All Chapters of Kembalinya Sang Legenda Perang: Chapter 41 - Chapter 50

60 Chapters

Mengungkap Jejak Sang Penembak

Setelah Clara dan Aryan kembali ke mobil, udara segar Kota Golden menyelimuti mereka, namun beban di pundak terasa lebih berat. Rasa cemas masih menghantui pikiran mereka, seolah terbawa dari lokasi penembakan yang baru mereka kunjungi. Clara berkata, “Kita harus memikirkan langkah selanjutnya. Siapa yang bisa kita hubungi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut?” Aryan menyeringai, merasakan momen ketegangan perlu diubah menjadi lebih produktif. "Apa kabar Rahman? Dia pasti punya relasi dengan beberapa petugas di lapangan." "Ya, betul. Mari kita hubungi dia," Clara segera mengeluarkan ponsel dari saku tasnya. Ia menghubungi Rahman sambil meneliti jalan yang masih dibanjiri oleh para petugas. Setelah beberapa nada dering, akhirnya Rahman menjawab. “Clara! Ada apa?” “Rahman, kita baru saja dari lokasi penembakan di café. Beberapa informasi yang kami dapatkan tidak substansial. Kami memikirkan langkah selanjutnya untuk menyelidiki ini,” jawab Clara. “Mungkin aku bisa mengatur
last updateLast Updated : 2025-02-08
Read more

Diburu Dalam Kegelapan

Ketegangan terasa di udara saat Clara dan Aryan berhadapan langsung dengan Liana, mantan intelegen yang kini telah bergabung dalam anggota Dark Immortal, kini Liana tampak begitu berbahaya. Dengan senjata terangkat, Liana menatap Aryan dengan rasa curiga dan kemarahan. “Kau tidak tahu bahaya yang kau hadapi, Aryan! Pergi sekarang sebelum kau menyesal.” “Ikutilah kami, Liana,” balas Aryan dengan suara berani. “Kami tidak akan membiarkan kejahatan ini terus berkembang.” Clara merasakan jantungnya berdegup kencang, tetapi ia fokus pada tujuan mereka. “Kita tidak datang untuk bertarung, Liana. Kami hanya ingin tahu informasi mengenai Zareth dan kelompoknya!” Mata Liana menyempit, ketidakpercayaan terlihat jelas di wajahnya. “Berhenti berbohong! Kalian berdua terlalu bodoh untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bukan hanya tentang Zareth, tapi kekuatan yang kau coba lawan lebih besar dari yang bisa kau bayangkan!” “Jika kamu tidak mendukung kejahatan itu, maka bantu kami!” Clar
last updateLast Updated : 2025-02-09
Read more

Jalan Kegelapan

Kegelapan menyelimuti lorong sempit di mana Clara dan Aryan berada. Suara langkah para penembak bergemuruh di atas mereka, mengingatkan bahwa waktu tidak berpihak. Aryan harus bersikap cepat dan cerdik. “Apakah kamu pernah melewati lorong ini sebelumnya?” tanya Clara, berbisik pelan. “Tidak, aku baru pertama kali,” jawab Aryan, memeriksa dinding yang lembap. “Tapi aku yakin bahwa jalan ini bisa membawa kita keluar dari sini.” Clara merasakan ketegangan semakin menumpuk. Mencoba menenangkan dirinya, ia mengalihkan fokusnya pada suara yang menggema di ujung terowongan. “Haruskah kita pergi lebih dalam? Atau kita bisa menemukan jalan keluar di sini?” “Kita harus terus maju! Jika mereka menemukan kita di sini, kita tidak akan punya peluang,” ujar Aryan, menarik Clara lebih dalam dalam lorong tersebut. Setelah beberapa menit berjalan, mereka menemukan bekas cahaya samar dari ujung terowongan. Dengan harapan, mereka terus melangkah. Saat mendekati titik cahaya, rasa lega perlahan
last updateLast Updated : 2025-02-10
Read more

