Share

Bab 361

Penulis: Piemar
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-27 22:07:50
Selina berdiri di depan rumah sakit dengan kotak makan siang di tangannya, menggenggamnya erat seolah-olah itu adalah harapan terakhirnya. Angin dingin Manhattan menusuk kulitnya, tetapi ia tidak peduli. Matanya menerawang ke arah pintu utama rumah sakit, menunggu sosok yang sudah memenuhi pikirannya sejak lama.

Tak lama kemudian, Pasha keluar dengan langkah cepat, mengenakan jas dokternya yang memberi kesan tegas dan profesional. Wajahnya terlihat lelah, mungkin karena jam panjang dalam masa magangnya. Saat melihat Selina berdiri di sana, ia terkejut sejenak, lalu menarik napas dalam sebelum melangkah mendekat.

“Selina… kenapa kamu di sini?” suaranya terdengar tenang, tetapi ada nada kehati-hatian di dalamnya.

Selina tersenyum kecil, meski matanya menyiratkan kegelisahan. “Aku bawakan makan siang untukmu. Aku ingat kamu suka sandwich ayam dan salad buah. Kamu pasti sibuk dan lupa makan.”

Pasha menatap kotak itu dengan ragu. Ia tahu maksud Selina lebih dari sekadar perhatian. Ini bukan
Piemar

Happy reading💫

| 8
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 362

    Laila mundur perlahan, matanya membulat saat melihat ekspresi Beryl yang entah kenapa malam ini terlihat sangat berbahaya. “Kak, kau kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya dengan suara lirih, tubuhnya menempel ke dinding seperti seekor cicak, seakan berharap bisa menembusnya dan kabur. Beryl menyilangkan tangan di dada, bibirnya terangkat sedikit. “Kenapa? Aku hanya menatap istriku yang manis ini. Gak boleh emang?”Laila semakin waspada. Beryl tidak pernah bicara selembut itu. Apalagi dengan ekspresi seperti itu. “Jangan macam-macam, ya,” ancamnya, menunjuk Beryl dengan jari telunjuknya yang mungil. Beryl melangkah pelan mendekat. “Macam-macam bagaimana?”Laila makin panik. “Kak! Aku serius! Aku masih harus banyak istirahat!”Laila cukup trauma saat ia memergoki suaminya di kamar mandi. Ia terkejut saat melihat kejantanan suaminya yang besar. Ia menjadi takut menghadapi malam pertama dengan segala skenario aneh di kepalanya. Ia takut milik suaminya melukainya dan sebagainya.“

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 363

    Jeena melangkah pelan di sepanjang trotoar kota kecil itu, tangannya menggamit lengan Manggala. Udara sore membawa hembusan angin hangat yang mengelus pipinya, sementara cahaya matahari yang meredup membuat segalanya tampak lebih tenang. “Kau yakin ini lokasi proyek yang kita cari?” tanya Jeena, melirik sekeliling. Saat ini Jeena pulang di sela-sela kegiatan kampusnya yang longgar. Ia memilih menemani suami tercinta melakukan survey ke beberapa tempat.Manggala mengangguk. “Ya. Tanah di pinggiran kota ini cukup potensial. Jika proyek ini berjalan, daerah ini bisa berkembang pesat dalam beberapa tahun ke depan, Yang,” Jeena mengangguk, meskipun pikirannya melayang ke tempat lain. Ia merindukan Bagas. Sudah lama ia tidak tahu kabar tentangnya. Pergi ke tempat pelosok selalu membawa nostalgia yang sulit dijelaskan. Namun, takdir sering kali memiliki cara aneh untuk membawa masa lalu kembali ke hadapan seseorang. Saat langkah mereka mendekati sebuah butik kecil di ujung jalan, mata

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 1

    “Hari ini aku ceraikan kau, Embun. Mulai saat ini, kau bukan istriku lagi.” Danar Yudistira berkata pada Embun Ganita-istrinya yang sudah dinikahinya setahun yang lalu. Nada suaranya terdengar serius.Seketika rahang Embun pun jatuh mendengar ucapan talak dari suaminya. Beberapa kali matanya mengerjap karena tak percaya dengan apa yang didengarnya baru saja.Lelucon macam apa ini?Ia baru saja melahirkan seorang bayi tampan untuk pria dewasa di depannya. Bahkan, Danar saat ini tengah menggendong anak mereka. Bukankah seharusnya Embun mendapatkan pelukan hangat dan ucapan selamat karena telah bersusah payah melahirkan bayi mungil itu secara normal? Namun lihatlah apa yang diperolehnya?"Ap--" Baru saja Embun menggerakan bibirnya untuk mempertanyakan ucapan suaminya, masuklah seorang wanita cantik dan seksi ke dalam ruangannya. Wanita cantik berambut panjang itu berjalan mendekati Danar lalu merangkul pinggangnya dengan sangat mesra seraya ikut menatap bayinya. Sontak, Embun terlonj

