Home / Romansa / Dekapan Panas Ceo Arrogant / Chapter 41 - Chapter 50

All Chapters of Dekapan Panas Ceo Arrogant: Chapter 41 - Chapter 50

61 Chapters

41. Gara-gara Laura

"Harry, kenapa kau diam saja?" cecar Austin lagi. "Bagaimana dengan pertanyaan Dominic? Kau memaksa sekretaris-mu untuk menjadi istrimu?"“Brengsek!” Harry memaki Austin. Pria itu mengusap wajahnya karena tiba-tiba saja merasa gugup. "Aku bukan pria seperti itu. Kami menikah karena memang sudah waktunya," sanggah Harry, tampak menyakinkan kedua temannya. Austin masih tampak belum puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan oleh temannya itu. "Jadi, kalian benar-benar saling mencintai, kan? Ini bukan pernikahan "palsu", kan, Harry?" Begitu juga dengan Dominic. Bedanya pria itu hanya diam dan mengamati gerak-gerik Harry yang jelas terlihat gelisah. "Kurasa kau mulai mabuk, Austin? Pertanyaanmu tak masuk akal!" Harry kembali mengambil botol wine dan menuangkannya ke dalam gelas. Dia tak mau jika Austin terus-menerus membahas tentang dirinya dan juga Laura. Maka dari itu, Harry berusaha untuk mengalihkan perhatiannya sendiri, d
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

42. Wanita Bayaran?

Mendengar ancaman dari Harry, Laura terpaksa diam. Wanita akhirnya hanya bisa pasrah berada dalam pelukan pria besar yang ada di bawahnya. Setelah saling diam, tanpa suara sama sekali, Harry menurunkan tubuh Laura ke sisinya. Pria itu berbaring miring, dan memeluk Laura yang lagi-lagi dibuat terlonjak dengan tingkah Harry. Sungguh, Laura tak bisa menahan debaran di dalam dadanya, ketika tangan besar Harry melingkar di atas perutnya yang ramping. “Pejamkan matamu!” bisik Harry tiba-tiba, yang langsung membuat Laura memejamkan matanya dengan cepat. “Gadis pintar. Selamat malam!”Laura bergeming. Wanita itu hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berdebar dengan kuat. Tubuhnya terasa kaku karena ini pertama kalinya dia berada sedekat ini dengan seorang pria. Setelah mendengar suara napas Harry yang teratur, Laura memberanikan diri untuk membuka matanya. Dia memiringkan wajahnya, hingga tatapan matanya bisa bertemu langsung dengan wajah Harry yang tampak damai.
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

43. Aku Tidak Akan Menyukaimu!

“Segera bersiap-siap, orang tuaku, dan teman-temanku menunggu di bawah. Kita akan sarapan bersama.” Laura hanya mendengus mendengar perintah Harry. Dia menatap pria yang sudah rapi dengan pakaian santainya, dengan tatapan tidak suka. “Kau turun saja lebih dulu. Aku akan menyusul.” Tangan Harry yang sedang memakai jam tangan berhenti. Pria itu menoleh, dan melihat wajah Laura yang masam. “Kita turun bersama!” ujar Harry dengan tegas. “Kenapa wajahmu seperti itu? Kau mau semua orang tahu jika pernikahan kita ini hanya kontrak saja?” “Aku tidak akan seceroboh itu, Tuan Harry Thompson! Akan kupastikan semua orang percaya jika kita saling mencintai.” Laura langsung menyunggingkan senyumnya, walau terpaksa. Dia masih kesal dengan sikap Harry saat baru bangun tidur tadi. “Memang seharusnya begitu. Aku membayarmu dengan mahal, sudah sepatutnya kau melayani aku,” sindir Harry yang la
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

44. Ibu Mertua

Kata-kata yang terlontar dari mulut Harry tadi benar-benar membuat hati Laura sakit. Tidak! Bukan karena Harry yang berkata tidak akan menyukainya. Lagi pula, dia memang tidak pernah berharap akan hubungan mereka ini. Walaupun malam tadi, terlintas keinginan dalam benaknya untuk bisa memiliki Harry, tetapi setelah sadar Laura segera membuang jauh-jauh semua pemikirannya itu. Hanya saja, perkataan Harry tadi terlalu kejam. Dia berkata seolah-olah Laura adalah wanita menjijikan, yang tak pantas untuk dicintai siapa pun. "Ya, aku sadar dengan posisiku dan juga siapa diriku," ujar Laura dengan suara pelan, setelah beberapa saat terdiam. Wanita itu hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. Berharap dengan itu, dia juga bisa membuang semua rasa sesak di dalam hati yang tiba-tiba hadir. Melihat raut wajah Laura yang berubah, Harry pun terdiam. Tenggorokannya terasa seperti tercekat, saat dia hendak menjawab ucapan dari wanita di hadapannya ini. "Kau turun duluan saja.
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

45. Rumah Baru

"Aktingmu tadi sangat luar biasa, Harry." Harry melihat Laura yang sedang bertepuk tangan dengan wajah riang. Lalu, setelah itu Laura segera menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, yang mana semakin membuat Harry kebingungan. "Maksudmu?" "Kau membelaku di depan ibu mertuaku. Harus kuakui kau cocok jika menjadi aktor," sindir Laura dengan melipat kedua tangan di depan dada. Sungguh, dia nyaris terbawa perasaan karena perlakuan Harry tadi. Harry bersikap sangat baik, seolah dia benar-benar mempercayai dan mencintai Laura di depan ibunya. "Bayaranku akan sangat mahal. Mereka tidak akan mampu membayarnya." "Dasar narsis!" "Sekarang apa yang akan kau lakukan?" "Tidur. Apalagi? Aku masih libur, kan?" Laura meletakkan ponselnya, dan langsung menatap Harry yang juga sedang melihat ke arahnya. Pria itu hanya meng
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

