All Chapters of Terjerat Cinta Sang Fotografer: Chapter 41 - Chapter 50

97 Chapters

Rindu Yang Tidak Bisa Ditahan

CATALEYAAku menunggu Alan pulang dengan suasana hati yang buruk. Semua rencanaku pergi dari rumah gagal total karena bodyguard yang disewanya untuk menjaga, atau lebih tepatnya mengawasiku, dan itu pun tanpa persetujuanku.Semakin ke sini Alan kian menunjukkan keegoisannya. Aku memang tidak dapat berbuat apa-apa. Namun jangan senang dulu. Dia salah jika berpikir dengan mengekangku maka dia akan menang. Dia memang menguasaiku, tapi dia gagal memenangkan hatiku. Justru sikapnya itu membuatku semakin hilang rasa.Alan baru menginjakkan kakinya di rumah pukul sembilan malam. Begitu dia masuk aku langsung pasang wajah sangar.“Hai, Sayang, kamu baru selesai mandi? Kamu mandi malam-malam begini?” tanyanya melihat rambuutku basah.“Apa maksud kamu, Lan?” tanyaku mengabaikan ucapannya.Dia mengerutkan dahinya, menyipit menatapku. “Ini kamu bicara soal apa?”“Apa nggak cukup kamu mengurungku di rumah? Dan sekarang kamu juga mau mengekangku dengan menyewa bodyguard?” ucapku ketus.Alan terdiam
last updateLast Updated : 2025-02-14
Read more

How Do I Live Without You?

FAIAku menunggu kedatangan Devanka dengan pikiran tidak menentu. Selama menantinya aku mondar-mandir sendiri. Lelah mengitari apartemen seperti orang gila, aku duduk di sofa ruang depan dengan tatapan tidak lepas dari pintu.Begitu bel terdengar langsung kumeloncat.Sosok Devanka muncul dengan pertanyaan, "Lo kenapa?""Apanya?""Muka lo tegang banget kayak mau ketemu sama camer.""Ketemu sama lo vibes nya emang nyaingin ketemu sama camer, Dev."Devanka tertawa.Aku menggeser rokok padanya setelah kami duduk."Gimana, Dev? Lo udah ketemu Cataleya?" Aku langsung mendesak agar dia bercerita."Gue udah ke rumahnya.""Terus?""Alan bilang dia lagi nggak di Jakarta."Informasi yang ditangkap telingaku membuatku lemas."Jadi dia di mana sekarang?""Katanya di Bandung. Alan mau buka kantor cabang Star Management di sana jadi Leya yang handle karena Alan sibuk.""Berapa hari dia di sana? Lo tau alamatnya?" tanyaku cepat. Setidaknya kalau aku tahu alamatnya aku bisa bertemu dengan Cataleya. Ak
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

No More Cataleya

FAIJakarta Selatan, 31 Desember, 19.15 WIBIni adalah hari terakhirku berada di Indonesia. Kontrak kerjaku berakhir sejak kemarin. Aku sudah mengembalikan apartemen serta mobil yang kupakai. Bukan pada Alan tapi melalui asistennya. Dia bilang Alan dan Cataleya pergi liburan akhir tahun. Bukan hanya Alan, tapi Bjorka serta keluarganya juga plesiran ke luar negeri menikmati liburan panjang yang sudah datang.Hanya aku yang masih di sini. Duduk di sudut kamar hotel sambil melamun sendiri. Tidak jauh dari tempatku duduk deretan koper besar bersisi pakaian dan barang-barang sudah siap untuk dibawa. Penerbanganku tinggal beberapa jam lagi. Dan mendadak perasaan sedih mulai merayapi hati. Ini bukan hanya tentang meninggalkan Indonesia tapi juga tentang ... Cataleya.Aku tidak berhasil bertemu dengannya. Jujur, aku sempat mencari ke Bandung sehari setelah bertemu dengan Devanka malam itu. Aku memaksa Devanka. Lalu keesokan harinya kami pergi. Kami mengitari kota Bandung selama dua hari tanp
last updateLast Updated : 2025-02-16
Read more

