Home / Rumah Tangga / I'm The Queen / Chapter 71 - Chapter 80

All Chapters of I'm The Queen: Chapter 71 - Chapter 80

85 Chapters

Bayang-bayang Ancaman di Selatan

Bab 71 - Bayang-bayang Ancaman di Selatan Pagi tiba dengan kabut tipis yang menyelimuti tempat peristirahatan mereka. Lionel sudah bangun lebih awal untuk memeriksa jalur perjalanan, sementara Edith masih tertidur di balok kayu dengan selimut yang disediakan Kaelen. Pemuda itu duduk tak jauh darinya, menjaganya dengan penuh perhatian. Lionel kembali dengan wajah serius, menyeka embun dari pelindung lengannya. "Ada sesuatu yang aneh di sepanjang jalan menuju daerah selatan. Jejak kaki terlalu banyak untuk ukuran desa kecil." Kaelen mengangkat alis. "Jejak kaki? Kau pikir itu kelompok perampok?" Lionel mengangguk pelan. "Kemungkinan besar. Tapi jumlah mereka lebih dari sekadar kelompok kecil. Kita harus berhati-hati." Kaelen menoleh pada Edith yang perlahan terbangun. Wajahnya masih terlihat pucat, tetapi ia berusaha duduk tegak. "Ada apa?" tanyanya dengan suara lemah.
last updateLast Updated : 2025-01-27
Read more

Ketidak Adilan dan Rencana Jahat

Keesokan harinya, Edith, Lionel, dan Kaelen mengadakan pertemuan di balai desa untuk mendengarkan keluhan para warga tentang pajak. Balai desa yang sederhana dipenuhi oleh para petani, pedagang, dan warga lainnya yang berharap suara mereka didengar.Edith berdiri di depan, didampingi oleh Lionel dan Kaelen. Wajahnya serius namun lembut, memberikan kesan bahwa ia benar-benar peduli pada masalah yang dihadapi rakyat.Seorang petani tua, Tuan Harlen, berdiri dari kursinya. “Nona Edith, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi cuaca yang tidak menentu telah merusak hasil panen kami. Pajak yang ditetapkan terlalu tinggi untuk kami bayar. Bahkan beberapa dari kami terpaksa menjual ternak hanya untuk memenuhi kewajiban pajak.”Seorang wanita lain ikut bersuara. “Kami tidak keberatan membayar pajak, Nona. Tapi sistemnya terlalu kaku. Tahun ini panen kami menurun, sementara pajak tetap sama seperti saat panen melimpah. Apakah tidak ada cara untuk men
last updateLast Updated : 2025-01-28
Read more

Keputusan Grand Duke

Ruangan kerja Grand Duke Elvenhart dipenuhi dengan aroma kayu pinus dari perapian yang menyala. Di atas meja, setumpuk dokumen tersusun rapi, termasuk dokumen yang berisi keputusan penting mengenai daerah selatan. Grand Duke dengan tenang membaca setiap baris dokumen, menandatanganinya dengan ekspresi mantap. Saat pintu ruangan terbuka dengan kasar, Lady Aveline masuk dengan langkah cepat, wajahnya merah padam oleh amarah. "Ayah!" serunya, suaranya menggema di ruangan. Grand Duke mendongak dengan tenang, menatap putrinya. "Aveline, ada apa? Kau tampak marah sekali." Lady Aveline berjalan mendekat, menunjuk dokumen di meja. "Apa maksud semua ini? Aku mendengar kau berniat memberikan daerah selatan kepada Edith! Bagaimana mungkin kau memberikan wilayah penting kepada seorang pelayan rendahan?!" Grand Duke menghela napas, menutup dokumen di depannya dengan tenang. "Aveline, duduklah. Aku tidak akan membahas ini dengan nada setinggi itu." "Aku tidak akan duduk, Ayah! Aku ing
last updateLast Updated : 2025-01-29
Read more

