All Chapters of Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi : Chapter 111 - Chapter 120

145 Chapters

Chapter 111 Pembelaan Henry

Elise tercengang. “Apa katamu?” Dia memastikan jika indera pendengarannya tidak salah dengar, jika putranya itu membela menantu miskinnya. “Apa perkataan Henry kurang jelas?” tegasnya, di dalam matanya menunjukkan amarah. Gigi Elise gemertak. Dia tidak percaya jika putranya yang selalu menuruti ucapannya kini berani melawannya. Tak ada yang istimewa dan bisa dibanggakan dari menantunya, untuk apa putranya itu membelanya? Apa yang sudah wanita itu berikan pada putranya hingga berani melawan dan berbicara nada tinggi. “Untuk apa kau membelanya, Henry?” Suaranya meninggi, hingga urat di lehernya terlihat. “Wanita itu hanya mendatangkan kesialan di keluarga kita! Untuk apa masih dibiarkan saja?”Henry ingin meledakkan emosinya, tetapi dia harus bisa menahan di depan orang tuanya agar tidak meledak. Entah bagaimana dalam hatinya itu seperti tidak terima mendengar setiap perkataan mamanya.Akhirnya dia pun bersuara dengan tegas, “Sudah cukup, Ma! Jangan sampai Henry melaporkan ini pada
last updateLast Updated : 2025-01-12
Read more

Chapter 112

Tiga hari kemudian, suasana di rumah sakit tampak lebih tenang. Kondisi Eva jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya. Begitu dengan Samuel, pemulihannya begitu cepat, karena imun tubuhnya sangat kuat. Meski masih sedikit merasakan sakit di bagian tertentu. Di ruang konferensi medis, Henry kembali melakukan pertemuan dengan beberapa dokter yang akan terlibat dengan operasi Eva. Dalam pertemuan itu, Samuel juga ikut turut andil. Di balik ketenangan mereka, para dokter mencoba bersikap normal. Namun sebenarnya, jantung mereka terpacu saat melihat ketegasan wajah Henry. “Aku rasa tidak ada lagi waktu untuk menunda operasi. Bagaimana dengan persiapan kalian?” ucapnya, memandang satu persatu dokter di ruangan itu. Dan seperti biasa, Dokter Collins yang menjawab, “Kami mempersiapkan sebaik mungkin, Tuan. Tapi-”“Tidak ada tapi-tapian!” Henry memotong dengan cepat, tahu apa yang akan dikatakan oleh Dokter Collins padanya. “Aku tidak menerima alasan dalam bentuk apapun. Yang aku butuhkan
last updateLast Updated : 2025-01-13
Read more

Chapter 113

Eva tertegun sejenak, mencerna ucapan Henry. Chicago? Kenapa dia tiba-tiba pergi ke sana? Namun, dia Menyadari kembali bahwa Henry adalah seorang CEO, penerus perusahaan milik Kakek Buyutnya. Sudah biasa dia datang dan pergi secara tiba-tiba. “Apa kau melakukan perjalanan bisnis ke sana?” Eva bertanya dengan pelan. Henry mengangguk, meski Eva tidak melihatnya. “Ya, aku melakukan perjalanan bisnis ke sana.”“Kalau kau menugaskan Asisten Ryan di sini, kau akan pergi dengan siapa?” Eva kembali bertanya dengan penasaran. Pasti dia pergi bersama Julia. Eva bisa menebaknya. Dua orang itu memang tidak akan bisa terpisahkan. Tak bisa disangkal jika hubungan mereka semakin dekat dan intim. Mengenai kedekatan Henry dan Julia tak memengaruhinya lagi. Seiring berjalannya waktu, dia menyadari jika cemburu hanya membuang-buang tenaganya. Dia sadar, jika kehidupan tak selalu seperti yang dia inginkan. Dulu, setiap kali dia melihat kedekatan Julia dan Henry, hatinya terasa sesak. Apalagi keny
last updateLast Updated : 2025-01-14
Read more

