Semua Bab SUAMIKU TERNYATA BUKAN BERANDAL BIASA: Bab 211 - Bab 220

230 Bab

211. Van Hitam

Mobil van hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak debu di jalanan sepi. Damay terjepit di sudut kursi, napasnya memburu, tubuhnya gemetar. Di pelukannya, Baby Rain menangis tersedu-sedu, tangannya kecilnya mencengkeram kuat baju ibunya seolah tak mau terpisah. Damay mencoba mengatur napas, berusaha berpikir jernih. Tapi bagaimana bisa? Tangannya masih terasa sakit akibat genggaman kasar pria tadi. Lututnya lemas, tapi insting keibuannya membuatnya tetap bertahan. "DIAAMM!" suara berat pria di sampingnya menghardik. Bau rokok dari tubuhnya menusuk hidung, sementara wajahnya yang dipenuhi luka lama terlihat dingin dan tak berperasaan. Baby Rain menangis lebih keras. Damay hanya bisa memeluk Baby Rain yang terus menangis di pelukannya. Air mata membasahi wajahnya. Di tengah ketakutannya, ia terus berharap. 'Mas Saga, tolong kami,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-29
Baca selengkapnya

212. Target

Aidan menghela napas panjang, matanya terfokus pada pemandangan kota yang redup di bawahnya. Keadaan semakin pelik, dan setiap langkah harus diambil dengan sangat hati-hati. Jika tidak, semuanya bisa berantakan dalam sekejap. "Jangan biarkan mereka tahu tentang keberadaan kita," perintahnya sekali lagi, suara keras dan tegas, menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk kesalahan. "Akan segera diselesaikan, Pak Aidan," jawabnya dengan suara penuh ketakutan. Aidan mengakhiri percakapan itu dengan sebuah ketukan cepat pada layar ponselnya. Ia berbalik dan menatap ruangannya, lalu menyeringai pelan. ***Damay tersentak dari lamunannya ketika mobil van berhenti mendadak. Salah satu pria membuka pintu dan menarik Damay keluar. "Ayo turun! Jangan bikin ribut, atau anakmu jadi korban!" Damay memeluk Baby Rain erat, tubuhnya menegang. Ia digiring ke sebuah bangunan tua yang terlihat seperti gudang terbengkal
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-30
Baca selengkapnya

213. Di Lokasi

Saga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menembus jalanan yang semakin gelap karena mendung. Matanya yang tajam terus memindai jalanan di depannya, berusaha mencari tanda-tanda yang bisa membawanya ke tempat Damay dan Baby Rain. "Pak, kami menemukan Pak Sammy! Dia tergeletak di pinggir jalan, dekat dengan hutan kota. Kritis, tapi masih hidup," ujar Pak Tom memecah ketegangan. Ia masih menatap tabletnya. Saga menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya, meskipun gelombang kecemasan terus menghantam dadanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Saga menekan gas lebih dalam. Hutan kota semakin dekat, dan jantungnya berdegup semakin cepat. Tak lama, Saga sampai di lokasi yang dimaksud. Ia melihat sebuah mobil yang tampak terbengkalai di pinggir jalan. Itu adalah mobil miliknya. Ia segera menghentikan mobil dan berlari menuju ke tubuh Pak Sammy yang tergeletak di samping kendaraan.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-30
Baca selengkapnya