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-27
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 2

    "Aaa..."Embun terbangun saat merasakan cipratan air mengenai wajahnya. Ia merasa tersentak lalu membelakan mata almondnya dengan penuh keterkejutan. Tangannya buru-buru mengusap air dingin yang membasahi wajahnya. Sepasang mata tajam langsung menyambut Embun. Seketika perempuan muda itu langsung menggerakan bibirnya, ingin menanyakan soal perjanjian yang dibuat antara ayahnya dan suaminya. Atau, mungkin wanita pesolek yang berdiri di hadapannya itu ikut terlibat di dalamnya! Sembari mencengkram sprei dan berusaha menegakkan tubuhnya, Embun langsung membuka mulutnya. “Tante, perjanjian apa yang dilakukan Ayah dengan Tuan Danar?”Suara Embun bergetar hebat. Sebetulnya sudah jelas Embun membaca surat kontrak yang dibawa suaminya. Hanya saja, ia tak terima karena merasa tidak pernah membuat kesepakatan apapun dengan Danar.Embun menyukai Danar dan jatuh hati pada pandangan pertama. Ketika Danar melamarnya di depan sang ayah, ia langsung menerimanya dengan penuh sukacita. Indira-ibu t

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-02
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 3

    Menaiki angkutan umum, Embun pergi ke sebuah villa sederhana dekat hutan pinus yang ia tinggali saat menjalani pernikahan dengan Danar Yudistira.Setelah dipersunting oleh Danar, Embun langsung diboyong oleh pria itu untuk menempati villa yang sepi dan sunyi itu. Letak villa itu jauh dari pemukiman warga. Di sana Embun tinggal dengan seorang asisten rumah tangga dan seorang security. Namun villa itu kini kosong!Usai ijab qabul, Danar hanya menginap semalam untuk melakukan ritual malam pertama dengan Embun. Keesokan harinya Danar pergi keluar kota karena harus bekerja. Perusahaan miliknya berada di luar kota. Semenjak menikahi Embun, hanya dalam hitungan jari, Danar pulang ke villa itu. Lagi, ia hanya datang untuk meminta haknya sebagai suami dan mengecek kehamilan Embun. Embun yang lugu tidak pernah menaruh curiga pada Danar. Air mata Embun kini tak terbendung ketika mengingat keping demi keping kenangan yang dilewatinya bersama Danar. Pantas saja, Danar hanya bersikap seperlunya p

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-02
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 4

    Dua minggu berlalu dengan cepat.Danar yang baru saja pulang dari kantor, langsung berjalan menuju kamar bayinya. Namun, pria itu tampak begitu terkejut.“Kenapa dia menangis?” gumamnya.Baru pertama kali mendengar bayinya menangis kencang. Seingatnya jika bayi itu menangis kencang maka pasti ia kehausan. “Anu, Tuan, dia mau menyusu!” jawab babysitter dengan perasaan cemas. Ia begitu takut saat berhadapan dengan Tuan Danar yang pemarah dan dingin. Babysitter berusia dua puluh tahunan itu pun menyingkir dan memberi jalan pada Danar untuk masuk ruangan khusus bayinya.Danar tidak langsung memangku bayinya. Ia baru saja pulang bekerja. Ia tidak ingin mengambil resiko menyentuh bayinya dalam keadaan tubuhnya kotor akibat bersimbah keringat. Pria berwajah dingin itu hanya menatap bayinya dengan tatapan teduh. Lantas ia bertanya pada babysitter yang mengasuh putranya. “Di mana Nyonya, Maya?”Maya-babysitter itu menjawab dengan tergeragap. “Anu … Tuan … Nyonya sedang di kamar.”Mendengar ja

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-02
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 5

