Home / Fantasi / Tiga Mayat Satu Takdir / Chapter 31 - Chapter 40

All Chapters of Tiga Mayat Satu Takdir : Chapter 31 - Chapter 40

69 Chapters

Bab 31: Lendir dan Serigala Jadian

Lorong-lorong Perpustakaan Tersegel membentang luas di depan Kael dan kelompoknya, dinding batu tua penuh ukiran kuno yang berkilau samar, memantulkan bayangan panjang di lantai yang dingin dan berdebu. Udara terasa berat, bau logam dan tinta usang bercampur dengan aroma samar sesuatu yang hidup—sesuatu yang tak alami. Kael berdiri di tengah ruang luas, lampu ajaib yang redup di karungnya tak lagi membantu, matanya biru tajam menatap lorong-lorong bercabang seperti akar pohon raksasa. Sarah dan Laila berdiri di sisinya, wajah mereka pucat tapi teguh, rambut pirang dan cokelat gelap mereka menempel di dahi karena keringat. Murphy berdiri di belakang, pedangnya terhunus dengan energi emas samar, matanya cokelat dari penyamaran kristal melirik ke setiap sudut gelap. "Kita harus pilih satu arah," kata Kael, suaranya rendah tapi penuh tekad, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Tapi kita tak tahu mana yang benar—kita butuh petunjuk." Sarah mengangguk, matanya ungu samar menyala saat ia m
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Bab 32: Rak-Rak Hidup dan Peta Kuno

Lorong Perpustakaan Tersegel terasa semakin dingin dan lembap saat Kael dan kelompoknya mengikuti slime kecil itu, langkah mereka pelan tapi waspada di lantai batu yang licin. Dinding lorong dipenuhi lumut basah, udara penuh bau tanah tua dan logam yang menyengat, tapi yang lebih mencolok adalah **lubang-lubang di langit-langit**—rongga kecil yang berdenyut seperti sarang hidup. Dari lubang itu, gerombolan **lendir transparan** merayap keluar, tubuh mereka bening berkilau samar, diikuti lendir lain yang memancarkan **cahaya hijau dan biru**. Cahaya itu memenuhi lorong, menciptakan kilauan aneh yang memantul di dinding, menyerupai lautan kecil yang bergerak di atas kepala mereka. Kael memimpin dengan tangan siap di sisi tubuh, matanya biru tajam melirik ke langit-langit, energi **Racun Tiga Mayat** bergetar halus di jemarinya. Sarah dan Laila mengikuti, wajah mereka penuh kewaspadaan, rambut pirang dan cokelat gelap mereka tampak berkilau di bawah cahaya lendir. Murphy berjalan di b
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Bab 33: Pertarungan Dua Ancaman

Lorong luas Perpustakaan Tersegel bergema dengan suara berderit dari rak-rak kayu raksasa yang bergerak, dinding batu tua dipenuhi ukiran kuno yang berkilau samar di bawah cahaya hijau dan biru lendir yang bergetar di langit-langit. Udara terasa berat, bau logam dan tinta usang bercampur aroma asam dari parasit gelap yang melayang cepat, sayap tipis mereka berdengung seperti serangga haus. Kael berdiri di tengah ruangan, tangannya menyala dengan energi hijau kehitaman **Racun Tiga Mayat**, matanya biru tajam menatap parasit yang mencoba melahap rak. Sarah dan Laila berdiri di sisinya, wajah mereka tegang, tangan mereka siap dengan energi ungu. Murphy mengangkat pedangnya, energi emas berkilau samar, matanya cokelat dari penyamaran kristal penuh kewaspadaan. "Kita harus cepat," kata Kael, suaranya rendah tapi tegas, tangannya mengepal memegang peta kulit dari lendir. "Parasit ini fokus ke rak—Sarah, ilusi untuk tarik perhatian mereka. Laila, arahkan kami. Murphy, serang yang mendeka
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 34: Parasit yang Membesar

