Langit Jakarta sore itu memancarkan warna jingga yang memudar, menciptakan suasana melankolis di sudut pandang Arka. Di dalam ruang kerja pribadinya, ia duduk di kursinya dengan tatapan kosong, memandangi surat pengunduran diri yang baru saja ia tanda tangani. Surat itu terasa berat, bukan karena keraguan, tetapi karena kenyataan bahwa babak baru akan segera dimulai. Sebuah babak yang ia yakini akan penuh tantangan dan tanggung jawab.Setahun yang lalu, ketika ayahnya meninggal, keluarga Arka memutuskan untuk membagi tanggung jawab perusahaan keluarga. Kakaknya, Risa, telah pergi ke Singapura untuk mengurus cabang di sana. Ia meminta Arka untuk mengambil alih kantor pusat di Jakarta, tetapi saat itu Arka menolak. Ia masih sibuk mengejar ambisinya sebagai arsitek, terlalu larut dalam dunia profesionalnya untuk memikirkan warisan keluarga.Namun kini, segalanya berbeda. Kehidupan pribadinya yang hancur dan rasa bersalah yang terus membayangi mendorongnya untuk membuat keputusan ini. Ia
Pagi itu, suasana kantor dipenuhi dengan bisikan-bisikan yang tak pernah Dina bayangkan akan tertuju padanya. Setiap langkahnya seolah membawa gelombang keheningan yang aneh. Percakapan yang semula hidup mendadak terhenti saat Dina lewat, hanya untuk digantikan oleh tatapan tajam atau lirikan cepat dari para kolega. Dina berusaha menegakkan kepala, meskipun hatinya penuh kegelisahan.Wajahnya dipaksakan untuk tetap tersenyum saat ia melangkah masuk ke ruangannya. Namun, ketika ia melihat mejanya, senyum itu langsung pudar. Di atas meja, ada beberapa catatan anonim yang dilempar begitu saja. Dina meraih salah satunya dengan tangan gemetar."Kebohonganmu akhirnya terbongkar, ya?"Tangannya mencengkeram kertas itu erat, lalu ia membuka catatan berikutnya."Kamu nggak malu kerja di sini setelah semuanya?"Dina merasa dadanya sesak. Ia memandang ke luar kaca ruangannya, melihat beberapa rekan kerja berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahnya. Tatapan mereka tidak lagi penuh rasa horm
Pagi di Singapura membawa kehangatan yang lembut, meskipun di hati Alea, kehangatan itu belum sepenuhnya terasa. Sinar matahari menembus tirai jendela apartemennya, membangunkannya perlahan. Ia membuka mata, menoleh ke arah Raka yang masih tertidur pulas di sebelahnya. Wajah kecil anak itu begitu damai, seperti kanvas kosong yang belum tergores oleh kerasnya dunia.Alea tersenyum tipis, mendekat untuk mengecup kening Raka. “Selamat pagi, Nak,” bisiknya pelan meskipun ia tahu anaknya masih terlelap.Dengan langkah pelan, ia bangkit dari tempat tidur, merapikan rambutnya, dan mulai mempersiapkan diri untuk hari yang sibuk. Rutinitas pagi di apartemennya yang kecil tapi nyaman kini menjadi penghibur dalam kehidupan barunya.Hari itu, Alea kembali bekerja di pusat komunitas seni yang menjadi tempatnya berlabuh sejak pindah ke Singapura. Ruangan itu terasa hidup dengan warna-warna cerah yang menghiasi dinding dan meja-meja yang dipenuhi perlengkapan seni. Bau cat dan pastel memenuhi udara,
