Home / Rumah Tangga / Ranjang yang Bukan Milikku / Bab 157: Pertemuan yang Tak Terduga

Share

Bab 157: Pertemuan yang Tak Terduga

Author: Duvessa
last update Last Updated: 2025-02-17 16:03:04

Langit malam Singapura dipenuhi bintang, meskipun gemerlap lampu kota mengaburkan sebagian cahayanya. Alea berjalan pelan menuju apartemennya setelah menghabiskan waktu seharian di rumah Risa. Langkahnya terasa berat karena kelelahan, tetapi hati kecilnya merasa lega karena Raka terlihat bahagia bersama keluarganya.

Ketika ia hampir sampai di pintu apartemen, langkahnya terhenti. Sosok yang familiar berdiri di depan pintu, membuat alis Alea terangkat karena terkejut. Randy, dengan jas rapi dan sebuah kotak kecil berbungkus kertas biru di tangannya, berdiri di sana.

"Randy?" panggil Alea, menatapnya dengan penuh tanya. “Apa yang kamu lakukan di sini?”

Randy berbalik, menyunggingkan senyum hangat yang khas. “Aku cuma ingin memastikan kamu sampai dengan selamat. Dan… ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”

Alea mengerutkan kening, tetapi membuka pintu apartemennya dan mempersilakan Randy masuk. “Mungkin kamu mau bicara di dalam?”

Randy mengangguk, mengikuti Alea masuk ke dalam apartemen k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 158: Keputusan yang Berat

    Restoran kecil itu dipenuhi alunan musik lembut, menciptakan suasana tenang di bawah cahaya lilin. Meja mereka terletak di sudut yang cukup privat, dengan pemandangan menghadap ke Marina Bay yang berkilauan. Alea dan Randy duduk berhadapan, menikmati hidangan penutup yang manis.“Kamu tahu,” kata Randy sambil mengaduk kopinya pelan. “Aku nggak pernah menyangka kalau Singapura akan jadi tempat aku bolak-balik seperti sekarang. Dulu, aku nggak terlalu suka ke sini.”Alea tersenyum kecil, menatap secangkir teh di depannya. “Kenapa? Singapura kan rapi, teratur. Rasanya semua orang suka tinggal di sini.”Randy terkekeh, menatap Alea dengan sorot mata lembut. “Mungkin karena dulu aku datang ke sini hanya untuk urusan kerja dan mengunjungi orangtuaku. Tapi sekarang, ada alasan lain.”Alea mengangkat alis, pura-pura tidak paham. “Alasan lain?”“Ya,” jawab Randy, nada suaranya santai tetapi penuh makna. “Raka sangat menyukai taman-taman di sini. Dan, tentu saja, ada kamu.”Alea tertawa kecil,

    Last Updated : 2025-02-18
  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 159: Tiga Hati yang Bertaut

    Alea menggigit bibirnya, merasa dadanya sesak oleh campuran emosi yang sulit dijelaskan. “Randy, aku nggak tahu kapan aku akan benar-benar siap. Kalau kamu lelah … aku nggak akan menyalahkanmu.”Randy menatap Alea dengan tatapan yang dalam, seolah-olah ingin memastikan ia mengerti. “Aku nggak lelah, Alea. Karena mencintaimu adalah hal paling alami yang pernah aku rasakan. Jadi, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, oke?”Alea tersenyum kecil, meskipun matanya sedikit berkaca-kaca. “Terima kasih, Randy. Aku nggak tahu apa aku layak mendapatkan ini, tapi terima kasih.”Randy mengangguk sekali lagi sebelum melangkah mundur. “Selamat malam, Alea. Aku harap kamu mimpi indah malam ini.”Alea menatapnya hingga Randy berbalik dan berjalan pergi. Ketika pintu apartemen tertutup, Alea bersandar pada pintu itu, menatap ke arah lantai dengan hati yang penuh kebingungan.Di balkon hotelnya, Randy berdiri dengan tangan di saku jasnya, menatap gemerlap lampu kota Singapura. Malam yang tenang itu

    Last Updated : 2025-02-19
  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 160: Masa Lalu dan Masa Depan

