Home / Fantasi / Tiga Mayat Satu Takdir / Chapter 41 - Chapter 50

All Chapters of Tiga Mayat Satu Takdir : Chapter 41 - Chapter 50

69 Chapters

Bab 41: Menaklukkan Arus Deras

Angin dingin bertiup kencang di puncak tebing, membawa aroma segar air tawar bercampur bau tanah basah dari sungai deras di bawah. Cahaya matahari yang redup menyelinap di sela-sela awan tebal, memantulkan kilauan samar di permukaan air hitam yang berputar ganas. Gemuruh arusnya menggema hingga ke dinding batu curam, mengirim getaran halus ke kaki Kael dan kelompoknya. Di seberang sungai, sebuah gunung menjulang megah, puncaknya terselimut kabut tipis. Di lerengnya berdiri teguh bangunan kuno; dinding batunya dipenuhi ukiran simbol penyihir yang telah pudar dimakan waktu, atapnya retak namun tetap berdiri kokoh seperti penjaga abadi. Itulah tujuan akhir yang mereka kejar sejak memasuki wilayah Perpustakaan Tersegel. Kael berdiri tegak di bibir tebing, mantelnya berkibar pelan diterpa angin. Matanya yang biru menyipit, menatap tajam ke arah sungai sambil menggenggam erat peta kulit di tangannya—sebuah peta yang kini diam setelah selesai menunjukkan arah. Napasnya masih berat akibat p
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

Bab 42: Keajaiban Sophia dan Batu Hidup

Tepi sungai di sisi gunung terasa dingin dan lembap. Angin sepoi membawa aroma air tawar yang berpadu dengan wangi tanah basah. Gemuruh arus deras di bawah mengisi udara dengan irama konstan yang menenangkan setelah perjalanan melelahkan. Kael duduk di atas batu licin, mantelnya basah melekat di tubuh. Tangannya menggenggam peta kulit yang kini sedikit robek di tepi. Mata birunya lelah namun tetap waspada, menatap bangunan kuno yang menjulang di sisi gunung. Sarah bersandar di sampingnya, rambut pirang kusutnya menempel di wajah pucat. Ia meneguk air dari botol dengan perlahan, mata ungunya sesekali melirik sungai penuh kewaspadaan. Laila duduk di tanah berbatu, memeluk gadis kecil yang dulunya berupa lendir. Mata cokelatnya yang besar memancarkan kelelahan namun tetap siaga saat mengawasi arus deras, pendengaran supernya kini terbiasa dengan suara air sebagai latar. Murphy terbaring di dekat mereka, bahunya terbalut kain berdarah, wajahnya pucat berman
last updateLast Updated : 2025-03-21
Read more

Bab 43: Pertarungan Cangkang Batu dan Pintu Kuno

Suara gesekan keras bergema di gunung berbatu yang dingin dan berangin, memecah kesunyian yang mencekam. Dinding tebing bergetar hebat saat cangkang batu menyerupai kepiting raksasa muncul dari dalam tanah. Tubuh bulat keras mereka berderit bagai logam tua yang berkarat, mata merah kecil berkilat mengancam dari celah-celah cangkang berkilau. Udara dipenuhi aroma debu kering dan tanah basah teraduk, bercampur bau samar darah hitam yang masih menempel di pakaian mereka dari pertarungan sebelumnya. Di tengah kelompok, Kael berdiri dengan mantel hitam berkibar ditiup angin gunung. Mata birunya menyipit waspada mengawasi sekeliling, tangan terkepal menyala dengan energi hijau kehitaman Racun Tiga Mayat. Napasnya memburu namun tekadnya tak goyah, meski energi sihirnya terbatas setelah pertarungan panjang. Ketegangan meningkat ketika cangkang-cangkang batu bergerak mengepung mereka dalam formasi melingkar, suara gesekan batu memekakkan telinga di dinding gunung.
last updateLast Updated : 2025-03-21
Read more