Alea menatap Randy dengan perasaan yang sulit ia namai. Ada kehangatan yang familiar, tetapi juga kegelisahan yang menggantung di udara di antara mereka. Sudah lama sejak seseorang datang menemuinya dengan niat sehangat ini. Sejenak, ia berpikir apakah ia masih pantas menerima perhatian seperti itu."Randy?" Suaranya terdengar seperti bisikan, seolah takut membuyarkan sesuatu yang rapuh. "Kenapa kamu ada di sini?"Randy tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, senyum yang tidak berubah sejak dulu, lalu mengulurkan mawar putih yang tampak kontras di jemarinya yang kokoh. "Aku janji mau ketemu kamu, kan? Dan aku penasaran sama tempat kerja kamu. Jadi, aku pikir, kenapa nggak sekalian bawa ini?"Alea menerima bunga itu dengan gerakan ragu, seolah takut sentuhan pada kelopaknya akan mengungkap sesuatu yang tak ingin ia sadari. Senyum samar terbentuk di bibirnya. "Terima kasih... tapi ini mendadak sekali.""Aku memang nggak suka menunda-nunda, Alea." Randy menatapnya lembut, tetapi di
Setelah resmi bergabung dengan perusahaan keluarga, Arka memulai harinya lebih awal dari biasanya. Gedung kantor pusat keluarga yang megah di Jakarta kini menjadi tempat ia menghabiskan sebagian besar waktunya. Di balik meja kerjanya yang besar, ia memandang deretan laporan keuangan, grafik pertumbuhan bisnis, dan proposal proyek. Namun, kali ini, beban tanggung jawab itu terasa berbeda—bukan lagi sebagai seorang arsitek ambisius, tetapi sebagai penerus yang ingin memberikan makna baru pada warisan keluarganya.Setelah rapat selesai, Arka kembali ke ruang kerjanya. Di layar laptopnya, wajah kakaknya, Risa, muncul melalui panggilan video. Risa tampak sibuk dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya di Singapura, tetapi senyumnya tetap ramah.“Bagaimana kabar Jakarta?” tanya Risa, membuka percakapan.“Cukup menantang,” jawab Arka sambil tersenyum tipis. “Tapi aku rasa aku mulai memahami apa yang Ayah rasakan selama ini. Tanggung jawab ini berat, tapi aku ingin membuatnya bermakna.”Risa m
Randy melangkah keluar dari terminal bandara Changi, matanya menatap hiruk-pikuk kota Singapura yang sudah mulai terasa akrab baginya. Perjalanan bisnis yang sering membawanya ke kota ini kini memiliki makna lebih dalam, bukan hanya pekerjaan, tetapi juga kesempatan untuk bertemu seseorang yang mulai mengisi ruang di hatinya.Dalam beberapa bulan terakhir, Randy selalu menyempatkan waktunya untuk bertemu Alea dan Raka setiap kali ia berada di Singapura. Dari awalnya hanya pertemuan singkat, kini pertemuan itu terasa lebih personal. Ada kehangatan yang sulit ia jelaskan setiap kali ia melihat senyum Alea atau mendengar cerita polos dari Raka.---Di sore yang cerah, sinar matahari menyinari taman dengan lembut, memberikan nuansa damai. Randy duduk di bangku taman dekat apartemen Alea, tangannya memegang cangkir kopi hangat. Di depannya, Raka sedang berlari-larian mengejar bola dengan penuh semangat, tertawa ceria. Alea duduk di sampingnya, matanya terus mengawasi anaknya sambil terseny
Pagi itu, di sela kesibukannya di pusat komunitas, ponsel Alea bergetar di atas meja. Nama "Kak Risa" muncul di layar, membuat Alea terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.“Halo, Kak Risa,” sapa Alea dengan nada ramah namun penuh kehati-hatian.“Halo, Alea,” suara Risa terdengar hangat namun tegas. “Aku mau bicara soal Raka. Aku ingin dia menginap di rumahku selama beberapa hari.”Alea terkejut mendengar permintaan itu. “Menginap, Kak? Tapi—”Risa segera memotong. “Alea, dengar dulu. Aku tahu kamu mungkin merasa ragu. Tapi aku dan keluargaku juga bagian dari hidup Raka. Dia keponakanku, dan anak-anak di rumah selalu ingin mengenal dia lebih dekat. Aku pikir ini bisa jadi momen yang baik untuknya, untuk merasa bahwa dia punya keluarga besar di sini.”Alea terdiam. Pikirannya langsung melayang ke Raka, yang selama ini hanya mengenal dunia kecil yang ia ciptakan untuk melindunginya. Namun, di sisi lain, ia tahu bahwa Raka juga butuh merasakan kasih sayang dari keluarga l