Berpisah

CATALEYAJakarta Selatan, 31 Desember“Ini bahan-bahannya sudah saya beliin, Mbak Leya.”Aku menatap tumpukan kantong belanjaan yang diletakkan ART di atas meja. Tadi aku memintanya belanja bahan-bahan untuk membuat kue berhubung aku dilarang keras keluar dari rumah.Alan memang sedang ke Thailand, tapi bodyguad nya stand by dua puluh empat jam untuk menjagaku.Berhari-hari aku mempelajari tutorial membuat birthday cake di YT. Lalu hari ini adalah waktunya untuk eksekusi.“Makasih ya, Bi,” ucapku pada si Bibi.“Ada yang bisa saya bantu lagi, Mbak Leya?”“Nggak ada, Bi, Bibi lanjutin aja kerjanya.”Si Bibi tetap tidak beranjak meski sudah kuusir.“Bi, kenapa masih di sini?”“Mbak Leya kan lagi hamil, jangan sampai capek.”“Iya, Bi, makasih ya. Tapi saya nggak capek kok. Kalau udah berasa capek saya akan istirahat.”Barulah pembantuku pergi.Kebetulan Mama Nuri juga tidak di rumah jadi aku bebas melakukan apa saja.Aku menyalakan laptop lalu membuka kanal baking langgananku di YT. Setel
last updateLast Updated : 2025-02-16
Read more

Someone Like You

FAI“Fai …” Suara Mama sayup-sayup terdengar bersama usapan di kepalaku.“Bangun, Fai, bentar lagi acaranya dimulai.”Aku memaksakan diri membuka kelopak mata yang berat. Tampak Mama sedang duduk di pinggir ranjang tempatku tidur. Mama berparas cantik. Tipe wajahnya seperti muka-muka sendu. Begitu kontras dengan karakternya. Papa bilang dulu waktu masih muda Mama orangnya keras kepala dan ngambekan. Tapi bagiku Mama adalah seorang ibu yang baik.“Acara apa, Ma?” tanyaku sambil mengumpulkan nyawa.“Lho, kok malah nanya lagi? Ya ngerayain best day kamulah.”Bibirku melengkung. Seketika teringat pada pesan Mama yang kuterima waktu masih di Jakarta. Mama mengambil handuk lalu meletakkan ke atas perutku yang masih berbaring.“Mandi dulu sana.”Aku baru turun dari tempat tidur setelah Mama keluar dari kamar.Ternyata Mama sudah menyiapkan air hangat di bathtub.Aku berendam di sana sambil menikmati wangi menenangkan dari lilin aromaterapi yang menguar ke setiap sudut kamar mandi. Mama juga
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more

Kehilangan

CATALEYA“Sayang, lagi mikirin apa?” pelukan di pinggangku beserta suara Alan yang terdengar membuatku terbangun dari lamunan. Sudah sejak tadi aku berdiri menyandarkan tubuh di tepi jendela dengan tatapan lepas ke luar sana.Aku mengambil tangan Alan yang melingkari perutku lantas menepisnya. Namun hanya sesaat, beberapa detik setelahnya Alan kembali menempelkan tangannya di perutku.“Jadi ceritanya kamu masih marah sama aku?”Aku mendengkus mendengar kata-kata Alan. Gimana aku nggak marah kalau dia bersikap semena-mena bagai diktator. Alan mengurungku di rumah ini dengan pengawasan bodyguard sewaannya yang membuatku muak.Embusan napas hangat Alan menerpa kulit pundakku namun nggak ngefek apa-apa. Aku merasa biasa saja. Jika Fai yang melakukannya aku akan meremang. Tubuhku seakan sudah kebal terhadap sentuhan pria mana pun kecuali Fai.“Kamu bosan berada di rumah?” Pertanyaan itu yang selanjutnya mengisi ruang dengarku.Percuma aku menjawab karena nggak akan ada artinya buat Alan. A
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more

Mencari Fai

CATALEYAAku meninggalkan studio diiringi tatapan heran Tyo. Dia pasti bertanya-tanya bagaimana mungkin aku tidak tahu mengenai kepergian Fai mengingat aku selama ini begitu akrab dengan Fai.Sekarang hanya Devanka harapanku satu-satunya. Sebagai teman dekat Fai aku yakin dia menyimpan nomor ponsel Fai.‘Fai, aku bakalan gila kalo kita nggak ketemu.’Aku mencari Devanka ke kantornya. Reaksinya sudah kuduga. Dia kaget aku muncul di sana."Leya?""Dev, Fai mana?" tanyaku to the point tanpa kalimat basa-basi.Aku harap jawaban yang kudengar akan berbeda. Tapi nyatanya tidak berubah."Fai udah balik ke Amrik. Kamu nggak tahu?" Devanka menatapku persis Tyo tadi. Tatapan bernada heran yang begitu kentara.Aku menggelengkan kepala. "Kalau aku tau aku nggak mungkin nanya kamu, Dev.”Devanka terdiam."Kapan dia pergi, Dev?""Dua minggu yang lalu, waktu malam tahun baru.""Kenapa dia nggak bilang sama aku? Kenapa dia main langsung pergi?" cecarku melampiaskan emosi padahal Devanka tidak salah a
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

Samperin Gih!

