Home / Rumah Tangga / Ranjang yang Bukan Milikku / Chapter 141 - Chapter 150

All Chapters of Ranjang yang Bukan Milikku: Chapter 141 - Chapter 150

171 Chapters

Bab 141: Surat dari Pengadilan

Pagi itu, rumah Arka terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari menerobos jendela, membentuk pola bayangan di lantai, tetapi kehangatannya seakan tidak mampu menembus udara dingin yang menyelimuti ruangan. Di meja makan, sebuah amplop cokelat besar tergeletak, mencuri perhatian dengan cap pengadilan yang tercetak jelas di atasnya.Arka memandangi amplop itu dengan jantung yang berdegup kencang. Tangannya gemetar saat meraihnya, seolah-olah benda itu lebih dari sekadar dokumen.Itu adalah vonis atas hidupnya.Dengan gerakan pelan, ia membuka amplop itu, bunyi sobekannya terasa nyaring di tengah keheningan.Matanya bergerak cepat membaca isi surat itu. Setiap kata di sana seperti menambah beban di pundaknya. Surat panggilan pengadilan itu adalah hal yang paling ia takutkan selama ini, tetapi kini telah menjadi kenyataan yang tak terhindarkan. Alea telah mengambil langkahnya.Perceraian itu benar-benar akan dimulai.“Tidak, ini tidak boleh terjadi,” gumamnya, nyaris seperti bisikan
last updateLast Updated : 2025-02-01
Read more

Bab 142: Melepasmu

Di kamar, Alea menutup telepon dengan tangan yang gemetar. Ia menatap ponselnya, mencoba memahami apa yang baru saja ia lakukan. Ia tahu bahwa pertemuan ini tidak akan mudah, tetapi ia merasa sudah waktunya untuk menghadapi semuanya, untuk benar-benar melepaskan.Ia berjalan ke kamar Raka, melihat anaknya yang tertidur pulas. Dalam keheningan malam, ia membisikkan sesuatu kepada dirinya sendiri. “Ini demi kita, Nak. Apa pun yang terjadi, aku harus melakukannya.”Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Tatapannya tertuju pada liontin kecil di lehernya, hadiah pernikahan dari Arka. Dengan hati-hati, ia membuka liontin itu, memperlihatkan foto kecil mereka berdua di dalamnya. Foto yang dulu membawa senyum hangat kini hanya membuat air matanya mengalir.“Aku mencintaimu, Arka,” bisiknya pelan. “Tapi aku harus mencintai diriku sendiri lebih dulu.”---Senja mulai turun, mewarnai langit dengan cahaya jingga yang indah namun menyimpan kesedihan. Di taman yang sepi, Arka du
last updateLast Updated : 2025-02-02
Read more

Bab 143: Akhir yang Tidak Pernah Diinginkan

Hari itu akhirnya tiba. Matahari pagi menyinari gedung pengadilan yang megah, memantulkan cahayanya ke dinding-dinding kaca. Namun, bagi Alea, sinar itu terasa dingin, tidak membawa kehangatan. Ia melangkah masuk ke dalam gedung dengan langkah mantap, meskipun hatinya terasa berat, seolah-olah setiap langkah adalah perjuangan melawan beban yang tak terlihat.Begitu memasuki ruang sidang, suasana hening langsung menyelimuti. Udara terasa kaku, hampir seperti menyulitkan setiap tarikan napas. Hanya ada suara langkah kaki dan bisikan pelan dari pengacara yang terdengar samar di ruangan yang luas tetapi dingin itu.Alea berjalan menuju kursinya, matanya lurus ke depan, fokus pada meja hakim yang berdiri di depannya. Hari ini adalah hari putusan, hari di mana segala sesuatu yang pernah ia perjuangkan akan berakhir secara resmi. Ia duduk perlahan, melipat tangannya di pangkuan, berusaha mengendalikan perasaan yang bergemuruh di dadanya.Matanya melirik ke kursi kosong di sebelahnya, kursi ya
last updateLast Updated : 2025-02-03
Read more