46. Percaya Padaku, Laura

"Kau memecatku?" tanya Laura dengan ekspresi tak percaya. "Memangnya aku melakukan kesalahan apa?” Harry mengendikkan bahunya. “Kau kan sudah mendapatkan bayaran mahal dariku. Jadi, jangan serakah!” “Bukan seperti itu ... kontrak kerja kita tidak seperti itu. Aku tidak bisa mengundurkan diri sebelum masa akhir kontrak, kau juga tidak bisa memecatku seenaknya!” sanggah Laura yang masih tidak terima dengan keputusan Harry yang tiba-tiba. Pria itu memecatnya tanpa pemberitahuan. Laura bukan serakah, dia hanya ingin bekerja keras dan mengumpulkan banyak uang, sebelum nanti berpisah dengan Harry. Setidaknya, Laura harus punya persiapan sebelum berstatus janda nanti. “Aku tidak memecatmu seenaknya. Aku punya alasan untuk itu, Laura." “Apa alasanmu? Beritahu aku sekarang!" Harry langsung menjentikkan jarinya di depan Laura yang masih terlihat bingung. “Kau tidak membaca se
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

47. Pesan Misterius

Laura benar-benar bosan menghabiskan hari-harinya di rumah. Wanita itu tidak punya kegiatan lain, selain menonton dan makan. Harry benar-benar tidak mengizinkannya lagi untuk bekerja, dengan dalih dia tidak mau semua orang menganggapnya sebagai pria yang tidak bertanggung jawab. “Nyonya, makan siang sudah selesai. Anda ingin makan sekarang?” Suara Maria menyapa dengan ramah. Laura segera menoleh, kemudian menggeleng dengan pelan. “Kalian makan saja lebih dulu. Aku mau keluar sebentar lagi.” “Anda mau keluar? Menemui Tuan di kantor, Nyonya?” Laura menatap Maria dengan kening berkerut. Wanita paruh baya ini menjadi lebih berani jika tidak ada Harry di rumah. “Tidak. Aku hanya ingin berjalan-jalan saja. Sampai jumpa, Maria!” Setelah itu, Laura segera menuju kamarnya bersama Harry untuk berganti pakaian. Kamar pribadinya terletak di sebelah kamar utama. Jika siang hari, Laura menghabiskan banyak waktu di kamar utama. Sebagian besar pakaian dan kebutuhannya juga ada di dal
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more

48. Kau Selingkuh?

"Laura!” panggil Harry dengan suara yang cukup keras ketika masuk ke dalam rumah. Para pelayan yang mendengar suara tuan mereka, termasuk Maria langsung berlari mendekati Harry. Tidak biasanya Harry pulang siang hari seperti ini, dan memanggil Laura dengan suara yang cukup keras. Selama hampir dua minggu tinggal bersama dengan pasangan suami istri itu, mereka selalu saja melihat bagaimana perlakuan Harry yang lembut dan penuh cinta kepada istrinya. Lantas, sekarang apa yang membuat tuan mereka berteriak seperti orang kesetanan seperti ini? “Di mana istriku, Maria?” “Tuan, Nyonya muda sedang pergi keluar,” jawab Maria dengan menundukkan wajahnya. “Ke mana?” “Saya tidak tahu, Tuan. Nyonya hanya mengatakan jika dia ingin menemui temannya.” “Temannya?” Ekspresi wajah Harry langsung berubah. Napasnya juga tampak tidak teratur begitu mendengar penjel
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

49. Panggilan Tidak Terduga

Harry terdiam. Pria itu hanya menatap Laura yang sedang mengatur napas. Entah mengapa kata-kata Laura tadi seperti tamparan keras yang menyadarkan Harry akan kenyataan. Dia memarahi dan menuduh Laura selingkuh tadi? Kenapa? Seharusnya Harry tidak melakukan hal seperti itu. Namun, saat dia mendapatkan pesan anonim dari orang tak dikenal di kantor tadi, Harry benar-benar tidak bisa menahan dirinya yang hampir meledak. Laura selalu mengelak jika dia bertanya apakah wanita itu menyukai teman prianya—Jackson, tetapi apa yang dia lihat di fotonya tadi sungguh berbeda. Mereka tampak begitu dekat, sangat dekat. “Dengar, Harry—“ Laura menghembuskan napasnya yang terasa berat. “Aku akan menjaga nama baikmu sebagai suamiku sekarang, tapi jangan pernah bersikap seperti ini lagi. Aku tidak mau ada kesalahpahaman di antara kita.” Setelah itu, Laura segera pergi meninggalkan Harry sendirian di dalam kamar. Harry hanya termenung melihat tubuh Laura yang perlahan mengh
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

50. Elysium Night

Harry membuka pintu kamarnya dan berniat untuk turun makan malam. Namun, saat dia keluar matanya langsung tertuju pada Laura yang berjalan dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga. “Laura, kau mau ke mana malam-malam begini?” Wanita itu mengabaikannya. Melihat itu, Harry bergegas turun untuk menyusul Laura, tetapi istrinya berjalan dengan sangat cepat, dan langsung masuk ke dalam salah satu mobil milik Harry. “Laura—“ Suara Harry terhenti, bersamaan dengan mobil itu yang pergi meninggalkannya. Pria itu mengendikkan bahu, dan memilih untuk kembali ke dalam. “Terserah dia mau ke mana. Mungkin dia marah padaku," ucap Harry dengan sedikit kesal. "Awas saja, kau akan menerima akibatnya karena mengabaikan aku!” Malam ini, suasana di rumah besar itu tampak sunyi dan senyap. Bi
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status