Chapter 114 Berubah Haluan

Eva membeku, menyadari ada yang salah dengan ucapannya. Dia sedikit tergeragap. Bukan seperti itu yang dia maksud. “Aku hanya … tidak suka merasa terkurung!” jawabnya dengan tegas dan sedikit meninggi. Henry terkekeh pelan saat melihat Eva tampak kikuk. Sementara Eva berdecih kesal, pasti pria itu tersenyum penuh kemenangan dan begitu percaya diri. Dia sendiri juga bingung, bagaimana bisa orang itu bisa memiliki tingkat percaya diri tinggi sekali. Alias, narsis. Dengan cepat dia melanjutkan, “Jangan terlalu percaya diri! Aku berbicara seperti itu karena memang merasa tidak masuk akal. Kau bisa pergi sesuka hati, sementara aku …?” Eva menunjuk diri sendiri dengan ekspresi penuh ketidaksetujuan. “Harus terkurung di rumah sakit!”Henry tersenyum tipis. Meskipun suasana hatinya sedikit kesal dan cemas, tetapi dia tidak bisa menahan senyumnya. Dia merasa terhibur dengan sikap Eva yang menunjukkan ketidaksetujuan.Dengan suara melunak dia menjawab, “Kau benar, memang terasa tidak masuk
last updateLast Updated : 2025-01-15
Read more

Chapter 115

Bandara Newark Liberty International. Christian berdiri di depan Henry dengan napas terengah-engah. “Maaf keterlambatan saya, Tuan,” ujarnya, dengan napas masih terengah-engah akibat berlari. Henry yang berdiri di depannya mengernyit bingung. “Kenapa denganmu?” “I-itu … kata Asisten Ryan, Anda sudah menunggu saya di bandara, jadi saya datang buru-buru, takut Anda menunggu lama.” Henry hanya menatapnya dengan wajah datar. “Kalau begitu cepatlah, sebelum aku potong gajimu.” Dia mulai melangkahkan kaki diikuti Christian di belakang. Punggungnya tampak tegak dan kokoh. Langkah kakinya terlihat tegas, dan suara pantofel yang terbentur di lantai bagaikan irama mengiringi setiap langkahnya. Mereka berdua segera memasuki ruang pemeriksaan sebelum keberangkatan berlangsung. Karena jarak antara Manhattan dan Chicago cukup jauh, Henry memilih menggunakan pesawat untuk mempersingkat waktu. Dia berada di bandara lebih awal sebelum malam menjelang. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan,
last updateLast Updated : 2025-01-16
Read more

Chapter 116

Henry berubah? Tidak mungkin. Pria itu terlalu arogan, terlalu keras kepala untuk sekedar melirik perubahan. Bahkan jika dia bersikap lebih lembut sekarang, apa itu tulus? Atau hanya karena papa? Eva tidak percaya begitu saja. Henry bukan tipe orang yang tiba-tiba menjadi baik tanpa alasan.Hingga suara Samuel mampu membuyarkan semua pikirannya, “Jangan terlalu dipikirkan. Aku datang ke sini ingin menyampaikan kabar baik untukmu.” Eva memasang wajah penasaran. “Kabar baik? Apa itu? Apa aku boleh pulang?”Setiap perubahan wajah Eva, Samuel mengamatinya. Wajah polos dan naturalnya itu tampak memikatnya lebih dalam. Namun dengan cepat dia mengusir perasaan itu. Dia pun berkata, “Bukan.”Tampak Eva tengah mengerutkan keningnya bingung. “Jika bukan, lalu apa?”“Aku dan Tim Dokter kembali membicarakannya, dan kami memutuskan jika besok adalah jadwal operasi kedua matamu dilakukan.” Eva terdiam sejenak, matanya melebar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Operasi? Besok
last updateLast Updated : 2025-01-18
Read more

Chapter 117 Hilang Akal

Tawa pria itu semakin keras di tengah musik yang tenang. “Jangan terlalu percaya diri mengklaim dia milikmu. Dia juga tidak menganggapmu penting.” Dengan gerakan cepat, Julia menyapu semua gelas di atas meja, hingga membuat pandangan semua orang teralihkan ke arah mereka.Dalam sekejap, semua gelas itu berserakan di atas lantai. Semua minuman berceceran. Suara musik yang tenang itu terkalahkan dengan teriakan Julia yang melengking. “Aku sudah bilang kalau dia hanya milikku! Hanya milikku!” Dia kembali berteriak keras, seperti orang gila yang mengamuk. Dia benar-benar kehilangan akal, tanpa tahu tempat.Dia frustasi karena kali ini Henry benar-benar tak membutuhkannya lagi. Dia menolak keras kenyataan yang dikatakan pria di sebelahnya. Kerumunan orang di sana sedikit menjauh dari jangkauan Julia, takut jika mereka terkena imbas amukan wanita gila itu. Julia mendekat, menarik kerah baju pria yang mengejeknya. Pria itu adalah teman dekatnya, dia tahu bagaimana Julia yang begitu tero
last updateLast Updated : 2025-01-19
Read more