    “Alea ... ” suara Arka terdengar di seberang, lembut tetapi sarat emosi. “Aku nggak tahu harus bilang apa, tapi aku cuma ingin tahu kabarmu. Kamu ... baik-baik saja, kan?”Alea terdiam sejenak, mencoba menyembunyikan emosi yang mulai berkecamuk. “Aku baik, Arka. Raka juga baik. Dia ... dia menikmati waktunya di rumah Kak Risa.”Arka tersenyum kecil di seberang, meskipun itu tidak terlihat oleh Alea. “Aku senang mendengar itu. Aku tahu aku nggak punya hak untuk mencampuri hidupmu lagi, tapi aku cuma ingin kamu tahu kalau aku ... aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan Raka.”Alea menarik napas panjang, mencoba menjaga suaranya tetap stabil. “Terima kasih, Arka. Aku ... aku juga berharap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu.”Ada jeda yang panjang di antara mereka, seolah-olah keduanya mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan.“Alea,” suara Arka terdengar pelan, penuh kehati-hatian, seolah-olah ia takut kata-katanya akan menyakiti. “Aku tahu aku mungkin nggak punya hak lagi, t

    Last Updated : 2025-02-22
  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 161: Tiga Hati dalam Persimpangan

    "Aku tahu, Randy," jawab Alea, suaranya hampir bergetar. "Dan aku sangat menghargai itu. Kamu nggak tahu betapa besar arti perhatianmu untuk aku."Randy menarik napas panjang, suaranya menjadi lebih lembut tetapi penuh keteguhan. "Aku nggak butuh kamu sempurna, Alea. Aku nggak butuh kamu buru-buru mengambil keputusan. Aku cuma ingin kamu tahu kalau aku mencintai kamu, apa adanya. Dan aku akan tetap di sini, sampai kamu siap."Alea terdiam, hatinya terasa semakin berat. Ada rasa syukur, tetapi juga rasa bersalah yang perlahan menyeruak. "Terima kasih, Randy. Aku … aku harap aku bisa sekuat kamu.""Kamu udah lebih kuat dari yang kamu kira, Alea," jawab Randy dengan nada yakin. "Aku lihat itu di cara kamu bangkit, di cara kamu menjaga Raka, bahkan di cara kamu memilih untuk jujur pada dirimu sendiri. Itu cukup buat aku."Alea mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. Ia tahu kata-kata Randy penuh dengan ketulusan, dan itu membuatnya semakin sulit untuk tidak merasa tersentuh. "Kamu

    Last Updated : 2025-02-26
  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 162: Siapa di Balik Payung

    Alea menatap pria itu, mencoba mengenali sosoknya di bawah payung. Langit yang mendung dan rintik hujan mengaburkan pandangannya, tetapi suara itu terasa familiar.“Alea,” panggil pria itu lagi, lebih pelan namun jelas terdengar.Saat ia melangkah mendekat, cahaya lampu jalan mulai menerangi wajahnya. Jantung Alea berdebar ketika ia menyadari siapa orang itu. Randy berdiri di sana, dengan senyum lembut menghiasi wajahnya.“Randy?” tanya Alea, setengah terkejut. “Apa yang kamu lakukan di sini?”Randy tersenyum lebih lebar, mengangkat payungnya sedikit lebih tinggi seolah memberikan alasan sederhana. “Aku kebetulan lewat. Lalu aku lihat kamu di sini, kayaknya nggak bawa payung. Jadi, aku pikir aku harus berhenti.”Alea tertawa kecil, meskipun ia merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar 'kebetulan.' “Kamu selalu kebetulan muncul di waktu yang pas, ya?”Randy hanya mengangkat bahu, lalu melangkah lebih dekat, menyodorkan payung itu kepada Alea. “Ayo, aku antar sampai ke tempatmu.”Alea

    Last Updated : 2025-02-27
  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 163: Kesabaran Randy

    Randy tersenyum, lalu menjawab dengan nada lembut. “Aku ingin memastikan kamu benar-benar tahu kalau aku serius dengan perasaanku. Dan aku di sini bukan untuk terburu-buru. Aku di sini untuk jalanin ini sama-sama, dengan sabar, sampai kamu benar-benar yakin.”Kata-kata Randy membuat hati Alea bergetar. Ia tahu Randy tulus, dan itu membuat segalanya terasa lebih rumit. Alea duduk di sofa, memandangi Randy yang masih tersenyum hangat.“Randy … aku nggak tahu apa aku bisa kasih yang kamu butuhkan,” kata Alea pelan, nadanya dipenuhi keraguan.“Kamu nggak perlu kasih apa-apa, Alea,” jawab Randy cepat. “Cukup kasih aku kesempatan. Itu aja.”***Malam itu, setelah Randy pergi, Alea duduk di sofa kecilnya dengan perasaan campur aduk. Suasana apartemennya yang biasanya hangat kini terasa hening, seolah-olah menyerap semua kebingungan yang melingkupi pikirannya. Cangkir teh di tangannya sudah dingin, tetapi ia masih menggenggamnya erat, seolah mencari kehangatan yang tidak bisa ia temukan dalam