    Dua pekan sudah Embun berusaha menegarkan dirinya. Ia bertekad akan melanjutkan hidupnya. Ia akan mencoba mencari pengalaman baru bekerja di luar kota. Selain itu, ada hal yang mendesak pula sebagai alasan yaitu sang ayah yang ternyata masih terlilit hutang pada beberapa orang rentenir. Oleh karena itu, Embun akan mencoba peruntungan bekerja di kota kendati tidak memiliki pengalaman sedikit pun. Nyaris dua puluh satu tahun, Embun Ganita hanya menghabiskan waktunya di kota kembang. Setelah lulus sekolah menengah atas, Embun hanya menghabiskan waktunya di rumah, melakukan pekerjaan rumah tangga, sejak dini hari hingga malam menjemput. Adapun Bibik Lilis mulai bekerja di rumahnya ketika Embun dinikahi oleh Danar. Sebetulnya, Bagas tidak memberikan ijin Embun pergi keluar kota. Ia sudah memiliki rencana lain setelah putrinya itu berhenti nifas. Namun untuk mengendalikan kondisi psikis Embun yang tengah hancur akibat kehilangan bayinya, ia mengijinkannya. Ia yakin, Embun tidak akan berta

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-04
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 6

    Barangkali bukan rezeki Embun untuk bekerja di cafe milik saudara temannya Yasmin?Ibu satu anak itu pun menghela napas.Digantinya seragam cafe dengan pakaian sebelumnya. Ia memutuskan berjalan keluar kafe dan berdiri mematung di tepi jalan dengan perasaan yang runyam. Ia bingung harus pulang ke apartemen Yasmin. Yasmin pasti marah padanya karena ia sudah merusak kepercayaan Yasmin. Padahal adik sambungnya itu sudah bersusah payah mencarikannya pekerjaan. “Ternyata, benar apa kata Ayah. Mencari kerja di kota sangat sulit. Apalagi aku hanya lulusan SMA di kampung.”Embun menghela nafas panjang. Tatapannya menyapu seluruh sudut jalan. Ia merasa dunianya kosong. Tangannya begitu saja mengusap perutnya. Lupa jika ia telah melahirkan. Mengingat bayinya yang tampan, dada Embun merasa sesak sekali. Hatinya terasa perih. Namun ia berusaha menegarkan dirinya kendati merasa hidup tidak adil baginya! Mengapa ia harus menanggung masalah ke dua orang tuanya?Jangan tanyakan perasaannya saat in

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-06

Bab terbaru

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 363

    Jeena melangkah pelan di sepanjang trotoar kota kecil itu, tangannya menggamit lengan Manggala. Udara sore membawa hembusan angin hangat yang mengelus pipinya, sementara cahaya matahari yang meredup membuat segalanya tampak lebih tenang. “Kau yakin ini lokasi proyek yang kita cari?” tanya Jeena, melirik sekeliling. Saat ini Jeena pulang di sela-sela kegiatan kampusnya yang longgar. Ia memilih menemani suami tercinta melakukan survey ke beberapa tempat.Manggala mengangguk. “Ya. Tanah di pinggiran kota ini cukup potensial. Jika proyek ini berjalan, daerah ini bisa berkembang pesat dalam beberapa tahun ke depan, Yang,” Jeena mengangguk, meskipun pikirannya melayang ke tempat lain. Ia merindukan Bagas. Sudah lama ia tidak tahu kabar tentangnya. Pergi ke tempat pelosok selalu membawa nostalgia yang sulit dijelaskan. Namun, takdir sering kali memiliki cara aneh untuk membawa masa lalu kembali ke hadapan seseorang. Saat langkah mereka mendekati sebuah butik kecil di ujung jalan, mata

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 362

    Laila mundur perlahan, matanya membulat saat melihat ekspresi Beryl yang entah kenapa malam ini terlihat sangat berbahaya. “Kak, kau kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya dengan suara lirih, tubuhnya menempel ke dinding seperti seekor cicak, seakan berharap bisa menembusnya dan kabur. Beryl menyilangkan tangan di dada, bibirnya terangkat sedikit. “Kenapa? Aku hanya menatap istriku yang manis ini. Gak boleh emang?”Laila semakin waspada. Beryl tidak pernah bicara selembut itu. Apalagi dengan ekspresi seperti itu. “Jangan macam-macam, ya,” ancamnya, menunjuk Beryl dengan jari telunjuknya yang mungil. Beryl melangkah pelan mendekat. “Macam-macam bagaimana?”Laila makin panik. “Kak! Aku serius! Aku masih harus banyak istirahat!”Laila cukup trauma saat ia memergoki suaminya di kamar mandi. Ia terkejut saat melihat kejantanan suaminya yang besar. Ia menjadi takut menghadapi malam pertama dengan segala skenario aneh di kepalanya. Ia takut milik suaminya melukainya dan sebagainya.“

