Home / Fantasi / Tiga Mayat Satu Takdir / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of Tiga Mayat Satu Takdir : Chapter 21 - Chapter 30

69 Chapters

Bab 21: Gerbang Nexus yang Megah

Gerbong sederhana itu bergoyang pelan sebelum akhirnya berhenti di tepi jalan berbatu yang lebar. Roda kayunya diam setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Di depan mereka, gerbang besar kota Nexus menjulang megah, dikelilingi dinding batu hitam mengilap yang diperkuat dengan sihir. Dinding itu begitu tinggi hingga menutup sebagian langit malam. Menara ramping berdiri di kedua sisi gerbang, masing-masing dihiasi kristal energi sihir biru besar yang bersinar lembut, memancarkan dengungan halus yang terasa hingga ke tulang.Udara di sekitar penuh dengan aroma logam bercampur energi sihir, diselingi bau asap dari tungku pandai besi dan wangi roti panggang dari pasar malam di dalam kota. Di atas, kapal terbang bertenaga sihir melayang perlahan, baling-balingnya berdengung lembut. Di jalanan, monster tunggangan unik seperti naga kecil berbulu logam dan kuda bersisik kristal berjalan di antara kerumunan penyihir yang sibuk.Kael melompat turun dari gerbong,
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

Bab 22: Bisikan di Nexus

Penginapan kecil itu terasa hangat di pagi hari. Aroma roti panggang dan sup sayuran menguar dari dapur, bercampur dengan bau kayu tua serta lilin yang meleleh di meja-meja usang. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui jendela berdebu, menciptakan siluet lembut di ruangan utama. Di sudut ruangan, Kael dan kelompoknya duduk bersama, menikmati sarapan pertama mereka yang layak setelah hari-hari penuh ketegangan. Roti segar yang lembut dan sup hangat perlahan mengusir dingin yang masih tersisa di tubuh mereka, memberi sedikit kenyamanan meski hanya sementara.Kael duduk dengan tudung mantelnya ditarik rendah, matanya tajam mengamati setiap sudut ruangan. Percakapan para pedagang dan penyihir yang memenuhi penginapan menjadi latar suara yang samar namun penuh informasi. Sarah dan Laila duduk berdekatan, tetap dalam penyamaran kristal mereka. Rambut cokelat tua dan merah kecokelatan membuat mereka tampak seperti pelancong biasa, namun telinga mereka siaga menangkap bi
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

Bab 23: Gerbang Akademi Baseus

Malam perlahan memudar di Nexus, langit gelap digantikan oleh cahaya pagi yang lembut, menyelinap di antara awan tipis yang bergerak cepat. Bunyi pesawat terbang energi sihir menggema di udara, baling-balingnya berdengung pelan saat melintas di atas kota, meninggalkan jejak kilauan kristal biru. Monster tunggangan terbang—naga kecil berbulu logam dan burung raksasa bersisik kristal—mengeluarkan suara menderu dan berdecit, menambah hiruk-pikuk kota yang ramai. Jalanan Nexus dipenuhi pedagang yang berteriak menawarkan ramuan, murid-murid penyihir yang berjalan dengan mantel megah, dan aroma logam cair bercampur rempah-rempah yang terbawa angin. Kael berdiri di kamar penginapan kecil, mantel tuanya ditarik rendah menutupi wajahnya. Matanya tajam menatap kelompoknya yang bersiap. Sarah dan Laila, dengan penyamaran kristal mereka—rambut cokelat tua dan merah kecokelatan—memeriksa bekal di karung tua. Wajah mereka penuh kewaspadaan meski ada sedikit rasa takjub pada kota yang kini mereka
last updateLast Updated : 2025-03-13
Read more