    Last Updated : 2025-03-01
  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 164: Langkah Baru

    Randy tidak langsung menjawab. Ia hanya menunggu, menatap Alea dengan kesabaran yang tak tergoyahkan.“Tapi …” lanjut Alea, menarik napas dalam-dalam. “Aku lelah terus berlari, Randy. Aku ingin mencoba. Aku ingin memberi kita kesempatan. Meski aku nggak tahu apa aku bisa berjalan secepat kamu.”Wajah Randy berubah cerah. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “Alea, kamu nggak tahu betapa aku bersyukur dengar itu.”Namun, sebelum Randy bisa melanjutkan, Alea menoleh, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tapi aku juga harus jujur, Randy. Perjalanan ini nggak akan mudah. Aku masih membawa luka yang belum sembuh sepenuhnya. Dan aku nggak mau kamu terluka karenanya.”Randy menggenggam tangan Alea, jemarinya hangat dan penuh ketulusan. “Alea, aku nggak peduli seberapa sulitnya. Aku di sini bukan untuk mencari kesempurnaan. Aku di sini untuk berjalan bersama kamu, setapak demi setapak, sesakit apa pun itu.”Air mata akhirnya jatuh di pipi Alea. Kata-kata Randy begitu sederhana, tetap

    Last Updated : 2025-03-02
  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 165: Bayang-Bayang Masa Lalu

    Nama itu menghantam Arka seperti petir di siang bolong.“Randy?” ulang Arka dengan suara lebih pelan, hampir berbisik. “Dia juga ada di Singapura?”“Iya,” jawab Risa di seberang telepon, nada suaranya hati-hati. “Dia sopan, dan aku bisa lihat dia sangat perhatian ke Alea dan Raka. Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ... aku pikir kamu berhak tahu.”Arka terdiam, mencoba mencerna kabar itu. Tangannya mengepal di sisi meja, napasnya tertahan, sementara matanya terpaku pada foto keluarga yang terpajang di dinding ruang kerjanya. Foto itu, yang menunjukkan dirinya, Alea, dan Raka dengan senyum lebar, kini terasa seperti kenangan dari dunia lain.“Terima kasih, Kak,” katanya akhirnya, suaranya kaku, hampir tanpa emosi.Risa menarik napas panjang di seberang. Ia tahu kabar ini akan mengguncang Arka, tetapi ia merasa tidak ada gunanya menyembunyikan kenyataan. “Arka, aku nggak bilang ini untuk bikin kamu merasa buruk. Aku cuma ingin kamu tahu kenyataannya, apa pun itu. Alea juga

    Last Updated : 2025-03-05

Latest chapter

  • Ranjang yang Bukan Milikku   BAB 171: Akhir Kisah

    Arka baru saja keluar dari ruang pemeriksaan, berdiri hanya beberapa langkah dari Alea. Mata hitamnya tajam, menusuk tanpa perlu banyak kata. Sorotnya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kehadiran, sebuah peringatan yang tak perlu diucapkan.Randy mengerti pesan itu. Ia bisa merasakannya, bisa melihatnya dalam ekspresi Arka yang dingin dan penuh penguasaan.Dan entah kenapa, hal itu menusuknya lebih dalam daripada yang seharusnya.Di hadapannya, ada Alea, wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati. Tetapi di sampingnya, berdiri pria yang memiliki ikatan lebih kuat dengannya. Ikatan yang tak bisa ia lawan, tak peduli seberapa besar keinginannya untuk tetap berada di sisi Alea.Ada perbedaan mendasar di antara mereka.Jika Alea terluka, Randy akan selalu datang untuknya. Tetapi Arka? Arka adalah luka itu sendiri. Luka yang menyakitkan, yang merobek, tetapi pada akhirnya, luka itu juga yang mengajarkan Alea cara untuk bertahan.Randy menelan ludah, lalu perlahan menundukkan k

  • Ranjang yang Bukan Milikku   BAB 170: Kehilangan dan Penyadaran

    Hari-hari berlalu, tetapi keheningan yang mencekik sejak perpisahannya dengan Randy masih mengurung Alea dalam kesedihan yang tak berujung. Ia meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keputusan terbaik, tetapi hatinya tetap terasa hampa. Luka yang tak terlihat itu tetap ada, menyelimuti dadanya dengan perasaan kehilangan yang sulit diungkapkan.Namun, di tengah kekalutan itu, hidup kembali memberinya ujian yang lebih besar.Saat sedang berada di pusat terapi seni, ia merasakan ponselnya bergetar di atas meja. Awalnya, ia enggan mengangkatnya, tetapi ketika melihat nama sebuah rumah sakit yang muncul di layar, detak jantungnya langsung berdebar keras.Dengan tangan sedikit gemetar, ia menekan tombol jawab."Halo?""Apakah ini ibu dari Raka Wicaksana?" Suara seorang perawat terdengar di seberang sana.Jantung Alea mencelos. "Iya, saya ibunya. Ada apa dengan Raka?""Putra Anda mengalami kecelakaan. Kami membawanya ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Anda harus segera datang."Dunia Alea seke