Bab 44: Persiapan dan Misteri Bangunan Kuno

Udara di luar bangunan kuno terasa dingin dan kering. Angin gunung sepoi-sepoi membawa aroma debu tua dan kayu lapuk dari pintu raksasa yang baru terbuka, suara deritnya masih bergema samar di tebing berbatu. Cahaya matahari redup menyelinap melalui celah awan tebal, memantulkan kilauan lembut pada dinding batu berukir, menciptakan bayang-bayang panjang yang menari di tanah tempat Kael dan kelompoknya berdiri. Kael duduk di atas batu besar, mantel basahnya menempel di tubuh. Tangannya menggenggam peta kulit yang kini diam, mata birunya menatap tajam ke pintu gelap dengan penuh kewaspadaan. Napasnya masih tersengal namun mulai teratur. Instingnya bergetar—firasat samar namun kuat bahwa langkah berikutnya ke dalam bangunan ini tidak akan mudah. "Kita istirahat dulu di sini," ujar Kael, suara rendah tetapi tegas, tangannya mengepal saat melirik kelompoknya. "Instingku mengatakan kita harus siap—apa yang di dalam mungkin lebih berat dari yang telah kita hadapi. Kita tidak boleh masuk de
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 45: Pertarungan di Lorong Gelap

Udara di dalam lorong bangunan kuno terasa **dingin dan pengap**, menyelinap ke paru-paru seperti kabut beku yang membawa bau debu tua serta logam berkarat—aroma tajam yang menggigit hidung dan meninggalkan rasa getir di tenggorokan. Cahaya redup dari permata kecil yang bertaburan di langit-langit berkilau samar, seperti nyala lilin yang sekarat, melemparkan bayang-bayang gemetar ke dinding batu yang penuh retakan halus. **Boneka-boneka makhluk aneh** berdiri kaku di sepanjang lorong, tubuh kayu mereka yang lapuk dan logam berkarat berderit pelan seolah menahan napas, wujud terdistorsi mereka memenuhi ruangan dengan ketegangan yang tak terucap, seperti penjaga bisu yang menunggu perintah. Kael berdiri di depan kelompok, mantel basahnya menempel erat di tubuh yang lelah, dinginnya kain terasa seperti beban tambahan di pundaknya yang kaku. **Tangannya menyala dengan energi hijau kehitaman** yang lemah, nyala itu bergetar seperti api kecil yang hampir padam, matanya biru menyipit taja
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 46: Duel dengan Boneka Sapi Raksasa

Udara di sepanjang lorong bangunan kuno terasa mencekik dan berat, dipenuhi oleh aroma debu kering yang tajam, bercampur dengan wangi logam berkarat yang menusuk dan kayu lapuk yang menyengat tenggorokan. Cahaya redup dari permata kecil di langit-langit memancarkan sinar yang redup, seolah lilin hampir padam, menciptakan bayangan bergetar di dinding batu yang retak halus. Getaran langkah yang berat mengguncang lantai, debu tua rontok dari celah-celah dengan suara desiran lembut, sementara deritan kayu dan dentingan logam semakin mendekat, menyelimuti lorong dalam suasana tegang yang terlihat seolah hidup. Kael berdiri tegak di depan kelompok, mantel basahnya melekat pada tubuh yang kelelahan, dinginnya kain terasa seperti beban di bahu yang tegang. Tangan kanannya berkilauan dengan energi hijau kehitaman yang lembut, meliuk seperti nyala api kecil di tengah tiupan angin, matanya yang biru menyipit tajam menatap dalam kelam dengan napas yang berat. Detak jantungnya berdegup kencang,
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 47: Pelarian ke Ruang Token Penyihir Kuno

Udara di lorong bangunan kuno terasa sesak dan berat, membawa aroma debu kering yang menggigit hidung seperti serbuk besi tua, bercampur logam berkarat yang tajam dan kayu lapuk yang meninggalkan rasa kering di tenggorokan. Cahaya redup dari permata kecil di langit-langit berkilau lemah, seperti bara nyaris padam, melemparkan bayang-bayang gemetar ke dinding retak yang kini hidup dengan boneka-boneka kecil—mata merah mereka menyala terang bagai bara haus darah. Derit kayu dan gesekan logam kecil mengisi ruangan dengan suara mengerikan, bercampur getaran langkah berat boneka raksasa yang bergema seperti detak jantung kuno, menyelimuti udara dengan aura tekanan yang mencekik. Kael berdiri teguh di tengah kelompok, mantel basahnya melekat erat di tubuh yang lelah, dingin kain terasa seperti belenggu yang mencengkeram pundaknya yang gemetar, setiap ototnya bergetar oleh getaran lantai yang tak henti. Tangannya menyala dengan energi hijau kehitaman yang lemah, nyala itu berkedip seperti
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 48: Cahaya Token dan Transformasi Sophia