FAIDua minggu berada di rumah aku mulai menata hidup. Aku akan melanjutkan karir fotografiku. Mulai bulan depan aku sudah mulai mengerjakan job yang dulu kuambil waktu masih di Indonesia. Jadi aku masih punya waktu untuk santai di rumah selama dua minggu lagi.Ponselku berbunyi saat aku sedang membuka-buka galeri. Dari Devanka.“Ya, Dev, belum tidur lo?” tanyaku menyapa. Saat ini di Indonesia sedang tengah malam.“Fai, lo masih ingat Cataleya?”“Dibilang ingat nggak juga, dibilang lupa juga belum. Kenapa?” tanyaku tak berminat.“Dia nyari gue tadi pagi.”“Terus?”“Dia nanyain lo, Fai.”Aku terdiam dengan tanda tanya berkumpul di kepala.“Dia mau apa?”“Dia nggak terima lo pergi nggak bilang-bilang.”“Gimana mau bilang, kan dia sendiri yang nggak mau berhubungan sama gue lagi. Dia yang ‘mutusin’ gue.”“Iya sih, tapi anehnya dia minta alamat lo di DC.”“Buat apa dia nanya-nanya?”“Gue nggak tau, Fai.”“Lo kasih?”“Mana berani gue ngasih alamat orang tanpa izin.”“Bagus, Dev. Kalo dia n
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

Ciuman

FAIAku memaksakan senyum lalu mengikuti pandangan Tante Nira ke arah meja panjang tempat berbagai makanan dihidangkan. Tampak di sana seorang gadis berambut coklat gelap sedang meletakkan makanan yang dibawanya.“Fai, buruan sana, letakin kuenya,” suruh Mama sambil menepuk pundakku.“Iya, Ma.”Aku meneruskan langkah dengan tangan menenteng kantong-kantong berisi kue sedangkan Mama melanjutkan perbincangan dengan Tante Nira.Meja panjang itu penuh oleh berbagai makanan saat aku tiba di sana. Sampai aku bingung harus meletakkan di mana kue buatan Mama.Aku berdeham.Refleks dehemanku itu membuat gadis berambut coklat yang tadi membelakangiku memutar tubuhnya. Setelah kami berhadapan dia tampak terkejut karena tidak menyangka kami akan bertemu di sini. Namun kemudian dia mengembangkan senyumnya.“Fai kan?” sapanya dengan nada bertanya.“Ya.” Aku membalas senyumannya.“Ke sini juga?”“Tadinya cuma mau mengantar Mama, tapi Mama maksa buat ikut acara.”“Terus Tante Zola-nya mana?”“Ada tuh
last updateLast Updated : 2025-02-19
Read more

Ancaman Cataleya

CATALEYASetiap kali melihat muka Alan aku merasa muak dan ingin marah padanya, terlebih setelah aku mengetahui dialah yang membuat Fai pergi lebih awal sebelum kontraknya selesai. Aku ingin ngamuk pada Alan dan memaki-makinya, tapi pengalaman mengajarkanku bahwa menghadapi laki-laki itu tidak bisa dengan cara biasa. Dia bisa saja licik, namun aku harus jauh lebih cerdik.“Kamu nggak keluar hari ini?” tanya Alan pagi ini melihatku selonjoran di sofa sambil membolak-balik halaman majalah.Aku menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban tanpa menatap wajah Alan.“Tumben? Biasanya kamu mana betah berada di rumah.”Ucapan yang kudengar membuatku merasa perlu untuk mengangkat kepala.“Jadi maunya kamu aku harus ke mana, Lan?”“Aku kan nanya baik-baik, Sayang, kok kamu-nya ngegas?” Alan mengulurkan tangan membelai kepalaku yang langsung kutepis.Berhadapan dengan Alan tidak lagi menyenangkan seperti dulu. Hanya ada satu kata untuknya. Muak, muak, dan muak.“Ya, aku tahu kalau ibu hamil emosi
last updateLast Updated : 2025-02-19
Read more
PREV
1
...
34567
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status