Lorong rahasia di balik rak buku raksasa terasa dingin dan sempit. Dinding batu tua yang kasar ditumbuhi lumut basah dan licin. Udara di sana pengap, berbau tanah lembap bercampur aroma kayu lapuk yang samar. Semua itu menciptakan suasana suram yang membuat mereka sulit bernapas. Kael berjalan paling depan, mantelnya melambai pelan tertiup angin dingin yang mengalir dari arah depan. Sepasang mata birunya yang tajam menatap ke dalam kegelapan dengan penuh kewaspadaan. Tangannya dalam keadaan siaga, meski energi sihir dalam tubuhnya masih terasa lemah. Sarah dan Laila mengikuti rapat di belakangnya. Rambut pirang Sarah dan rambut cokelat gelap milik Laila menempel pada dahi mereka yang pucat karena keringat. Langkah kedua gadis itu hati-hati, menghindari lantai batu yang tidak rata. Murphy berjalan di belakang mereka, pundaknya terbalut kain yang bernoda darah. Pedangnya masih tersarung, namun tangan pria itu tetap waspada di dekat gagang senjata. Napasnya terdengar sesak akibat luka
Angin dingin bertiup kencang di puncak tebing, membawa aroma segar air tawar bercampur bau tanah basah dari sungai deras di bawah. Cahaya matahari yang redup menyelinap di sela-sela awan tebal, memantulkan kilauan samar di permukaan air hitam yang berputar ganas. Gemuruh arusnya menggema hingga ke dinding batu curam, mengirim getaran halus ke kaki Kael dan kelompoknya. Di seberang sungai, sebuah gunung menjulang megah, puncaknya terselimut kabut tipis. Di lerengnya berdiri teguh bangunan kuno; dinding batunya dipenuhi ukiran simbol penyihir yang telah pudar dimakan waktu, atapnya retak namun tetap berdiri kokoh seperti penjaga abadi. Itulah tujuan akhir yang mereka kejar sejak memasuki wilayah Perpustakaan Tersegel. Kael berdiri tegak di bibir tebing, mantelnya berkibar pelan diterpa angin. Matanya yang biru menyipit, menatap tajam ke arah sungai sambil menggenggam erat peta kulit di tangannya—sebuah peta yang kini diam setelah selesai menunjukkan arah. Napasnya masih berat akibat p
Tepi sungai di sisi gunung terasa dingin dan lembap. Angin sepoi membawa aroma air tawar yang berpadu dengan wangi tanah basah. Gemuruh arus deras di bawah mengisi udara dengan irama konstan yang menenangkan setelah perjalanan melelahkan. Kael duduk di atas batu licin, mantelnya basah melekat di tubuh. Tangannya menggenggam peta kulit yang kini sedikit robek di tepi. Mata birunya lelah namun tetap waspada, menatap bangunan kuno yang menjulang di sisi gunung. Sarah bersandar di sampingnya, rambut pirang kusutnya menempel di wajah pucat. Ia meneguk air dari botol dengan perlahan, mata ungunya sesekali melirik sungai penuh kewaspadaan. Laila duduk di tanah berbatu, memeluk gadis kecil yang dulunya berupa lendir. Mata cokelatnya yang besar memancarkan kelelahan namun tetap siaga saat mengawasi arus deras, pendengaran supernya kini terbiasa dengan suara air sebagai latar. Murphy terbaring di dekat mereka, bahunya terbalut kain berdarah, wajahnya pucat berman
Suara gesekan keras bergema di gunung berbatu yang dingin dan berangin, memecah kesunyian yang mencekam. Dinding tebing bergetar hebat saat cangkang batu menyerupai kepiting raksasa muncul dari dalam tanah. Tubuh bulat keras mereka berderit bagai logam tua yang berkarat, mata merah kecil berkilat mengancam dari celah-celah cangkang berkilau. Udara dipenuhi aroma debu kering dan tanah basah teraduk, bercampur bau samar darah hitam yang masih menempel di pakaian mereka dari pertarungan sebelumnya. Di tengah kelompok, Kael berdiri dengan mantel hitam berkibar ditiup angin gunung. Mata birunya menyipit waspada mengawasi sekeliling, tangan terkepal menyala dengan energi hijau kehitaman Racun Tiga Mayat. Napasnya memburu namun tekadnya tak goyah, meski energi sihirnya terbatas setelah pertarungan panjang. Ketegangan meningkat ketika cangkang-cangkang batu bergerak mengepung mereka dalam formasi melingkar, suara gesekan batu memekakkan telinga di dinding gunung.