Pertarungan Aryan Vs Gorgoten

Jantung terasa berdegup kencang saat mereka semakin mendekati warehouse tua. Suasana mencekam melanda lingkungan sekitar, dan aroma garam laut bercampur udara dingin yang menusuk semakin membuat cemas. Di dalam hati, mereka merasakan ketegangan menyelimuti, sedangkan pikiran akan bahaya yang mengintai terasa semakin nyata. “Kita sudah dekat,” bisik Henry, merendahkan suaranya saat mereka menghampiri tepian pelabuhan. “Di sini, kita harus berhati-hati. Para pasukan Zareth bukanlah lawan yang mudah.” “Mari kita tentukan posisi kita di belakang barang-barang ini,” Aryan menunjukkan tumpukan kontainer yang terpakai. “Kita bisa mengintip situasi sebelum melangkah lebih jauh.” Clara mengangguk, membenamkan diri di antara tumpukan barang, menyaksikan sekeliling dengan penuh kewaspadaan. Di depan mereka, warehouse yang gelap terlihat seperti benteng kekuatan dan kejahatan. Terlebih ketika mereka menangkap beberapa sosok pria berbadan kekar berlalu lalang, bersenjata lengkap dan bersia
last updateLast Updated : 2025-02-12
Read more

Kekuatan Aryan mengalahkan Gorgoten

Gorgoten, walau terhuyung-huyung, tetap menunjukkan ketahanan yang luar biasa dari seorang tentara terkuat Zareth. Dengan otot-otot tubuh yang menegang, dia berhasil bangkit dari keadaan terjatuhnya. Mata merahnya berkilau dengan kemarahan dan kebencian, seolah siap untuk membantai kembali. “Aku tidak akan kalah…!” Gorgoten menggeram, suaranya berat dan penuh kebencian, membangkitkan rasa ngeri di hati Clara. “Jangan ragu! Kita harus segera pergi!” Aryan berteriak, mengambil inisiatif dengan menarik Clara dan Henry menjauh dari situ. Namun Gorgoten sudah berada di dekat mereka, memblokir pintu keluar mereka dengan langkah besar dan penuh ancaman. “Rasa sakit ini hanya membuatku lebih kuat!” Gorgoten berseru, mengangkat tangan bersiap menghantam serangan. Clara berpikir cepat dan meraih pistolnya. “Kita tidak bisa membiarkannya bangkit. Dia bisa memanggil pasukannya,” ucap Clara, berusaha meraih ketenangan dalam situasi yang mengerikan. “Aku akan mengalihkan perhatiannya, kamu te
last updateLast Updated : 2025-02-12
Read more

Jeritan Dalam Kegelapan

Suasana di dalam warehouse itu terasa mencekam. Sinar redup dari lampu-lampu tua yang bergetar membuat bayangan seolah menari di dinding. Setiap desah napas dan ketukan langkah mereka membentuk serangkaian melodi yang dramatis, dan suara teriakan yang tiba-tiba memecah keheningan menggema dalam hati mereka.“Dari arah mana teriakan itu?” tanya Clara, nada suaranya bergetar dalam ketidakpastian. Matanya melirik Aryan dan Henry, mencari jawaban dalam tatapan mereka.Henry mengerutkan keningnya, ekspresinya dipenuhi keprihatinan. “Kita harus mencari sumbernya. Setelah itu kita mungkin masih bisa menyelamatkannya.”“Benar. Kita tidak bisa membiarkan mereka dalam keadaan terjebak,” kata Aryan, bertekad memasuki situasi ini dengan keberanian. “Mungkin ada lebih banyak orang yang terkurung di sini.”Saat melangkah lebih jauh, mereka menyusuri lorong-lorong sempit yang menjadi saksi bisu kekejaman para petugas Zareth. Dinding-dinding tegak berdiri dalam kesepian, seolah meresap ke dalam sanub
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

Sebuah Pilihan Clara

Bulan sabit menggantung di langit malam, memancarkan cahaya perak yang menari-nari di atas permukaan air yang tenang. Namun, keindahan malam itu gagal meredakan kecemasan yang mencengkeram hati Clara. Hilangnya Aryan di dalam kegelapan warehouse itu bagaikan duri yang menusuk-nusuk, menghadirkan bayangan ketakutan yang nyata. “Kita tidak bisa meninggalkannya di sana,” kata Clara, suaranya bergetar meskipun berusaha untuk tetap tegar. “Kita harus kembali.” Henry, yang selama ini berusaha menenangkan, kini tampak ragu. “Clara, itu terlalu berbahaya. Kita tidak tahu apa yang menantinya di dalam sana. Gorgoten mungkin tidak sendiri, dan kita harus memikirkan keselamatan para korban yang baru kita selamatkan.” “Keselamatan mereka adalah prioritas utama kita, aku tahu. Tapi Aryan… dia tidak akan meninggalkan kita begitu saja. Kita harus melakukan hal yang sama,” balas Clara dengan tekad yang membara di matanya. Henry menghela napas panjang, menyadari bahwa tekad Clara tidak bisa dig
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