Langit malam Singapura dipenuhi bintang, meskipun gemerlap lampu kota mengaburkan sebagian cahayanya. Alea berjalan pelan menuju apartemennya setelah menghabiskan waktu seharian di rumah Risa. Langkahnya terasa berat karena kelelahan, tetapi hati kecilnya merasa lega karena Raka terlihat bahagia bersama keluarganya.Ketika ia hampir sampai di pintu apartemen, langkahnya terhenti. Sosok yang familiar berdiri di depan pintu, membuat alis Alea terangkat karena terkejut. Randy, dengan jas rapi dan sebuah kotak kecil berbungkus kertas biru di tangannya, berdiri di sana."Randy?" panggil Alea, menatapnya dengan penuh tanya. “Apa yang kamu lakukan di sini?”Randy berbalik, menyunggingkan senyum hangat yang khas. “Aku cuma ingin memastikan kamu sampai dengan selamat. Dan… ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”Alea mengerutkan kening, tetapi membuka pintu apartemennya dan mempersilakan Randy masuk. “Mungkin kamu mau bicara di dalam?”Randy mengangguk, mengikuti Alea masuk ke dalam apartemen k
Arka baru saja keluar dari ruang pemeriksaan, berdiri hanya beberapa langkah dari Alea. Mata hitamnya tajam, menusuk tanpa perlu banyak kata. Sorotnya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kehadiran, sebuah peringatan yang tak perlu diucapkan.Randy mengerti pesan itu. Ia bisa merasakannya, bisa melihatnya dalam ekspresi Arka yang dingin dan penuh penguasaan.Dan entah kenapa, hal itu menusuknya lebih dalam daripada yang seharusnya.Di hadapannya, ada Alea, wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati. Tetapi di sampingnya, berdiri pria yang memiliki ikatan lebih kuat dengannya. Ikatan yang tak bisa ia lawan, tak peduli seberapa besar keinginannya untuk tetap berada di sisi Alea.Ada perbedaan mendasar di antara mereka.Jika Alea terluka, Randy akan selalu datang untuknya. Tetapi Arka? Arka adalah luka itu sendiri. Luka yang menyakitkan, yang merobek, tetapi pada akhirnya, luka itu juga yang mengajarkan Alea cara untuk bertahan.Randy menelan ludah, lalu perlahan menundukkan k
Hari-hari berlalu, tetapi keheningan yang mencekik sejak perpisahannya dengan Randy masih mengurung Alea dalam kesedihan yang tak berujung. Ia meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keputusan terbaik, tetapi hatinya tetap terasa hampa. Luka yang tak terlihat itu tetap ada, menyelimuti dadanya dengan perasaan kehilangan yang sulit diungkapkan.Namun, di tengah kekalutan itu, hidup kembali memberinya ujian yang lebih besar.Saat sedang berada di pusat terapi seni, ia merasakan ponselnya bergetar di atas meja. Awalnya, ia enggan mengangkatnya, tetapi ketika melihat nama sebuah rumah sakit yang muncul di layar, detak jantungnya langsung berdebar keras.Dengan tangan sedikit gemetar, ia menekan tombol jawab."Halo?""Apakah ini ibu dari Raka Wicaksana?" Suara seorang perawat terdengar di seberang sana.Jantung Alea mencelos. "Iya, saya ibunya. Ada apa dengan Raka?""Putra Anda mengalami kecelakaan. Kami membawanya ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Anda harus segera datang."Dunia Alea seke