Lorong tengah Perpustakaan Tersegel bergema dengan suara gemuruh dan geraman, dinding batu tua yang dingin bergetar pelan di bawah tekanan pertarungan yang kacau. Cahaya hijau dan biru dari lendir di langit-langit memantul di rak-rak kayu raksasa yang bergerak, menciptakan kilauan aneh yang menyelinap ke setiap sudut. Udara penuh bau asam dari lendir, logam tua, dan darah hitam yang menyengat, membuat tenggorokan terasa terbakar. Kael berdiri dengan tangan siap, energi hijau kehitaman **Racun Tiga Mayat** bergetar di jemarinya, matanya biru tajam menatap parasit gelap yang melayang ke lorong belakang. Sarah dan Laila berdiri di sisinya, wajah mereka pucat penuh kebingungan, sementara Murphy menggenggam pedangnya erat, energi emas berkilau samar, matanya cokelat dari penyamaran kristal melirik ke arah lendir kecil yang bergoyang panik di dekat mereka. "Apa yang terjadi?" bisik Sarah, suaranya bergetar saat matanya ungu samar menatap parasit gelap itu, yang kini melayang ke arah gero
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 35: Pertarungan Terakhir Parasit Raksasa

Lorong tengah Perpustakaan Tersegel bergema dengan suara benturan keras dan raungan yang memekakkan telinga. Dinding batu tua yang dingin dan berlumut bergetar hebat seolah akan runtuh di bawah tekanan pertarungan yang kian brutal. Cahaya hijau dan biru yang dulu memenuhi langit-langit dari lendir kini meredup, digantikan oleh kilauan gelap yang mencekam dari **parasit raksasa**, tubuhnya hitam pekat membengkak hingga menyentuh langit-langit. Sayapnya yang tipis dan bergetar berdengung seperti ribuan lebah marah. Udara terasa tebal dan menyengat, aroma asam lendir bercampur dengan bau darah hitam serigala jadian yang membusuk serta logam tua yang berkarat, menciptakan kabut tipis yang menusuk paru-paru hingga terasa terbakar. Kael berdiri di tengah ruangan, napasnya tersengal dan berat, keringat menetes membasahi wajahnya yang pucat. Tangannya gemetar namun tetap menyala dengan energi hijau kehitaman **Racun Tiga Mayat**, matanya biru tajam berkilat penuh tekad meski bayangan kelel
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 36: Gelombang Sonik Laila

Lorong tengah Perpustakaan Tersegel terasa seperti medan perang yang membeku dalam ketegangan. Dinding batu tua yang dingin dan berlumut bergetar pelan oleh gema pertarungan sebelumnya, serpihan kayu dari rak-rak raksasa yang hancur berserakan di lantai yang retak. Udara dipenuhi bau asam lendir yang menyengat, darah hitam serigala jadian yang membusuk, dan logam tua yang berkarat, menciptakan kabut tebal yang menyesakkan dada. Parasit gelap raksasa masih berjuang dalam kepompong cair lendir raksasa. Sayapnya berdengung liar dengan suara yang memekakkan, tubuhnya hitam pekat berkilauan seperti minyak hidup yang bergetar penuh amarah. Lendir raksasa yang menyelimutinya kini meleleh perlahan. Cairan hijau dan birunya memudar jadi abu-abu kusam, menetes ke lantai dengan suara licin yang menyedihkan, meninggalkan bercak basah yang menguap menjadi asap tipis. Kael berlutut di lantai, napasnya tersengal berat. Energi sihirnya habis sehingga ia hanya bisa bersandar ke dinding batu yang di
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Bab 37: Lendir yang Kekenyangan

Lorong tengah Perpustakaan Tersegel terbungkus dalam keheningan yang mencekam setelah pertarungan sengit, dinding batu tua yang dingin dan berlumut masih bergema pelan oleh getaran terakhir. Serpihan kayu dari rak-rak raksasa yang hancur berserakan di lantai yang retak dan basah oleh darah hitam serigala jadian. Udara terasa tebal dan menyengat, bau asam lendir yang meleleh bercampur dengan aroma darah busuk dan logam tua yang berkarat, menciptakan kabut tipis yang menusuk hidung hingga tenggorokan terasa kering. Parasit gelap raksasa, yang kini terkulai di lantai dalam kepompong lendir cair yang menipis, tak lagi bergerak. Tubuhnya hitam pekat menyusut perlahan, sayapnya yang berdengung kini diam seperti reruntuhan yang patah. Laila berdiri di tengah, tubuh kecilnya gemetar hebat, matanya cokelat besar berkaca-kaca oleh kelelahan saat ia mengerahkan kekuatan terakhirnya. Ia menutup mata, pendengaran supernya menangkap aliran darah hitam yang kacau di tubuh parasit, dan dengan n
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Bab 38: Transformasi Lendir Kecil