  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 169: Perpisahan

    Alea berdiri di depan cermin panjang di sudut galeri, menatap bayangannya sendiri seperti melihat seseorang yang tak lagi ia kenali.Cahaya lampu galeri yang temaram membentuk siluetnya, tubuh yang dulu ia banggakan kini tampak begitu rapuh. Matanya sembab, kelopak merah, jejak tangis yang terlalu lama ditahan membuat wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara memenuhi paru-parunya, seolah itu bisa menguatkannya.‘Ini yang terbaik,’ ia berbisik dalam hati. Ini yang seharusnya terjadi.Suara-suara itu masih menggema di telinganya."Dia janda, Randy. Dan dia punya anak. Apa kamu benar-benar sudah memikirkan ini?""Cinta saja tidak cukup."Alea menggigit bibir, mencoba menghalau perih yang tiba-tiba menyusup ke dadanya. Ia tahu sejak awal bahwa menjalin hubungan dengan Randy tidak akan mudah. Ia sadar ada batas yang mungkin tidak bisa mereka langkahi. Namun tetap saja, kata-kata itu terasa seperti palu yang menghantam hatinya berkali-kali.L

  • Ranjang yang Bukan Milikku   BAB 168: Pilihan

    Di tengah keramaian pameran, Alea sibuk menjelaskan sebuah lukisan kepada beberapa pengunjung. Cahaya hangat dari lampu-lampu galeri memantulkan bayangan samar di lantai marmer, menciptakan atmosfer elegan yang kontras dengan kegelisahan yang perlahan menyusup ke dalam dirinya.Di sudut ruangan, Randy berdiri diam, memperhatikan Alea dengan senyum bangga. Ia kagum melihat bagaimana perempuan itu mampu menguasai ruangan, berbicara dengan percaya diri, dan membuat orang-orang terpukau dengan caranya bercerita tentang seni.Namun, suasana yang tenang itu berubah seketika saat dari arah pintu masuk, sepasang suami istri berpenampilan elegan melangkah masuk. Mereka tampak mencari seseorang, tatapan mereka menyapu ruangan dengan penuh tujuan.“Randy!” panggil wanita itu dengan nada ramah tetapi tegas.Randy menoleh. Wajahnya seketika berubah. Ada keterkejutan dalam matanya, diikuti dengan ketegangan halus yang sulit disembunyikan.“Ma, Pa?”Alea yang baru saja menyelesaikan penjelasannya ke

  • Ranjang yang Bukan Milikku   BAB 167: Bertemu Kembali

    Arka menatapnya, matanya tajam seperti biasanya. “Perusahaan kami adalah salah satu sponsor acara ini,” jawabnya singkat, nada dinginnya terasa menusuk.“Dan kamu? Apa alasanmu ada di sini?”Randy mengangguk ringan, berusaha menjaga ketenangannya. “Aku datang untuk mendukung Alea,” jawabnya jujur, meskipun ia bisa merasakan atmosfir di antara mereka berubah tegang.Arka mengangkat alisnya sedikit, sebuah gerakan kecil yang menunjukkan ketidakpuasannya.“Mendukung Alea?” tanyanya, meskipun sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. “Kamu sepertinya cukup sering ada di dekatnya akhir-akhir ini.”Randy tersenyum kecil, meskipun ia tahu ada pertanyaan terselubung di balik kata-kata itu. “Iya, aku memang sering di dekatnya. Karena aku peduli sama dia. Sama Raka juga.”Arka mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, berusaha mengendalikan emosi yang mulai muncul.“Raka?” ulangnya, nada suaranya semakin rendah. “Jadi, kamu pikir kamu cukup peduli untuk ada di kehidupan mereka?”Randy menatap Arka dengan