Udara di luar bangunan kuno terasa dingin dan kering. Angin gunung sepoi-sepoi membawa aroma debu tua dan kayu lapuk dari pintu raksasa yang baru terbuka, suara deritnya masih bergema samar di tebing berbatu. Cahaya matahari redup menyelinap melalui celah awan tebal, memantulkan kilauan lembut pada dinding batu berukir, menciptakan bayang-bayang panjang yang menari di tanah tempat Kael dan kelompoknya berdiri. Kael duduk di atas batu besar, mantel basahnya menempel di tubuh. Tangannya menggenggam peta kulit yang kini diam, mata birunya menatap tajam ke pintu gelap dengan penuh kewaspadaan. Napasnya masih tersengal namun mulai teratur. Instingnya bergetar—firasat samar namun kuat bahwa langkah berikutnya ke dalam bangunan ini tidak akan mudah. "Kita istirahat dulu di sini," ujar Kael, suara rendah tetapi tegas, tangannya mengepal saat melirik kelompoknya. "Instingku mengatakan kita harus siap—apa yang di dalam mungkin lebih berat dari yang telah kita hadapi. Kita tidak boleh masuk de
Udara di dalam lorong bangunan kuno terasa **dingin dan pengap**, menyelinap ke paru-paru seperti kabut beku yang membawa bau debu tua serta logam berkarat—aroma tajam yang menggigit hidung dan meninggalkan rasa getir di tenggorokan. Cahaya redup dari permata kecil yang bertaburan di langit-langit berkilau samar, seperti nyala lilin yang sekarat, melemparkan bayang-bayang gemetar ke dinding batu yang penuh retakan halus. **Boneka-boneka makhluk aneh** berdiri kaku di sepanjang lorong, tubuh kayu mereka yang lapuk dan logam berkarat berderit pelan seolah menahan napas, wujud terdistorsi mereka memenuhi ruangan dengan ketegangan yang tak terucap, seperti penjaga bisu yang menunggu perintah. Kael berdiri di depan kelompok, mantel basahnya menempel erat di tubuh yang lelah, dinginnya kain terasa seperti beban tambahan di pundaknya yang kaku. **Tangannya menyala dengan energi hijau kehitaman** yang lemah, nyala itu bergetar seperti api kecil yang hampir padam, matanya biru menyipit taja
Udara di sepanjang lorong bangunan kuno terasa mencekik dan berat, dipenuhi oleh aroma debu kering yang tajam, bercampur dengan wangi logam berkarat yang menusuk dan kayu lapuk yang menyengat tenggorokan. Cahaya redup dari permata kecil di langit-langit memancarkan sinar yang redup, seolah lilin hampir padam, menciptakan bayangan bergetar di dinding batu yang retak halus. Getaran langkah yang berat mengguncang lantai, debu tua rontok dari celah-celah dengan suara desiran lembut, sementara deritan kayu dan dentingan logam semakin mendekat, menyelimuti lorong dalam suasana tegang yang terlihat seolah hidup. Kael berdiri tegak di depan kelompok, mantel basahnya melekat pada tubuh yang kelelahan, dinginnya kain terasa seperti beban di bahu yang tegang. Tangan kanannya berkilauan dengan energi hijau kehitaman yang lembut, meliuk seperti nyala api kecil di tengah tiupan angin, matanya yang biru menyipit tajam menatap dalam kelam dengan napas yang berat. Detak jantungnya berdegup kencang,
Udara di lorong bangunan kuno terasa sesak dan berat, membawa aroma debu kering yang menggigit hidung seperti serbuk besi tua, bercampur logam berkarat yang tajam dan kayu lapuk yang meninggalkan rasa kering di tenggorokan. Cahaya redup dari permata kecil di langit-langit berkilau lemah, seperti bara nyaris padam, melemparkan bayang-bayang gemetar ke dinding retak yang kini hidup dengan boneka-boneka kecil—mata merah mereka menyala terang bagai bara haus darah. Derit kayu dan gesekan logam kecil mengisi ruangan dengan suara mengerikan, bercampur getaran langkah berat boneka raksasa yang bergema seperti detak jantung kuno, menyelimuti udara dengan aura tekanan yang mencekik. Kael berdiri teguh di tengah kelompok, mantel basahnya melekat erat di tubuh yang lelah, dingin kain terasa seperti belenggu yang mencengkeram pundaknya yang gemetar, setiap ototnya bergetar oleh getaran lantai yang tak henti. Tangannya menyala dengan energi hijau kehitaman yang lemah, nyala itu berkedip seperti