Alea berdiri di depan cermin panjang di sudut galeri, menatap bayangannya sendiri seperti melihat seseorang yang tak lagi ia kenali.Cahaya lampu galeri yang temaram membentuk siluetnya, tubuh yang dulu ia banggakan kini tampak begitu rapuh. Matanya sembab, kelopak merah, jejak tangis yang terlalu lama ditahan membuat wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara memenuhi paru-parunya, seolah itu bisa menguatkannya.‘Ini yang terbaik,’ ia berbisik dalam hati. Ini yang seharusnya terjadi.Suara-suara itu masih menggema di telinganya."Dia janda, Randy. Dan dia punya anak. Apa kamu benar-benar sudah memikirkan ini?""Cinta saja tidak cukup."Alea menggigit bibir, mencoba menghalau perih yang tiba-tiba menyusup ke dadanya. Ia tahu sejak awal bahwa menjalin hubungan dengan Randy tidak akan mudah. Ia sadar ada batas yang mungkin tidak bisa mereka langkahi. Namun tetap saja, kata-kata itu terasa seperti palu yang menghantam hatinya berkali-kali.L
Di tengah keramaian pameran, Alea sibuk menjelaskan sebuah lukisan kepada beberapa pengunjung. Cahaya hangat dari lampu-lampu galeri memantulkan bayangan samar di lantai marmer, menciptakan atmosfer elegan yang kontras dengan kegelisahan yang perlahan menyusup ke dalam dirinya.Di sudut ruangan, Randy berdiri diam, memperhatikan Alea dengan senyum bangga. Ia kagum melihat bagaimana perempuan itu mampu menguasai ruangan, berbicara dengan percaya diri, dan membuat orang-orang terpukau dengan caranya bercerita tentang seni.Namun, suasana yang tenang itu berubah seketika saat dari arah pintu masuk, sepasang suami istri berpenampilan elegan melangkah masuk. Mereka tampak mencari seseorang, tatapan mereka menyapu ruangan dengan penuh tujuan.“Randy!” panggil wanita itu dengan nada ramah tetapi tegas.Randy menoleh. Wajahnya seketika berubah. Ada keterkejutan dalam matanya, diikuti dengan ketegangan halus yang sulit disembunyikan.“Ma, Pa?”Alea yang baru saja menyelesaikan penjelasannya ke
Arka menatapnya, matanya tajam seperti biasanya. “Perusahaan kami adalah salah satu sponsor acara ini,” jawabnya singkat, nada dinginnya terasa menusuk.“Dan kamu? Apa alasanmu ada di sini?”Randy mengangguk ringan, berusaha menjaga ketenangannya. “Aku datang untuk mendukung Alea,” jawabnya jujur, meskipun ia bisa merasakan atmosfir di antara mereka berubah tegang.Arka mengangkat alisnya sedikit, sebuah gerakan kecil yang menunjukkan ketidakpuasannya.“Mendukung Alea?” tanyanya, meskipun sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. “Kamu sepertinya cukup sering ada di dekatnya akhir-akhir ini.”Randy tersenyum kecil, meskipun ia tahu ada pertanyaan terselubung di balik kata-kata itu. “Iya, aku memang sering di dekatnya. Karena aku peduli sama dia. Sama Raka juga.”Arka mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, berusaha mengendalikan emosi yang mulai muncul.“Raka?” ulangnya, nada suaranya semakin rendah. “Jadi, kamu pikir kamu cukup peduli untuk ada di kehidupan mereka?”Randy menatap Arka dengan
Alea menggeleng sambil tertawa kecil. “Jangan lebay.”“Tapi itu kenyataannya,” Randy bersikeras dengan senyum lebar. “Aku nggak bakal melewatkan momen penting dalam hidup kamu.”“Dan aku juga berharap dapat panduan khusus dari kamu. Siapa tahu ada cerita menarik di balik karya-karya itu.”Alea tertawa kecil. “Aku nggak bisa janji cerita semuanya. Banyak yang terlalu pribadi.”“Fair enough,” Randy mengangkat bahu sambil tersenyum. “Aku tetap nggak sabar buat datang dan lihat kamu bersinar di tempat kerja kamu.”Alea terdiam sejenak, memandangi Randy dengan rasa terima kasih yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata. “Makasih, Randy. Aku… aku senang kamu mau datang.”“Selalu, Alea,” jawab Randy lembut. “Aku di sini buat kamu dan Raka, kapan pun kamu butuh.”Malam itu berlanjut dengan percakapan ringan tentang pameran, tentang Raka, dan tentang seni yang membantu orang-orang menemukan diri mereka. Suasana apartemen Alea yang hangat, ditambah perhatian tulus dari Randy, membuat malam itu t