214. Rumah Sakit

Mereka segera menyebar, memeriksa setiap sudut bangunan terbengkalai itu. Saga memeriksa setiap pintu dan jendela, mencoba menemukan petunjuk lebih lanjut, sementara pikirannya terus berputar. Ia bisa merasakan gelisah di dalam dirinya. Damay dan Baby Rain harus segera ditemukan, sebelum semuanya terlambat.Di luar, udara mulai terasa dingin, angin berhembus kencang, membawa kabut yang mempersulit pandangan.Pak Tom, yang khawatir dengan keadaan Damay dan Baby Rain, menyarankan, “Mas, kita harus hati-hati. Kalau mereka sudah meninggalkan tempat ini, kita bisa saja kehabisan waktu.”Saga mengangguk, tatapannya tajam. “Tidak ada waktu untuk ragu. Mereka bersembunyi di luar sana, dan aku akan menemukannya.”***Baby Rain tergeletak lemas di lokasi yang sunyi, tak sadarkan diri karena dehidrasi dan kelelahan. Wajahnya pucat, tubuh kecilnya terbaring di dekat tumpukkan peti kayu.Tim Saga akhirnya sampai di lokasi, bergerak cepat deng
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-31
Baca selengkapnya

215. Terlambat

Saga tiba di bandara, wajahnya tegang dan matanya penuh tekad. Ia memerintahkan timnya untuk menyebar dan mencari setiap petunjuk yang ada. "Aku ingin kalian mengecek setiap pesawat dan setiap terminal. Mereka tidak boleh lolos begitu saja." Pak Tom mengangguk. "Kita harus menemukan mereka, Mas. Kalau tidak, semuanya akan semakin sulit." Mereka mulai bergerak cepat, menyisir setiap sudut bandara, mencari jejak yang bisa mengarah pada penculik Damay. Saga tidak bisa berpaling, hatinya masih tertinggal di rumah sakit, memikirkan Baby Rain yang tengah dirawat. "Kami sudah mengecek beberapa pesawat yang lepas landas hari ini. Dan ada satu pesawat yang kami curigai yaitu pesawat tujuan Korea." "Korea?" tanya Saga memicingkan matanya. "Benar, Mas Bos." Tangan Saga mengepal erat. "Tidak salah lagi, ini ada hubungannya dengan Aidan." Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Seorang pr
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-31
Baca selengkapnya

216. Pengalihan Rute

Pak Tom mengangguk cepat. Begitu teleponnya dimatikan, Saga segera mengarahkan tim yang ada di bandara untuk membantu situasi darurat di lokasi kebakaran. "Kita butuh tim penyelamat sekarang. Segera kirim tim ke lokasi kebakaran Pak Jerry. Mereka harus cepat, pastikan mereka berhasil menyelamatkan Pak Jerry," perintah Saga."Beberapa dari kalian ada yang ikut aku ke Juanda, dan yang lain ikut dengan Pak Tom," ujar Saga dengan tegas, memberi perintah pada timnya.Meskipun ia harus fokus pada penculikan Damay, situasi ini membuatnya semakin terbebani. "Semoga semuanya berjalan lancar," gumamnya dalam hati.Setelah Saga memberi instruksi kepada timnya di bandara, ia melangkah ke luar menuju tempat yang telah disiapkan oleh pihak TNI. Di sana, ia bertemu dengan beberapa anggota TNI yang sudah menunggu. Salah satu dari mereka, seorang perwira dengan pangkat letnan kolonel, segera mendekatinya."Pak Saga, kami sudah siap membantu. Apa yang bis
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-01
Baca selengkapnya

217. Tegang

Saga memasuki helikopter dengan cepat, dibantu oleh beberapa anggota TNI yang sudah siap sedia. Suara mesin helikopter yang bergemuruh membuat suasana semakin tegang, seakan memaksa adrenalin Saga untuk bekerja lebih cepat. Angin yang kencang menyapu wajahnya, tetapi hatinya tetap fokus pada satu tujuan: menangkap mereka sebelum Damay hilang terlalu jauh."Semuanya sudah siap, Pak," ujar salah satu anggota TNI yang bertugas mengawasi peralatan di helikopter.Saga hanya mengangguk, matanya menatap horizon yang semakin jauh meninggalkan Soekarno-Hatta. Di balik kecemasan yang menggelayutinta, ada tekad yang semakin menguat. "Helikopter ini akan membawa kita langsung ke Juanda dalam waktu kurang dari satu jam, Pak. Kami akan mengatur jalur agar lebih cepat," lanjut anggota TNI lainnya.Saga menghela napas panjang. Pikirannya terus melayang pada Damay dan Aidan, mengetahui betapa besar ancaman yang ada di depan mata.“Setelah kita mendarat,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-02
Baca selengkapnya