Angin malam berdesir lembut di Teluk Senja, melepaskan aroma garam laut yang berpadu dengan asap ikan bakar dari perapian desa petualang yang terlihat jauh di kejauhan. Cahaya bulan yang lembut memantulkan sinarnya di permukaan air, menciptakan kilauan perak yang bergetar pelan seiring ombak kecil yang menyapu tepi dermaga. Lyra melangkah anggun di dek kapal mewahnya; rambut hitamnya terurai dari ikatan, melambai tertiup angin. Dengan gerakan tangan yang anggun, ia mengundang kelompok Kael menuju meja panjang yang megah di tengah dek. Sup ikan mengepul dalam mangkuk kristal; uapnya menyebarkan aroma rempah laut yang menggoda. Roti panggang keemasan tersusun rapi dalam keranjang anyaman, sementara buah-buahan segar—anggur ungu dan jeruk berkilau—tercermin di bawah cahaya lampu minyak yang bergoyang pelan, menggantung pada tiang-tiang kayu yang dipoles mengilap. Pelayan-pelayan berpakaian seragam hitam bergerak senyap, menyajikan piring dan sendok perak dengan ketepatan terampil. Dent
Kael berdiri di sudut restoran kecil di Nexus, tangannya menggenggam surat dari Lyra. Matanya yang biru menatap kelompoknya yang berkumpul di sekitar meja kayu usang. Kabut ketidakpastian tentang Aldos menyelimuti pikiran mereka—Profesor itu hilang, diselamatkan oleh sosok misterius dari Ordo Cahaya, namun jejaknya lenyap. “Aku rasa kita harus menemui Lyra,” kata Kael pelan, suaranya teguh. “Kami tak punya petunjuk tentang Aldos, dan dia mungkin tahu sesuatu.” Sarah mengangguk, jari-jarinya menyentuh mangkuk sup dingin. “Dia pernah membantu kita—aku setuju.” Murphy melirik kereta kristal maglev di kejauhan. “Lebih baik daripada kita berkeliaran tanpa arah.” Laila, sambil memeluk karung tempat Molly bersembunyi, mengangguk kecil. Getaran soniknya membentuk suara halus: “Ly… ra… bantu?” Keputusan diambil dengan cepat. Teluk Senja, dua puluh kilometer dari Nexus, bukan perjalanan singkat. Transportasi umum seperti kapal terbang sihir atau kereta kristal terlalu berisiko dengan mata-
Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus membentang dalam kegelapan pekat, udara dingin bercampur aroma tanah basah dan batu tua menusuk hidung mereka seiring langkah hati-hati yang diambil. Cahaya samar dari lumut yang menempel di dinding kasar hanya mampu menerangi beberapa meter ke depan, meninggalkan cabang-cabang lorong dalam bayang-bayang yang tampak bergerak, seolah menyimpan rahasia yang enggan terucap. Kael berjalan di depan, mantel panjangnya bergoyang pelan tertiup angin bawah tanah. Tangannya tetap siaga di saku tempat Racun Tiga Mayat tersimpan, bersiap menghadapi ancaman yang bisa muncul kapan saja. Teknik Windstep yang dikuasainya membuat langkahnya nyaris tak bersuara, debu di lantai batu pun tak terusik. Di belakangnya, Sarah, Murphy, dan Laila mengikuti dengan langkah lebih berat. Derit pelan dari sepatu mereka bergema di lorong sempit itu. "Kita harus tetap waspada," bisik Kael, suaranya rendah namun tegas. "Ada kemungkinan kelompok lain bersembunyi di sini, menungg
Malam melingkupi rumah kayu Aldos dengan sunyi yang tebal, bayang-bayang hutan ilusi bergoyang pelan di luar jendela, diterangi cahaya bulan yang temaram. Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi ungu dan emas masih menderu, mengelilingi Kael dan Murphy dalam pusaran liar yang bergetar hingga ke lantai kayu. Sarah dan Laila, yang menunggu di ruangan utama, duduk di dekat meja tua, sepiring roti kering dan semangkuk sup sederhana terhidang di antara mereka. Cahaya lilin memantul lembut di wajah mereka, sementara buku teknik dari Aldos terbuka di pangkuan masing-masing, halaman-halaman kertas tua berderit saat dibalik. Sarah menyeruput supnya, matanya ungu melirik bukunya sesekali. “Aku rasa ini bisa bantu aku lihat lebih jauh,” katanya pelan, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu. Laila mengangguk, matanya cokelat besar memandang bukunya dengan fokus, jari-jarinya menyentuh kertas seolah menyerap setiap kata tentang frekuensi sonik. Mereka makan dalam kehe
Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi terus menderu, benang-benang ungu dan emas berkilauan mengelilingi Kael dan Murphy dalam gelombang liar yang perlahan mencari keseimbangan. Sementara itu, di luar, Profesor Aldos berdiri di tengah ruangan utama rumahnya, jubah hitamnya bergoyang pelan tertiup angin yang menyelinap melalui celah-celah kayu. Dia melirik Sarah dan Laila, yang tengah memegang buku teknik yang baru diberikannya, lalu menghela napas. “Aku harus pergi sekarang—dewan Nexus menunggu,” katanya, suaranya dalam dan serak. “Kalian baca dulu buku itu, aku tak akan lama.” Sarah mengangguk, jari-jarinya menyentuh sampul bukunya. “Aku akan mulai dari sini,” ujarnya pelan, matanya ungu menyala samar penuh minat. Laila memandang bukunya dengan mata cokelat besar, tangannya bergerak lembut membukanya, tapi sebelum mereka bisa tenggelam dalam bacaannya, kegaduhan tiba-tiba menggema dari luar—suara kepakan sayap yang tajam bercampur cicitan panik Molly dan peki
Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus menyambut Kael dan kelompoknya dengan udara dingin yang membawa aroma tanah basah dan batu tua. Cahaya samar dari dinding berlumut hanya mampu menerangi beberapa langkah di depan, sementara kegelapan menyelimuti lorong-lorong bercabang yang tampak tak berujung. Labirin itu terasa hidup, bergetar pelan seolah memiliki napas sendiri, siap menyesatkan siapa saja yang tak memiliki pengalaman atau kemampuan untuk menemukan jalan keluar. Kael melangkah di depan, matanya biru menyipit mencoba menembus bayang-bayang yang tebal. “Lorong ini terlalu banyak,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh. “Kalau kami salah pilih, mungkin tak pernah keluar.” Sarah mengangguk di sisinya, Mata Sihir-nya menyala samar, energi ungu berkilau di pupilnya saat memindai dinding-dinding berliku. “Aku rasa ini bukan labirin biasa—ada sesuatu yang mengacaunya,” ujarnya, nadanya tenang namun penuh kewaspadaan. Untungnya, tupai bersayap yang kini dinamai Molly oleh Sophia
Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma lumut basah dan getah pohon di sekitar Kael dan kelompoknya. Angin lembut berdesir di antara daun-daun raksasa, mengisi keheningan dengan suara samar, namun ada ketegangan halus yang menggantung di udara—seolah hutan ini menahan napas, menyimpan rahasia yang menanti saatnya terbongkar. Kael berdiri di dekat lubang sempit yang baru saja digali tupai bersayap, matanya biru menyipit penuh rasa ingin tahu. Lubang itu terselip di balik lumut tebal yang menyelimuti akar pohon besar, terlalu kecil untuk dilalui, namun ada daya tarik misterius yang membuatnya sulit berpaling. “Aku ingin masuk ke laluan ini,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi lubangnya kecil sekali—bagaimana caranya?” Sarah berlutut di sisinya, jari-jarinya menyentuh lumut dingin yang licin, Mata Sihir-nya menyala samar
Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma tanah basah dan daun kering di bawah langkah Kael dan kelompoknya. Udara terasa segar setelah malam panjang di desa buronan, dan desiran daun yang tertiup angin lembut mengisi keheningan di antara mereka. Desa itu kini jauh tertinggal, tersembunyi di lembah kecil, warga-warganya kembali ke rutinitas petani sederhana—kedok yang menyamarkan kekuatan mental emas mereka. Menyadari bahwa mereka berada di wilayah hutan belakang Akademi Baseus, meski perjalanan ke akademi masih jauh, Kael merasakan harapan baru di depan. Dia melangkah di depan, mantelnya bergoyang ringan tertiup angin, matanya yang biru memindai hutan dengan hati-hati. “Kami sudah dekat Baseus sekarang,” katanya, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi kami harus lebih kuat sebelum sampai—musuh takkan menunggu.” Sarah melangkah di sisi
Udara malam di desa kecil itu masih terasa berat, membawa aroma darah kering dan kayu terbakar yang tersisa dari pertempuran sebelumnya. Cahaya bulan sabit tipis menyelinap melalui celah-celah rumah kayu, menerangi warga desa yang berdiri di tengah mayat musuh, mata mereka emas bersinar penuh curiga menatap Kael dan kelompoknya. Kael melangkah maju, tangannya terangkat menunjukkan tak ada ancaman, suaranya tenang meski ada getar canggung dari pertemuan tak terduga ini. “Kami sedang dalam misi Akademi,” jelasnya, matanya biru bertemu tatapan wanita petani yang masih memegang pisau berdarah. “Profesor Aldos meminta kami istirahat di desa ini sebelum lanjutkan misi—kami lihat kedua kelompok itu dalam perjalanan, dan memilih datang malam ini agar tak bentrok dengan mereka. Tapi sepertinya, seperti biasa, sesuatu yang tak diinginkan selalu terjadi jika mereka ada di suatu tempat.” Wanita itu menurunkan pisaunya perlahan, napasnya lega meski tatapannya tetap tajam. Pria tua dengan k