Kami semua menghampiri Abah yang sekarang ada di pangkuan Ibu. Matanya terus menatap Mas Dimas dengan nafas yang naik tersengal-sengal. Wajahnya pucat dan keringat dingin membasahi dahinya.“Kamu, Dimas... telah mencoreng arang di wajah Abah,” ucap Abah dengan terbata-bata, suaranya bergetar dengan emosi. “Sadarkah kamu, kamu sudah menjadi Ummat nabi Luth? Perbuatan yang dilaknat oleh Allah.”Abah berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Jika kamu tidak meninggalkan hal itu, jangan anggap kami orang tuamu lagi...” Suaranya pecah, dan Abah tertawa getir.“Rasanya sia-sia Abah mendidik kamu ilmu agama dari kecil, tapi akhirnya kamu menjadi seperti ini,” ucap Abah dengan suara pelan, hampir tak terdengar. Terdengar kekecewaan yang dalam dari nada suara Abah.Mas Dimas menunduk, dan hendak meraih tangan Abah. Namun Abah menepisnya kasar, tidak ingin disentuh oleh anaknya.“Abah... aku minta maaf,” ucap Mas Dimas, suaranya bergetar. “Tapi inilah kebahagiaan ku, B
Last Updated : 2025-03-10 Read more