Festival Cahaya Kerajaan

Langit malam di Kerajaan Veridion dipenuhi cahaya lentera yang melayang, menciptakan pemandangan menakjubkan di atas istana dan jalanan kota. Malam ini adalah Festival Cahaya, perayaan tahunan untuk menghormati dewa pelindung kerajaan. Jalanan dipenuhi tenda-tenda berwarna-warni yang menjual makanan khas, pertunjukan musik rakyat, dan berbagai permainan tradisional.  Di dalam istana, suasana meriah tak kalah menawan. Taman kerajaan telah dihias dengan ribuan lampion yang menggantung di setiap sudut, sementara air mancur berkilauan di bawah cahaya lilin. Para bangsawan dan tamu kehormatan berkumpul dalam balutan busana terbaik mereka.  Di tengah keramaian, Edith berdiri dengan tenang di sisi Grand Duke Elvenhart. Malam ini, ia mengenakan gaun hijau zamrud dengan bordiran perak yang sederhana namun anggun. Grand Duke, yang mengenakan mantel hitam dengan sulaman emas, menatap sekeliling dengan tatapan penuh wibawa.  "Ini pertama kalinya kau
last updateLast Updated : 2025-01-30
Read more

Perasaan yang Sedikit Mengganggu

Festival Cahaya di Veridion adalah salah satu perayaan terbesar di kerajaan, di mana lentera-lentera berwarna-warni dilepaskan ke langit, menciptakan pemandangan yang seakan menyaingi bintang-bintang. Musik lembut mengalun di sepanjang alun-alun utama, sementara pasangan-pasangan bangsawan dan rakyat berkumpul untuk menikmati malam yang penuh cahaya dan kemegahan.  Di tengah keramaian itu, Edith berdiri di dekat balkon terbuka yang menghadap ke sungai kecil yang mengalir melalui pusat kota. Cahaya lentera yang dipantulkan di permukaan air membuat pemandangan itu terlihat seperti mimpi.  Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang sejuk mengisi paru-parunya. Festival ini adalah sesuatu yang dulu hanya bisa ia saksikan dari kejauhan, tapi sekarang, berkat kepercayaan Grand Duke, ia bisa menjadi bagian dari perayaan ini tanpa merasa seperti seorang penyusup.  Namun, ketenangan itu terganggu ketika seseorang melangkah mendekat. 
last updateLast Updated : 2025-01-31
Read more

Sebuah Kesepakatan

Pagi itu, matahari bersinar lembut di atas kerajaan Veridion. Udara masih terasa sejuk, dengan aroma buku tua dan kayu yang memenuhi perpustakaan kota. Tempat itu sepi, hanya beberapa orang yang tenggelam dalam bacaan mereka.  Di salah satu sudut ruangan, Roderic duduk dengan tenang, jari-jarinya mengetuk ringan meja kayu di depannya. Sebuah buku terbuka di hadapannya, tetapi pikirannya tidak benar-benar tertuju pada tulisan di dalamnya.  Pertemuannya dengan Edith kemarin masih berputar di kepalanya. Ada sesuatu dalam cara gadis itu berbicara, dalam keteguhan hatinya, yang membuatnya ingin mengenalnya lebih jauh. Namun, ia juga menyadari bahwa mendekati Edith berarti melibatkan dirinya dalam dunia politik yang lebih rumit.  Saat itulah suara langkah ringan terdengar mendekat.  "Lord Roderic?"  Roderic mengangkat kepalanya dan melihat seorang wanita berdiri di hadapannya. Lady Aveline, dalam balutan gaun hijau
last updateLast Updated : 2025-02-01
Read more

Kisah Edith

Di Kediaman Grand Duke ElvenhartEdith duduk di ruang baca dengan setumpuk dokumen di depannya, tetapi perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada pekerjaannya. Di sampingnya, terdapat beberapa surat yang baru saja dikirim oleh seorang pelayan, semuanya dari Lord Roderic. Ia menghela napas sebelum mengambil salah satu surat dan membukanya. Tulisan tangan yang rapi dan sedikit miring menyambutnya. "Lady Edith, Aku harap hari ini menyapamu dengan baik. Aku tidak bisa berhenti memikirkan percakapan terakhir kita di kafe itu. Rasanya begitu menyenangkan bisa berbicara dengan seseorang yang tidak hanya berbasa-basi dalam sopan santun. Aku bertanya-tanya apakah aku bisa mengajakmu berjalan-jalan suatu hari nanti? Dengan hormat, Roderic Laurent"Edith menggeleng pelan. Sudah hampir seminggu sejak mereka pertama kali bertemu di kafe, dan sejak itu, surat-surat Roderic terus berdatangan. Ia tidak yakin apakah ini hanya cara pria itu bersikap sopan atau jika ada sesuatu yang lebih dala
last updateLast Updated : 2025-02-02
Read more