Bab 24: Hutan Ilusi Aldos

Lorong-lorong Akademi Baseus terasa seperti labirin yang tak berujung, dinding batu putihnya diukir dengan simbol sihir kuno yang berkilau samar di bawah cahaya kristal biru yang tertanam di langit-langit. Udara dingin dan bau samar tinta tua mengisi setiap sudut, bercampur dengan suara langkah mereka yang bergema pelan di lantai marmer mengilap. Kael memimpin kelompoknya, mantel tuanya ditarik rendah menutupi wajah, matanya tajam melirik ke setiap bayangan yang bergerak di sekitar. Sarah dan Laila mengikuti dengan penyamaran kristal mereka—rambut cokelat tua dan merah kecokelatan—langkah mereka hati-hati, sementara Murphy menutup barisan, tangannya siap di pedang emasnya, wajahnya yang disamarkan tetap tegang. Rivan, murid senior berlencana ungu, berjalan di depan dengan langkah cepat, mantelnya biru tua berkibar pelan. Ia membawa mereka melalui lorong-lorong yang berbelok tak terduga, melewati ruang-ruang kelas kosong dan perpustakaan kecil yang penuh buku tua, membuat Kael sema
last updateLast Updated : 2025-03-13
Read more

Bab 25: Rahasia Buku Kuno

Ruangan kecil di dalam rumah kayu Profesor Aldos terasa hangat dan penuh misteri, dindingnya dilapisi rak-rak kayu tua yang penuh dengan buku-buku kuno, gulungan perkamen, dan botol-botol ramuan yang berkilau samar. Lampu kristal kuning di langit-langit memancarkan cahaya lembut, menerangi meja kayu besar di tengah ruangan tempat Kael dan kelompoknya duduk. Aroma kayu bakar dan tinta tua mengisi udara, bercampur dengan bau samar ramuan yang mendidih di sudut. Profesor Aldos berdiri di depan mereka, tubuhnya tinggi kurus dengan mantel biru tua berlencana emas, rambut peraknya terikat rapi, dan matanya biru cerah penuh kebijaksanaan. Phoenix kecil di pundaknya berkedip pelan, bulu apinya menari seperti nyala lilin. Kael duduk di kursi kayu yang berderit, mantel tuanya terlepas kini memperlihatkan wajahnya yang tegang, matanya tajam menatap Aldos. Sarah dan Laila duduk di sisinya, penyamaran kristal mereka dilepas, rambut pirang dan cokelat gelap mereka kembali terlihat, wajah merek
last updateLast Updated : 2025-03-13
Read more

Bab 26: Pencarian di Perpustakaan Baseus

Ruangan kecil Profesor Aldos terasa semakin sesak dengan aroma tinta tua dan kayu bakar, lampu kristal kuning di langit-langit memancarkan cahaya hangat yang menerangi buku kuno di meja kayu besar. Kael duduk dengan tangan mengepal di atas meja, matanya tajam menatap buku itu, ukiran enam penyihir kuno mengelilingi batu bersinar tampak hidup di bawah cahaya. Sarah dan Laila duduk di sisinya, wajah mereka penuh harapan bercampur kelelahan, sementara Murphy bersandar di dinding, pedangnya bergoyang pelan di pinggangnya, matanya cokelat dari penyamaran kristal melirik ke Aldos yang berdiri dengan mantel biru tua berlencana emas. "Kita harus temukan enam token itu," kata Kael, suaranya tegas meski ada nada frustrasi di dalamnya. "Baseus adalah akademi pertama—kalau ada satu di sini, kita harus mulai dari sini. Tapi..." Ia berhenti, matanya menyipit ke arah buku. "Kita tak tahu bentuknya seperti apa." Aldos mengangguk, jari kurusnya mengetuk sampul buku. "Itu masalahnya," katanya, suar
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

Bab 27: Bayang-Bayang Phoenix

Ruangan kecil Profesor Aldos terasa tegang, udara hangat dari lampu kristal kuning bercampur aroma tinta tua dan kayu bakar yang kini terasa dingin di kulit Kael. Ia berdiri di dekat meja kayu besar, tangannya mengepal di atas buku kuno, matanya biru penuh kejutan saat kata-kata terakhir Aldos tentang Ruang Bawah Tanah Terlarang bergema di pikirannya. Sarah dan Laila duduk di sisinya, wajah mereka pucat namun penuh tekad, sementara Murphy bersandar di dinding, pedangnya bergoyang pelan di pinggangnya, matanya cokelat dari penyamaran kristal menatap ke arah pintu yang baru saja Aldos tinggalkan. Tiba-tiba, bunyi nyaring phoenix memecah keheningan, getarannya mengguncang dinding kayu dan buku-buku di rak. Kael berlari ke jendela kecil, matanya melebar saat melihat ke luar. Phoenix kecil yang biasanya bertengger di pundak Aldos kini membesar menjadi raksasa beberapa meter panjangnya, sayap apinya membentang lebar dengan nyala merah dan emas yang menyala terang di langit malam. Bulu-bu
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