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 361

    Selina berdiri di depan rumah sakit dengan kotak makan siang di tangannya, menggenggamnya erat seolah-olah itu adalah harapan terakhirnya. Angin dingin Manhattan menusuk kulitnya, tetapi ia tidak peduli. Matanya menerawang ke arah pintu utama rumah sakit, menunggu sosok yang sudah memenuhi pikirannya sejak lama.Tak lama kemudian, Pasha keluar dengan langkah cepat, mengenakan jas dokternya yang memberi kesan tegas dan profesional. Wajahnya terlihat lelah, mungkin karena jam panjang dalam masa magangnya. Saat melihat Selina berdiri di sana, ia terkejut sejenak, lalu menarik napas dalam sebelum melangkah mendekat.“Selina… kenapa kamu di sini?” suaranya terdengar tenang, tetapi ada nada kehati-hatian di dalamnya.Selina tersenyum kecil, meski matanya menyiratkan kegelisahan. “Aku bawakan makan siang untukmu. Aku ingat kamu suka sandwich ayam dan salad buah. Kamu pasti sibuk dan lupa makan.”Pasha menatap kotak itu dengan ragu. Ia tahu maksud Selina lebih dari sekadar perhatian. Ini bukan

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 360

    Hujan rintik-rintik mengguyur kota saat Rosa melangkah keluar dari mini market tempatnya bekerja. Tangannya menangkup perutnya yang mulai membesar, merasakan gerakan kecil dari dua nyawa yang tumbuh dalam dirinya. Ia tersenyum tipis, bukan karena kebahagiaan, tetapi karena tekad yang semakin menguat dalam dirinya.“Ros, pulanglah dulu. Hujan semakin deras,” suara Dahayu Ilyas menghentikan langkahnya. Wanita paruh baya itu sudah menganggap Rosa seperti anaknya sendiri sejak ia menyelamatkannya dari perampokan sebulan yang lalu.“Tidak apa-apa, Bu. Saya membawa payung,” jawab Rosa, meskipun sebenarnya ia merasa tubuhnya semakin lemah. Kehamilan ini tidak mudah, hamil dua janin membuatnya cepat letih, tetapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bertahan, untuk membesarkan anak-anaknya dengan baik tanpa menuntut siapa pun bertanggung jawab. Ia merasa tidak pantas meminta pertanggungjawaban pada Pasha.Apalagi, ia dengar rumor yang mengatakan bahwa Pasha tinggal di Manhattan bersam

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 359

    Di dalam mobil, Beryl sesekali melirik ke arah istrinya yang duduk manis dengan mata berbinar. Laila tampak begitu bersemangat ingin segera sampai di rumah Jeena. Ia bahkan terus membicarakan Sagara, bocah kecil lucu yang sudah dianggapnya seperti keponakan sendiri. Alih-alih menghabiskan waktu berdua sebagai pengantin baru, Laila ingin menghabiskan waktu dengan Sagara sebelum pergi ke Malaysia untuk melanjutkan terapi yang sempat tertunda.“Kita ini pengantin baru, tahu?” keluh Beryl akhirnya. “Harusnya kita pacaran berdua, bukan kamu sibuk main sama bocil ingusan!”Laila tertawa kecil. “Sagara itu bukan bocil ingusan, Kak! Dia putra Jeena yang tampan dan menggemaskan! Anak itu cerdas dan aku menyukainya.”Beryl mendengus, pura-pura cemburu. “Jadi aku nggak lebih menggemaskan dan cerdas dari Sagara?”Laila menatap suaminya sambil tersenyum jahil. “Kamu? Hmmm, lebih mirip bayi raksasa yang rewel!”Beryl hampir saja memarkir mobil di pinggir jalan dan menyandera istrinya dengan serangan

