Semua Bab Lima Tahun Usai Berpisah: Bab 111 - Bab 120

128 Bab

Bab 111

Bab 111 Jonathan juga tampak terkejut. Matanya membesar saat melihat Najwa berdiri di sana dengan seragam butik. “Kamu?” Wanita yang tadi sibuk berbelanja menoleh ke arah anaknya dan tersenyum. “Oh? Kalian saling kenal?” Najwa masih belum bisa merespons, tetapi Jonathan yang pertama kali membuka suara. “Iya, Ma. Kami satu kampus.” Wanita itu tertawa kecil. “Wah, dunia ini benar-benar kecil, ya.” Najwa menelan ludahnya, merasa canggung. Ia tidak menyangka bahwa pelanggan ramah yang baru saja ia layani ternyata adalah ibu Jonathan. Di sisi lain, Jonathan menatapnya dengan campuran ekspresi terkejut dan penasaran. “Jadi… kamu kerja di sini sekarang?” tanyanya pelan. Najwa mengangguk tanpa banyak bicara. Wanita itu tidak menyadari ketegangan di antara mereka dan justru tampak semakin bersemangat. "Siapa nama kamu, Sayang?" "Saya Najwa, Nyonya," sahut Najwa dengan sopan. "Najwa? Jo, apa ini gadis yang pernah kamu ceritakan?" tanya wanita paruh baya tersebut dengan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

Bab 112

Bab 112Najwa menggeliat pelan di tempat tidur. Kelopak matanya perlahan terbuka, dan pandangannya masih sedikit kabur saat melihat langit-langit kamarnya. Ia mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadarannya.Tunggu! Bagaimana bisa ia ada di sini?Seingatnya, tadi malam ia tertidur di sofa sambil menunggu Farhan pulang.Najwa bangkit perlahan, duduk di tepi tempat tidur dengan dahi mengernyit. Apakah dia mengigau dan berjalan sendiri ke kamar? Atau ada seseorang membawanya ke sini?Pikirannya langsung melayang pada satu kemungkinan: Farhan.Ia buru-buru turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Aroma kopi menyambutnya saat ia berjalan menuju ruang makan, di mana Farhan sudah duduk dengan kemeja kerjanya yang sedikit tergulung di lengan. Pria itu tampak sibuk membaca sesuatu di ponselnya sambil menyesap kopi.Najwa berdiri di ambang pintu sejenak sebelum akhirnya melangkah mendekat."Om," panggilnya.Farhan mengangkat wajahnya, menatapnya dengan tenang. "Pagi."Najwa menarik napas,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

Bab 113

Bab 113Najwa menggenggam tali tasnya erat, jemarinya mengepal dengan kuat. Matanya menatap tajam ke arah wanita di hadapannya, seolah membangun tembok tinggi agar tidak ada satu pun kata yang bisa menembusnya."Kita tidak punya urusan, Nyonya," sahutnya dingin, nada suaranya tegas dan tak terbantahkan.Fara menelan ludah. Ada kesedihan yang jelas tergambar di wajahnya, tetapi ia tidak mundur."Wa, Ibu mohon. Ibu hanya ingin—""Berhenti menyebut diri Anda Ibu, karena Anda bukan ibu saya," sentak Najwa, suaranya bergetar karena emosi yang ia tahan.Fara terdiam. Kata-kata itu terasa seperti belati yang menancap langsung ke hatinya."Najwa...." bisiknya lirih, suaranya mengandung harapan, permohonan, dan rasa bersalah yang mendalam.Sayangnya ,Najwa tidak tergerak. "Anda membuang waktu saya, Nyonya."Tanpa memberi kesempatan bagi Fara untuk bicara lagi, Najwa berbalik dan melangkah pergi dengan cepat.Namun, tiba-tiba, sebuah tangan terulur dan menggenggam pergelangan tangannya erat."N
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