Bab 28: Persiapan di Ambang Bahaya

Ruangan kecil di dalam hutan ilusi Aldos terasa hening setelah sorak phoenix memudar, cahaya lampu kristal kuning redup di langit-langit, hanya menyisakan bayangan samar di dinding kayu tua. Kael duduk di kursi yang berderit, tangannya mengepal di atas meja, matanya biru penuh tekad bercampur kelelahan saat menatap buku kuno yang terkunci. Sarah dan Laila duduk di sisinya, wajah mereka pucat namun teguh, rambut pirang dan cokelat gelap mereka tampak kusut setelah hari-hari panjang. Murphy bersandar di dinding, pedangnya bertumpu di lantai, matanya cokelat dari penyamaran kristal menatap ke pintu dengan ekspresi muram. "Kita tak bisa langsung masuk ke Perpustakaan Tersegel," kata Kael, suaranya rendah tapi tegas, memotong keheningan yang tegang. "Kita terlalu lelah—dan kita butuh rencana. Kita istirahat sehari, siapkan diri, lalu cari cara ke sana." Sarah mengangguk, tangannya mengusap mata yang lelah. "Aku setuju—aku hampir tak bisa fokus lagi
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

Bab 29: Langkah Menuju Terlarang

Ruangan kecil di dalam hutan ilusi Aldos terasa lebih tenang malam itu, lampu kristal kuning memancarkan cahaya hangat yang lembut, menerangi meja kayu tua dan rak-rak penuh buku kuno. Kael duduk di kursi yang berderit, matanya biru penuh tekad meski bayangan lelah terlihat di bawahnya, tangannya memeriksa karung bekal yang mereka siapkan. Sarah dan Laila duduk di sisinya, rambut pirang dan cokelat gelap mereka kusut, wajah mereka penuh kewaspadaan saat mengemas roti kering dan air. Murphy berjalan mondar-mandir di ruangan, suaranya bergema pelan saat ia menggeledah rak di sudut, "Aldos pasti tinggalkan sesuatu untuk kita—dia selalu siap." Setelah beberapa saat, Murphy menarik sebuah kotak kayu kecil dari rak bawah, debu beterbangan saat ia membukanya. Di dalamnya ada **lampu ajaib**—bola kristal kecil yang menyala kuning lembut, melayang sendiri di udara saat ia menyentuhnya—dan beberapa alat sihir pelindung lainnya: gelang perak sederhana yang memanc
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

Bab 30: Kedalaman Perpustakaan Tersegel

Tangga curam di bawah pintu rahasia Baseus terasa tak berujung, dinding batu kasarnya dipenuhi lumut basah yang licin, udara dingin dan lembap membawa bau tanah tua yang menyengat. Kael memimpin kelompoknya menuruni anak tangga yang sempit, mantelnya bergoyang pelan di angin samar yang berhembus dari bawah, matanya biru tajam menatap kegelapan yang semakin pekat. **Lampu ajaib** Aldos melayang di tangannya, bola kristal kecil itu memancarkan cahaya kuning lembut yang menerangi wajah mereka yang tegang. Sarah dan Laila mengikuti di belakang, langkah mereka hati-hati di batu licin, rambut pirang dan cokelat gelap mereka tampak kusam di bawah cahaya redup. Murphy menutup barisan, pedangnya bergoyang di pinggang, suaranya bergema pelan saat ia mengeluh, "Ini berapa lama lagi? Rasanya setengah jam!" Setelah waktu yang terasa abadi, Kael akhirnya mencapai anak tangga terakhir, napasnya tersengal karena dingin dan tekanan. Tapi saat ia melangkah ke depan, kak
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status