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 358

    Rosa merintih pelan, rasa nyeri mencengkeram perutnya saat tubuhnya terguncang di dalam mobil. Wanita tua di sampingnya menggenggam tangannya erat, wajahnya pucat penuh kekhawatiran. Ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Rosa. Rosa mengalami pendarahan akibat ingin menyelamatkan dirinya dari perampok.“Tahan, Nak… kita sudah hampir sampai,” ujar wanita itu dengan suara gemetar. Darah masih mengalir di antara pahanya, membasahi celana dan kursi mobil. Matanya berkunang-kunang, tapi ia tetap sadar. Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada rasa sakit ini—janinnya. Sial, Rosa lupa jika dirinya sedang hamil.Sesampainya di rumah sakit, pintu mobil langsung dibuka oleh seorang perawat laki-laki yang sigap. “Pasien hamil dengan perdarahan?” tanyanya cepat. Wanita tua itu mengangguk panik. “Ia melawan perampok untuk menolongku! Tolong selamatkan dia… dan bayinya!” katanya dengan suara yang gemetar. Air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya.Tanpa membuang waktu, mereka membaw

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 357

    Sulis menyesap teh hangatnya sambil melirik putranya yang duduk di sofa dengan wajah muram. Beryl menunduk, sesekali memainkan jemarinya di atas meja, pikirannya jelas sedang berkecamuk. Kali ini pria berhidung bangir itu mendapat teguran keras dari ibunya, akibat insiden semalam. Sulis memergoki Beryl mencumbu Laila. Namun sebagai seorang wanita yang berpengalaman, ia tahu akhir dari aktivitas untuk tadi pasti pergulatan panas di atas ranjang. Mungkin situasi akan normal, sebagai sepasang suami istri yang baru saja menikah, mereka akan menikmati momen malam pertama. Masalahnya, Laila masih sakit. Tubuhnya belum siap untuk semua itu. Seharusnya, Beryl bisa menahan diri dan sedikit bersabar hingga Laila benar-benar siap.Sulis menghela napas, lalu meletakkan cangkirnya. “Beryl, Mommy tahu kamu sayang sekali sama Laila. Tapi soal hak-hakmu sebagai suami, mungkin kamu harus bersabar dulu. Bukankah dokter juga sudah memberikan weyangan padamu? Jangan pura-pura amnesia! Ingat, pernikaha

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 356

    Beryl menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. “Aku akan menghadapinya. Jangan khawatir. Laila bobo aja ya,”Laila menggeleng lemah. “Aku ikut. Kenapa mereka tiba-tiba datang? Pasti ada sesuatu yang penting,” katanya dengan nafas yang terengah.Namun Beryl bukan fokus pada perkataan Laila, tatapannya justru fokus pada bibir Laila yang merah dan bengkak. Rasanya, ia ingin meraup bibir manis itu lagi.“Tunggu sebentar ya, Sayang,” imbuh Beryl begitu lembut pada istrinya.Beryl mengecup keningnya dengan lembut sebelum beranjak menuju pintu. Dengan perasaan yang masih bergolak, ia membuka pintu kamar pengantin itu, menghadapi dua sosok yang berdiri dengan ekspresi penuh tanda tanya di ambang pintu.Di hadapannya berdiri dua pria—Rahes dan Yuda. Ayah kandung dan ayah tiri Laila.“Ada apa malam-malam begini?” tanya Beryl, suaranya rendah namun jelas menunjukkan ketidaksenangan.Rahes melangkah masuk tanpa dipersilakan, diikuti oleh Yuda. Mata pria paruh baya itu menatap tajam ke pin

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 355

    Rosa menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu perlahan. Saat wajahnya muncul di balik pintu, suara-suara langsung berhenti sejenak. Namun, tatapan penuh kebencian dan curiga segera menghujaninya. Arum melangkah maju dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya.“Akhirnya kau berani keluar,” katanya dengan nada mengejek. “Sekarang, beri kami jawaban. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?”Malam itu, Rosa sadar bahwa hidupnya di tempat ini mungkin tak akan pernah sama lagi.“Aku tidak menyembunyikan apapun,” jawab Rosa dengan tegas.Rosa berdiri di tengah kerumunan warga yang berteriak penuh amarah. Mata mereka menyala dalam kebencian, jari-jari mereka menunjuk tajam ke arahnya. Hujan turun rintik-rintik, membasahi wajahnya yang telah lebih dulu dibasahi air mata.“Kamu wanita murahan! Pergi dari sini!” seru seorang lelaki tua, wajahnya memerah karena emosi. Ia juga terprovokasi oleh para wanita di sana.Seorang wanita lain, yang pernah bersikap baik pada Rosa sebelumnya, kini ikut ber

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status