Bab 114

Bab 114"Najwa ...." panggil Farhan dengan lembut. Belum sempat Najwa memberikan jawaban, tiba-tiba ponsel wanita tersebut berbunyi."Halo," sahut Farhan."Siapa ini? Kenapa ponsel istri saya bisa ada di tangan Anda?" sahut suara di seberang sana."Istri anda tadi pingsan. Jadi saya membawanya ke rumah sakit Cipta Husada. Saat ini ...."Belum sempat Farhan menyelesaikan kalimatnya, panggilan sudah dimatikan."Suaminya?" tanya Najwa memastikan."Iya. Aku rasa dia sebentar lagi kesini," sahut Farhan.Najwa meremas tangannya dengan gugup. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan laki-laki yang merebut ibunya dari ayahnya. Laki-laki yang membuat ibunya meninggalkan dirinya dan ayahnya."Kamu gak papa?" tanya Farhan menyadari kegugupan gadis di sebelahnya tersebut. Meskipun dia tidak paham penyebabnya, namun dia bisa melihat dari gesturnya.Perlahan, Najwa menggelengkan kepalanya. Farhan tak bertanya lagi.Selang tak berapa lama kemudian, seorang pria melangkah tergesa seraya melakukan sambun
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

Bab 115

Bab 115TERKUAK"Hari ini gak usah masuk kerja. Nanti aku ijinkan sama Alya," ujar Farhan."Tapi, Om ....""Gak masalah, kamu istirahat saja. Maaf gak bisa nemenin, ada banyak kerjaan di kantor," sahut Farhan. Najwa pun menganggukkan kepalanya. Tubuhnya terlalu lemah untuk berdebat. Pertemuan dengan orang yang tidak diinginkannya benar-benar menguras tenaga.Setelah mengantar Najwa ke apartemen, Farhan kembali ke kantornya. ***Farhan duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop dengan rahang mengeras. Laporan yang baru saja ia terima dari tim IT benar-benar membuat darahnya mendidih. Nama seseorang yang tidak ia duga muncul sebagai pengguna terakhir yang mengakses sistem keuangan perusahaan.Andi.Andi adalah salah satu karyawan senior yang sudah bekerja di perusahaannya selama bertahun-tahun. Farhan selalu menganggapnya sebagai orang yang dapat dipercaya. Tapi ternyata, di balik wajah loyalitas itu, ada pengkhianatan yang tak bisa ia terima.Tak ingin membuang waktu, Farhan s
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya

Bab 116

Bab 116Ia mengambil segelas anggur merah dari meja, mengangkatnya sedikit seolah membuat sebuah perayaan kecil. Di luar sana, Farhan mungkin sedang sibuk memadamkan kebakaran di perusahaannya, tetapi dia tahu, itu hanya awal dari badai yang lebih besar."Mari kita lihat, seberapa lama kau bisa bertahan?"Senyumannya semakin lebar, sementara di luar sana, rencana penghancuran itu terus berjalan tanpa hambatan.***Di salah satu sudut kantin kampus, Jonathan duduk santai dengan teman-temannya—Gerry, Farel, dan Tio. Meja mereka penuh dengan gelas kopi dan sisa-sisa camilan. Percakapan yang awalnya biasa saja mulai mengarah ke topik yang lebih menarik."Jadi, gimana nih, Jo?" tanya Gerry sambil menyeringai. "Udah jadian sama Najwa atau belum?"Jonathan menyandarkan punggungnya ke kursi, memasang ekspresi percaya diri. "Santai aja. Cewek kayak Najwa butuh pendekatan yang halus."Farel tertawa kecil. "Halus dari mana? Udah hampir dua bulan, tapi gak ada kemajuan. Kalau gini terus, berarti
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Bab 117

Bab 117Farhan baru saja memasuki apartemennya ketika samar-samar mendengar isakan lirih dari kamar Najwa. Alisnya bertaut. Perlahan, melangkah mendekati pintu kamar itu dan membukanya. Najwa yang tidak fokus, tidak menyadari kehadiran Farhan sampai pria itu duduk di sampingnya."Najwa ....""Om," seru Najwa terkejut. Namun, sesaat kemudian, dia menghambur ke dalam pelukannya.Farhan terdiam sejenak, sedikit kaget dengan reaksi istrinya. Meski pernikahan mereka hanya sebatas perjanjian, ia tidak bisa mengabaikan keadaan Najwa yang jelas-jelas sedang hancur. Perlahan, tangannya terangkat, mengusap kepala gadis itu dengan lembut."Wa, apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara rendah.Najwa tidak langsung menjawab. Ia hanya terus menangis, menggenggam erat kaus Farhan seakan takut kehilangan pegangan."Mereka jahat, Om. Mereka semua jahat," isaknya di sela napas tersendat-sendat.Farhan mengernyit. "Siapa yang jahat?"Najwa menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. "Mereka semua, Om. Ib
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Bab 118

