kael tampak biasa saja, wajahnya sedikit lelah, tapi tak menunjukkan ekspresi ketakutan atau kesadaran akan apa yang sebenarnya terjadi. Kael menggigit bibirnya, menundukkan kepala. "Maaf, Guru. Aku sudah membuat Guru harus turun tangan membantuku. Karena kelemahanku, aku malah menjadi beban bagi kalian." Guru Besar menarik napas dalam, lalu menatapnya tajam. "Aku harap ini tidak terjadi lagi, Kael." Kael mengangguk hormat, menerima nasihat itu tanpa perlawanan. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Arsel atau para instruktur yang masih t
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

16. Keluarga Pendekar Pedang

Naga Hitam terkekeh rendah, suara tawanya menggema. "Tapi kau keras kepala. Kau tidak menyerah meski sudah berkali-kali jatuh. Itu menghiburku. Jadi, cepat kembali sebelum orang-orang mengira kau mati di sini."Sebelum Kael sempat membalas, kesadarannya tiba-tiba tersentak kembali. Kael membuka matanya dengan napas memburu. Dunia nyata langsung menyambutnya—udara malam yang sejuk, suara dedaunan yang bergoyang, dan… tatapan tajam seseorang di hadapannya. Arsel berdiri di sana, kedua tangannya terlipat di dada. Matanya menatap Kael penuh selidik, seakan mencoba mencari tahu apa yang baru saja terjadi. "Kau akhirnya bangun," kata Arsel datar. "Apa yang kau lakukan di sini sampai seperti mayat?" Kael masih sedikit pusing, tetapi ia menghela napas dan berdiri perlahan. “Aku memulihkan kekuatanku, tak mungkin aku baik-baik saja. Setelah menerima seranganmu,” jawa Kael yang tak ingin Arsel curiga.Arsel menatapnya lebih lama sebelum menghela napas. "Apa kau terluka?”Kael mengu
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

17. Mencari Informai

Arsel menatap Kael tajam, ekspresinya berubah serius. "Siapa yang memberitahumu?" Kael menelan ludah. Ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin ia memberi tahu Arsel bahwa seekor naga hitam dalam alam rohnya yang memberitahunya tentang garis keturunannya. "Aku… hanya mendengar bisik-bisik dari beberapa orang di akademi," Kael berusaha mencari alasan. "Aku tidak tahu seberapa benar itu, makanya aku menanyakannya langsung padamu." Arsel masih menatapnya curiga, tetapi kemudian ia menghela napas. "Tidak banyak yang tahu soal keluarga kami. Aku berharap itu tetap begitu." Kael mengangguk, berusaha tidak menunjukkan kegugupan. "Jadi, Farel tidak mendapatkan pedang naga karena aturan keluarga?" tanyanya, mencoba mengalihkan pembicaraan. Arsel mengangguk pelan. "Ya. Aku yang tertua, jadi aku yang mewarisi pedang naga. Farel… sejak kecil selalu berusaha membuktikan bahwa dia juga layak." Kael terdiam. Sekarang semuanya mulai masuk akal. "Itu sebabnya dia pergi,
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

18. Orang Yang Mencurigakan

Kael dan Arsel saling bertukar pandang dalam sepersekian detik. Tidak ada waktu untuk kabur—mereka sudah ketahuan. Kael berusaha tetap tenang. "Kami hanya kebetulan lewat," jawabnya dengan nada santai, berusaha menutupi niat mereka yang sebenarnya. Pria itu menyipitkan mata. "Kebetulan lewat? Di gang sepi seperti ini?" Arsel menyilangkan tangan, berusaha menampilkan sikap tak peduli. "Apa itu masalah? Gang ini milikmu?" Pria itu menggeram, jelas tidak menyukai sikap mereka. Dari dalam ruangan, terdengar suara lain. "Biarkan mereka masuk." Kael dan Arsel menegang. Perintah itu datang dari seseorang di dalam. Pria bertubuh besar itu menyeringai sebelum melangkah ke samping, memberi jalan. "Masuk. Kalian sudah sejauh ini, kan? Jangan sampai menyesal." Kael menatap Arsel sekilas. Ini bisa jadi jebakan. Tapi mereka juga tidak bisa mundur sekarang. Dengan langkah hati-hati, mereka melangkah masuk ke dalam kegelapan ruangan, bersiap menghadapi apa pun yang menunggu di dalam.
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

19. Latihan Rahasia

Kael duduk bersila di tengah hutan belakang akademi, matanya terpejam, fokus sepenuhnya pada instruksi yang hanya bisa ia dengar dalam pikirannya. "Kendalikan napasmu. Rasakan aliran energi dalam tubuhmu," suara dalam itu bergema di benaknya. Naga hitam, entitas yang selama ini berdiam dalam dirinya, kini menjadi gurunya dalam latihan. Berbeda dengan para instruktur di akademi, naga hitam tidak memberi Kael teknik-teknik pedang biasa. Kael mulai merasakan energi mengalir dari dalam tubuhnya, tetapi masih belum bisa mengendalikannya sepenuhnya. "Kau terlalu tegang, bocah. Kau harus menyatu dengan kekuatanmu, bukan melawannya," gerutu naga hitam. Kael menarik napas panjang, mencoba rileks. Dalam pikirannya, ia melihat bayangan naga hitam mengitari dirinya. "Apa kau ingin mengajarkanku teknik bertarung?" tanyanya dalam hati. "Teknik? Hah! Senjata terkuatmu bukan teknik pedang, tapi kekuatan yang ada dalam dirimu. Kau hanya perlu membangunkannya." Kael mengernyit. "Membangu
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more

20. Kompetisi Akademi

Duel antara Kael dan Arsel dimulai di halaman belakang akademi, tempat yang sering digunakan para murid untuk berlatih. Angin sore berembus pelan, membawa ketegangan di antara mereka. Kael berdiri tegap, ekspresinya lebih serius dari sebelumnya. Ia ingin mengukur kemampuannya dengan sesungguhnya, tanpa menahan diri. Sementara itu, Arsel, teman sekamarnya yang selalu tenang, hanya tersenyum kecil, seolah menganggap ini sebagai latihan biasa. Tanpa aba-aba, Kael langsung menyerang lebih dulu. Gerakannya cepat dan penuh tenaga, berbeda dari biasanya. Arsel sedikit terkejut tetapi tetap mampu menghindar dengan gesit. Ia melompat ke belakang dan membalas dengan serangan balik yang tajam, menunjukkan keahliannya yang luar biasa. Kael tidak mundur. Dengan fokus penuh, ia meningkatkan kecepatannya, mencoba menekan Arsel. Setiap serangan mereka berbenturan, menciptakan suara dentingan tajam di udara. Arsel akhirnya menyadari sesuatu—Kael tidak hanya ingin bertarung biasa. Ada sesuatu d
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more
PREV
1234
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status