Semua Bab Dicampakkan Setelah Melahirkan: Bab 361 - Bab 370

414 Bab

Bab 361

Selina berdiri di depan rumah sakit dengan kotak makan siang di tangannya, menggenggamnya erat seolah-olah itu adalah harapan terakhirnya. Angin dingin Manhattan menusuk kulitnya, tetapi ia tidak peduli. Matanya menerawang ke arah pintu utama rumah sakit, menunggu sosok yang sudah memenuhi pikirannya sejak lama.Tak lama kemudian, Pasha keluar dengan langkah cepat, mengenakan jas dokternya yang memberi kesan tegas dan profesional. Wajahnya terlihat lelah, mungkin karena jam panjang dalam masa magangnya. Saat melihat Selina berdiri di sana, ia terkejut sejenak, lalu menarik napas dalam sebelum melangkah mendekat.“Selina… kenapa kamu di sini?” suaranya terdengar tenang, tetapi ada nada kehati-hatian di dalamnya.Selina tersenyum kecil, meski matanya menyiratkan kegelisahan. “Aku bawakan makan siang untukmu. Aku ingat kamu suka sandwich ayam dan salad buah. Kamu pasti sibuk dan lupa makan.”Pasha menatap kotak itu dengan ragu. Ia tahu maksud Selina lebih dari sekadar perhatian. Ini bukan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-27
Baca selengkapnya

Bab 362

Laila mundur perlahan, matanya membulat saat melihat ekspresi Beryl yang entah kenapa malam ini terlihat sangat berbahaya. “Kak, kau kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya dengan suara lirih, tubuhnya menempel ke dinding seperti seekor cicak, seakan berharap bisa menembusnya dan kabur. Beryl menyilangkan tangan di dada, bibirnya terangkat sedikit. “Kenapa? Aku hanya menatap istriku yang manis ini. Gak boleh emang?”Laila semakin waspada. Beryl tidak pernah bicara selembut itu. Apalagi dengan ekspresi seperti itu. “Jangan macam-macam, ya,” ancamnya, menunjuk Beryl dengan jari telunjuknya yang mungil. Beryl melangkah pelan mendekat. “Macam-macam bagaimana?”Laila makin panik. “Kak! Aku serius! Aku masih harus banyak istirahat!”Laila cukup trauma saat ia memergoki suaminya di kamar mandi. Ia terkejut saat melihat kejantanan suaminya yang besar. Ia menjadi takut menghadapi malam pertama dengan segala skenario aneh di kepalanya. Ia takut milik suaminya melukainya dan sebagainya.“
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-27
Baca selengkapnya

Bab 363

Jeena melangkah pelan di sepanjang trotoar kota kecil itu, tangannya menggamit lengan Manggala. Udara sore membawa hembusan angin hangat yang mengelus pipinya, sementara cahaya matahari yang meredup membuat segalanya tampak lebih tenang. “Kau yakin ini lokasi proyek yang kita cari?” tanya Jeena, melirik sekeliling. Saat ini Jeena pulang di sela-sela kegiatan kampusnya yang longgar. Ia memilih menemani suami tercinta melakukan survey ke beberapa tempat.Manggala mengangguk. “Ya. Tanah di pinggiran kota ini cukup potensial. Jika proyek ini berjalan, daerah ini bisa berkembang pesat dalam beberapa tahun ke depan, Yang,” Jeena mengangguk, meskipun pikirannya melayang ke tempat lain. Ia merindukan Bagas. Sudah lama ia tidak tahu kabar tentangnya. Pergi ke tempat pelosok selalu membawa nostalgia yang sulit dijelaskan. Namun, takdir sering kali memiliki cara aneh untuk membawa masa lalu kembali ke hadapan seseorang. Saat langkah mereka mendekati sebuah butik kecil di ujung jalan, mata
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-28
Baca selengkapnya