Udara di ruang terpelihara terasa dingin namun bersih, membawa aroma kayu tua yang dipoles dan logam terjaga baik, kontras dengan lorong berdebu yang penuh ancaman di luar pintu kayu tebal yang kini berderit hebat. Cahaya redup dari permata kecil di langit-langit berkilau samar, memantulkan bayang-bayang gemetar ke dinding batu halus, seolah ruangan ini menahan napas di tengah dentuman keras rantai raksasa yang menghantam pintu separuh tertutup. Kael duduk bersandar pada dinding, mantel basahnya melekat di tubuh yang lelah, matanya biru menatap peti terpelihara di tengah ruang—token emas kecil di dalamnya berkilau lembut, seperti harapan yang rapuh di tengah kegelapan. Sarah dan Laila berlutut di sisi Murphy yang terbaring pucat, botol potion rendah kini kosong di tangan mereka, sementara Sophia berdiri diam, matanya cokelat besar melirik pintu dengan ketakutan tersembunyi di balik raut polosnya. Kael menghela napas panjang, jantungnya masih berdebar oleh pertarungan sebelumnya, pi
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 49: Rahasia Token dan Luncur Lendir

Udara di ruang terpelihara terasa dingin dan kaku, membawa aroma kayu tua yang dipoles dan logam kuno, kontras dengan lorong berdebu yang penuh ancaman di luar pintu kayu tebal yang terus bergetar hebat. Cahaya redup dari permata kecil di langit-langit berkilau samar, memantulkan bayang-bayang gemetar ke dinding batu halus, sementara dentuman rantai raksasa dan derit boneka kecil yang mencoba merangsek masuk menggema seperti irama kegelapan yang tak pernah usai. Kael duduk bersandar pada dinding, matanya biru menatap Sophia yang kini berdiri dengan kulit manusia biasa, pikirannya berputar penuh pertanyaan tentang gadis kecil yang baru saja berubah di hadapan mereka. Kael menarik napas dalam, jantungnya berdetak kencang oleh rasa ingin tahu yang membakar, lalu melangkah mendekati Sophia dengan hati-hati. “Sophia, siapa sebenarnya kau? Dan siapa orang tua yang kau maksud itu?” tanyanya, suaranya rendah namun penuh tekanan, mata birunya menyipit mencari jawaban di wajah kecil yang men
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 50: Pelarian dari Bangunan Kuno

Udara di ruang terpelihara terasa dingin dan tebal, membawa aroma kayu tua yang lapuk dan logam kuno, sementara dentuman keras rantai raksasa mengguncang pintu kayu yang kini penuh celah kecil. Cahaya redup dari permata di langit-langit berkilau samar, memantulkan bayang-bayang boneka kecil yang bergerak agresif di luar, mata merah mereka menyala seperti bara haus darah. Kael berdiri di dekat luncur lendir Sophia, tangannya mengepal erat, matanya biru menyipit penuh tekad saat menatap pintu yang hampir jebol, jantungnya berdebar oleh ancaman yang menanti. Sophia melangkah maju, tangan mungilnya terangkat, dan lendir bening mengalir dari tubuhnya, memperkuat luncur di bawah mereka. “Pegang erat—kita keluar sekarang!” katanya, suaranya halus namun tegas, lalu menembakkan bola lendir besar dari tangannya, menghantam pintu seperti batu raksasa hingga kayu itu berderit keras dan terbuka lebar. Luncur lendir melaju cepat, mencengkeram kaki Kael dan kelompoknya dengan lembut namun kuat, m
last updateLast Updated : 2025-03-25
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status