Rencana Pertunangan

Di dalam kediaman keluarga Marquis Laurent, Lord Roderic duduk di ruang kerjanya, menatap surat yang baru saja ia tulis untuk Edith. Ia menggulirkan pena di antara jarinya, berpikir apakah ia harus mengirimnya atau tidak. "Roderic," sebuah suara berat terdengar dari ambang pintu. Roderic menoleh dan mendapati kakak laki-lakinya, Lord Gilbert Laurent, berdiri dengan tangan bersedekap. Wajahnya seperti biasa, penuh dengan sikap superior seorang pewaris utama. "Kau masih sibuk dengan surat-surat itu?" tanya Gilbert, nada suaranya terdengar meremehkan. Roderic tersenyum tipis. "Hanya sekadar korespondensi pribadi." Gilbert mendekat, mengambil surat di atas meja tanpa meminta izin, dan membaca sekilas. Senyum miring muncul di wajahnya. "Edith Manesse? Gadis yang bekerja di bawah Grand Duke Elvenhart?" Roderic mengulurkan tangannya untuk mengambil kembali surat itu, tapi Gilbert menahannya lebih lama sebelum akhirnya menyerahkannya. "Kau benar-benar tidak tahu bagaimana memili
last updateLast Updated : 2025-02-03
Read more

Festival Berburu

Langit cerah membentang luas di atas tanah perburuan kerajaan, udara dipenuhi dengan semangat dan obrolan para bangsawan yang berkumpul dalam festival tahunan ini. Bendera-bendera kerajaan berkibar di sepanjang jalur masuk, sementara para pelayan berlalu-lalang, menyiapkan segala keperluan untuk berburu. Di singgasana yang telah disediakan di tengah area utama, Raja Alaric duduk dengan penuh wibawa, didampingi oleh Ratu Elea yang tampak anggun dalam gaun biru langit. Putra Mahkota Kaelen berdiri di sisi mereka, mengenakan jubah ringan yang menunjukkan statusnya, matanya tajam mengamati kerumunan. Di antara para peserta, Grand Duke Elvenhart tiba bersama Lady Aveline, Edith, dan asistennya, Alex. Aveline mengenakan pakaian berkuda yang mewah, sementara Edith berdiri sedikit di belakangnya dengan pakaian sederhana yang tetap rapi. “Festival perburuan ini selalu ramai, ya?” gumam Alex sambil menatap sekeliling. “Memang. Ini bukan hanya soal berburu, tetapi juga ajang politik,” ja
last updateLast Updated : 2025-02-04
Read more

Berbagi Rahasia

Di dalam hutan yang gelap, cahaya bulan mengintip di antara celah dedaunan, memberikan sedikit penerangan bagi Edith dan Roderic yang masih terjebak. Suara jangkrik dan hembusan angin menjadi latar belakang keheningan di antara mereka. Edith menggigit bibirnya, mencoba mengabaikan rasa dingin meskipun mantel Roderic sudah membalut tubuhnya. Ia melirik pria di sebelahnya, yang tampak santai bersandar pada batang pohon, seolah-olah keadaan ini bukan masalah besar. "Kau terlihat tenang," kata Edith akhirnya, suaranya lirih namun cukup jelas. Roderic menoleh dengan senyum kecil. "Harus ada yang tetap tenang, kan?" Edith menghela napas, lalu menatap langit yang terbuka di antara pepohonan. "Aku tidak menyangka perburuan akan berakhir seperti ini." Roderic terkekeh. "Sama. Biasanya aku hanya berburu sebentar, lalu kembali dengan kemenangan kecil. Kali ini... kurasa kita tidak bisa mengandalkan keberuntungan." Keheningan menyelimuti mereka lagi, hingga akhirnya Edith berbicara le
last updateLast Updated : 2025-02-05
Read more
PREV
1
...
456789
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status