Nama itu menghantam Arka seperti petir di siang bolong.“Randy?” ulang Arka dengan suara lebih pelan, hampir berbisik. “Dia juga ada di Singapura?”“Iya,” jawab Risa di seberang telepon, nada suaranya hati-hati. “Dia sopan, dan aku bisa lihat dia sangat perhatian ke Alea dan Raka. Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ... aku pikir kamu berhak tahu.”Arka terdiam, mencoba mencerna kabar itu. Tangannya mengepal di sisi meja, napasnya tertahan, sementara matanya terpaku pada foto keluarga yang terpajang di dinding ruang kerjanya. Foto itu, yang menunjukkan dirinya, Alea, dan Raka dengan senyum lebar, kini terasa seperti kenangan dari dunia lain.“Terima kasih, Kak,” katanya akhirnya, suaranya kaku, hampir tanpa emosi.Risa menarik napas panjang di seberang. Ia tahu kabar ini akan mengguncang Arka, tetapi ia merasa tidak ada gunanya menyembunyikan kenyataan. “Arka, aku nggak bilang ini untuk bikin kamu merasa buruk. Aku cuma ingin kamu tahu kenyataannya, apa pun itu. Alea juga
Randy tidak langsung menjawab. Ia hanya menunggu, menatap Alea dengan kesabaran yang tak tergoyahkan.“Tapi …” lanjut Alea, menarik napas dalam-dalam. “Aku lelah terus berlari, Randy. Aku ingin mencoba. Aku ingin memberi kita kesempatan. Meski aku nggak tahu apa aku bisa berjalan secepat kamu.”Wajah Randy berubah cerah. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “Alea, kamu nggak tahu betapa aku bersyukur dengar itu.”Namun, sebelum Randy bisa melanjutkan, Alea menoleh, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tapi aku juga harus jujur, Randy. Perjalanan ini nggak akan mudah. Aku masih membawa luka yang belum sembuh sepenuhnya. Dan aku nggak mau kamu terluka karenanya.”Randy menggenggam tangan Alea, jemarinya hangat dan penuh ketulusan. “Alea, aku nggak peduli seberapa sulitnya. Aku di sini bukan untuk mencari kesempurnaan. Aku di sini untuk berjalan bersama kamu, setapak demi setapak, sesakit apa pun itu.”Air mata akhirnya jatuh di pipi Alea. Kata-kata Randy begitu sederhana, tetap
Randy tersenyum, lalu menjawab dengan nada lembut. “Aku ingin memastikan kamu benar-benar tahu kalau aku serius dengan perasaanku. Dan aku di sini bukan untuk terburu-buru. Aku di sini untuk jalanin ini sama-sama, dengan sabar, sampai kamu benar-benar yakin.”Kata-kata Randy membuat hati Alea bergetar. Ia tahu Randy tulus, dan itu membuat segalanya terasa lebih rumit. Alea duduk di sofa, memandangi Randy yang masih tersenyum hangat.“Randy … aku nggak tahu apa aku bisa kasih yang kamu butuhkan,” kata Alea pelan, nadanya dipenuhi keraguan.“Kamu nggak perlu kasih apa-apa, Alea,” jawab Randy cepat. “Cukup kasih aku kesempatan. Itu aja.”***Malam itu, setelah Randy pergi, Alea duduk di sofa kecilnya dengan perasaan campur aduk. Suasana apartemennya yang biasanya hangat kini terasa hening, seolah-olah menyerap semua kebingungan yang melingkupi pikirannya. Cangkir teh di tangannya sudah dingin, tetapi ia masih menggenggamnya erat, seolah mencari kehangatan yang tidak bisa ia temukan dalam