Chapter 118 Operasi

Samuel mengangguk pelan, matanya seperti menyimpan sesuatu yang tak bisa diungkapkan. Tatapannya jatuh pada perban yang melilit lengannya, seakan luka itu berbicara lebih banyak dari yang dia inginkan. “Selamat beristirahat kembali, Tuan” lanjut dokter itu, sebelum melangkah keluar ruangan. Begitu pintu tertutup, hening menyelimuti. Samuel menarik napas panjang, matanya menerawang ke arah jendela. Pintu kembali terbuka, menampilkan sosok Dave yang baru saja tiba dengan totebag berukuran besar. “Selamat pagi, Tuan. Ini titipan dari Nyonya. Beliau baru bisa datang siang nanti.” Dave memberikan totebag itu pada Samuel. Samuel membuka dengan santai. Isi di dalamnya ternyata baju ganti untuknya. Dia kembali menghela napas, lalu memandang ke arah Dave. “Setelah operasi Eva nanti, kau urus surat-surat kepulanganku dari sini.” Dave mengerutkan kening. Matanya beralih menatap ke arah perban di lengannya. “Tapi, luka Anda masih belum sepenuhnya kering, Tuan,” protesnya deng
last updateLast Updated : 2025-01-20
Read more

Chapter 119

Chicago. Henry duduk di sofa empuknya, matanya tampak fokus pada layar tablet yang ada di tangannya. Wajahnya tampak serius, tak bisa diganggu. Jari-jemarinya sesekali menyentuh layar, menggulir halaman demi halaman. Suasana ruang pertemuan itu tampak serius, menunggu Henry bersuara. Dengan perasaan campur aduk mereka menunggunya. Berbagai pertanyaan bersarang di benak mereka. Apakah proposal itu bisa menarik perhatian Henry? Atau justru sebaliknya. Tiba-tiba saja Henry bersuara, “Secara keseluruhan, konsep yang diajukan sangat menarik. Tapi, saya ingin mengajukan beberapa poin pertanyaan. Terutama mengenai perubahan harga tanah dan pembagian keuntungan.” Henry kembali meletakkan tablet itu di atas meja. Olivia, selaku perwakilan dari klien itu menjawab, “Apa ada yang perlu kami perbaiki, Tuan?” Henry menggeleng cepat. “Tidak perlu. Kami perlu memastikan skema pembagian yang adil dan fleksibilitas dalam proyek ini. Jika kita dapat menyepakatinya, maka proyek ini bisa kita mul
last updateLast Updated : 2025-01-21
Read more

Chapter 120

Liliana merogoh ponsel di dalam tasnya. Jari-jemarinya mulai menggulir layar ponselnya.Namun aktivitasnya terhenti saat Samuel mulai mengatakan sesuatu, “Tidak perlu, Ma. Henry sedang ada urusan penting di Chicago. Ini hanya sebentar, tidak apa-apa untuk Samuel.”Liliana mengangkat kepalanya, menatap ke arah putranya. Ada kilatan amarah di dalam bola matanya. “Itu urusan Henry! Harusnya dia yang ada di sini, bukan kamu. Sudah tahu kalau Istrinya dalam masa pengobatan, kenapa dia lebih mementingkan pekerjaannya dan tidak bertanggung jawab dengan Istrinya sendiri!” Amarahnya tidak bisa ditutupi. Di dalam hatinya seperti ada sekumpulan api yang menyebar dengan cepat. Tetapi amarah itu tidak dia tujukan pada Samuel, melainkan pada Henry. Yang menjadi tanggung jawab Eva adalah dirinya, bukan putranya. Terletak di mana hati dan pikirannya saat ini? Istrinya tengah berada di antara hidup dan mati, sementara dia tidak berada di sana. Sikap tanggung jawab Henry itu sama saja dengan mamany
last updateLast Updated : 2025-01-22
Read more
PREV
1
...
101112131415
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status