BAB 118LUKA LAMA YANG TERPENDAMNajwa tengah duduk di meja makan, menyesap segelas susu hangat sambil melirik ke arah pintu kamar Farhan. Seperti yang sudah diduganya, pria itu muncul beberapa detik kemudian, mengenakan setelan kerja berwarna abu-abu tua yang rapi. Dasi hitamnya terikat sempurna di leher, dan rambutnya yang sedikit acak-acakan masih tampak basah sehabis mandi."Selamat pagi, Om," sapa Najwa ceria, mencoba mengusir bayang-bayang kegelisahan yang masih mengendap di hatinya sejak tadi malam.Farhan yang baru saja keluar dari kamarnya hanya menatapnya sekilas sebelum mengangguk kecil. "Pagi," sahutnya singkat, lalu menjatuhkan bobotnya di kursi ruang makan.Matanya menangkap tatapan Najwa yang tampak lebih segar dari sebelumnya, meski masih ada jejak kelelahan di wajah gadis itu."Kamu masuk kuliah? Kalau belum siap...," ucapnya menggantung, menatap Najwa dengan pandangan penuh pertimbangan.Najwa menggeleng tegas. "Aku masuk, Om. Aku gak apa-apa kok."Farhan mengernyit,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Bab 119

BAB 119KONSPIRASIFarhan menutup laptopnya dengan kasar, dadanya naik turun menahan amarah. Kepalanya berdenyut memikirkan situasi perusahaan yang semakin memburuk. Sejak kasus Pak Andi mencuat, semuanya terasa seperti efek domino. Satu masalah jatuh, yang lain ikut tumbang.Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah jendela besar di belakangnya. Dari lantai tertinggi gedung perusahaannya, ia bisa melihat lalu lintas kota yang sibuk. Di bawah sana, kehidupan berjalan seperti biasa. Namun, di dalam kantor ini, perusahaannya sedang terancam.Matanya menyipit, mencoba menghubungkan titik-titik kejadian yang terasa terlalu kebetulan. Pak Andi tertangkap, lalu tiba-tiba investor mulai ragu, laalu muncul isu kebangkrutan yang menyebar begitu cepat."Seseorang sedang bermain kotor."Ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. Seorang karyawan masuk dengan wajah khawatir."Pak, maaf mengganggu. Ada telepon dari salah satu investor utama kita, Pak Darman. Beliau ingin berbicara langsung deng
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Bab 120

BAB 120KERINDUAN YANG TAK TERPADAMKANFara duduk di sofa ruang keluarga dengan wajah yang dipenuhi kesedihan. Matanya yang sembab menunjukkan bahwa ia sudah menangis cukup lama. Di tangannya, ia menggenggam erat selembar foto lama, foto seorang gadis kecil dengan senyum polos yang begitu dirindukannya.David duduk di sampingnya, tangannya dengan lembut mengusap punggung istrinya, berusaha menenangkan. Namun, Fara tetap terisak, rasa sesak yang menghimpit dadanya tak kunjung mereda."Aku tidak bisa terus seperti ini, Mas. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya setidaknya sekali saja. Aku ingin menebus semua kesalahan yang telah aku buat," ujar Fara dengan suara bergetar.David menarik napas dalam. Ia paham betul bagaimana perasaan istrinya. Setiap malam, ia melihat Fara duduk termenung di depan jendela, matanya menerawang jauh, pikirannya entah ke mana."Sayang, aku mengerti perasaanmu. Tapi kita harus bersabar sedikit lagi. Jangan gegabah, kita harus menunggu waktu yang te
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
8910111213
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status