Lorong tengah Perpustakaan Tersegel terbungkus keheningan yang rapuh. Dinding batu tua yang dingin dan berlumut memantulkan bayangan samar dari rak-rak kayu raksasa yang bergerak pelan, seolah tak terganggu oleh pertarungan sengit yang baru berakhir. Udara terasa dingin dan lembap, bau asam lendir yang meleleh perlahan memudar, digantikan aroma logam tua yang berkarat dan darah hitam serigala jadian yang mulai mengering di lantai yang retak. Kael duduk bersandar ke dinding, napasnya masih tersengal tapi lebih teratur, tangannya gemetar saat ia mengeluarkan roti kering dan botol air dari karung bekal. Matanya yang biru, meski lelah, tetap waspada menatap lendir kecil yang terbaring di dekat sisa tubuh parasit gelap, tubuhnya yang bening berkilau samar seolah masih mencerna energi besar yang diperolehnya. Sarah duduk di sisinya; rambut pirangnya kusut menempel di dahi pucatnya. Tangannya sibuk merobek kain dari mantelnya untuk membalut pundak Murphy yang berdarah. "Pegang diam, Murp
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 39: Duel di Lorong dan Lorong Rahasia

Lorong gelap Perpustakaan Tersegel bergema dengan suara benturan keras dan geraman yang menggetarkan, dinding batu tua yang berlumut bergetar hebat hingga serpihan kecil berjatuhan dari langit-langit. Udara dipenuhi bau logam tua yang berkarat dan tanah basah, dicampuri aroma samar darah hitam yang masih membekas dari pertarungan sebelumnya. Di tengah kegelapan, monster berkepala kambing berdiri marah, tubuhnya besar berotot dan tertutup bulu hitam kusut, tanduk melengkungnya berkilau samar di bawah cahaya redup, matanya merah menyala penuh nafsu membunuh. Sabit raksasanya menggores lantai dengan bunyi logam menusuk telinga, meninggalkan bekas dalam yang mengeluarkan percikan api kecil saat ia melangkah maju, geramannya mengguncang udara seperti guntur. Dua sosok muncul dari bayang-bayang gelap, menghalangi jalannya—paman misterius dan wanita misterius. Paman itu berdiri tegak, mantel hitamnya menyatu dengan kegelapan, belatinya berkilau samar di tangan kanannya, matanya dingin sep
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 40: Perjalanan ke Tebing dan Bangunan Kuno

Lorong rahasia di balik rak buku raksasa terasa dingin dan sempit. Dinding batu tua yang kasar ditumbuhi lumut basah dan licin. Udara di sana pengap, berbau tanah lembap bercampur aroma kayu lapuk yang samar. Semua itu menciptakan suasana suram yang membuat mereka sulit bernapas. Kael berjalan paling depan, mantelnya melambai pelan tertiup angin dingin yang mengalir dari arah depan. Sepasang mata birunya yang tajam menatap ke dalam kegelapan dengan penuh kewaspadaan. Tangannya dalam keadaan siaga, meski energi sihir dalam tubuhnya masih terasa lemah. Sarah dan Laila mengikuti rapat di belakangnya. Rambut pirang Sarah dan rambut cokelat gelap milik Laila menempel pada dahi mereka yang pucat karena keringat. Langkah kedua gadis itu hati-hati, menghindari lantai batu yang tidak rata. Murphy berjalan di belakang mereka, pundaknya terbalut kain yang bernoda darah. Pedangnya masih tersarung, namun tangan pria itu tetap waspada di dekat gagang senjata. Napasnya terdengar sesak akibat luka
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status