  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 166: Di Balik Kanvas

    Alea menggeleng sambil tertawa kecil. “Jangan lebay.”“Tapi itu kenyataannya,” Randy bersikeras dengan senyum lebar. “Aku nggak bakal melewatkan momen penting dalam hidup kamu.”“Dan aku juga berharap dapat panduan khusus dari kamu. Siapa tahu ada cerita menarik di balik karya-karya itu.”Alea tertawa kecil. “Aku nggak bisa janji cerita semuanya. Banyak yang terlalu pribadi.”“Fair enough,” Randy mengangkat bahu sambil tersenyum. “Aku tetap nggak sabar buat datang dan lihat kamu bersinar di tempat kerja kamu.”Alea terdiam sejenak, memandangi Randy dengan rasa terima kasih yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata. “Makasih, Randy. Aku… aku senang kamu mau datang.”“Selalu, Alea,” jawab Randy lembut. “Aku di sini buat kamu dan Raka, kapan pun kamu butuh.”Malam itu berlanjut dengan percakapan ringan tentang pameran, tentang Raka, dan tentang seni yang membantu orang-orang menemukan diri mereka. Suasana apartemen Alea yang hangat, ditambah perhatian tulus dari Randy, membuat malam itu t

  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 165: Bayang-Bayang Masa Lalu

    Nama itu menghantam Arka seperti petir di siang bolong.“Randy?” ulang Arka dengan suara lebih pelan, hampir berbisik. “Dia juga ada di Singapura?”“Iya,” jawab Risa di seberang telepon, nada suaranya hati-hati. “Dia sopan, dan aku bisa lihat dia sangat perhatian ke Alea dan Raka. Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ... aku pikir kamu berhak tahu.”Arka terdiam, mencoba mencerna kabar itu. Tangannya mengepal di sisi meja, napasnya tertahan, sementara matanya terpaku pada foto keluarga yang terpajang di dinding ruang kerjanya. Foto itu, yang menunjukkan dirinya, Alea, dan Raka dengan senyum lebar, kini terasa seperti kenangan dari dunia lain.“Terima kasih, Kak,” katanya akhirnya, suaranya kaku, hampir tanpa emosi.Risa menarik napas panjang di seberang. Ia tahu kabar ini akan mengguncang Arka, tetapi ia merasa tidak ada gunanya menyembunyikan kenyataan. “Arka, aku nggak bilang ini untuk bikin kamu merasa buruk. Aku cuma ingin kamu tahu kenyataannya, apa pun itu. Alea juga

  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 164: Langkah Baru

    Randy tidak langsung menjawab. Ia hanya menunggu, menatap Alea dengan kesabaran yang tak tergoyahkan.“Tapi …” lanjut Alea, menarik napas dalam-dalam. “Aku lelah terus berlari, Randy. Aku ingin mencoba. Aku ingin memberi kita kesempatan. Meski aku nggak tahu apa aku bisa berjalan secepat kamu.”Wajah Randy berubah cerah. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “Alea, kamu nggak tahu betapa aku bersyukur dengar itu.”Namun, sebelum Randy bisa melanjutkan, Alea menoleh, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tapi aku juga harus jujur, Randy. Perjalanan ini nggak akan mudah. Aku masih membawa luka yang belum sembuh sepenuhnya. Dan aku nggak mau kamu terluka karenanya.”Randy menggenggam tangan Alea, jemarinya hangat dan penuh ketulusan. “Alea, aku nggak peduli seberapa sulitnya. Aku di sini bukan untuk mencari kesempurnaan. Aku di sini untuk berjalan bersama kamu, setapak demi setapak, sesakit apa pun itu.”Air mata akhirnya jatuh di pipi Alea. Kata-kata Randy begitu sederhana, tetap

  • Ranjang yang Bukan Milikku   Bab 163: Kesabaran Randy

    Randy tersenyum, lalu menjawab dengan nada lembut. “Aku ingin memastikan kamu benar-benar tahu kalau aku serius dengan perasaanku. Dan aku di sini bukan untuk terburu-buru. Aku di sini untuk jalanin ini sama-sama, dengan sabar, sampai kamu benar-benar yakin.”Kata-kata Randy membuat hati Alea bergetar. Ia tahu Randy tulus, dan itu membuat segalanya terasa lebih rumit. Alea duduk di sofa, memandangi Randy yang masih tersenyum hangat.“Randy … aku nggak tahu apa aku bisa kasih yang kamu butuhkan,” kata Alea pelan, nadanya dipenuhi keraguan.“Kamu nggak perlu kasih apa-apa, Alea,” jawab Randy cepat. “Cukup kasih aku kesempatan. Itu aja.”***Malam itu, setelah Randy pergi, Alea duduk di sofa kecilnya dengan perasaan campur aduk. Suasana apartemennya yang biasanya hangat kini terasa hening, seolah-olah menyerap semua kebingungan yang melingkupi pikirannya. Cangkir teh di tangannya sudah dingin, tetapi ia masih menggenggamnya erat, seolah mencari kehangatan yang tidak bisa ia temukan dalam

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status