218. Penyergapan

"Jangan coba-coba kabur!" katanya, dengan nada yang lebih kasar.Begitu pintu pesawat terbuka, para penumpang mulai berdiri dan mengambil barang bawaan mereka.Suasana di dalam kabin terasa tegang, Di luar, tim keamanan bandara bersama anggota TNI sudah bersiap. Mereka berdiri dalam posisi strategis, beberapa petugas berpakaian sipil menyamar sebagai staf bandara, sementara yang lainnya terlihat berjaga di pintu keluar dengan sikap siaga penuh.Seorang petugas keamanan memasuki pesawat dengan langkah mantap."Mohon maaf, kami akan melakukan pemeriksaan. Harap semua penumpang tetap tenang," ucapnya dengan suara tegas.Mata pria kekar itu langsung berkilat waspada. Damay merasakan cengkeraman di lengannya menguat, seakan pria itu ingin memastikan dirinya tetap di tempat.Petugas mulai memeriksa satu per satu penumpang, meminta mereka menunjukkan identitas. Beberapa orang terlihat bingung, tetapi tetap menurut.Saat gi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-03
Baca selengkapnya

219. Kamu Aman

Saga menggenggam tangan Damay dengan erat, memimpin langkahnya keluar dari pesawat dengan cepat, namun hatinya tak tenang. Ia bisa merasakan tubuh istrinya bergetar dalam pelukannya, tangisannya belum berhenti. "Rain hilang, Mas. Aku gak tau dia dimana? Mereka menyemprotkan obat bius, saat sadar aku udah di pesawat dan terpisah dengan Rain," ucap Damay dengan suara tercekat, matanya penuh kecemasan, air mata terus mengalir.Saga berhenti sejenak, menghadap istrinya. Dengan tangan yang masih menggenggam erat, ia menatap dalam-dalam mata Damay. "Rain aman, Sayang. Jangan khawatir. Aku janji, semuanya akan baik-baik saja."Damay menatapnya dengan mata merah, masih tak sepenuhnya percaya. "Tapi tadi... mereka...""Semuanya sudah diatasi. Rain aman di tempat yang paling aman sekarang," kata Saga, suaranya penuh keyakinan. "Aku sudah pastikan itu. Kamu jangan khawatir lagi ya."Damay mengangguk perlahan, meski masih terlihat cemas. S
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-03
Baca selengkapnya

220. Penyelamatan

"Sebentar ya, aku hubungi Mega dulu.""Mega?""Ya, Rain aman bersama ibu dan Mega di Rumah sakit.""Rumah Sakit? Apa Rain terluka?" tanya Damay dengan cemas."Tidak, Sayang. Rain kelelahan dan dehidrasi, tapi sudah ditangani sama pihak medis. Dia akan baik-baik saja. Kamu yang tenang ya."Saga menghubungi Mega, panggilan video call dan langsung menyerahkannya pada Damay. Damay berbincang dengan Mega sambil menangis terlebih saat Mega memperlihatkan Baby Rain. "Rain udah mau makan, Mbak. Mbak tenang saja, dia di sini baik-baik saja. Dari tadi memang tidur lalu nangis, tapi sekarang udah agak tenang dia. Mbak gak usah khawatir ya, yang penting sekarang Mbak selamat dan bisa kembali bersama lagi."Tak lama panggilan pun berakhir. Damay menghela napas lega saat tahu dan melihat kondisi anaknya."Gimana, Sayang? Udah tenang sekarang hmm?" tanya Saga lalu mengecup keningnya pelan.Damay mengangguk pelan. "Te
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-04
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
181920212223
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status