Bab 144: Luka yang Masih Terbuka

Sebuah kafe kecil di sudut kota itu terasa hangat, dengan aroma kopi yang memenuhi udara. Alea duduk di salah satu meja dekat jendela, menatap keluar ke jalanan yang sibuk. Di luar, kehidupan berjalan seperti biasa, tetapi di dalam dirinya, rasa sakit masih mengendap. Ia merapikan syal di lehernya, berusaha mengalihkan perasaan yang tiba-tiba menyelimutinya.“Alea,” suara Randy memecah lamunannya.Ia menoleh, tersenyum kecil ketika Randy mendekat dengan langkah tenang. “Hai, Randy. Lama nggak ketemu,” sapanya, mencoba terdengar santai.Randy duduk di depannya, menatap Alea dengan perhatian yang khas. Ia memesan secangkir kopi lalu menatapnya, matanya membaca sesuatu di balik senyuman Alea yang tipis.“Kamu terlihat … berbeda,” kata Randy, memulai percakapan.Alea mengangkat bahu, mencoba tersenyum lebih lebar. “Aku baik-baik saja. Sudah sebulan, dan aku mulai terbiasa. Semua ini hanya … fase, kan?”Randy memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya tajam tetapi lembut. “Kamu selalu menco
last updateLast Updated : 2025-02-04
Read more

Bab 145: Awal yang Baru

Rumah keluarga Alea dipenuhi suasana haru di pagi yang tenang. Udara dingin menyusup masuk melalui celah-celah jendela, seolah ingin menambah beban yang sudah berat di hati. Di ruang tamu, koper-koper tertata rapi, menjadi saksi diam keputusan besar yang akan membawa Alea dan Raka ke kehidupan baru di Singapura.Nyonya Kartika duduk di sofa, menggenggam tangan Alea dengan erat, seolah-olah ingin mencegah putrinya pergi. Matanya berkaca-kaca meskipun ia berusaha tersenyum.“Kamu yakin ini yang terbaik, Nak?” tanyanya, suaranya lirih tetapi penuh perhatian.Alea mengangguk perlahan, mencoba menyembunyikan keraguan yang terus menghantui pikirannya. “Bu, aku harus melakukannya. Ini bukan hanya untuk aku, tapi juga untuk Raka. Aku ingin memberikan dia kehidupan yang lebih baik. Dan aku… aku butuh memulai sesuatu yang baru.”Tuan Darmawan berdiri di dekat jendela, memandang ke arah taman yang pernah menjadi tempat bermain Raka. Wajahnya tegas, tetapi suaranya terdengar berat ketika ia akhirn
last updateLast Updated : 2025-02-05
Read more

Bab 146: Titik Akhir Proyek

Ruang rapat di lantai tertinggi gedung itu dipenuhi dengan udara yang berbeda dari biasanya. Semua anggota tim hadir, termasuk Arka, Dina, dan Randy. Proyek besar yang telah mereka kerjakan selama berbulan-bulan akhirnya mencapai titik akhir. Di meja rapat yang panjang, berbagai dokumen dan gambar desain tersebar, menjadi bukti dari kerja keras dan ketegangan yang telah mereka lalui bersama.Arka duduk dengan tangan bersilang di dada, matanya memandangi gambar desain terakhir yang terpampang di layar presentasi. Suasana hatinya tetap berat, meskipun proyek ini akhirnya rampung. Randy, sebagai klien utama, menatap desain itu dengan ekspresi puas. Ia mengangguk, menandatangani dokumen terakhir yang diberikan oleh manajer proyek.“Desainnya luar biasa, Arka,” kata Randy sambil meletakkan pena di atas meja. “Kamu dan tim berhasil mewujudkan sesuatu yang lebih dari yang saya bayangkan.”Arka hanya mengangguk kecil. “Terima kasih. Aku harap hasilnya sesuai dengan harapan perusahaan.”Dina ya
last updateLast Updated : 2025-02-06
Read more

Bab 147: Melangkah di Jalan Baru

Siang itu, udara Singapura terasa segar, dengan angin ringan yang berhembus di sepanjang jalan menuju pusat seminar. Alea melangkah dengan penuh keyakinan, mengenakan blus putih sederhana dan tas selempang yang membawa catatan serta perlengkapan kerja lainnya. Di dalam hatinya, ia merasa campuran gugup dan antusiasme yang menyenangkan. Ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya.Ruangan seminar dipenuhi oleh berbagai peserta, mulai dari profesional terapi seni berpengalaman hingga pemula seperti dirinya. Di depan, seorang pembicara memulai sesi dengan cerita tentang bagaimana seni dapat menjadi jembatan untuk menyembuhkan trauma. Alea duduk di salah satu barisan tengah, mencatat dengan seksama setiap kata yang disampaikan.Ketika sesi diskusi dimulai, Alea memberanikan diri untuk berbicara. “Saya percaya bahwa seni memberikan kebebasan untuk mengekspresikan apa yang sulit diucapkan. Bagaimana kita bisa memadukan pendekatan ini dengan kebutuhan emosional individu yang berbeda-beda?”
last updateLast Updated : 2025-02-07
Read more