Bab 364

Pasha telah bermimpi beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir. Dalam mimpinya, ia berdiri di sebuah taman luas, matahari bersinar hangat, angin bertiup lembut. Lalu, dua anak kecil berlari ke arahnya. Dua anak lelaki. Mereka berwajah sama. Keduanya memiliki mata yang tajam seperti dirinya. Rambut mereka hitam, sedikit berantakan. Mereka tersenyum ceria, berlari sambil memanggilnya. [Papa!]Pasha selalu terbangun dengan napas memburu setiap kali mimpi itu datang. Kini, setelah mendengar cerita Jeena, sebuah firasat kuat menghantamnya. [Jeen,] suaranya terdengar lebih serius. [Bagaimana jika anak itu… anakku?]Jeena terdiam di tempatnya, ponsel masih menempel di telinganya. Kata-kata Pasha bergema di kepalanya, seperti gema yang enggan mereda. [Bagaimana jika anak itu… anakku?]Di seberang telepon, Pasha terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. Jeena mengerjap, merasa seperti mendengar sesuatu yang salah. Ia menggigit bibirnya, jantungnya berdetak lebih
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-01
Baca selengkapnya

Bab 365

Malam itu, Jeena duduk di tepi ranjangnya, kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Gelisah. Hatinya penuh keraguan dan kekhawatiran yang semakin menyesakkan dada. Jeena meraih ponselnya, menatap nomor yang telah disimpannya beberapa hari yang lalu. Ia mendapatkannya dari seorang rekan kerja Rosa. Ia hanya cukup menghubungi suaminya yang masih berada di lokasi proyek.Sejak beberapa hari lalu, ia sudah ragu-ragu untuk menghubungi, takut Rosa menolak atau justru semakin menjauh. Tapi malam ini, ia tidak bisa menunda lagi.Dengan napas tertahan, Jeena mengetik pesan singkat.[Rosa, ini aku, Jeena. Aku ingin bertemu denganmu, hanya kita berdua. Tolong beri tahu aku jika kamu bersedia.]Jeena menekan tombol kirim. Seketika jantungnya berdebar lebih kencang. Waktu terasa melambat, setiap detik berlalu dengan lamban, menambah beban di hatinya. Ia tidak berharap banyak, tapi harapan kecil itu tetap ada. Semoga saja Rosa bersedia bicara empat mata dengannya.Satu jam berlalu tanpa balasan.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-02
Baca selengkapnya

Bab 366

Sementara itu, di tempat lain, Pasha duduk termenung di ruangannya. Pikirannya kembali pada mimpi-mimpi yang terus mengganggunya. Dua anak kecil. Dua anak lelaki yang mirip dengannya. Mereka selalu memanggilnya dengan suara ceria. “Papa! Papa kapan kau akan menjemput kami?”Pasha mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak bisa berdiam diri. Ia harus menemukan Rosa. Sebelum semuanya terlambat. Anak-anak kecil itu. Mereka berlarian di padang rumput, tertawa riang, dan kemudian menoleh ke arahnya dengan mata yang hidup. Suara itu masih terngiang jelas di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak. Bagaimana jika mimpinya bukan sekadar bunga tidur? Bagaimana jika itu adalah pertanda? Jeena benar. Ia bodoh. Bagaimana bisa ia membiarkan Rosa pergi begitu saja setelah malam itu? Pasha tahu Rosa bukan tipe wanita yang akan berbuat gegabah. Jika Rosa sampai pergi dan memutuskan untuk menghilang, pasti ada sesuatu yang disembunyikannya. Dan kini, setelah Jeena melihatnya dengan perut
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-02
Baca selengkapnya

Bab 367

“Rosa,” suara Pasha terdengar serak. “Kenapa kau tidak memberitahuku?”Rosa menelan ludah, berusaha menjaga ketenangannya. “Karena ini … bukan urusanmu, Tuan Pasha.”Pasha mengepalkan tangannya. “Bagaimana bisa bukan urusanku? Kau mengandung anakku!”Rosa menatap tajam Pasha lalu mendesah pelan. “Kata siapa? Jangan terlalu percaya diri Tuan.”Pasha tersenyum getir. “Memangnya kau punya kekasih? No! Kau tidak punya kekasih. Sudah jelas, kita melakukan itu tanpa pengaman. Bagaimana bisa kau melupakan malam itu begitu saja?”Rosa tercekat tenggorokannya. “Tolong. Pergilah!”“Aku akan pergi setelah tahu kebenaran tentang bayi yang kau kandung,” lanjut Pasha terdengar serius.Percuma Rosa terus mengelak. Pada akhirnya Pasha akan tahu kebenarannya.Rosa menatapnya dengan mata penuh luka. “Aku tidak butuh kau dalam hidupku.”Pasha merasa dadanya seperti dihantam keras.Ia melangkah maju, suaranya lebih pelan kali ini. “Rosa… aku tidak bisa membiarkanmu menjalani ini sendirian.”Rosa menggelen
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