Kebangkitan dari Ambang Maut

Kata-kata Valerius menggantung di udara seperti kabut beracun, meracuni harapan Clara dengan keputusasaan. Bayangan pedang yang berkilauan menari-nari di depan matanya, seolah meramalkan akhir yang tragis. Namun, di tengah keputusasaan itu, secercah harapan mulai bersemi.Di telinganya, ia mendengar erangan pelan. Sebuah gerakan lemah. Mata Aryan perlahan terbuka, menampakkan tatapan yang redup, namun penuh tekad. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya, namun dorongan untuk melindungi teman-temannya membakar jiwanya.“Cl…Clara…” bisik Aryan dengan suara serak, nyaris tak terdengar.Clara terkejut dan menoleh ke arah Aryan. Air matanya mengalir semakin deras, namun kali ini, air mata itu bercampur dengan harapan.“Aryan! Kau sadar!” seru Clara, wajahnya berbinar.Valerius menyeringai sinis. “Jadi, pahlawan kita akhirnya bangun. Sayang sekali, ini sudah terlambat.”Valerius mengangkat pedangnya, bersiap untuk mengakhiri hidup Clara dan Aryan sekaligus. Namun, sebelum pedang itu sempat
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

Bayang-Bayang Zareth

Keesokan paginya, matahari menyingsing dengan cahaya redup, seolah enggan menyinari dunia yang penuh dengan kegelapan dan kejahatan. Aryan dan Clara duduk di sebuah kafe kecil di pinggiran kota, menikmati secangkir kopi pahit sambil merenungkan kejadian semalam. "Para korban penculikan sudah aman di tangan pihak berwenang, mereka akan mendapatkan perawatan dan perlindungan yang mereka butuhkan." "Bagaimana dengan pengiriman senjata?" Aryan bertanya, penasaran. "Semalam, saat kita tengah menyelamatkan para korban. Pihak kepolisian telah datang dan menyergap mereka. Tapi sayangnya, tidak semua anggota organisasi berhasil tertangkap. Mereka banyak yang melarikan diri," jawab Clara, sambil sesekali menyeruput kopinya. "Tak apa," jawab Aryan, nadanya datar. "Walaupun mereka masih berkeliaran di luar sana. Tapi kita sudah mulai mendapat titik terang tentang pergerakan mereka."Lalu pikiran Aryan tiba-tiba beralih kepada Henry, ia menatap Clara dengan pandangan serius. "Oh ya, bagaimana
last updateLast Updated : 2025-02-14
Read more

Pertemuan Dengan Zareth'

Sapaan Zareth membelah keheningan kantor yang megah, mengiris seperti pisau dingin yang membelah kegelapan. Senyumnya yang tipis, dibingkai oleh wajah tampan yang menawan, terasa palsu, seperti bunga indah yang tumbuh di atas kuburan. Aryan dan Clara berdiri terpaku, mata mereka meneliti setiap detail, mencari celah dalam ilusi. "mungkinkah dia... Zareth..." gumam Aryan, suaranya berat, dipenuhi kewaspadaan. Penampilannya yang kontras, nyaris tak dikenali, menambah lapisan misteri pada sosok yang menjadi pusat teror mereka. Zareth mengangkat gelas berisi cairan merah, memutar-mutarnya dengan gerakan anggun. "Kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku menyambut kalian dengan penampilan seperti ini?" "Kami lebih tertarik pada alasan di balik semua penderitaan yang kau sebabkan," balas Clara, suaranya stabil meski jantungnya berdebar. Ia tak bisa mengalihkan pandangan dari mata Zareth, yang dalam dan tajam dari pada yang mereka tau. "Ah, penderitaan," Zareth terkekeh, suara yang ter
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status