Bab 148: Rahasia yang Terungkap

“Kami memeriksa secara menyeluruh, dan saya yakin dengan hasilnya. Pasien tidak sedang hamil.” Dokter mengangguk dengan tegas. Arka tidak bisa berkata-kata. Mencoba memahami apa yang baru saja ia dengar. Semua yang selama ini ia yakini, alasan mengapa ia bertahan dalam semua kekacauan ini, mendadak terasa runtuh.Ketika dokter meninggalkannya untuk kembali ke ruangan, Arka berdiri di lorong rumah sakit yang terang tetapi dingin. Tatapannya kosong, sementara kebenaran yang baru saja terungkap mulai menghantamnya dengan kenyataan yang pahit.Dina telah berbohong.Dan kini, Arka tahu bahwa semuanya akan berubah.Pagi itu, suasana rumah sakit terasa dingin meskipun matahari sudah tinggi. Lampu neon yang putih terang membuat lorong rumah sakit terlihat steril tetapi menambah kesan suram. Arka duduk di ruang tunggu, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangan saling menggenggam erat. Ia mencoba mengendalikan kegelisahannya, tetapi pikirannya terus kembali pada ucapan dokter semalam: “Kami ti
last updateLast Updated : 2025-02-08
Read more

Bab 149: Awal yang Baru

Beberapa minggu setelah seminar, Alea memulai langkah pertamanya sebagai terapis seni magang di sebuah pusat komunitas kecil yang terletak di kawasan tenang Singapura. Bangunan sederhana itu dipenuhi dengan warna-warna hangat, dindingnya dihiasi dengan lukisan anak-anak dan karya seni yang dihasilkan oleh klien sebelumnya. Suasana di tempat itu terasa hidup, penuh dengan semangat untuk pulih dan berkembang, meskipun banyak pengunjung yang membawa cerita kelam.Hari pertama Alea dimulai dengan perkenalan singkat bersama para staf. Mereka menyambutnya dengan senyum ramah, menciptakan suasana yang nyaman. Di tengah ruangan, Alea melihat beberapa meja yang dipenuhi perlengkapan seni: cat air, pastel, tanah liat, hingga pensil warna. Ia mengusap tangannya, mencoba menenangkan rasa gugup yang tiba-tiba menyeruak.Seorang staf senior bernama Rossa mendekatinya. Wanita paruh baya itu tampak berpengalaman, dengan senyum lembut yang menenangkan. “Alea, kamu akan melakukannya dengan baik,” katan
last updateLast Updated : 2025-02-09
Read more

Bab 150: Kembali ke Titik Awal

Langit Jakarta sore itu memancarkan warna jingga yang memudar, menciptakan suasana melankolis di sudut pandang Arka. Di dalam ruang kerja pribadinya, ia duduk di kursinya dengan tatapan kosong, memandangi surat pengunduran diri yang baru saja ia tanda tangani. Surat itu terasa berat, bukan karena keraguan, tetapi karena kenyataan bahwa babak baru akan segera dimulai. Sebuah babak yang ia yakini akan penuh tantangan dan tanggung jawab.Setahun yang lalu, ketika ayahnya meninggal, keluarga Arka memutuskan untuk membagi tanggung jawab perusahaan keluarga. Kakaknya, Risa, telah pergi ke Singapura untuk mengurus cabang di sana. Ia meminta Arka untuk mengambil alih kantor pusat di Jakarta, tetapi saat itu Arka menolak. Ia masih sibuk mengejar ambisinya sebagai arsitek, terlalu larut dalam dunia profesionalnya untuk memikirkan warisan keluarga.Namun kini, segalanya berbeda. Kehidupan pribadinya yang hancur dan rasa bersalah yang terus membayangi mendorongnya untuk membuat keputusan ini. Ia
last updateLast Updated : 2025-02-10
Read more
PREV
1
...
131415161718
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status