Bab 368

Rosa menatap Pasha dengan mata berkaca-kaca. Hatinya masih dipenuhi keraguan, tetapi tatapan penuh ketulusan dari pria itu perlahan meleburkan pertahanannya.“Aku … takut dengan Nyonya.”Rosa membiarkan air matanya lolos. Pasha sedikit lebih lega setelah mendengar jawaban Rosa. Sudah ia duga. Alasan Rosa lari dari hidupnya ialah karena ibunya.Rosa menggigit bibirnya. “Aku takut, Tuan. Aku takut ibumu akan menolakku mentah-mentah. Kau tahu siapa dia, ‘kan? Baginya, aku ini bukan siapa-siapa.”Pasha menghela napas, menggenggam tangan Rosa dengan erat. “Aku nggak peduli seberapa marahnya dia. Aku tetap akan bersamamu. Aku ingin kita menikah.”Mata Rosa membesar. “Menikah?”Entah apa kata orang. Ada begitu banyak perbedaan yang mereka miliki. Selain status sosial, mereka juga berbeda usia. Usia Rosa lebih tua darinya. Pun, ia sudah hamil besar. “Ya, kita menikah. Aku mencintaimu, dan aku ingin bertanggung jawab untuk bayi kita.” Pasha berkata dengan penuh keyakinan. “Aku mau kita menjal
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

Bab 369

Beryl sudah menghadapi banyak tantangan dalam hidup. Mulai dari rival bisnis, pelanggan rewel, bahkan saudara kembarnya sendiri yang suka mengolok-oloknya. Tapi tidak ada yang bisa menandingi satu hal lagi yakni istrinya yang sedang hamil muda.Laila kini sedang hamil lima minggu. Setelah Laila sembuh Beryl tak ingin menunda waktu lagi untuk melakukan honeymoon dengan istrinya di luar negeri, tepatnya di Mesir. Kabar baik pun muncul, kepulangan dari honeymoon, Laila pun akhirnya hamil.Naasnya, kehamilannya membuat Laila berubah total. Wanita ceria itu kini menjadi monster kecil yang sulit diprediksi. Satu detik ia tertawa bahagia, detik berikutnya ia menangis dengan melankolis. Satu menit ia bilang ingin dekat dengan suaminya, ingin dimanja. Lalu menit berikutnya ia mengusirnya sejauh mungkin.Dan yang paling menyiksa? Laila yang sedang ngidam namun Beryl yang kena getahnya.“Kakak,” panggil Laila yang baru saja bangun dari tidurnya. Semenjak hamil, sebagian waktunya digunakan untuk t
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

Bab 370

Pasha melangkah masuk ke rumah besar ke dua orang tuanya dengan hati yang berdebar. Sejak kecil, rumah ini selalu menjadi tempatnya berlindung, tetapi hari ini, ia tahu akan ada badai besar yang menantinya. Ia tidak lagi pulang sebagai anak yang patuh pada kehendak keluarga, tetapi sebagai pria yang telah mengambil keputusan besar dalam hidupnya.Di ruang tamu yang megah, Ana duduk dengan anggun di sofa panjang berwarna gading. Wajahnya masih setenang biasanya, tetapi tatapan matanya tajam begitu melihat Pasha berdiri di hadapannya.“Baru pulang?” sapa Ana menaruh majalah yang dibacanya di atas meja kaca di depannya.“Mami,” suara Pasha terdengar sedikit berat. “Aku mau bicara.”Pemuda bermanik almond itu mengambil tempat duduk kosong di sisinya. Ia tak bisa menutupi kegugupannya saat ini. Ia berdehem pelan.Ana menatap putranya penuh selidik. “Ada apa, Pasha? Kenapa wajahmu seperti itu?”Sebagai seorang ibu, Ana bisa merasakan aura yang tak biasa terpancar dari wajah putranya. Pasha
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-04
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
3536373839
...
42
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status